Small Changes

Disclaimers : This Story is fiction. All the Characters, names and places belong to their respective owners.

Warning : OOC, Typo, kata-kata tidak baku dan lain-lain.

XxXxXxXxXxX

Seseorang rela melakukan apapun untuk orang yang paling mereka sayangi.

Bagi sebagian Manusia yang hidup di dunia ini, hal seperti ini hanya lah bualan semata. Namun, dalam kenyataan nya, hal ini selalu dilakukan oleh seluruh manusia. Baik itu sadar, ataupun secara tidak sadar.

Sebagai contoh; Seorang Pria akan menghibur Wanita yang sangat mereka sayangi, jika si Wanita sedang sedih. Mereka akan melakukan segala hal, sekali lagi SEGALA hal, untuk menyenangkan si Wanita. Bahkan, tanpa sedikit pun ragu melakukan hal bodoh atau konyol di depan orang banyak, hanya untuk melihat si Wanita kembali tersenyum bahkan tertawa. Percaya atau tidak, ini nyata.

Contoh lain nya adalah; Seorang Ayah akan melakukan segala hal untuk anak nya, apapun itu, bahkan jika itu akan mengambil nyawa ataupun kebebasan mereka itu sendiri.

Hal ini pun berlaku untuk Jiraiya.

Walaupun ia merupakan salah satu Shinobi terkuat yang pernah berjalan di Bumi, Jiraiya sama sekali tidak bisa menolak permintaan orang yang ia sayangi. Terutama jika orang itu merupakan anak nya sendiri.

Pada awal nya, Jiraiya tentu saja mencoba menolak permintaan sang anak dengan segala hal yang ia bisa ia pikirkan. Bahkan, ia sudah bersiap untuk kabur dengan cara melompat dari jendela, jika saja Naruto tidak berbicara:

"Aku tidak mau kehilangan orang yang sangat ku sayangi."

Di tambah dengan air mata dan ekspresi itu, Jiraiya sama sekali tidak dapat melakukan apapun kecuali mengangguk.

Dan di sinilah sekarang Jiraiya berada, di sebuah kursi dengan pemandangan Konoha di belakangan nya. Tepat di dalam gedung tempat ia akan menjalankan pekerjaan barunya sebagai pemimpin Desa terkuat di Elemental Nation.

Sebagai Godaime Hokage.

X-x-X-x-X

Dengan sedikit usaha, Naruto mendudukan diri nya di sebuah akar pohon. Di depan nya, Sasuke dan Sakura juga duduk dengan santai. Dan seperti biasa nya, Kakashi tidak terlihat sama sekali.

Seperti yang telah ia duga, Sasuke terus melirik nya dengan pandangan yang bercampur, antara bingung dan iri. Kebanyakan iri sih. Sedangkan Sakura masih seperti biasa nya, terus mencoba mengajak bicara Sasuke.

Naruto akhir nya menghela nafas, "Baik lah Sasuke, apa yang kau ingin kan?"

Sebenarnya, Naruto sudah sangat tahu apa yang Sasuke ingin kan. Tapi, ia hanya ingin memastikan itu. Lagi pula, bertanya tidak akan membunuh mu kan?

"Bagaimana kau bisa sekuat itu? Beritahu aku cara nya." Ujar Sasuke, mata nya menajam menatap Naruto.

Sedang yang ditanya hanya tertawa ringan, "Bukan kah sudah itu jelas Sasuke? Tentu saja aku berlatih. Itu lah alasan mengapa semua orang bisa menjadi kuat."

Jawaban itu tentu saja membuat Sasuke kesal. Ia merasa, saat ini Naruto sedang mempermainkan nya.

"Aku tahu itu dobe. Maksud ku, apa rahasia kekuatan mu itu?" Ia mencoba memberi sedikit tekanan pada kata-kata nya.

Senyum Naruto menghilang, mata nya menajam. "Tidak, kau tidak tahu sama sekali maksud dari semua itu. Kau sama sekali tidak mengerti apa maksud dari berlatih itu. Yang selama ini kau lakukan hanya lah melampiaskan semua kekesalan pada kakak mu dengan gerakan tidak menentu." Ia berhenti, kemudian tertawa kecil. "Dan rahasia? Jangan bercanda. Tidak rahasia untuk menjadi kuat, yang kau perlukan hanya berlatih dan berlatih.

"Dan di sinilah perbedaaan kita Sasuke. Seperti yang sudah ku bilang tadi, kau berlatih hanya untuk melampiaskan kekesalan mu pada kakak mu dengan gerakan tidak menentu. Sedangkan aku? Aku melakukan semua latihan yang pernah ku lewati dengan sungguh-sungguh. Aku bahkan rela mati jika itu untuk memenuhi latihan yang diberikan oleh semua sensei ku."

Sakura yang selama ini hanya diam dan mendengarkan, karena sama sekali tidak mengerti. Akhirnya terpancing amarah nya setelah mendengar kata-kata Naruto, yang sangat menghina Sasuke-kun nya itu. Namun, sebelum sempat ia mengeluarkan sapatah kata untuk menghardik Naruto, ia terpaksa menutup kembali menutup kembali mulut nya. Salahkan Shinai yang sekarang ada di depan wajah nya, gagang nya dipegang oleh Naruto.

"Tutup mulut mu Haruno. Ini bukan urusan mu, dan jangan buat ini menjadi urusan mu. Pada akhirnya kau akan menyesal." Naruto berucap dengan dingin.

Sungguh, sebenar nya Naruto sama sekali tidak pernah sekasar dan sekeras ini pada seseorang, kecuali musuh nya. Malah sebenar nya, Naruto merupakan seorang yang periang dan baik. Namun, tingkah laku Sasuke sudah membuat nya sangat kesal. Hanya karena keluarga nya dibantai oleh kakak nya sendiri, ia sudah merasa dirinya lah orang yang paling sengsara di dunia ini.

Itu sunggu membuat Naruto kesal. Karena jika dibandingkan dengan Naruto, Sasuke masih sangat beruntung. Ia pernah merasakan apa itu kasih sayang orang tua, merasakan kehangatan keluarga. Sedangkan Naruto? Ia sama sekali tidak pernah mendapatkan semua itu, bahkan semenjak ia masih bayi. Sasuke tidak tahu rasanya, hanya dapat melihat interaksi antara anak dan orang tua selama lebih dari delapan tahun.

Sungguh, ia benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukan nya pada seorang 'Ayah'.

X-x-X-x-X

"Yo."

Salam khas itu membangunkan Naruto dari pikiran nya. Melihat ke atas, ia mendapati Kakashi-sensei duduk di salah satu cabang pohon dengan satu tangan terangkat, memberi salam. Jangan lupakan eye smile, ciri khas nya itu.

"Baik lah langsung saja, hari ini aku akan mendapatkan misi solo dari Hokage. Sedangkan kalian bertiga, cepat lah menuju Hokage Tower untuk mendapatkan misi."

Walaupun terdengar tidak tahu, Naruto tahu Kakashi-sensei sangat menyadari tensi berbeda yang ada pada mereka. Ia yakin, pria itu hanya malas untuk menanggapi nya. Ia juga menyadari, sepanjang Kakashi-sensei berbicara, mata sang Copy-Ninja itu selalu melirik ke arah nya.

Yeah, Naruto sudah mengharapkan ini terjadi. Semenjak ia masih terbaring di rumah sakit, dua hari yang lalu, Naruto sudah menyadari kalau beberapa Shinobi kuat dan berpengalaman Konoha sudah menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia juga sudah menyadari, beberapa ANBU selalu berada di sekitar diri nya.

Naruto sama sekali tidak memandang ini sebagai masalah. Lagi pula, sedari awal ia sama sekali tidak mempermasalahkan siapa yang mengetahui kekuatan nya.

"Tunggu dulu Kakashi-sensei, apa maksud mu dengan Hokage?" Suara Sakura membuat telinga Naruto berdiri.

"Oh, aku lupa kalian belum tahu. Kita sudah mendapatkan Hokage baru, peresmian nya baru di adakan besok. Tapi ia sudah mulai menjalankan tugas nya mulai hari ini. Bersyukurlah kalian mengetahui ini lebih dulu dibandingkan orang lain." Kakashi menjawab dengan santai.

Mendengar itu, Naruto secara tidak sadar tersenyum sangat lebar. Ternyata, bedebah tua itu tidak ingkar janji.

Kakashi yang melihat Naruto tersenyum bertanya, "Kenapa kau tersenyum selebar itu Naruto?"

Naruto tertawa malu sembari menggaruk kepala bagian belakang nya, karena tingkah nya disadari anggota team nya. "Tidak ada Sensei, aku hanya baru saja menyadari kalau aku ini sangat luar biasa." Jawab nya.

Kakashi, Sasuke dan Sakura berkeringat jatuh.

X-x-X-x-X

Semua angota team 7, kecuali Kakashi, sekarang tengah berjalan menuju ke Menara Hokage. Kakashi telah pergi untuk melaksanakan misi solo nya, beberapa saat lalu. Jadi, mereka memutuskan untuk segera memenuhi panggilan Hokage dan pergi menuju Hokage Tower. Sekalian untuk melihat siapa Hokage baru.

Aura di sekitar mereka sudah mulai kembali seperti semula, terima kasih pada tingkah konyol dari Naruto. Walaupun begitu, mereka bertiga masih berjalan tanpa berbicara sedikitpun. Hanya diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

"Hai Sasuke-kun!"

Teriakan itu membuat Naruto mengangkat kepala nya, tepat di daerah penglihatan nya, anggota dari team 10 berjalan menuju ke arah mereka dengan cara mereka masing-masing. Sama seperti mereka, Naruto sama sekali tidak melihat guru janggut bersama team 10.

Menghiraukan Ino yang langsung menuju ke Sasuke, kemudian mulai beradu mulut dengan Sakura. Naruto memilih memberikan anggukan pada Shikamaru dan Chouji. "Shikamaru, Choji." Sapanya.

Berbeda dengan Choji yang memilih membalas sapaan Naruto dengan sebuah anggukan. Shikamaru malah menaikkan salah satu alis nya. "Ada apa dengan mu, Naruto? Tidak biasa nya kau setenang ini." Ujar sang Nara.

"Huh?" Naruto memiringkan sedikit kepala nya. "Memang nya selama ini aku selalu bersemangat apa?" Tanya nya.

Kali ini Chouji yang memilih untuk menjawab, "Benar. Rasa nya sangat berbeda melihat mu tenang seperti."

Naruto tersenyum kecil, "Kalau begitu, bisa kau bilang aku sedang mencoba merubah diri." Jawab nya.

Mata Shikamaru sedikit menajam ke arah Naruto. Sudah sangat jelas jika orang ini bukan lah Naruto yang selama ini mereka kenal. Bukan hanya dari sikap dan cara Naruto yang ini membawa diri nya, Shikamru juga dapat memastikan itu dari aura yang ada pada Naruto ini. Jika Naruto yang biasa mereka kenal memiliki aura periang, cerah dan bodoh. Naruto ini sungguh sangat berbeda. Aura periang dan cerah itu masih ada, hanya berkurang sedikit, Sedangkan aura bodoh itu sudah menghilang tanpa bekas. Yang menggantikan itu adalah aura super tenang dan … Kuat. Entah kenapa dari aura nya saja, Shikamaru sudah merasa takut pada Naruto ini.

Melirik ke arah sahabat masa kecil nya, yang juga melihat ke arah nya dengan mata sedikit menajam. Shikamaru tahu, sang Akimichi juga menyadari hal ini.

"Jadi, kalian juga akan ke Menara Hokage?" Tanya Naruto, setelah beberapa saat hening.

Shikamaru mengangguk, "Yah, entah apapun yang akan Hokage baru ini perintahkan pada kita, aku tahu itu pasti akan merepotkan." Jawab sang Nara.

Terima kasih pada pembicaraan mereka, sekarang team 7 dan 10 telah berada di depan ruang Hokage. Setelah menunggu sedikit lama, mereka akhir nya dipersilahkan untuk masuk.

Ketika masuk, bukan nya pemandangan bersih dan rapi yang biasa mereka lihat ketika akan mengambil misi, justru yang mereka dapatkan adalah pemandangan yang sangat berbanding terbalik dengan yang biasa. Ruangan yang biasa nya sangat rapi itu, kini terlihat seperti kapal yang menabrak karang dan tenggelam kemudian ditabrak Paus.

Kertas-kertas, yang nampak nya penting, berserakan di lantai. Bahkan ada beberapa kertas yang masih berada di udara. Meja yang biasa digunakan oleh Hokage, kini telah terbelah dua. Lantai, dinding, dan atap sudah memiliki lobang lebih dari hitungan kecil. Naruto bahkan melihat ada beberapa yang berbentuk seperti wajah Manusia.

All in all, Ruangan ini sudah tidak berbentuk.

Tentu saja, keadaan ruangan ini membuat semua anggota team 7 dan 10 terkejut bukan main.

"Heh, kulihat kau bersenang-senang di sini Ero-sennin."

Tidak bagi seorang Uzumaki Naruto tentu nya.

Pandangan mereka yang semula masih melihat sekeliling segera melihat ke arah Naruto berbicara. Di sana, di belakang meja Hokage tak berbentuk itu, mereka mendapati dua sosok. Yang satu dengan tubuh besar dan rambut putih, dan yang satu nya Iruka-sensei. Jelas terlihat Iruka-sensei sedang mencoba menenangkan sosok besar itu.

Sosok besar itu, yang teridentifikasi Jiraiya itu segera melihat ke arah Naruto, mata nya tajam memberikan glare pada Naruto yang tersenyum lebar. "Bersenang-senang? Bersenang senang kau bilang?!" Jiraiya meraung besar, "Aku gila di sini! Kertas-kertas itu tidak ada habis nya!"

Naruto tertawa kecil, "Kau melebih-lebihkan menurutku." Ia membalas.

"Aku tidak melebih-lebihkan bodoh! Warga Desa ini yang melebih-lebihkan! Mereka bahkan mengadukan kehilangan sandal! A fucking sandal!" Ia kemudian menunjuk Naruto, "Dan ini semua karena kau! Karena kau! Aku akan membalas, ingat itu Naruto!" Teriak nya.

Semua yang ada di ruangan itu berkeringat jatuh melihat aksi Hokage baru mereka.

"Ehem," Iruka membatuk untuk menarik perhatian, "Baik lah Hokage-sama, anda bisa membalas dendam nanti. Sekarang lebih baik anda cepat mengatakan apa yang anda inginkan dari mereka. Dan cepat bereskan semua kekacauan ini."

Iruka mengatakan nya dengan sebuah helaan nafas panjang. Sungguh, mengurus Hokage baru ini sama dengan mengurus Naruto saat Academy dulu.

Seakan tersadar, Sang Godaime segera mengambil salah satu gulungan dari haori yang ia kenakan. Kemudian segera melemparkan itu pada Naruto yang masih tersenyum lebar. "Misi kalian adalah untuk membasmi sebuah organisasi penjahat yang selama ini meneror daerah Hi no Kuni. Letak nya ada di perbatasan antara Kaminari no Kuni dan Hi no Kuni. Jadi berhati-hati lah agar tidak memasuki daerah itu."

Sang Hokage kemudian melihat satu persatu anggota team 7 dan 10, seakan mengukur kemampuan mereka hanya dengan satu kali lihat, hingga berhenti di Sasuke. "Walaupun mereka hanya terdiri dari para Samurai. Jangan pernah meremehkan mereka, ada sebuah alasan kenapa mereka di klasifikasikan sebagai penjahat level A." Ia berbicara dengan mata tepat menatap mata Sasuke, seakan perkataan ini diberikan khusus hanya untuk sang Uchiha.

"Tunggu dulu, apa maksud anda dengan level A?" Tanya Ino, takut dan khawatir terlihat jelas di mata nya.

Jiraiya mengangguk, "Benar, misi kali ini adalah misi level A. Kalian tenang saja, dua team lagi akan membantu team kalian. Mereka akan bertemu kalian dua jam dari sekarang di gerbang Desa." Jawab nya.

Mata Shikamaru yang awal nya tertutup, terbuka salah satu nya untuk melihat sang Hokage tepat di mata. "Bukan bermaksud lancang Hokage-sama, tapi apa kah ini tidak salah? Walaupun ditambah dengan dua team lagi, yang hamba yakini Genin juga, Kami semua masih lah Genin. Level kami masih jauh di bawah Jounin dan Chuunin. Di tambah dengan tidak ada nya satu pun guru pembimbing bersama kami, apa kah anda yakin kami bisa menghadapi mereka?"

Jiraiya sedikit terkejut atas kata-kata yang diucapkan oleh Shikamaru. Di Jaman ini, sangat jarang ia menemui Shinobi yang tidak terburu-buru dan teliti, kebanyakan Shinobi pada saat ini biasa nya akan menelan mentah-mentah perintah yang diberikan oleh pemimpin mereka. Namun, bocah satu ini sangat berbeda. Ia terlihat sangat malas untuk melakukan sesuatu, namun sebenarnya otak nya sudah jauh berpikir ke depan dari teman-teman nya. Memikirkan semua yang sudah terjadi dan belum terjadi secara bersamaan, dan membuat jalan keluar nya. Sungguh, Nara selalu dapat membuat nya kagum.

Melihat Hokage nya diam, Iruka memilih untuk menjawab. "Kau tahu sendiri Shikamaru jika Desa kita sedang dalam proses pembangunan. Kita membutuhkan banyak sekali uang. Kami tidak bisa menugaskan Jounin dan Chuunin atau bahkan ANBU untuk melakukan misi ini. Karena jika dibandingkan dengan misi level A lain nya, misi ini bisa dibilang hanya lah lalat. Dan kami yakin, kalian bisa menyelesaikan misi ini."

Walaupun ia mengatakan itu, di dalam hati Iruka masih tidak yakin untuk memberikan mereka misi ini. Walaupun tidak seberapa, penjahat yang akan mereka hadapi ini masih lah berada dalam class A. Sebenar nya, sewaktu Hokage baru memberitahukan pada nya bahwa ia akan memberikan misi ini pada mantan murid nya, ia bersikeras menolak. Berusaha mengatakan bahwa mereka belum mampu melakukan tugas semacam ini. Namun, ia langsung diam ketika melihat keyakinan besi di dalam mata sang Hokage.

"Lagi pula, mereka yang seharus takut. Bukan kalian." Jiraiya berkata dengan sebuah seringai.

"Hell yeah! Mereka tidak tahu akan berurusan dengan siapa!" Naruto meninju udara dengan semangat.

Secara sadar ataupun tidak, tingkah Naruto ini membawa kepercayaan diri dan sebuah senyum pada setiap anggota team 7 dan 10. Bahkan Uchiha Sasuke sekalipun.

"Baik lah, kalian segera pulang dan bertemu lagi di gerbang dua jam dari sekarang. Ingat, bawa semua keperluan untuk 1 minggu." Perintah Jiraiya.

Kemudian, secara bersamaan semua team membungkuk dan segera pergi keluar dari pintu. Menyisakan Naruto yang terlihat tidak tahu apa.

"Naruto? Kenapa kau masih di sini?" Tanya Jiraiya, dengan salah satu alis terangkat.

Naruto hanya mengeluarkan cengiran lebar nya, "Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu menderita."

Sebagian meja terbang. Naruto menghindar.

"Pergi dari sini bocah!"

"Baik, baik." Naruto berbalik dan mulai berjalan menuju pintu dengan mulut yang dimajukan, "Tidak perlu berteriak juga kali." Gumam nya.

"Naruto," Secara reflex, sang pemilik nama segera meliat ke belakang dengan tubuh yang masih menghadap pintu yang sudah setengah terbuka. "Tolong bawa mereka kembali dengan selamat."

Naruto hanya mengangkat jari jempol kiri nya ke samping tubuh nya, "Tentu saja, akan ku pastikan itu."

X-x-X-x-X

Melihat ke samping, ia mendapati team 10 mentap ke arah nya, tidak terkecuali Shikamaru. Bahkan Chouji pun menghentikan aktifitas makan nya. Melihat ke depan, ia juga mendapati anggota team nya melihat ke arah nya.

Alis Naruto berkedut, "Baiklah, katakan kenapa kalian menatap ku terus?" Tanya nya.

Sial nya, ia sama sekali tidak mendapat jawaban apapun. Malah, tatapan mereka menjadi jauh lebih intens kepada diri nya. Sukses menambah kedutan di alis sang Uzumaki.

"Damn man! Ada apa dengan kalian?!" Teriak nya, frustasi.

Ino, sebagai yang pertama sadar, segera menggelengkan kepala nya. "Kami yang seharus nya bertanya, ada apa dengan mu?!" Ia menunjuk Naruto, "Tiba-tiba kau memakai pakaian baru! Dan sial nya, kau … terlihat … Tampan…." Suara nya semakin nyaris tidak terdengar pada bagian akhir.

Bersamaan dengan itu juga, Ino kembali berteriak. "Tapi tidak lebih baik dari Sasuke-kun ku!"

Dengan itu, Naruto hanya bisa menghela nafas melihat Ino dan Sakura mulai memperebutkan Sasuke yang hanya diam.

"Kau terlihat keren dengan itu Naruto." Shikamaru buka mulut.

Mengalihkan kepalanya kepada Shikamaru, Naruto memberikan sang Nara sebuah jempol dan cengiran andalan nya. "Aku memang keren dari dulu Shikamaru." Ucap nya, Shikamaru hanya memutar bola mata nya mendengar ini.

"Ngomong-ngomong, dari mana kau dapat pakaian itu? Maaf saja, tapi selama ini aku tidak pernah melihat mu tidak memakai pakaian perusak mata itu." Chouji berbicara, mulut nya sudah kembali terpenuhi oleh keripik kentang.

Naruto melihat pakaian nya, dari ujung kaki hingga sampai batas mata nya terlihat. Jaket orange terang keren milik nya, telah ia ganti dengan sebuah jaket lain. Orange juga tentu nya, namun dengan warna yang sedikit gelap, tanpa lengan. Sebagai dalaman, Naruto menggunakan sebuah kaus biru lengan pendek. Untuk bagian kaki, ia mengenakan sebuah celana dengan panjang sedikit melebihi lutut, warna hitam. Dan sebagai pelengkap, kini di belakang tubuh Naruto, tersampir sebuah Shinai.

"Oh, ini hadiah dari seseorang." Jawab nya pendek.

Seseorang itu sebenar nya adalah Jiraiya. Sang Sage memberikan pakaian ini pada nya saat mereka ada di daerah Tetsu no Kuni, sekitar 2 bulan sejak pertemuan mereka. Alasan nya sudah jelas, karena Jiraiya sangat membenci pakaian perusak mata milik Naruto itu.

"Kau tahu Naruto, biasa nya Shinobi akan memilih pedang atau benda tajam lain sebagai senjata. Tapi, kau malah memilih sebuah Shinai," Shikamaru menujuk Shinai di pundak Naruto "Dan apa kau bisa menggunakan nya?"

Sebagai respons, Naruto mengambil Shinai itu dari punggung nya. Kemudian mulai mengayunkan nya dengan irama pelan. "Aku memilih ini karena sebuah lasan. Dan tidak, aku belum bisa menggunakan nya. Aku membawa nya hanya untuk membiasakan diri ku membawa benda ini."

Bohong.

Shikamaru tahu apa yang dikatakan Naruto itu sebuah kebohongan. Bahkan dari cara si pirang memegang benda itu, Shikamaru sudah tahu bahwa Naruto sangat mahir menggunakan benda itu. Ia tidak tahu kenapa si pirang berbohong pada mereka, namun yang pasti, suatu saat ia akan membongkar itu semua.

"Apa kah kalian tahu siapa yang akan membantu kita?" Tanya Naruto.

"Aku tidak tahu siapa. Tapi, menurut Shikamaru, mereka pasti lah Genin sama seperti kita." Jawab Chouji, yang sekarang tengah membuka bungkus baru keripik kentang milik nya.

"Ya, dan itu tidak salah. Hokage-sama maupun Iruka-sensei sama sekali tidak mengatakan aku salah, saat kita di ruangan Hokage tadi. Dan aku punya firasat kalau mereka, juga rookie seperti kita." Ujar Shikamaru, Mata nya tertutup.

Setelah itu, mereka semua diam, simpan Sakura dan Ino yang masih terlibat duel untuk memperebutkan Sasuke. Diam dan menunggu, hanya itu yang mereka lakukan.

"Hai semua!"

Suara cempreng laki-laki itu membuat mereka mengalihkan pandangan menuju jalan Desa. Di sana, mereka menemukan team 8 datang dengan gaya mereka masing-masing. Kiba dengan berlari, Shino dengan gaya cool nya, dan Hinata dengan malu nya.

Saat sudah mendekat, mata Hinata bertemu dengan mata Naruto. Putih dan Biru. Mereka sama-sama tidak mengalihkan pandangan dari mata lawan jenis mereka.

Nruto berkedip, Hinata masih biasa. Seakan tidak sadar apa yang terjadi.

Naruto berkedip lagi, wajah Hinata mulai memerah.

Naruto kembali berkedip, Hinata pingsan.

"Ada apa dengan teman mu itu Kiba?!"

Sekarang, semua, bahkan Sasuke, orang yang ada di depan gerbang itu mengelilingi Hinata. Mencoba mengecek keadaan sang Hyuuga.

Naruto hanya diam di tempat, dengan wajah yang seperti di tabrak truk.

What the hell?

Dalam hati Naruto berharap, situasi tidak akan lebih buruk dari ini. Dan sial nya, karena Tuhan membenci nya, permintaan itu tidak terkabul.

"YOSH, SEMUA NYA! MARI LAKUKAN INI DENGAN SEMANGAT MASA MUDA!"

"Oh shit, ku kutuk kau Jiraiya!"

Di dalam ruangan Hokage, Iruka bertanya-tanya kenapa Jiraiya tiba-tiba tertawa besar.

xXxXxXxXxXx

Baik lah, saya tidak akan bertele-tele mengatakan alasan kenapa saya tidak bisa update fic ini dengan cepat. Saya hanya ingin berterima kasih karena sudah mau membaca fic jelek buatan saya ini.

Chapter ini sebenar nya akan saya buat khusus menceritakan masa lalu Naruto, saat berkelana bersama Jiraiya. Namun, setelah saya pikir-pikir, cerita masa lalu Naruto akan saya ceritakan nanti saja. Oh y, sebenar nya, chapter ini jauh lebih panjang dari ini, tapi karena beberapa alasan, saya memilih membagi nya menjadi beberapa bagian.

Untuk penampilan Naruto saat ini, anda sekalian bisa membayangkan pakaian nya saat kecil. Di Canon, pakaian Naruto yang saya pakai saat ini muncul pada flashback-flashback saat Naruto selesai melawan Pain.

Untuk kekuatan, Naruto tidak hanya akan focus pada Kenjutsu. Ia juga bisa menggunakan Ninjutsu dan Taijutsu, hanya saja Kenjutsu lebih sering dipakai.

Dan sekedar pemberitahuan, saya TIDAK menulis untuk mendapatkan pujian. Ini murni untuk kepuasan batin saya. Dan alasan kenapa saya tidak meng-update fic lain karena kehilangan ide. Bukan karena review. Karena itu pula, saya nyatakan semua fic itu HIATUS. Kecuali untuk fic ini. Dan kemungkinan besar, fic Naruto Bael akan saya tulis ulang. Karena banyak nya kesalahan yang saya buat pada fic itu.

Dan, saya benar-benar minta maaf untuk review yang tidak terbalaskan. Saya pada bulan ini dan kemarin-kemarin, sama sekali tidak membuka Fanfiction. Hanya membuka saat ingin meng-update fic. Itu pun hanya sekedar meng-update. Jadi, saya mohon pengertian anda sekalian.

Sekian dan Terima kasih.

RnR?

Silver M.