.

A fanfiction by quillie

.

I'm Nesia, I'm from Indonesia

Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Warnings : OCFem!Indonesia, Gakuen AU, gak jelas, bahasa santai. Don't like, please don't read.

Here we go!


"Ayolah. Rumahku sedang kebanjiran, nggak ada yang bisa menjemputku. Satu malam saja, ya?" pinta Nesia memohon dengan dua telapak tangannya saling menempel di depan wajahnya.

England terdiam sementara petir menggelegar dari luar. Melihat ekspresi Nesia yang ketakutan mendengar petir, sepertinya ia nggak punya pilihan lain. Ia sendiri nggak bisa mengantar Nesia. Pasalnya mobilnya sedang ada perawatan di bengkel (biasa, orang kaya. Mobil saja bisa seperti tante-tante yang punya jadwal perawatan ke salon).

England menghela napas. "Untuk malam ini saja."

Mata Nesia membesar. "Benarkah? Ah, thank you so much!"

Nesia duduk di sebuah sofa mengikuti England yang sedang menonton berita, tertarik untuk tenggelam di keheningan sebentar saja. Well, sangat sebentar, karena mata Nesia nggak lagi terpaku pada TV. Ia mengamati sekelilingnya hingga ke detil yang nggak penting. Kemudian ia beranjak lagi dan menghampiri sebuah meja yang penuh dengan pigura foto. Singkat kata, Nesia nggak bisa diam.

Di dinding, Nesia bisa melihat sebuah foto England memakai seragam militer Inggris dengan ukuran super besar. Kemudian, Nesia tersenyum ketika melihat foto England kecil yang sedang cemberut dengan seorang laki-laki pirang gondrong yang sedang menertawainya di belakang England. Ada juga foto England yang sudah beranjak dewasa sedang menggendong seorang anak laki-laki di punggungnya. Wajah mereka tampak senang dan damai.

"Eh, tunggu," komentar Nesia tiba-tiba. "Ini America, kan? Aku nggak tahu kalau cowok bertampang bodoh itu imut banget dulunya."

Nesia melihat beberapa foto England dengan America. Entah itu dengan America kecil, atau dengan America yang ia kenal sekarang. Nesia jadi benar-benar curiga kalau England suka sesama jenis.

Nesia mencolek salah satu pigura foto dan debu tebal menempel di jarinya. Kelihatan sekali kalau jarang dibersihkan. Nesia heran, rumah sebesar ini kan, seharusnya punya puluhan orang untuk membersihkan rumah. Tapi, Nesia nggak melihat satu pembantupun disini.

"Tinggal sendirian begini, apa nggak kesepian, eh, Ketos?" tanya Nesia.

"Lumayan. Tapi aku nggak benar-benar sendirian kok," jawab England sekenanya.

Benar juga. England kan, tinggal bersama makhluk gaib. Dia bahkan punya peri yang bisa membantunya membersihkan rumah hanya dengan satu ayunan tongkat. Praktis dan tidak perlu mengeluarkan banyak uang.

"Dan ngomong-ngomong, dulu aku pernah tinggal bersama orang lain. Orang… yang benar-benar orang," kata England melanjutkan.

"Dengan America, maksudmu?" tebak Nesia. "Aku tahu."

"Bukan," jawab England tersenyum misterius. "Sebentar lagi pasti dia datang. Sambil nangis bombay."

Nesia mengerutkan kening, seratus persen nggak mengerti omongan England. Siapa yang akan datang ke rumah England badai-badai begini? Pakai menangis segala lagi. Nesia benar-benar penasaran dan hanya bisa menunggu terjadinya ramalan England.

Ting-tong.

Nesia terkesiap. Suara bel berbunyi. Berarti benar, ada orang yang datang ke rumah England. Tapi, apakah dia-yang-England-ramal itu sedang menangis? Bukan, bukan itu pertanyaan terbesarnya. Tapi, apakah England punya semacam indera keenam?

Suara petir menggelegar. Nesia menutup telinganya saking kerasnya suara petir tersebut.

TING-TONG-TING-TONG-TING-TONG-TING-TONG.

"OPEN THE DOOR, YOU JERK! OPEN THE DOORRRRR!"

Sungguh, suara bel dan teriakan yang amat sangat nggak santai. England mengerling ke Nesia dan segera menghampiri pintu. Nesia yang penasaran setengah mati mengekor England. Suara bel itu semakin cepat.

"Wait," ucap England memutar kunci dan membuka pintunya. Di balik pintu itu, berdirilah seorang anak kecil dengan baju basah kuyup dan mata merah. Nesia sempat mengira tuyulnya lepas dan menjemputnya. Tapi, setelah sadar 'tuyul' itu tampan dan berpakaian lengkap, Nesia tahu dia salah kira.

"YOU JERK! AKU BENCI KAUUU!" bocah laki-laki itu langsung menyeruduk England hingga England jatuh terjungkal ke belakang. Bocah itu memukuli dada England sambil menangis kencang. England, bukannya meringis kesakitan, malah tertawa terpingkal-pingkal. Nesia hanya menonton mereka bingung.

"Stop it, Coward!" seru England di sela-sela tawanya.

Bocah itu berhenti memukuli England. "I-I'm not scared of anything! Aku… Aku cuma nggak suka suaranya."

"Alasan," cibir England. "Minggir! Barusan ganti baju, sekarang basah lagi."

Sang bocah bangkit berdiri dan melihat Nesia yang bengong disana. "Siapa ini? Pacar barumu? Wah, wah, cepat banget. Baru berapa hari putus sekarang dapat gantinya."

Mendengar komentar bocah itu, England menjitak kepala bocah itu keras-keras. Nesia sampai ikut mengaduh. "Shut up! Sampai kau ngomong aneh-aneh lagi, kutendang kau ke luar rumahku! Siapa yang peduli kalau kau disambar petir?"

"Huwaaaa! Jangan!" ucap bocah itu memohon.

England cepat-cepat menghindar. "Nggak usah pegang-pegang! Ganti baju sana!"

.

"Jadi, aku Sealand, personifikasi Principality of Sealand. Siapa namamu, Kakak Cantik?" tanya Sealand sambil menyesap secangkir coklat panas. Tadi Sealand memaksa England membuatkan secangkir untuknya. Rasanya? Entahlah, mungkin Sealand sudah kebal dengan masakan England.

"Indonesia. Kau boleh memanggilku Nesia," jawab Nesia tersenyum. "Anak ini imut banget. Alisnya sama tebalnya dengan England, sih—menyebalkan. Tapi dia imut."

"Oh, Kak Nesia personifikasi Indonesia toh. Pantesan mukanya beda dengan cewek yang biasanya aku lihat," ucap Sealand.

"Itu bagus atau buruk?" tanya Nesia.

"Bagus! Kak Nesia cantik," puji Sealand dengan pipi memerah. Nesia tertawa melihat Sealand salah tingkah. "Ya, kan, Jerk?"

"No comment," jawab England singkat. Tim sepak bola negaranya sedang bertanding, rupanya.

"Kuanggap itu sebagai 'ya'," sahut Sealand.

Nesia mengalihkan pembicaraan. "Kau adiknya Ket—maksudku, England?"

"Aku benci fakta itu, tapi, ya, aku adiknya," jawab Sealand memutar matanya, membuatnya makin terlihat imut di mata Nesia. Ternyata, di dunia ini yang kakak-beradik tapi sering berantem bukan hanya dirinya dan Lay. England dan Sealand sudah sangat mencukupi syarat untuk diklasifikasikan sebagai golongan itu.

Sealand menegak habis coklat panasnya dan menaruh cangkir itu di meja. Ia menguap lebar hingga matanya berair. "Uh… ngantuk. Hey, Jerk, hari ini aku tidur di kamar tamu, ya?"

England hanya mengangguk. "Cangkirnya taruh belakang, Peter."

"Oke," jawab Sealand mengambil cangkirnya dan berjalan ke dapur. "Oh ya, selamat malam, Kak Nesia."

Nesia nyengir. "Selamat malam, Sea. Mimpi indah."

Sealand balas tersenyum dan meneruskan niatnya. Kini tinggal England dan Indonesia di depan TV, yang masih meliput pertandingan sepak bola. Sudah 2-1 dan England sejak tadi hanya diam, bukannya bersorak gila seperti penggila bola lainnya jika tim andalannya mencetak gol.

"Um… Jadi, kau cemburu dengan siapa? America atau senior cewek berkuncir dua itu?" tanya Nesia tiba-tiba.

England mengerutkan kening dan mengalihkan pandangannya. "Apa maksudmu?"

Nesia nyengir. "Jangan pura-pura nggak mengerti, deh! Yang di perputakaan, kau ingat?"

"Oh," tiba-tiba aura England yang memang sejak tadi suram, jadi tambah suram. "Kau benar-benar berpikir aku suka sesama jenis, begitu? Junior kurang ajar."

"Ya maaf," ucap Nesia sambil melepas handuk yang sejak tadi membungkus rambut hitamnya. "Jadi, kau pacar senior berkuncir dua itu?"

"Dulu iya," jawab England singkat.

Ya, yang dilihat Nesia di perpustakaan tempo hari adalah America yang sedang dicium senior cewek itu. Nesia yakin bukan America yang menciumnya, tapi cewek itu yang kegenitan. Kalau cewek itu yang dipojokkan ke rak buku, mungkin akan lain ceritanya. Tapi yang kemarin itu America yang terpojok. Sejauh yang Nesia tahu, America itu orangnya polos dan agak—maaf—konyol. Lihat saja kelakuannya yang kekanakan itu—berteriak-teriak nggak jelas di lapangan maupun di kelas. Walaupun jujur saja, America punya tampang cakep.

Nesia meletakkan dagunya ke lengan sofa sambil memandangi England. Rasanya ia tahu perasaan England. Dikhianati pacar dan mengetahui sahabat kecilnya lah yang menjadi orang ketiga pasti lebih dari menyakitkan. Nesia mencoba mengucapkan sebuah ungkapan dengan aksen British, tapi yang keluar malah kedengaran seperti logat orang Betawi. Epic fail, aye?

"Even an angel has the wreck side. I know you know that phrase."

England menoleh terkejut. Nesia nyengir. "Sudahlah. Nggak usah sedih. Aku jadi teringat rakyatku kalau melihatmu begitu. Aku paling nggak enak melihat orang lain sedih. Aku bisa melakukan tarian paling konyol untuk membuat rakyatku tertawa, paling nggak untuk sedikit menghilangkan stress mereka. Kau mau aku mempraktekkannya? Akan kutunjukkan tarian 'Meraih Lalat Sampai Encok' padamu. Biasanya aku melakukannya bareng pocong. Pocong jago menari lho. Dia pernah menari untuk menyemangati mbak-mbak yang sedang melahirkan di pos satpam. [1]"

"Bodoh," kata England menahan tawanya untuk sesaat, tapi akhirnya tertawa juga.

"Hei, aku serius," ucap Nesia mengerutkan keningnya.

"Justru gara-gara muka seriusmu itu, kau kelihatan bodoh," ujar England. Heh, paradoks macam apa itu?

"Ya, ya, terserahlah," sahut Nesia cuek. "Pertandingannya sudah selesai, tuh. Mau nonton apa lagi?"

"Marathon nonton Harry Potter?" usul England.

Nesia kembali duduk tegak. "Boleh! Kita begadang sampai pagi!"

Dan esoknya, England terbangun dari tidur singkatnya dengan sebuah kertas bertuliskan "Thanks" dan ":P" besar menempel di dahinya. Ia melirik jam dinding dan melotot. "INDONESIA! YOU BLODDY LITTLE JERK!—uhuk uhuk."

.

Nesia melihat sesosok mungil berambut pirang sedang berjalan dengan seorang pemuda berambut antara perak dan pirang. Nesia belum pernah melihat warna rambut seaneh itu, tapi ia mengenali sang gadis pirang di sebelahnya. "Oi! Lily!"

Lily menoleh ke arah Nesia dan tersenyum saat Nesia berlari menghampirinya. Nesia melirik sekilas laki-laki yang sedang bersama dengan Lily. "Apa aku mengganggu?"

"Nggak kok, urusanku sudah selesai," jawab laki-laki itu. "Sudah mengerti, kan, Ly?"

"Ya. Terima kasih banyak, Ice," sahut Lily malu-malu. Dasarnya juga dia pemalu, sih.

Ice hanya mengangguk, menunjukkan senyum samarnya dan berjalan pergi. Nesia langsung berjalan di sebelah Lily. Sebenarnya, ia ingin tahu apa yang Lily tanyakan pada pemuda yang nama dan wataknya sama itu. Tapi karena mengorek informasi tentang hal yang personal itu digolongkan sebagai tindakan-nggak-sopan-tapi-seru-jika-memungkinkan, Nesia lebih memilih untuk tutup mulut saja.

"Hari ini kau berantakan sekali. Kau juga hampir terlambat. Ada apa?" tanya Lily mengalihkan topik pembicaraan. Nesia melihat seragam sekolahnya yang kusut.

"Bukankah aku selalu berantakan? Kau kedengaran heran banget," tanya Nesia retoris. "Aku belum sempat menyetrika bajuku hari ini. Habisnya, takut telat."

Memang benar, ia sama sekali nggak sempat menyetrika bajunya. Selain ia sendiri takut terlambat ke sekolah, ia nggak tahu dimana setrikanya. Hal terakhir yang bisa dilakukannya adalah mengeringkan seragamnya yang basah karena hujan kemarin dengan hairdryer. Bahkan Sealand sendiri sedang enak-enaknya mandi busa sementara Nesia kelabakan mengeringkan seragam. Kabar England?

Nesia menyeringai kecil.

Lily tertawa kecil, membuyarkan lamunan Nesia. "Ada-ada saja."

"Eh? Itu apa?" tanya Nesia melihat tas jinjing Lily yang kelihatan penuh. "Makanan ya?"

"Bukan. Ini bahan untuk tata boga nanti. Hari ini kan, hari pertama ekskul," jawab Lily kemudian memeluk tasnya yang terlihat berat itu.

"Ah, benar juga. Aku nggak sabar ekskul nanti," jawab Nesia.

.

England berjalan sedikit terseok-seok menyusuri koridor. Sejak tadi pagi, kepalanya serasa akan meledak. Ia memijit-mijit kepalanya, berharap rasa pening di kepalanya berkurang. Hari ini benar-benar bukan hari yang bagus. Flunya makin lama makin parah, moodnya makin hari juga makin hancur. Mungkin setelah ini ia akan beristirahat di klinik sekolah.

Setelah melihat ada ribut-ribut apa disana.

Segerombolan siswa dan siswi Hetalia High mengerumuni papan mading sekolah sambil tertawa-tawa. Heran, England mendekati papan mading. Lucunya, mereka langsung membukakan jalan untuk England sambil terkikik-kikik nggak jelas. Mereka saling berbisik sambil sesekali melirik England. England mengerutkan kening ke sekilas teman-temannya itu dan menatap mading tersebut.

"HOLY CRICKET, WHO THE HELL PUT THESE PHOTOS UP?" teriak England, menarik kasar semua foto blackmail dirinya sedang berjongkok mencabuti rumput dengan Switzerland yang sedang melotot ke arahnya. Mading sekolah hampir dipenuhi oleh foto dirinya sedang dikenai detensi dengan sebuah judul yang mencolok. "The British Gentleman Get Punished".

Semua yang ada disana terdiam. Saling toleh-menoleh dengan pandangan bertanya, tapi nggak ada yang mau mengaku. England menggeram kesal dan menyobek seluruh foto itu dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Untuk informasi, England benci harga dirinya dijatuhkan seperti ini. Dendam sih, dendam. Tapi, yang ini keterlaluan. Masih ada juga yang berani menguji kesabarannya yang Ketua OSIS ini. Untuk sejenak, koridor itu sunyi. Mereka memandangi England yang sedang naik pitam dengan tatapan horor.

"Apa? Memangnya—uhuk, kenapa kalau aku terlambat datang ke sekolah?" seru England. "Bubar sana!"

Tanpa ba-bi-bu, mereka semua langsung membubarkan diri, meninggalkan England sendirian disana. England yang masih emosi mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mengutuki seseorang. Dia yang membuatnya mendapat semua malu ini. Gara-gara bocah itu, England membuat sebuah rekor baru yang tentunya bukan kabar baik. Ketua OSIS dari jamannya Pak Roma sampai hari ini, baru dia yang terlambat ke sekolah, walaupun hanya beberapa menit. Kalau seandainya ia berani menunjukkan batang hidungnya di hadapannya sekarang, mungkin dia sudah habis saat ini juga. Walaupun dia nggak mungkin mati hanya karena ditonjok.

Sedang asyik-asyiknya memikirkan rencana untuk memberi bocah itu pelajaran, seorang siswi berambut hitam legam tiba-tiba lewat dan menyapa England. "Hai, Ketos! Flumu tambah parah? Mukamu merah."

Oh, wrong timing, Indonesia. Wrong timing.

England mendorong Nesia ke dinding dengan satu gerakan cepat. Ia menekan leher Nesia dengan lengannya, membuat Nesia susah bernapas. Nesia bahkan bisa merasakan demam England sampai ke lehernya.

"A-Apa—ukh, yang kau lakukan? Aku nggak bisa napas!" pekik Nesia berusaha memberontak. Tapi semakin dia banyak bergerak, semakin kuat cekikan England. Jadi, ia berhenti meronta dan menatap England antara marah dan bingung.

England menurunkan maskernya. "Apa kau balas dendam, eh, Indonesia? Kau dendam karena waktu itu aku menghukummu habis-habisan saat hari pertama tahun ajaran? Dasar nggak tahu terima kasih! Sudah diberi tumpangan, tapi ini balasanmu? Cih!"

Nesia melotot. "Aku nggak mengerti apa yang kau bicarakan! Cepat lepaskan aku!"

"Katakan," ucap England pelan tapi terdengar begitu mengancam. "Katakan kenapa kau nggak membangunkanku tadi pagi? Supaya aku terlambat? Supaya aku kena detensi? Kemudian kau—atau suruhanmu mem-blackmail fotoku waktu mencabuti rumput, begitu? Kau bermaksud mempermalukanku sebagai Ketua OSIS disini, kan? Begitu kan, maumu?"

"Kau ini ngomong apa, sih? Aku—ukh! Nggak mengerti!" balas Nesia. "Dendam apa? Foto apa? Aku sudah menyuruh Sealand untuk membangunkanmu!"

"Bohong! Kau bahkan masih sempat menulis memo bodoh itu di jidatku!" sahut England. "Dasar wanita licik! Pantas saja tingkat korupsi di negaramu tinggi! Rakyatmu miskin pasti karena pejabat negaramu—yang sama liciknya seperti kau, menguras pendapatan negara, ya, kan? Dan—"

"Tutup mulutmu, Brengsek! Kau boleh mengataiku, tapi bukan rakyatku! Bukan negaraku! Kalau seandainya kau nggak sedang sakit, aku bisa membuatmu babak belur saat ini juga, Alis Ulat Bulu!" sela Nesia marah pada England dan alis. "Sekarang aku tanya. Dari mana kau tahu itu tulisan tanganku? Kau pernah membaca catatanku? Oh, demi Tuhan, Alis Enam Pasang, aku terburu-buru! Sealand masih asyik mandi busa, jadi kusuruh dia membangunkanmu! Kalau menuduh itu pakai akal sehat! Otakmu jadi dangkal ya, gara-gara flu? Atau gara-gara mbak-mbak yang selingkuh itu? Dan ya Tuhan, aku bahkan sudah lupa soal detensi itu!"

Perlahan cekikan England melonggar. Tapi Nesia tetap di tempatnya. "Bagaimana kalau ternyata Sealand yang iseng? Bagaimana kalau dialah yang membuatmu terlambat ke sekolah? Kau mau menghajar anak kecil itu? Seperti kau mencekikku seperti ini? Pecundang! Beraninya lawan cewek! Aku sih, fine-fine aja menghajarmu kalau kau memang memaksa! Setelah ini, kau masih mau menyebut dirimu gentleman? Ha-ha-ha! Dunia pasti tertawa mendengarnya."

Pandangan England mulai melunak. Nesia mendorong England dengan kasar hingga sang Ketua OSIS itu mundur beberapa langkah ke belakang. "Jaga mulutmu. Dan... terima kasih atas tumpanganmu semalam. Aku kapok."

Nesia berjalan pergi sambil membersihkan belakang lengannya yang terkena debu di dinding.

"Nesia! Hey, tunggu! Indonesia!" teriak England hendak mengejar Nesia. Tapi seseorang menahan tangannya untuk tetap tinggal. England menoleh.

"Dia tidur di rumahmu semalam?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi, menekankan kata 'rumahmu'.

England mendesis, "Shit."

Definitely, hari ini bukan hari yang baik bagi England.

To be Continued


[1] Pernah baca Poconggg Juga Pocong? Saya baru (numpang) baca beberapa bab sih. Tapi disitu si Poconggg emang nari buat mbak-mbak melahirkan. Sekedar kredit aja, sih.

Author's Note: Pertama, thanks for all the reviews dan bikin saya makin semangat garapnya. :) #bungkukbadan

Konfliknya mulai muncul nih. Salah paham yang digede-gedein XD Bang England yang sabar yah #tepukkepala #ditonjok Yah, siapa sih yang suka harga dirinya dijatohin? Ketos (apalagi England) kan harga dirinya selangit XD. Dan kenapa saya suka banget bikin sial hari orang ya? -_-a Oh ya, untuk sarannya chiko-silver lady tentang human names, makasih banyak! Nggak kepikiran sebelumnya :)

Oke stop, daripada tambah gaje. Ada kritik? Saran? Review? Thanks!