Waktu bergulir, musim pun pasti berganti.

Ada senang, ada sedih pula.

Mereka menyatu utuh.

Dalam kenangan.

©RedBalloons5

-Let Me Love You-

Main Cast: Yunjae, slight Hosu, Yoosu,.

+Lee Jin Ki, Inhwan & Other cast.

Gendre: Drama

Rate: T+

Leght: 4/-

Warning:

Typo(ss)

YAOI(boysxboys)

.

.

.

4th: Remember

.

.

.

Junsu menaiki tangga. Sembari memijat tengkuknya yang terasa pegal-pegal, namja pantat semok itu melangkah menuju sebuah ruangan di sudut lantai 2. Gudang tempat keluarganya menyimpan barang-barang tak pakai lagi.

Kriettt

Pintu geser itu terbuka dan mengaga. Menampilkan sesajian pandang bertumpuk-tumpuk kotak bekas dan barang-barang usang lainnya.

Junsu memasuki tempat berdebu itu dengan hati-hati. Ia berjalan menuju sebuah lemari kayu tua yang berdiri di samping tumpukan kardus-kardus bekas.

Junsu berniat mencari mainan lama Inhwan. Ia ingin menyumbangkan mainan-mainan itu ke panti asuhan. Daripada menjadi sampah dan hanya memenuhi gudang.

Drett.. Drett..

Junsu merasakan ponselnya bergetar. Dirogoh saku celananya, mengambil benda kotak yang layarnya masih terus berkedip-kedip.

"Yeobseyo Yoochun-ah" Junsu menyapa orang di seberang panggilan teleponnya.

"Ne, kau jangan lupa mengantar Jaejoong untuk check up siang ini."

"Tentu saja"

"Ne, Yoochun-ah. Annyeong."

Usai percakapnnya yang kurang lebih 3 menit tersebut dengan sang suami, dan meletakkan kembali ponselnya ke saku celana, Junsu membuka lemari. Yang di dalamnya terdapat banyak sekali mainan bekas. Yang walau disebut bekas. Tapi mainan itu masih utuh dan layak digunakan kembali.

Junsu coba mengambil sebuah mobil-mobilan yang berada di tumpukan paling atas. Dengan tinggi tubuhnya, ia menjadi agak kesulitan untuk mengapai mainan itu.

Dengan berjinjit maksimal pun masih belum mampu membuatnya mudah. Berkali-kali ini melompat agar dapat mengacainya. Tapi tidak putus asa, ia kembali mencoba melompat dengan kekuatan penuh.

Hap

Junsu tersenyum senang ketika tanganya mengapai bagian roda mobil. Junsu menariknya dan..

"Ahhh" Junsu berteriak ketika bukan hanya mobil mainan itu yang ia dapat, namun setumpuk mainan lainya jatuh menimpa tubuhnya.

Junsu jatuh terduduk.

"Appo" Junsu meringis memegangi sikunya yang berdenyut.

Junsu bangkit sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke baju. Mengilangkan debu-debu dan kotoran lain yang berpindah dari mainan-mainan itu ke dirinya.

Junsu cemberut kesal sebab telah menyebabkan kekacauan. Mainan-mainan itu berserakan di lantai dan membuat semuanya nampak berantakan. Jadi dia harus membereskannya ulang? Oh tidak.. Ia harus bekerja extra untuk hari ini.

Junsu merasa menginjak sesuatu ketika melangkah. Di bawah sana tergolek sebuah boneka malang. Boneka berbentuk Micky mouse berwarna kuning, dengan balutan dasi biru tua menghiasi leher kecilnya.

Junsu memindahkan kakinya. Boneka tangan itu tampak mengenaskan sebab jadi pesek ketika tadi mendapat tekanan besar dari tubuh Junsu.

Junsu terperangah, terdiam membisu dan terpaku. Boneka itu, bukan boneka biasa.

Junsu memungut boneka berdebu itu, mengelusinya dan membiarkan semua ingatanya kembali berputar-putar dalam pikirannya.


.

.

.

6 tahun lalu...

"Jung Junsu apa yang kau lakukan sendirian ditaman ini eoh? Apakah kau sedang memikirkan kekasihmu yang tampan?" suara yang diimutkan itu membuyarkan lamunan sang namja manis, sebab sedari tadi Junsu terlampau sibuk menyendiri di sudut taman dengan tatapan mata kosong. dengan seenak jidatnya namja pemilik suara itu mengubah marga Junsu. Hei. mereka belum menikah. Junsu masih menjadi keluarga sah dari Kim Family.

Boneka tangan berbentuk Micky mouse bergerak-gerak tak tenang dari samping. Membuat Junsu terkikik geli, seakan benar-benar dapat melupakan kegusaran di hatinya. Penggerak boneka itu juga ikut serta tertawa, saat melihat orang yang ingin ia bahagiakan dapat tersenyum bebas.

"Su-ie. Waeyo?" coba tanya Yunho heran dengan mimik wajah Junsu yang tiba-tiba kembali jadi tak bersahabat.

Junsu kembali mengingat. Tentang bayang-bayang masalahnya yang berlarut-larut kembali mencuat ke permukaan. Membuat Junsu harus rela memendam pedih dan hanya mengekspresikannya dengan kerutan duka.

Junsu tersenyum palsu, menutup rapat-rapat isi hatinya. "Aniyo. Yunho-ah. Tidak ada apa-apa." ia ingin Yunho tahu, bahwa ia kuat untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri.

"Ne." Jawab Yunho seadanya. Meskipun Yunho dapat membaca segala sesuatunya, namun ia juga tak ingin terlalu jauh ikut campur dalam masalah sang kekasih. Mendampingi Junsu selama 2 tahun lebih, membuatnya mengerti apa dan tidak diharapkan namja bewajah manis tersebut.

"Bisakah kita menghabiskan liburan musim panas ini di pantai Yunho-ah?" Pinta Junsu berharap permintaanya terkabulkan kali ini.

Junsu memandangi wajah Yunho yang duduk merangkul bahu kecilnya dari samping.

"Mianhae, Jaeongmal Mianhae Su-ie. Kita tidak bisa. Akhir pekan ini akan diadakan rapat di perusahan appa. Jika saja aku tidak hadir appa pasti akan marah besar. Lain kali, lain kali kita akan pergi" Yunho memeluk Junsu, membiarkannya mengerti alasan yang ia buat. Sungguh, Ia ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Bahkan jika ia bisa ia akan menyerahkan seluruh waktu dalam hidupnya pada Junsu.

Akan tetapi, ayahnya. Jung Ji Hoon memintanya untuk menghadiri rapat penting minggu ini. Ia tidak salah juga ingin menjadi anak yang berbakti, aniya?

"Ne. Lain kali." Lirih Junsu dalam dekapan orang yang ia cintai. Membenamkan wajahnya yang sesungguhnya sudah ingin menangis meraung-raung.

Yunho melepaskan pelukannya, "Sekarang bukankah lebih baik kita pergi ke taman bermain saja? Kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama, Otte?".

"Ehmm" Angguk Junsu setuju.

Flashback end


.

.

.

Junsu memandangi boneka micky mouse tersebut. Tidak ada yang menarik dari boneka usang itu, hanya saja boneka itu suka sekali Yunho gunakan untuk menghibur dirinya. Dulu.

Sembari tersenyum kecil, ia hapus air matanya yang meleleh. Mengelusi lembutnya bulu-bulu yang melingkupi boneka bermata bulat itu, terlihat tersenyum dalam mimik wajahnya. Membuat luka yang enggan Junsu buka perlahan tapi pasti berdarah lagi.

"Yunho, changi-ah." Entah dari mana Junsu mendapatkan keberanian itu. Bisa-bisanya mengucapkan kata-kata yang sangat tabu baginya.

Junsu-shi, ini salah. Ia tidak boleh meruntuhkan pertahanan yang sudah susah payah ia bangun selama 5 tahun lamanya. Sudah terlalu banyak yang ia korbankan, berbohong dengan berpura-pura tegar- ini seperti menutupi luka dengan cuka. Perih. Terlebih, ia pun harus merelakan orang yang pernah menjadi namjachingunya itu pada sang adik tersayang.

Ini masalah hati. Yang mana, siapapun tak bisa menyalahkan apa yang tersembunyi di dalamnya.

Jika ini bukan tentang 5 tahun lalu ketika tidak hanya kedua orang tuanya yang menginginkan sebuah perjodohan bodoh, tapi juga Jaejoong yang begitu antusias dengan Yoochun. Menginginkan si namja bersuara husky itu untuk menjadi kakak iparnya.

Jika ini bukan pula tentang bagaimana appa Yunho memohon-mohon padanya agar melepas putra kebanggaanya. Jika bukan karena Tuhan mengirimkan takdir yang seperti ini padanya. Mungkin saja sekarang, tidak akan ada yang bisa menyalahkannya memiliki rasa cinta untuk Yunho, orang yang paling dicintai oleh Jaejoong.

Junsu memeluk boneka kuning itu, coba menyalurkan kepedihan hatinya untuk orang yang pernah dan begitu ia cintai. Ia tak memungkiri jika ia masih begitu berharap pada Yunho. Namun seolah kasian pada Yoochun, menghalanginya beranjak dari kehidupan namja bersuara husky tersebut.

Junsu melihat lingkaran cincin berpendar keperakan di jari manis kanannya. "Mianhae Yoochun-ah."

Rasa bersalahnya mulai tercipta tanpa arah. Junsu menyalahkan dirinya sendiri. Entah kenapa. Sekarang ia menjadi begitu lemah. Bukankah ia kuat saat memutuskan Yunho. Ia begitu tegar saat pernikahannya dengan Yoochun. Tapi kenapa sekarang?

Junsu benar-benar berada di batas. Ia goyah dan menubin. Salah gerak sedikit jadi sudah dapat dipastikan, ia akan jatuh dalam jurang penderitaan yang lebih dalam dari sebelum-sebelumnya.

Haruskah semuanya berakhir seperti ini?

"Su-ie." Sebuah suara tepat di sebelah telinganya terdengar amat jelas, berbarengan dengan sepasang lengan kokoh melingkari tubuhnya dari belakang. Berbagi kehangatan, ketika kulit tan itu menyapu kulit sensitivenya.

Junsu terpaku. Jantungnya terpompa tak beraturan, perutnya bergejolak tak enak, kepalanya terasa berat dan pening. Menyadari dosa besar apa yang sedang terjadi kini.

"Yun.. Yunho-ah." Gemetar Junsu bergumam tatkala Yunho memeluknya nian posesif.

"Wae? Junsu-ah. WAE?!" Yunho berteriak tiba-tiba. Menuntut penjelasan.

Saat tak sengaja melewati pintu gudang, otak Yunho jadi beku tatkala indra pendengarannya mendengar kata gila dari mulut Junsu 'Yunho, changi-ah'.

'Apa maksud semua ini?. Junsu.. kau?' Yunho yang sedari lalu terus mengamati Junsu jadi kalut. Seketika mengambil kesimpulan sepihak, bahwa Junsu pasti masih mencintainya. Sama seperti dirinya.

"Lepas Yunho-ah." Ingin Junsu pada Yunho yang membuatnya kian sesak.

Udara di sektiar tiba-tiba saja menjadi panas. Dan aneh.

"Kau meninggalkanku. Su-ie. Kau sangat jahat…Kenapa? Kenapa kau berbohong kepadaku!? Kenapa kau pergi?!" Yunho agak membentak.

Yunho marah. Benci kata-kata perpisahan yang Junsu ucapkan 5 tahun lalu tanpa alasan yang masuk akal. Ia tidak terima, tidak begitu saja. Setelah semua kenangan yang mereka rajut bersama begitu manis. Yunho tidak bisa dengan mudah menerima kata-kata putus dari mulut Junsu.

"Mian Yun-ah. Aku harus melakukannya." Nada bicara Junsu melemah. Suaranya bergetar menahan tangis. Ia tidak mungkin untuk jujur. Ia sudah mengambil keputusan sedemikian jauhnya. Kembali menguak masa lalu? Membuat semuanya jadi rumit? Tidak. Junsu tidak mau.

"Su-ie ah. Aku masih mencintaimu. aku mencintaimu! Kembalilah padaku su-ah. Jebal!" Yunho membebankan kepalanya di pundak Junsu. Ada beban berat yang menekan hatinya. Ia tidak mau berbohong pada perasaannya. Ia masih mencintai Junsu. Masa bodoh dengan status Junsu sebagai istri orang. Yunho ingin egois. Ia juga punya perasaan. Ia ingin bahagia bersama orang yang ia cintai. Bolehkan jika ia menginginkan Junsu kembali padanya?

"Yun-ah. Aku.. aku tidak bisa. Hiks… aku .." Junsu mengeleng hebat. Menampik semua pengakuan Yunho.

"Kau masih mencintaiku aniya?!" Tanya Yunho tanpa takut. Ia yakin seyakin-yakinya jika Junsu pun masih mencintainya.

Yunho memaksa Junsu membalikan tubuhnya. Ia menatap tajam mata Junsu dengan mata musang memerahnya. Napasnya terengah keras. "JAWAB JUNSU-AHH!"

Junsu terkejut bukan main. Yunho.. Yunho bisa jadi semarah itu. Junsu jadi takut dan bimbang. Junsu membuka mulutnya coba untuk menyatakan sesuatu. "Aku.. Akk..ummmppppphhhh.. Yun-ah mmmppphh" Junsu membulatkan matanya lebar. Saking terkejutnya dengan ciuman seketika Yunho yang membuatnya tidak siap.

Ini salah. Itu tidak boleh.

"Yun, lepmmphhh" Junsu dengan segala upaya untuk melepaskan cuiman Yunho. Ia mendorong bahu Yunho. Memukul lengan Yunho dan menarik wajahnya. Akan tetapi, Yunho masih memaksa dengan kuat untuk tak membiarkan Junsu lepas.

'Andwe Yun-ah. Ini tidak benar.'

Di sisi lain. Di lantai 1 kediaman keluaraga Park. Jaejoong sedang berlari kesana kemari mencari keberadaan Hyungnya.

"HYUNGIE!" Jaejoong berteriak kencang seraya berlari menaiki tangga menuju lantai 2. Dengan tidak sabaran menengok kekanan dan kekiri, coba memenukan kehadiran sang hyung.

"Ah, Hyung pasti disana." Jaejoong melangkah menuju gudang yang pintunya terbuka lebar.

"HYUuu..ungie." Napas Jaejoong tercekat dan seketika matanya terbuka lebar.

Tubuhnya terasa membeku, ketika di depan matanya.

Junsu dan Yunho..

Mereka..


.

.

.

Hari itu pagi-pagi buta, Jaejoong memuntahkan darah (lagi), untuk yang berbelas-belas kalinya. Cairan merah pekat itu mengotori bukan hanya wastafel, tapi juga lantai. Jangan lupakan pakaian rumah sakit yang ia kenakan kemungkinan tak layak pakai lagi akibat penuh noda darah.

Penyakit itu perlahan dan sudah pasti mengrogoti keseluruhan tubuhnya.

Ia, Jaejoong sakit. Bukankah itu sudah jelas terlihat sejak awal? Ia sakit lebih dari itu. Semenjak 4 hari lalu kondisinya kian memprihatinkan. Penyakit yang sejujurnya telah ia ketahui bahkan sebelum 1,5 tahun yang lalu. Kanker darah stadium 2, yang kini meningkat menjadi stadium 3. Berpikir itu akan baik-baik saja selama dilakukan perawatan penuh dan kemoterapi. Namun, berakhir dengan akhir yang tragis seperti sekarang ini.

Tubuhnya melemah dan penyakitnya semakin parah.

Selain fisiknya, psikisnya pun jauh lebih sakit. Jaejoong menolak makan, membisu bahkan untuk membersihkan badan saja ia enggan. Serta obat yang seharusnya ia minum dimuntahkan kembali. Bagaimana tubuhnya bisa kuat, jika ia bertingkah konyol seperti itu?

'Lakukan itu juga dengan Joongie. Bukankah sejak awal Joongie menginginkan itu. Wae? WAE? YUNNIE MALAH MELAKUKAN ITU DENGAN HYUNGIE!?'

Jaejoong masih mengingat dengan jelas kata yang ia lontarkan kala itu. Saat dengan kedua mata kepalanya menangkap pemandangan Junsu dan Yunho melakukan adengan senonoh di dalam gudang.

Siang itu, saat itu. Ketika ia memanggil-manggil Hyungnya karena Inhwan menangis ingin makan siang. Ketika itu pula ia memergoki Junsu dan Yunho yang terlihat saling menghisap satu sama lain.

Siapa yang tidak sakit hati? Jaejoong hanyalah manusia biasa.

Bohong jika ia mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja setelah semuanya terjadi tepat dihadapannya. Walau beberapa menit ia hanya mampu melihat dalam kebisuan. Sebelum Junsu dan Yunho mengakiri aktivitas mereka, sebab menyadari keberadaan Jaejoong yang berdiri terpaku dengan kedua bola mata yang berlinangan cairan air mata.

Jaejoong kemudian berucap sendu, "Lakukan itu juga dengan Joongie. Bukankah sejak awal Joongie menginginkan itu. Wae? WAE? YUNNIE MALAH MELAKUKAN ITU DENGAN HYUNGIE!?"

Walau akhirnya Jaejoong berteriak. Ia juga tidak mampu menyampaikan sesakit apa rasanya ia saat itu. Hingga kini ia memilih menyakiti dirinya sendiri.


.

.

.

"Joongie-ah mian….mianhaeyo" Lirih Junsu seraya menahan isak tangisnya.

Ia berlutut diatas kedua lututnya yang bergetar. Ia memohon untuk sebuah pengampunan. Berharap sang terpilih memberinya satu kesempatan kedua. Ia berucap maaf berulang kali dengan penuh ketulusan. Dengan air mata yang menjadi pertanda penyesalan, di atas kebodohannya.

"Hyungie-ah." Junsu terperanjat. Ia begitu senang sebab itulah kata-kata pertama yang diucapkan oleh Jaejoong setelah kejadian nista itu. Berpikir setidaknya kata itulah, awal ia bisa kembali berbaikkan dengan sang dongsaeng.

Jaejoong terlihat asik memandang kosong ke langit-langit ruang rawatnya. Tergolek lemah setelah serasa semua darah dalam tubunya hilang. Tubuhnya yang menjadi kurus kering. Kerutan di kantong matanya menjadikannya terlihat memperihatinkan.

Jaejoong tanpa menoleh melanjutkan. "- Hyungie-ah.. Haruskah Hyung merahasiakan semuanya? Apakah.. apakah Joongie sebodoh itu? Hyungie dan Yunnie saling mencintai, aniya? Ah. Kanapa semuanya jadi rumit begini, Hyung?" Seraya tersenyum hambar, Jaejoong memalingkan wajahnya kesamping. Menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba basah oleh air mata.

Junsu tetap bergeming. Kata-kata yang Jaejoong lontarkan menohok hatinya dalam-dalam.

"Hyungie-ah. Joongie rasa sudah tak ada alasan apapun bagi Joongie untuk hidup aniya? Bukankah sekarang semuanya sudah jelas. Yunnie tidak akan pernah bisa mencintai Joongie…. Dan Hyungie-ah…. Jangan membohongi perasaan Hyung lagi. Itu tidak baik."

"Aniya Joongie-ah. Aniya! Semuanya benar! Hyung tidak bohong. Hyung sama sekali tidak mencintai Yunho." Junsu mengelak dan berontak.

Park Junsu..

Pintar sekali berbohong aniya?

"Hyung-ah. Jangan menghasiani Joongie… Hyung tahu? Hyung menyakiti Joongie kalau seperti itu."

Kejujuran itu penting. Namun ada kalanya kejujuran itu membuat kita terluka. Jadi bisa di simpulkan bahwa, tak selamanya kejujuran itu baik, aniya?

Begitu pula dengan Jaejoong. Dia senang tahu fakta bahwa Yunho adalah mantan kekasih Junsu, Hyungnya. Namun fakta di balik itu semua, bahwa mereka masih saling mencintai. Membuat Jaejoong hampir gila. Ia tidak bisa membayangkannya.


.

.

.

Jaejoong duduk di atas ranjang, mengayunkan kakinya yang menjuntai. Dari ruang perawatannya, ia memandang keluar jendela pagi itu.

Setelah semalam perdebatannya dengan Junsu tak membuahkan hasil. Hingga kini walau diluar sana dunia amat cerah, hatinya masih saja terselimuti mendung awan hitan nan pekatnya.

Jaejoong tidak tahu hidupnya akan ia lanjutkan seperti apa. Harapan terbesarnya akan mimpi masa depan bersama Yunho, pupus sudah.

Ia benci mengakui bahwa ia masih begitu mencintai Yunho. Namun, mengatahui kejujuran bahwa orang yang dicintainya malah mencintai orang lain. Dan yang lebih menyakitkan, orang itu adalah hyungnya sendiri.

Dia tahu, Yunho tidak akan mungkin pernah bisa mencintainya.

Ia menyerah saja untuk membuat Yunho berbalik mencintainya. Karena sekeras apa ia mencoba, sekuat apa ia berusaha, Yunho akan tetap bersikukuh pada pernyataan bahwa ia masih mencintai Junsu.

Dan itu amat sangat melukai perasaan Jaejoong.

Jaejoong turun dari ranjangnya mengambil langkah perlahan menuju pintu keluar. Menuju pelataran rumah sakit. Mengenakan kemeja berkerah lengan panjang dan celana jeans yang dibawanya dari rumah saat petama kali datang ke rumah sakit.

Jaejoong mengedarkan pandanganya ke sekeliling. Ia menyempurnakan letak topi merahnya sebelum melangkah meninggalkan rumah sakit.

Ia ingin kabur. Ia ingin melepas semua. Berdalih ingin menenangkan diri.

Sebelum benar-benar pergi Jaejoong meninggalkan memo kecil di meja nakas dalam ruang bernomor 9095, ruangan yang sempat menjadi kamar pesakitannya.

'Hyungie-ah. Mianhae. Joongie bukan ingin menjadi adik yang durhaka. Hanya saja. Hati Joongie sakit Hyung. Joongie ingin menenangkan diri sementara ini. Bolehkan?... Mian Hyung.. Annyeong Hyung. Saranghae'


.

.

.

"Jaejoong-ah ayo turun! menarilah bersamaku" Namja itu berbisik ke telinga Jaejoong, hingga Jaejoong dapat merasakan hembusan napas namja itu di sekitar telinganya. Membuat geli dan bulu kuduknya meremang. Sembari menikmati dentuman musim keras yang memekakan telinga, namja itu mengoyangkan tubuhnya menikmati setiap alunan lagu.

"Yihan-shi. aku ingin disini saja." Jaejoong berucap pelan. Tanganya sibuk memutar-mutar sedotan dalam gelas. Tak ada kata nikmat, ia sama sekali tidak menikmati apa yang orang sebut dengan kenikmatan di ruangan itu.

Yihan, teman Jaejoong semasa di senior high school 3 tahun lalu. Teman yang dulunya sempat menyatakan cinta padanya. Namun Jaejoong menolak, sebab ia tidak dapat merasakan apa yang Yihan rasakan terhadapnya.

Di tengah ramainya pengunjung diskotik tengah malam ini. Namja cantik itu memilih untuk duduk menyendiri di tepian meja bar dengan segelas jus jeruk yang 2 jam lalu di pesannya. Sedangkan Yihan telah turun ke lantai dansa dan menari layaknya zombi yang haus akan kepuasan.

Setelah kabur dari rumah sakit. Jaejoong mengasingkan dirinya ke tempat ini. Memilih menghilangan rasa sedihnya dengan kesenangan yang berbeda. Namun apa yang ia dapat? Tidak ada. Yang ada, semakin ia berusaha menghidar dari kenyataan. Semakin ia membuat hatinya sakit.

Hyung yang di sayanginya mencintai namja yang juga di cintainya.

Dan mereka saling mencintai.

Beda dengan dirinya.

Cintanya bertepuk sebelah tangan.

Itu… menyakitkan aniya?


.

.

.

"Jin Ki–ah mana berkas-berkas yang aku minta tadi siang?"

Namja tampan nan berwibawa itu sedang bercakap dengan namja lain di lobi kantor perusahaan Jung. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana. Manambah karisma yang menciptakan tatapan kagum bagi seluruh penghuni kantor siang itu.

"Ne sajangnim" angguk namja terpanggil Jin Ki, yang sedari tadi diajak bicara oleh namja tampan tersebut.

Mereka masih mengobrol setelah Jin Ki menyerahkan sebuah laporan kepada atasannya yang bermana Jung Yunho.

Tanpa menyadarinya, Jaejoong tengah bersembunyi di belakang tembok. Dari sana, ia dapat mengintip gerak-gerik sang pujaan hati.

"Yunnie-ah kau semakin tampan" batin Jaejoong. Jaejoong tersenyum lantas menghapus setetes air mata yang meluncur di pipinya. Maaf untuk itu, air mata brengsek itu sungguh tak mampu ia tahan.

Ia tidak bisa membohongi perasaanya. Ia merindukan Yunho. Kim Jaejoong masih sangat mencintai Jung Yunho.

"Yunnie-ah kau baik-baik saja." Tanpa mengalihkan pandangannya dari Yunho yang kini sedang tertawa bersama Jin Ki.

Ada nada lirih nan sendu disana. Mengungkapkan kekecewaan dan perih yang ia tahan-tahan.

Sejujurnya jika boleh, Ia ingin Yunho tidak baik-baik saja. Ia ingin Yunho merasa kehilangan karena ketidakberadaannya. Namun apa? Jaejoong rasa, ada atau tidak dirinya dalam hidup Yunho. Semuanya sama saja. Yunho akan selalu baik-baik saja.

Hidupnya. Semuanya.

Mungkin Jaejoong rasa akan lebih mudah mulai sekarang. Jadi setidaknya nanti ketika ia mati. Yunho tidak akan sedih. Yunho tidak akan merindukannya seperti dirinya yang setiap hari merindukan Yunho.

Ini berita baik aniya?


.

.

.

"SEMUANYA SALAHMU!" Junsu berteriak di depan meja kerja Yunho.

Seketika setelah mendobrak pintu dan tanpa ijin masuk. Junsu bersikap tidak sopan pada sosok di balik meja. Menatap nyalang penuh dengan emosi kemarahan.

Apa pedulinya tentang sopan santun lagi, jika orang yang amat penting dalam hidupnya hilang, entah di mana sekarang akibat kesalahan namja di hadapannya sekarang ini.

Yunho yang merasa tersudutkan menantang marah.

"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan!" Bentak Yunho berang. Ia berdiri dan menatap tajam ke arah Junsu yang kini jadi terisak hebat.

"Kembalikan Jaejoong-ku.. Kembalikan dia!" Junsu jatuh lunglai terduduk di lantai. Keadaanya tragis, rambunya acak-acakkan dan pun wajahnya kusut. Kantong hitam di matanya amat kentara, sebab berhari-hari tidak tidur untuk mencari keberadaan Jaejoong. Inilah perasaan yang terpendam Junsu hari-hari belakangan. Semenjak Jaejoong tak mengabarinya apapun setelah hilang dari rumah sakit.

Junsu menjadi seolah gila. Akibat begitu cemas.

"Mian Junsu-ah…" Yunho coba mendekat kearah Junsu yang duduk di lantai.

Yunho mendekap tubuh Junsu yang lemah. Ah, sungguh menyedihkan. Junsu bagai mayat hidup. Raganya utuh, hanya saja nyawanya terasa melayang entah kemana.

"Hiks. Jaejoongie. Dimana dia? Kembalikan Jaejoongku Yunho-ah. Kembalikan. Hiks… Aku bersalah, Joongie-ah Mian. Mianhae Joongie-ah." Junsu masih terus merancau tak jelas sembari terisak. Ia merasa tidak berguna sebagai seorang kakak. Ia telah melanggar janji kepada orang tuanya yang kini di surga untuk menjaga Jaejoong dengan baik.

Mendengarnya Yunho menyegit, hatinya terasa teriris. Ia yang salah. Ia penyebabnya. Yunho merasa bersalah, aniya? Bolehkan ia menyesal?

"Junsu-ah!" Seseorang berlari menuju Junsu. Mengambil alih tubuh Junsu dan memeluknya posesif. Tak menghiraukan Yunho yang terpaksa harus bergeser menjauh.

"Junsu-ah mianhae." lelaki itu bergumam. Ikut menangis.

"Yoochun-ah." Yunho memanggil nama namja itu.

"Yunho-ah mianhae. Junsu sedang stress karena tidak kunjung menemukan Jaejoong. mian Yunho-ah." Yoochun, suami Junsu itu meminta maaf atas semua kekacauan yang disebabakan oleh istrinya.

Ia juga sedih dan bingung. Bertanya-tanya apa penyebab semua ini terjadi? Ia bersumpah. Jika ia tahu siapa penyebab kejadian buruk ini. Ia akan melenyapkan orang itu sekarang juga.

"Mian merepotkanmu Yunho-ah. Aku akan membawa Junsu pulang." Yoochun mengangkat tubuh Junsu yang telah tertidur dalam gendongannya. Tubuh yang kian ringan itu tertelap begitu ia lelah menangis.

Biarkan Junsu istirahat sebentar. Biarkan ia melupakan sejenak kesedihannya. Biarkan dia berhenti menyalahkan dirinya dulu. Karena nanti ketika ia terbangun lagi, ia akan sekuat tenaga, mati-matian untuk menemukan dongsaengnya dan memohon pengampunan yang lebih besar dari sebelumnya.


.

.

.

Yunho memandang ke luar jendela kantornya yang gelap. Mengingat sore telah berganti menjadi malam. Dia meremas ujung meja yang didudukinya.

Otaknya kian runyam, tatkala mengingat kembali kenangan itu. Ingatan akan kesalahan fatalnya di gudang rumah Junsu.

Jaejoong, namja polos itu menjadi korban. Yunho adalah sang tersangka. Yunho merasa bersalah. Cukup baginya menyakiti Junsu, Jaejoong, kemudian Yoochun dan dirinya sendiri.

Sekarang ia merasa lelah. Entah permainan apa yang hendak Tuhan kirimkan untuknya. Hanya terkadang ia ingin menyerah saja. Ia ingin berhenti jika bisa.

"Yunho sajangnim. Saya sudah menemukannya." Seseorang yang hadir tiba-tiba di ruang kerja Yunho melapor.

Yunho terdiam tanpa menoleh.

"Jaejoong-shi, terlihat sedang duduk sendirian di halte bis menuju Jinan. Dan juga, Ia menjadi korban pencurian sajangnim."

"Kita pergi sekarang, Jin Ki-ah."

'Aku menemukanmu! Aku mendapatkanmu. Aku akan membawamu pulang Jae.

Untuk Junsu.'


.

.

.

"Apa kau sudah puas bermain?" Yunho duduk di sebelah Jaejoong yang terlihat memengangi perutnya sejak sejam yang lalu.

Ya, sejam yang lalu Yunho hanya memperhatikan Jaejoong dari dalam mobilnya yang terparkir di seberang. Terus melihat ke arah namja cantik itu yang meringis dan mengeluh sebab perutnya sakit akibat kelaparan. Namja yang dulu begitu mempesona itu, namja yang bicaranya seperti kaset rusak itu kini duduk menyedihkan di halte bis terlunta-lunta.

Jaejoong menoleh ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya ia, "Yun.. Yunnie-ah."

"Anak kecil, seharusnya ada di rumah. Bermain boneka atau ayunan. Bukan berkeliaran di jalanan seperti ini. Tidak bisakah kau berhenti membuat kakakmu khawatir?" ucap Yunho yang tak menghiraukan wajah terbengong-bengong Jaejoong memandangi lekat wajahnya.

"Aku akan melaporkan mu pada Hyungmu kalau kau menjadi dongsaeng yang nakal." Lanjut Yunho santai.

"Andwe! Joongie hanya ingin bermain sebentar." Tampik Jaejoong setelah semua nyawanya yang lalu hilang terkumpul kembali.

"Pulanglah Jaejoong-ah." Lirih Yunho. Ia meminta dengan tulus.

Sungguh ingin mengembalikan semuanya ke awal. Agar semuanya pun akan kembali baik-baik saja.

"Tidak. Joongie tidak mau pulang." Tolak Jaejoong mentah-mentah.

Yunho tersenyum. Ia tahu Jaejoong pasti akan menolak.

"Junsu terlihat menyedihkan, kau tahu ia berhari-hari tidak tidur karena mencarimu Jae."

Jaejoong terdiam. Ia merasa ada rasa kasihan yang muncul dari lubuk hatinya. Ia sadar, Hyungnya pasti sangat mengkhawatirkan keadaannya. Namun, keegoisannya menampik segalanya. Ia masih ingin menghukum Hyungnya. Ia masih ingin membuat Hyungnya jujur pada perasaanya sendiri.

Lama Jaejoong merespon membuat Yunho mau tak mau mengambil pilihan. "Baik kalau begitu, selamat bersenang-senang Jaejoong-ah. Aku pergi."

"Yunnie.. ah ani. Yunho-hyung." Jaejoong mencekal lengan Yunho yang hendak pergi meninggalkannya. "-Bolehkah Joongie ikut dengan Hyung? Joongie tidak punya uang lagi. Joongie tidak tahu harus pergi kemana"


.

.

.

"Masuklah!" Ajak Yunho pada Jaejoong yang dari tempat parkir hingga depan apartemenya hanya mengekorinya.

"Hyung... Tolong rahasiakan ini dari Junsu-Hyung."Pintu Jaejoong memelas. Ia belum ingin Junsu mengetahui keberadaannya. Ia belum ingin mengakhiri hukumannya pada Junsu.

Yunho membalikkan badan, menghadap Jaejoong yang masih berdiri saja di depan pintu. Yunho berpikir sejenak. Menimbang-nimbang permintaan Jaejoong yang satu itu. "Oke." Singkat Jawaban Yunho.

Kemudian Ia berjalan masuk lebih jauh dalam apartemennya yang terlihat mewah.

"Gomawo Hyung." Jaejoong membungkuk dalam. Lalu berjalan mendekati Yunho.

Yunho memasukan kedua tanganya ke saku celana lantas berkata. "Jja. Aku hanya punya satu tempat tidur. Jadi, kau tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa."

"Andwe Hyung. Biarkan.. biar Joongie saja yang tidur di sofa." Jaejoong mencekal lengan Yunho yang hendak beranjak meninggalkannya.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengambilkan bantal dan selimut untukmu"

"Gomawo Yunho Hyung." Jaejoong melepaskan tanganya pada lengan Yunho dengan perlahan. Seakan tak merelakan kepergian Yunho.

Jaejoong mengedarkan padangannya kekeliling apartemen. Tak ada yang nampak jauh berbeda setelah perama kali ia menyambangi tempat ini. Saat ia nekat kabur dari rumah sakit waktu itu. ah jika mengingat-ingatnya kembali. Jaejoong ingin sekali menertawakan dirinya. Ia merasa benar-benar bodoh.

Yunho datang dengan memeluk selimut tebal dan bantal kuning. "Ini selimut dan bantalnya. Jika kau ingin sesuatu jangan sungkan memintanya padaku."

"Gomawo Yunho Hyung."

"Berhentilah mengucapkan terima kasih. Anggap saja aku Hyungmu, arra?" Jaejoong terpaku ketika dengan manisnya Yunho mengacak gemas rambutnya.

Hyung? Ne.. Hyung. Mereka hanya kakak dan adik. Tidak mungkin lebih aniya?

"N.. Ne, Ne Yunho Hyung."

Jaejoong melangkah kakinya yang bergetar. Sepertinya ada perasaan aneh melandanya. Kala tangan kokoh itu mengacak rambutnya, Jaejoong merasa akan melayang ke surga ketika itu juga.

Yunnie-ah. Gomawo..

.

.

.

-TBC-

(a/n: Huhuhu. Ini redb persembahkan special untuk reader dengan pen name HOLEPINK. ILOVEU. Sumpah. Gara-gara review-an holepink maka chapter ini tercipta dengan mudah. Hehehe. Yosh. Selanjutnya buat reveiw-an yang kyk gitu lagi ne? redb yakin, chap selanjutnya nie FF pasti bakal update asap,, okey? ILOVE U reader-shi.

Terima kasih untuk reader yang masih setia membaca Fanfic Redb. Redb merasa berharga. Terima kasih atas dukungannya. Terima kasih dan Terima kasih. ..annyeong.)