Warning! Typo, OOC terutama Neji dan sederet kesalahan fatal lainnya.

Naruto hanya punya Masashi Kishimoto-sensei
!

"Hinata, kenapa nasibmu begitu malang. Teganya Sasuke mencampakkanmu, jujur aku menyesal kenapa waktu di Senior High School aku begitu menyukainya sampai-sampai membuat fans club untuknya. Hahaha sungguh bodoh ternyata pangeran sekolah yang begitu di dambakan tak lebih dari seorang bajingan! Aku teringat ketika dia dan kau mengakui hubungan kalian setelah upacara kelulusan selesai, sungguh membuat aku dan para fansnya cemburu setengah mati. Meski saat itu sudah ada Sai di sampingku, ya Sai... ahh Hinata! Aku tau keadaanmu lebih parah di bandingku, ta...tapi aa...aku juga tak kuat dengan semua ini Hinata..." Ino tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tangisnya pecah. Tak peduli sudah larut malam, gadis yang biasanya selalu ceria kini hanya bisa tertunduk dan menangis sejadi-jadinya, sprei putih ranjang rumah sakit yang tengah ditiduri sahabatnya menjadi basah karena air matanya.

Setelah puas menangis kelopak indahnya pun tertutup membawanya ke alam mimpi. Tanpa disadari siapapun, tampak bayangan seseorang dari arah jendela ruang 27 itu. Bayangan itu hanya terdiam menatap penghuni ruang 27, tak ada pergerakan sedikitpun hanya saja kedua matanya terus menatap ke arah Hinata dan Ino seolah-olah ingin menerkam mereka.

Sudah empat puluh lima menit berlalu tetapi nampaknya hal itu tak membuatnya bosan menatap kedua wanita tersebut, meski tak terlalu jelas karena keadaan ruangan yang bisa dibilang cukup gelap. Merasa puas dengan hal itu — bayangan yang ternyata adalah seorang pemuda tampan hanya menghela nafas lalu meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

"Kau tidak tidur Temari?" tanyanya heran mendapati sahabatnya duduk di salah satu sofa di ruang tamu.

"Aku tak mengantuk, kau sendiri kenapa tidak tidur Sakura?" Sakura hanya menghela nafas, "aku hanya tak mengantuk." lanjutnya.

"Sudahlah jangan berbohong, matamu menunjukkan kau sangat mengantuk Saku-chan? Apa kau ingin aku temani?" candanya, Sakura hanya tersenyum menanggapinya.

Memang benar yang dikatakan sahabatnya yang entah mengapa dari masa sekolah hingga menikah sangat menyukai style rambut kuncir empat, dia memang sangat mengantuk tetapi kegalauan hatinya membuat wanita berambut soft pink ini tetap terjaga.

"Sungguh aneh ya nasib kita?" Temari memulai pembicaraan bosan dengan kecanggungan yang terasa.

"Emmm maksudmu apa Tema-chan?"

"Aduh kenapa dengan sahabatku yang pintar ini? Setelah lulus dari Universitas Konoha jurusan keperawatan kok loadingnya lama banget?" Sakura hanya tertawa mendengar ejekkan sahabatnya, Temari pun ikut tertawa. Setidaknya suasana sudah tidak canggung lagi.

"Apa maksudmu mengenai pernikahan kita?"

"Akhirnya, Sakura-chan yang pintar kembali?"

"Sudahlah jangan bercanda Tema-chan tidak lucu tau..." semburnya. "Kalau tidak lucu kenapa tertawa?" cercahnya jahil sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Hanya ingin saja, memangnya tidak boleh? Hmm."

"Dasar tidak mau mengalah."

"Sendirinya..."

"Hahaha sudahlah kok jadi ngelantur gini, jujur saja Sakura di antara kita berlima aku paling tidak menyangka Hinata akan mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya." Sakura hanya menghela nafas mendapati topik pembicaraan mulai serius.

"Ya kau benar. Di antara kita Hinata adalah yang paling baik serta penurut, meski kehidupannya bak putri raja tetapi hal demikian tak membuatnya menjadi angkuh dan sombong. Justru malah sebaiknya dia begitu rendah hati hanya saja dia terlalu pemalu."

"Hmm primadona yang pemalu namun akhirnya mendapatkan pangeran paling tampan di sekolah..."

"Sayangnya pangeran tampan itu tak lebih dari orang biadab!" ucap Sakura dengan berapi-api membuat Temari tertegun mendengarnya.

"Ya, tapi bukankah si biadab itu adalah pangeran idolamu di antara ke lima pangeran tampan sekolah?" Temari hanya bermaksud memperbaiki suasana yang sempat memanas namun sayangnya Sakura malah menanggapi serius perkataannya.

"Aku tau, betapa bodohnya aku mengejar-ngejarnya sejak di Elementary School hingga Senior High School. Dimana setiap saat aku selalu berharap dia akan membalas perasaanku. Ya setidaknya aku beruntung tidak bersamanya, tetapi bagaimana dengan Hinata..." tangisnya pecah membayangkan sahabatnya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Temari langsung memeluk sahabatnya ikut menangis bersama.

Ohh Kami-sama, kapan kau akan berikan kebahagiaan pada mereka? Apakah tidak terlalu kejam cobaan yang kau berikan pada mereka...

Ya inilah kehidupan, tak semuanya berjalan sesuai keinginanmu... Ibarat arus air meski tenang bukan berarti tak akan ada ombak. Hanya saja pertanyaannya apakah kau siap menghadapi ombak yang tiba-tiba datang? Hiperboliskah?

.

.

.

"Shikamaru gawat!" teriak Naruto histeris, nafasnya tampak tak beraturan saking paniknya.

"Tayuya sudah dulu ya, sampai jumpa besok di caffe biasa.."

"Jangan telat ya sayang, kau tau kan aku tidak suka menunggu?" Sambungan ponselpun terputus, kini nampaklah pria berambut nanas dengan perempatan di dahinya serta pandangan yang — membunuh ke arah pria berambut duren yang entah kenapa masih bisa nyengir dengan innoncentnya.

"Tayuya itu siapa Shika?" tanyanya masih -sok- innoncent yang membuat pemuda lawan bicaranya hanya mendengus malas.

"Bukan urusanmu, ada apa?" tanyanya terlalu langsung ke inti permasalahan, Naruto hanya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Shikamaru hanya menguap dan berjalan malas menuju ruangan 1313 yang sempat dia tinggalkan untuk menikmati suasana malam — bilang saja untuk cari makan.

Menyadari sahabatnya sudah tak ada di hadapannya, Naruto baru sadar kalau dia ingin mengatakan...

"Neji! Kemana kau?"

O'ya itulah yang ingin di katakan si pirang tadi yang sudah lebih duku masuk ke dalam ruangan itu.

"Shika kau mau kemana?" Melihat tampang Naruto entah kenapa membuatnya semakin menyadari sahabat pirangnya terlalu MENDOKUSAI!

"Ayo kita susul mendokusai dua?"

"Shika, mendokusai dua itu apa?" Lagi-lagi perempatan jalan tergambarkan jelas di dahi pemuda Nara.

"Jangan banyak tanya! Ikuti saja aku mendokusai satu!"

"Nah kalo mendokusai satu itu apa, Shika?"

.

.

.

Rembulan tergantikan mentari, burung-burung pun berkicau ria menandakan hari sudah paagi. Tampak di depan pagar megah kediaman Uchiha seorang pemuda berambut coklat panjang tertidur menyender di gerbang dengan kubangan di sekitar sudut bibirnya — tunggu dulu jangan simpulkan ini sebagai iler. Kubangan itu hanya tanda bangun tidur dengan posisi yang tidak pewe — posisi uweeenak.

Silaunya sinar mentari memaksa pemuda tampan keturunan Hyuuga membuka mata lavendernya. Sadar saat ini sudah pagi dan posisinya tidak 'elit' membuatnya dengan tergesa-gesa berdiri dan memperbaiki penampilannya. Serta dalam hati berkomat-kamit agar tidak menyaksikan keadaan tidurnya. Gak lucu kan kalau ada yang lihat posisi tidurnya yang begitu 'elegan'... Mau di taruh dimana mukanya!

Merasa penampilan sudah perfect, Neji langsung memasang tampang jaim bin serem menanti kedatangan si sepupu ipar yang bentar lagi akan di eksekusi...

Sudah tiga puluh lima menit empat puluh empat detik dia menunggu kedatangan si Uchiha yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya membuat Neji semakin merana?

Tunggu! Kenapa merana? Ohh roman-romannya si Hyuuga tampan ini sedang menahan lapar karena perut atletisnya sedang asyik berdangdut ria. Tetapi sekali lagi demi image, Neji hanya memilih acuh dan seolah-olah tidak mendengarkan acara konser gratisan itu.

Pucuk di pucuk ulam pun tiba itulah kata peribahasa untuk Hyuuga Neji saat ini. Akhirnya setelah sekian lama — bungsu pasangan Fugaku dan Mikoto Uchiha pun nongol juga terbukti dengan gerbang di belakang rumahnya yang terbuka otomatis.

Merasa ada yang menghalangi jalannya cowok raven ini pun turun dari mobil mewahnya. Ternyata oh ternyata si penghalang jalan bukanlah pengemis yang ia kira sebelumnya melainkan 'sepupu iparnya' hal ini membuat seringai iblisnya muncul dengan cuma-cuma.

"Hn?" tanyanya dengan dua konsonan yang sungguh tak memiliki arti apa-apa dari kaidah bahasa apapun.

Tanpa babibu, pembukaan, permulaan, perkenalan atau basa-basi sekalipun Neji langsung memberi hadiah terindah sepanjang sejarah hadiah pagi hari — bogem mentah bersarang di wajah tampan khas Uchiha membuat sudut bibirnya sedikit berdarah.

"Ternyata Hyuuga yang terkenal dengan tata krama sudah tak punya tata krama rupanya." ujarnya datar serta seringai iblis yang masih setia hadir.

"Diam kau brengsek! Berani-beraninya kau buat adikku menderita, rupanya kau sudah bosan hidup?" Neji yang tak mau kalah dengan Sasuke ikut-ikuttan memamerkan seringainya.

"Brengsek? Bukankah kau sama brengseknya denganku Hyuuga... maksudku suami Tenten?" ucapan Sasuke sukses membuat Neji membisu. Ya benar saja apa yang ia lakukan kepada Tenten bisa dibilang brengsek. Score Sasuke 1, Neji 0 untuk saat ini.

.

.

.

"Ino-chan, gomen membuatmu menunggu lama." Mendengar seseorang menepuk punggungnya membuat gadis pirang itu menggeliat dan menampakkan sepasang aquamarine indahnya.

"Tenten?"

"Kau pasti lelah sekali, maaf aku menggangu tidurmu. Kau bisa lanjutkan tidurmu di rumah makasih sudah menunggu Hinata-chan?"
"Tak apa Tenten-chan, aduh gak nyangka ternyata sudah pagi. Apa kau bilang tadi? Tentu saja aku akan menjaga Hinata dia kan adik kecilku." Senyum manis tercipta di wajah tirusnya.

"Ino kau kenapa?" Tenten heran melihat mata Ino yang sembab karena semalaman menangis yang ditanya hanya mengernyit heran.

Menyadari maksud pertanyaan sahabatnya Ino hanya menjawab seadanya, "oh ini semalam aku tidak bisa tidur jadi begini deh."

"Tak usah berbohong, cerita saja padaku. Lagipula yang kita alami kan sama, siapa tau dengan berbagi membuat hati sedikit lega." Mendengar penuturan Tenten, Ino langsung menghambur di pelukkan sahabatnya. Diceritakan semua keluh kesahnya, Tenten hanya menanggapi dengan pelukkan hangat. Karena apa yang dirasakan Ino sama seperti yang ia rasakan.

Akhirnya setelah puas berbagi masalah mereka saling melepaskan pelukkan.

"Tenten yang lainnya mana?"

"Sakura mengantar anak-anak ke sekolah sementara Temari menjaga Michi karena mendadak Michi terkena demam. O'ya Ino aku mengantarkan sarapan untukmu, makanlah dulu sebelum ke rumah Sakura biar perutmu tak kosong." Ino hanya tersenyum mendengar perhatian Tenten yang mirip dengan almarhum Kaa-sannya.

"Siip Kaa-san!" Tenten hanya tertawa melihat tingkah kekanak-kanakkan sahabatnya.

"Tadi kau bilang Michi sakit ya? Kasian Temari dia pasti repot ya sudah aku pulang dulu ya, selamat menjaga putri tidur."

"Jangan lupa sarapan dulu nanti kau sakit lagi."

"Hai' Kaa-san." Tenten hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.

Baru beberapa saat Ino meninggalkan Hinata seorang perawat berambut raven mendatangi kamar rawat Hinata.

"Ohayou nona." sapanya lembut ke arah Tenten yang kini duduk di sebelah Hinata merasa ada yang memanggilnya, wanita cantik itu tersadar dari lamunannya.

"Ohayou suster." balasnya sambil tersenyum manis.

"Saya suntik nona Hyuuga dulu ya." lanjut perawat yang diketahui bernama Konan.

"Kira-kira kapan adik saya sadar ya sust?" Konan hanya tersenyum miris mendengar pertanyaan Tenten. Karena sepengetahuannya setelah kemarin sempat berbincang-bincang dengan dokter Tsunade mengenai kondisi Hyuuga Hinata. Kemungkinan wanita muda ini sadar dari koma hanya 20% meski masa kritisnya sudah lewat.

"Doa'kan saja semoga nona Hyuuga bisa cepat tersenyum." ucap Konan sekedarnya.

"Kasihan dia hidupnya tak seindah kebaikan hatinya..." Tenten mulai menceritakan duka yang di alami Hinata membuat Konan yang mendengarnya hanya mampu memandang iba.

Dirinya tak habis pikir perempuan secantik itu, bisa-bisanya di duakan dan mendapat perlakuan sehina ini. Sungguh biadab lelaki yang telah melakukan hal demikian pikir perawat cantik itu.

Dia hanya mampu mengelus-elus pundak Tenten yang bergetar menahan tangis.

"Ka...kau sudah me...menikah?" tanya wanita berambut coklat disela tangisnya.

"Belum, saya belum menikah." jawab Konan lembut.

"Semoga jika kau menikah nanti, kau mendapatkan suami yang baik dan pengertian. O'ya maafkan saya sudah menceritakan masalah yang tidak seharusnya anda dengarkan." ungkap Tenten yang sudah bisa mengontrol dirinya.

"Terima kasih untuk doa'nya nona, tidak masalah saya senang bisa mendengarkan keluh kesah anda siapa tahu anda akan lebih lega. Semoga nona dan teman-teman trutama nona Hyuuga dapat sabar menjalani cobaan ini." ungkap Konan tulus.

"Terima kasih juga untuk doa'nya. Ngomong-ngomong namamu siapa?"

"Ahh maaf nona saya lupa memperkenalkan diri saya, saya Konan. Nama nona siapa ya? Kalau saya boleh tahu."

"Tentu saja boleh, kau panggil saja aku Tenten."

Ternyata dari obrolan singkat hingga merembet kemana-mana sampai-sampai membawa aktor Korea di dalam perbincangan mereka. Ya, Kim So Hyun lah aktor yang beruntung menjadi topik pembicaraan mereka. Rupanya obrolan mereka harus terintrupsi dengan nada pesan yang berbunyi dari ponsel Konan.

Rupanya isi message tersebut menyuruh Konan agar kembali ke pekerjaannya yang sempat tertunda oleh ajang ngegossip.

"Gomen Tenten, aku harus kerja sekarang lain kali kita lanjut lagi ya..." Pembicaraan yang semula formal kini menjadi perbincangan santai.

"Ok sampai nanti Konan, kerja yang semangat ya!" Wanita cantik itu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan ruang 27 menuju segudang pekerjaan kemanusian yang menantinya.

"Hinata-chan kau harus cepat bangun nanti aku kenalkan ke Konan-chan."

.

.

.

"Hei kalian hentikan perkelahian bodoh itu!"

Hening tak ada tanggapan dari dua orang yang sedang asyik dengan perkelahiannya — serasa duni milik berdualah.

"Ck sungguh merepotkan."

"Ya kau benar Shika mereka berdua memang merepotkan." Merasa familiar dengan suara ini Shika berbalik badan ke arah belakang mendapati Sai berjalan dengan santainya ke arah mereka sambil memamerkan senyum palsunya.

"Hai Sai darimana saja?" teriak Naruto sembari memamerkan senyuman lima jarinya yang sukses mengalahkan senyuman Sai.

Shikamaru hanya memandang malas ke arah sahabat pucat yang datang tak di jemput pulang tak di antar itu.

"Sasuke, Neji daripada berantem di tengah jalan mending di dalam rumah aja diteruskannya." ucapnya datar yang sukses mendatangkan deathglare dari semua sahabatnya minus Naruto yang masih nyengir gaje.

"Tuh kan akhirnya berhenti juga tak terlalu merepotkan kan Shika?" Si Nara hanya mendengus mendengarnya.

"Ada apa Sai?" tanya Sasuke to the point yang mengetahui kebiasaan sepupunya itu.

"Kau memang hebat saudaraku, ya aku hanya ingin memberi hot news saat ini."

"Jangan bertele-tele, cepat katakan ada masalah apa?"

"Tapi ku sarankan kau jangan langsung membunuh Sasuke saat mendengarnya Neji." Perkataan Sai sukses membuat semuanya penasaran terutama Neji, otak cemerlangnya mengerti berita ini menyangkut sepupunya.

"Ada apa dengan Hinata?"

"Kau terlalu terburu-buru tuan, ya kau benar ini tentang Hinata. Ia saat ini sedang koma setelah lewat masa kritis." ucapnya datar tanpa senyuman yang biasa tersaji di bibirnya.

"APA? Hinata koma kau tak salah bicara kan Sai?" tanya Neji cemas sambil mengguncang-guncangkan kerah kemeja Sai.

"Tenangkan dirimu Neji."

"Kau bilang apa Nara? Tenangkan diriku bagaimana aku bisa tenang, jika saat ini adikku sedang koma!" Semuanya hanya membisu tak terkecuali Sasuke — pemuda raven itu hanya diam seribu bahasa meski hatinya bertanya-tanya apakah benar istrinya koma? Sepertinya rasa bersalah mulai hinggap di hati Sasuke hanya saja egonya membuatnya enggan mengakuinya. Ck seorang Uchiha dilahirkan bukan utuk merasa bersalah.

"Kenapa kau diam Uchiha? Apa kau puas membuat adikku seperti itu."

BUGH

"Neji, apa yang kau lakukan! Tenangkan dirimu!" teriak Shikamaru sementara Naruto dan Sai berusaha menahan Neji yang lagi-lagi terbawa emosi.

"Kalian bilang apa, TENANG! Adikku diantara hidup dan mati karena lelaki brengsek itu!" Neji langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan panggilan sahabatnya tentu saja minus Sasuke yang masih diam.

"Sudahlah mungkin saat ini Neji sedang menuju rumah sakit lebih baik kita menyusulnya." ujar Naruto yang daritadi lebih banyak menyimak keadaan, kini mengeluarkan opininya.

"Ya kau benar, ayo kita ke rumah sakit." jawab Sai.

"Kau mau ikut Sasuke? Bagaimana pun kejadiannya, ini semua salahmu. Kenapa semua jadi merepotkan."

.

.

.

"Tenten maaf ya aku datangnya telat habis macet sih, ini ku bawakan makan siang kau belum makan kan?"

"Gak pa-pa kok Sakura makasih ya udah bawa makan siang kebetulan aku belum makan nih." Tenten langsung mengambil makanan dan memakannya dengan lahap membuat Sakura tertawa melihatnya.

"Tenten aku tak menyangka kau selapar itu, apa aku sudah telat sepuluh hari ya untuk membawakan makananmu?" Tenten hanya mendengus menanggapi candaan Sakura.

"Sakura gimana keadaan Michi? O'ya Haru lagi apa?"

"Michi sudah agak baikkan panasnya sudah mulai turun. Tenang saja Tenten anakmu sudah makan dan saat ini sedang tidur siang."

"Syukurlah kalau begitu, kau sudah makan Sakura?"

"Tenang saja aku sudah sangaat kenyang, hahahaha."

"Kau dan Ino sama saja selalu bertindak kekanak-kanakkan."

"Ya anggap saja ini latihan sebelum kau menjadi guru taman kanak-kanak." Tenten hanya tersenyum membayangkan cita-citanya.

"Bagaimana keadaan Hinata-chan?"

"Masih tak ada tanda-tanda dia akan sadar Sakura." Sakura hanya menghela nafas mendengarnya.

"Hinata jangan buat kami sedih kau harus bangun, aku janji setelah kau bangun kita akan jalan-jalan ke semua tempat yang ingin kau kunjungi. Kau pasti sudah tak sabar ke Konoha Park, sekarang disana banyak wahana baru loh."

"Percuma Sakura tetap tak ada reaksi."

"Hinata pasti bisa tertawa bersama kita lagi kan?"

"Pasti kalian harus yakin."

"Dokter Tsunade?"

"Maafkan saya yang baru sempat datang tadi di poliklinik cukup ramai, apakah nona Hinata sudah ada perkembangan?"

"Tidak masalah dokter, sayangnya Hinata-chan belum ada perkembangan apa-apa." ujar Sakura lirih.

"Setidaknya detak jantungnya stabil mungkin Hinata-chan hanya sedang menikmati tidur panjangnya, ya kita berdoa' saja supaya putri tidur ini terbangun dari mimpinya." Tenten dan Sakura hanya tersenyum mendengar gurauan sang dokter.

Setidaknya mereka percaya masih ada harapan bagi Hinata, itulah yang mereka percayai —atau lebih tepatnya— berusaha untuk mereka percayai.

"O'ya saya lupa memberi tahu, hasil CT Scan Hinata-chan sudah keluar..." belum sempat Tsunade menjelaskan Sakura sudah memotong, "bagaimana hasilnya dokter? Apakah ada masalah dengan kepala Hinata?" Tsunade hanya terkekeh membuat Sakura serta Tenten harap-harap cemas.

"Kau tidak sabaran sekali nona? Yare-yare biar kau tak penasaran ku beritahu saat ini saja. Maaf ya tidak formal, bukankah membosankan bicara dengan formalitas? Kita bicara santai saja, ok?" Para wanita muda itu hanya mengangguk heran melihat perubahan sikap sang dokter.

"Hasilnya bagus tidak ada masalah apapun pada kepalanya hanya gegar otak ringan, setelah melihat hasil ini aku menyimpulkan," suasana tiba-tiba menjadi begitu hening. "nona muda ini sedang mengalami gangguan traumatik yang hebat pada kejiwaannya yang mengakibatkan alam bawah sadarnya berontak sehingga dia tidak sadarkan diri. Secara kasat mata ia memang terlihat mati tetapi di dalamnya jiwanya sedang berperang untuk tetap hidup atau tidak sama sekali. Kita hanya bisa berharap semoga Hinata-chan masih punya semangat untuk hidup karena semua kondisi tubuhnya baik tak ada cacat untuk sementara pemberian obat diberhentikan hanya suplemen makanan saja." perkataan sang dokter nyentrik itu membuat kedua wanita cantik itu terenyuh — begitu dalamnya kah luka yang dialami Hinata? Hingga membuatnya bagai mayat hidup?

"Apa terlalu sulit penjelasannya? Jangan bengong begitu dong nona-nona, kau membuatku merinding dengan tatapan kalian yang euh—seram! Aku permisi dulu masih ada beberapa pekerjaan yang menanti, ku harap kalian tetap kuat dan terus memberi motivasi agar saudara kalian dapat tersenyum lagi. Jika Hinata sudah sadar atau yah ada sedikit pergerakan hubungi aku ya." ucapnya tulus sambil meletakkan kartu namanya di laci sebelah kiri ranjang Hinata kemudian meninggalkan Tenten dan Sakura yang masih terdiam.

.

.

.

"Dimana ruangan Hyuuga Hinata?" tanya (baca: perintah) — ya, kalian tahulah siapa orang yang sedang mencak-mencak gaje di bagian pusat informasi.

"Sebentar tuan kami cari dulu." ujar salah resepsionis cantik sambil mencari data pasien bernama Hyuuga Hinata.

"Bisakah lebih cepat lagi? Nyari begitu saja lama banget!" Neji kembali dengan ngomel-ngomel gak banget — author heran kenapa hari ini Neji sensitif banget? Apa jangan-jangan karena belum makan?

Sepertinya memang karena belum makan deh buktinya aja tuh perut masih asyik konser. Heran deh orang setajir Neji Hyuuga buat beli makan aja gak bisa. Lah buktinya daritadi pagi sampai matahari berada di atas kepala kok tuh perut gak berhenti konser?

Ok, lupakan masalah perut cowok berambut indah yang ngalahin keanggunan rambut waria, kita baik aja nyokk ke cerita.

"Sabar tuan, ah ini nona Hyuuga Hinata ruang 27 lantai 2." Begitu mendengar tempat Hinata di rawat tanpa mengucapkan terima kasih karena telah mengganggu kenyamanan ruang informasi, Neji langsung ngeloyor begitu aja.

"Huh dasar tampangnya doang cakep perilakunya mah kaya orang gak punya adat." sembur resepsionis bermake-up menor yang di sambut anggukan rekannya.

.

.

.

"Hinata kau tidak apa-apakan?"

Siiing—

Kenapa kok jadi diam begini ya? Padahal author kira bakal ada pertumpahan darah, ya secara kan di ruangan Hinata ada Sakura dan Tenten.

Setelah di selidiki rupanya Neji yang gossipnya jenius itu salah masuk kamar saudara-saudara! Ruangan yang dimasuki Neji ini bernomor 22 bukan 27 sepertinya Neji harus cek keoptimalan indera penglihatannya. Lantas kenapa ruangannya sepi? Ya jelas saja sepi orang yang ada di ruangan Cuma Kakek-Kakek berusia kira-kira tujuh puluh tahun yang sedang asyik-asyiknya tidur — semoga saja bukan tidur selamanya ya Kek...

Menyadari ruangan sepi dan mumpung gak ada orang dengan malu-malu kerbau Neji pun keluar ruangan layaknya maling ayam yang sedang mengendap-endap di kandang ayam.

Tetapi rupanya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Baru saja keluar ruangan sudah harus tertangkap kering berhubung ruangan berAC jadi gak keringetan alias basah.

"Neji, bukannya ruangan Hinata nomor 27 ya?"

"Hn."

"Lantas kenapa kau masuk ke kamar nomor 22?" tanya Naruto lagi bingung tentu saja masih dengan suara cemprengnya.

"Apa kau salah kamar?" GOTCHA! Kau jenius Sai, Hyuuga Neji memang salah kamar. Neji hanya diam dan tetap memasng tampang -sok- cool andalannya, meski hatinya jadi ikuttan dangdutan sama halnya dengan perutnya.

"Hahahaha Neji salah masuk kamar, bwahahahaha." Naruto tertawa dengan terpingkal-pingkalnya sementara Sai, Shikamaru serta Sasuke yang juga ada di kejadian perkara hanya menyeriai dengan tatapan mengejek. Poor Neji...

"Bukan urusan kalian." Neji langsung meneruskan perjalanannya .

"Neji bukankah kamar Hinata ke arah sini?" Neji langsung berbalik arah dan menampakkan tampang tanpa dosa meski dalam hati memaki Naruto dan mulut besarnya.

.

.

.

Saat ini hanya tinggal Sakura sendiri yang menunggui Hinata mengingat Tenten baru saja pamit pulang beberapa menit yang lalu.

Gadis berambut unik itu hanya diam memandangi sahabatnya tak ada satu kata pun terucap dari mulutnya. Keheningan yang tercipta membuat suasana menjadi semakin menyesakkan.

"Hinata!" Lagi-lagi Neji merubah suasana dari keheningan menjadi kegaduhan. Lelaki jangkung itu langsung menghampiri Hinata kemudian memeluknya mengacuhkan Sakura yang duduk di sebelah Hinata.

Melihat keadaan Hinata membuat para pria tampan itu hanya diam bahkan Naruto yang paling hyperaktif hanya menunduk. Neji terus memeluk saudaranya tak peduli berapa banyak airmata yang keluar dan membasahi baju Hinata dilupakannya semua image dingin serta stoicnya.

"Cih apa peduli kalian, masih punya muka juga datang kesini." Dua tangan dilipat di depan dada dan pandangan menusuk di arahkan Sakura.

Merasa tak ada tanggapan, Sakura semakin terpancing untuk mengeluarkan uneg-unegnya.

"Neji, Neji kalau kau masih peduli dengan sepupumu seharusnya kau berterima kasih dan meminta maaf kepada istrimu yang sudah bersedia menjaga Hinata dari pagi sebelum ku gantikan." Hening tak ada jawaban.

"Dan kau Shikamaru! Apa kau tidak peduli lagi kepada anak-anakmu, kau tau saat ini Michi sedang sakit!" Masih sama tak ada jawaban sampai suara dering ponsel Shikamaru berbunyi.

Pemuda Nara itu langsung keluar dari ruangan begitu mengetahui si penelepon adalah Tayuya.

"Cih dasar pengecut!" umpat Sakura, mata lavendernya melirik ke belakang dan... pandangannya bertemu dengan sepasang onyx milik Sasuke sontak seringai terpampang di wajahnya.

"Kau masih punya nyali juga untuk kesini, eh Sasuke? Kenapa diam saja? Apa sebegitu senangnya kah dirimu melihat Hinata seperti ini?" Kesal karena tak ada reaksi berarti dari Sasuke, Sakura langsung melangkah mendekati Sasuke — onyx bertemu emerald — dipukulnya Sasuke dengan kedua tangannya. Diam itulah reaksi Sasuke.

Naruto berusaha menghentikkan pukulan Sakura di rengkuhnya tubuh istrinya agar menjauh dari Sasuke tetapi Sakura memberontak. Pertahanan gadis itu sudah final mengetahui keadaan sahabatnya membuat emosinya menguar-nguar tatkala mendapati si bianglala berdiri di hadapannya.

"Lepaskan aku baka! Biar si brengsek ini tau betapa menderitanya sahabatku. Kenapa kau diam tidak punya mulut, heh? Kembalikan Hinata, Sasuke? Kembalikan senyuman malaikatnya!" Tetap tak ada suara — Sasuke masih memilih diam onyxnya meredup. Sahabatnya yang lain hanya memandang pilu ke arah Naruto kecuali Neji yang masih dengan dunianya berada di pelukkan Hinata tak mengiraukan keributan yang terjadi.

Naruto masih berusaha menenangkan istrinya melihat Sasuke yang semakin tersudutkan, Sai pun membawa Sasuke meninggalkan ruangan Hinata.

"Kenapa kau lari? Dasar pengecut! Kembalikan sahabatku, kembalikan!" Tidak kuat menahan beban Sakura meringsut di pelukkannya Naruto, wajahnya begitu sembab karena air mata.

.

.

.

"Maaf Tayuya hari ini kita tak bisa bertemu dulu."

"Kenapa Shika? Apa kau tak peduli padaku lagi?" Terdengar suara merajuk dari seberang sana.

"Bukan begitu sayang, aku janji besok kita jalan-jalan ke semua tempat yang ingin kau kunjungi, ok?"

"Awas ya kalo bohong." Sambungan ponsel pun terputus.

"Woy Shika darimana saja kau, coba tadi ada disana…"

"Apakah Sakura memukuli Sasuke? Dan saat ini kau bawa kemana Sasuke?" Sai hanya tersenyum palsu mendengar jawaban Shikamaru.

"Ayo antar aku ke tempat Sasuke, Sai."

"Bersemangat sekali kau, yahh mentang-mentang habis di telepon selingkuhan." Shikamaru hanya memasang wajah malas.

"Sepertinya kau harus mengunjungi Temari, apa kau tidak kasian dengan Michi bukankah dia sedang sakit?"

"Sejak kapan seorang Sai jadi cerewet, oh sejak menikah rupanya eh pengantin baru?"

.

.

.

Suasana di ruang 27 tidak banyak berubah, Sakura masih menangis sementara Naruto berusaha menghibur istrinya yang tentu saja tidak ditanggapi olehnya. Hanya saja Neji Hyuuga sudah mulai tenang dan memilih duduk di sebelah Hinata sambil berulang kali memohon agar Hinata bangun dari tidurnya.

"Sakura...?"

Temari, Tenten serta Ino hanya mengernyit heran menyaksikan pemandangan yang tersaji.

Ino langsung menghampiri Sakura kemudian menenangkannya, Naruto yang bingung dengan keadaan saat ini memilih menghampiri Neji.

"Kenapa kalian ada disini?" bentak Temari, menurutnya karena Naruto dan Nejilah sahabatnya menangis.

"Aku hanya ingin menjenguk adikku." Kini Nehi mulai bersuara dengan tegas setelah beberapa menit lalu dia baru bisa menenangkan dirinya.

"Kau masih berpikir Hinata adalah adikmu? Ku kira kau sudah membuang Hinata sama seperti sahabatmu itu." ujar Tenten sarkastik, Neji hanya diam merasa percuma meladeni 'istri'nya itu.

"Hinata!" Neji langsung memeluk Hinata menyadari sepupunya baru saja menggerakkan tangannya.

Para wanita cantik itupun langsung mengerubungi gadis berambut indigo itu. Akhirnya setelah dua hari tidak sadarkan diri, Hinata menampakkan kembali mata seputih mutiaranya.

"Enggh..." lenguhnya lirih.

"Tenten cepat telepon Tsunade!" ujar Sakura semangat.

Terima kasih Kami-sama...

Melihat Hinata yang berangsur sadar, Naruto mengambil inisiatif untuk mengirim pesan pendek ke Sai.

.

.

.

"Sasuke aku tau ini semua bukan salahmu, ini dinginkan lah otakmu." Shikamaru melemparkan sekaleng softdrink ke arahnya.

Sasuke langsung meminumnya dalam sekali tenggak. Berbagai pikiran berkecamuk di hatinya terutama rasa bersalah atas kejadian yang menimpa Hinata.

Dering sms membuat Shikamaru serta Sasuke kembali ke alam sadarnya.

"Ayo cepat kita ke tempat Hinata, dia sudah sadar." Mendengar ucapan Sai, Sasuke langsung berlari dari parkiran menuju tempat istrinya.

.

.

.

Tsunade langsung masuk ke ruang rawat Hinata kemudian memeriksa keadaannya bersama tiga orang perawat. Ke lima orang yang tadi ada di ruangan Hinata, terpaksa menunggu di ruang tunggu sampai pemeriksaan selesai.

"Naruto, bagaimana keadaan Hinata?" Pria blonde itu hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Sasuke.

"Entahlah dokter sedang memeriksanya." Sasuke hanya menghela nafas.

"Syukurlah keadaannya baik-baik saja, dia memang gadis yang kuat. Kalian bisa menjenguknya sekarang." Mendengar suara Tsunade bagaikan hujan di tengah tanah kerontang — begitu menyejukkan.

Mereka semua langsung masuk dan mengerubungi Hinata, membuat si pasien kebingungan sendiri.

"Sakura-chan, Ino-chan, Temari-chan, Tenten-chan..." Hinata mengabsen satu persatu sahabat-sahabatnya, "Nii-san, Naruto-kun, Sai-kun, Shikamaru-kun emm lalu kau siapa?" tuding Hinata ke arah Sasuke.

"Hinata kau bisa bercanda juga ya, ini teme eh maksudku Sasuke suamimu." Hinata hanya memandang bingung ke arah Naruto dan sahabatnya.

"Sasuke? Suamiku? Memangnya aku sudah menikah ya?" Mendengar pertanyaan Hinata membuat jiwa Sasuke serasa pias, bagaimana mungkin Hinata melupakan dirinya yang notabenenya adalah suaminya sendiri.

"Iya Hinata kau belum menikah, dia hanya orang asing." Mendengar perkataan Ino sontak memicu tatapan ganjil dari para pria minus Neji yang memilih acuh.

"Apa yang kau katakan Ino, jaga mulutmu baik-baik! Sasuke itu suaminya Hinata." Sai merasa kesl dengan peryataan sepihak istrinya.

"Memangnya kenapa? Toh sebentar lagi Hinata juga akan menceraikan Sasuke." Sasuke hanya diam, ya Ino memang benar dia tak pantas di panggil sebagai suami jika karena ulahnya istrinya menderita.

Hinata langsung memegang kepalanya merasakan kepalanya yang serasa ditusuk paku. Sasuke dengan sigap membantu Hinata tak dihiraukan tatapan para wanita yang menghalanginya.

"Hinata, kau tidak apa-apa kan? Maafkan aku Hinata." katanya lirih.

TBC

Sepertinya ceritanya semakin membosankan dan monoton, maafkan ketidakbisaan saya dalam meramu cerita ini. Semoga tidak terlalu buruk untuk dibaca. Saya menerima saran serta kritikan, flame juga tak masalah sampaikan saja lewat review...

Gak nyangka ya tinggal sembilan hari lagi lebaran. Maka dari itu saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan baik langsung maupun tidak.

O'ya maafkan saya juga yang kemungkinan akan telat update chapter lima dikarenakan mau mudik, hehehe.

Semoga kita semua mencapai kemenangan di hari yang fitri nanti, bagi yang merayakan.

Special Thanks:

RikurohiYuki03, hirartsuhyugga, Kimidori hana, Ai HinataLawliet, Dheani Shiroonna Hyouichiffer, Sukie 'Suu' Foxie, hikaru: Ok, semoga di ch ini gk terlalu drama/hurt dan sisi humor singkatnya nyampe (emangnya ku naro sisi humor gak ya?), Kaka: Kalo masalah itu nanti kita interogasi Sasuke aja ya bareng-bareng, semoga aja belom kalo enggak?, n: Yupz pasti dihajar sama Neji si Sasu., Od3rsChWank mi4w-mia4w: Saya manggil kamu apa ya? Sama-sama makasih juga sudah membaca, semoga balesan untuk Sasu di ch ini setimpal., arigatou: Ini udah update sekilat yang saya bisa, hehehehe., Kagayaku Aomizu, uchihyuu nagisa, Charlene Choi, Nerazzuri un login: Ya ampun saya udah buat kesalahan sefatal itu, maklum ka kebiasaan buat pelayan wanita., Uchiha Miyuki, Haruno aoi.