Me: "Update lagi!" XD

Cowboy: "Hoi, BakAuthor!"

Me: "Kenapa, sih? Tumben nyaut!"

Cowboy: "Lu beneran mau kencan sama Kambing itu?"

Luthfi: "Kambing yang mana?"

Cowboy: "Pokoknya lu kagak bakalan ngerti, deh!"

Me: "Let it go! Let it go!" *nyanyi.*

Mathias: "Dia kenapa, sih?"

Cowboy: "Belakangan ini BakAuthor nemu video tentang soundtrack Frozen!"

Mathias dan Luthfi: *sweatdrop.*

Cowboy: "Ah, iya! Mari kita balas Review dulu!"

twin reflects: Baiklah! Ini udah lanjut! :D

Honey Sho: Sebenarnya Humor lho, Sho-san (kagak apa-apa, kan?)! Tapi entah kenapa, otak saya tiba-tiba ngadat dan langsung muncul ide itu begitu saja! Anda kecelakaan? Saya doakan semoga anda cepat sembuh dan jangan lupa, tebakan anda udah dijawab teman saya di Chapter 2! :D Selamat membaca Chapter ini! :D

Dissa-CHAlovers: Sebenarnya saya kepikiran setelah membaca sebuah fic berjudul 'Guru vs Murid' Chapter 2 di fandom Hetalia! Kalau kagak percaya, liat aja di Favorite Story Profile-ku! :D Oke, Thanks for Review!

l w bunga: Oh gitu, toh? Baiklah, akan saya usahakan dan sepertinya itu ide bagus untuk mengerjai Sasuke! *dihajar Sasuke." Terima kasih telah me-Review! :D

DUAR!

Luthfi: "Apaan lagi, tuh?"

Mathias: "Paling cuma orang iseng yang lagi main bazoka!"

Cowboy: "Gue mau cek dulu!" *pergi ke luar.*

Me: "Happy Reading!" :D


Warning tambahan: Cross dengan fandom lain, Romance gagal, Mysterious Narator (?), dll.


Special Chapter 1: The Little Date


Hari ini Girl-chan sedang membaca doujin ToruPan (?) ditemani kucing peliharaannya yang tidur di pangkuannya.

"Ting tong!" Bel rumah pun berbunyi.

Seorang pria berambut hitam spiky berumur sekitar 18-20 tahun dengan memakai baju putih dan celana hitam menghampiri Girl-chan. Dia adalah kakak cowok Girl-chan.

"Adek! Buka pintunya, sana!" perintah kakaknya Girl-chan.

"Iya, bang!" kata gadis itu sambil menaruh kucingnya di atas lantai dan membiarkan bukunya tergeletak di lantai.

Girl-chan pun berjalan ke arah depan dan membuka pintunya. Ternyata yang datang adalah Mathias.

"Hei, Girl-chan! Sudah siap berangkat?" tanya pria jabrik itu.

"Sebentar! Aku ganti baju dulu, izin sama kakak, baru aku pergi! Oke?" pinta Girl-chan.

"Baiklah!" jawab Mathias sambil nyengir.

Gadis berambut hitam panjang itu pun segera menuju ke kamarnya untuk ganti baju.

"Siapa yang ada di luar, dek?" tanya sang kakak.

"Temen, bang!" jawab Girl-chan sambil memeriksa baju di lemarinya.

"Temen biasa atau temen kencan?" tanya sang abang lagi.

JLEB!

"Temen biasa lah, bang! Aku kan masih belum cukup umur buat punya temen kencan!" jawab gadis itu sambil berusaha menahan rona merah di wajahnya.

"Oh, iya! Adek gue ini ternyata masih di bawah umur, toh!" ledek sang abang jahil.

Girl-chan pun segera menggebuk sang kakak dengan guling yang tergeletak di kasurnya.

"Abang diam aja, ya? Kenapa abang kagak ngurusin temen-temen abang yang nungguin aja, sana?" tanya gadis itu sambil mengusir kakaknya.

"Oke, deh!" Sang abang pun langsung meninggalkan kamar adiknya. "Nanti kalau udah punya pacar, kasih tau abang, ya?"

Pertanyaannya barusan sukses dihadiahi sebuah gamparan dengan bantal oleh sang adik.

"Dasar abang rese!" gerutu Girl-chan sambil menutup pintu kamarnya.


-skip time-


"Wow, Girl-chan! Du er så smuk (Kau sangat cantik)!" puji Mathias.

Sekarang gadis itu memakai kaos putih yang ditutupi dengan jaket bertudung berwarna kuning, celana panjang coklat, dan sepatu hitam. Rambutnya yang panjang sepinggang diikat pigtail dengan ikat rambut kuning.

"Err, tak (terima kasih)!" kata Girl-chan sambil berusaha menutupi wajahnya yang merona.

"Hei, adek! Dia temanmu, ya?" tanya sang abang yang baru saja keluar rumah.

Pria itu pun sukses mendapatkan lemparan manga 'Hetalia' Volume 1 (?) tepat di wajah dari sang adik.

"Diem aja lu, abang rese!" bentak Girl-chan dengan muka merah padam.

"Dia kakakmu?" tanya Mathias heran.

"Memang!" jawab gadis itu judes.

"Hei, jabrik! Tolong jaga adikku, ya! Takutnya Tsundere-nya kumat!" pesan sang abang sambil kabur sebelum ditimpuk Girl-chan dengan manga lagi.

Mathias pun sukses dibikin sweatdrop dengan pertengkaran Girl-chan dan kakaknya yang 11-12 mirip dengan pertengkaran antara France-England. Bahkan, alis seksi (?) pria Denmark itu pun udah saling bertautan dengan bingungnya. *Narator langsung dikejar-kejar Girl-chan.*

"Hei, sudahlah! Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja?" tawar pria jabrik itu.

"Baiklah!" balas gadis itu datar.

Keduanya pun berangkat dengan mobil Mathias, tentunya.


Di taman hiburan...

"Eh, Yasu! Lu yakin mereka kencan di sini?" tanya seorang pria berambut biru ponytail kepada pemuda berambut coklat di sebelahnya.

"Gue yakin, kok! Orang kemarin gue ngintilin (?) Mathias lagi berduaan sama tu anak!" balas pemuda yang dipanggil 'Yasu' tersebut.

"Eh, mereka datang!" kata seorang pria berambut hitam spiky sambil menunjuk sebuah mobil berwarna merah tua.

Mereka pun segera bersembunyi di belakang tukang balon (?). Kedua orang yang di dalam mobil pun langsung turun dari mobil.

"Hei, Girl-chan! Bagaimana kalau kita menaiki sesuatu?" tanya Mathias.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara perut berontak (?) dan Girl-chan memegangi perutnya dengan blushing.

"Aku belum sempet makan sebelum pergi! Kenapa kita tidak makan dulu saja?" saran gadis itu.

"Hmm, baiklah! Aku kebetulan juga belum makan, sih! Hehehe!" kata Mathias sambil nyengir.

Keduanya pun berjalan menuju tempat makan di taman hiburan tersebut.


Sementara itu...

"Oke, sedikit fluffy!" komentar pria berambut coklat barusan. "Ayo kita susul, mas Crowner, mas Erudon!"

"Yo wes, bang (?) Tokugawa!" kata kedua pria barusan.

Ketiganya pun langsung mengikuti sepasang lovey-dovey kambing (?) tersebut dengan sembunyi-sembunyi. *Narator ditebas Mathias.*


-skip time-


"Baiklah! Sekarang kita mau naik apa?" tanya Girl-chan setelah selesai makan.

"Hmm, bagaimana kalau Roller Coster, Ferris Wheel, atau..."

"Terowongan cinta?" kata keduanya bersamaan.

"Apa kau serius?" tanya Mathias.

"Sejak kapan aku kagak pernah serius, sih?" Girl-chan bertanya balik dengan muka nyolot plus tangan terlipat di dada.

"Oke, Mein Liebe! Terserah katamu!" jawab pria jabrik itu -yang entah kenapa dia pake bahasa Jerman- sambil mengelus rambut gadis itu.

Akhirnya, kedua lovey-dovey kam- *Narator digiles Mathias pake buldoser.* (Mathias: "Ngomong kambing lagi, gue sembelih lu pake kapak gue!")

Oke, ulangi!

Akhirnya, kedua pasangan (kagak) sejoli itu menuju ke tempat tersebut. (Girl-chan: "Tapi kenapa kata 'kagak'-nya dikasih tanda dalam kurung?"/Mathias: "Menekedele!" *angkat bahu.*)


-skip time- (Luthfi: "Perasaan tadi udah skip time, deh!")


Keduanya pun duduk di sebuah kursi di taman. Mereka sedang memperhatikan pemandangan di depan mereka. Kalau gue jadi mereka, gue bakalan bilang 'Mein Gott! Indahnya mengalihkan hidupku!' (?). *plak!*

Oke, abaikan yang barusan!

"Hei, Mathy!" panggil Girl-chan.

"Hmm? Kenapa, Girl-chan?" tanya Mathias.

"Kau tau, aku sedikit canggung berada di dekatmu! Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini untukku!" jawab gadis itu dengan malu. Wajahnya mulai semerah ceri (?), udang rebus (?), dan permukaan Yupiter (?) saking malunya. *Narator dibalang pipa.*

"Aku melakukannya lebih dari teman! Walaupun aku akan dicap 'Pedofil', tapi aku tetap menyukaimu!" kata pria jabrik itu sambil memeluk Girl-chan yang mukanya udah sangat merah.

"Jeg kan godt lide dig, sir Danmark (Aku juga menyukaimu, tuan Denmark)!" gumam gadis itu lirih.

"Cieeeeee~"

Sebuah teriakan itu pun sukses membuat keduanya melirik ke belakang dan mendapati ketiga pria yang membuntuti mereka barusan bersembunyi di semak-semak. Mathias dan Girl-chan langsung menyiapkan senjata masing-masing plus dark aura.

"Sejak kapan kalian ada di situ?!" tanya Mathias emosi.

"Pak Ieyasu mata-matain kita, ya?!" sambung Girl-chan kesal.

Alhasil, Ieyasu dan kedua temannya pun langsung menelan ludah dan segera kabur tunggang langgang dikejar-kejar kedua pasangan yang mengamuk tersebut.

"TOLONG! ADA PASANGAN NGAMUK! TOLONG!" pekik ketiganya sambil berlari secepat mungkin.

"BALIK KE SINI KALIAN!" teriak pasangan mengamuk itu.

Yah, sepertinya hari ini bakalan menjadi hari paling memalukan sekaligus menyenangkan bagi Mathias dan Girl-chan. Semoga hubungan mereka tetap bahagia dan cepat-cepat ke pelaminan (?)! *Narator langsung dibantai Mathias dan Girl-chan.*


To Be Continue...


Baiklah, kayaknya aneh kalau fic ini melenceng ke Romance! Tolong dimaklumi kalau kurang bagus. Saya bukan pembuat Romance yang baik! *bungkuk 20 derajat Reamur (?).*

Oh, iya! Ada yang bisa menebak Narator di Chapter ini? Clue-nya ada dua! Clue pertama, dia pernah muncul di fic 'Eyeglasses' dan 'Perlombaan untuk Nation' Chapter 3! Clue kedua, dia orang yang ngagetin Cowboy pake salam Nazi di 'PuN' Chapter 3! Gampang, kan? Yang bisa nebak boleh kasih tau ide bagus buat lanjutin fic ini! Beneran, lho!

Review! :D