Naruto © Masashi Kishimoto

[Uchiha Sasuke x Haruno Sakura]

Islamic content, AU, OOC, Typo(s), EBI belum sempurna.

.

.

.

Sakura tetap fokus memerhatikan rangkaian kata yang terlontar dari bibir ayahnya. Sejenak dia enggan memercayai apa yang telah ditangkapnya, tapi bukankah ini sebuah kehidupan? Dimana suatu hal akan mengalami perubahan.

"Jika dulu kaumelihat banyak kesalahannya, maka izinkan nuranimu untuk kembali melihatnya. Melihat perubahan yang dia lakukan sebagai suami yang sedang berproses," ujar Kizashi.

Beliau menarik napas ringan sesaat bergumam. "Dia benar-benar ingin memperbaiki keretakan dalam rumah tangga kalian. Dan ayah hanya bisa membantu semampunya, sesuai dengan apa yang ayah lihat dari dirinya secara objektif."

Gadis Haruno itu tetap bungkam, namun tak menghilangkan pancaran matanya yang tak terdefinisi. Kendati demikian, kekakuan perlahan memudar dalam dirinya.

"Ayah bisa melihat keteguhannya,"

Emerald laki-laki dewasa tersebut menyorotkan suatu keseriusan yang penuh makna.

Selama perbincangan ini sang anak belum mengeluarkan sepatah kata pun, dia hanya merespon dengan tatapan bola klorofil yang terkadang tidak bisa diterjemahkan, namun air muka itu cukup menjelaskan bahwa dirinya mendengarkan dengan saksama.

Teringat akan suatu perkara, Kizashi lekas memusatkan atensinya pada emerald Sakura yang tampak sayu, lalu mengelus kepala gadis tersebut. "Ayah tahu kau memiliki masalah dengan Sasuke sebelumnya. Tapi jangan lakukan suatu tindakan tanpa seizin suamimu lagi,"

Sakura menunduk seraya memainkan jari-jarinya. Terlihat jelas kontur wajah itu menunjukkan suatu kesurutan diiringi kecamuk pikiran yang melayang pada satu waktu dimana dirinya pergi meninggalkan Manshion.

"Maafkan aku," lirih gadis ini –membuka suara.

Jelas sekali gurat-gurat penyesalan menghiasi mimik wajahnya. Kizashi kembali mengelus puncak kepala Sakura dengan penuh sayang seolah anaknya terasa ringkih.

"Katakan itu pada suamimu, nak," respon sang ayah kemudian.

Gadis blasteran Mesir-Jepang tersebut hanya mengangguk kecil tanpa mengeluarkan suara.

"Jadi bagaimana dengan Sasuke? Apa kau akan tetap membuat dia menunggu?"

Suasana menjadi hening karena tidak ada respon yang dilontarkan sang empu, tapi situasi ini membuat Sakura lebih leluasa untuk memikirkan suatu perkara yang berputar dalam sel-sel otaknya.

"Tidaklah seorang hamba memberi maaf, melainkan Allaah akan menambahkan kemuliaan baginya. Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu' (rendah hati) karena Allaah (ikhlas) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allaah," ucap Kizashi.

Gadis soft pink itu kembali mengangkat wajahnya untuk menatap sang ayah, tampak mimiknya menyurut dan terlihat menghayati satu Hadits Riwayat Muslim yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarannya.

Kizashi lekas berdiri untuk meninggalkan kamar tersebut, lantas menyunggingkan senyum yang teduh.

"Buatlah keputusan yang tepat,"

.

.

Secarik Hibat © Wickey-Pooh

Chapter 4

Present

.

.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya di perusahaan –yang mana hari ini tidak ada jadwal kuliah, Sasuke bergegas mengemudi menuju rumah mertuanya untuk kembali menuntut ilmu dan–

Pemuda itu memejamkan mata sepersekian detik.

–bertemu Sakura.

Onyxnya kembali mengarah ke depan untuk berkonsentrasi pada jalanan. Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk sampai di tempat tujuan. Dirinya kembali disibukkan oleh rutinitas seperti biasa, namun Sasuke tidak merasa kepayahan karena dia menikmati proses belajar ini. Kegiatan tersebut mulai sekarang dilakukan di Rumah Tahfidz yang lokasinya tak jauh dari rumah Kizashi, hal tersebut dilakukan agar terasa lebih leluasa, nyaman, dan afdol.

Sang mertua kembali mengulang perkara sholat untuk menguatkan ilmu dan belajar kitab Ummi untuk mengoreksi dan menyempurnakan makhroj hijaiyah yang dimiliki oleh Sasuke. Pemuda tersebut beberapa kali mengalami kesulitan dalam mengikuti makhorijul huruf yang benar, karena posisi lidah dan bibir yang masih kaku. Terlebih ketika dirinya mengucapkan huruf lam –mengingat aksen orang Jepang tulen tidak bisa mengucapkan huruf "L".

"Tidak apa-apa. Ini masih awal, kau akan terus dilatih dan terbiasa nantinya," tukas Kizashi menyemangati.

Sang empu mengangguk seraya berusaha mempelajari dengan baik. Mereka menutup kitab Ummi setelah menghabiskan waktu selama dua jam. Kizashi memberikan waktu untuk Sasuke beristirahat dan melancarkannya esok hari.

"Bicaralah dengannya," ujar sang mertua tiba-tiba.

Onyx pemuda darkblue itu menoleh pada sumber suara. Berusaha memahami rentetan kata yang terlontar dari bibir ayah mertuanya, dan Sasuke cukup paham dengan apa yang dimaksud laki-laki dewasa tersebut.

Setelah memberikan salam, dirinya langsung bergegas menuju rumah mertuanya dan menghentikan langkah di depan kamar Sakura yang tertutupi oleh tirai –sedangkan pintu dalam keadaan terbuka.

Pemuda stoic ini dapat mengendus aroma blossom yang menggelitik indera penciumannya –aroma yang beberapa hari ini tidak dia rasakan di Manshion, sangat menenangkan dan mengikis setiap kerinduan yang tertanam dalam hatinya.

Dia perlahan membuka tirai dan perasaannya langsung berdesir tatkala sosok sang istri terkunci di balik manik obsidiannya. Gadis tersebut sedang duduk bersandar di penyangga tempat tidur seraya memegang sebuah mangkuk yang diyakininya sebagai bubur, namun tampaknya gadis pink itu tidak menyadari kehadiran Sasuke di ambang pintu karena wajahnya dalam keadaan menunduk.

Pemuda tersebut kembali melangkah dengan hati-hati diiringi degup jantung yang tidak stabil, namun tetap dimanipulasi oleh mimik datarnya. Sejenak dia berpikir bahwa tubuhnya terasa kaku.

Menyadari ada suara langkah, Sakura lekas mengangkat wajahnya untuk menatap sumber suara. Betapa emerald itu memancarkan sorot yang menunjukkan suatu keterkejutan, bahkan dunianya seakan berjalan lambat dengan jantung yang terpompa cepat.

Dia sudah tahu hal ini pasti akan terjadi –mengingat cerita dari sang ayah kemarin. Namun dia benar-benar tidak mempersiapkan diri untuk langsung berhadapan dengannya.

Gadis ini menahan napasnya beberapa detik.

'Sasuke-kun,' batinnya.

Tatapan mereka saling bertemu seolah mengeksplor setiap ikatan yang tertanam dalam iris masing-masing, menyelami jiwa yang tertaut di balik pancaran tersebut.

"Hey," sapa Sasuke.

Pemuda tersebut pandai mengontrol nada suara dan gestur tubuhnya sehingga tetap terlihat maskulin dalam segala keadaan.

Beruntung sang gadis berhasil menguasai dirinya dan sesegera mungkin mengontrol situasi tubuhnya yang sempat menegang. Gadis ini hanya menyunggingkan senyum, dan bahkan terasa kikuk baginya karena jalan kerja otaknya sedang trans.

Langkah Uchiha bungsu itu kian mendekat, lalu duduk di sebuah kursi yang terletak di samping tempat tidur.

Berusaha mengabaikan hatinya yang bergemuruh, pemuda tersebut mengeluarkan nada tenang. "Bagaimana keadaanmu?"

Sementara Sakura kembali mengatur kinerja otaknya. "Alhamdulillah baik,"

Baik? Sasuke memerhatikan wajah istrinya dengan saksama, terlihat lebih sayu dari wajah yang sering dia lihat dulu saat masih di Manshion. Dan kejanggalan itu terlihat jelas dari kondisi matanya. Mata yang selalu memancarkan keindahan, kini terlihat sayu seperti bekas kelelahan akibat menangis lama.

Dalam hati, pemuda ini tersenyum kecut karena paham betul penyebab hal tersebut.

Jari Sasuke tanpa sadar menjangkau bagian bawah mata gadis tersebut, lalu mengelusnya. "Kau tidak baik,"

Dia tidak menyadari tindakan tersebut berhasil membuat Sakura terpaku dengan hati yang kian bergetar seolah pasokan udara berjalan lambat di pernapasannya. Ini sentuhan pertama yang diberikan oleh pemuda raven itu, membuat kulit sang gadis terasa disengat.

"Lebih baik dari hari kemarin," jelas gadis ini, setelah menstabilkan dirinya.

Hanya berselang beberapa detik, tampaknya Sasuke tersadar dari tindakan tersebut, lantas kembali menarik tangannya dengan wajah yang diusahakan terlihat tenang seperti biasanya.

Walau bagaimanapun, dia belum terbiasa dengan interaksinya bersama Sakura sehingga membuatnya harus menjaga sikap terlebih dahulu. Sejenak dia merutuki pergerakan tangannya yang gegabah.

Suasana menjadi hening karena tak ada suara yang dikeluarkan keduanya. Teringat bubur yang tak tersentuh, Sasuke lekas mengambil mangkuk itu dari tangan Sakura. Begitu mudah, sepertinya Sakura sedang melonggarkan pegangannya karena tidak fokus, atau karena kondisinya sedang lemah?

Dia harus menghabiskan buburnya untuk kemudian meminum obat agar kesehatannya kembali pulih. Sadar bahwa mangkuknya sudah berpindah tangan, Sakura lekas bersuara. "Tidak perlu, Sasuke-san,"

Sang empu berkelit, justru menyuapkan sesendok bubur itu pada mulut istrinya. Sakura paham betul mimik demikian –mimik tak ingin dibantah. Dengan perasaan ragu dan enggan memperumit keadaan, sang istri hanya mengikuti arus yang terjadi dan menerima suapan yang diberikan oleh suaminya. Tiba-tiba dia teringat keadaan dimana dulu dirinya pernah melakukan hal yang serupa, namun Sasuke menepisnya. Sesegera mungkin gadis tersebut mengenyahkan pikiran itu, sadar bahwa masa lalu tidak perlu diungkit kembali.

"Sakura," gumam Sasuke.

Gadis yang bersangkutan lekas menoleh. Dia melihat manik onyx itu terpancar intens dengan garis wajah yang tegas.

"Maafkan aku," lanjutnya.

Sakura termenung dengan darah yang mulai berdesir, kemudian dia melihat gurat-gurat penyesalan tergambar jelas di mimik suaminya. Tiba-tiba gadis tersebut teringat akan ucapan sang ayah yang mengatakan bahwa pemuda raven ini sudah berubah. Dan Sakura bisa melihat perubahan itu.

Bahkan hanya untuk sekadar menatap matanya...

Gadis ini sadar bahwa perlakuan yang diberikan oleh sang suami dulu selalu membuatnya sakit dan terkadang tertekan, tapi ada suatu hal dari lubuk hatinya yang menginginkan dirinya untuk memaafkan itu semua.

Butuh beberapa menit baginya untuk membuka suara.

"Tidak apa-apa, Sasuke-san," akhirnya inilah yang dia utarakan.

Sasuke sedikit mengernyit mendengar itu, apakah istrinya sebaik ini? Hingga mudah memaafkan kesalahan yang pernah dia perbuat. Kesalahan yang bahkan tidak bisa dibayangkan seberapa kejamnya oleh Sasuke. Ini terlalu klise! –atau mari kita ubah, ini adalah sebuah anugerah.

"Mengapa?" tanya sang suami.

Gadis Haruno tersebut bergeming, tiba-tiba teringat akan petuah dan hadits yang dikatakan oleh sang ayah. Tapi di balik itu semua, Sakura merasa itu perlu karena dia begitu menyayangi suaminya. Pun Kizashi selalu mewanti-wanti dirinya untuk tidak menjadi seorang pendendam. Sudah sepatutnya antarsesama muslim untuk saling memaafkan.

"Aku hanya merasa itu perlu,"

Uchiha bungsu itu termenung lama seolah mempertimbangkan banyak hal yang menggerogoti inti otaknya. Beberapa menit terdiam sesaat bergumam, "terima kasih."

Sasuke kembali memberi suapan bubur untuk istrinya dengan gestur tenang, meski pusat pikirannya menampung banyak kalimat yang runyam.

"Kami sudah berakhir," tukas pemuda ini tiba-tiba. Dia merasa harus menjelaskan hal tersebut.

Sakura menautkan salah satu alisnya ke atas, tampak tidak mengerti dengan perkataan suaminya.

"Hinata,"

Kinerja otak gadis pink ini mulai terkendali, beberapa menit sebelumnya dia melupakan gadis lavender itu. Namun setelah Sasuke mengangkat topik tentangnya, entah mengapa ada goresan luka yang menganga di dasar hatinya. Tapi mulai berangsur-angsur hilang ketika pemuda raven itu memberitahu hal tadi.

"Mengapa?" tanya Sakura.

Sasuke menatapnya bingung. Apa perlu alasan untuk menjelaskan hal itu pada istrinya? Bukankah semuanya sudah terlihat begitu jelas tanpa harus dia jelaskan dengan kata-kata? Tak lain dan tak bukan, tentu saja karena dia ingin kembali pada Sakura dan memperbaiki rumah tangganya.

Sang suami menarik napas. "Aku peduli pada rumah tangga kita,"

Darah Sakura berdesir, tapi dia kesulitan memilah respon yang hendak dikeluarkannya. Gadis tersebut bingung harus mengatakan apa karena pikirannya mendadak buntu saking tegangnya.

Uchiha bungsu itu kembali menyuapi sang istri. Sakura menolak mengikuti pikirannya yang mulai kacau untuk memikirkan jawaban kepada suaminya, tapi tiba-tiba satu perkara terlintas. Setelah sedikit mengunyah dan menelan suapan tersebut, gadis pink ini menunduk seraya berujar lirih. "Aku minta maaf karena pergi tanpa seizinmu,"

Ini adalah perkara serius bagi Sakura.

Di sisi lain, Sasuke sedikit kecewa karena sang istri tidak menjawab perkataannya, yang mana pemuda ini begitu mengharapkan respon apa yang hendak dikeluarkan oleh gadis tersebut.

Mungkin dia masih mempertimbangkannya? Pemuda darkblue itu mencoba memaklumi hal tersebut.

"Aku memaafkanmu,"

Sakura merasa lega. Sasuke berusaha memahami keadaan sang istri yang tertekan kala itu, lagipula perkara tersebut terjadi karena kesalahannya sendiri. Jika saja dia tak melakukan hal-hal bodoh –maksiat, Sakura tidak akan mengambil tindakan untuk pergi dari Manshion.

Uchiha bungsu ini yakin bahwa Sakura selalu berusaha untuk meminimalisir setiap kesalahannya.

Sasuke menyadari dirinya begitu kaku menghadapi sang istri, ini pertama kali dia menghadapi seorang perempuan yang 'berbeda' dan dia sukar untuk mengatasinya.

Bola emerald sang gadis terangkat hingga membidik wajah aristokrat di hadapannya. Pun sang empu yang ternyata sedang menatapnya juga, seakan saling menyelami garis masing-masing. Jika Sakura tak piawai dalam menguasai dirinya, dia akan tampak salah tingkah.

Tiba-tiba pemuda raven itu sedikit gusar memikirkan kelanjutan rumah tangganya yang belum menentu. Entah mengapa dia merasa sangsi untuk menanyakan itu sekarang karena jelas tadi Sakura mengalihkan topik pembicaraan, tapi dirinya butuh kepastian, maka dia harus mengerahkan seluruh keberanian tanpa memedulikan kegelisahan yang sedang mengoyak jiwanya.

"Bagaimana keputusanmu?" tanya Sasuke akhirnya.

Sang lawan bicara bergeming, tapi dia sedikit mengerti akan pertanyaan tersebut. Sebenarnya gadis Haruno ini sudah melakukan banyak pertimbangan yang diyakininya sebagai jalan terbaik, namun dirinya masih perlu memikirkan beberapa hal lain untuk menguatkan keputusannya.

Mengakhiri atau mempertahankan?

Meski Sakura sudah memaafkan kesalahan-kesalahannya, tapi tidak menutup kemungkinan dia akan mengambil keputusan untuk berpisah, bukan?

Menyadari istrinya terdiam cukup lama seakan berpikir berat, Sasuke memutuskan untuk bersabar dan menimbun rasa kecewanya, sepertinya Sakura memang masih meragukannya. Tapi itu tidak mengapa, karena untuk meraih suatu hal yang berharga maka dirinya butuh perjuangan yang tidak instan.

Sasuke lekas menyahut. "Tidak perlu dijawab sekarang."

Iris klorofil sang gadis kembali menembak manik kelam di hadapannya yang tak terdefinisi, tanpa sempat mengeluarkan sepatah kata pun karena pemuda itu kembali menyuapinya.

Setelah dirasa mangkuk sudah kosong, pemuda tersebut menyerahkan segelas air mineral yang sebelumnya tersimpan di atas nakas, lalu atensinya mengarah pada beberapa obat yang terletak di tempat yang sama. "Yang mana?"

"Ini," Sakura meraih resep obat bagian siang, lantas meminumnya.

Setelah semuanya beres, Sasuke berdiri dengan gerakan pelan. "Beristirahatlah. Aku akan kembali besok,"

Dia tampak ingin melakukan sesuatu sebelum keluar dari kamar ini, mungkin semacam salam perpisahan yang selumrahnya dilakukan oleh pasangan suami istri, namun kembali diurungkan saat menyadari permasalahannya masih semu.

Pada akhirnya Sasuke membalikkan tubuh dan melangkah menuju pintu keluar. Sedangkan atensi sang emerald tak terlepas dari punggung suaminya.

.

.

Manik kelam Sasuke tertutup oleh kelopak matanya, sedikit guratan memanjang di bagian dahi menandakan bahwa sang empu tengah menahan letih. Dalam keadaan galau seperti ini, biasanya dia akan melampiaskan pada rokok atau wine. Tapi sudah beberapa hari ini dirinya menghentikan aktivitas terlarang tersebut, namun candu nikotin rokok tampaknya masih menghantui pemuda raven itu hingga membuatnya sedikit mengerang.

Ini tidak mudah.

Jika tidak berpikir mengenai hijrahnya, tak membutuhkan waktu yang lama bagi pemuda itu untuk kembali membeli rokok atau mengambil banyak rokok yang masih tersimpan di tempat sampahnya. Tapi sekali lagi, dia tidak ingin berubah setengah-setengah, dirinya niat melakukan perubahan secara kaaffah.

Dia sadar bahwa rokok adalah hal yang tidak bermanfaat dan mubadzir, juga merusak kesehatannya dan mengganggu orang lain. Terlepas dari hukumnya haram atau makruh, yang jelas rokok mengandung kemudhorotan, maka perlu dihindari.

Beberapa kali Sasuke menghela napas untuk melawan hawa nafsunya, hingga selanjutnya Uchiha bungsu tersebut memutuskan untuk mengalihkan itu dengan cara membaca deretan kata yang tertuang dalam buku peachMenikah Mengejar Kemuliaan. Belum terhalang jeda yang panjang, tiba-tiba konsentrasinya buyar tatkala bel pintu depan terdengar nyaring di telinganya, lantas melangkah menuju sumber suara untuk membuka pintu dan memastikan sang tamu.

Pemuda Uchiha ini menautkan salah satu alisnya ketika sosok sang tamu –seorang perempuan– tengah memandangnya dengan wajah horor, bahkan mata itu terlihat membulat sempurna seakan ingin keluar dari tempatnya.

Siapa dia? Sasuke merasa tidak mengenal perempuan tersebut.

"Sasuke-san!" jeritnya.

Perempuan itu terkejut dengan raut yang kebingungan, bahkan garis wajahnya tampak mengerut seolah tidak bisa membaca situasi yang ada. Dia lalu menatap secarik kertas yang ada di tangannya dengan gusar.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Sasuke.

Pemuda ini turut bingung dengan gestur tamunya yang absurd. Tapi dia tetap membuka lebar pintunya –bermaksud mempersilakan sang empu untuk masuk.

Sosok perempuan itu kembali menatap sang lawan bicara seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia tidak beranjak untuk masuk. Di samping itu, Sasuke juga melihat sesosok laki-laki duduk di mobil yang terparkir di depan Manshionnya, laki-laki itu sedang menatap ke arahnya dengan pandangan bingung juga, lantas turun dari mobil dan segera berjalan ke arahnya.

Siapa mereka?

Sasuke sedikit mengernyitkan dahinya tatkala sosok itu kian mendekat hingga terlihat jelas. Dia merasa tidak asing dengan wajah itu. Setelah berpikir beberapa saat, Sasuke sadar bahwa laki-laki tinggi tersebut ialah sosok yang datang saat insiden penghinaan terhadap Sakura di depan Auditorium.

Pemuda raven ini menajamkan onyxnya tanpa sadar.

"Kaumenulis alamat yang salah, imouto?" suara berat laki-laki itu memecahkan keheningan, pandangannya tertuju pada sosok perempuan yang sedari tadi berdiri mematung di hadapan tuan rumah.

Mereka rupanya sepasang kakak beradik.

"Kurasa, aku sudah menulis alamat Sakura dengan benar,"

Pemuda raven ini tampaknya paham dengan apa yang sedang terjadi, mereka adalah teman Sakura. Selain itu, Sasuke juga mengerti dengan kebingungan yang sedari tadi dipancarkan oleh lawan bicaranya. Dengan tenang, dirinya menjawab. "Ya, ini alamat Sakura,"

Dua pasang mata lekas menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Ap –bagaimana bisa? Maksudku kenapa kau–" ucapan perempuan itu menggantung dan terdengar rancu. Mungkin dia belum bisa mengontrol keterkejutannya.

"Sakura istriku," tukas Sasuke.

Nani? Begitu mudah dia mengatakan hal tersebut seolah melupakan gelombang masalah yang sedang menerpanya.

Tak diragukan lagi keterkejutan yang ditunjukkan oleh tamu-tamunya kian meluap. Mereka terpaku karena tubuhnya terlihat kaku mendadak, bahkan sang tamu perempuan lekas membetulkan letak kacamatanya yang melorot saking terkejutnya sambil berujar. "Benarkah?"

Sepoi angin menyelimuti keadaan hingga memberikan suasana yang tampak hening namun memberikan efek ketegangan bagi sebagian orang.

Sang perempuan lantas berdehem saat menyadari pemuda Uchiha itu tak kunjung menjawab ucapannya, tak lama setelahnya perempuan ini cukup tahu diri untuk tidak memperkeruh urusan. Kembali pada tujuan awalnya kesini, suara sopran tersebut menembus udara. "Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kuliah,"

Niatnya adalah untuk menjenguk sang sahabat.

"Dia demam,"

Raut perempuan berkhimar merah itu menunjukkan suatu kecemasan walau sebenarnya dia sudah tahu hal tersebut karena Sakura memberitahu kondisinya untuk absensi kelas melalui message. Dia lalu berkata, "bisakah kami bertemu dengannya?"

"Dia sedang tidak ada disini,"

Tampaknya lawan bicara menjadi bingung dan kaku untuk merespon lebih jauh. Bahkan sampai saat ini dirinya masih belum bisa mengontrol dirinya yang masih shock. Bola rubby itu bergulir menatap hazel kakaknya, dia tidak bisa mendefinisikan endapan yang ada dalam pancaran itu.

Suasana kembali hening. Sebelum mereka memutuskan untuk pamit dan berbalik guna pergi, tiba-tiba suara baritone memecahkan udara.

"Selamat," sambil mengulurkan lengan kanannya untuk berjabat.

Sasuke sedikit mengernyit, namun tetap menerima uluran itu.

"Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warohmah," tukas Sasori kemudian.

Setelah hal demikian, mereka benar-benar meninggalkan tempat tersebut dengan pikiran masing-masing sesaat melontarkan salam, lantas masuk ke dalam mobil. Bahkan sang tuan rumah belum sempat menjamu tamunya karena mereka sudah bergegas pergi.

Perempuan yang diketahui bernama Karin itu memikirkan banyak hal, dia sukar memercayai segala hal yang diperolehnya pada hari ini, begitu tiba-tiba dan mengejutkan. Setelah perbincangannya tempo hari perihal hubungan Sasuke dan Hinata, dia yakin kondisi tak sehat Sakura saat ini berkaitan dengan hal tersebut, sudah diprediksikan jikalau keadaan rumah tangga mereka sedang bermasalah.

'Apa saat itu aku mengatakan sesuatu yang salah?' batinnya gusar.

Dia lekas menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan gemuruh pikirannya. Setelah teringat akan sesuatu, gadis berkacamata tersebut memasang mimik khawatir, lalu sang rubby bergulir ke arah kakaknya.

"Kau tidak apa-apa?"

Sang kakak yang bernama Sasori, menoleh sejenak dengan wajah yang masih bersahabat. "Menurutmu?"

Berusaha menghindari kesalahpahaman, Karin lekas menjelaskan. "Aku benar-benar tidak tahu. Sakura tidak pernah menceritakan ini sebelumnya padaku,"

"Sepertinya langkahku untuk menta'arufkan kalian terlambat, gomenasai," sambungnya penuh akan penyesalan.

Ya, Sasori menyimpan perhatian lebih pada Sakura. Dia pernah meminta bantuan adiknya untuk menta'arufkan mereka. Tampaknya Karin pun setuju mengenai hal tersebut karena dia mendambakan sang sahabat untuk menjadi kakak iparnya, mereka akan menjadi keluarga yang luar biasa. Namun harapan itu kini hanya sebatas puing-puing belaka.

Sasori menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa,"

Karin kian menajamkan maniknya, enggan memercayai respon yang dikeluarkan oleh sang kakak yang begitu tenang dan terarah, hingga membuat dirinya berdecak kagum diam-diam.

"Kauyakin?"

"Terlambat atau tidak, dia tetap tidak akan menjadi jodohku karena namanya tidak tertulis dalam lauhul mahfudzku,"

Karin berusaha tak mengeluarkan banyak kata untuk memberi ruang kepada kakaknya. Walau Sasori terlihat santai, tapi dia paham betul bahwa sang kakak sedang mengontrol perasaannya yang mungkin saja tengah tersayat.

Diam-diam Sasori menghela napas.

.

.

Sasuke termenung seolah mencerna banyak perkara dalam sel-sel otaknya. Dia duduk bersandar di tempat tidur seraya menutup kelopak matanya untuk menyalurkan embusan tenang, lalu memicing sejenak pada sebelah tempat tidurnya yang akhir-akhir ini kosong. Tempat tersebut biasanya ditiduri oleh sang istri yang selalu dia sia-siakan.

Pemuda raven itu meraih ponselnya dan berhenti pada kontak Sakura. Awalnya dia berniat untuk menelpon gadis tersebut sebelum teringat akan masalah dan kondisi kesehatan sang gadis –khawatir mengganggunya.

Namun dia benar-benar peduli dan merindukan gadis itu, lantas memilih untuk mengirim pesan saja.

.

To: Sakura (Work)

Sent Thu 21.05

Kau sudah baikan?

.

Sasuke lekas menyentuh panel sent sambil berharap adanya balasan dari sang istri. Dia memainkan ponselnya dengan harap-harap cemas, hingga getaran pada sang ponsel berhasil membuatnya memusatkan atensi.

.

From: Sakura (Work)

Received Thu 21.09

Alhamdulillah baik.

.

Sasuke segera memilih panel call untuk beralih menelpon istrinya, karena sepertinya Sakura tidak keberatan akan hal tersebut –mengingat pesan tadi direspon.

Bunyi panggilan terhubung, tak lama setelahnya suara sang istri membuka percakapan. "Assalamu'alaikum,"

Suara itu seakan melodi di telinga Sasuke. "Wa'alaikumussalam. Apa aku mengganggumu?"

"Tidak,"

Sasuke bergeming guna bernapas lega. Diam-diam dirinya masih merasa cemas akan kondisi sang istri, lantas bertanya. "Kau sudah meminum obatmu?"

"Sudah. Aku sudah merasa lebih baik,"

Uchiha bungsu ini bersyukur akan hal tersebut, setidaknya kondisi Sakura tidak lagi seburuk saat pertama kali dia melihatnya di rumah ayah mertua.

"Besok aku akan memastikannya,"

Pemuda bersurai raven itu merasa dirinya harus memastikan keadaan sang istri dengan bola matanya sendiri. Terjadi jeda sepersekian menit, namun tak lama berselang waktu suara Sakura kembali terdengar.

"Sasuke-san,"

"Hn,"

"Besok aku akan berangkat ke kampus lagi,"

Pemuda darkblue itu terdiam sesaat. Dia masih merasa cemas akan kondisi istrinya, apa Sakura benar-benar sudah merasa pulih?

"Kauyakin?"

"Ya,"

"Jangan memaksakan diri, Sakura,"

"Aku baik-baik saja,"

"Baiklah. Jam 07.30,"

"Apa?"

"Aku akan menjemputmu,"

"Eh Sasuke-san tidak perlu. Bukankah besok kau tidak ada jadwal kuliah?"

Sakura paham betul agenda sang suami, besok adalah jadwal kerjanya di Perusahaan.

"Hn,"

"Aku tidak mau merepot–"

"Tidurlah. Assalamu'alaikum," potong pemuda raven ini guna mengakhiri percakapannya sesaat menutup panggilan telepon.

Kentara sekali dirinya tidak ingin dibantah, lantas membaringkan tubuh untuk mulai mengistirahatkan dirinya. Kecemasannya pada sang istri hari ini mulai sedikit berkurang.

.

.

Pemuda berambut raven itu terbangun dari tidurnya, sesaat dirinya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi, lantas bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat malam –yang sebelumnya jarang sekali dia lakukan. Tapi sekarang dia berubah, sudah beberapa hari terakhir dirinya melakukan sholat tahajjud dan witir, tampaknya ini akan menjadi agenda kesehariannya. Alhamdulillah.

Sasuke mendirikan sholat dengan khusyu dan tenang. Setelah selesai, dilanjut dengan berdoa.

"Ya Allaah..." lirihnya memulai doa.

Beban-bebannya mulai berputar di dalam pikirannya dengan jelas.

"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi Engkau pasti tahu apa yang ada di dalam hati ini,"

Sasuke menarik napas perlahan. "Aku hanyalah seorang pendosa,"

Raut itu tampak menyurut dan penuh akan kesedihan yang begitu kentara.

"Yang mengharap belas kasih dan ampunan-Mu,"

Sasuke terdiam beberapa detik dengan wajah khusyu. "Ridhoi dan terimalah taubatku,"

Dia memberi jeda pada doanya. "Bantulah hamba untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini,"

Sang onyx terpejam dengan mimik penuh akan keseriusan.

"Berikanlah yang terbaik untukku dan Sakura,"

.

.

Pemuda darkblue itu mengemudikan mobilnya dengan perasaan tenang –setidaknya lebih rileks dari ketegangan-ketegangan hari lampau. Dia merasakan tubuhnya menjadi lebih ringan karena beban-beban mulai terangkat.

Pemuda tersebut menghentikan laju mobilnya di depan Rumah Tahfidz yang halamannya cukup untuk ukuran mobilnya. Sebelum memutuskan untuk keluar dan menghampiri rumah ayah mertua, dari balik kaca mobilnya, ternyata sang onyx sudah mendapati sosok istrinya sedang berjalan ke arah mobilnya, lalu Sasuke segera membukakan pintu mobil depan –di sampingnya.

Gadis itu masuk dengan sedikit kikuk. Tampaknya mereka canggung karena tak ada yang mulai membuka suara setelah mobil kembali melaju, bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat pagi.

Sasuke memang sedikit mengalami kesulitan saat berinteraksi langsung dengan gadis ini, tapi setidaknya perasaan pemuda tersebut mulai memancarkan aura hangat yang meneduhkan. Dan dia tidak memerlukan supir pribadi lagi, kecuali dalam kondisi tertentu.

Manik kelamnya fokus pada jalanan, sedangkan Sakura hanya diam dan menunduk. Sekitar seperempat jarak lagi, yang mana radius kampus mulai mendekat, akhirnya suara baritone memecahkan keheningan.

"Kaupulang jam berapa?"

"Tiga sore,"

"Aku akan menjemputmu,"

Sakura menolehkan kepalanya untuk melihat sang empu. "Tidak perlu. Kau pasti sedang sibuk, Sasuke-san,"

"Hn,"

Gadis bercadar ini tidak memahami balasan ambigu yang dilontarkan oleh suaminya sehingga dia sukar membalas kalimat seperti apa yang akan dikatakannya. Namun sebelum itu terjadi, ternyata Sasuke sudah menghentikan mobilnya dimana mereka sudah sampai di depan gerbang Universitas Tokyo.

Mereka terdiam beberapa saat. Sakura sadar bahwa inilah saatnya untuk keluar, lantas mengucapkan. "Terima kasih," seraya meraih pintu.

"Sakura,"

Ucapan pemuda raven itu membuat sang gadis menghentikan pergerakannya, lalu menoleh pada sang empu yang ternyata sedang menatapnya.

Mereka saling mengikat pandangan tanpa sepatah kata pun. Hingga keheningan ini pecah tatkala punggung tangan Sasuke menyentuh dahi istrinya. Dia merasa bahwa suhu tubuh Sakura tidak lagi panas, itu menunjukkan bahwa kondisi gadis tersebut memang sudah jauh lebih baik.

Lagi-lagi Sakura harus menahan napasnya dan mengontrol degup jantungnya yang tidak stabil. Setelah dirasa Sasuke selesai dengan pergerakannya dan tak ada lagi yang harus mereka lakukan, gadis ini pamit dan salam –selayaknya seorang istri, kemudian membuka pintu. Dia hampir melupakan salam tadi, beruntung salah tingkahnya bisa dia kuasai dengan baik. Tiba-tiba gadis tersebut mendengar suara baritone menyahut pelan namun jelas di telinganya.

"Jaga dirimu baik-baik,"

.

.

Dalam perjalanan di sepanjang lorong Fakultas Kedokteran, Sakura merenung dengan serius.

'Apa sekarang Sasuke-kun tidak malu lagi berdekatan denganku?' pikirnya –mengingat dulu pemuda itu selalu menjaga jarak darinya saat di kampus.

Mengantarnya sampai di depan gedung Universitas Tokyo adalah hal yang tak terbayangkan olehnya, dan jangan lupakan perkataannya tadi mengenai jemputan! Ternyata dia benar-benar sudah berubah.

Setibanya di kelas, Sakura sudah menduga jika Karin akan meminta penjelasan darinya. Terlebih gadis berkhimar merah itu sudah mengetahui kebenaran yang terjadi. Gadis softpink ini hanya memberitahu hal yang seperlunya tanpa membahas aib masalah yang sedang menerpa rumah tangganya. Dan tampaknya Karin memahami itu, dirinya sadar bahwa perkara tersebut bukanlah urusannya. Dia harus memberi ruang untuk privasi Sakura.

Gadis bercadar ini bersyukur memiliki sahabat yang sangat pengertian, bahkan gadis berkacamata itu senantiasa menyemangatinya dan beberapa kali meminta maaf atas kelancangannya tempo lalu saat perbincangan antara Sasuke-Hinata. Sakura memaklumi itu.

"Kau adalah gadis terkuat yang pernah kutemui," sahut Karin.

.

.

Sasuke datang lebih cepat dari perkiraan. Sekitar tiga menit lagi kelas akan selesai. Pemuda tersebut menunggu seraya bersandar di dinding dekat pintu. Suami muda itu sama sekali tidak keberatan jika harus menunggu Sakura selama sisa hidupnya.

Tampaknya jadwal sudah berakhir karena mahasiswa magister mulai berhamburan keluar kelas. Selama beberapa menit Sasuke tidak menemukan sosok Sakura keluar dari kelasnya, hingga suara percakapan memecahkan atensinya.

Dari balik dinding ini, dia bisa mendengar beberapa suara di dalam kelas. Pemuda raven itu tidak mengubah posisinya yang sedari tadi tengah bersandar.

"Sakura aku senang kau bisa masuk lagi. Beberapa hari ini aku benar-benar kesepian," ucap suara sopran yang tampak tidak asing di pendengaran Sasuke.

Lalu terdengar suara-suara buku dibereskan.

"Kau harus berbaur dengan yang lain agar tidak kesepian, Karin," jawab Sakura.

"Ya, aku melakukannya. Tapi denganmu berbeda,"

Lawan bicaranya terdengar terkikik kecil. "Terima kasih,"

Hening beberapa saat. Hanya suara resleting tas yang mengiringi udara kala itu.

"Kau harus meminjam catatan Karin untuk menyalin materi yang tertinggal," ujar suara berat.

Sasuke menautkan salah satu alisnya ke atas. Rupanya ada seorang laki-laki dan dia mengenali suara itu.

"Aku akan membawakannya untukmu besok,"

"Syukron, Karin,"

"Sakura kau harus menjaga dirimu baik-baik. Calon dokter tidak boleh teledor dengan kesehatannya, ingat?"

Suara berat itu lagi.

Entah mengapa kali ini Sasuke sedikit terusik dan tidak suka dengan hal tersebut. Dia lekas membalikkan tubuh untuk menghadap pintu yang tak jauh darinya. Wajahnya terlihat monoton seakan tak ingin berekspresi. Namun tak bisa menutupi rasa geram yang menyelimuti dirinya.

"Sakura, ayo pulang," terdengar final.

Tiga orang yang ada di ruangan tersebut cukup terkejut dengan kehadiran Sasuke yang tak disangka-sangka. Setelah menguasai keadaan, Sakura segera pamit dan lekas mengikuti langkah suaminya yang cepat.

Dengan beberapa usaha, akhirnya gadis itu berhasil mengimbangi langkah Sasuke. Mereka saling membisu satu sama lain. Pemuda raven tersebut tidak bisa berpikir jernih untuk mengenyahkan bayangan laki-laki tinggi tadi di otaknya. Sangat merepotkan! Membutuhkan waktu sekitar dua menit bagi Sasuke untuk membuka suara.

"Siapa dia?" tanya pemuda raven itu.

Sang lawan bicara sempat terdiam karena bingung, namun pada akhirnya berbicara. "Namanya Karin, dia sahab–"

"Laki-laki itu," potong Sasuke.

Gadis Haruno ini melirik ke arah suaminya sejenak. "Sasori. Dia adalah proffesor di Fakultas Kedokteran,"

Sakura bisa mendengar bahwa pemuda raven itu sedang mendengus. Sasuke merutuki dirinya sendiri yang tak memerhatikan kelas Sakura saat jadwal belum berakhir, mungkin dirinya akan melihat kedudukan laki-laki babyface itu.

Sasori. Ya, pemuda yang dulu menyelamatkan Sakura dari insiden penghinaan di depan Auditorium, pemuda yang kemarin berkunjung ke Manshionnya untuk menjenguk Sakura tapi berakhir dengan ucapan selamat atas pernikahannya, pemuda yang sekarang berbicara tentang kesehatan istrinya. Apa-apaan itu?

Dia tidak mengerti dengan dirinya yang merasa begitu kesal.

Sasuke lekas menguasai dirinya yang dibakar hawa nafsu. Walau sudah memantapkan diri untuk hijrah, namun mengendalikan temperamen ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dan dia harus berusaha mengontrol itu secara perlahan-lahan.

Mungkin dirinya terlalu berlebihan dalam menganalisis situasi dan bersu'udzon pada Sasori?

Pemuda ini menarik napas diam-diam.

'Istighfar,' batinnya.

Tanpa Sasuke ketahui, Sasori bukan tipikal laki-laki licik yang menggoda istri orang lain. Dia cukup waras untuk mengamalkan perintah yang ada dalam tuntunan agamanya. Sudah jelas mengganggu rumah tangga orang lain adalah hal yang dilarang dalam islam. Percakapan tadi tak lebih hanya sebagai bentuk perhatian atau simpati seorang pengajar kepada muridnya, walau sebenarnya Sasori membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk mengendalikan perasaannya yang patah. Tapi sekarang dia sudah ikhlas menerima takdir ini.

Jelaslah sudah bahwa Sasuke sedang dilanda api cemburu, tapi dia tidak bisa menjabarkan perasaan yang tidak menyenangkan itu.

Setelah percakapan tadi, tak ada yang membuka suara lagi. Sasuke sedang fokus pada pikiran dan pergolakan batinnya, sedangkan Sakura beberapa kali memerhatikan sang suami yang tampak kaku dan tak terdefinisi.

Setibanya di mobil, mereka langsung duduk di kursi masing-masing. Lagi-lagi gadis beriris emerald itu menatap suaminya.

"Sasuke-san, ada apa?" akhirnya dia mengutarakan kegusarannya.

Sang lawan bicara mengggerakan onyxnya tanpa menolehkan kepala. "Bukan apa-apa,"

Sakura sedikit kecewa dengan jawaban sang suami yang tidak menjelaskan apa-apa. Suasana kembali hening karena gadis tersebut tidak tahu harus merespon dengan kalimat seperti apa. Namun dirinya memilih untuk tidak berbicara banyak karena tampaknya Sasuke sedang bad mood.

Perjalanan dilalui dengan kesunyian.

Sesampainya di rumah sang mertua, Sasuke lekas mengantarkan Sakura ke kamarnya sebagai bentuk kepedulian dan kehati-hatiannya terhadap gadis tersebut. Tiba-tiba pemuda raven ini mengernyit kala mendapati sosok sang istri yang meraih sebuah koper seraya memasukan beberapa pakaian ke dalamnya.

"Apa yang sedang kaulakukan?" to the point.

Gadis pink itu menoleh pada sumber suara. "Aku sedang berkemas,"

Hening sebentar.

"Aku akan pulang," lanjutnya.

Sasuke bergeming seraya mencerna kalimat tersebut.

"Apa itu artinya..."

Pemuda darkblue itu menggantungkan kalimatnya dengan air muka tak terbaca.

Sang istri tersenyum simpul. "Ya, inilah keputusanku."

Uchiha bungsu tersebut terpaku beberapa detik seolah menahan keterkejutannya. Dia lekas mendekati sang istri dengan perasaan yang tak mudah dijabarkan. Tapi tidak bisa menutupi kesenangan yang menjalar di dasar hatinya, lantas turut membereskan pakaian yang belum dimasukkan ke dalam koper.

Ini bukan mimpi?

Sasuke sukar membayangkan apa yang sebenarnya ada di dalam diri sang istri. Apakah sesosok jiwa yang dibalut dengan hati malaikat? Dia sudah menerima banyak tekanan darinya, dan kini dengan gamblang menerimanya kembali?

Well, bukan berarti Sasuke mengharapkan suatu penolakan, justru pemuda ini sangat bersyukur akan hal tersebut, hanya dirinya tidak bisa membaca isi hati Sakura yang terlampau baik.

"Apa kau sudah mempertimbangkannya dengan matang?"

"In Syaa Allaah sudah,"

Nyatanya Sakura tidak sekadar melamun untuk berpikir dan mempertimbangkan hal tersebut, dia beberapa kali menghadapkan diri untuk melakukan sholat istikhoroh dalam menentukan pilihannya, berharap Allaah akan membantu memberikan jawaban terbaik yang hendak diambilnya. Dan beberapa kali juga bayangan Sasuke senantiasa bersarang dalam pikirannya –termasuk mimpi– hingga membuat gadis tersebut yakin akan kehadiran pemuda darkblue itu. Dia akan memberikan kesempatan pada suaminya.

Kekesalan yang sempat menyergap hati sang suami perihal Sasori tadi tiba-tiba menguap begitu saja, tergantikan oleh perasaan hangat yang mulai mengembus qalbu.

Sasuke menembak intens gadis di sampingnya. "Kenapa kau menerimaku kembali?"

.

.

.

Sang emerald menyelami bola kelam di hadapannya.

Onyx itu tertaut seakan membaur dengan hijaunya sebuah padang rumput.

Suatu ketulusan terpancar dari sorot maniknya yang berkilau.

.

.

.

"Karena Allaah yang menghendakinya, Sasuke-san,"

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Terima kasih ya yang masih setia dengan fic ini, dan juga terima kasih untuk kalian yang selalu meluangkan waktu untuk review. Hontou niArigatou gozaimasu.