Moon & Sun - Chapter 4 : I'll Protect You
Moon & Sun
With Vkook
Vamp!Jk Human!V
Happy Reading~
.
.
.
Seorang perempuan cantik meletakkan segelas anggur merah dan segelas darah hewan di meja. Perempuan itu adalah istri dari Hoseok.
"Terimakasih nuna," Ucap Taehyung.
Perempuan itu menyunggingkan senyum kecil dan kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan dua pria yang sebelumnya tengah mengobrol membahas sesuatu.
"Jadi bagaimana kedepannya? Apa kau memilih untuk diam dan tidak memberitahunya?"
"Belum waktunya, kalau aku memberitahunya sekarang. Dia akan kebingungan dan menganggapku orang gila."
"Pfft- terserah dirimu saja tae, yang terpenting aku tidak mau keponakan ku kenapa-napa lagi. Jimin sungguh berbahaya. Aku benar-benar marah saat melihat Jungkook di perlakukan sebagai budak olehnya. Kalau bukan karena dia penerus klan terbesar dan terkuat klan Park, aku sudah mengajaknya perang sekarang juga."
Taehyung menghela napas berat, "Hyung, jangan ceroboh. Aku harus mendekati Jungkook perlahan-lahan. Dan akan melindunginya tanpa ia sadari walau memerlukan waktu sedikit lebih lama. Ku mohon bersabarlah, kita tidak bisa mengadakan perang sekarang juga. Sama saja menyerahkan diri kepada kematian."
"Kita harus menyusun rencana yang matang dan mendapat pengikut yang setia siap membantu disaat di perlukan."
"Taehyung, kau sangat mirip dengan ayahmu. Tidak ku sangka darahnya yang mengalir di tubuhmu mengalirkan kepintarannya juga."
"Sialan, apa hyung sebenarnya mengataiku bodoh?"
"Just kidding."
"Jung Hoseok?"
Pria yang dipanggil namanya menoleh ke sumber suara begitu juga Taehyung. Rupanya orangtua Jungkook datang ke kediaman Hoseok bersama dengan Jungkook. Anak itu melotot ke arah Taehyung, ia terkejut karena keberadaan Taehyung di rumah pamannya.
"Aigoo, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa. Kau sehat-sehat sajakan? Mana istri cantik mu mana…"
"Cepat antarkan aku kepadanya."
"Heei seharusnya kalian pergi berbulan madu setelah menikah."
Hoseok langsung menarik Ibu Jungkook-kakaknya yang kelewatan cerewet masuk keadalam rumah, Ayah Jungkook mengikuti di belakang mereka. Taehyung sempat membungkuk ke arah ayah Jungkook. Hingga kini tinggal mereka berdua. Jungkook berdiri di depannya dan sedang menatap curiga.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Mengganggu pengantin baru," Taehyung tersenyum jahil, "Bagaimana dengan dirimu?"
"Bukan urusan mu!" Jawab Jungkook galak. Dia masih sedikit kesal saat melihat wajah Taehyung.
"Masih marah? Berapa lama aku harus menunggu mu jinak?"
Tangan Taehyung mengacak rambut Jungkook, anak itu menepis kasar tangan Taehyung.
"Jinak? Aku bukan peliharaan mu, Tuan!"
"Belum, tapi segera sayang." Satu kedipan mata Taehyung layangkan kepada Jungkook.
"Ugh, menjijikan."
Jungkook cepat-cepat masuk kedalam rumah meninggalkan Taehyung yang tertawa keras di belakangnya. Menjaili Jungkook akan menjadi hobi baru Taehyung sepertinya.
Setelah pertemuan dan hari semakin malam Taehyung mengantar Jungkook pulang, setelah perdebatan yang panjang hingga Taehyung yang menang. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan akhirnya mereka sampai di depan rumah Jungkook.
"Kau tidak keluar? Atau menunggu aku membukakan pintu?"
"Kita sudah sampai? Ah, terimakasih sudah mengantar ku."
Jungkook membuka pintu mobil tetapi tangan Taehyung menahannya.
"Kau tidak megajakku masuk?"
"Untuk apa? Aku tidak memperbolehkan sembarangan orang masuk kerumah ku."
Jungkook keluar dari mobil dan diikuti oleh Taehyung. Pria itu mengunci mobilnya dan berjalan ke pintu masuk rumah Jungkook.
"Terimakasih kau sangat baik, manis. Ayo kita masuk."
"Aku tidak memperbolehkan kau masuk, Tuan. Minggir!"
Jungkook membuka pintu rumahnya dan ia kalah cepat Taehyung telah ikut menyelinap masuk. Taehyung melihat-lihat semua isi dalam rumah Jungkook, tidak banyak yang berubah. Ia jadi ingat kenangan lamanya dulu, dirumah ini.
Jungkook masuk ke dalam kamarnya membiarkan Taehyung di luar. Ia membuka pakaiannya mengganti dengan pakaian yang lebih nyaman.
"Bekas-bekas luka itu, kau dapat dari mana?"
"ASTAGA!"
"Sejak kapan kau disini?!"
"Sejak kau membuka bajumu, Jungkook."
"Kau pria mesum, cepat pergi dari rumah ku!"
Bukannya pergi Taehyung melangkah mendekat, kaki Jungkook melangkah mundur tatapan tajam Taehyung begitu menyeramkan. Jungkook tidak bisa mundur lagi dinding menghalangi geraknya dan Taehyung semakin mendekat terus mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"K-kau, ku peringatkan jangan berbuat macam-macam!"
Tangan Taehyung mengelus pipi Jungkook dengan lembut, "Apa kau tidak mengingatku Jungkook?"
"Tentu saja aku mengingat mu, kau polisi dan pemburu vampir cabul."
Taehyung tersenyum, mata Jungkook melotot saat menangkap senyum sedih dari Taehyung. Ada apa dengan pria mesum ini?
"Kau… benar-benar mengenalku dengan baik, Jeon Jungkook."
Taehyung mengembalikan jarak normal antara mereka, pria itu melangkah menjauh, "Selamat tidur, jaga dirimu jangan sampai terluka lagi. Aku pergi." Ia berjalan keluar rumah dan menghidupkan mesin mobilnya.
Dari balik jendela Jungkook memperhatikan Taehyung, mobil itu bergerak menjauh dari rumahnya. Jungkook kembali mengingat senyuman sedih itu, entah kenapa hatinya ikut sedih ada apa dengannya. Ada apa dengan Taehyung.
.
Kembali kepada rutinitas Jungkook di kampus. Ah sungguh melelahkan hari ini, ia memiliki jadwal hingga sore belum lagi harus menjadi kacungnya Jimin. Ngomong-ngomong pria itu sedikit berubah hari ini, tidak seperti biasanya. Jimin sejak dari pagi tidak terlalu banyak bicara kepadanya, pria itu tidak menyuruh bawahannya untuk mengerjai Jungkook. Ini sungguh aneh, bukannya Jungkook tidak bersyukur karena bisa sedikit bebas dia sudah terbiasa dengan kejahatan Jimin di kampus. Dan diamnya Jimin sungguh membuat Jungkook lebih takut, seakan-akan sesuatu yang tidak bisa ia prediksi akan datang menjemputnya. Oke Jungkook mulai berlebihan.
Jungkook kembali fokus mengerjakan tugas-tugas Jimin yang masih setengah jalan dan belum selesai sejak tadi. Jam tangan Jungkook menunjukkan pukul 2.15, ah waktunya kelas fotografi. Jungkook sedikit melirik ke arah Jimin yang duduk di sampingnya
"Jimin aku ada kelas, dan tugas-tugas mu besok akan ku selesaikan. Aku permisi."
Jimin hanya diam matanya masih fokus melihat telepon genggamnya. Melihat itu Jungkook mengurungkan niatnya untuk beranjak.
"Jimin?"
"Tetap disini."
Jungkook bungkam, anak itu memilih kembali duduk manis di samping Jimin. Pikirannya melayang memikirkan kelas fotografi yang sangat ia sukai. Tiba-tiba hatinya menjadi sedih karena tidak bisa masuk.
"Jimin?" Panggil Jungkook, ia sedikit menarik baju Jimin pelan untuk menarik perhatian pria itu.
Jimin menoleh ke arahnya, dengan tampang datar, "Apa?"
"B,bolehkah aku masuk kelas?"
"Kau tidak mendengarku? Apa telinga kau tuli?"
"Tapi itu kelas fotografi," Ucap Jungkook sedih.
"Aku tidak peduli."
Jungkook menundukkan kepalanya, Jimin sungguh menyebalkan ia sungguh membenci pria ini. Kenapa Jimin begitu kejam kepadanya. Dasar pria jahat!
Jimin menyimpan telepon genggamnya, ia melihat ke arah Jungkook ia menyunggingkan senyum yang menyeramkan. Dasar makhluk rendahan, batinnya.
"Jungkook, kesini."
Jimin menepuk pahanya. Jungkook yang tidak mengerti hanya melihat bingung ke arah Jimin.
"Cepat duduk disini."
"D,duduk di situ?"
Jungkook menoleh ke kanan dan ke kiri. Hell, mereka sedang di perpustakaan kampus beberapa anak-anak tengah duduk tidak jauh dari mereka. Apa-apaan Jimin menyuruh Jungkook duduk di pangkuannya. Itu sungguh tidak nyaman dan sangat aneh.
"Cepat atau kau mau aku yang menarikmu paksa?"
"Tapi kita sedang di perpustakaan dan aku bisa duduk disini saj-"
SREET
Badan Jungkook tertarik ke depan, dengan gerak cepat Jimin mendudukan Jungkook di pangkuannya. Pria itu memeluk pinggang si darah campuran yang tertunduk malu. Seakan tidak peduli Jimin mulai mencium daerah leher Jungkook, merasakan aliran darah campuran itu mengalir cepat.
Setelah kejadian ciuman berdarah mereka, Jimin menjadi candu dengan darah Jungkook. Darah manis itu sungguh nikmat, berbeda dengan darah yang perna ia cicipi. Begitu candu hingga membuatnya gila.
"H,hentikan kumohon." Suara Jungkook bergetar ia sungguh takut sekarang. Jimin mau berpuat apa kepadanya?
Tiba-tiba Jimin mengeluarkan taringnya dan menancapkan ke leher mulus Jungkook. Darah mengalir hingga ke bahu Jungkook.
"Aahmmp-"
Sakit. Ini sungguh sakit, untuk pertama kalinya Jungkook merasakan taring vampir menancap di lehernya. Terasa panas dan sungguh menyakitkan. Jimin menghisap darahnya dengan cepat. Jungkook menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak menjerit dan menarik perhatian orang lain.
Jimin mengapa kau melakukan ini?
Kalau kau kehausan mengapa meminum darahku? Ini tidak benar!
Jungkook memberontak mencoba mendorong Jimin. Tapi ia kalah kuat dengan kekuatan Jimin yang lebih besar darinya.
"S,stoop… Jimin tidak,"
Butiran kristal mengalir deras dari mata Jungkook.
Siapa pun tolong aku…
"J,jiminh… ah henti-"
Akhirnya Jungkook kehilangan kesadarannya, tubuh itu di peluk erat oleh Jimin agar tidak jatuh. Pria itu masih menghisap darah manis dari vampir darah campuran hingga ia merasa kenyang dan puas. Tidak peduli Jungkook hampir habis kehilangan darahnya, tubuh anak itu menjadi pucat.
…
"Baiklah, terimakasih infonya."
Taehyung mematikan teleponnya.
"Sialan kau Park Jimin!"
Ia melihat mobil Jimin keluar dari gerbang universitas, Taehyung menjalankan mobilnya memacu dan menghadang mobil Jimin. Ia keluar dari mobil dan mengetuk kaca jendela mobil itu.
"Tuan, ada Taehyun-"
DOR!
Kepala supir itu tertembak, sopir yang merupakan vampir itu tidak mati tetapi sekarat karena Taehyung menembak hanya dengan peluru biasa. Mendengar suara tembakan orang-orang di sekitar mereka menjadi panik dan pergi menjauh. Taehyung memecahkan kaca jendela mobil dan membuka kunci pintu.
"Sudah ku bilang jangan pernah kau sentuh dia Park Jimin!" Geram Taehyung.
"Siapa kau? Melarangku dekat dengan Jungkook?"
Jimin mengelus pipi Jungkook yang tengah tertidur lemas di pelukannya, pandangan meremehkan Jimin lontarkan ke Taehyung. Pria itu senang melihat wajah kesal Taehyung. Membuat pemburu itu marah dan cemas karena Jungkook. Kena kau Taehyung!
"Sebaiknya kau mempersiapkan diri untuk perang yang akan menunggumu Park Jimin."
Tubuh Jungkook di tarik dan di gendong oleh Taehyung. Setelah menidurkan Jungkook di dalam mobilnya ia menjalankan mobil meninggalkan Jimin.
"Kau tidak akan semudah itu menjauhkan aku dengan Jungkook."
Jimin menatap ke setumpuk otak yang bercecer dari kepala supirnya. Dengan kekuatannya darah dan otak itu kembali terbentuk semula hingga sopir itu kembali hidup.
"Terimakasih Tuan."
"Jalan cepat."
"Baik Tuan."
Jangan pernah menganggap remeh diriku Taehyung, kau mengajak perang maka bersiaplah bertemu dengan ajalmu lebih cepat.
.
Jungkook tengah terbaring di kasur Taehyung. Keadaan anak itu masih lemah, tapi berkat bantuan darah yang mengalir ke tubuhnya sedikit membantu untuk Jungkook. Taehyung sudah membersihkan tubuh Jungkook dengan kain basah serta menggantinya dengan pakaiannya yang agak kebesaran. Pria itu juga sudah mengobati bekas gigitan di leher Jungkook. Karena terlalu lemah kekuatan pemulihan diri Jungkook tidak bekerja untuk saat ini. Luka itu tidak cepat mengering dan kembali seperti semula.
Taehyung memandang sedih melihat wajah pucat Jungkook, ia menggenggam tangan dingin Jungkook. Merapalkan doa agar Jungkook baik-baik saja dan cepat pulih.
"Tae.. hyung?" Ucap Jungkook pelan hampir seperti berbisik.
"Jungkook, tetap istirahat aku akan menjagamu."
Jungkook tersenyum ke arah Taehyung.
"Terimakasih."
"Tidurlah sayang,"
Taehyung mengelus lembut rambut Jungkook, elusan itu memberikan rasa nyaman, sepertinya ia pernah merasakan ini. Mata Jungkook memberat, anak itu menutup matanya dan tertidur dengan nyenyak. Taehyung mengecup pucuk kepala Jungkook ia akan terjaga hingga pagi untuk menjaga Jungkook.
…
Jungkook terbangun dengan rasa badan yang lebih segar, tadi malam ia bermimpi tentang Taehyung yang sedang mengelus rambutnya dan menyuruhnya tidur. Dan Taehyung memanggilnya sayang. Dasar polisi- Tunggu, Jungkook melihat kesekitar kamar, ini bukan kamar miliknya. Apakah tadi malam itu bukan mimpi?
"Ah kau sudah bangun, Jungkook?"
Taehyung duduk di pinggiran kasur mengecek keadaan Jungkook.
"Keadaanmu sudah lebih baik pagi ini, ayo sarapan."
Tangan Jungkook menarik baju Taehyung, pria itu menandang Jungkook bingung.
"Bagaimana aku bisa disini?"
"Tentu saja karena aku menolong mu."
"Menolongku?"
"Apa yang Jimin lakukan padamu Jungkook?"
"Ia, ia…" Jungkook mengingat kembali kejadian kemarin Jimin menghisap darahnya di perpustakaan. Tangan Jungkook meraba bagian lehernya, sudah tidak ada bekas gigitan itu lagi. Apakah sudah menghilang?
"Dia sering menghisap darah mu?"
Jungkook menggelengkan kepalanya, "Ini yang p,pertama." Bohongnya, bagaimana ia bisa jujur kepada Taehyung kalau saat ia dan Jimin berciuman pada malam pernikahan pamannya Jimin juga menghisap darahnya, itu memalukan. Dan Taehyung tidak boleh tau kalau ia telah berciuman dengan Jimin.
"Yang pertama ya?"
Jungkook mengangguk cepat.
"Apakah kau bisa tidak memberitau orangtua dan paman ku? Aku tidak mau mereka khawatir…"
Jungkook mengapa? Mengapa kau tidak mengkhawatirkan keselamatan mu sendiri? Keluarga mu pasti akan selalu membantu termasuk juga dengan aku.
"Baiklah, tapi aku memberimu 2 syarat dan kau tidak bisa menolaknya."
"Aku setuju!"
.
Jimin sedang sibuk melakukan urusan ranjang, hari ini ia menangkap seekor serigala yang sedang memantau istananya. Berani sekali serigala lemah ini berkeliaran dekat istananya dan mencoba mencuri informasi.
Apa ini serigala utusan Taehyung?
Bodoh sekali pria itu mengirim serigala lemah untuk mencari informasinya.
"AAH! Tidak, tolongh tidak lagii sssh haaah aah"
"Ooh ber,berhenti…"
"Ah ah hmmp-"
Jimin tidak berhenti menyodokkan penisnya kedalam serigala yang sedang berwujud manusia itu. Ia akan terus mengoyak lubang sempit ini. Gerakan Jimin semakin cepat untuk menjemput kenikmatannya.
"Dasar jalang!"
Semprotan sperma milik Jimin memenuhi hole manusia serigala itu. Jimin membalikkan badan lemah itu menghadap dirinya dan kembali menggenjotnya lagi dan lagi.
"Rasakan ini, jalang."
Jimin menyodok dalam dan kembali mengenai sesuatu di dalam sana. Rasanya seperti melayang, manusia serigala itu kembali menyemburkan spermanya yang mengenai perut Jimin.
"Ooh aaah ahhh"
"Katakan siapa yang mengirim mu?"
"Ahh ahk aku- hentikan!"
Manusia serigala itu mengetatkan holenya membuat penis besar dan berurat itu terpijat dan susah bergerak di dalam. Jimin yang merasakan itu tidak memberi ampun manusia serigala itu ia menancapkan kukunya menggoreskan luka yang dalam di kulit putih itu. Manusia serigala itu menjerit kesakitan.
Jimin kembali menyodok dengan brutal. Pria itu meninggalkan banyak bekas kissmark di tubuh mulus nan putih itu. Tangkapan yang bagus malam ini. Ia mendapatkan makhluk berdarah panas yang sangat nikmat.
"Nggh oooh… keparat kau!" Serigala itu meremas seprai putih itu dengan kuat, holenya sudah sangat tidak muat menampung sperma hangat milik vampir gila ini.
"Kau tau kau bisa menjadi budak sex ku."
"Sialan OOH! A-aku tidak akan, nnghh ahh"
Jimin kembali mengenjot hole itu dengan ritme yang tak beraturan, manusia serigala itu sudah lemah dan pasrah di bawah dominasi Jimin.
"Siapa namamu?"
"T,tidak akan ku beritau!"
Jimin mencengkram rahang serigala itu kuat, dan menghipnotis matanya, "Sebutkan nama mu."
…
"Maaf Tuan, Anda tidak diperbolehkan masuk."
"Kenapa ? Apa Jimin sedang ada tamu?"
Pengawal itu mengangguk, Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak biasa Jimin memiliki tamu semalam ini dan ini… adalah aroma sex. Jimin pasti sedang melakukannya dengan jalang-jalang nya. Kegemaran lain dari seorang Park Jimin.
Namjoon membalikkan badannya, baru melangkah tiga langkah ia kembali mempertajam penciumannya.
Aroma darah ini,
Darah manusia serigala.
Dan darah ini seperti aroma darah seseorang yang ia kenal.
Apakah itu, Min Yoongi?
.
.
.
TBC
…
Terimakasih telah membaca cerita di atas. Terimakasih juga kepada pembaca yang sudah fav/fol/review cerita ini. Tulis saran dan komentar kalian di kolom review yaa. Sangat membantu untuk saya memperbaiki penulisan selanjutnya.
