KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI CHAPTER 4

Characters : Karma Akabane, Okuda Manami, dan chara lainnya

Disclaimer : Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Warning : Abal, aneh, kayaknya ada typo, mungkin OOC, cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan ide.

DON'T LIKE DON'T READ


Sore yang tenang, di mana seorang Akabane Karma sedang asyik bersantai di kasur sambil bermain game PSP tersayang. Sampai pada akhirnya, bel rumah berdentang, membuyarkan konsentrasi hingga monster dalam game mengalahkan permainannya.

Game over.

Karma mendecih, siapa pula manusia yang datang untuk mengganggu waktu santainya yang langka itu? Mengingat Ibunya pergi karena urusan kantor mendadak tadi pagi, dan secara otomatis membuat Karma sendirian di rumah, maka pemilik helaian merah itu harus membuka pintu sendiri.

"Oh, Nagisa-kun, Kayano-chan," ucap Karma saat melihat dua temannya datang, "Ayo, silahkan masuk."

"Tidak usah Karma-kun. Kami kemari hanya untuk menyerahkan ini," tolak Nagisa sambil menyerahkan sebuah tas kecil.

Karma mengintip isinya. Beberapa buku catatan dan beberapa kotak jus kesukaannya ada di dalam.

Nagisa menggaruk-garuk tengkuknya, "Ngg ... kau kan tidak masuk seminggu ini, makanya kami membawakan catatan kami."

"Bagaimana keadaanmu, Karma-kun?" tanya Kayano.

"Baik kok. Tenang saja."

"Syukurlah kalau begitu."

"Ah, maaf Karma-kun. Kami sudah harus pergi," ucap Nagisa sambil menggandeng tangan Kayano.

Karma mengerenyit heran, "Memangnya kalian mau kemana? Buru-buru sekali?"

Nagisa mengusap-usap tengkuknya, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Karma. Karma mengangguk-angguk mengerti.

"Baiklah, selamat bersenang-senang."

Ketika Kayano dan Nagisa menghilang dari pandangan, diam-diam pemilik surai merah itu salut dengan teman surai birunya sejak kelas 1 SMP itu.

Nagisa mengajak Kayano kencan menonton film movie dari Anime kesukaan Kayano di bioskop dengan dalih mendapat tiket gratis.


- KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI -


Okuda sedikit merenggangkan badan saat bel pulang berdentang. Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, di mana anak-anak sudah harus pulang.

Lho? Lalu, kenapa ada bel yang berdentang pukul delapan malam?

Jawabannya, karena Okuda sedanga berada di tempat lesnya. Sepulang sekolah tadi, setelah belajar tambahan dengan Koro-sensei, pulang untuk mandi dan mengganti baju, Okuda pergi ke tempat les. Okuda memang merasa capek, namun, dia menikmatinya.

"Okuda-chan! Mumpung malam Minggu, mau ikut jalan-jalan dengan kami?" tanya seorang anak perempuan.

Okuda menoleh dan menggelengkan kepala, "Maaf, aku tidak bisa ikut kali ini, mungkin lain kali saja. Maaf ya."

Gadis yang mengajak menggeleng, "Ah, kau ini. Pasti cuman mau mengulang pelajaran lagi, 'kan? Sesekali mainlah ke luar," ucapnya, "Baiklah, kalau kali ini tidak bisa, yang berikutnya harus ikut, ya?"

Okuda mengangguk sambil tersenyum, "Tentu. Terima kasih!"

Setelah teman-temannya pergi, Okuda juga melangkahkan kaki keluar kelas. Meski ini malam Minggu, kedua orangtuanya tetap saja tugas lembur, sehingga tidak ada yang namanya acara keluarga kecil-kecilan. Kadang kala, dia merutuki nasib sebagai anak tunggal karena tidak punya teman bersua di rumah.

Melewati sebuah restoran pizza, Okuda memutuskan mampir. Mumpung kali ini dompet sedang aman dalam keadaan tebal, tidak ada salahnya mengambil sedikit untuk memuaskan perut yang keroncongan, bukan?

Mengahadapi seloyang kecil berisi empat potong pizza Margharitha, segelas Milkshake strawberry, dan semangkuk kecil salad dengan saus mustard, Okuda mendapatkan waktu santai pribadinya. Dengan gembira, gadis berkepang dua itu mulai menyantap hidangannya.

Malam Minggu begini, restoran lumayan penuh dengan pengunjung. Ada yang sendiri sepertinya, bersama keluarga, teman-teman dan ada juga beberapa pasangan kekasih yang nampak cukup mesra datang memadati ruangan. Ketika sedang menggigit pizza, pasangan kekasih yang ada di depannya sudah hampir melancarkan adegan 'cuuup' kalau saja mereka tidak menyadari ada anak SMP yang duduk di belakang mereka.

Okuda gondok.

Ketika makanan sudah habis dan perut sudah terisi, Okuda memutuskan untuk segera pulang saja. Ketika memcari dompet, Okuda menarik keluar sebuah buku catatan berwarna biru. Sejenak pemilik manik ungu itu tercenung, sebelum penjaga kasir menegur. Usai membayar, Okuda keluar dari restoran, menatap jalan sebentar, dan mengubah haluan pulang.

Dan mungkin dia akan menyesali keputusan ini.

Atau mungkin menyukainya.


- KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI -


"Kalau tidak salah, ke arah sini."

Berbekal ingatan beberapa waktu lalu saat dia dan seluruh kelas 3-E menengok Karma, Okuda melenggangkan kaki jenjangnya menyusuri jalan-jalan gelap di hadapannya.

Ya, gadis itu hendak mengantarkan buku catatan pelajaran yang tadi sempat dia pandangi.

Setelah berbelok dan berputar-putar beberapa kali, akhirnya, rumah yang ditujunya sampai juga. Rumah berpelat 'Akabane'.

Ting Tong

Okuda menelan ludah dengan gugup. Gadis berkepang dua itu bingung dengan tindakan sendiri. Apa yang menyebabkannya datang ke rumah Karma malam-malam begini? Ya, menyerahkan catatan, tugas, PR dan daftar ulangan harian yang dilakukan selama seminggu agar teman sekelasnya itu tidak ketinggalan pelajaran. Tapi, yang dibicarakan ini Karma. Tanpa catatan dari teman, dia bisa saja menyusul tanpa perlu susah payah belajar.

Ya, sudahlah. Toh, sudah terlanjur pencet bel juga.

Tetap saja, gadis berkacamata itu berharap, berdo'a semoga yang keluar adalah Ibu Karma, Ayahnya, atau siapalah, sehingga dia tidak perlu bertatap muka dengan pria bersurai merah itu.

"Ya, a– Lho? Okuda-san?"

Sayang sekali, Tuhan tidak mengabulkan do'anya.

Okuda mengangkat kepalanya kikuk. Ditatapnya Karma yang berdiri di depannya. Anak itu terlihat lain dari biasanya, memakai celana panjang hitam, kaos V-neck hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih dan berbalut jaket merah, serta sandal rumah yang membungkus kakinya. Perban sudah tidak melilit kepalanya, digantikan dengan kain kasa yang tertempel pada dahi kanannya.

"A-ano Karma-kun, a-aku kemari hanya untuk menyerahkan ini," buku tulis biru dan beberapa lembar kertas itu ia serahkan pada Karma, "I-ini catatan mata pelajaran selama seminggu, tugas-tugas yang kami kerjakan, PR-PR, dan materi ulangan hari Kamis lalu."

Karma menerima buku dan kertas itu. Tidak berkata apa-apa.

Okuda- san memainkan jarinya, "E-etto, Karma-kun 'kan tidak masuk seminggu, ku-kupikir ini akan membantumu supaya tidak terlalu repot. T-tapi, maaf. Aku tidak begitu pandai dalam Bahasa Jepang, j-jadi aku memfotokopi catatan Kanzaki-san d–"

"Stop."

Okuda tercekat dan mengentikan kata-katanya.

"Aku tidak peduli catatan Bahasa itu dari siapa, tapi," jari telunjuk Karma turun dan mengangkat dagu Okuda, "Kalau bicara, sebaiknya kau menatap lawanmu, bukan?"

Okuda menelan ludah gugup. Mata tembaga Karma menatap mata ungunya intens.

"A-ano, e-etto–"

"Kau ini lugu sekali," Karma menurunkan jarinya, tersenyum, "Terima kasih."

Okuda mengangguk.

Ah, senyumnya. Bukan, bukan senyum licik andalan sang bintang kelas ini. Melainkan senyum lembut yang baru pertama kali dia lihat. Senyum yang amat manis.

"Ohya, apa yang kau lakukan malam-malam begini? Bukankah rumahmu tidak mengarah kemari?"

"Ah, aku baru pulang les. Kebetulan tempatnya dekat dari rumah Karma-kun, jadi sekalian mampir," Okuda mulai merasa santai, "Bagaimana keadaanmu?"

"Baik kok. Kurasa aku bisa masuk Senin mendatang."

"Yokatta, kami semua sudah membuat rencana pembunuhan kami. Kuharap Karma-kun juga bisa ikut membunuh Koro-sensei."

Karma mengeluarkan pisau karet dari balik jaketnya, "Sudah kubilang, aku yang akan mengambil nyawa sensei," ucapnya sambil menyeringai, "Ah, sampai lupa. Ayo, silahkan masuk Okuda-san."

Okuda menggeleng, "Terima kasih. Aku juga sudah mau pulang, sampai nanti, Karma-kun."

Baru saja Okuda hendak berbalik, tangannya sudah diraih oleh Karma, "Tunggu sebentar, biar aku mengganti sandalku dulu. Aku akan mengantarmu pulang."

Okuda mulai merasakan darahnya memenuhi pembuluh darah di pipinya, "E-eh, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Karma-kun sebaiknya beristirahat."

"Daerah sini berbahaya kalau sudah malam."

Okuda mulai gugup lagi, "Ti-tidak perlu, Karma-kun. Aku juga 'kan anggota kelas 3-E yang akan membunuh Koro-sensei. Aku bisa pulang sendiri."

Karma mengamati objek di depannya. Gadis lugu bisa keras kepala juga. Karma kembali tersenyum tipis, kemudian melepas pegangannya.

"O-Oke, Karma-kun. Aku pulang dulu. Jaa ."

Karma mengangguk, "Hati-hati."

Setelah Okuda menutup pagar, Karma menatap buku dan kertas-kertas yang ada dalam genggamannya. Pelajaran seminggu. Semuanya sama dengan yang dibawa Nagisa dan Kayano tadi sore. Perbedaannya, Okuda menggunakan buku yang lain dan menyatukan semua mata pelajaran sesuai dengan hari. Sementara Nagisa dan Kayano meminjamkan buku catatan mereka masing-masing.

Karma menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Mau dia apakan tumpukan buku menjemukan ini? Toh, tidak diberi juga dia bisa belajar sendiri dan mengejar dengan cepat. Tapi diam-diam, Karma tertawa kecil mengingat ekspresi Okuda saat memberikan buku tadi. Catatan yang rapi, khas anak perempuan. Kerelaannya mengantar buku malam-malam, kegigihannya dalam memimjam buku catatan orang lain yang mudah dimengerti Karma yang benci pelajaran Bahasa Jepang padahal dia sendiri tidak mahir Bahasa Jepang, serta ketekunannya mencatat dua kali lipat dari biasanya. Semua itu meninggalkan kesan padanya.

Karma menghela napas pelan , memandang jalan di depan pagarnya yang sepi.

Ada yang harus kulakukan.


- KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI -


Okuda berderap cepat demi kembali ke keraimaian. Daerah tempat tinggal Karma gelap sekali. Meski malam ini cerah, bulan masih belum bisa menerangi tempat ini. Lampu jalanan juga nampak payah –redup.

"Hei manis, mau kemana?"

Langkah Okuda terhenti, di depannya berdiri lima laki-laki dewasa.

"A-ano, saya buru-buru, maaf."

Okuda langsung berderap, namun sayangnya, salah seorang di antara mereka berhasil merengut lengannya paksa, "Wah-wah, anak-anak zaman sekarang tidak tahu adat rupanya," laki-laki beringas itu mendekati wajah Okuda, "Bagaimana kalau Paman yang berikan pelajaran tambahan untukmu?"

Sudah jelas Okuda tidak mau. Secepat kilat, diayunkannya tasnya dengan tangan yang bebas ke arah muka si laki-laki. Ketika tangannya terlepas, Okuda terhuyung ke belakang, namun, karena pelatihan dari Karasuma-sensei, dia bisa mengendalikan tubuhnya dan berdiri dengan kedua kaki yang tegap. Sadar akan kemampuan, Okuda bergegas lari.

"Hei, jangan kabur. Anak sialan!"

Berkat tubuhnya yang kecil dan ramping, Okuda dapat berlari dengan cepat. Sayangnya, seorang di antara laki-laki itu kembali merengut tangannya. Digunakannya kaki ramping itu untuk menendang leher pelaku dengan gerakan bela diri sempurna. Okuda kembali terlepas, dan lari.

Dia tidak tahu mau kemana. Jalanan itu asing.

"Mau kemana, gadis manis?"

Okuda tersentak, laki-laki yang dia hajar dengan tas sudah berdiri di depannya. Di samping orang itu, rupanya ada gang kecil. Okuda hendak membalik badan, sialnya, laki-laki yang lain rupanya sudah mengelilinginya.

Karma benar, di sini berbahaya.

"Anak manis, mari, ikut dengan Paman," ucap seorang di antaranya, membawa Okuda merapat pada dinding.

"T-tidak," Okuda memeluk tasnya kuat-kuat, "Akan kuberikan uang dan ponselku. Kumohon, lepaskan aku."

"Haaaah?" salah satunya mencemooh, "Kami tak mau barang kuno itu."

Laki-laki yang dia hajar dengan tasnya mencondongkan wajahnya, menatapnya dengan penuh nafsu, "Kami ingin dirimu. Manis."

"Ti-tidak," Okuda mulai menangis.

Matilah aku.

"Ayo, kemarilah d–"

BUAGH!

"UUUGGHHH?!"

Tiba-tiba saja, laki-laki itu pingsan.

"Wah, wah. Aku hanya memukulnya dengan pipa paralon. Kok pingsan?"

Dari balik kegelapan, Karma muncul dengan sebilah pipa paralon yang cukup besra yang entah dimana dia pungut, "Laki-laki dewasa kok menggoda anak SMP?"

"K-Karma-kun ..."

"Bocah sialan!"

Karma melempar pipa paralon tersebut lalu memasang kuda-kuda. Pertarungan tangan kosong lebih menarik minat. Keempat orang itu maju bersamaan. Satu orang berusaha mencekal bajunya, namun Karma berhasil menghindar. Di belakangnya, satu preman sudah siap menghadang. Dengan cepat, dilepaskan satu pukulan menghantam wajah. Si preman membungkuk kesakitan, membuka celah besar untuk melepaskan satu tendangan.

Satu lagi sudah ditumbangkan.

Tiga orang tersisa makin tersulut amarah, dua diantaranya maju berlawanan. Karma mengabil ancang-ancang, lalu melompat dengan tinggi, membuat dua preman saling bertabrakan satu sama lain.

"Bocah setan!"

Dua preman yang saling bertabrakan langsung menyerang membabi buta. Tapi, karena Karma sudah terlatih dan memiliki bakat bertarung yang tinggi, dia bisa menghindari semua serangan. Ketika salah satunya melancarkan pukulan, dengan sigap Karma menahan dan menendang perut si preman hingga jatuh tersungkur setengah meter, mendarat dengan menabrak tempat sampah lalu tepar di tempat. Yang satunya menunggu kesempatan, menyerang dari samping, lalu ditapis oleh tonjokan ke arah leher.

Preman keempat tumbang.

Karma lupa jika masih ada satu yang bertahan, preman terakhir melancarkan serangan dengan pisau di tangan. Karma terlonjak, namun berhasil menghindar. Tepat ketika tusuk kedua hendak dilayangkan, si preman tiba-tiba tersungkur ke tanah.

Karma heran.

Ternyata, di belakang si preman terakhir, ada Okuda yang memegang pipa paralon yang barusan dicampakkan oleh Karma. Rupanya, Okuda-lah yang menumbangkan preman terakhir dengan cara mementung kepalanya. Karma bersiul kagum, lalu meraih tangan Okuda, "Kau tidak apa-apa?"

Okuda menggeleng.

"Yosh, di sini bahaya. Ayo lari!"

Dengan tangan yang saling bertautan, mereka berdua meninggalkan lima laki-laki yang terkapar di dalam lorong itu.


- KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI -


"Hhhh ... Hhhh ... Hhhhh ..."

Keduanya mengatur napas ketika sudah sampai pada tempat yang aman.

"Sudah kubilang 'kan, daerah sini berbahaya kalau malam," ucap Karma, "Kau terluka?"

Okuda menggeleng, "Tidak. Terima kasih sudah menyelamatkanku. Maaf, Karma-kun malah jadi harus bertarung."

"Yang penting kau tidak apa-apa," ucap Karma sambil menempelkan punggungnya pada dinding, "Aku akan mengant– Khhh," Karma membungkuk dan memegangi kepalanya.

"Karma-kun!" Okuda menahan tubuh Karma.

"Aku tidak apa-apa Okuda-san," ucap Karma disela kerenyit sakitnya, "Ma-maaf, bisa duduk sebentar?"

Okuda mengangguk dan membantu Karma untuk duduk. Karma yang masih tersengal-sengal berusaha menguasai dirinya, "Sial, sakit juga," ucapnya sambil memegangi kepalanya.

Okuda memperhatikan Karma. Bagi Karma yang biasanya, yang dia hadapi tadi itu amat-sangat sudah meguasai diri, napasnya masih sedikit tersengal-sengal dan wajahnya terlihat pucat. Tetesan keringat membasahi wajahnya. Berbeda dengan Karma yang biasanya. Wajar saja, Karma baru keluar Rumah Sakit dua hari lalu. Pastinya kondisinya yang sekarang tidak memungkinkan baginya untuk berkelahi.

Okuda merogoh sakunya, menarik keluar sehelai saputangan. Dengan perlahan dan sedikit gemetaran, diusapnya keringat yang membanjiri wajah Karma.

Karma tersentak, lalu menatap Okuda. Mata gadis itu berkaca-kaca.

"Maaf, maafkan aku ..."

Karma menghela napas dan mengambil saputangan itu, "Aku tidak apa-apa," ucapnya sambil mengelap keringatnya sendiri.

"Ta-tapi, karena aku Karma-kun ja–"

"Sudahlah, kubilang aku tidak apa-apa. Aku tidak selemah itu."

Hening sejenak. Karma melirik jam tangannya, "Sudah mulai larut. Ayo, kuantar kau. Kali ini jangan menolak."

Okuda hanya bisa mengangguk pasrah.

Setelah merasa lebih baik, Karma segera mengantarkan Okuda pulang. Jalanan sepanjang rumah pria bersurai merah ini masih tampak makin suram saja. Tambah lagi, suasana yang sepi, membuat orang yang tidak punya nyali langsung mengurungkan niat untuk melintas. Okuda mengeratkan pegangan pada tasnya, merasa takut. Tapi, itu pastinya tidak berlaku bagi Karma.

"Karma-kun, tidak merasa takut tinggal di sini?" Okuda berbicara perlahan.

Karma mendelik, "Takut? Aku? Hahaha!" Karma tertawa, "Tentu saja tidak. Justru, ini adalah tempat bermain yang sempurna untukku."

"Meskipun bertemu dengan preman-preman tadi?"

Karma melejitkan alisnya, "Begitulah. Sejak aku kecil, sudah banyak preman yang keliaran di sekitar sini kalau menjelang malam. Mungkin karena daerah sini gelap, karena daerah sini masih lumayan asri dan banyak pohon-pohon besar," jelas Karma, "Tapi, bagiku tidak masalah. Aku sudah sering keluar dan bermain malam-malam seperti ini, apalagi kalau sedang suntuk."

"Kalau berkata begitu, Karma-kun malah jadi seperti seorang pembunuh betulan," ujar Okuda sambil memandang Karma.

"Hah? Kau ini bicara apa? Kita ini memang anak-anak yang dididik untuk membunuh Koro-sensei bukan?" ucap Karma, "Lagipula, menurutku, Nagisa malah lebih cocok untuk jadi pembunuh."

Kita, huh?

"Karma-kun merekomendasikan pekerjaan? Hehehe," Okuda mulai tertawa kecil, "Memang sih, kita ini punya misi untuk membunuh. Tapi, aku tidak begitu lihai seperti yang lain. Karma-kun, Nagisa-kun, Sugino-kun, Maehara-kun, Isogai-kun, bahkan Kataoka-san, Okano-san lebih hebat dari yang lain. Belum lagi ada Chiba-kun dan Hayami-san yang jago menembak."

Karma tersenyum, "Biarpun begitu, kau juga punya keahlian tersendiri, Okuda-san. Kimiamu itu sungguh luar biasa. Suatu hari nanti, kita semua akan menemukan jalan untuk membunuh Koro-sensei."

Kita, huh?

Mereka terus berjalan, sampai pada akhirnya, mereka sampai pada tempat persimpangan jalan tempat dimana Karma pernah kecelakaan. Setelah sama-sama menyebrang jalan, mereka berdua harus berpisah.

"Nah, sekarang sudah ramai. Kalau tidak salah, perumahanmu juga terbilang ramai bukan? Tidak usah takut lagi."

Okuda mengangguk, "Terima kasih. Ano, cukup sampai di sini saja. Kalau Karma-kunmengantar sampai rumah, malah akan menambah jauh perjalanan pulangmu saja. Aku juga tidak mau Karma-kun kenapa-kenapa di jalan. Sebaiknya, sampai sini saja."

"Sudahlah, 'kan sudah kukatakan kalau aku biasa keluar malam-malam. Lagipula a–"

"Itu 'kan saat Karma-kun sedang sehat," potong Okuda, "Biarpun mengatakan baik-baik saja, Karma-kun pasti belum sepenuhnya fit. Sebaiknya Karma-kun segera pulang dan beristirahat kalau memang mau masuk di hari Senin."

Itu 'kan saat Karma-kun sedang sehat. Yeah, Karma tidak bisa membantah kalimat ini. Tadi juga sudah terlihat, hanya mengalahkan lima preman saja dia sudah merasa kelelahan. Padahal biasanya, yang begitu malah belum cukup untuk sekadar pemanasan.

Karma menghela napas, "Baik-baik, aku akan mengikuti saranmu. Tidak ada gunanya aku membantah sekarang. Aku juga tidak terlalu khawatir karena jalanan juga tidak sepi, mumpung malam Minggu," ucap Karma, "Sebaiknya kau segera pulang."

Okuda tersenyum, "Baiklah. Karma-kun juga. Sampai jumpa."

"Kali ini, hati-hati."

"Harusnya aku yang berkata begitu, Karma-kun."

Karma melejitkan alisnya, Okuda terkekeh pelan lalu mulai melangkah. Karma memperhatikannya beberapa saat sebelum berbalik dan menunggu lampu merah.

Tin tin tin

Karma menoleh, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Dari dalamnya, Nyonya Akabane yang baru pulang kerja segera menghampirinya dengan wajah cemas.

"Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini? Kau baru saja sembuh, Karma," ucap Nyonya Akabane sambil menggiring Karma ke dalam mobil.

"Aku hanya mengantar temanku pulang," jawab Karma.

"Teman?" Nyonya Akabane menoleh dan mendapati tubuh Okuda dari kejauhan, "Manami-chan, ya?"

"Ibu kenal?"

Nyonya Akabane mengangguk, "Kami bertemu di depan ruang operasimu tempo lalu," jelasnya.

"Apa yang Manami-chan lakukan?" tanya Nyonya Akabane saat mereka sudah berada dalam mobil.

"Pulang les, dan dia mengantarkan catatan pelajaran untukku. Dia sempat dihadang preman saat berkeras pulang sendirian. Jadi, aku mengantarnya sampai kemari."

"Sempat dihadang preman saat sendirian. Jadi, kau menyusulnya?"

Lagi-lagi Karma mengangguk, "Dia tidak kenal dengan daerah rumah kita. Lagipula di sana memang berbahaya kalau malam, jadi kususul saja."

"Kau hebat juga, bisa menemukan Manami-chan sebelum preman itu melakukan sesuatu padanya."

"Itu 'kan tempat jajahanku, Bu," Karma menyeringai.

Nyonya Akabane terkekeh sambil memandang Karma, "Ya, ya. Ibu tahu. Tapi, kau pasti berkelahi dengan preman itu, 'kan? Kau baik-baik saja?"

"Hanya sedikit pusing."

Nyonya Akabane menghela napas, "Kau ini kalau sudah bertemu dengan orang yang terpojok, pasti bertindak sembrono."

"Kalau aku langsung lari saja dengan Okuda-san, mereka pasti mengikuti. Tapi aku yang sekarang, tidak akan kuat lari lama-lama. Jadi, setidaknya kujatuhkan mereka saja dulu. Lagipula, Okuda-san itu perempuan. Kasihan kalau lari lama-lama."

Nyonya Akabane memandang putra sematawayangnya. Jelas, kata-kata Karma itu membuatnya bingung sekaligus heran juga. Mengingat putranya yang cenderung brutal, kata-kata itu pasti sangat langka bisa meluncur dari mulutnya.

"Ibu, kalau terus memandangku begitu, yang ada Ibu akan menabrak," ucap Karma.

Nyonya Akabane mengalihkan pandangannya cepat-cepat, "Sebaiknya kita ke rumah sakit dulu."

Karma mengangguk mengiyakan saja. Tanpa sengaja, dia menyentuh sakunya. Ada benda asing di sana. Saat dia raba, rupanya itu sapungan Okuda. Dia lupa mengembalikannya. Ya, sudahlah, dia bisa mengembalikannya nanti. Karma menurunkan sandaran jok dan merosotkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman untuk berbaring sejenak.

Sementara itu, pikiran Nyonya Akabane berputar-putar. Ada juga rupanya anak perempuan yang tidak takut pada anaknya. Mungkin saja, anak itu bisa meluluhkan hati putranya yang brutal. Lagipula, sepertinya Karma sedikit menaruh perhatian pada Okuda. Nyonya Akabane tersenyum kecil. Pemikiran nakal yang akan dia gunakan untuk menggoda putranya mulai menari-nari dibenaknya.

"Hei, Karma. Temanmu it– Lho? Sudah tidur, ya?"

Baru saja Nyonya Akabane hendak menggoda, ternyata mata Karma sudah terpejam. Putranya sudah jatuh tertidur. Napasnya berhembus teratur. Tampak kelelahan setelah semua yang dilalui. Nyonya Akabane tersenyum kecil. Karma terlihat polos di matanya.

"Pasti kau capek, ya?" ucap Nyonya Akabane sambil mengusap-usap rambut merah Karma, "Yah, selama perjalanan. Mungkin ada baiknya kau tidur," Nyonya Akabane menutup jendela di samping Karma.

"Oyasumi, putraku sayang."

Yah, sebengal-bengalnya Karma, dia masih seorang bocah.


- BERSAMBUNG -


A/N : Nyuahahahaha! Hore! Selesai! Akhirnya, adegan KarManami-nya sudah mulai buanyak! #ketawasetan #digelepak. Fyuuuh. Lega deh rasanya. Haha, ya deh, saya memang nggak jago bikin adegan action. Saya masih harus , mohon kritik dan sarannya dari pembaca sekalian!

Balasan reviev

Suan

Iya, Suan-san. Ini sudah update, kok . Terima kasih sudah membaca!

Salam

Adnida Kia Rahid