Pair: Gaara x Hinata
Warn: OOC, misstype(S), segala kejanggalan lain yang agak kurang masuk akal.
Disclaimer: I don't have anything except the plot.
.
.
.
Endless
.
.
.
Aku tersudut di pojok ruangan gelap yang luas tapi menyesakkan. Tepat tiga meter di depanku, dia berdiri dengan mata tajam yang menusuk bagai pisau. Dia terus berjalan, tak mempedulikan tatapan takutku yang sangat kentara. Saat kemudian punggungku membentur dinding, aku tahu aku tak bisa lari.
Dari seberkas sinar bulan yang masuk dari jendela, aku bisa melihat kilatan aneh di matanya. Penuh emosi antara marah, kesal, dan kecewa. Dia mungkin marah karena aku lari. Mungkin kesal karena aku tak menurut. Tapi dia kecewa karena apa?
Telapak tanganku yang terkepal mulai berkeringat. Aku sangat, sangat takut. Dia pasti akan membunuhku.
Ketika kemudian dia telah berdiri dengan jarak yang tak bisa dibilang aman lagi, aku sadar akan posisiku kini. Dia menjulang tinggi sementara aku seolah menciut seukuran tikus. Dia bahkan belum bicara, sementara aku sudah tak bisa bersuara.
"Katakan…" ada suaranya yang sedikit serak, lalu helaan nafasnya yang kasar, "… apa yang kau inginkan."
Apa ini pesan terakhir sebelum dia membunuhku?
"Apa maumu!" Dia mulai berteriak. Berada di hadapannya kini, aku bisa melihat tangannya yang terkepal erat, seakan menahan emosi. Lalu wajahnya yang terlalu keras. Ada juga jubah kagenya yang basah, tetesan air dari rambutnya, serta hembusan nafasnya yang terengah-engah.
Di saat seperti ini, aku akhirnya tahu kalau aku benar-benar lemah. Berhadap-hadapan dengan Gaara yang marah, aku ingin menangis. Aku butuh perlindungan, tapi di sini tidak ada ayah, atau Neji, atau Hanabi, Hokage, teman-teman. Hanya ada aku dan Gaara di ruangan ini. Hanya kami berdua.
Satu jam yang lalu, di tengah awan gelap yang masih menurunkan hujan yang cukup lebat, aku keluar dari kediaman Kazekage yang seharusnya kutinggali bersama Gaara, sang Kazekage, suamiku. Aku mengira,aku masih bisa kabur darinya. Dia yang masih di kantornya mana mungkin tahu. Aku masih punya waktu untuk lari.
Tapi semuanya salah.
Di tengah padang pasir yang malam itu di guyur hujan, dia menemukanku dengan mudahnya. Mengabaikanku yang masih terkejut, dia menarik lenganku, membawaku kembali ke rumah.
Setengah jam terdiam, hujan mulai reda, dan kami sampai pada saat ini. Saat di mana dia menatapku marah, berteriak, dan mulai menampakkan ekspresi terluka. Gaara yang tak bisa dilukai secara fisik, terluka olehku yang hanya gadis lemah.
"Seharusnya kau tahu di mana posisimu!"
Iya. Kau benar. Aku ini memang Hinata yang tidak tahu diri.
"Tunjukkan sedikit tanggung jawabmu!"
Aku yang lari memang tak bertanggung jawab. "M-maaf."
Selanjutnya, dia tertawa. Dengan tawa sinisnya itu, dia ratusan kali lebih menyeramkan dari yang tadi. Aku mulai menggigil. Bukan hanya karena bajuku yang basah, tapi karena aura hitam yang terpancar darinya.
"Hyuuga Hinata, sang kunoichi Konoha yang baik, lembut, dan bersahaja. Yang rela menjadikan dirinya sebagai isteri sang Kazekage Suna sebagai salah satu perjanjian dalam aliansi. Sang sempurna yang terlalu baik untuk bisa bersamaku, Sabaku Gaara." Dia tertawa lagi, kali ini hampir tak bersuara.
Mataku mulai panas dan berkabut. Tadi dia tanya kemauanku, kan? Aku mohon, hentikan ucapannya itu. Itu menyakitkan. Aku jadi si jahat yang berbulu domba.
"Jadi, katakan." Tangannya tersilang di depan dada, menantiku yang akan bersuara, "Kau…" katanya, ada jeda cukup lama di sana sebelum dia melanjutkan kembali, "ingin kita berpisah?" suaranya yang kali ini lebih pelan.
Aku dan Gaara baru saja menikah siang tadi. Aku memang tak nyaman saat berada di dekatnya, tapi menikah hanya dalam beberapa jam itu mengerikan. Kami adalah pengikat aliansi. Mengingat kata kami, aku baru mengerti kalau bukan hanya aku saja yang terikat di sini. Gaara juga.
Jadi, bukan hanya aku yang belum terlalu mengenal suamiku, dia juga belum mengenal isterinya. Selain dia, aku juga perlu belajar untuk menyesuaikan diri. Di kehidupan yang tak pernah terduga ini, mempunyai teman dalam satu kapal akan terasa lebih baik. Mungkin, suatu hari nanti, kami bisa mulai menyesuaikan diri dan terus belajar untuk memahami. Kalau masih ada kemungkinan seperti itu, rasanya untuk menyerah dan berpisah dengannya sekarang bukan pilihan yang menggiurkan. Aku ingin bisa mengenalnya, mengenal kehidupan baru saat bersamanya, dan menjalani masa depan yang tak terduga dengannya.
"T-tidak." Akhirnya, dengan suara yang bergetar, kusampaikan keinginanku padanya.
"Lalu?"
"A-aku… ingin…" nafasku mulai berat, "… a-aku ingin m-mengenalmu." Ya, itu dia. "Berikan aku kesempatan." Aku hanya butuh waktu untuk bisa menerima Gaara. Tapi aku sangat ingin mengenalnya. Aku akan berusaha. Jika ia memberikanku satu kali lagi kesempatan untuk melakukannya.
Lalu tangannya menekan kepalaku untuk maju, sementara yang satu melingkar di pinggangku. Dia menarikku dalam pelukannya yang erat. Di detik berikutnya, tangisku pecah.
Cengkramannya mengerat, dan aku akhirnya membalas pelukannya. Dari telapak tanganku, aku tahu ternyata punggungnya begitu kuat namun kosong.
Di kamar gelap malam itu, untuk pertama kalinya Gaara memelukku saat kami berdua terluka. Langit kini sepenuhnya cerah saat awan mulai pergi ditiup angin. Ada sinar rembulan, pakaian yang basah, dan suara tangisku yang pelan. Suasananya benar-benar jadi aneh, apalagi saat aku mendengar suara tawa Gaara yang kali ini ringan dan bahagia.
Aku punya firasat, mulai dari saat ini, kehidupanku akan berjalan lebih baik dari biasanya. Aku ingin, saat aku sudah tua nanti dan anak-anak kami sudah punya kehidupannya masing-masing, aku duduk berdampingan dengan Gaara di teras rumah dengan secangkir teh hangat dan mengingat kenangan hari ini lagi. Awal yang menjadi kebersamaan tiada akhirku dengannya.
.
.
.
A/N: Singkat? Pendek? Yah, saya memang gak terlalu mahir bikin yang panjang-panjang. Semoga masih diminati.
Mind to Review?
-:- H. Kazuki -:-
