NEW ARC : Diary Book 1

Genre For Dis Chap : Fluff, Romance

Rate : T+/Slight M Maybe?

A/N : Chapter diary bukan berarti sudut pandang selalu 'pemilik diary' tersebut.. Kadang ada 'Author POV', itu berarti peristiwa yang bersamaan dengan kejadian di diary namun tak disadari oleh 'pemilik diary'. Yah, semoga mudeng lah ya maksud akuu wkwk J

Oh yak, note lagi, Sonchou itu Kades ya gaiss, Kades:Kepala Desa. Udah tau? Ndapapa ngasih tau aja:v

Kalau ada kata tak baku, mohon dimaafkan ya zheyenkk ;))

Hepi readingg..


Sakura : Aku mungkin memulainya dari sini?

Sai : Yap, diary ini seperti runtutan peristiwa yang berurutan, lihatlah saja, setiap buku diberinya nomor

Naruto : Benar, aku membacanya urut nomor dan memang ceritanya bersambung, ini aku sudah diary ke-3!

Sakura : Baiklah, akan kubaca urut.


Owner's Note :

Ini pertama kalinya aku menulis diary, hehe.. aku tidak tahu pasti bagaimana penulisan diary yang benar itu. Sekarang usiaku 25 tahun, tiba-tiba saja aku ingin menulis peristiwa-peristiwa penting yang aku alami, seperti masa kecilku mungkin? Ah, aku tak terlalu ingat, tapi yang pasti ada kenangan yang masih kuingat dan hendak kutulis disini. Mungkin satu buku tak muat? Ah, aku tak tahu, mungkin buku selanjutnya akan lebih benar lagi penulisan diaryku ini.


Dear diary,
Sejak kecil, sesuatu tragis menimpaku. Kedua orangtuaku meninggal.
Mirisnya aku hanya bisa melaksanakan perintah terakhir mereka. 'Jangan keluar rumah sebelum kami pulang. Makanlah yang banyak, semua persediaan makanan untukmu'


Dan aku tak akan keluar rumah. Hingga mereka pergi meninggalkanku selamanya. Hingga persediaan makanaan habis. Hingga hari ulangtahunku ke delapan tahun.

Tapi sampai hari itu tiba. Aku memutuskan keluar rumah, suhunya benar-benar lebih dingin dan menyakitkan tentunya untuk anak rumahan sepertiku.
Aku mencoba mencari makanan meski sepertinya akan susah, membawa keranjang kecil untuk wadah makanan yang akan kukumpulkan.

Hujan-hujan aku berkelana sendirian, namun nihil hasilnya tak ada yang mau memberiku sedikit makanan. Yang kutemui hanyalah bekas-bekas ledakan, senjata-senjata yang terhampar, dan genangan air yang disertai rintikan hujan.
Kembali sudah diriku pada rumah. Aku hampir mati kehabisan tenaga. Bukan hampir, tapi sudah seratus persen tidak ada tenaga.

Aku menyerah hidup. Orang yang aku cintai, mereka kedua orangtuaku pergi meninggalkanku sendirian.
Apa ini sudah menyerah? Tubuhku lemas dan jatuh di halaman depan rumahku. Tak ada waktu untuk berteduh dari hujan. Badanku sudah menggigil dan basah tanpa terkecuali.
"Kalau begini, aku ingin mati menjemput orangtuaku saja!" ucapku menangis. Inilah akhirnya, tapi saat itu aku entah kenapa aku tidak jadi menyerah.

Karena tiba-tiba
Aku tak merasakan air hujan yang membasahi diriku lagi. Aroma roti yang biasa Okaasanku masak, tercium hidungku.
Aku membuka mataku lebar, menggerakkan sedikit kepalaku ke atas, uluran tangan dengan roti yang digenggamnya.

"Makanlah..!" ucap sosok itu. Ia bersurai jingga dengan mata cokelat yang indah. Terlihat dari tubuhnya sebaya dengan umurku. Aku sangatlah bersyukur meski hanya sepotong roti yang ditujukan padaku.

Namun anak laki-laki itu segera menarik tanganku seusai aku menghabiskan roti pemberiannya.
"Kemarilah! Aku mempunyai banyak persediaan makanan!"

Aku tak tahu, mengapa dia bisa sangat ceria di desa yang kejam ini? Tangannya yang dingin namun mengapa aku bisa merasakan kehangatan di wajahnya? Apa karena senyumnya yang hangat?

Banyak pertanyaan yang mengusik pikiranku sampai kami telah sampai pada gua yang dimaksud.
"Namaku Yahiko!" ia mengulurkan tangannya padaku. Dengan kekehan kecil dan senyuman yang sama hangatnya seperti api penerangan di gua ini.

"Namaku Konan" jawabku mencoba tersenyum setulus anak yang bernama Yahiko itu.
Kami berjabat tangan bersama sebagai awal perkenalan. Sejak saat itu aku bisa tersenyum, dia menolongku dan membuatku untuk tidak menyerah soal hidup.
"Mengapa kau berbaring sambil hujan-hujan?" tanyanya soal diriku tadi.

"Aku menyerah. Aku ingin menjemput orangtuaku saja, mereka satu-satunya yang kucintai" tuturku dengan jujur.

"Kalau kau seperti itu, tidak ada yang bisa mengubah hidupmu! Berinteraksilah dengan oranglain dan jangan terus menyerah! Mereka akan menyayangimu juga" ujarnya membuat hatiku terketuk untuk bersemangat.
Rasanya anak baru ini sudah berhasil membuatku bangkit untuk mencapai semangat hidup.

"Terimakasih, Yahiko"
Ia hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Lalu berbalik membawa beberapa makanan.
"Hari ini aku ulangtahun loh! Makanlah! Ini traktiranku!" ucap Yahiko membawa beberapa apel dari kantong kreseknya.
Aku sedikit terkejut menerima tuturan Yahiko soal ulangtahunnya. Hari ini aku ulang tahun juga!

"Benarkah? Aku hari ini juga ulangtahun!" timpalku membuat Yahiko segera menggerakkan kepalanya menatapku dengan mata yang sama terkejutnya denganku.
"Hah?! Berarti kita..."
"Iya!"

Kami tertawa bersama. Seolah menghapus semua kesedihan yang kami alami. Yahiko juga memberitahuku bahwa ia senasib denganku. Orangtuanya meninggal karena perang dunia ninja kedua. Kami pun harus bisa menghadapi takdir yang sama. Kami mempunyai banyak kesamaan.

Meski masih mengandalkan sedikit makanan dan banyak pengorbanan kecil, kami masih bahagia dan tak mengeluh soal hidup. Aku seperti ini sudah seperti melupakan masa laluku yang kelam saat berumur tujuh.

"Kalau kau masih mengingat-ingat itu, lupakanlah! Ingatlah dan jagalah sesuatu yang membuatmu bahagia" ujar Yahiko ketika aku bersedih mengingat atas kematian orangtuaku dahulu.
"Ingat dan jaga? Sesuatu yang berharga?" aku masih belum paham apa yang dikatakan. Sesuatu itu mungkin saja berupa barang berharga, atau seseorang yang aku cintai seperti orangtua bukan?

Dua tahun berlalu. Kami masih bersama. Yahiko banyak mengajariku cara bertahan hidup. Kami sudah terbiasa mencuri makanan, dikejar warga, dan mencari uang.
Dan hari ini.. Hari tepat kami berumur 9 tahun.

"Konan, apa kau suka origami?" tanya Yahiko tiba-tiba. Membuatku menaikkan sedikit alisku.
"Tidak terlalu" jawabku masih penasaran dari apa yang ia tanyakan barusan. Biasanya kami hanya berbagi cerita dan persediaan makanan.
Tapi mengapa tiba-tiba origami?

"Ah, kau tahu? Hari ini kita ulangtahun! Aku membelikanmu setumpuk kertas baru untuk dijadikan origami. Yah, tapi kamu tidak terlalu suka origami ya? Maaf deh" ucap Yahiko sambil mengeluarkan tumpukan kertas putih barunya.
Hah? Kapan ia membelinya? Aku tidak tahu kapan ia pergi sendirian dengan tanpaku, biasanya kami kalau keluar selalu bersama untuk menjaga satu sama lain. Tapi lupakan itu, jadi Yahiko memberiku setumpuk kertas untuk origami pada hari ulangtahunku ya?

Aku memang tidak terlalu suka origami, namun ini adalah hari ulangtahunku, dan kulihat senyum kecut Yahiko terpampang di depanku menyatakan bahwa ia menyesal membelinya. Aku sangat merasa bersalah, masalahnya aku tak dapat membuat origami.

"Arigato, ne Yahiko" ucapku akhirnya meminta setumpuk kertas yang Yahiko bawa.
Ia tercengang, ketika aku mengulurkan tanganku memintanya. Mungkin Yahiko mengira aku sempat menolaknya. Ya, memang sebenarnya ingin kutolak, namun aku merasa tidak enak hati mengecewakan Yahiko. Sehingga aku menerimanya.

Yahiko memberikannya padaku, senyuman kecutnya berubah menjadi senyuman lega. Aku menyukai itu, karena aku benci Yahiko ketika sedih.

"Oh, Konan! Kalau kau tidak bisa membuat origami, aku akan mengajarkanmu caranya"
"He? Kau bisa origami ya?"
"Nggak, hehe, aku bisanya origami pesawat terbang saja!" kekehnya malu.

Yahiko mengambil sebuah tinta dan bulu, ia menuliskan sesuatu dengan cepat pada salah satu lembar kertas yang kubawa.
Aku tak dapat melihatnya, apa itu tulisannya.
Setelah meletakkan kedua alat tulisnya, ia melipat kertas putih tersebut menjadi sebuah bentuk origami, tepatnya pesawat terbang yang ia janjikan membuatnya untukku.

"Pesawat terbang untukmu!" ucap Yahiko terkekeh. Aku kagum melihat lipatan pesawatnya begitu rapi tanpa cacat sedikitpun.
Andai aku bisa origami..
Yahiko senang origami, aku ingin mempelajarinya, entah mengapa aku mempunyai ambisi kuat untuk belajar origami.

Aku menerima pesawat terbang yang melesat terbang ke atas kepalaku.
"Jangan sampai hilang ya? " Aku mengangguk dengan senyuman lebar dan bersyukur.
"Arigato.."

Padahal aku ingin membuka suratnya, apa isi tulisan tersebut? Namun aku merasa, aku tidak bisa membukanya. Rasanya hatiku tidak ingin menghancurkan lipatan kertas Yahiko. Aku tidak tahu, apa yang salah pada lelaki ini.


"Konan! Kita cari senjata yuk! Mungkin bisa membantu kita dari serangan sewaktu-waktu"

Aku mengernyitkan dahiku lagi, maksud Yahiko tentang senjata. "Memangnya kita punya cukup uang?" tanyaku, mengetahui senjata ninja itu harganya cukup mahal kalau di desa ini. Entah di desa sana, aku sudah memperkirakannya kemungkinan lebih murah. Kegiatan ekonomi disini seperti dimonopoli oleh Sichidaime sonchou-Hanzo.

"Kita tawar saja!" timpalnya dengan santai, ia memberikanku payung yang kemarin kami pernah curi. Memakai boot bekas dan membuka payung miliknya, aku pun akhirnya juga melakukan hal yang sama dengan Yahiko. Menurut saja apa perintahnya, aku sudah merasa senang seperti itu.

Kami telah pergi dari gua. Ini sudah hampir malam dan udaranya menjadi lebih dingin dari waktu sebelumnya, tentu saja.
Yahiko menggenggam tanganku kuat tiba-tiba. Bukan mencengkeram, namun hanya menggenggam. Aku tak tahu mengapa, payung miliknya ia jauhkan sedikit agar tidak terbentur dengan payungku.
"Kau kedinginan ya? Sebentar lagi kita sampai kok!" ucapnya.
Sepertinya ia mencoba menghangatkan tanganku. Aku merasa ada yang salah, jantungku berdetak kencang. Kenapa ini?

Yahiko menyuruhku untuk berteduh, ia berkata bahwa aku harus menunggunya selagi ia membeli senjata. Aku mengangguk saja, dan menjaga kedua payung kami yang telah terlipat.
Udaranya sangat dingin di luar, untung aku masuk ke dalam toko dan dapat menghangatkan diri pada obor kecil di dalamnya.

Melamun aku melihat hujan, kenangan-kenangan pahit masalalu terputar kembali seiring turunnya hujan. Entah kenapa..
Aku melihat, sesuatu yang menyedihkan.. Orangtuaku yang seorang ninja, mereka meninggalkanku saat perang. Tidak ada yang belas kasihan untuk memberiku makan atau merawat jenazah orangtuaku yang dikirim di rumah. Tidak ada.
Tidak ada namun,

"Konan.." panggil Yahiko. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, melihat wajahnya yang terlihat masam.
"Kita tidak dapat senjata"

Aku turut merasa kecewa seperti apa yang dirasakan Yahiko tersebut. Kami beranjak dari toko, hendak pulang meski dalam keadaan hampa.

Yahiko masih menggenggam erat tanganku, berusaha untuk menghangatkan meski hanya tangan kiriku.
Aku merasa Yahiko menatapku lama, aku balas tatapannya. Saat itu Yahiko memasang raut sedih ketika melihat mukaku yang masih kecewa. Di wajahnya, aku melihat rasa bersalah lagi padaku.

Yahiko menoleh ke belakang ketika aku menatap mukanya. Entah kenapa jantungku menjadi berdetak kencang lagi. Yahiko terkesiap ketika menoleh ke belakang, aku pun juga akhirnya. Namun, kukira ada serangan.
"Konan! Berhentilah, tutup matamu!" aku menutup mataku meski ketakutan. Tiba-tiba saja Yahiko menyuruhku begini, aku menjadi sangat-sangat ketakutan kalau-kalau di belakang kami ada penjahat.

"Jangan kemana-mana ya?" ungkap Yahiko, aku merasakan tidak ada rasa ketakutan dari dirinya.

Kecipuk-kecipuk genangan air dari belakang, yang menandakan bahwa Yahiko telah berlari ke belakang. Suara samar-samar miliknya telah berpadu dengan suara asing pria dewasa yang seperti melakukan percakapan. Kembali aku was-was, sesuatu terjadi kah? Aku tidak mau Yahiko terluka.

Tiba-tiba saja aku menangis, takut Yahiko meninggalkanku.
"Nah, sekarang bukalah matamu!" ucap Yahiko yang terdengar tiba-tiba telah berada di depanku.

Membuka mataku, jantungku berdetak kencang lagi, aku merasa ada yang aneh lagi. Mungkin karena saat ia menjulurkan tangannya padaku dengan menggenggam tangkai bunga mawar putih yang ujung kelopaknya sedikit rusak.

"Maaf telah mengecewakanmu, jadi tadi aku menemukan penjual bunga dan ia hendak membuang bunga yang telah rusak ujungnya ini. Tapi aku memintanya untuk kuberikan padamu. Yah, meski ini tak sempurna, tak apalah yang penting kamu senang" ucapnya dengan senyuman yang takut sepertinya aku akan menolak bunganya.

Namun pada diriku, mukaku terasa memanas. Aku tak tahu, kenapa rasanya senang dicampur jantung yang berdetak kencang. Yahiko memandangku penuh selidik, lalu aku mendapati telinga hingga pipinya memerah.
Apa dia juga merasakan perasaan aneh yang sama sepertiku?
"Tidak apa-apa kok, oh aku suka sekali bunganya" ucapku tersenyum menerima bunga pemberian Yahiko.
Wajahnya semakin memerah, begitu pula wajahku yang terasa memanas. Apa pipiku juga memerah seperti dirinya?

"Kau tahu, Konan? Aku bersumpah akan melindungimu dari ninja-ninja jahat meski itu dengan pengorbanan nyawaku!" ujar Yahiko terkekeh. Namun dari kekehannya tidak terlihat main-main, ia benar-benar serius mengatakan kalimat itu.

Jantungku berdetak kencang lagi, wajahku kembali memanas seperti tadi, Yahiko memerhatikan sebentar keadaan wajahku, tiba-tiba wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Lalu membuang mukanya ke bawah malu-malu.

Perasaan apa sih ini? Aku merasa Yahiko sangat berarti padaku. Sesuatu yang membuatku ingin selalu kuingat dan kujaga, sesuatu yang berharga?

Aku baru menyadari. Ini..

.

.


AUTHOR POV

Hari ini hujan dan memang selalu hujan. Konan sendirian di rumah beratap merahnya sambil memasak makanan. Dalam hati ia berdoa, mungkin untuk keselamatan kedua sahabatnya?

Sesekali gadis berusia 17 tahun itu menatap jubah hitamnya yang tergantung tak terpakai pada paku dinding rumahnya. Di samping paku itu, juga terdapat dua paku yang tak terhinggapi benda apapun.

"Semoga Yahiko dan Nagato selamat, huh" batinnya dalam hati, masih fokus dalam kegiatan memasaknya.

"Hari ini kamu di rumah saja, biar aku dan Yahiko sama beberapa anggota Akatsuki lainnya saja yang berpatroli" ujar Nagato.

"Eh? Kenapa?"

"Sudahlah, kita bakalan pulang selamat kok" sahut Yahiko memantapkan perkataan Nagato.

"A.. ah, yaudah deh"

"Tadaimaa" ucap dari suara Nagato berasal dari pintu.

"Okaeri!" timpal Konan masih menata makanan yang ia masak pada meja makan. Melihat kedatangan sahabatnya sudah bersyukur, namun ia melihatnya memapah Yahiko entah kenapa.

Konan menghampiri mereka berdua khawatir, yah benar saja. Dilihatnya luka-luka berat menghiasi sekujur tubuh Yahiko yang meringis kesakitan.

"Ah! Apa-apaan ini? Kau tak apa, Yahiko?" gelisah Konan membantu Nagato memapah sahabat jingganya menuju kamar tidur. Setelah mendudukkan lelaki itu di atas kasur, Konan segera mencari kotak obat tentunya.

"Baka! Katanya bakalan pulang selamat! Kok malah pulang luka-luka begini?!" kesal Konan sambil mencari-cari kotak obat di lemari.

"Ah, Nagato kau gantikan aku saja dulu mengurus anak-anak Akatsuki lainnya" celetuk Yahiko, membuat Konan mengernyitkan dahinya tak mengerti.

"Maksudmu?"

"Tadi kita kena serangan, seharusnya aku yang datang ke anak-anak lainnya untuk mengecek, tapi.. ugh" desah Yahiko ketika hendak menggerakkan pinggangnya mencoba beranjak.

"Hei.. hei! Kamu masih terluka! Jangan kemana-mana dulu!" ujar Nagato kesal sesaat Konan membawa kotak obat yang baru saja ia ambil dari lemari.

Nagato menganggukkan kepalanya mengerti, mempercayakan kesembuhan Yahiko pada Konan, ia beranjak berdiri.

"Baiklah, jaga Yahiko baik-baik, Konan. Aku akan mengecek anak-anak Akatsuki lainnya" ujar Nagato sebelum akhirnya ia keluar dari kamar dan pintu rumah.

"Huh, Nagato saja nggak terluka sampai segini, kamu ini ketua tapi payah" ledek Konan membuka kotak obatnya.

"Hei, pemimpin baik mana yang tidak mau bertarung melindungi anggotanya?" timpal Yahiko mendengus kesal.

"Nagato kan ada? Dia itu sangat kuat, jangan terlalu menyerahkan semua beban pada dirimu sendiri. Nagato itu sahabat kita, dia juga pasti melindungi kita"

"Ak-"

"Aku tau kamu juga melindungi Nagato, tapi jangan semua dibebankan padamu. Kalau ia marah karena kau terluka, bisa-bisa ia membunuh orang-orang di sekitarnya lagi seperti dulu" potong Konan masih fokus menuangkan cairan obat pada kapas. Yahiko hanya terdiam.

"Buka jubahmu" perintah Konan bersiap mengobati luka Yahiko. Dengan pelan-pelan, Yahiko melepas jubahnya meski masih sakit lengannya untuk digerakkan.

"Aku tidak bisa melepas kimono dan dalamanku, badanku perih kalau digerakkan. Obati di sekitar sini saja"

"Tidak bisa! Lihat saja, lukamu sampai ke dalam kimono! Benar-benar parah!" tegas Konan, meminta Yahiko untuk benar-benar tidak menjadi pengecut.

"Tapi-"

"Ah, sudahlah! Biar aku saja yang melepas" desah Konan menaruh kembali cairan obatnya lalu perlahan membuka tali kimono lelaki itu. Menyisakan dalaman ninja ketatnya yang memang hanya bisa dilepas seperti kaos.

"Kalau memang sebegitu sakitnya, aku robek pakai kunai saja" ucap Konan yang kemudian hanya dibalas anggukan.

Mengambil kunai miliknya lalu pelan-pelan ia merobek dalaman ninja kotak transparan Yahiko. "Ah, Lukamu benar-benar parah dilihat dari dalamannya saja.."

"Sudah kubilang kan?"

"Huh! Nanti kau beli lagi saja kimono dan dalamannya! Sudah rusak!" ujar Konan memalingkan kepalanya tiba-tiba sesaat setelah ia berhasil membuka dalaman ninja Yahiko.

Yahiko hanya mengangguk memicingkan matanya pada pipi Konan yang sesaat terdapat semburat merah

"Dia kenapa ya?"

Dengan telaten, Konan membersihkan seluruh luka pada dada dan lengan Yahiko, memberinya obat merah, lalu terakhir ia lilitkan perban.

"Pelan-pelan! Ouch, daritadi kamu nggak hati-hati!" ringis lelaki itu kesakitan, melihat Konan hanya terdiam sejak tadi tanpa bicara ataupun memedulikan ringisan Yahiko.

"Berhenti sebentarlah, ini sa-"

"Diam! Dasar pengecut! Begini saja sakit! Coba bayangkan saja hal-hal enak, ntar rasa sakitnya bakalan nggak kerasa" potong gadis itu, sibuk melilitkan perban pada perut Yahiko. Lukanya memang benar-benar banyak dan hampir ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan perban harus menghabiskan banyak untuk menutupinya.

"Bayangin apa ya? Makan ikan?"

"Ouch! Gimana sih, masih sakit tahu!" desah Yahiko lagi ketika Konan mulai membalutkan perban pada bahu kirinya.

"Berarti makan ikan ngga enak, bayangin yang lain aja sana" kesal Konan masih terus fokus melilitkan perban hingga bagian lengan.

Berulang kali Yahiko meringis sakit, namun kali ini Konan tak menghiraukannya. Gadis itu tetap diam sampai perban yang menutupi luka Yahiko hingga ke bagian lengan bawah.

"Auch! Sak-"

Masih tanpa bicara lagi, tiba-tiba saja Konan menarik perlahan lengan Yahiko sehingga saling mendekatkan wajah mereka berdua.

Tentu saja Yahiko terkesiap karena hal itu. Lelaki itu menatap iris mata amber milik Konan yang semakin mendekat. Hembusan nafasnya kini dapat ia rasakan.

Dan entah ada angin apa Konan mendaratkan bibirnya pada bibir Yahiko, membuat lelaki itu semakin tercengang.

Hanya sesaat, setelah itu Konan melepaskan ciumannya dan kembali fokus pada kegiatan melilit perbannya. Saat itu Yahiko terdiam. Bukan, lebih tepatnya mematung dengan pipi memerah.

"Ah, dasar.. aku kebetulan saja membaca karangan Jiraiya-sensei yang judulnya Icha-Icha, kalau ciuman perempuan untuk laki-laki bisa menghilangkan rasa sakit. Huh.. ternyata benar ya? Kalau begitu daritadi aku lakukan saja.." batin Konan saat itu, masih tidak mengerti apa efek pada Yahiko setelah tindakannya tadi.

Yap, pipinya benar-benar memerah.


"Lihat! Akatsuki semakin kuat! Kalau semakin besar akan mudah untuk kita mencapai perdamaian" ujar pria bersurai jingga kepada kedua sahabatnya yang sedang duduk sejajar.

Malam hari ketika para anggota Akatsuki sedang terlelap, sudah biasa bagi Yahiko, Nagato, dan Konan untuk menghabiskan waktunya bersama.
Duduk di teras markas seraya memandang hujan di luar tanpa bintang, mereka selalu bercerita kenangan atau sesuatu yang membuat persahabatan mereka makin erat.

"Dan ketika dunia ini sudah damai, aku akan menjadi dewa!" pekik Yahiko dengan semangat membuat kedua sahabatnya terkekeh pelan.

"Kau ini masih saja seperti anak kecil, Yahiko" Konan terkekeh pelan. Ia menatap sahabatnya yang bersurai jingga itu dengan senyuman hangat seakan mendukungnya.

"Ahaha! Aku benar-benar yakin kok. Aku ini sudah dewasa!" timpal Yahiko meyakinkan impiannya.

"Kau ingin menjadi dewa, huh?" Nagato menanyakan lagi.
"Iyalah! Kalau aku menjadi dewa, aku bisa membuat dunia ini damai!" tutur Yahiko dengan semangat mengepal. Membuat kedua sahabatnya terkekeh lagi.

"Kalau kau sudah dewasa, kenapa kau masih single, Yahiko? Kamu sudah 25!" kata Nagato tidak merasa dirinya juga demikian.

"Hei, kau mau bahas yang tadi pagi?!" gertak Yahiko dengan mengepalkan kedua tangannya. Nagato hanya tertawa kecil. Konan melihat tingkah mereka berdua dengan tanda tanya.

"Lagian kau sendiri? Tidak punya kekasih saja sudah meledek orang!"

Nagato terdiam dan tersenyum. "Tidak perlu, aku disini hanya ingin mendukung impian kalian berdua. Tidak sempat memikirkan yang lain"

Tuturan Nagato membuat kedua sahabatnya terdiam. "Nagato.. kau.. mendukungku.. menjadi dewa?" tanya Yahiko.

"Tentu saja akan kulakukan sebisaku"

"Haha! Kau ini konyol sekali, Nagato!" Ujar Konan menepuk pundak Nagato. Mereka bertiga tertawa kembali dengan suara kecil agar tak mengganggu anggota Akatsuki lain yang terlelap.

"Aku serius.. aku akan mewujudkan impian kalian" ujar Nagato di tengah tawa mereka.

"Hm? Benarkah?" sahut kedua sahabatnya bersamaan.
"Tentu saja!"

"Kau ingin menjadi dewa, bukan?" tunjuk Nagato kepada Yahiko. Pria bersurai jingga itu hanya menaikkan sebelah alisnya menjawab,"Ya"

"Kalau kau, Konan?" Tunjuk Nagato kepada sahabat gadisnya.

"Emm,,etto" desis Konan memeluk kedua lututnya sambil bergumam malu.
"Hm?"

"Em, impianku sih hanya satu, mendukung kalian mencapai perdama-"
"Yaelah Konan, itukan impian kita bersama. Kita emang harus saling mendukung teman kita untuk mencapai perdamian" potong Yahiko.

"Bagaimana dengan impian pribadimu?" Lanjutnya.

BLUSH!
Pipi Konan merona seketika. Ia terlihat seperti menyimpan impiannya yang membuatnya merona.
"A-aku.."
Tatapan kedua sahabatnya semakin antusias dan penasaran.

"Se-sebenarnya aku.. " Konan mulai membenamkan separuh mukanya di lututnya.

"Ingin menikah dengan pria yang aku cintai..La-lalu melahirkan banyak anak untuk Akatsuki ini!" ucapnya lirih hampir kalah dengan berisiknya air hujan.

Yahiko dan Nagato terdiam sejenak. Konan mulai membenamkan seluruh mukanya ke dalam lututnya

"Pft.. Konan.." Yahiko dan Nagato mulai terkekeh. Mereka berdua benar-benar menertawakan Konan, membuat gadis itu semakin kesal dicampur perasaan malu tentunya.

"Kenapa kau tak terima saja si Kyusuke lalu menikah da-" tanya Nagato yang kemudian terpotong.

"Hah? Kau tahu darimana kalau Kyusuke menyatakan perasaannya padaku?!" tanyanya kepada Nagato. Sedangkan Yahiko membuang muka dari kedua sahabatnya.

"Hm, tentu saja kami tadi membaca surat cinta Kyusuke dan melihat kalian di bawah jamur" ujar Nagato dengan penekanan kata 'kami', membuat Yahiko menengokkan kepalanya sedikit dan menatap tajam sahabat merahnya.
"Kami?"

"Yap, aku dengan Yahiko"
"Yahiko?" Ia menolehkan wajahnya kepada Yahiko yang kini di samping kirinya.

"E-eh, kami tidak sengaja kok, Konan. Bukan maksudku untuk menguping" ucap Yahiko seraya memicingkan matanya kepada Nagato.
"O-oh.."

"Hm, lalu siapa pria yang kau cintai, Konan?" tanya Nagato to the point.

"Ti-tidak! Aku tak akan memberi tahu kalian!" teriak Konan dengan wajah merah bak kepiting rebus. Terlalu kesal, gadis itu beranjak berdiri meninggalkan kedua sahabatnya. "Aku tidur duluan!"

"Hm? Sejak kapan Konan kita jadi gampang malu gini?" bisik Nagato pada Yahiko. "Aku tak tahu lah"
Mereka terdiam. Tapi tiba-tiba Nagato tersentak dan tersenyum miring.

"Kau suka Konan kan? Tembak saja dia sebelum ada yang ngambil!" ucap Nagato lirih melihat sahabatnya yang terdiam menatap punggung Konan semakin menjauh dari mereka.

"I-ya! Aku memang suka sama dia! Tapi jangan nyumpahin gitu lah!"

"Aku nggak nyumpahin tuh" kekeh Nagato, "Sebelum ada yang ngambil lho!" lanjutnya masih menggoda sahabat bersurai jingga di sampingnya itu.

"A-Aku tidak yakin" ujar Yahiko terbata. Sebelum akhirnya ia beranjak pergi menuju markas meninggalkan Nagato sendiri. "Aku balik dulu!" ucapnya.

Nagato hanya berdesis dan tersenyum tipis. "Yah, apa boleh buat. Tapi Aku juga suka Konan"

~o0o~

CKLEK!

Pintu kamar terbuka, Yahiko mulai melepas jubah dan menggantungkannya pada paku kecil yang menempel pada dinding kamar.

"Konan?" Panggilnya tanpa jawaban, melihat kamar kosong tanpa seseorang. Nagato tadi ia tinggalkan di luar, mungkin belum menyusul untuk tidur. Tapi bukannya Konan berkata bahwa ia tidur duluan?

"Ini sudah malam, dimana dia?" gumam Yahiko gelisah, mencari sahabatnya itu tak ada. Mencoba mencari gadis itu di tiap sudut ruangan, namun sejauh ini nihil tidak ada.

"Kenapa?" sapa Nagato tiba-tiba muncul hendak memasuki kamar.

"Kau lihat Konan?"

"Tidak, bukannya dia tidur duluan? Emang di kamar nggak ada?" tanya balik Nagato, Yahiko hanya menggelengkan kepalanya.

"Markas kita nggak ada penyusup kan?" tanya mereka bersamaan.

Baru saja mereka menanyakan hal itu, Nagato ikut gelisah. "Sudah cek kamar member Akatsuki lainnya?"

Yahiko menggelengkan kepalanya, "Tidak ada"

Hawa dingin malam mulai menusuk ke dalam markas mereka, ini sudah jam 12 malam.

"Ah! Aku ingat!" celetuk Nagato tiba-tiba, membuat Yahiko menaikkan sedikit alisnya.

"Bukannya dia bilang kalau dia lagi menstruasi? Biasanya dia pindah kamar" tutur Nagato. "Ah! Iya sih! Duh! Sampai khawatir!" sahut Yahiko terkekeh. Melihat 'kamar lain' yang dibicarakan benar-benar tertutup rapat. Saat mulai membukanya pun, seperti terkunci dari dalam atau bisa dibilang tidak bisa dibuka. Mereka yang sebelumnya sempat gelisah pun akhirnya kembali menuju kamar.

"Dipikir-pikir kenapa ya, kita nggak memperbolehkan Konan memakai kamar lain? Dia kan perempuan" ujar Nagato melepas jubah dan menggantungkannya di samping milik Yahiko.

"Yah, kita mungkin terlalu protektif sama dia, haha. Sampai nggak mau pisah, dia sendiri juga nggak mau kalau nggak bareng kita" ujar Yahiko terkekeh mengingat masa kecil mereka bertiga yang memang selalu menempel barengan.

"Hahh.. Jadi kangen pas kecil, ada Jiraiya-sensei" desah Nagato membaringkan tubuhnya ke kasur.

"Hn, aku juga penasaran huh dengan keadaan Jiraiya-sensei sekarang di Konoha" desis Yahiko mengambil sebuah handuk hendak keluar kamar.

"Kau mau kemana?"

"Mandi air panas sebentar, dingin bener hari ini" ucap Yahiko sebelum akhirnya menutup kamar tidur meninggalkan Nagato yang masih berbaring.

~o0o~

Pemandian air panas pribadi milik markas mereka mungkin bisa dibilang cukup sederhana. Namun, sedikit luas untuk kolam berendamnya, mungkin bisa untuk para lelaki Akatsuki untuk mandi bersama?

Yahiko memasuki pemandian air panas sederhana itu dengan handuk yang hanya terlilit pada pinggangnya. Uap panas yang terasa seperti kabut putih benar-benar menghiasi tempat pemandian itu. Benar, hanya kabut yang terlihat. Ia tak melihat siapa-siapa disitu kecuali kolamnya.

Melepas handuk putihnya, Yahiko mulai merendamkan tubuhnya pada kolam itu. "Ah.. hangatnya" desisnya tenang. Memejamkan mata dan mencoba menenangkan pikirannya.

"Apa besok ya? Aku ungkapkan saja perasaanku pada Konan?" desis Yahiko akhirnya mulai berpikir.

"Tapi aku tidak pernah sekalipun tahu bagaimana cara ngungkapin perasaan" ucapnya kesal dengan pipi memerah, ia benar-benar malu membayangkannya.

"Konan suka sama siapa, huh? Aku penasaran"

"Apa aku latihan disini saja dulu? Selagi masih malam, dan aku sendirian disini" gumam lirih Yahiko membenamkan mulutnya ke dalam air malu.

"Ah! Harus kucoba!"

Menatap kabut uap air, ia membayangkan itu adalah Konan. Terkekeh dan mencoba menarik nafas. Ia berkata agak kencang, "Konan! Aku menyukaimu sejak awal bertemu, maukah kau jadi pacarku?"

"A-Ah! Benar-benar malu!" pekik Yahiko benar-benar terasa cringe dari dalam dirinya, membayangkan kabut uap air itu Konan dan berbentuk seolah-olah mengejeknya.

"B-Benarkah?" ucap seseorang dari arah kabut, membuat Yahiko tersentak melebarkan kedua matanya.

Kabut asap yang tak ada apa-apanya, sebenarnya ini benar-benar membuatnya merinding. Namun, Yahiko mencoba untuk maju selangkah demi selangkah mendekati sumber suara.

"Siapa?" desis Yahiko sesaat mencoba melawan massa air dan menembus kabut, sedikit demi sedikit benar-benar terlihat seperti siluet.

"J-Jangan mendekat!" ucap siluet itu, namun tetap saja Yahiko mendekat.

.

.

.

"K-Konan?"

Benar saja, sosok siluet itu melainkan sahabatnya sendiri. Tangan kanan menutup mulut sedangkan tangan kiri menyilangkan pada dadanya. Menatap lelaki itu yang benar-benar tepat berada di depannya.

"K-KY-"

"Jangan teriak!" potong Yahiko gelisah ketika Konan hendak berteriak yang memang akan berakhir lantang. Membuat gadis itu menutup mulutnya, mencoba semakin mundur dan terpojok pada dinding kolam.

"Mereka akan kesini kalau kau teriak" ujarnya masih gelisah dicampur perasaan malu apalagi seorang perempuan ada di depannya tanpa sehelai kain apapun namun air yang menutup tubuhnya.

"A-Ah! Maafkan aku! Aku tidak akan teriak!" ujar Konan benar-benar memerah, Yahiko yang tak dapat berkata apa-apa lagi, mematung dicampur rasa malu.

Latihan menyatakan perasaan namun didengar oleh gadis yang akan ia tembak sendiri, apalagi 'latar tempatnya' benar-benar canggung.

"K-Konan! Kenapa kau tak menutup pintu, huh?!" pekik Yahiko pelan, mencoba untuk tak bertatap mata dengan gadis di depannya. Darah mengucur pada hidungnya, mimisan.

"A-Aku kira se-semua sudah tidur! U-Uh! A-Maafkan aku! Aku akan pergi" ujar Konan canggung, melihat Yahiko yang sama saja pipinya bersemu merah dan mencoba menghapus darah dari hidungnya.

"T-Tidak! Aku saja yang keluar" sergah Yahiko namun Konan telah menyematkan handuk pada tubuhnya untuk keluar. "T-Terimakasih atas pernyataan perasaanmu padaku" ucap gadis itu sesaat hendak melangkahkan kakinya keluar kolam.

"T-Tunggu! Tolong jawab.. apa kau-"

Konan berhenti, masih berdiri di tepi kolam membelakangi sahabatnya menunduk. Pipnya benar-benar seperti kepiting rebus, tak bisa berkata apa-apa.

"A-Aku.. Aku juga menyukaimu!" pekik Konan menyerongkan tiga perempat tubuhnya menatap iris cokelat Yahiko dengan separuh wajahnya masih berendam.

Lelaki itu menaikkan wajahnya, melihat Konan yang sebelumnya menatap matanya tajam dengan pipi memerah.

Yahiko tertegun, Konan hanya bergemetar menunduk dan meremas ujung handuknya.

"K-Konan.." desis Yahiko menaikkan senyum hangatnya.

Konan menaikkan wajahnya menatap lelaki itu, mencoba bergerak namun..

"GYAAA!"

Pekiknya kehilangan keseimbangan. Memang malang, kakinya saat itu menyeret lantai becek tanpa hati-hati.

"Konan!"

BYURR!

Tentu saja gadis itu terjatuh pada kolam pemandian, Yahiko yang reflek untuk menangkapnya tetap saja terjatuh dalam air yang dangkal. Beruntung tidak terbentur lantai dasar, Yahiko menangkapnya dalam air.

"H-hahh! Hahh..!"

"Dasar.. Kau ini shinobi malah nggak hati-hati" ucap Yahiko gelisah menangkap kedua lengan atas gadis itu yang telah muncul dari permukaan air.

"G-Gomen.."

"Kau tak apa?" tanya Yahiko mendekatkan wajahnya, gadis itu menaikkan kepalanya. "T-Tak apa"

BLUSH!

"A-Ah Maafkan aku" ucap Yahiko kembali dengan wajah memerahnya, melepas pegangannya pada lengan atas Konan.

"Aku saja yang keluar, oke?" lanjutnya memalingkan muka merahnya, berusaha terkekeh canggung.

"Tidak!" sahut Konan tiba-tiba. Dan karena tiba-tiba saja gadis itu menciumnya. Yahiko terkesiap, kedua lengan Konan menarik leher belakang Yahiko meminta untuk membalas ciumannya.

"H-Hei!" Yahiko melepas ciumannya. Mendorong kedua pipi gadis itu tiba-tiba. "T-Tolong pakai dulu pakaianmu sebelum menciumku, d-dasar!" ujarnya memalingkan muka.

Gadis itu memiringkan senyumnya, "Aku kan pakai handuk.."

"Dasar, tetap saja aku laki-laki" timpal Yahiko membalikkan badannya, benar-benar tak sanggup sudah ia berada di kolam itu berdua.

"T-Tapi Yahi-"

"Dan terimakasih sudah menerimaku.." potongnya berhenti sejenak. Kemudian dengan cepat ia membalikkan badannya meraih dagu gadis itu dan menciumnya untuk kedua kali sekilas.

"M-mmh Yahiko!"

"Sudah, kan? Aku akan keluar" ujarnya tersenyum.

"Aku juga" kekeh Konan sebelum akhirnya mereka berdua keluar dari kolam.

Memakai busana mereka masing-masing dan hendak menuju kamar. "Ne, Konan? Bukannya kau menstruasi huh? Kenapa kau berendam?"

"He? Aku tidak menstruasi kok!"

"Hah? Yang benar? Ah, dasar Nagato!"

"Nagato kenapa?"

"Dia bilang kau menstruasi huh"

"He? Nagato?"

Belum saja Yahiko meraih pintu kamar, namun tiba-tiba saja terbuka.

CKLEK!

"Eh? Nagato? Kau belum tidur?" tanya Yahiko sesaat ia melihat sahabatnya membuka pintu kamar.

"Ah, Yahiko! Kebetulan sekali! Tadi ada suara teriakan! Sepertinya dari kolam air panas kau tahu!"

"Haa, dasar kau salah dengar kali ya?"

"Beneran! Eh? Konan? Habis darimana kok bareng Yahiko?"

"..."


TBC, A/N

SUMBER REFERENSII CANONN! WAJIB ATAU SUNNAH KOK BACANYA! WAKAKAK!

1. Sumber Referensi CANON pesawat terbang kertas Konan, kado ultah dari Yahiko : Game Naruto Ultimate Ninja Storm Revolution : Paper Plane, Client : Nagato, author pernah mainin gamenya di PS3 ada kok paperplanenyaXD #fansberatnyakapelyahikonandongss

Spoiler : Bener2 bikin baperr pas pesawat terbang kertasnya dibuka dan dibaca isinya : "Let's do our best, Konan!" Hiks.. hikss.. #alaymode
ps.:klo blum pernah mainkan, bisa nonton di youtube)

2. Sumber Referensi CANON Cerita Yahiko ngasih bunga putih ke Konan!
NOVEL Naruto Shippuden-Hiden Series : Novel Akatsuki Hiden, Bab 4-Evil flowers full in bloom (dengan penambahan sedikit dari saya)

3. Sumber Referensi CANON Konan lilitin perban ke badan Yahiko

Naruto Shippuden Anime Episode 253 atau Manga Naruto Shippuden Chapter ?

Dengan penambahan sedikit cerita dari saya