Jealousy is a shame. He shouldn't feel it.
Kise is not his anymore.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Satu bulan berlalu, tidak ada tatap muka, tidak ada salam-sapa, tidak ada chit-chat kecil. Nihil. Hubungannya dengan Akashi benar-benar karam dan Kise juga tidak beraharap untuk memperbaiki benang merah yang telah dipotong. Benang yang dulu mereka rawat apik itu entah sudah berlabuh kemana ujung lainnya, si pirang mendengus. Setenggak whisky di botol kembali melewati tenggorokan menuju ke perut. Rasanya panas, memabukkan. Kise meletakkan gelas bening di atas meja kasar, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut tidak setuju setela tegukan ke-tiga masuk ke tubuhnya.
Dia stress. Kise Ryouta ada di ambang kewarasannya sekarang, dan di atas apapun, dia hanya ingin amnesia untuk beberapa hari atau tahun, sampai hatinya benar-benar tidak merasa. Mendengar nama Akashi membuatnya digelayuti dosa. Nyatanya, perpisahan mereka yang diinisiasi oleh si merah itu berimbas sangat buruk pada tatanan hidupnya. Akashi pada dasarnya adalah bagian tiap roda menit si pirang, nama pemuda itu menari bersama darah dalam tubuhnya. Mengingatkan Kise atas kejahatan yang membuat hubungan mereka retak.
Dirinya memang seperti angin, cinta untuk bebas, untuk bebas dari ikatan atau aturan. Tapi cinta sang Emperor adalah sangkar, ikatan yang membuatnya sesak nafas. Yang dirasanya adalah tirani dari seorang dictator. Namun sekarang, setelah dia bebas. Kise kehilangan sesuatu dalam dirinya. Lubang besar yang kosong dan hitam, menganga.
Si pirang itu mencoba berbagai opsi untuk menambal si lubang yang kerap kali menganggu tidurnya. Ikut kencan buta, ikut kegiatan baru, lalu mempersibuk jadwal latihan, menggila dengan teman-temannya. Dia mencoba apapun untuk menjahit kosong itu. Tapi, itu semua cuma sesaat. Malamnya sebelum tidur, Kise harus tabah menjalani rasa kesendirian yang memakannya hidup-hidup.
"Kenapa kau tidak hengkang dari kapalaku sialan?" alkohol mulai menguasai dirinya. Kise memaki dalam bisikan, menjambak rambut sembari memijat kening yang makin menyiksa. Denyutan pengundang sakit kepala itu tak kunjung hilang. Si alkohol sialan itu juga malah membuat matanya panas.
Pemuda itu menggeram tertahan, "brengsek." Umpatan demi umpatan pelan-pelan keluar seirama dengan cairan bening yang menggenangi pulupuk mata. Kise tercekat, menggigit bibir bawahnya kuat lalu mengusap air mata yang sudah siap jatuh pergi.
Egoisnya tak akan membiarkan air mata itu sampai jatuh, apalagi untuk Akashi. Sudah cukup, Kise mengingatkan dirinya sendiri.
Detik berikutnya, si pirang tidak sanggup. Emosi bergejolak dalam dada dan pening di kepala membuatnya lepas kendali. Kristal air mata kembali terbentuk di ujung mata, Kise menangis ditengah musik hiphop kencang, berdentum energik dari stereo.
"Kau akan baik-baik saja, Ryouta. Aku di sini."
Akashi akan selalu mengatakan itu ketika dia menangis, merengkuhnya ke dalam pelukan hangat. Menawarkan rasa aman yang tidak pernah diterimanya dari orang lain, bahkan dari keluarga. Pelukan Akashi adalah safe heaven, pemuda itu tidak pernah gagal membuatnya merasa tenang. Bahkan di tengah pertengkaran yang hampir terjadi tiap satu minggu sekali, berada di dekapan Akashi selalu membuatnya merasa nyaman.
Kise tahu tidak baik bergantung pada orang lain. Dia keracunan oleh sosok Akashi sekarang. Kise perlu dekapan itu, lengan yang menariknya penuh afeksi. Sosok yang selalu bisa melindunginya dari semua kejahatan dan kekejaman dunia.
Sebuah ironi nyata, pun Akashi tidak bisa melindunginya dari kekejaman yang terjadi di antara mereka.
Tidak sadar kalau tangisannya makin menjadi, Kise bahkan lupa kalau dia ada di tempat umum. Di klub malam yang penuh dengan orang berdansa bersama pasangan. Dan di sanalah ia, menangisi seseorang yang sudah hilang dari genggamannnya.
Seluruh hidupnya memang ironi. Si pirang tertawa miris, dia tidak peduli pada apapun lagi pada saat itu. Bahkan ketika seorang asing memeluknya dan mencoba menggodannya, Kise hanya diam tanpa perlawannan. Dia butuh obat dari racun sang Emperor.
Tidak banyak yang tahu kalau Akashi bisa merasakan kesepian. Poker face yang diusungnya bangga tidak pernah sekalipun gagal menunjukan kemandirian dan ketidakbutuhan akan entitas lain. Walau begitu, topeng tetaplah topeng. Kebenaran dibalik topenglah yang lebih masuk akal. Akashi tetap manusia biasa. Dia punya kelamahan. Walaupun kesepian bukan kelemahan utama, Akashi benci perasaan yang baru-baru ini menyusup kalbunya tanpa permisi.
Jadi, di sinilah ia, menyelipkan diri di antara lautan manusia yang melenggok sesuai irama musik yang menderu. Akashi sama sekali tidak tertarik, yang dibutuhkannya adalah beberapa gelas whisky atau apapun. Setidaknya di tengah lautan manusia ini, dia mungkin bisa melepas penat dari sosok si pirang Ryouta.
Ryouta. Kise Ryouta berubah dari tambatan hati menjadi benalu di otak briliannya. Sebulan telah berlalu, tapi entah apa mantra yang berhasil disematkan padanya oleh si pirang itu. Akashi tidak pernah bisa melupakan si pirang. Si pirang itu seperti selalu muncul ditiap sel otaknya, tersenyum dan menyapa, "Akashicchi!".
Mungkin, dia yang mulai tidak waras. Si merah itu mendecih pelan, menanggapi pemikiran yang kemudian datang. Mungkin dia merindukan si pirang. Entah, Akashi menggedik pada dirinya sendiri, perdebatan akan hal itu sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir dan melelahkan. Egonya tak mau mengalah, sudah cukup kilas balik hubungan mereka memvonis bahwa Ryouta adalah biang kerok yang merusak kesetabilan jiwanya.
Akashi mencintai Kise, memang. Ia tidak menampik hal itu, tapi penolakan si pirang pada jenis cinta miliknya adalah sebuah perendahan.
"Harusnya aku tidak pernah peduli padamu," gumaman pelan terlontar. Akashi ingat pertama kali mereka bertemu, di SMP Teiko.
Masih lekat dalam ingatannya, si pirang itu adalah sosok yang sangat cerah, mengkilap dan menyegarkan. Seperti matahari di musim semi dengan angin yang membawa kelopak Sakura. Ada potensi yang luar biasa pada pemuda itu, dan Akashi tertarik. Harusnya, dia mengantisiasi kalau sinar secerah matahari itu membakar.
Dan sekarang, Akashi terbakar. Satu bagain dalam dirinya hangus.
"Ya ampun, anak manis ini, jangan menangis lah. Ayo habiskan malam ini denganku."
Beberapa langkah menuju bar konter, suara pria menjijikan itu masuk ke telinganya. Wajah lusuh, tipikal preman atau anggota yukaza tidak berguna yang sok berkuasa. Akashi menatap dalam diam, ekspresi wajahnya kaku, dingin seperti biasa.
Sampai dia tertegun melihat helaian pirang si sosok yang digoda oleh mahluk bodoh itu. Akashi tertegun, seperti dibius menjadi es. Dia selalu mengenali Kise, dan dia tahu siapa pemilik rambut kuning yang sedang digoda orang sialan tadi. Untuk sesaat, ada rasa marah yang muncul tanpa diundang.
Kise yang tidak membalas membuat si pemuda brengsek yang menggodanya makin berani. Dia dengan tanpa izin memeluk si pirang itu dan hampir menempelkan bibir menjijikannya ke wajah Kise.
Hampir. Tinju Akashi terlanjur bergerak lebih cepat dan mendaratkan kepala pria itu ke meja bar sekeras mungkin. Sebuah gunting mendarat di ujung pipi tanpa belas kasihan.
"Pergi dari sini atau mayatmu yang kubuang dari sini," singkat, dingin, dan membunuh. Dua manik crimson miliknya mengancam tanpa gagal. Pria itu langsung terbirit kabur, dan Akashi kembali tertegun.
Apa yang baru dilakukannya? Gunting di tangan menggantung lemas ketika mata sembab Ryouta terangkat ke arahnya. Dua iris mereka bertemu, hening, dan hening. Dunia seperti membisu. Akashi hanya bisa mendengar iskan pelan si pirang yang mencengkram hatinya.
Apa yang dilakukannya tadi? Cemburu? Kise Ryouta bahkan bukan miliknya lagi.
Tapi ketika air mata Kise kembali jatuh dan si pirang itu masih membisu, Akashi benar-benar kehilangan kontrol dan langsung menarik sosok ringkih itu erat-erat dalam dekapannya. Persetan dengan apa yang sudah terjadi.
"Aku di sini, Ryouta."
Why you never disappear from my head?
A/N: akhirnya yang ini update unu wish you like it guys /winkwonk/
