=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Entweihen Crothen's Basilisk

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Mirror Knights

Story © Necro Antharez / Nekuro Yamikawa

Vocaloid © YAMAHA, Crypton Future Media & another joined companies

Ragnarok Online Universe © GRAVITY / Lee Myung Jin

Genre : Fantasy / (Undetermined yet)

Rate : T

.

.

.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

"Apapun yang terjadi, jangan tanggalkan liontin yang anda kenakan."

Kelopak mata yang berat itu mengernyit, menatap tingginya langit-langit kamar di mana bohlam lampu masih bersinar terang. Dia peluk lebih erat lagi guling berbentuk tunas daun bawang ke dalam rengkuhannya, merengut kesal dan menggeram. Lima menit lalu segelas susu telah berpindah ke lambungnya ─sesuai saran dari Luka Megurine melalui balasan pesan singkat yang dia kirim beberapa saat sebelumnya. Tapi lihatlah sendiri, manik turquoise itu masih berupa setengah bulatan putih sementara bibir kecil berubah bentuk menyerupai bangun segitiga sama sisi.

Apakah ini yang disebut insomnia? Kau diserbu oleh kantuk tetapi pelupuk matamu bersi keras menolak untuk mengatup.

Dia mencoba menghitung domba di alam khayalnya. Berguling ke kanan sudah, ke kiri apalagi. Berguling-guling hingga membentur dinding pun ─memang konyol, namun kejadian naas itu memang baru saja dia alami─ sama sekali tak bisa membuatnya melompat ke dimensi abstrak bernama mimpi. Alih-alih, justru ubun-ubun menjadi sakit dan perih.

Senyuman lelaki berambut biru ketika mengecup punggung telapak tangan kanannya pagi tadi masih mengapung-ngapung di benak gadis itu. Hal itulah penyebab utama gejala susah tidur yang dia rasa, meski dia enggan mengakui seumpama ada seseorang yang mampu menebak hal tersebut tepat dititik mati.

"Argh! Apa yang kau tertawakan! Dasar laki-laki aneh menyebalkan!" mengeratkan geraham, bangkit dari ranjang dan mengepalkan tangan, tuan putri pun akhirnya berteriak karena kehilangan kesabaran ─yang saat itu juga disambut 'teguran' dari kamar sebelah. Catatan, 'teguran' tersebut datang melalui pintu kamar yang dibuka paksa. Di mana suara berisik dari decitan engsel pintu, serta benturan antara knob dan dinding kamar sontak membuat si pemilik ruangan berjengit kaget membalik badan.

"Berisik sekali, ini sudah pukul berapa, Nee chan?!" seorang gadis berumur empat tahun lebih muda dari Miku menampakkan diri sementara lorong gelap menjadi latar di belakang punggungnya. Kantung mata yang mana dia dapati sedang bertengger di wajah sewarna vanila tersebut, memberi gadis kecil itu kesan sesosok vampir lolita dalam balutan piyama yang sedang menggerutu kesal karena ulahnya.

"Nana chan?" gadis yang dia panggil Nana memanyunkan bibir, melipat kedua tangan dan mengetuk-ngetuk lantai dengan telapak kaki berlapis sepasang sandal berbulu berbentuk kelinci. Untuk sejenak, suasana malam hari di kediaman Kojima kembali sunyi. Hanya ada sepasang kakak dan adik yang saling mengadu masing-masing wajah bertolakan ekspresi.

Tanpa sedikitpun mengubah pose angkuh yang ditunjukkan di depan anak perempuan berusia jauh lebih tua darinya, gadis kecil itu menaikkan sebelah alis seraya mengasah tatapannya. Mempertegas bahwa eksistensinya adalah superioritas dalam situasi di antara mereka berdua. Perlahan dan pasti, Miku, sebagai pelaku utama pengusik tidur gadis kecil di hadapannya, bisa merasakan aura kebencian mengambang memenuhi ruang kosong di sekitarnya.

"Go-gomen..." setelah bersusah payah meneguk ludah, hanya potongan kata itu saja yang bisa dia keluarkan dari celah bibir berwarna merah muda. Embun-embun keringat satu per satu merayapi kening sebagai pertanda betapa tersudutnya gadis remaja itu di depan sorotan tajam yang dihujamkan padanya. Tubuh yang termasuk kecil bagi ukuran anak sepantarannya mulai tampak gemetaran, namun meski begitu, tidak sedikitpun sang adik menunjukkan niat untuk memberi secuil pengampunan.

"Gomen?" gadis itu membeo, menyipitkan mata dan melebarkan yang lain seperti pengidap psycho. Garis kurva di bibirnya perlahan berbalik arah. Dari yang mulanya tampak seperti gundukan, kini berupa lengkung panjang dari telinga ke telinga. Bayang-bayang gelap anak rambut perlahan-lahan juga turut merayap turun seperti tirai panggung drama ketika wajahnya merunduk.

"Gomen, huh?" ulangnya sekali lagi. Tawa terkikik menguar dari balik senyuman aneh yang dia ukir sedemikian rupa. Lupakan fakta jikalau dia baru saja menginjak fase remaja, Miku sendiri tak lagi bisa mengenali siapa yang kini menggunakan raga adik perempuannya tatkala mata melotot tiba-tiba menyembul dari area gradasi gelap di wajahnya, diikuti seringai bak anjing pemburu yang tak sabar mengoyak target buruan yang terpojok tak berdaya.

"Khu khu khu, ternyata Aneki ku yang manis ini mulai memikirkan seorang bocah laki-laki di dalam kepalanya."

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Entah harus berapa banyak hitungan detik yang perlu diketik. Perubahan suasana yang terlalu drastis tanpa efek dramatis membuat si gadis bersurai turquoise melongo menatap wajah si adik. Keangkeran yang sebelumnya mencengkeram sekujur badan seketika lenyap begitu mendengar kalimat ─yang bagaimana pun caranya dinalar─ sangatlah sukar untuk ditarik benang merah antara visualisasi realita dan pemahaman berlogika.

Secara otomatis pula, si tuan putri tersebut kini tampak bertopengkan bulatan putih selebar corak hitam mata panda, sedangkan rahang dan bibir serasa hampir copot seolah hanya hasil rakitan dari mainan lego berharga murah.

"A-apa maksud-" ucapannya tercekat dalam hati sebelum sempat dia sampaikan lewat lisan. Tawa histeria Nana lah menjadi penyebab utama. Ya, Miku tak pernah bisa memenangkan apa pun di hadapan adik satu-satunya yang terkadang dia pikir memiliki sifat sedikit yandere jika hanya ada dia saja di dekatnya.

"Jadi, dua tahun mendatang, Nana sudah bisa melihat acara pertunangan nee chan?" rentet gadis kecil itu seraya mengikis jarak. Tanpa peduli seperti apa keabstrakan wajah Hatsune Miku saat ini akibat efek kalimat yang dia ucapkan memberikan pukulan mental cukup keras bagi gadis yang dia sebut sebagai aneki.

"Eh?!"

"Lalu, kurang dari lima tahun lagi, Nana bisa menjadi pengiring?" Pukulan telak beruntun sebelum gadis itu sempat bereaksi. Sukses membuat warna darah yang sempat berlari turun sehingga kulit tampak memucat putih, sekarang dipompa paksa naik menuju tempurung kepala demi memenuhi asumsi lebih untuk menjernihkan imajinasi ladang hijau berhias aneka warna bunga-bunga bersemi .

"AP-?!" Tentu saja. Miku berjuang keras untuk melawan sifat naluriah yang sekarang lepas dari tali ikatannya. Dia menggeleng kuat. Menyibak helaian sewarna zamrud tua seraya mengernyit memejam mata. Pastinya, semua itu percuma saja jika dia tidak membungkam bibir Nana yang termabuk delusi dan sekarang berkata,

"Kemudian setelah itu, Nana menjadi bibi?!"

"Boom!"

Sirkuit pemutus daya gadis itu tak mampu menjalankan tugasnya. Aliran energi yang berlebih mengalir deras mengisi alam khayal tanpa bisa terbendung lagi meski dia meronta. Jika dia terlahir sebagai sebuah mesin, bisa jadi dia telah mengalami malfungsi, semua sistem perlahan akan terbakar habis dan mati. Namun karena dia adalah manusia dengan hati, justru efek genjutsu setara pengguna mata merah berapi dari sebuah manga bertema ninja lah yang sekarang membuat napas dan detak jantung menari melawan keinginannya.

Seolah ada jemari telunjuk tak kasat mata masuk menembus ketebalan lapisan kitin dan mengaduk ─memain-mainkan impuls syaraf otaknya. Rasa pusing pun perlahan merayap seiring sistim respirasi dan denyut nadi yang terbawa oleh dampaknya. Membuat sekujur tubuh melemah, sekaligus melayangkannya entah kemana.

Dan hal terakhir, sekaligus tak pernah Nana kira sebagai konsekuensi perbuatannya adalah, pertumpahan darah semirip adegan harakiri dalam serial Yakuza. Yaitu di mana cairan beraroma karat tersebut menyembur mengenai wajahnya yang sempat bengong dan berhadapan cukup dekat ketika mengamati sikap tak biasa yang ditunjukkan sang aneki.

Ya. Gadis itu sekarang tumbang dalam posisi telentang di atas ranjangnya sendiri dengan pola lingkaran spiral berputar-putar di kedua kelereng mata. Sedangkan Nana, dia berteriak panik seraya berusaha membangunkan Miku yang dia kira tewas akibat kelebihan dosis euforia. Di mana kedua lubang hidung masih tampak segar mengucurkan darah.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

:-x-0-x-:

Merengut kesal. Mengembungkan pipi. Melahap telur dadar di piring tanpa menoleh kanan atau kiri. Maka, cobalah tujukan sebuah kalimat tanya, "Apa kau tidak apa-apa?" pada gadis berkuncir dua dalam balutan blazer berwarna merah cerah yang duduk diapit kedua gadis lain yang masih memiliki garis keluarga dengannya

Bisa jadi, jawaban dan sikapnya akan berbeda tergantung siapa orang yang mengucapkannya. Jika itu Kojima Gumi atau Sonika, sepupu dari pihak ibu beserta bibinya, mungkin dia akan mengubah raut wajah semanis dia bisa. Namun, jika itu adalah Nana, maka bonus sebuah urat bersilangan dan kedutan bibir yang ditahan lah yang dia tampakkan. Menoleh tanpa dosa dan seolah tak tahu menahu kenapa sepasang tisyu menyumpal hidung anak perempuan berusia empat tahun lebih tua di sampingnya, efek pembiasan cahaya yang turun dari jendela pun membentuk tujuh warna pelangi menghiasi senyum yang terkembang di bibirnya.

"Tidak." jawab Miku setelah menelan apa yang dia kunyah. "Nee chan hanya bermimpi kejatuhan galaksi bima sakti." sambungnya asal ceplos begitu saja.

x-0-x

Here, Mirror might be become your own affection

x-0-x

"Apakah benar begitu?" timpal Gumi, gadis lain di meja itu, sebelum meninggalkan bekas gigitan yang ke tiga di roti lapis di genggaman tangannya. Sebelah Mata berkedip, melirik usil. Mengisyaratkan bahwa kegaduhan semalam tidaklah luput dari telinga si kelinci ─julukan yang dia peroleh sebagai penggemar sayur wortel. Kerutan di wajah Miku pun kini berganti wajah memelas ketika menatap balik anak perempuan yang bersekolah di tempat berbeda darinya. Namun, dia menolak dengan segera berpura-pura menikmati roti tawar beroles mertega seolah di dalamnya berisi selai tujuh rasa buah.

"Lain kali bawa pulang yah orangnya. Aku penasaran." imbuhnya. Dan segera dibalas oleh pukulan pelan di pundak dari pelaku yang semalam sempat menderita anemia hebat akibat ulah makhluk berambut hijau lainnya di rumah ini.

"Apa'an sih." bibir itu mengerucut tak suka, sepasang tisyu yang dipilin di atasnya ikut bergerak-gerak seperti kumis ikan lele karenanya. Sukses membuat Nana tertawa lepas sambil menuding-nuding, diikuti dua pasang mata lain yang turut tersenyum menahan gemelitik geli karena si dua bersaudara.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

:-x-0-x-:

Menyebalkan. Gadis itu mendengus menyandarkan kepala di telapak tangan kiri yang sebelumnya menopang dagu. Pensil mekanik di tangan kanan berketuk-ketuk di meja, sorot mata menatap malas daun pintu yang terbuka setengah. Biasanya, dia sudah disambut oleh sepasang telinga kelinci imitasi berayun di hadapannya. Saling bergurau atau sekedar menanggapi obrolan dengan jawaban asal-asalan, tergantung atmosfir yang melingkupi suasana hatinya. Namun sekarang, sampai jam menunjukkan waktu masuk tinggal lima menit sekali pun, gadis bertubuh mungil itu tak nampak juga kelebatannya dari balik kaca jendela yang memisahkan ruang kelas dari koridor lantai dua.

Apa dia kapok setelah menguras kesabarannya kemarin? Negatif. Gadis itu memiliki mental seperti si kera ajaib dari gunung HuaKuo yang pernah dikurung di bawah gunung lima jari oleh sang budha akibat mengusik ketenangan khayangan. Ataukah, dia bangun kesiangan? Bisa jadi. Itu pun jika Len tidak enak badan. Ya, gadis itu sering menggerutu karena saudara kembarnya selalu menyetel lagu-lagu aneh seperti reverse, ciptaan musisi gila Karl Mayer, jika menggebrak pintu saja tidak cukup untuk membangunkan primata yang berhibernasi setelah melewati hawa dingin malam seorang diri.

Padahal, menurut desas desus dan beberapa pendapat ilmiah di dunia maya yang diperolehnya, lagu tersebut memiliki daya hipnotis yang membuat para pendengar mengalami halusinasi dan paranoia. Jika memang demikian faktanya, tidak mengherankan Kagamine Rin memiliki sifat melebihi batasan skala "ceria" dibanding orang-orang pada umumnya. Otak gadis itu pasti sudah rusak parah.

Mungkinkah jika sekarang gadis itu tengah berlari berkeliling kota akibat dikejar kucing besar tanpa seorang pun melirik seperti apa yang kemarin dia alami? Untuk pilihan satu ini, gadis bernuansa hijau aqua itu tidak bisa bersikap tenang atau menyungging senyuman canda. Apakah kejadian itu memang bukan sekedar halusinasi? Apakah mungkin orang-orang yang dia kenal akan mengalaminya juga, cepat atau lambat?

Waktu itu, pria asing dalam balutan ksatria fantasi datang dan membatalkan nasib buruk yang datang menghampirinya. Terlepas dia percaya atau tidak, kelima panca indera membuktikan apa yang tersimpan di benaknya adalah nyata, bukan rekayasa. Bau amis darah makhluk itu, dunia antah berantah yang tiba-tiba muncul menghapus realita ─menjebak dirinya di dalamnya meski sementara─, wizard knight yang menolong sekaligus mengantarnya hingga luput dari ancaman terkunci di luar gerbang sekolah.

Lalu, bagaimana dengan mereka? Dia datang karena bersikeras bahwa dirinya adalah tuan putri yang harus dia jaga, sang pemilik Mirror Key berbentuk kalung berbandul kristal hitam berbingkai perak. Namun mereka? Apakah pemilik Mirror Key hanya dia seorang saja di kota ini? Apakah benda misterius itu hanya ada satu saja di sini?

Suara derap kaki teratur yang merambati gendang telinga, segera menarik benak gadis itu ─yang tidak dia sadari telah berkelana keluar dari realita─ sekaligus menyesuaikan titik fokus retina Miku di saat yang sama. Dari kaca jendela paling sudut di ruang kelasnya, dia pun akhirnya bisa melihat ujung sepasang pita berayun-ayun, bergerak menuju pintu yang terbuka. Dan begitu gadis yang dia nanti menampakkan diri di hadapannya,

"!" Samar. Begitu samar. Tetapi gadis berkuncir ini begitu yakin bahwa ada hal ganjil di diri Kagamine Rin hari ini.

Yang paling mencolok adalah senyum. Sahabat karibnya itu selalu menebar senyum kepada siapa pun. Beragam senyum bisa kau dapatkan darinya, mulai dari yang gratis hingga berlabel harga. Lalu sekarang, kemanakah perginya senyum-senyum konyol yang selalu bertengger di bibirnya? Dan... tunggu. Dia tampak sedikit lebih pucat meski gerak-gerik tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan kalau pemiliknya butuh istirahat atau semacamnya. Bahkan, dia juga merasa bahwa hawa kehidupan gadis itu lenyap.

Dia ada di sana. Berdiri. Berjalan menuju tempat duduknya. Menyiapkan buku-buku dan keperluan lain untuk menyambut jam pelajaran pertama seperti murid-murid lainnya.

Tapi di mata sang putri, gadis itu seolah orang lain yang tidak seharusnya ada di sekitarnya. Tidak seharusnya ada di dunia ini. Apakah yang dia khawatirkan beberapa menit lalu, sekarang telah nyata terjadi?

.

.

.


A/N : Maaf atas ke-super-lambat-nya proses update cerita ini. Otak author dalam kondisi rusak parah dan -mungkin- sukar diperbaiki. Cerita ini pun berhasil disambung kembali hanya karena adanya draft yang tertinggal di dalam akun web ini. Oh ya, marga Kojima author ambil dari salah satu fic dari author lain dengan penname ReiyKa. Maaf kalau asal comot ya, n_na.

Dan...

Bagi siapapun yang telah membaca fic terlantar ini, Author sampaikan terima kasih.

m(_ _)m