Why Not?

By: Ietsuna G. Ventisette

G27

Cast: Giotto (Ieyasu Sawada); Tsunayoshi Sawada

Rated: M

Genre: Drama, Romance

Katekyo Hitman Reborn!

©Akira Amano


[!]

OOC

GiottoxTsuna

PuriTsuna

Lime

•••


Sawada Tsunayoshi tak menyangka jika ia akan menjadi kekasih dari seseorang yang sangat ia kagumi, Giotto. Seorang guru baru di sekolahnya.

Tak banyak yang tahu akan hubungan mereka. Karena ini termasuk rahasianya bersama sang guru. Yang tahu pun pasti takkan menyangkanya.

Seperti biasa, setiap bel sekolah berbunyi pertanda pulang, Tsuna selalu pergi ke perpustakaan untuk menemui gurunya itu. Dengan debaran jantung yang tak karuan, ia memasuki perpustakaan. Yang di mana sang guru, Giotto tengah menunggunya di tempat biasa.

"Se, sensei," kata Tsuna sangat gugup.

"Tsunayoshi? Kemarilah," kata Giotto seraya menutup buku yang sedang ia baca.

Tsuna mengangguk pelan. Ia mendekati Giotto dan duduk di sampingnya.

Giotto tersenyum kecil. "Bagaimana sekolahmu hari ini?" kata Gioto berbasa-basi.

"Lumayan," kata Tsuna. Sangat buruk Sensei tambah Tsuna dalam hati.

Giotto menepuk pelan kepala Tsuna. "Tapi sepertinya wajahmu tidak berkata demikian, Tsunayoshi."

"Eh?" Tsuna meraba wajahnya. "Ti... tidak seperti itu," katanya seraya menunduk malu.

Giotto hanya tersenyum tipis. Kemudian ia melingkarkan tangannya di pinggang Tsuna yang ramping. Mendekatkan tubuh itu ke arahnya. "Kau tidak perlu malu, Tsunayoshi," bisik Giotto tepat di telinga Tsuna.

Tsuna bisa merasakan napas sang guru yang berembus di telinganya. "Um, i-iya, sensei."

"Jangan menunduk terus. Aku tak bisa melihat wajah manismu, Tsunayoshi," kata Giotto pelan. Namun bernada sedikit menggoda.

Perlahan Tsuna mengangkat wajahnya dan mengalihkan pandangannya pada Giotto. Semburat merah langsung menghiasi wajah Tsuna. Wajah itu terlalu dekat dengannya.

Dalam diam Giotto meraih dagu Tsuna dan memberinya ciumam singkat. Ia tersenyum puas. Wajah manis yang membuat ia ingin sedikit menggodanya.

Tsuna terdiam seribu bahasa. Padahal mereka sudah sering melakukannya. Tetapi Tsuna masih belum terbiasa.

"Kau membuatku bingung," kata Giotto seraya membelai wajah Tsuna lembut. "Kau menginginkan sesuatu dariku?"

Belaian itu membuat Tsuna merasa nyaman. Ia menggeleng pelan. Tsuna menggenggam tangan Giotto yang tengah membelainya.

"Ada apa?"

"A-aku..." Tsuna tak bisa mengatakannya. Ia bingung.

Giotto menarik tangannya dan menarik Tsuna ke dalam dekapannya. "Masih sulit untuk bicara?"

Tsuna hanya mengangguk sebagai responnya.

Giotto merasa sangat gemas pada anak didiknya yang satu ini. Bisa-bisa ia hilang kendali karenanya.

"Sensei?"

"Hm?"

"Bukan apa-apa."

Giotto membuat jarak dan mengecup kening Tsuna. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Tsuna dan menjilat daun telinganya.

"Se-sensei..."

Giotto tak berhenti sampai di sana. Ia pun menarik kerah Tsuna turun hingga targetnya terlihat. Ia kecup leher jenjang Tsuna.

"Umh..." Perlakuan ini... Tsuna sudah terbiasa dengannya. Karena ia pun menyukainya.

"Kau tetap sensitif."

Entah Tsuna harus senang atau malu dengan pernyataan itu. "Sensei..."

Tangan Giotto bergerak menelusuri paha Tsuna. Ia membelainya perlahan. Hingga tangannya bergerak ke daerah terlarang. "Kau sudah bangun," katanya setengah berbisik.

Tsuna menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan Giotto mulai bermain di tempat itu. Gerakan tangan Giotto merangsangnya. Ia mulai merasa sesak dan akan segera keluar.

"A-ah, sensei..." Tsuna mulai terdesak.

"Jangan ditahan."

"U-umhh..." Tsuna memang menahan suaranya mati-matian. Tapi tetap saja lolos dan meluncur begitu saja.

"Anh."

"Basah."

Ya, basah. Tsuna bisa merasakannya dengan sangat jelas. Dan ia merasa tidak nyaman setelahnya.

"Sensei."

Giotto tak menyahut. Ia malah membungkam bibir Tsuna dengan bibirnya. Ia menciumnya setengah lapar. Bibir tipis nan mungil itu ia kuasai. Bahkan Giotto pun menahan tubuh Tsuna agar tidak menghindar.

Tsuna hanya bisa menerimanya. Ia pun tak bisa menghindar. Lagipula ia pun menginginkannya.

Giotto mengakhirinya setelah Tsuna mulai kesulitan bernapas. Ia sangat puas dengan apa yang ia lakukan pada Tsuna.

Tsuna mengatur napasnya. Giotto benar-benar seperti akan melahapnya saat itu juga.

"Kau menyukainya?"

Tsuna mengangguk pelan. "Ya," akunya.

"Butuh privasi?"

Tsuna mengangguk lagi. Ia merasa Giotto membuatnya mabuk. Dan juga terus menginginkannya.

•••

•Fin•


Thanks for reading minna-san!

Ciao!

[Ietsuna G. Ventisette]