"Maaf, Baek. Aku harus menyelesaikan tugas sebelum ujian."
Baekhyun hanya bisa mendengus, meratapi bagaimana malam minggunya kelabu belakangan ini karena Chanyeol yang sibuk dengan kuliahnya. Ajakan kencan sudah terlalu jarang ia dengar, tapi paling tidak Chanyeol selalu memberi kabar di mana keberadaannya dan tak lupa mengucap segala kemanisan kata untuk Baekhyun melalui telfon.
Rindu itu memang brengsek. Baekhyun benar mengutuk bagaimana dia bisa terjerembab dalam tarikan gravitasi rindubpada sosok Chanyeol yang tidak ada duanya. Tiap kekonyol yang dibuat memang terkadang membuat Baekhyun menepuk dahi. Tapi semua itu sebanding dengan cara Chanyeol yang cukup manis dalam hal memerhatikan Baekhyun.
Pernah suatu hari lelaki itu datang dengan pakaian basah kuyup. Hujan di luar sedang menggila, Baekhyun memilih memanjakan demam yang selalu muncul tiap musim hujan dari pada memaksakan diri untuk berkeliaran di luar.
Seharusnya mereka pergi ke toko buku untuk berburu novel seri yang baru terbit, tapi pagi setelah bangun tidur Baekhyun memberitahu jika dia demam dan acara ke toko buku bisa di ganti lain hari.
Chanyeol mengerti. Dia paham dengan mengatakan "Cepat sembuh, kesayangan" dan berlapang dada acara kencan itu ditunda. Baekhyun pikir sampai di situ saja ucapan cepat sembuh dan Baekhyun akan bergelung di selimut hingga senja menyapa.
Mungkin baru di 3 jam pertama Baekhyun terpejam. Pintu kamarnya diketuk oleh Bibi Sung; mengatakan jika ada seseorang di luar sana mencari Baekhyun. Dengan langkah yang terseok malas dan keadaan berantakan pucat, Baekhyun turun dan menemui si tamu sialan yang mengganggu waktu tidurnya.
Lalu ketika kemarahan siap meluap karena dari kejauhan tahu jika itu Chanyeol, Baekhyun melipat kecil-kecil kemarahan itu saat Chanyeol yang basah kuyup membalik badan dan menenteng 2 kantung plastik putih.
"Aku membuatkanmu bubur dan sup. Dimakan, ya? Biar demamnya cepat turun. Aku tidak bisa menemanimu makan, satu jam lagi aku harus bertemu dosen karena ada urusan dadakan. Cepat sembuh, kesayangan."
Dan kecupan singkat di puncak kepala adalah hal yang membuat Baekhyun lumer di telapak kaki. Rasanya tak ada tulang yang bersedia menyokong. Baekhyun terpaku tanpa kata dengan degup ja tung indah melepas Chanyeol yang pergi dengan urusannya.
Chanyeol memang aneh. Dia dan segala perlombaan siput kesukaannya hanya sebagian hal yang tak pernah lebih menyenangkan dari sikap manisnya. Ini memang klasik, tapi percayalah sebesar apapun ego dan harga tinggi seorang wanita tentang perhatian laki-laki, selalu ada celah untuk merasa haru dan terpojok dalam rasa bahagia bersama ribuan kupu-kupu dalam perut.
Baekhyun bertekad akan setia dan mencoba paham dengan segala hal konyol yang terkadang Chanyeol lakukan. Dia akan membuang ego, mencoba mengerti jika Chanyeol juga punya waktu sibuk untuk urusan masa depannya.
Tapi di beberapa bulan pengertian itu Baekhyun mulai goyah. Dia jengah tentang kencan yang selalu batal dan rindu yang sialnya semakin membesar. Ujung dari semua itu kembalilah sosok Baekhyun yang mudah merajuk. Keburukannya sebagai seorang kekasih yang kesal adalah mengabaikan Chanyeol sepanjang hari dan membiarkan lelaki itu mengejarnya.
"Aku tadi ke rumah. Ternyata kau di sekolah. Ada pentas seni, ya?" Chanyeol berkelakar seperti biasa, tapi Baekhyun diam seribu bahasa dengan keripik pedas yang ia makan.
"Kau tahu, Baek, aku tadi hampir tidak bisa masuk ke sini karena mereka mengira aku sales kosmetik. Memangnya penampilanku terlihat seperti itu ya?" Lalu dia tertawa di atas diamnya Baekhyun menikmati keripik dan penampilan di atas panggung.
"Besok aku libur. Bagaimana jika kita pergi? Kau bilang ingin ke taman hiburan, kan? Kita kesana, okay?" Masih diam.
Chanyeol bukan seorang yang akan meluap dengan cepat. Dia bersabar dengan kekasih mungilnya yang ia tahu betul sedang merajuk parah.
"Baekhyun,"
"Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah aku mau pergi." Begitu saja Baekhyun berdiri dan pergi menuju segerombolan anak lelaki di bawah ring basket.
Tanpa ada rasa yang memberat, Baekhyun bergabung dengan mereka yang membuatnya meledakkan tawa. Dari kejauhan Chanyeol hanya diam mengamati. Dia bukannya buta, tapi sadar jika Baekhyun meluapkan kekesalannya dengan mencoba menyalakan api cemburu.
Ya. Chanyeol cemburu. Lelaki mana yang suka melihat kekasihnya tertawa karena lelaki lain?
Seakan Chanyeol itu terlalu bodoh, tapi dia mengakui jika ini adalah akibat dari beberapa kali mereka tak pernah ada interaksi. Jadi Chanyeol hanya membiarkan saja, melihat dan mengawasi apa saja yang akan Baekhyun lakukan.
Ada sekitar 10 menit berlangsung. Kekesalan sebenarnya sudah menumpuk. Chanyeol mulai tidak tahan dan akan menyeret Baekhyun untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi dia tak sampai hati menyeret Baekhyun, melainkan terburu berlari saat Baekhyun limbung di kejauhan karena menenggak sebotol soda.
Sial! Chanyeol kecolongan.
Baekhyun itu tidak bisa minum soda. Perutnya tidak kuat dengan soda dan akibatnya dia akan kesakitan lalu pingsan. Sebelun para lelaki itu membopong, Chanyeol terlebih dulu melerai kerumunan dan menggendong tubuh Baekhyun untuk ia bawa ke UKS.
.
Rasanya seperti sesuatu sedang mengaduk kasar perut Baekhyun. Entah sudah berapa lama ia terpejam, saat membuka mata ada sesuatu yang membuatnya terasa lemah tak berdaya.
Pandangannya masih kabur, tapi dia bisa melihat dengan jelas lelaki itu duduk di sampingnya dengan kekhawatiran yang memucat.
"Apa kau masih merasa sakit?"
Perlahan tapi pasti semua kembali terang. Meski masih tersisa rasa sakit diperut akibat soda sialan itu, Baekhyun kembali memiliki jiwanya yang masih menyimpan sejuta kekesalan pada lelaki itu.
Tangan yang semula digenggam ia tarik. Punggung sempit itu ia suguhkan dan rajukannya kembali berkuasa di atas segalanya.
"Masih marah, ya?"
Sudah tahu, kan? Kenapa masih bertanya?
"Ya, kau berhak marah. Aku sadar betul. Aku minta maaf, boleh?"
Tak ada jawaban.
"Belum bisa memaafkan? Tidak apa. Aku tunggu sampai kau bisa memaafkan." Chanyeol mencoba meraih tangan Baekhyun, menautkan jarinya dengan milik Baekhyun dan beruntung tak ada penolakan. "Aku sibuk dan hampir mengabaikanmu. Jika hukumannya adalah aku yang diabaikan, aku bisa terima. Sekali lagi aku minta maaf. Bukan karena aku salah dan kau benar, tapi aku mementingkan hubungan ini dari pada ego. Ku perbaiki apa yang salah, dan benahi apa saja yang menurutmu juga salah. Aku ingin lama dan kalau bisa berakhir bahagia bersamamu. Maka dari itu aku masih berani menampakkan diri setelah membuatmu kecewa karena kesibukanku."
Satu tarikan napas berat telah Chanyeol ambil. Dia bukan seorang pujangga yang pandai berkata. Dia hanya mengatakan apa yang selalu terselip di hatinya dan berdoa semoga Baekhyun mengerti.
"Apa kau masih butuh waktu untuk sendiri? Baiklah, ku berikan sebanyak yang kau mau. Jika sudah selesai hubungi aku, aku akan datang dengan permintamaafan lagi beserta rinduku yang menggebu."
Tautan itu dilepas. Chanyeol bersiap dengan langkah beratnya untuk waktu sendiri yang Baekhyun butuhkan. Tapi di balikan pertama tubuhnya untuk pergi, dia dicekal tepat di pergelangan tangan dan wajah menggemaskan yang selalu menjadi kesayangannya itu berlinang beberapa air mata.
"Hei, kenapa menangis? Apa perutmu masih sakit?"
Alih-alih menjawab, Baekhyun justru merentangkan kedua tangan dengan senggukan tipis. Chanyeo paham, dia menyambutnya dengan masuk dalam pelukan Baekhyun dan mengusak si gadis manja yang masih terbujur di ranjang UKS.
"Kenapa menangis, hm?"
"Aku membencimu!"
"Iya, aku juga mencintaimu, Baekhyun."
"Aku sangat membencimu!"
"Aku juga amat sangat mencintaimu, sayang."
"Jangan pergi..."
"Aku tidak akan kemana-mana."
"Aku juga minta maaf.."
"Kita sama-sama memaafkan, oke?"
Pelukan itu Chanyeol jauhkan, diusapnya sisa air mata itu dengan telunjuk dan tersenyum kecil dengan wajah cantik nan menggemaskan itu.
"Tahu rindu, kan?"
"Tidak tahu. Yang ku tahu hanya aku mencintaimu Chanyeol jelek!"
"Kalau tidak tahu rindu sini kuberitahu."
Chanyeol melepas sepatunya, bergabung dengan Baekhyin di ranjang sempit itu. Tidak untuk merebahkan diri, melainkan menindih Baekhyun dengan menjaga berat tubuh agar si gadis kesayangan tidak keberatan.
"Rindu itu..."
.
.
.
TBC
Basyud : asem mulai ngegombal si bapak negara CBS wkwk.. ini kenapa jadi mellow yak? Hahaha... auk dah, lagi mellow juga si ini hati...
