CHAPTER 3: PIRATE, ALLIANCE

Dynasty Warriors milik KOEI Tecmo

Gan Ning x Ling Tong (bl)

Romance, drama

¼ Dynasty Warriors, ¼ Romance Of Three Kingdoms, ¼ sejarah, ¼ penambahan-pengurangan-pengubahan dari author.

Sumber:

google

wikipedia

koeiwikia

kongmingarchive

yueying


DON'T LIKE, DON'T READ


Ling Tong, dengan lengan baju yang disingsingkan dan rambut terikat tinggi, masih sibuk berkutat dengan kayu-kayu di depannya saat Lu Meng datang dan menegurnya lembut. Potongan kayu terakhir ia lanjutkan, menoleh, tersenyum manis melihat strategis Wu yang tegas dan cerdik itu. Menyeka peluh dan mengatur nafas, ia beranjak menuju Lu Meng yang kini telah duduk di karpet di bawah bambu-bambu yang menjulang tinggi.

"Kerja bagus, Ling Tong, sepertinya aku harus memintamu memotong kayu untuk perapian rumahku juga," tawa Lu Meng renyah, membuka keranjang dengan selusin bakpao berisi daging, "ini, makanlah dulu."

Pemuda tersebut duduk di depan Lu Meng dan tersenyum tipis. "Buatan siapa ini?" Mengembalikan tawa renyah itu, "aku yakin kau tak bisa memasak, Oldman."

Sang pria menggaruk helai coklat ikalnya, meraih satu bakpao dan memasukkannya ke mulut sebelum akhirnya ia bersender di bambu-bambu hijau. "Ibuku, tentu saja. Dan tolong, berhenti memanggilku Oldman, kau sama saja dengan bajak laut itu- ah..."

Wajah itu mulai surut serinya. Lu Meng menatap dalam-dalam mata abu pria yang lebih muda, mencari rasa yang tersirat dari beningan yang mulai berkaca-kaca, mengelus rambut yang senada dengan miliknya itu perlahan. Ia menghela nafas, saling diam satu sama lain, membiarkan burung bernyanyi di pucuk bambu menjulang.

"Aku tidak seperti dia," terdengar tercekat suara bergetar itu, "ia membunuh ayahku. Aku tidak sepertinya."

Melanjutkan makan, Lu Meng menghirup wangi bambu kental dan kayu-kayu yang masih segar. Mengacuhkan fakta jika Ling Tong akan sedih, sama seperti tahun-tahun yang lalu, Lu Meng mengulang topik yang sama namun cerita yang berbeda.

"Ia salah satu dari officer terbaik kita. Tangkas, pemberani, ditakuti. Misinya kali ini ia dapatkan karena ia pantas untuk itu."

"Kau salah, Lu Meng," Ling Tong menatap langit biru, mengernyitkan dahi melihat awan-awan hitam yang menggulung di atas. "Misinya itu untuk membuktikan apakah ia pantas atau tidak. Berani taruhan jika yang pulang hanyalah lonceng-loncengnya saja."

Lu Meng menggelengkan kepala. "Lord Zhou Yu bukan orang yang senang mengundi nasib, Ling Tong. Gan Ning pantas. Ia bisa mengemban tugas yang Lord Zhou Yu berikan, kita bisa menunggu dan menanti pesta besar-besaran."

"Jangan terlalu memuji bajak laut pembunuh orang tua itu," decihan terdengar dari bibir Ling Tong, "ia tidak sehebat yang kalian ucapkan. Taruhan."

Helaan nafas kedua terdengar dari Lu Meng, mengelus janggutnya pelan, menutup mata. "Aku tidak suka melakukan taruhan yang meyakinkanku untuk menang 100%, Ling Tong, jika semua perang seperti itu maka strategis tidaklah dibutuhkan." Meminum araknya hingga habis, Lu Meng berdiri. "Jaga dirimu sendiri. Aku mungkin tidak ada untuk mengawasimu, tapi kau tahu apa-apa yang sudah diperingatkan padamu, kan? Oleh Lord Sun Quan sendiri, seperti-"

"-Tidak mengejar Gan Ning dan membunuhnya, aku tahu. Aku sudah mendengarnya berkali-kali. Jadi ini yang kau lakukan, menggangguku dengan bujukan-bujukan itu? Lupakah jika itu tidak akan mempan?"

Ling Tong kembali melahap bakpao saat Lu Meng melangkah menjauhinya. Dengan hati sesak dan mata berkaca-kaca, amarah itu meluap-luap. Menutup telinga dari ucapan pamit Lu Meng, Ling Tong meraih kapak dan membuat potongan kayu bakar yang lain. Membayangkan leher dari pria yang terus masuk ke mimpinya dan mengulang memori yang sama selama bertahun-tahun, ia potong kayu tersebut kuat-kuat, melampiaskan emosi yang terkekang sejak dahulu.

Ling Tong ingat terakhir kali ia berbicara empat mata dengan pria bertato naga, di jembatan yang basah akan air hujan, tepat saat upacara kematian sang ayah. Ia ingat tangisnya yang berbaur dengan rintik-rintik bening mengalir ke sungai, suara lonceng yang menjauh, menampilkan punggung tegap yang mulai tak terlihat. Terus menangis hingga Lord Sun Quan mendatanginya dan mengelus rambut basahnya penuh kasih bagai belaian sang Ayah.

"Ling Tong, bangun dan angkat wajahmu. Hujan telah berhenti, kaupun harus tegar dan menyimpan air matamu. Memperjuangkan apa yang Ling Cao jaga selama ini. Bersama Gan Ning."

Menatap pria bermata hijau itu lekat-lekat, Ling Tong menyeka air matanya, seulas senyum terpatri di bibir pemimpin yang berwibawa.

"Jangan balas dendam. Kau berjanji, Ling Tong?"

Tidak ada suara yang keluar, hanya anggukan lemah. Karena sungguh, sebenci apapun, Ling Tong tidak keberatan melakukan sesuatu untuk seseorang. Terutama Lord Sun Quan, meski ia harus menyiksa batin sendiri.

Dan selama tiga tahun Ling Tong menjaga sumpahnya.


Api berkobar di mana-mana, menjilat kayu-kayu kering yang dipotong rapi, perabotan rumah dan macam-macam di sekitarnya. Warna merah menyala membumbungkan abu di angkasa, meraih langit, menghapus dingin malam dengan panas membara. Rumah kecil di tengah hutan itu tak mungkin dapat berkutik, baik dedaunan di sekelilingnya maupun tikus-tikus yang bercicit nyaring, bahkan remaja pria yang masih berlari panik di dalam rumah.

Pemuda itu terus mencari celah diantara atap rumah yang mulai runtuh tiang penyangganya. Terburu-buru mengambil oksigen yang mulai menipis, merasakan jilatan api di sekitar tubuhnya. Rambut coklat panjangnya berkibar bagai kayu-kayu rapuh yang telah habis menjadi arang. Suaranya tertahan, tersengal-sengal, meringkuk di tengah rumah dengan tubuh yang lelah.

Ia menangis. Semua sakit yang ada di dadanya turun begitu saja. Tidak ada yang ingin ia lakukan kecuali menangis, menyerah mengetahui tidak ada jalan keluar, kecewa karena harta satu-satunya kini habis dimakan api. Ah, harus apa lagi? Masihkah berguna hidupnya di sini, tiga tahun diberikan pangkat pengganti ayahnya, tiga tahun memupuk benci, tiga tahun tak berhenti menangis kala sinar rembulan mengelus kulit putihnya. Apa yang sudah ia beri untuk Wu? Hanya pekerjaan kecil seperti menjaga markas, menangkap bandit maupun mengantar bekal. Ia bahkan kalah tugas dengan orang baru yang mungkin malam ini sedang bersenang-senang meraih apa yang akan menjadi pujian nantinya. Apalagi gunanya di sini? Ia sudah muak dijejali banyak cerita tentang kehebatan seorang pria yang melihatnya pun enggan. Pria yang sudah mengambil segalanya, ayahnya, kebahagiaannya, pekerjaannya, hingga kini tak ada satupun yang bersisa.

Apakah tidak menyenangkan jika saat ini ia bertemu dengan kedua orang tuanya lagi?

"Ling Tong!"

Pemuda itu mendengar namanya disebut disela-sela api membara. Namun ia hanya menggeleng kuat, menggigit bibir, menghapus apa yang ia kira halusinasi.

"Ling Tong, kau di mana?! Berteriaklah agar aku bisa menolongmu, sialan!"

Ling Tong mengangkat wajahnya. Samar ia kenal suara serak yang kini terus berteriak memanggil namanya, dengan musik yang mengiringi langkah sang pria.

Bunyi lonceng. Dan Ling Tong kenal jelas siapa orang itu.

"Gan Ning, Gan Ning!"

Ia gunakan sisa suaranya untuk berteriak sekuat yang ia bisa. Mendapat tenaga untuk kembali berdiri, ia berlari sedekat mungkin dengan baritone yang terus memanggil namanya dan dentingan lonceng yang menghapus suara pengabuan kayu.

"Kau di sini? Mundur, Ling Tong," Ling Tong mundur beberapa langkah mendengar suara itu makin dekat, "akan kudobrak! Menjauhlah!"

Bunyi kayu patah terdengar di mana-mana, namun Ling Tong memusatkan kristalnya pada goncangan yang ada tepat di depannya. Masih terus terisak, ia kembali berteriak, memeluk pria tegap yang kini berhasil masuk menghampirinya dengan wajah dan tubuh yang terkena hitam arang; namun tarikan senyum miring itu terlihat sama seperti beberapa tahun lalu.

"Gan Ning!"

Pria itu mengembalikan pelukan erat Ling Tong, tertawa kecil di sela aturan nafasnya. "Ya, ya, gadis manis, tunda dulu haru birunya. Kita keluar dari sini."

Berpegang erat-erat pada pundak Gan Ning, Ling Tong merasa tubuhnya diangkat dengan begitu mudah meski ia kini sudah setinggi sang bajak laut. Pria berikat kepala itu menggendong tubuh si rambut coklat kental dan berjalan menjauhi sumber api, membiarkan air mata mengalir di pundaknya, berhenti pada sumber air terdekat. Ia turunkan sang pemuda, menggulung tangan di dada, menaikkan sebelah alis. Wajah marah.

"Kau tahu, kukira bocahpun pasti mengerti; jika terperangkap dalam kebakaran, hal yang paling utama dilakukan adalah berteriak minta tolong."

Ling Tong menutup wajahnya, terlihat sedikit semu merah di pipi. "Kenapa kau ada di sini?" Suara bergetar, "kenapa kau menolongku?"

Gan Ning menyatukan kedua alisnya. "Apa itu penting untukmu?"

"Tentu," masih dengan isakan yang sama, "itu penting. Mengapa kau ada di sini sementara seharusnya kau sedang dalam perang?"

Denting lonceng menyela percakapan mereka. "Kau tidak perlu tahu."

Gan Ning menyodorkan air dari telapak tangannya, namun Ling Tong tepis dengan mata berkilat, penuh emosi bercampur. Wajahnya begitu merah, rautnya terlihat tegang.

"Jawab aku, bajak laut brengsek! Kenapa kau ada di sini?!"

"Oh, tentu saja. Perang sudah selesai dan aku kebetulan lewat sini. Apalagi? Heh, jika kau kira itu perang yang sulit, berarti skill mu masih cetek."

Jemari ramping itu mendorong dada sang pria dengan begitu keras, membuatnya jatuh ke tanah. Ling Tong tak lagi berusaha mengatur nafasnya, ia berdiri, menunjuk Gan Ning dan tawanya yang khas. "Apa kau bilang? Kau mau kubunuh di sini?"

"Come on," bajak laut itu mendecih, sinar bulan memantul dari helai tajamnya. "maju sini. Aku tak akan segan."

Ling Tong mengepalkan tinjunya dan mulai menyerang sang pria.


Burung-burung kecil berbunyi nyaring di luar tirai bambu yang terbuka sedikit. Ling Tong, dengan wajah kuyu dan jemari yang saling bertautan, tak juga mampu mengistirahatkan tubuhnya meski lingkar hitam telah menghiasi kelopak matanya. Malam kemarin, ia masih mengingatnya dengan begitu jelas. Bajak laut itu lebih lamban dari biasanya, berulang kali tidak dapat mengelak dari tinjuan pria yang lebih muda. Terjerembab di tepi sungai, nafasnya tersengal, Ling Tong dengar suara berat itu berbisik.

"Aku harap kau merasa baikan, Ling Tong."

Jemarinya bermain satu sama lain, ia ubah posisi tautan jari-jari itu untuk merilekskan tubuhnya yang tegang. Ling Tong tak habis pikir maksud dari kalimat terakhir Gan Ning sebelum akhirnya ia tertidur pulas dan belum bangun hingga sekarang. Kalimat itu terus berulang di otaknya, bagai melodi yang sejenis dengan nyanyian bell di pinggang sang pemuda.

'"Ling Tong!"

"Aku harap kau merasa baikan."

"Aku kebetulan lewat sini."'

"Tch, apa-apaan," gumam Ling Tong menggigit bibirnya. Jelas tadi malam Lu Meng dan Taishi Ci datang bersama prajurit-prajuritnya, memadamkan api yang sudah menghanguskan rumah penuh kenangan itu, mengangkat tubuh Gan Ning ke dalam kereta dan bertanya apa Ling Tong baik-baik saja. Tak menjawab, pria berusia 18 itu hanya menarik nafas dalam dan mengalihkan tatap temunya dengan Lu Meng. Lalu apa yang ia dengar setelah itu? Bukan tanya, protes maupun jawab melainkan sebuah pernyataan.

"Gan Ning langsung berlari saat seorang petani mengabarkan rumah Ling Cao terbakar. Aku sudah menghentikannya, kami baru pulang perang dan ia memiliki luka dalam namun- ah, benar-benar; bajak laut itu. Sekarang ia tidur pulas dan menambah kerjaan kita."

Ling Tong menelan ludahnya, menutup mata, mencoba lebih mengingat kalimat-kalimat Lu Meng.

"Ling Tong, kau terlihat terguncang. Mari kita pergi ke tabib dan cek luka-lukamu, lalu pikirkan untuk tempat tinggalmu nanti."

Gelengan kepala kencang. 'Ah, tidak, bukan yang ini, yang selanjutnya. Kalimat selanjutnya...'

"Kau harusnya lihat wajah Gan Ning saat itu. Panik dan marah, larinya benar-benar cepat. Sepertinya ia khawatir padamu."

Ling Tong meremas bajunya, merasa jantung itu berdetak lebih kencang sebelum rasa sakit yang hangat muncul dari dadanya. Gan Ning, khawatir? Siapakah dia ini, hanya seorang yang terus diejek dan tak jua mampu membalas dendam. Bukan pula kawan seperjuangan yang pantas untuk dipertahankan maupun benda berharga. Lalu mengapa bajak laut bodoh itu dengan berani menyelamatkannya seorang diri?

Mungkinkah tidak ada alasan lain selain memang kebodohannya itu?

Lalu mengapa ia harus berbohong dengan berkata 'perang mudah' dan 'kebetulan lewat'?

"Aku harap kau merasa baikan, Ling Tong."

Ling Tong meringis pelan, memegang perutnya yang terasa panas, berjongkok menyembunyikan perasaan yang bergejolak. Apa maksud kalimat itu? Baikan, baikan karena apa? Karena berhasil membalas dendam? Karena diselamatkan? Atau karena,

Karena bajak laut itu merasa lega?

Semua pikiran ini benar-benar membuatnya gila.

Ia lirik tubuh kekar yang tertidur tak jauh darinya, terlihat tenang di bawah sinar mentari yang mengintip dari sela tirai. Guratan keras di wajahnya begitu jelas dengan dagu yang runcing dan bibir tipis. Mata tajam yang penuh percaya diri itu menutup sejak kemarin, menyisakan abu yang telah dibersihkan oleh gadis-gadis pelayan. Tato naga yang terlihat jelas berwarna hijau kecoklatan, Ling Tong perhatikan pelan-pelan. Dari punggung, lengan, menuju dada yang bidang. Dilanjutkan dengan tato bagai kobaran api di pinggang sang pemuda yang berakhir di balik celana. Semua itu membuatnya teramat jantan, terutama otot-otot yang terlihat begitu terlatih...

Ling Tong sedikit tersentak ketika tubuh itu menggeliat, merasa malu mendapati dirinya memperhatikan Gan Ning dengan begitu serius, berharap tidak ada satupun yang menyadarinya. Tubuh Gan Ning terus bergerak, seolah merenggangkan tubuh, dan ia dengar suara berat itu menggeram. Bagai kucing yang besar, tawanya perlahan.

"Selamat pagi, Nona," Gan Ning menoleh ke arah Ling Tong, tersenyum simpul. "Tawa yang cantik. Sedetik tadi kukira aku sudah ada di surga."

Ling Tong menaikkan sebelah alisnya, ekspresi itu masih belum mampu menyembunyikan semburat merah yang manis. "Hah? Kau bercanda. Atau kau benar-benar ingin kubuat terbang ke surga?"

Gan Ning menyeringai, mengelus rambut coklat muda itu ke belakang. "Nah, kau terlambat, malaikat pencabut nyawa. Aku sudah pulih dan siap untuk bertarung."

"Itu benar. Bisa kau katakan mengapa kau menjawab tantanganku semalam sementara kau sendiri terluka parah, Tuan Hebat?"

"Karena aku yakin bisa menang, mungkin?"

"Apa-apaan?" Ling Tong membelalakkan matanya, "kau tidak perlu mengatakan hal itu jika kau benar-benar yakin."

Gan Ning bersender di dinding. "Mengatakan apa?"

"...Kau lupa?"

Gan Ning mengangguk, si pemuda menelan ludahnya. Ia tidak yakin untuk mengulang kalimat yang terdengar begitu memalukan, jadi ia berpikir keras untuk mencari alasan yang lain.

"Err... Tentang makan malam? Sepertinya, aku juga tidak terlalu ingat..."

"Kau jelas tak pandai berbohong," dengan tawa tipis, "aku lupa aku bilang apa. Apa aku menggodamu? Memegang bokongmu dan berkata kau seksi, mungkin?"

Reaksi Ling Tong membuat tawa itu terdengar makin keras. "Sepertinya bukan, ya?"

"Diamlah," suara itu terdengar tertahan, "memalukan. Kau melecehkanku!"

"Tidak, gadis kecil, aku tidak. Kau persis seperti tebakanku saat kali pertama kita bertemu."

"Apa, hah?"

Menatap mata Ling Tong yang berkilat, Gan Ning tersenyum. "Rahasiaku, bocah. Mungkin aku akan memberitahumu, tapi tidak untuk saat ini."

Ling Tong kembali menaikkan sebelah alisnya, namun memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan itu. Ia duduk di kursi terdekat, menyilangkan kakinya. "Jadi, bagaimana kondisimu?"

"Luar biasa," Gan Ning tertawa, "Terima kasih untukmu, lukaku tambah parah."

"Kau sendiri yang meminta, aku tidak tahu apa-apa." dalih remaja tanggung itu.

"Tapi kau baikan, kan?"

Ling Tong bangun dari duduknya. "Ah-"

"-Setelah sekian lama, ini kali pertama kita bicara lagi."

"Kau," Ling Tong berkacak pinggang, meneruskan kalimat yang tadi dipotong oleh pria yang kini menopang kepala dengan kedua tangannya, "kau bilang kau lupa? Kau mempermainkanku?"

"Maaf, tapi aku tidak."

"Ya, kau ya. Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil, aku pria dewasa. Kau tahu berapa umurku?" Ling Tong membuat angka delapan dengan jari-jarinya, "Tahun ini, aku sudah masuk delapan-"

"Delapan tahun. Selamat nak, kau sudah 'besar' sekarang."

"Delapan belas!" Ling Tong berteriak kesal, pipinya kembali memerah, "astaga, apa kau bisa membiarkanku menyelesaikan kalimatku?"

Gan Ning hendak menjawab perkataan Ling Tong, namun deheman berat dari balik pintu membuat keduanya menoleh. Lu Meng, dengan senyum yang benar-benar mengejek-menurut Ling Tong-bersender di daun pintu. Ia menggulung kedua tangannya di depan dada, menutup mata, menyudahi senyum itu dengan kekehan kecil.

"Kalian sudah akrab? Bagus sekali."

"Bleh."

Reaksi 'jijik' Ling Tong membuat Lu Meng menghentikan tawanya. Menatap pemuda yang masih menjulurkan lidahnya, Lu Meng menghela nafas dan mengalihkan perhatian pada Gan Ning. Gan Ning tersenyum.

"Yo, Oldman. Aku sudah cukup pulih untuk arak dan makanan enak."

"Simpan itu untuk nanti, Gan Ning," Lu Meng menatap kedua pria di depannya secara bergantian, "Malam ini Lord Sun Quan menggelar pertemuan. Kalian berdua harus datang."

Ling Tong mengerdikkan kepalanya. "Untuk apa?"

"Liu Bei," pria berkuncir rendah itu menoleh sebentar sebelum pergi meninggalkan mereka berdua, "Ia meminta kerja sama."


-TO BE CONTINUED-


A/N:

Hai semua! Saya harap saya tidak terlalu cepat mengupdate fanfic ini " pace nya sangat lamban, saya khawatir para pembaca akan merasa bosan...

Saya mengambil event kebakaran itu dari sejarahnya. Ah, Gan Ning benar-benar hebat, bukan? Bagai pahlawan menolong Ling Tong yang hanya dapat menangis~ *fangirling*

Ling Tong dalam sejarah sangatlah imut, ia sering menangis :3 di fiksi (Dynasty Warriors) dia menjadi pria yang tsundere, dan saya berusaha memadukan kedua sifatnya :3

Kalimat "aku harap kau merasa baikan" dari Gan Ning itu pun saya ambil dari Dynasty Warriors, saya terus berpikir mengapa Gan Ning berkata lembut dan Ling Tong tidak jadi membunuhnya... Saya benar-benar menyukai pasangan ini *blush*

Ah, saya terlalu banyak bicara. untuk yang belum bosan silahkan nantikan chapter 4 ya!

Kritik dan saran berupa review akan sangat membantu. Jadi, jangan segan~