Kris menatap Jongin yang baru saja memasuki rumah. Wajah gadis itu terlihat sangat lelah. Namun Kris tidak bisa berbuat apapun. Ia terlalu gengsi untuk peduli pada Jongin.

"Makan lah..."

"Aku sudah makan tadi. Terima kasih."

Setelah itu kembali hening. Jongin segera memasuki kamarnya sementara Kris menatap pintu kamar yang tertutup itu.

"Kris, belum tidur nak?" Sang ibu menyadarkan nya. Kris segera tersenyum pada ibu nya. "Aku dari dapur tadi. Aku akan tidur sekarang. Selamat malam bu."

Di tempat lain.

"Opp- oppahh..." Sehun segera mempercepat gerakannya hingga dalam beberapa saat ia berhasil mendapatkan orgasme nya.

Sial!

Sehun tak tahu mengapa di saat seperti ini ia malah membayangkan wajah Kim Jongin yang mendesah di bawahnya. Dan entah sihir apa yang di gunakan wanita itu,hingga Sehun bisa sampai lebih cepat dari semua sesi bercinta nya selama ini.

"Argghh..." Membayangkan Jongin membuatnya kembali horny lagi. Jadi ia kembali menggerakan kejantanannya yang masih tertanam di dalam Baekhyun.

"Ahhh..."

ㅇㅇㅇㅇ

Kelas Jongin memiliki jadwal pelajaran olahraga hari ini. Dan sialnya dia harus kena kelas gabungan bersama si Oh bajigan Sehun karena sang guru akan izin esok hari dimana jadwal kelas Sehun harusnya berlangsung.

"Hari ini kita akan latihan basket berpasangan. Jadi silahkan pilih pasangan kalian sendiri." Bertambahlah kesialan Jongin. Kelasnya memiliki jumlah murid yang ganjil, jika ia meminta Chanyeol untuk berpasangan dengannya maka teman-temannya pasti akan marah.

"Guru Kim, aku ingin berpasangan dengan Kim Jongin." Jongin melebarkan matanya. Ia berusaha mati-matian untuk tidak menendang bokong si pria pucat itu. Sedangkan semua siswi sudah berteriak kecewa akan keputusan Sehun.

"Baiklah. Jongin kau berpasangan dengan Sehun." Jongin melangkah dengan enggan, namun baru beberapa langkah ia kembali mundur menghampiri Chanyeol.

"Chan..." Jongin menunjukan aegyo nya pada Chanyeol. Pria caplang ia mencubit pipi Jongin gemas. Namun ia tidak memperdulikan rengekan Jongin itu.

"Sana."

"Jahat nya!" Jongin menghentakkan kakinya ,lalu menghampiri Sehun dengan wajah di tekuk.

"Seharusnya kau senang berpasangan dengan ku." Jongin hanya mendecakkan lidahnya seperti biasa. Pria ini terlalu percaya diri. Mungkin ia harus memeriksakan keadaan mentalnya pada dokter ahli jiwa.

"Baiklah. Setiap pasang akan di berikan waktu selama 10 menit untuk saling mengoper bola. Setelah itu kita akan mengadakan pertandingan campuran antar kelas. Siap semua nya. 1, 2 ,3 pritt!"

Semua murid segera melakukan perintah dari guru Kim. Termasuk pasangan Sehun dan Jongin. Awalnya semua berjalan lancar, bahkan fokus semua siswi beralih pada mereka berdua, tentu saja karena mereka sangat iri dengan Jongin. Namun lama kelamaan lemparan Sehun semakin jauh, Jongin bahkan sudah beberapa kali berlari untuk mengejar bola yang di lempar Sehun.

"Kau tak bisa main basket?!"

"Aku MVP bodoh!"

"Kali begitu lemparlah dengan benar, bodoh~" Sehun hanya diam. Tak berniat menjawab.

Lagi. Sehun kembali melempar tinggi bola itu hingga Jongin harus melompat untuk menangkap nya.

Brukk

"Hahahah..." Semua murid tertawa karena Jongin terjatuh sesaat setelah melompat. Chanyeol segera menghampiri Jongin dan membantu wanita itu untuk bangkit.

"Tak apa?" Jongin hanya mengangguk samar. Sehun benar-benar malas melihat interaksi mereka berdua. Dia tidak cemburu, ia hanya marah karena pria caplang itu terus menerus menolong Jongin.

"Kemari lah hitam! Kau membuang waktu." Jongin mendengus saat mendengar teriakan Sehun. Hitam katanya? Jongin itu tidak hitam, Sehun saja yang terlalu pucat. Lagi pula kulitnya juga sama saja dengan kulit Chanyeol.

"Sialan."

Sepuluh menit pun berakhir dengan cepat. Guru Kim segera membentuk grup di setiap masing-masing kelas untuk bertanding.

"Kelas 3A. Park Chanyeol, Im Nayeon , Aron, Kim Samuel, dan Kim Jongin. Dan untuk kelas 3C, Oh Sehun, Johnny Seo , Kim Namjoon ,Choi yoojung dan Jung Chaeyeon."

"Sial/yes!" Sehun segera tersenyum miring. Dia masih bisa mengerjai Jongin rupanya. Sedangkan Jongin sudah mengutuk guru Kim keseribu kalinya untuk hari ini.

"Guru Kim, bisakah aku tak ikut bermain? Bokongku masih terasa sakit."

"Benarkah?" Jongin mengangguk cepat. Namun kebahagiaan nya terhalang oleh kata-kata laki-laki bermuka tembok itu. "Tidak. Tidak ada pemain yang boleh di ganti." Ucapnya final. Sedangkan guru Kim menatap Jongin penuh sesal.

'baiklah sialan. Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membalasmu.'

Pritt

Peluit sudah di tiup, semua pemain juga sudah berada di posisinya masing-masing. Permainan berjalan sangat lancar. Jongin bahkan tidak menyangka jika Chanyeol sehebat itu. Tapi permasalahannya adalah selama permainan ini ia belum juga menyentuh bola oranye itu sama sekali. Apa lagi jika bukan karena Sehun yang selalu memblock nya. Laki-laki itu memanfaatkan badan bongsor nya untuk menutupi tubuh Jongin.

Dan permainan pun akhirnya berakhir dengan kemenangan tim Sehun. Masing-masing anggota mulai bersalaman. Hingga di mana saat Jongin akan bersalaman dengan pria sialan bernama Oh Sehun itu. Sehun tersenyum remeh hingga membuat Jongin semakin kesal. Sangking kesalnya Jongin bahkan sudah membawa tangan Sehun masuk ke mulutnya.

"Argghh sialan kau!" Sehun segera menarik tangannya yang habis digigit gemas oleh Jongin. Dan Jongin berlari keluar meninggalkan Sehun yang sudah di lingkupi aura gelapnya.

"Channie kita kekantin, okay?" Jongin mengedipkan sebelah matanya saat menengok melihat wajah Sehun.

Skip

Di kantin

"Tumben sekali kau ingin ke kantin." Chanyeol mengeluarkan suaranya setelah mereka sudah duduk di salah satu bangku di sudut kantin.

"Tak apa. Ingin saja." Chanyeol sepertinya akan iritasi jika terus melihat senyum lebar milik Jongin yang tidak juga luntur sedari tadi.

"Kau ingin makan?" Jongin menggelengkan kepalanya. "Minum saja." Setelah itu Chanyeol beranjak mengambil makanan untuknya dan minuman untuk Jongin. Tak beberapa lama, segerombolan pria datang ke kantin. Dan Jongin tahu gerombolan siapa itu.

"Ini minuman mu." Chanyeol kemudian duduk di sebelah Jongin dan mulai fokus dengan makanannya. Sementara Jongin dan Sehun sudah beradu tatap dari kejauhan.

'Apa?!' kira-kira kata itu lah yang berusaha Jongin sampaikan lewat tatapan nya pada Sehun, sedangkan Sehun terus menatapnya datar.

"Jongin buka mulut mu...Aaa~" Chanyeol menyuapkan sesendok makanan pada Jongin. Jongin mengunyah makanan itu dengan segera. "Aku malu bodoh!" Katanya setelah selesai menelan makanannya.

"Kau dan Sehun. Apa kalian terlibat suatu hubungan?" Jongin menatap Chanyeol tidak percaya. "Bukan kah aku sudah bercerita tentang tutoring itu?"

"Bukan itu maksudku. Tapi hubungan spesial."

"Aku tak mengerti." Chanyeol tersenyum sambil mengusak kepala Jongin. "Lupakan saja."

Byurr

Tak lama ada seorang wanita yang menumpahkan sebotol minuman bersoda pada kepala Jongin.

"Ini balasan mu untuk yang tadi." Wanita kemarin rupanya. Jongin benar-benar mengakui kepopuleran Sehun, buktinya semua orang rela melakukan apa saja untuknya.

"Apa kau tidak mendengarkan kata-kata ku kemarin,jalang?! Aku sudah bilang untuk tidak macam-macam pada Sehun."

Plak

"Hey kau sudah kelewatan Krystal!" Chanyeol segera menjauhkan Krystal dari hadapan Jongin.

"Jangan ikut campur Chan. Jalang ini harus di beri pelajaran!" Krystal terlihat ingin menampar Jongin lagi namun deheman seseorang menghentikan pergerakannya.

"Hentikan. Aku rasa ini sudah cukup Krystal. Terima kasih sudah bersedia membela ku." Jongin mencibikkan bibirnya kesal. Oh Sehun selalu saja bisa terlihat baik di depan semua orang. Pria iblis ini bahkan terlihat membela nya sekarang.

"Tapi dia sudah kurang ajar padamu Sehun~" rengek nya manja. Jongin hampir saja muntah jika Sehun tidak segera menegurnya.

"Jagalah sikapmu Kim Jongin. Aku tak ingin Krystal terlibat masalah karena ia terus membelaku." Oh Sehun sialan. Dan lihatlah Krystal yang sudah merona karena godaan Sehun.

"Aku pergi." Chanyeol pun segera menyusul Jongin yang sudah pergi terlebih dahulu.

ㅇㅇㅇㅇ

"Jadi mau mu apa sialan?!" Jongin tak yakin jika ia akan terbebas dari penyakit darah tinggi jika ia terus saja berhadapan dengan Sehun. Pria itu mengeluh kan tangannya yang sakit karena gigitan Jongin tadi pagi. Padahal Jongin hanya mengigit lengan nya hingga merah saja, bukannya hingga putus.

"Bacakan aku isi buku itu. Toh ini pelajaran sejarah. "

"Baca sendiri." Jongin menyodorkan buku tebal itu.

"Aku bahkan tak bisa membuka halamannya."

"Ck... Jangan manja sialan. Kau pria!" Sehun merenggut. "Bacakan!"

Dengan terpaksa Jongin menarik buku itu lagi dan mulai membaca nya. Jika saja esok Sehun tidak ada ujian sejarah, ia pasti sudah melemparkan buku ini ke wajah stoic Sehun.

Sehun memperhatikan Jongin yang sedang bercerita di sampingnya. Mulai dari mata, hidung, hingga bibir Jongin tak luput dari perhatiaan nya. Suara halus Jongin bahkan lebih baik dari desahan wanita manapun yang pernah Sehun dengar. Tanpa sadar Sehun bahkan sudah tertidur di bahu Jongin.

Tuk

"Astaga, dia tertidur?" Jongin berujar lirih.

"Mengapa wajah menyebalkan itu bisa terlihat begitu polos saat ini?" Jongin memutuskan untuk menunggu beberapa saat, setidaknya hingga Sehun benar-benar terlelap. Dan setelah beberapa menit berlalu Jongin menidurkan tubuh Sehun di sofa yang mereka duduki. Tak lupa ia mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh itu.

Jam mengajarnya masih tersisa 2 jam lagi. Jadi ia memutuskan untuk membuatkan Sehun rangkuman materi untuk ujian besok. Ia menulisnya di sebuah buku berukuran sedang. Setelah selesai ia menempelkan selembar sticky note di depan cover buku tersebut.

'Semoga Berhasil Dalam Ujian mu.'

Ke esokkan paginya.

Sehun terkejut saat menemukan dirinya terlelap di sofa semalaman dengan sebuah selimut tebal. Ia meregangkan tulang-tulannya yang terasa sedikit pegal karena tidur di sofa yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya.

Matanya sedikit membulat lucu saat melihat sebuah buku dengan sticky note kecil berwarna biru muda.

'Semoga Berhasil Dalam Ujian mu.'

Sehun tersenyum kecil saat membaca deretan kalimat tersebut. Ia kemudian mulai membalik setiap lembaran buku tersebut, membaca nya sekilas tanpa melepas senyum di bibir nya.

"Dia menjalankan tugasnya dengan baik. " Sehun membaca buku catatan tersebut hingga kalimat terakhir. Dan tawanya pecah saat melihat sebuah kalimat dengan spidol merah.

'Aku akan membunuhmu jika nilaimu jelek :) '

Ternyata pilihan ayah nya tak buruk juga. Setelah seminggu di ajar ia baru sadar jika Jongin itu sedikit humoris juga.

Sehun memasukkan buku tersebut kedalam tas nya dan segera bersiap untuk ke sekolah.

skip

Ujiannya berjalan baik. Aneh nya semua materi yang di berikan oleh Jongin keluar saat ujian tadi. Sehun seperti nya harus meminta bocoran untuk ujian mata pelajaran lain dengan Jongin. Jika seperti ini terus, ia akan jadi peringkat satu nanti.

Dan untuk merayakan keberhasilannya Sehun sengaja mencari Jongin hingga ke kelasnya. Namun teman sekelasnya bilang bahwa Jongin pergi ke perpustakaan. Astaga... mendengar nama tempat nya saja membuat Sehun menguap bosan. Tapi berterima kasihlah pada mood nya yang begitu bagus saat ini, ia jadi rela untuk menginjakkan kakinya ke perpustakaan untuk pertama kalinya selama 3 tahun ini.

Sebelum ke perpustakaan Sehun tak lupa membelikan beberapa camilan untuk Jongin. Saat memasuki perpustakaan ia dapat menemukan Jongin dengan mudahnya karena hanya gadis itu saja yang berada di sana. Sehun pun segera menghampirinya.

"Ini." Sehun melemparkan plastik berisikan makanan itu pada Jongin. Jongin sedikit melirik ke dalam plastik itu namun buru-buru ia mengembalikan nya.

"Terima kasih ... tapi aku tidak bisa menerimanya."

"Kau menolaknya?" Sehun tersulut emosi. Ia bahkan rela pergi ke mini market sekolah untuk membelikan Jongin semua makanan ini. Tapi gadis itu malah menolaknya mentah-mentah.

"Maaf..." Sehun akhirnya merebut plastik tersebut dan membuang nya ke dalam tempat sampah.

"Aku salah bersikap baik padamu, brengsek!" Jongin hanya mengedikkan bahu nya saat melihat sikap Sehun tersebut. Lagipula semua camilan yang di bawa Sehun tak dapat ia makan, semua nya mengandung bahan yang tak bisa Jongin cerna. Jadi Jongin memutuskan untuk melanjutkan acara belajar nya yang sempat tertunda itu.

ㅇㅇㅇㅇ

Brakk

"Dimana Kim Jongin hah?!" Krystal masuk ke kelas Jongin bersama teman-temannya,namun ia tak bisa menemukan gadis itu dimana pun.

Tadi ia dapat laporan jika Jongin sempat berduaan dengan Sehun di perpustakaan, jadi ia ingin memastikan kebenaran nya secara langsung.

"Chan, kau liat Jongin?!" Chanyeol yang baru tiba dari toilet sedikit terkejut ketika wanita bermarga Jung di depannya itu menanyai Jongin.

"Mungkin ia masih di perpustakaan." Tanpa mendengar kalimat lebih lanjutnya Krystal segera bergegas untuk pergi ke perpustakaan dengan di ekori oleh teman-temannya.

Di perpustakaan

Sreeett

Tangan Jongin di tarik kasar oleh seseorang. Orang itu lantas menyeretnya ke luar perpustakaan dan membawanya ke gudang sekolah.

"Apa-apaan ini?!" Jongin berteriak saat melihat sosok yang menariknya paksa tersebut.

Plak

"Kau- berani-berani nya kau berdeketan dengan Sehun lagi,hah?!"

Buaghh

"Aku sudah memperingatkan mu sialan!"

"Akhh..." Krystal menarik rambut Jongin hingga membuat beberapa helainya putus.

"Jangan pernah mendekatinya. Karena Sehun adalah milikku!"

Plakk

plakk

Kali ini bahkan bukan hanya Krystal yang memukulinya, tetapi semua teman-teman Krystal.

"Sulli cepat ambil beberapa makanan sisa di kantin. Wanita jalang ini harus di beri pelajaran." Sulli segera pergi ke kantin untuk memenuhi perintah yang di berikan Krystal.

skip

Jongin berjalan gontai keluar dari gudang tersebut. Sontak keadaannya yang begitu kacau menjadi pusat perhatian setiap orang yang berada di sana.

Jongin memutuskan untuk mengambil seragam ganti yang ada di loker nya (di dalam kelas.) Semua murid kelasnya terkejut saat melihat kondisi mengenaskan Jongin. Muka babak belur dan di penuhi sisa makanan.

"Jong!" Chanyeol menghampiri Jongin yang sedang membuka pintu loker nya.

"Apa yang terjadi?!" Tanpa rasa jijik Chanyeol menyentuh lengan Jongin, namun segera di tepis oleh gadis itu. "Diamlah Chan. Kumohon...hiks..." Chanyeol bisa mendengar nada lirih itu dengan jelas. Jongin bahkan menangis, hal itu membuat Chanyeol semakin bertanya-tanya, namun ia tahu jika Jongin sedang tak ingin di ganggu oleh siapa pun.

Brakk

Jongin menutup pintu lokernya kasar dan pergi dengan tergopoh-gopoh. Ia menambah kecepatan kakinya ketika melihat Sehun di depan kelas pria itu.

"Jong-in?" Tapi Jongin tidak memperdulikan teguran itu. Yang ia harus lakukan saat ini adalah pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

"Hiks...hiks...hiks..." Rencana awal Jongin tadi ternyata tak sesuai harapan. Sesaat setelah sampai di bilik kamar mandi ia malah menangis dan meringkuk di bawah guyuran air shower. Tubuhnya terasa begitu ngilu. Hatinya juga sakit mendengar kata-kata kasar yang Krystal keluarkan untuk nya.

Tokk tokk

"Jongin kau tak apa?" Ternyata Chanyeol mengikutinya kemari.

"Pergilah hikss...aku m-mohon..."

Duakk duakk

"Bagaimana aku bisa meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini?!" Chanyeol malah menggedor pintu tak sabaran.

"Hiks...aku mohon hiks...hiks..." Jongin semakin menyaringkan tangisannya.

"Aku akan mendobrak pintu ini sekarang juga Jong!"

BRAKK

"Siapa yang melakukannya?!"

"Hiks...hiks..."

"Jongin kumohon~" namun Jongin tak kunjung memberikan jawaban.

"Kalau begitu berhentilah menangis, Jongin..." Ujar Chanyeol.

Beberapa saat kemuadian, Jongin sudah berhenti menangis. Gadis itu juga sudah meminta Chanyeol meninggalkannya untuk mandi .

"Kemari lah." Jongin mendekati Chanyeol setelah keluar dari bilik kamar mandi. Pria itu kemudian mengambil sebuah handuk baru dari sebuah lemari kecil dan mengeringkan rambut Jongin. Sementara Jongin hanya diam matanya menatap dada bidang Chanyeol, namun terlihat kosong.

"Mengapa kau tidak melawan mereka?"

"Apa yang bisa aku lakukan? Mereka banyak sekali."

"Kalau begitu laporkan mereka." Jongin mendecakkan lidahnya, "Mereka mungkin akan di keluarkan , dan Kau tahu betapa sulitnya mencari sekolah baru?" Chanyeol tak menyangka di saat seperti ini Jongin masih saja memikirkan orang lain.

"Tidak perlu datang ke rumah Sehun nanti. Istirahat lah."

Beberapa hari kemudian

Malam sudah semakin larut. Setidaknya malam ini tak begitu melelahkan karena Sehun tidak terlalu bertingkah selama pelajaran seperti saat awal ia mengajar dulu.

Ia juga tinggal mengunci pintu mini market dan pulang. Ia benar-benar sudah mengantuk. Namun perkiraannya salah, karena sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang untuk nya.

"Jongin, ayah ingin bicara padamu." Jongin duduk di depan ayah nya yang sudah lebih duduk di sofa ruang tamu.

"Kenapa kau tidak bilang jika kau bekerja sebagai tutor anak tuan Oh?" Sebenarnya ayah angkatnya itu merupakan salah satu manager di salah satu cabang bank milik tuan Oh, ayah Sehun. Kris juga bisa sekolah di sana karena jabatan sang ayah. Sebenarnya tuan Wu bisa saja membiayai Jongin dengan cuma-cuma seperti yang ia lakukan pada Kris. Namun mereka tidak ingin repot-repot mengurus Jongin, karena anak itu bukan anak kandung mereka. Sungguh kejam.

"Aku ingin memberitahu kalian tapi saat- "

Plakk

"Dasar sialan! Kau berbohong pada kami." Tanpa di duga, sang ibu keluar dan langsung menyerangnya.

"Maafkan aku..."

"Kau sengaja bukan? Kau sengaja menutupi nya agar kau dapat menikmati uang itu sendirian?!"

"Tidak bu... sungguh aku-"

"Dasar anak tak tahu di untung. Mulai sekarang kau harus menyerahkan semua uang yang di berikan oleh tuan Oh pada ku." Jongin tak bisa apa-apa lagi sekarang. Ia hanya dapat mengangguk samar saat mendengar omelan sang ibu.

"Sudahlah. Tapi jangan lupa jaga sikap. Jangan mempermalukan keluarga ini." Pesan sang ayah, ia hanya bisa mengangguk patuh saja. Ayah dan ibu nya sudah pergi meninggalkan nya, namun saat ia masuk ke kamar, ia menemukan Kris sedang duduk di ranjang nya.

"Ada apa?" Tanya Jongin to the point. Kris bangkit untuk berdiri di hadapan sang adik. "Jangan pernah bilang pada Sehun, jika kau adik ku."

"Aku bahkan tak sudi menjadi adik mu."

Plakk

"Katakan sekali lagi,!"

"Aku tak sudi jadi adik mu, sialan!"

Plakk plakk

"Sialan kau!" Kris menampar gadis itu hingga terjatuh. Ia juga menendang perut Jongin hingga Jongin menangis. Tapi jangan harap jika ibu atau ayah nya akan membantunya, karena mereka benar-benar tak perduli dengan Jongin.

Setelah tendangan keras di punggung Jongin, Kris keluar kamar begitu saja. Sedangkan Jongin sudah menangis tersedu tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk menutup mulut nya, tak ingin kedua orang tua itu bangun dan malah menghajarnya juga. Akhirnya malam itu di habiskan Jongin dengan tidur di lantai karena ia sudah tak mampu bahkan untuk sekedar menggerakkan kepalanya.

ㅇㅇㅇㅇ

"Sehun..." Sehun sedang berjalan di taman belakang sekolah. Namun la langsung menghentikan langkahnya setelah mendengat seseorang memanggil namanya.

"Sehun tolong aku, akh..." Sehun berusaha untuk mengabaikan panggilan itu, namun kaki nya malah berjalan menyusuri taman untuk mencari sosok itu. Saat ia melewati pohon ia menemukan Jongin yang tengah menangis sambil duduk di bawah pohon.

"Jongin...kau kenapa?" Sehun terkejut saat melihat memar di tubuh dan wajah Jongin.

"Tolong aku Sehun, sakithh...hiks..." Sehun berusaha untuk membantunya berdiri namun tubuh Jongin malah kembali terjatuh dengan kondisi tak sadarkan diri.

"Jong... Jongin, Jongin kau dengar aku? Bangun Jongin...bangun... Jongin... Jongin."

"JONGIN...Arghhh...hah..hah..." Sehun terbangun dengan keringat yang mengalir di sekujur tubuhnya. Ia bermimpi aneh, ia bahkan menangis. Lagi pula kenapa ia bermimpi tentang Jongin?

Tak ingin berpikiran lebih jauh. Sehun pun kembali memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya yang tertunda.

ㅇㅇㅇㅇ

Sehun sedikit bingung saat melihat Jongin yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Sehun juga melihat luka sobek di sudut bibir wanita itu. Tunggu...ini sudah sejak lama setelah aksi penamparannya waktu itu, kenapa sudut bibir Jongin masih luka?

"Sehun bisa kah aku pulang lebih awal?" Jongin memecah keheningan di antara mereka. "Kau sakit?" Jongin hanya mengangguk,

"Kalau begitu tidur lah dulu. Saat aku selesai mengerjakan ini, aku akan membangunkan mu." Awal nya Jongin sempat menolak, namun Sehun segera memaksanya dan membantunya tidur di ranjang nya.

Sehun tak tahu mengapa ia mengizinkan Jongin tidur di ranjangnya. Ia bahkan tak mengizinkan ibunya untuk duduk di sana. Tapi ia malah menyuruh Jongin untuk tidur di sana.

Sehun pun kembali mengerjakan soal yang di beri Jongin. Ia berencana membangunkan gadis itu nanti. Gadis itu pasti sangat sakit hingga dia tak terlalu cerewet hari ini.

"Tidur lah...aku akan pergi keluar sebentar." Setelah mengucapkan itu Sehun keluar rumah untuk membelikan obat untuk gadis itu.

"Jongin..." Sehun panik saat Jongin tidak bangun juga, padahal ia sudah mencoba untuk membangunkan wanita itu sejak sepuluh menit lalu. Ini bahkan sudah pukul 8 malam, ia memang sengaja tidak membangunkan Jongin karena tak ingin mengganggu tidur wanita itu. Tapi ini sudah sangat lama, dan Jongin belum bangun juga. Ia segera meraih ponsel nya dan mengubungi dokter pribadi keluarganya.

Tak lama setelah itu sang dokter datang dan memeriksa Jongin. Ponsel Sehun berdering, menandakan panggilan dari seseorang.

"Sehun...malam ini ja-"

"Maafkan aku Baekhyun, aku tak bisa."

Pip

Setelah itu Sehun segera menghampiri dokter yang terlihat sudah selesai memeriksa Jongin.

"Bagaimana keadaannya?" Sang dokter nampak priahatin setelah memeriksa Jongin.

"Dia hanya deman dan pingsan sebenarnya, namun beberapa bagian tubuhnya terlihat lebam termasuk bagian punggung dan perut nya." Sehun mengepalkan tangannya. Hatinya begitu sakit, ini seperti yang ia mimpikan semalam.

"Terima kasih. Tolong berikan resep obat nya pada pelayan saja, aku akan menyuruh mereka membeli obat nya." Sang dokter pun pulang meninggalkan Sehun yang berdiri mematung di depan Jongin yang maih belum nampak sadar juga.

"Cepat lah sadar. "

Tbc

Note:

dari kemaren banyak yang bilang klo udah pernah baca ff ini... iya ini ff yang itu. wkwk

cuma aku rubah di sana-sini biar jln ceritanya lebih bagus.

trus ada yang nyoba buat nebak. tapi maaf bagian itu nya aku rubah kkk~

jadi tetep tungguin yah next chap nya.

see you