Chapter 4

Fate POV

Malam harinya.

Aku duduk sendirian di kursi taman memikirkan kejadian tadi siang.

Flash Back

"Aku benar-benar khawatir.."

"Tenanglah Nanoha, Yuuno pasti baik-baik saja.. sekarang makanlah dari tadi pagi kamu belum makan, kamu juga akhir-akhir ini kelihatan lesu.."

"Fate-chan.."

"Aku tahu perasaanmu.." Fate memeluk Nanoha. "Sekarang kamu makanlah, kalau tidak nanti kamu sakit.." Nanoha mengangguk.

'Nanoha.. akhir-akhir ini Nanoha benar-benar membuatku kepikiran.. apa aku.. pada Nanoha..? Nanoha memang orang yang penting bagiku.. tapi masa aku.. ah pasti ini hanya perasaan pada teman.. ya benar kan sudah biasa..'

Setelah merenung sesaat kuputuskan untuk kembali ke kamar untuk tidur. Ketika aku masuk ke kamar aku menemukan Nanoha sedang tertidur di kasur. Kudekati dia, aku melihat Nanoha menangis.

"Yuuno-kun.." ngingau Nanoha.

'Bahkan dalam mimpimu kamu masih menyebut namanya.. kamu betul-betul sayang padanya ya..' Tiba-tiba dadaku terasa sakit.

'! kenapa ini!?' dan terasa sakit lagi ketika aku mengingat kembali saat Nanoha menyebut nama Yuuno. 'Masa memang aku..?'

Aku menelan ludahku. Menggelengkan kepalaku tidak percaya. Tapi aku tetap juga tidak bisa menghilangkan rasa sakit di dadaku ini. Kemudian aku dengan lembut kuselimuti Nanoha yang tertidur dengan selimut.

'Wajahnya terlihat sedih..' Aku mengelap air mata Nanoha dengan tanganku.

Aku berkata dengan suara kecil "Nanoha apa tidak ada yang bisa kulakukan untukmu..? aku tidak ingin melihatmu menangis.. kalau bisa.. aku ingin kamu selalu tersenyum.. karena kalau kamu seperti ini.. aku juga jadi ingin menangis.." kurasakan mataku mulai berair.

"Tenang saja Nanoha.. aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu.. jadi semua pasti akan baik-baik saja.." aku mencium keningnya.

Dan setelah melakukan hal yang kulakukan secara refleks itu aku baru sadar kalau aku memang menyukai Nanoha secara romantic, tapi anehnya aku sama sekali tidak menentang perasaanku yang menyukai Nanoha.

"Selamat tidur Nanoha.." Aku menyelinap masuk di balik selimut dan ikut tertidur.

________________________________________________________

Third Person POV

Sebulan berlalu tapi Yuuno tidak kunjung pulang. Nanoha mulai cemas.

'Yuuno-kun.. jangan-jangan terjadi sesuatu.. surat-suratnya juga terhenti dari 2 minggu yang lalu..'

'Bagaimana ini.. aku harus menyusulnya tapi.. aku takut pergi sendiri..'

Akhirnya Nanoha memutuskan untuk menemui Fate.

"Fate-chan, aku mau bicara serius denganmu"

Mendengar nada suara Nanoha yang serius Fate pun menjadi serius "Bicara apa?"

"Sebenarnya aku mau minta tolong sama kamu.."

"Minta tolong apa?"

"Aku mau kamu.." Nanoha memejamkan matanya dengan erat mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Aku mau kamu menemani aku pergi ke Senki."

Fate terbelalak. "Nanoha.. masa kamu serius?"

Nanoha mengangguk. "Aku serius Fate-chan"

"Mau menemui Yuuno?" Nanoha mengangguk lagi.

"Nanoha yang benar saja! Masa hanya karena itu kamu sampai mau pergi ke Senki?! Tempat itu jauh dari sini selain itu kota Senki sedang ditengah perang!"

"Aku tahu!"

"Lantas kenapa?!"

"Aku khawatir! Kamu seharusnya tahu bagaimana perasaanku!"

"!" Fate terkejut mendengar Nanoha membentaknya.

"Maaf Fate-chan.. tapi aku benar-benar ingin bisa bertemu dengan Yuuno-kun.."

"Tidak bisa.."

"Fate-chan.."

"Tidak, kamu mohon berapa kalipun aku tidak akan menemanimu, tidak akan, perjalanan ini terlalu berbahaya. Aku menolak begini itu demi kepentingan kamu juga.."

"Fate-chan aku mohon.."

"Tidak tidak" jawab Fate dengan tegas.

Nanoha terdiam. Fate membelakanginya tanda tidak setuju.

"Fate-chan, aku sudah tahu kamu pasti akan melarangku seperti ini, karena kamu memang perhatian padaku.."

Fate menjadi malu. "Ka kalau tahu begitu kenapa masih tetap memohon padaku?! Seharusnya kamu mengajak Vita atau yang lainnya saja."

"Karena mereka sudah pasti akan mencegahku, dan juga.."

"?"

"Fate-chan.. kamu mencintaiku kan?"

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu jantung Fate menjadi berdebar-debar.

"Ta tahu dari mana?! Ups.." Fate keceplosan dan dia menutupi mulutnya.

"..ternyata memang benar ya.. kalau kamu menyukaiku lebih dari sekedar teman.." ekspresi Nanoha menjadi lembut sekaligus sedih.

Fate merasa sudah tidak bisa mengelak lagi.

"Aku tidak sedense itu sampai-sampai tidak menyadari perasaanmu.. karena kamu selalu perhatian padaku.. menghiburku disaat aku sedih.." Nanoha memejamkan matanya sambil memegang dadanya, ekspresinya terlihat tenang dan damai.

"…"

"Sebab aku tahu perasaanmu.."

"Me meskipun begitu, tidak berarti aku akan mau menemanimu"

"…Fate-chan kalau kamu mau mengabulkan permohonanku sekali ini saja maka aku... aku akan menikah denganmu.."

'Apa?!' Fate segera menghadap kembali Nanoha, memandangnya dengan tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakannya.

"Kamu mencintaiku kan? Kamu menginginkanku bukan?" Nanoha menatap Fate dengan wajah memohon.

"I itu.." wajahnya memerah.

"Fate-chan, kalau kamu menginginkan tubuhku juga akan aku berikan.."

'Dia pasti bercanda!'

Mendengar itu Fate segera menarik Nanoha mendorongnya ke tempat tidur dan menaikinya.

"Jangan bercanda.."

"Kamu tahu apa yang kamu katakan barusan kan.. kamu serius..?" Fate menatap Nanoha dengan serius. Nanoha mengalihkan matanya dari sorot mata Fate yang begitu tajam seolah menghujam mata birunya. Fate memegang dada Nanoha yang membuat Nanoha kaget.

"Hanya untuk bertemu dengannya kamu rela berbuat seperti ini?" tanya Fate dengan dingin, tangannya tetap masih memegang Nanoha.

"Iya.." meskipun berkata begitu tapi di mata Nanoha memancarkan sedikit ketakutan saat menatap Fate.

Fate menghela nafas, dia kemudian menyingkir dari Nanoha.

"? Fate-chan?"

"Haha.. kamu benar-benar bodoh.." Fate terlihat seperti menyesal dan terkalahkan.

'Ternyata memang yang ada dalam hatimu itu hanya ada dia ya.. bahkan sampai nekad seperti ini.. aku.. bahkan sedikitpun tidak ada dalam hatimu ya..'

"Haha kurasa aku bisa mengerti sekarang kenapa kamu hanya meminta tolong padaku.."

"Maafkan aku Fate-chan kalau aku kesannya seperti memanfaatkan perasaanmu.. tapi.. karena aku tahu kalau Fate-chan pasti akan membantuku.."

"…"

"Aku tahu kalau aku telah menyakiti hatimu Fate-chan.. tapi.. aku yakin kalau kamu tidak akan membiarkanku sendirian.."

"Haha dasar.. aku kalah.."

"Eh?"

"Baiklah aku akan menemanimu.."

"Fate-chan.. kamu sungguh-sungguh?"

"Ya, tapi aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku, aku bukan orang sejahat itu.. aku tidak ingin memaksa orang yang kucintai untuk menikah denganku, jadi kamu tidak usah khawatir.." Fate menutupi wajahnya yang benar-benar sedih.

"Fate-chan, terima kasih.."

'Kacau.. dadaku terasa sakit sekali..'

"Karena sudah malam kita berangkat besok saja, saat subuh supaya tidak ada yang tahu, karena kalau tahu mereka pasti akan mencegah kita"

"Iya.."

'Tapi kalau untuk Nanoha apapun kulakukan..'

Dan saat itu juga Fate berpikir kalau dia tidak akan menaruh harapan lagi sedikitpun pada Nanoha dan benar-benar sudah menyerah akan perasaannya, tapi benarkah itu..

TBC~