-`Teman itu untuk Selamanya'-

Disclaimer : Aoyama Gosho
Rated : T
Genre : Friendship,
WARNING : typo, OOC, POV suka-suka Author, kadang alur gak jelas, ceritanya gak berkualitas, gak terlalu romantis menurut aku (maklum Author gak pinter soal cinta)

Summary : Shiho tak menyangka sebelumnya setelah ditinggal ibunya maka ia harus berpisah dengan ayahnya. Ditengah siksaan batin karena pamannya Gin, ia bertemu orang-orang yang akan menjadi penyelamat hidupnya. Dalam kehidupan itu ia sekarang menggunakan nama Ai Haibara sampai akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan ayahnya.


Shiho masih gemetara melihat pistol di arahkan padanya. Apa dia benar - benar tidak akan selamat? Tapi, sekalipun selamat tak ada gunanya dia tetap hidup di dunia karena tak ada lagi kebahagiaan selain tetap berbohong pada orang lain dengan harapan orang tersebut tidak akan pernah marah sekalipun dia tau Shiho telah membohonginya.

Shiho menangis di tengah kecemasannya. Dia sudah menerima apa pun yang terjadi bahkan mati sekalipun. Namun, kenapa hatinya tidak ingin mati sekarang? Vermouth hanya tersenym tipis melihat Shiho yang menangis tersedu - sedu. Pemandangan bagus melihat anak tirinya yang dikenal jenius menangis tersedu - sedu meratapi nasibnya yang tidak beruntung. 'Bagus sekali', gumam Vermouth bahagia.

PRANGGG!

Kaca mobil bagian depan pecah berkeping – keeping karena sebuah bola dengan cepat melesat ke arah Vermouth. Semua yang ada di dalamnya jadi terkejut. Shiho dengan cepat melindungi wajahnya dari pecahan kaca tersebut. Sementara Vermouth yang pistolnya terlempar karena bola tidak sempat melindungi wajahnya.

"Hei, siapa yang melakukan ini?" tanya Vermouth garang.

"Aku yang melakukannya!"

"Tunjukkan dirimu!"

"Aku di sini!" dan muncullah Conan dengan percaya diri sambil tersenyum licik.

"Anak ingusan! Mau apa kau?"

"Aku hanya ingin kau kembalikan Ai!"

"Ai? Maksudmu gadis bodoh ini?" tanya Vermouth sambil menarik rambut Shiho sehingga dia mendekat dan menjauhkan tangan Vermouth dari rambutnya.

"Hei, jangan lakukan itu pada Ai!" Conan berteriak mencoba menghentikan Vermouth.

"Memangnya apa untungnya aku melepaskan anak ini? Kau itu siapanya?"

"Kau sendiri siapanya?" Conan balik bertanya.

"Aku?" Vermouth tersenyum licik, "Aku ibu tirinya."

Conan tersentak kaget dan bergumam, 'yang benar saja itu ibunya?'. Sementara itu Vermouth yang masih tetap menarik rambut Shiho bergerak dengan cepat dan menodongkan pistolnya ke arah kepala Shiho sambil berkata, "Hei, kau! Bagaimana sebaga hukuman meempar bola padaku kau yang pertama kali melihat gadis ini mati?"

Conan dengan marahnya kembali mengambil ancang – ancang untuk menendang apa pun di dekatnya dan DORR! Siapa kali ini yang tertembak?

"Vermouth, jangan bergerak kau!"

"Kau . . . Suichi?" ujar Vermouth gugup karena terkejut.

"Senang bertemu denganmu lagi Vermouth," balas Shuichi dengan senyum terkembang.

"Aku pun begitu," ujar Vermouth sambil mencari – cari sesuatu di dalam mobil.

"Berhenti kau, atau kutembak kau sekarang! Aku sudah memanggil polisi." Ancam Shuichi namun Vermouth tidak gentar. Ia tetap mencari sesuatu di dalam mobil tersebut.

"Kau berusaha mengancamku Shuichi? Silahkan saja kalau kau mau menembakku, dalam mobil ini ada bom yang akan membuatku dan gadis kecil ini dalam bahaya," Vermouth tersenyum dengan riang penuh kemenangan sambil menarik Shiho yang terkulai lemas di dalam mobil.

"Sial," runtuk Conan dalam hatinya. Dia ingin sesegera mungkin melempar apa pun pada Vermouth, namun jika mengenai bagian mesinnya maka berakhir sudah hidup Shiho. Andai saja dia bisa menarik Shiho jika sudah mulai hitungan mundur.

"Vermouth," panggil Shuichi membuat yang dipanggil menoleh bingung padanya, "Aku tak peduli akan apa pun yang kau katakan, aku akan menembakmu sekarang!"

"Hei, jangan! Kau bisa membahayakan nyawa Shiho," teriak Conan histeris. Shiho yang mendengar ucapan ayahnya tadi agak terkejut namun kemudian dia berkata, "Ayah, tembak saja aku maka semua akan bahagia. Aku akan mengatakan pada ibu kalau ayah masih mencintainya di surge nanti."

Dengan butiran air mata Shuichi menembak Vermouth beserta mobilnya sekaligus.

Tiga . . . Dua . . . Satu . . . .

Hitungan mundur selesai dan meledaklah mobil tersebut. Menghilangkan jejak kehidupan dua wanita di dalam mobil tersebut. Shuichi dan Conan yang sudah berlindung di tempat yang aman tidak terkena dampak dari bom yang meledak dengan tidak terlalu kuat itu. Namun yang berada di dalam mobil seperti Shiho dan Vermouth tidak selamat dan kemungkinan meninggal.

Sadar akan kenyataan tersebut Shuichi menangisi kebodohannya yang merelakan Shiho pergi selamanya menyusul ibunya yang telah meninggal terlebih dahulu. Sementara Conan adalah yang paling menyesal saat ini. Bagaimana tidak, Conan sudah kehilangan Ran, dann sekarang kehilangan Ai yang sudah dianggapnya sederajat sebagai pengganti Ran.

Dengan kaki gemetar Shuichi mendekati puing – puing bekas ledakan. Terlihat sangat mengerikan. Conan yang merasa sedikit trauma bahkan tidak berani melihat bekas ledakan. Baru setelah lewat setengah jam, ambulans dan polisi datang ke tempat kejadian tersebut.

Detektif Kogoro, Ran dan Profesor juga datang untuk melihat. Dan hasilnya mereka menjadi syok berat. Apa lagi Ran yang baru kali ini melihat pengeboman. Professor dengan sangat sedih mendekati Conan dan berkata.

"Sudahlah, jika kita tetap bersedih seperti ini maka Ai juga akan sedih." Profesor berusaha menenangkan Conan.

"Tapi professor-" Conan seakan tidak setuju dengan Profesor.

"Kamu ingin yang terbaik untuknya kan?" Profesor bertanya sambil tersenyum. Conan tau itu adalah senyuman palsu namun dia membalas dengan senyuman kemudian

"Aku paham professor. Hanya saja kenapa dia mau mati begitu cepat dengan cara seperti ini?"

"Ada hal yang dipikirkan seseorang namun kita tidak tau." Profesor berusaha berkata bijak namun dia tidak bisa karena hatinya juga sedang tertekan.

"Ya, yang pasti sekarang Ai sudah tidak ada lagi." Conan menunduk lesu. Kemudian butiran air mata jatuh ke tanah membasahi daratan yang kering. Begitu pula profesor yang jadi semakin iba melihat Conan.

Sore itu, langit senja kemerahan menghiasi langit menandai kepergian seseorang. Conan menatap langit itu dengan sendu. Mungkinkah orang seperti Ai akan muncul kembali ke dalam hidupnya?

Tidak ada yang tau jawabannya. . . .

Tamat

Tamat nih fic ku. Lega rasanya. Mungkin aku tidak akan membuat fic sementara ini. Ada fic lain yang harus aku selesaikan nih. Akhir kata, aku ucapkan terima kasih kepada reader yang mau me-review fic ku ini.

Terima kasih semuanya!