"kurasa... dia akan benar-benar membunuhmu" Changmin mundur beberapa langkah kebelakang. Wajahnya berubah pucat pasi. "a-apa maksudmu?"

"kau harus menghilang secepatnya dari dimensi ini"

Hening…

Baik Kyuhyun maupun Changmin, keduanya menatap Sungmin heran.

"kau bercanda?" suara Kyuhyun memecah keheningan. "kau kira semudah itu keluar dari tempat ini?" ia terkekeh "bukankah kita akan pergi untuk mencari jalan keluar? Tapi kau seolah mengatakan bahwa kita sudah menemukannya. Dan mengembalikan kita dari dimensi ini terdengar sangatlah mudah"

Sungmin menghela napas "ada beberapa hal yang kalian belum tahu" Kyuhyun melipat kedua tangannya, lalu berdiri tegak. "apa?" Tanya Changmin.

Sungmin menatap kedua pemuda disana bergantian "jadi…"

TING

Ketiganya mengalihkan pandangannya pada pintu lift yang terbuka.

"sebaiknya kita pergi terlebih dahulu" Sungmin melangkah keluar lift, diikuti Kyuhyun dan Changmin di belakangnya.

Mereka berjalan cepat menuju unit apartemen Changmin.

"cepatlah" ucap Sungmin dengan suara rendah. Changmin mengangguk, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. "YaTuhan, selamatkan aku" bisiknya hampir tak terdengar.

Kyuhyun berjalan dibelakang Changmin. Meskipun ia juga merasakan takut, namun sebisa mungkin ia tutupi. Matanya menatap punggung Changmin yang bergetar samar. "percepat langkahmu" ucap Kyuhyun.

Sementara itu, Sungmin memimpin didepan. Matanya tak pernah berhenti mengamati sekitar. Langkahnya semakin cepat, membuat Kyuhyun dan Changmin dibelaknganya melebarkan langkah juga.

"a-ada apa?" Changmin bertanya dengan suara bergetar. "lari!" perintah Sungmin.

Langkah ketiganya berubah cepat. Tiba-tiba saja, lampu sepanjang koridor yang mereka lewati mati, membuat suasana terasa semakin mencekam. "pegang tanganku dan teruslah berlari" suara Sungmin terdengar bersahutan dengan derap kaki dan deru napas mereka.

Tangan Changmin bergerak-gerak diudara untuk mencari tangan Sungmin.

HAP

Tangannya berpegangan erat pada Sungmin. Sementara tangan lainnya digenggam cukup kuat dari belakang.

Changmin tersentak "k-kyu, ini tanganmu?" tak ada jawaban.

Tangannya bergerak kasar mencoba melepaskan genggaman pada tangannya. "lepas!" suara Changmin bergetar. "diamlah. Ini aku" suara Kyuhyun menyahut membuat gerakan pada tangan Changmin berhenti seketika.

"percepat langkah kalian" perintah Sungmin. Mereka berbelok diujung koridor, kemudian berhenti tepat didepan pintu apartemen.

Tangan Sungmin terangkat untuk membuka pintu "tunggu!" suara Changmin menginterupsi "kukira ini bukan kamar yang tepat"

Sungmin mendongak "kau benar, ayo!" mereka kembali berlari "sebutkan nomor unit apartemen-mu. Cepat!"

"4728"

"baiklah" Sungmin makin mempercepat larinya, sebelum berhenti tepat didepan sebuah pintu "benar" dengan sekali gerakan, ia mendorong pintu tersebut. dan menarik tangan Changmin untuk segera masuk.

BRAK

Pintu tertutup. Suara deru napas saling bersahutan didalam ruangan.

"akhirnya" Changmin bersandar pada lemari kayu dibelakangnya. Matanya menatap Sungmin dan Kyuhyun yang berada di sisi kiri dan kanannya. Wajah mereka tampak kacau, ditambah keringat yang membanjiri hampir diseluruh tubuh.

Sungmin melihat jam di tangannya "kita harus bergerak cepat" ia bangkit dan hendak berjalan ke ruang tengah.

DUG

"aawww" Sungmin mengernyit, kemudian ia berbalik "hahahahaha" tawanya mengalun "kenapa kalian tidur disana? Hahaha"

Changmin meringis "kau gila? Bergerak tanpa pemberitahuan dengan tangan masih berpegangan"

Sungmin mengalihkan tatapannya pada tautan tangan mereka, lalu berpindah pada tautan tangan Changmin dan Kyuhyun. "oow. I'm sooorrry" cepat-cepat ia melepas tautan tangan dan melesat pergi ke ruang tengah.

"cepatlah" teriaknya diiringi tawa kecil.

Villain

Chapter 1

Rated : T

Story © ReaLee

"ada sebuah pintu rahasia, tepat di belakang gedung ini" Sungmin menghela napas sesaat "pintu itu selalu tertutup dan tidak ada yang berani membukanya"

"apa sebahaya itu sampai tidak ada yang pernah membukanya?" Changmin menatap Sungmin, tangannya saling bertaut dibawah meja.

Sungmin menyandarkan punggungnya pada sandaran dibelakangnya "tidak bagi kalian. Dan akan sangat berbahaya bagi kaumku" ia memejamkan matanya.

"pintu itu terkunci? Dan kita harus menemukan kuncinya? Benar?" Sungmin membuka matanya, kemudian menatap lurus pada Kyuhyun. "kau salah. Pintu itu tidak pernah terkunci. Hanya saja…" ia menunduk menatap lantai "ini akan sangat 'menyenangkan'" ia mendongak dan tersenyum samar.

"sudah kuduga bahwa ini akan sangat 'menyenagkan'. Tapi… apa ini akan berbahaya bagi nyawa kita?" Sungmin menghela napas menyadari kehawatiran pada diri Changmin "itulah masalahnya. Aku tidak tahu karena tidak ada yang pernah mencobanya"

"ohh tidak…" changmin menelungkupkan kepalanya pada bantal sofa.

"hmm… tapi kenapa tidak kita coba saja, meski mungkin ini sangat berbahaya, tapi dengan kau diam disini, itu akan lebih berbahaya" Sungmin tersenyum ragu sedangkan Kyuhyun diam menatap Changmin dan Sungmin bergantian "lalu, apa yang sekarang harus kita lakukan?"

Changmin mendongak "apa lebih baik aku mati saja?" ucapnya. "kau gila!" teriak Sungmin. "tidak boleh bertambah, dan tidak boleh berkurang"

Hening sesaat "apa maksud dari ucapanmu itu?" Kyuhyun menatap Sungmin tajam.

"a-ah…" bola mata Sungmin bergerak gelisah. "bicaralah!" seru Kyuhyun.

Sungmin menghembuskan napas pasrah "baiklah baiklah" ia menghela napas sekali lagi "peraturan yang sangat sacral dan tidak ada yang berani melanggarnya adalah 'tidak boleh bertambah dan tidak boleh berkurang'"

Changmin menatap heran "jadi…"

"dengan kata lain, tidak boleh berkembang biak dan tidak boleh mati. Kau mengerti?"

"peraturan macam apa itu?" Changmin berseru keras "dan bangsa kalian telah hidup disini ribuan tahun?" ia menatap tak percaya pada Sungmin.

"tidak! Maksudku, ahh ya ampun" Sungmin mengacak rambutnya frustasi "begini, ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku tahu ini mungkin sangat aneh bagi kalian" ia menghela napas sesaat. "kau boleh mati, tetapi harus ada yang lahir dan kau boleh lahir tetapi harus ada yang mati"

Diluar dugaan, Changmin mengangguk, begitupula dengan Kyuhyun "tapi, bagaimana kalian mengatur itu semua?" Tanya Changmin.

Mata Sungmin menerawang keatas "ada sebuah perjanjian yang sudah disepakati di Vill. Kebanyakan ayahlah yang akan berkorban, tapi tidak semua. Beberapa orang yang bahkan mereka tak kenal dengan cuma-cuma menukarkan nyawa mereka untuk sebuah kelahiran" ia beralih menatap Kyuhyun dan Changmin yang terlihat focus "kuharap kalian mengerti" ucapnya.

Changmin menautkan alisnya "begitukah? Jadi, kebanyakan bayi lahir tanpa ayah?"

Sungmin mengangguk "begitulah. Tapi sudah kukatakan, tidak semua seperti itu"

"tapi… apa itu Vill?" Kyuhyun angkat bicara, matanya menatap lurus pada Sungmin. "ahh itu. Vill merupakan tempat bagi penguasa dimensi ini. Dan ada sebuah ruangan yang berisi ribuan janji yang sudah ditulis sebelumnya. Termasuk lahir dan mati" jelasnya.

Kyuhyun mengangguk "kalau begitu, keberadaan kita disini akan sangat berbahaya?"

"sangat. Tapi beruntungnya, 2 hari yang lalu ada tiga orang warga yang menghilang tiba-tiba. Dan keberadaan kalian dan juga Kibum kurasa masih aman untuk saat ini, mengingat belum adanya 'pengganti'. Namun jika para penguasa sudah mencium makhluk yang berbeda dengan kami, maka itu akan menjadi titik dimana keberadaan kalian akan sangat berbahaya. Dan sialnya, salah satu iblis mengetahui keberadaanmu. Dan sudah dipastikan ia akan melaporkannya pada salah satu penguasa tak lama lagi. Kesimpulannya, nyawamu yang dipertaruhkan" jelas Sungmin. Ia melirik jam sekilas "jadi, kau besedia melakukan itu kan?"

"hmm…" tangan Changmin saling bertaut, matanya menatap Kyuhyun ragu "tersera pada Kyuhyun" katanya membuat Sungmin menautkan alisnya tak suka "aku bertanya padamu. Lagipula, kenapa keputusan ada pada Kyuhyun? Kau sendiri yang akan pergi. Jadi-"

"A-APA?!" Changmin bangkit dari sofa. Menatap ngeri dengan apa yang diucapkan Sungmin "se-sendiri?" ia mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun yang juga menautkan alis tak suka.

"menurutmu? Oh yaampun, kukira kau mengerti" geram Sungmin, matanya beralih menatap Kyukyun. Memperhatikannya sebentar, sebelum menghela napas panjang "kuyakin kau juga sama tidak mengerti" katanya.

Kyuhyun mengangkat bahunya acuh "begitulah"

Merasa kesal, Sungmin memejamkan mata sesaat lalu kembali membukanya "begini, biar kuperjelas Kau. Changmin. Pergi. Sendiri" tangannya terangkat menunjuk Changmin yang masih berdiri.

"dan. Kau. Kyuhyun. Tetap. Disini"

"kenapa Kyuhyun tinggal disini sedangkan aku-"

"karena dia akan mencari Kibum yang hilang sebelum kembali bersama" Sungmin menggeram samar, matanya menatap Changmin dan Kyuhyun bergantian "mengerti?" lantas keduanya mengangguk bersamaan "kau benar" ucap Changmin sebelum menjatuhkan diri pada sofa. Tangannya meraih bantal sofa dan ia gunakan untuk menutupi wajahnya. "aku bisa gila"

"tidak usah terlalu dipikirkan" ucap Sungmin santai membuat Changmin menatapnya tak suka dari balik bantal. "ternyata dia juga sama gilanya" gumam Changmin nyaris tak terdengar.

.

.

.

"Gelap-Kelam-Hening-Mencekam…. Empat kata yang sangat cocok untuk mendeskripsikan dimensi ini. Apalagi yang diharapkan dari semua itu? Jika dipikirkan lagi sepertinya memang tidak ada. Gelap saja sudah cukup menakutkan, ditambah kelam dan keheningan yang sangat mencekam. Ibarat buta dan tuli sekaligus. Lantas apa yang harus kita lakukan?" Kyuhyun mendongak dengan mata menyipit.

Dihadapannya, Changmin duduk kaku. Wajahnya sudah berubah pucat semenjak percakapan terakhir mereka. Membuatnya nyaris seperti mayat hidup. "Selamatkan aku, Selamatkan aku, Selamatkan aku" terdengar rapalan dengan suara rendah yang sedari tadi terus mengusiknya. Kyuhyun akhirnya bangkit untuk menyusul Sungmin yang belum juga kembali setelah sebelumnya berpamitan.

Ia berhenti diambang pintu yang menghubungkannya dengan dapur. Sungmin berdiri membelakanginya. Sepertinya pemuda itu sedang melakukan hal yang cukup serius hingga tak menyadari keberadaanya yang sekarang telah berdiri dibelakangnya.

"kau sedang apa?"

"Ya Tuhan" Sungmin berjengit kaget. Badannya mundur beberapa langkah kebelakang sebelum menoleh dan mendapati Kyuhyun yang menatapnya aneh "kau!" geramnya menunjuk Kyuhyun menggunakan pisau ditangannya.

"a-apa yang kau lakukan? Kau berniat membunuhku?" ucap Kyuhyun ragu. Matanya menatap lurus pada pisau yang mengacung keudara itu. Sementara itu, Sungmin mengernyit bingung "apa?"

"kau berniat membunuhku?" ulangnya masih menatap lekat pisau itu "apa yang kau bica-" tiba-tiba saja kalimtanya terhenti sesaat setelah menyadarinya "a-ah maaf" buru-buru ia turunkan pisau itu membuat Kyuhyun bernapas lega.

"apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Kyuhyun. Matanya melirik sekilas kearah meja panjang disisinya "semangka?" Sungmin mengikuti arah pandang Kyuhyun. "ohh… itu untuk Changmin" ujar Sungmin lantas mengambil sepiring semangka yang telah dipotong rapi sebelum melenggang meninggalkan area dapur diikuti Kyuhyun dibelakangnya.

Tiba-tiba saja tanda tanya muncul dibenak Kyuhyun "untuk apa?" gumamnya saat sudah memasuki ruang tengah dan melihat Sungmin sudah duduk manis disebelah Changmin. Ia mengedikkan bahu sebelum ikut bergabung.

"Makanlah. Semangka dapat membantu meredakan stres dan kecemasan" tutur Sungmin. Piring berisikan semangka itu ia berikan kepada Changmin yang masih duduk kaku. "ayolah, kau mau kusuapi?" Tanya Sungmin yang dibalas dengan gumaman tak jelas dari Changmin.

Kyuhyun menghela napas panjang. Merasa respon yang Changmin tunjukkan sangat merepotkan. Ia mendongak, menatap Changmin denga pandangan iba. Tetapi walau bagaimanapun ia sangat mengerti betapa berat beban Changmin saat ini.

Ia menghela napas sekali lagi sebelum beranjak mendekati Changmin "kawan, kumohon kuatkan hatimu. Kau harus yakin semuanya akan berhasil" ditepuknya pundak Changmin cukup keras. "percayalah" ulang Kyuhyun.

Tiba-tiba saja Changmin menoleh dan tersenyum kecil kearah Kyuhyun "kau benar. Aku akan baik-baik saja"

.

.

.

Sungmin duduk tegak disofa hitam yang berada ditengah ruangan. Bola matanya terus bergerak gelisah. "ada apa?" Kyuhyun yang sedari tadi memperhatikan Sungmin akhirnya bertanya penasaran.

"eh?" Sungmin mendongak. Menatap Kyuhyun sebentar sebelum kembali menunduk "aku tak yakin untuk mengatakannya"

Kyuhyun memutar bola matanya "katakan!" perintahnya mutlak membuat Sungmin mendelik tak percaya. Namun cepat-cepat ia buang rasa kesalnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk beradu mulut. "kalian masih ingat tentang peraturan sacral dimensi ini?"

Kyuhyun menjawab dengan anggukan. Sementara Chagmin yang sudah mulai tenang setelah menghabiskan satu piring semangka hanya diam tak menanggapi.

"tidak boleh bertambah dan tidak boleh berkurang" Sungmin merapalkannya lambat-lambat berharap kedua orang dihadapannya mengerti maksud dibalik kalimat itu. Sengaja, Ia diam sesaat menunngu keduanya tanggap. Namun ia harus menghela napas kecewa saat tak ada satupun diantara mereka yang mengerti.

"haruskah aku menjelaskannya kembali?" Tanya Sungmin pasrah. Ia hendak membuka mulut untuk menjelaskan saat suara Kyuhyun menginterupsi.

"tidak"

"oh Syukurlah… itu artinya kau mengerti kan?" matanya menatap Kyuhyun dengan berbinar.

"tidak juga"

Sungmin menggeram marah. Brengsek, bocah ini seperti mempermainkannya. Ia hampir saja meledak kalau saja tak melihat seberapa kasihannya Changmin yang duduk disebelah Kyuhyun. Jadi ia mendengus kasar "seriuslah!"

"aku sudah serius" Kyuhyun berdecak "lantas apa yang harus kita lakukan agar kepergian Changmin tak bisa diketahui dan membuat penguasa yang kau maksud itu curiga?"

Sungmin menghela napas lega. Untunglah pemuda satu ini paham "doppelganger"

"itu jalan satu-satunya" lanjutnya. Matanya meneliti reaksi yang muncul dikedua pemuda tersebut. "aku tahu kalian bingung" ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. Masih menatap kedua pemuda itu bergantian.

"aku pernah mendengarnya entah dimana. Tapi tidak tahu artinya" Changmin angkat bicara. Matanya melirik Kyuhyun yang tidak sekilas sebelum kembali menatap Sungmin.

"kalian benar-benar tidak tahu?"

"tidak"

Sungmin pasrah. Ia memang harus bersabar menghadapi keduanya. Dan sekarang ia harus kembali bersabar untuk menjekaskan dari awal. "doppeldanger memang tidak terlalu exist di dimensi kalian atau memang kalian saja yang ketinggalan zaman?"

"memang tidak exist" Changmin mengangkat bahu menanggapinya membuat Sungmin berdecak sebal. Sedikit tak yakin dengan jawaban Changmin.

"sebaiknya kau langsung saja menjelaskan. Terlalu bertele-tele" ujar Kyuhyun tajam. Sungmin mendelik. Pemuda ini memang jarang berbicara, namun sekalinya dia bicara, maka yang keluar akan sangat tajam.

Diiringi helaan napas, Sungmin mulai membuka mulut "arti dari doppelganger sebenarnya panjang dan cukup sulit. Jadi, aku ringkas saja. Karena jika aku menjelaskan semuanya pun, kalian belum tentu mengerti"

"terserah saja" tangan Kyuhyun mengibas sesaat diudara, lantas melipatnya didada.

"baiklah. Singkatnya, memanggil kembaran tak kasat mata" Sungmin menepuk kedua tangannya satu kali dan menghempaskan punggungnya kebelakang. Matanya masih menatap Kyuhyun dan Changmin bergantian.

"masih tidak mengerti?" dan keduanya menggeleng bersamaan membuatnya mendesah kesal.

"pada dasarnya, setiap orang mempunyai kembaran yang tak kasat mata. Dan jika ingin melihat, maka kita harus memanggilnya terlebih dahulu. Doppelganger sendiri akan menurut apa yang kita ucapkan atau perintahkan"

Changmin menatap Sungmin tanpa berkedip "begitukah? Mereka akan menurut? Semuanya?"

Sungmin mengangguk sekali disusul jeritan dari Changmin "kalau begitu, aku akan menyuruhnya pergi ke kampus jika aku malas, dan akan kusuruh melakukan hal-hal yang aku malas lakukan" senyum riang mengembang diwajahnya. Matanya menerawang keatas membayangkan hari-harinya yang akan berubah menyenangkan. Namun sayangnya tidak bertahan lama saat Sungmin mengibaskan tangannya cepat-cepat.

"tidak seperti itu. Maksudku, meski dia memiliki postur tubuh dan wajah yang sama, bukan berarti dia memiliki sifat yang sama pula. Karena pada kenyataannya, mereka mempunyai sifat yang berbanding terbalik dengan kita" ia menghel napas "seandainya kita baik, mereka akan jahat. Dan jika kita jahat, mereka akan baik" lanjutnya.

"kenapa bisa begitu?" Tanya Changmin terlihat kecewa.

"sebenarnya, semua doppelganger baik. Hanya saja, ia akan bertindak berbeda saat menghadapi orang baik. Dengan dia menjadi jahat, dia bisa menguji sebaik apa tuannya itu. Dia juga akan menjadi baik, memberi nasihat dan semacamnya jika seandainya tuannya itu jahat"

Changmin menghela napas kecewa, sedangkan Kyuhyun mengangguk samar. "lalu…" Kyuhyun mendongak menatap Sungmin tepat dimatanya "cara memanggilnya, apa susah?"

Sungmin diam sesaat "tidak susah tapi tidak mudah" jawabnya. Lalu ia mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun. Menatap Changmin yang menunduk. "tidak sesusah yang dibayangkan" ucap Sungmin sebelum bangkit dan menepuk pundak Changmin.

.

.

"semua sudah siap?" Sungmin berdiri ditengah-tengah kumpulan lilin yang melingkar. Ditangannya terdapat sehelai rambut pendek dan potongan kuku.

"ya" Changmin menyahut lemah disambut senyuman Sungmin yang terlihat menyemangatinya. Lantas ia memejamkan matanya. Semua lampu didalam ruangan sudah dimatikan. Membuat kumpulan lampu tersebut menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Changmin bergetar hebat disamping Kyuhyun yang berada tak terlalu jauh dari tempat Sungmin berdiri. "semua akan baik-baik saja" Kyuhyun merangkul bahu Changmin cukup kuat. Memberi kekuatan untuk pemuda itu.

Angin tiba-tiba saja berhembus seiringan dengan Sungmin yang merapalkan kata-kata yang tak jelas. Kyuhyun menyipitkan matanya saat angin itu berhembus makin kencang. Sementara Changmin sudah memjamkan matanya sedari tadi.

"Akhhhh" suara Changmin terdengar memenuhi ruangan. Badannya tersentak kasar kebelakang dengan mata yang terbelalak lebar membuat Kyuhyun khawatir "ka-kau baik-baik saja?"

Changmin menggeleng kasar. Peluh sudah memenuhi wajahnya yang pucat pasi. Rintihan masih keluar dari mulutnya. "bagaimana ini?" Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Ia bingung harus berbuat apa. Sungmin masih berdiri di sana, membuatnya makin frustasi.

Tiba-tiba saja angina itu berhembus kencang tepat kearah Sungmin. Membuat pusaran yang terus berputar. Rambut dan potongan kuku ditangannya ikut terbang bersama pusaran angina tersebut. Detik ke detik, warna angin tersebut berubah keabuan. Abu pekat dan Hitam.

Kyuhyun yang melihatnya bergidig ngeri. Membayangkan jika dia yang berada disana, terbawa terbang dengan pusaran hitam tersebut "tidak" gumamnya.

Pusaran tersebut makin kencang berputar. Mengeluarkan percikan api. Mirip seperti petir berukuran kecil. Kyuhyun mundur beberapa langkah bersama Changmin yang masih merintih. Dan ia kembali melangkah lebih lebar ke belakang saat cahaya pada lampu disekitar Sungmin padam berurutan searah jarum jam.

Cahaya terakhir padam. Membuat ruangan benar-benar gelap. Angin yang sebelumnya berhembus hilang entah kemana bersama dengan berhentinya rintihan Changmin.

"nyalakan lampunya" Suara lemah Sungmin terdengar diantara hembusan napasnya yang tak teratur. Kyuhyun bangkit. Dengan berpegangan pada dinding ruangan tersebut, ia berjalan perlahan mencari saklar.

TRAK

Cahaya lampu memenuhi ruangan membuat Kyuhyun bernapas lega. Pandangannya berpindah kearah Changmin yang tergeletak tak berdaya diatas sofa. Ia merigis saat menyadari napas Changmin yang berhembus keras dan tak beraturan. Wajahnya juga sepucat warna cat diruangan ini. Belum lagi peluh yang terlihat memnuhi wajahnya. Tampilannya juga sudah tak bisa dikatakan rapi.

Ia menghela napas. Lalu pandangannya berpindah kearah Sungmin. Dan tersentak kaget saat matanya melihat seorang pemuda disamping Sungmin. Dan itu… Changmin.

"kita berhasil" Sungmin mendongak. Menatap Kyuhyun dengan matanya yang sayu.

BRUUGH

Kyuhyun terbelalak dan lari kearah Sungmin yang rubuh di tengan kumpulan lilin.

.

.

Kyuhyun menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Changmin duduk disampingnya dengan coklat panas yang sudah dingin. Tatapannya kosong entah kemana. Sementara Sungmin belum juga sadar dari pingsannya, meskipun 2 jam sudah lewat.

Menahan pening yang mulai terasa mengganggu, Kyuhyun memijat pangkal hidungnya. Matanya tak sengaja melihat keberadaan pemuda lain berdiri diambang pintu dengan kaku. Kulitnya putih mendekati pucat. Pandangannya lurus kedepan tanpa kedipan sedikitpun. Sementara wajahnya datar tanpa ekspresi.

Ia meringis menyadari pemuda itu hampir menyerupai robot. Namun dengan berat hati, Kyuhyun mengakui bahwa pemuda itu sangat mirip dengan Changmin.

Inilah hasil kerja keras Sungmin sampai membuatnya pingsan.

Kyuhyun menoleh saat melihat Changmin berusaha menaruh cangkirnya yang masih setengah penuh keatas meja "sudah lebih baik?" tanyanya. Changmin menggeleng, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. kyuhyun menghela napas panjang "istirahatlah" lanjutnya saat melihat Changmin membelakanginya.

Ia ikut memejamkan matanya sebelum menengok kebelakang punggungnya. Pemuda itu masih berdiri disana. Membuat Changmin harus membelakanginya. "kau…"Kyuhyun menghembuskan napasnya keras-keras "istirahatlah juga" lanjutnya kemudian, lantas kembali menengok kedepan. Sekilas ia melihat pemuda tadi meliriknya sekilas sebelum berbalik. Entahlah, mungkin ia pergi ke ruang tengah, dapur ataupun ruang TV. Yang jelas, duplikat Changmin tersebut tak akan berani untuk pergi keluar apartemen ini.

.

.

Sungmin membuka matanya perlahan. Terangnya lampu langsung menerobos retina matanya. Ia mengernyit. Namun sedetik kemudian, badannya langsung duduk tegak. Pandangannya menelisik kesekitar dan baru menyadari bahwa ia berada di kamar tidur dengan Kyuhyun dan Changmin yang tertidur disofa tak jauh dari tempatnya berada.

Tanpa pikir panjang, ia meloncat dari atas kasur dan berlari kearah sofa panjang, kemudian mendorongnya hingga terjungkal kebelakang. Membuat dua pemuda yang sedang tertidur disana meringis karena ikut terjungkal kebelakang dan sukses membuat kepala bagian belakangnya terbentur cukup keras.

Buru-buru Sungmin membuka mulut saat dilihatnya Changmin akan protes "maaf. Sekarang tak ada waktu" ucapnya. Diam-diam Sungmin ikut meringis merasakan sakit yang kedua pemuda itu rasakan.

Namun ia langsung teringat dengan doppelganger yang tadi mereka lakukan. "kemana perginya kembaran Changmin?"

Menahan kesal, Kyuhyun mencoba menjawab dengan suaranya yang parau "mungkin diruang tengah" tanpa menunggu, Sungmin segera pergi dari sana.

Changmin bergidig "kembaran?" gumamnya. Kyuhyun tersenyum samar menanggapinya. Ia bangkit, lantas mengulurkan tangannya untuk membantu Changmin berdiri.

Sementara itu, Sungmin berlari kalang kabut saat matanya tak menemukan pemuda yang sedang dicarinya. Changmin dan Kyuhyun datang sesaat setelah ia memasuki ruang tengah "dimana?" Tanya Kyuhyun.

"aku tidak bisa menemukannya" Sungmin megacak rambutnya frustasi "kita tak punya waktu lebih lama lagi"

Changmin berdiri dibelakang Kyuhyun. Menatap ke-frustasian yang sedang mereka alami. Ia mengedikkan bahunnya, lantas berbalik.

Ia melangkah perlahan sebelum berhenti tepat didepan kamar mandi "aku sudah frustasi memikirkan cara keluar dari sini. Ditambah makhluk aneh yang entah kenapa mirip sekali denganku" ia bergidik ngeri saat kembali mengingat wajahnya dengan versi yang bahkan ia pun tak sanggup hanya untuk membayangkannya.

Cepat-cepat ia menggeleng, mencoba menghilangkan bayangan wajahnya sendiri "sudahlah" tangannya terangkat untuk meraih daun pintu. Kemudian mendorongnya perlahan.

"HUWAAAAA"

Kyuhyun dan Sungmin tersentak. Kedunnya saling menatap sesaat setelah menyadari Changmin tak bersama mereka. Tanpa pikir panjang, keduanya belari menuju sumber suara.

Dilihatnya Changmin berjongkok tepat didepan pintu kamar mandi. Tangannya memegang daun pintu kuat meskipun bergetar. Kyuhyun dengan cepat ikut berjongkok disamping Changmin "ada apa?"

Perlahan, Changmin menoleh dengan wajah pucatnya "di da-dalam" suaranya begetar, kentara sekali ia sedang ketakutan. Kyuhyun mengernyit. Kemudian menoleh kearah Sungmin yang juga sedang menatapnya. Keduanya mengangguk sekali.

Setelah itu, Kyuhyun menghela Changmin untuk berdiri dan membiarkan Sungmin masuk kedalam. Changmin melotot saat menyadari Sungmin masuk kedalam "jangan!" serunya keras. Ia hendak menyusul, namun Kyuhyun buru-buru menahannya "tidak. Biarkan saja"

Tak lama, Sungmin keluar dengan wajah cerahnya "kita menemukannya" ucapnya disela senyumnya yang lebar. Kontras sekali dengan wajah Changmin yang makin memucat saat melihat seorang pemuda yang baru muncul dibelakang Sungmin.

Refleks Changmin mundur dan bersembunyi dibalik punggung Kyuhyun. Badannya makin gemetar saja dengan peluh yang bercucuran diwajahnya.

Sungmin menyadarinya. Buru-buru ia mengubah senyumnya. Didekatinya Changmin perlahan. Namun pemuda itu malah makin mundur. Sungmin mengernyit. Ia menengok kebelakang dan baru menyadari bahwa pemuda dibelakangnya juga ikut melangkah bersamanya. Dan itu membuat Changmin mundur.

"tunggulah disini" Sungmin berbicara perlahan. Lantas ia kembali menengok kedepan. Mendapati Changmin yang hampir tak terlihat dibelakang punggung Kyuhyun.

Ia berjalan dengan hati-hati "tidak apa-apa. Dia hanya kembaranmu saja Changmin" namun kata-kata yang awalnya ia ucapkan untuk membuat Changmin tenang malah berbalik. "ti-tidak aku tidak mempunyai kembaran seperti itu" suara Changmin masih bergetar. Namun kali ini terdengar tegas.

Sungmin mendengus "terserahlah. Sekarang, yang harus kau lakukan adalah, berbicara dengannya dan perintahkan dia untuk tetap berada disini, berbaiklah pada kami sementara kau pergi" Changmin melotot. Berbicara? Bahkan menatap pun ia tak sanggup.

"baiklah baiklah. aku tahu kau masih tak bisa. Tapi cobalah sebisamu. Mau tak mau, kau harus mengakuinya sebagai kembaranmu meskipun itu sulit" Sungmin berkata penuh kehati-hatian. Ditatapnya Changmin yang sudah berhenti bergetar. Diam-diam ia tersenyum menyadari kata-katanya cukup ampuh membuat Changmin terprovokasi.

"dia benar" ucap Kyuhyun tiba-tiba. "seburuk apapun dia, tapi kau harus ingat bahwa itu kembaranmu. Lagi pula, dia tidak jauh berbeda denganmu" lanjutnya dengan menahan tawa.

Sementara Changmin diam- mencoba meresapi kata-kata kedua pemuda tersebut -, Kyuhyun dan Sungmin pergi dari sana dengan tawa yang cukup keras.

Sesaat setelah menyadari kata-kata yang Kyuhyun ucapkan, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat. Segera Ia berbalik menatap punggung Kyuhyun dan Sungmin yang makin menjauh.

"YA!" ia mendengus keras lantas melangkah hendak mengikuti keduanya, namun kembali berhenti dan menengok kebelakang, mendapati pemuda dengan wajah yang mirip dengannya berdiri disana. Masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"ja-jangan menatapku seperti itu?!" gertaknya walaupun tak terdengar seperti itu.

Ia berbalik, lantas melangkah sebelum benar-benar berlari menjauh dari sana menuju dapur.

Saat sampai di dapur, langkahnya berubah lesu. Dengan menyeret langkahnya, ia bergerak kearah counter kecil di sudut ruangan. Mengamil gelas berkaki dan mengisinya dengan air es yang sudah ia ambil sebelumnya dari kulkas.

Setelah meneguknya sampai habis, ia mendongak. Kyuhyun dan Sungmin tiba-tiba saja telah berdiri didepannya. "kau sudah berbicara?" Sungmin melipat kedua tangannya di depan dada. Memicingkan matanya menatap Changmin.

Changmin berdecak cukup keras "kenapa tidak kau saja yang berbicara? Lagipula dia menurutkan padamu? Buktinya saja, dia masih menuruti perintahmu untuk berdiri di depan pintu kamar mandi sampai sekarang"

"tidak. Tidak seperti itu. Perintah itu hanya bertahan 1-2 jam saja"

Changmin mendengus "begitukah?"

"hmm" Sungmin berjalan mendekat "dan kita tidak mempunyai waktu banyak untuk menunggu hingga kau siap. Itu artinya, mau tidak mau, bisa tidak bisa, sanggup tidak sanggup, kau tetap harus melakukannya" ucap Sungmin mutlak. Ia melirik kearah Kyuhyun yang berdiri menyandar pada tembok di dekat lemari kayu berisikan botol-botol wine.

"aku akan membantu" kata Kyuhyun. Menatap tajam Changmin membuat pemuda jangkung tersebut merinding.

"ahh tidak tidak tidak. Maksud Kyuhyun adalah KAMI. Ya, itu yang benar" ralat Sungmin secepat yang ia bisa.

Kyuhyun mengedikkan bahunya tampak tak peduli "terserahlah".

.

.

Dengan ragu, Changmin membuka mata untuk menatap pemuda dihadapannya sekilas. Tak lama, ia segera menutup matanya kembali. kedua tangannya saling bertaut dibawah bantal sofa yang ia simpan di atas pahanya.

Sudah 30 menit berlalu. Dan Changmin masih betah dengan kegiatannya tersebut, membuat kedua pemuda lainnya terus menerus menghela napas putus asa. Saat salah satu diantara keduanya hendak menyela kegiatan Changmin, buru-buru pemuda itu mengangkat sebelah tangannya dan mengangguk. Mencoba meyakinkan bahwa ia bisa dan akan melakukannya.

Namun lagi-lagi yang dilakukannya hanya membuka-tutup matanya. Begitu terus sampai Sungmin menghela napas jengah "hentikan!" ucapnya.

"Changmin, kau bisa atau tidak?" Sungmin menatap Changmin leakt-lekat. Ia tahu ini memang berat untuk Changmin. Tapi apa susahnya berbi-

"aku bisa" ucapnya tegas. Sedetik kemudian, ia membuka matanya. Tatapannya tegas mengarah pada 'Changmin' dihadapannya.

Ia menghela napas sekali lagi "kau" Changmin berucap tegas. Namun, saat matanya bertemu dengan mata kembarannya tersebut, cepat-cepat kelopak matanya saling menempel erat. "bukankah sudah kuperingatkan? Jangan pernah menatapku seperti itu! Aku tak pernah mempunyai tatapan sedingin itu!"

Sunyi. Perlahan Changmin membuka matanya. Dan ia tertegun. Pemuda yang ia anggap menyeramkan itu seolah mengerti dengan ucapannya dan langsung mengaplikasikannya detik itu juga.

"wow. Dia hebat" gumam Sungmin. Namun Changmin masih cukup jelas mendengarnya. Ia berdehem saat menyadari Kyuhyun juga terpukau dengan apa yang terjadi.

"lanjutkan" ucap Sungmin disela-sela rasa terpukaunya. Dilihatnya Kyuhyun yang mengangguk tanpa menoleh kearahnya.

Changmin kembali menoleh kearah… kembarannya? Baiklah, dengan berar hati ia mulai mengakui bahwa pemuda dihadapannya ini tidak semenakutkan sebelumnya. Sekarang, ia bisa bernapas lega karenanya. Pemuda dihadapannya ini sudah mirip seperti dirinya.

Ia menghela napas, menutup matanya erat-erat "k-kau tinggalah disini. Bersikaplah baik dan turuti semua perintah yang diucapkan kedua pemuda ini. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dan…" perlahan tapi pasti, kelopak matanya tebuka. Pandangannya langsung bertemu dengan 'Changmin'. Sebuah senyum tulus mengembang diwajahnya "berhati-hatilah"

Kyuhyun dan Sungmin melongo. Tidak percaya dengan kalimat terakhir yang diucapkan Changmin. Tidakkah mereka salah mendengar. Seorang Changmin dengan harga diri yang tinggi melebihi batas, mengucapkan kalimat yang terdenagar tulus dan peduli.

Diam-diam Kyuhyun tersenyum. Merasa bangga dengan Changmin yang sekarang. Pasalnya, selama ia mengenal Changmin inilah kali pertama ia mendengar rentetan kalimat yang terdengar sangat tulus. Bahkan beberapa detik, ia sempat terharu.

Sementara Sungmin juga ikut tesenyum lebar. Walau tidak begitu mengenal Changmin. Namun rasanya ia tersentuh dengan kalimat yang diucapkan pemuda itu. Ia menghembuskan napas saat dilihatnya 'Changmin' mengangguk.

"baiklah, ayo kita lakukan sekarang"

.

.

.

TBC

Halloooo~ long time no see…

Telat lagi dan saya mengakui bahwa saya paling ga bisa update cepet. Maaf ya.

Abisnya kadang mood menulis saya hilang tiba-tiba. Apalagi bulan Desember ini penuh dengan cobaan buat saya, hiks.

Pertama, saya ditinggal kawin #taulahyasamasiapa dan dan dan saya juga ditinggal sahabat saya untuk selamanya #cry terus, saya juga ga liburan. Kan sedih liburannya stay at home. Ya udahlah ya ga usah curhat -_-

So, mohon pengertiannya ya.

Special Thanks untuk Gyu1315, mifta cinya, dyayudya dan JeremmyKim dan juga yang udah follow dan fav

Oh ya, untuk JeremmyKim yang udah kasih masukan makasih banyak ya. Saya tahu kok itu bukan bash-an dan kamu nyampeinnya juga enak. Jadi makasih sekali lagi dan maaf juga karena saya ga bisa buat summary yang bagus

Dan,

HAPPY NEW YEAR ALL

Ya walaupun masih berapa hari lagi. Tapi gapapa lah ya.

Yang jelas, semoga di tahun 2015 nanti kita semua lebih lebih dan lebih dari tahun 2014 ini. Tapi inget, lebih nya ke yang positif ya.

Terakhir…

See you guys~ ketemu lagi tahun depan ya ^-^