PDA Presents
.
.
.
Taemin dan Minho meninggalkan meja makan agar para maid bisa membereskan sisa makan malam mereka secepatnya. Minho menggandeng tangan Taemin dan mengajaknya masuk ke ruang theater untuk menonton film pendek sambil mengobrol.
"Apa Jeonghan tidak masalah jika aku mengajaknya pulang agak larut?"
Saat film baru akan dimulai dan keduanya sudah duduk berdekatan disofa merah, Taemin mendongakkan sedikit kepalanya untuk menatap Minho dengan wajah sedikit khawatir.
Minho menyisir pelan poni kekasihnya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Lagi pula dia juga sedang bersama Seungcheol sekarang. Mereka pasti sedang menonton film atau mungkin bermain video game."
"Hm, kau benar, Dear. Sebaiknya kita juga menikmati film ini berdua."
Taemin merebahkan kepalanya didada Minho, sedangkan pria itu merangkul pundaknya dengan sayang.
"Jangan pura-pura tidak melihat ya sayang saat ada adegan ciuman nanti."
"Tsk, Dear..."
Taemin mencubit perut Minho geram karena malu mendengar kalimat menggoda Minho. Pria itu tertawa dan berpikir jika melihat Taemin yang kesal dan malu-malu seperti ini ternyara jauh lebih mengasyikan dibanding menonton film.
.
.
.
"Seungcheol-ah..."
Sekujur tubuh Jeonghan bergetar. Ia bahkan tidak tahu jika apa yang disaksikannya saat ini adalah kenyataan. Tangisan Seungcheol... Air matanya... Bahunya yang begetar... Semua terlihat sangat menyakitkan.
Dan rasanya Jeonghan begitu ingin bunuh diri saat tahu alasan mengapa pria itu merasa tersiksa selama ini adalah karena dirinya.
"Kau sungguh menyiksaku, Jeonghan... Kau berubah... Tawa dan senyummu bahkan selalu palsu untukku. Kau menipu kakakmu, kau berbohong pada semua orang, lalu menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa. Kau selalu berlagak tidak tahu akan setiap luka yang ada dihatimu sendiri walau darahnya sudah menetes kemana-mana. Bahkan darah itu mengenaiku, Jeonghan... Kau juga melukai aku... Mengkhianati kepercayaanku... Melihatmu pergi dengan sembarang pria demi lembaran uang, membuatku terlihat sangat bodoh karena tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahmu. Aku memang pengecut... Aku tak pernah bisa mengucapkan kalimat yang benar-benar ingin kuucapkan kalau aku... Aku tidak bisa membiarkanmu terus-menerus hidup dalam dunia seperti itu... Aku..."
Seungcheol sempat terbata-bata karena sakit didadanya mulai menimbulkan rasa sesak. Ia bangkit dari atas Jeonghan dan menggenggam kepalanya frustasi. Seungcheol berbalik membelakangi Jeonghan yang masih berbaring dengan tangisnya yang semakin mengencang.
"AARGH TUHAN... AKU BISA GILA!"
Tangan Seungcheol yang sedari tadi mengepal erat kini melayang menghantam dinding tak bersalah didepannya.
"Maafkan aku, Seungcheol..."
Bisikan itu mengalun pelan kala Jeonghan menggigiti punggung tangannya menahan isakkan, berharap rasa sakit ini berhenti dan Seungcheol mau memaafkannya.
.
.
.
Dirumah ini, ruang theater letaknya tak begitu jauh dari kamar Seungcheol karena berada dilantai yang sama. Saat itu, Taemin terlonjak kaget mendengar suara teriakan yang persis seperti suara Seungcheol.
"Dear, suara apa itu? Apa itu Seungcheol?"
Taemin sedikit panik sambil menoleh kebelakang kearah pintu.
Minho segera bangkit dari duduknya karena juga merasakan ada hal yang tidak beres. Taemin mengikutinya keluar ruangan, dan mereka menyusuri lorong dengan langkah cepat menuju kamar Seungcheol.
Minho langsung mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.
"Seungcheol, kau baik-baik saja? Jeonghan... Apa kau di dalam?"
Taemin meremat sebelah tangan Minho dengan gusar. Ia menanti pintunya terbuka dengan perasaan tidak menentu.
"Seungcheol... Jeonghan... Buka pintu-..."
Crack!
Thump!
Suara pintu yang dibuka dengan kasar menggema keseluruh penjuru lantai.
"Seungcheol?"
Minho membulatkan matanya melihat wajah Seungcheol yang begitu merah dengan amarah yang tergambar jelas disana.
"Jeonghan...?"
Minho terkejut, Taemin menutup mulutnya melihat Jeonghan berjalan pelan menghampiri mereka dengan rambut berantakan dan punggung yang bergetar akibat terisak oleh tangis.
"Jeonghan kau kenapa sayang?"
Taemin berlari panik dan memeluk adiknya yang menangis dengan erat. Hatinya mulai pedih bagai luka sayat yang terendam dalam air laut. Sudah sangat lama ia tidak melihat Jeonghan menangis seironis ini, kecuali saat pemakaman Ayah dan ibu mereka 3 tahun silam.
"Kau kenapa sayang?"
Taemin mengusap air mata yang mengalir dipipi adiknya, meminta Jeonghan untuk bicara dan berhenti membuatnya tersiksa seperti ini.
"Maafkan aku, Kakak... Maafkan aku..."
Hingga bermenit-menit kemudian, hanya itu kalimat yang mampu di ucapkan oleh Jeonghan dalam pelukan kakaknya bersama tangis yang tak kunjung surut dari kelopak matanya yang pucat.
.
.
.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Jeonghan?"
Minho menyeret Seungcheol ke ruang minum untuk mulai mengintrogasi adiknya soal kejadian tadi. Taemin dan Jeonghan sudah diantar pulang 30 menit yang lalu. Dirumah ini, kini tinggal menyisakan 2 kakak beradik yang berdiri dengan jarak 3 meter satu sama lain.
Seungcheol masih diam dan membuang muka. Lelah menatap tajam pada adiknya yang enggan untuk bereaksi, Minho berjalan mendekati lemari penyimpanan anggur dan mengambil botol Scotch bertuliskan "Loisquine 1995" dan membawanya menuju meja kecil tempat ditaruhnya gelas anggur yang biasa ia pakai.
Minho duduk di sofa kulit, membalik gelas yang berada diatas meja kecil didepannya untuk kemudian menuang isi Scotch yang baru ia buka.
"Minuman ini seusia denganmu. Sudah lama aku menyimpannya dan menunggu waktu yang tepat untuk dapat menikmatinya. Tidakkah kau pikir ini saat yang sempurna untuk minum?"
Minho menyilangkan kaki sambil memegang gelas minumannya dengan tangan kiri. Matanya tertuju lurus pada sang adik, mengangkat sebelah alis menanti jawaban dari Seungcheol atas pertanyaannya barusan.
"Terserah kau saja, maniak."
Seungcheol bersandar pada dinding dengan tangan yang ia masukkan dalam kantung celana tidurnya. Matanya menatap sengit kearah Minho. Pria yang ditatapnya tiba-tiba saja tersenyum dan terkekeh renyah.
"Maniak, katamu? Haha... Kau memang paling pandai dalam menemukan pengandaian yang tepat untuk seseorang."
Seungcheol tidak terkejut saat sang kakak memuji dan mengakui kemampuan intuisinya.
"Tapi apa yang coba kau lakukan pada maniak ini? Memberontak?"
"Aku hanya akan menghajarmu jika saatnya sudah tepat, seperti scotch yang kau minum saat ini."
Minho menggertakan sedikit giginya diam-diam. Bibirnya yang terkatup pelan-pelan kembali menarik segaris senyum. Seungcheol masih menatapnya dengan wajah yang tidak ramah.
"Kau pikir bisa bertemu dengan kesempatan emas yang kau impi-impikan itu?"
"Tch, sudah kuduga jika inilah yang akan aku dengar."
Seungcheol mendesis, membuang muka seperti ingin meludah.
"Silahkan, Choi Seungcheol. Keinginan untuk menjatuhkan seseorang adalah hasrat yang manusiawi, sekalipun yang melakukannya bukanlah manusia."
"Kau sungguh lucu."
"Sudah lama aku tidak mendengarmu memujiku. Mungkin terakhir kalinya... 5 tahun lalu? Saat itu aku mencetak Three Point dengan jarak 20 meter dari ring."
"Saat itu kau belum berubah menjadi sampah."
Seungcheol memotong cepat dengan tangan yang kini terlipat dibawah dada.
"Aku terkesan karena kau begitu memperhatikan berbagai detail perubahan yang ada diriku."
Minho menggoyangkan scotch yang mengisi seperempat gelas, merasakan suhunya mulai naik dan aromanya semakin kuat.
"Kau tidak ingin minum?"
Minho mengangkat gelasnya untuk mempertegas tawaran minumannya pada Seungcheol.
"Ah iya, aku lupa. Kau ini masih anak-anak."
"Kau-..."
"Ssstt... Jangan mengerang didepan kakakmu seperti itu."
Minho menaruh telunjuknya didepan bibir. Seungcheol mulai panas. Tangannya mengepal erat menahan amarah atas kelakuan Minho yang senang menginjak-injak harga dirinya.
"Kendalikan saja dulu emosimu anak muda, sebelum kau berniat melawanku."
Minho kembali berdiri. Suara pantofel mewahnya membentuk nada-nada beraturan saat kakinya melangkah mendekati Seungcheol. Kini jarak diantara keduanya adalah 1 meter dari ujung kaki masing-masing.
"Apa yang kau lakukan pada calon saudara iparmu?"
"Pfftt..."
Suara tawa yang tertahan terdengar dari bibir Seungcheol. Pemuda itu memegangi perutnya yang sedikit nyeri akibat menahan geli.
"Saudara ipar? Tch... Tidak akan pernah."
"Kau meremehkanku, Choi Seungcheol."
"Aku hanya membicarakan kenyataan."
"Sekarang ini mulai tidak lucu. Lee Taemin ada calon istriku. Bangunlah dari mimpmu, you brat."
"Kau hanya terlalu percaya diri. Semua belum berakhir, Kakakku tersayang."
"Kau ingin mengacaukan segalanya?"
"Aku hanya ingin memastikan..."
Seungcheol menunda kalimatnya untuk berjalan mendekati pintu. Tangannya siap memutar knop namun sebelum itu, ia kembali melanjutkan sisa perkataannya yang menggantung ditengah jalan.
"...tidak akan ada yang menjadi saudara ipar."
"Berhenti disana."
Minho mempertegas suaranya agar Seungcheol tidak meninggalkan ruangan sebelum ia berbicara lagi.
Ia berjalan mengarah ke tempat Seungcheol berdiri. Dengan iris menggelap dan senyum skeptisnya, Minho membuat Seungcheol membalas tatapan matanya dengan kebencian yang tak lagi terukur.
"Kau dan aku mungkin terlihat bagaikan dua sisi mata pisau yang berbeda. Jika kau adalah sisi yang tajam, maka aku berada di sisi yang berlawanan. Namun bukan berarti sisi tumpul pada mata pisau tak dapat mengiris atau membelah sesuatu. Karena sisi yang tumpul punya banyak bagian untuk diasah, dan hasilnya..."
Minho meneguk habis scotch dalam gelas beling yang ditimangnya sejak tadi, lalu melanjutkan kalimatnya.
"...Bahkan mungkin lebih tajam dibanding sisi mata pisau yang kau punya."
.
.
.
Setelah berbincang dengan seorang penasehat pribadi yang baru saja meninggalkan ruangannya, Minho memangku dagunya dengan satu tangan dan tatapan mata yang menjurus pada satu titik dilantai. Impulsnya kembali menciptakan berbagai pertimbangan untuk dipilih. Ujung bibirnya ia gigiti pelan, setelahnya ia merasa cukup yakin dengan keputusan yang akan ia ambil kali ini.
Minho mengeluarkan handphone untuk mengirimi Taemin sebuah teks pesan singkat.
#Aku akan menemuimu di restaurant jam 1 siang ini#
.
.
.
Jam makan siang adalah saat paling sibuk bagi Taemin karena harus melayani lebih banyak pelanggan yang datang di banding jam-jam makan lainnya. Kali ini ia harus bekerja dengan konsep multitasking karena pegawai di restaurant kecilnya memang tidak banyak, hanya 3 orang saja. Apalagi Jeonghan belum pulang dari sekolah, hal ini membuat ia lebih repot dan harus benar-benar konsentrasi pada setiap permintaan pengunjung.
"Tolong bawakan aku 1 mangkuk Sup Miso lagi."
"Baiklah, akan segera diantar ke meja."
Taemin berteriak dari arah dapur selagi menggulung telur dadar yang dibuatnya dengan bantuan sumpit.
Karena melihat semua pegawainya tengah sibuk melakukan urusan masing-masing, akhirnya Taemin memilih untuk mengantarkan sendiri sup miso tambahan yang tadi dipesan oleh orang di meja nomor 3.
"Ini sup miso-nya, Tuan. Selamat menikmati."
Belum sampai sedetik Taemin menunduk, tiba-tiba ia merasakan lengannya ditarik oleh seseorang dan Taemin melangkah sedikit terseret mengikuti perintah orang itu.
Choi Minho.
"Dear? Apa yang kau lakukan disini?"
Taemin membulatkan matanya karena terkejut melihat Minho yang tiba-tiba datang ke restaurant.
"Kau tidak membaca pesanku?"
"Tidak sayang aku tidak sempat. Hari ini aku sangat sibuk dan sekarang adalah jam makan siang. Restaurant sedang ramai."
Taemin mengencangkan ikatan rambutnya sebelum beranjak meninggalkan Minho. Tapi lagi lagi pria itu menahannya dengan memegang kedua pergelangan tangan Taemin.
"Tunggu dulu sayang, kita harus bicara."
"Tapi Minho, aku sedang-..."
"Ssst... Dengarkan aku, Mine. Ini penting. Semua ini menyangkut dengan masa depan kita."
Masa depan?
Taemin terdiam dan sempat mengerutkan alisnya bingung. Tidak biasanya Minho ingin membicarakan hal serius dengan cara tergesa-gesa seperti ini.
Akhirnya Taemin memutuskan untuk tetap bersama kekasihnya, berdiri berhadapan dibawah tangga dimana tempatnya sedikit menjauh dari keramaian dan cukup hening.
"Begini, Mine. Tadi pagi aku baru selesai mengobrol panjang dengan penasehatku Tuan Kim."
Taemin menanti Minho melanjutkan kalimatnya dengan sabar, tidak berniat memotong pembicaraan kekasihnya sama sekali.
"Dia bilang, sebaiknya kita percepat tanggal pernikahan kita berdua, Mine. Aku sudah mengatur semua perencaan dan detailnya, sayang. Kita akan menikah bulan depan."
"A-apa? B-bulan depan?"
Seperti merasakan sengatan kejut listrik, Taemin membulatkan matanya dan sesuatu bagaikan tercekat ditenggorokannya. Sungguh ini benar-benar datang secara tiba-tiba, membuat mentalnya bahkan belum siap untuk mendengar pernyataan ini dari Minho.
"T-tapi kenapa, Dear? Kenapa harus dipercepat? Rasanya aku bahkan belum siap untuk-..."
"Ini semua demi kebaikan kita, Taemin. Demi kebaikanmu, aku, Jeonghan dan juga Seungcheol. Penasehat Kim bilang semakin cepat kita menikah, maka akan semakin mudah bagi Seungcheol untuk melepaskan harapannya darimu. Kita berdua juga berhak bahagia, Mine..."
.
.
.
End of Chapter 3
A/N: 2 jam ngetik dan hasilnya...
Bismillah aja. Semoga cukup enak untuk dibaca.
Well, oyasumi nasai~ besok saya ada presentasi di kampus untuk mempertanggung jawabkan karya ilmiah yang saya buat. Doakan ya...
