Title: My Lovely Sadako
Author: Izumi Chieko
Genre: komedi asal2an, romance jijay. XDa
Warnings: otak gw sarap. Jadi fic-nya ikut2an sarap. SIAPKAN KANTONG PLASTIK BUAT MUNTAH! XD, OOC, NON EYD
Pairing: Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Chapter: 4
Disclaimer: All Chara here belong's to Masashi Ksimoto-sensei but this fic is MINE! Originally from my imagination. Don't you ever dare claim it as yours!
Summary: Sadako? Aku takut setan! Tapi kenapa Diriku malah jatuh cinta padanya, Sadako yang membuat ku meraung2 ketakutan di dalam rumah hantu..
.
.
.
*o*
Normal POV
.
Duo sepupuan a.k.a Ino dan Naruto sudah berada di depan pintu masuk rumah hantu. Tiket sudah mereka beli dan mereka sudah dipersilahkan masuk oleh petugas yang ada. Naruto menggenggam lengan Ino dengan erat hingga membuat gadis seksi itu meringis kesakitan.
"Sakit, jabrik!" Ino melepas paksa tangan Naruto.
"Be-bentar aja napa?! Ntar nyampe di dalam gue lepas deh!" ucap Naruto dengan muka yang sudah pucat pasi.
"Yang ada Lo makin erat meluk gue di dalam sana nanti! Udah, gak jadi masuk aja! Gue gak mau remuk!" Ino gondok berbalik arah.
"Hiiee~ja-jangan Piiig! Tega Lo ma gue . Iya deh, ayo kita masuk sekarang.!" Naruto menarik tangan Ino lagi.
Ino mendengus kesal, ia cuma pasrah ditarik-tarik sepupunya masuk. Petugas rumah hantu yang dari tadi memperhatikan mereka berdua terkikik geli melihatnya. Bahkan dia saling berbisik dengan temannya.
"Hihihi..coba lihat! pasangan itu lucu deh, masa cowoknya lebih penakut sih dari ceweknya. Malu-maluin aja.." tawa seorang petugas pelan yang tetap saja kedengeran oleh Naruto.
"Ape Lo bilang?! Siapa barusan yang elo omongin, gue?!" bentak Naruto langsung.
"Ma-maaf mas!" petugas tersebut membungkuk.
"heiissss! Minta maaf yang bener! enak aja Lo udah menghin—hmf.." Ino langsung membekap mulut Naruto.
"hmf— humm—" Naruto berontak.
"Lo bisa diam gak?! kalo Lo mau ngamuk di sini gue bekap mulut Lo pake kaos kaki gue... hayo loh~hari ini gw belum sempat ganti yang baru!" ancam Ino. Naruto langsung menggeleng kencang dengan tatapan mata yang ketakutan.
'Iieeeuuuuuu~~Jijaaaayyyy!' batin Naruto dengan tubuh merinding, jijik XD
"Nah~gitu kek!" Ino melepas bekapannya.
"Hoeeekkk~!" Naruto langsung muntah-muntah.
"Anjriiittt! Bayangin kaos kaki Lo aja gue udah mual!" pekik Naruto. Ino langsung nyengir.
"Lo udah cebok belum sih? Tangan Lo bau banget!" protesnya lagi.
Ino menyerngitkan keningnya, lalu dengan ragu mendekatkan tangannya ke hidung.
"E..he..he..ehehehhehe.. tadi gue habis makan sambel terasi..." Ino nyengir Watados.
"Huh! masih bisa nyium bau juga tuh hidung Lo..." sindir Naruto.
"Ini jadi masuk gak sih? Kalo ga gue pulang nih!" sungut Ino.
"Iya..iya..ayo masuk!" Naruto menggeret Ino. Entah apa yang terjadi, sepertinya dia lupa yang dia masukin itu rumah hantu, ealah Naruto malah jalan paling depan dengan santainya.
JENG!JENG!
Tiba-tiba sebuah benda dingin-dingin basah mengenai pipi Naruto. Pemuda tersebut langsung terpekik kencang sambil menunduk ketakutan.
"HHWAAAAA! Ap-apaan ntu barusan!" pekiknya.
"Konyaku!" ucap Ino santai sambil geleng-geleng kepala menatap Naruto.
"Ha, Konyaku? Kok ada begituan di sini?" Naruto celingak-celinguk.
"Hee~? Kita udah di dalam rumah hantu?" tanya Naruto meyakinkan, karena menurutnya mana ada petugas atau mas-mas tukang minuman berkeliaran di dalam rumah hantu ini. Dan Ino hanya berheadbang ria menjawab pertanyaan Naruto.
"GYYAAAAaaa! Lo bilang kek dari tadi!" Naruto langsung lari ke belakang punggung Ino.
"Lo nya aja yang sok-sok an!" dengus Ino kesal sambil menarik Naruto masuk lebih dalam.
Ino berjalan tertatih gara-gara Naruto gelantungan takut pada lengannya. Ino sebenarnya ingin cepat keluar karena dia tidak terlalu suka tempat gelap, bukan karena takut, hanya saja Ino gak ingin nginjak sesuatu saja. Namun sepupunya yang penakut itu membuat langkahnya menjadi pelan.
"GRRRAAAAWW!" tiba-tiba muncul setan berkostum gendoruwo ngagetin mereka dari samping.
BUUG!
Ino spontan menonjok ntu gendoruwo sampai nyungsep di lantai.
"Sialan! Bikin kaget aja!" dengus Ino sambil mengelus dada.
"Hhuu~ T_T kok ditonjok sih mba?" tangis ntu gendoruwo.
"E...e...berani Lo manggil gue mba-mba, Ha?!" bentak Ino lagi..
"Eh..ma-maaf mba—eh non! Gomen!" ntu gendoruwo nunduk-nunduk sambil ngelap darah dari hidung bekas tonjokan Ino.
"Hayo jabrik buruan masuk!" sungut Ino. Namun si jabrik a.k.a Naruto tidak menjawab sama sekali.
"Woy, Jabrik?!" ucap Naruto lagi sambil celingak-celinguk.
"Gue gak lihat...gue gak lihat...gue gak lihat..!" Naruto berbisik pada diri sendiri, sambil jongkok ketakutan menutup matanya.
"Jaaah~ini lagi...buruan!" Ino menarik Naruto. Pemuda itu terhuyung dibuatnya.
"Lo laki bukan sih? Katanya Lo mau bawa Hinata keluar dari tempat ini?...masa baru segini aja udah menciut...Cuma segini yang bisa Lo lakuin buat dia?"
Naruto terdiam. Hidungnya kembang-kempis sambil mengumpulkan keberanian.
"Gue mau ketemu Hinata pokoknya! Apapun setan yang menghadang gue gak bakalan melarikan diri! Gue harus bisa bertahan sampe ketemu Hinata!" Naruto sok membusungkan dada.
"Nah~gitu dong! Semangat kejantanan Lo harus ditampakkan! Kalo sampe Lo ketakutan lagi kayak tadi, odong-odong Lo gue embat!" ancam Ino.
"He? Odong-odong? Mang gue punya odong-odong?"
"Punya! Itu yang saban hari Lo irit-irit bensinnya..." jawab Ino datar.
"Gyaaaa~! Motor gue! benda keren begitu Lo bilang odong-odong?!" Naruto menslap kepala Ino.
"Makanya buruan!" Ino melangkah meninggalkan Naruto yang masih emosi, khawatir odong-odongnya hilang diembat Ino.
Kini mereka sudah menempuh setengah perjalanan. Naruto sepertinya berusaha keras menahan rasa takutnya dengan tidak berteriak ataupun nemplok sambil meninggalkan bekas remasan di lengan Ino. Dia lebih memilih menutup mata dari pada kalah taruhan terus odong-odong nya hilang.
"BBAAAA!" kali ini yang muncul adalah pocong *kayanya setan yang muncul made in indonesia semua XDD*
Naruto kembali menahan rasa takutnya. Mungkin karena sudah ditahan dari tadi kali ya, mendadak perutnya mules dan mengeluarkan bunyi yang tidak enak didengar.
TUT! NDUT! MPRROOOTT!
"Lo kentut ?!" tanya Ino semakin emosi.
"So-sory Piiig...gue udah berusaha nahan takut dan kentut dari tadi." Naruto memasang muka memelas.
"Lo tuh ya..ugh, huufff~~baunya...Lo kecepirit juga ya? Baunya busuk banget!" Ino ngibas-ngibas udara.
"Ka-kagak!" jawab Naruto cepat.
Emang separah itu apa baunya? batin Naruto sambil ngendus-ngendusin hidung.
Perjalanan mereka sampai pada sebuah sumur. Naruto yang masih asik ngendus-ngendusin Hidung terdiam menatap sumur cinta *halah* yang kini berada di depan matanya.
Pelan tapi pasti, sebuah kepala nongol dari dalam sumur. Scene yang merenyamkan itu justru tampak indah bagi Naruto. Aura seram malah berubah jadi bunga-bunga. Sumur gelap itu mendadak jadi beraura pink, bahkan ketika seorang sadako keluar dan nge-growl terdengar seperti suara malaikat di telinga Naruto.
"GGRRRAAAAWWWWW!"
(?_?) ini ekspresi Ino.
( 。 ) Ini ekspresi Naruto.
"Eeh~ga seram yah?" ucap ntu sadako yang tak lain tak bukan adalah Hinata. Ia heran melihat Ino yang cuma asik membersihkan kuku dan Naruto yang menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Lo sadako itu ya..?" tanya Ino.
"Hm..i..iya" Hinata mengangguk.
"Kawaaaiiii~!" Ino langsung histeris sambil mencubit pipi Hinata.
"Itte..te..te..."
"Ah, gomen! Habis Lo manis banget sih" ucap Ino.
"Eh, hm..daijoubu..." O/Oa muka Hinata memerah sambil menunduk malu-malu.
Naruto masih saja menatap Hinata dengan penuh cinta. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya selain sebuah senyuman yang terus mengembang dari tadi.
"Heh, jabrik!" Ino menyenggol lengan Naruto. Otomatis Naruto itu kembali ke alam nyata.
"Eh.." Naruto terkejut. Kini dia sadar Hinata di depan matanya menatap dengan mata polos dan lugu.
"Hm..ng...gue Naruto!" tiba-tiba saja Naruto menyodorkan tangannya.
"Eh..hm..ya..aku Hinata!" Hinata ragu membalas sodoran tangan Naruto.
( 。 ) dan Naruto masih menatap Hinata dengan mata berkaca-kaca.
Hinata heran
"Gue Ino!" Ino menyodorkan tangan juga.
"Eh..hm..iya...salam kenal Ino.."O/O Hinata menjabat tangan Ino dengan muka yang semakin memerah.
"Ng..ano! aku mesti lanjut kerja. Bisa kalian keluar sekarang? kalo gak, bisa mengganggu pelanggan yang lain" lanjut Hinata garuk-garuk kepala, gak enak hati.
"Eh..sou ka? Lo ikut keluar sekalian..." jawab Naruto langsung
"Eh?"
"Lo gak pantes kerja disini..kecil-kecil jangan nyari duit, tugas Lo cuma belajar! Sekolah!"
Mendadak ego dan emosi Hinata terusik.
'Apa-apan ni orang' rutuk Hinata dalam hati.
"Lo ikut kita aja keluar!" Naruto menarik tangan Hinata.
PLAK!
Hinata menslap tangan Naruto. Sementara Naruto langsung mengibaskan tangan karena kesakitan.
"Iih~Lo main kekerasan ya...!"
"Ll..Lo apa-apaan sih? Sodara bukan, temen bukan! Baru kenal udah sok akrab ngatur-ngatur hidup gue.. apa hak Lo ngelarang gue kerja disini nyari duit ha?!" amuk Hinata, mukanya merah menahan marah. Dan itu membuat Ino geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya.
'Jadi gini caranya mau bawa Hinata keluar dari tempat ini? yang bener aja! Bodoh nih anak! Kelamaan gak menghirup udara bersih otaknya jadi kecil' batin Ino memijit keningnya.
"Tapi kan..."
"Lo gak usah ikut campur urusan gue! gue punya alasan buat ngelakuin ini semua! Lagian apa peduli Lo sama gue ha?" lanjut Hinata.
'Apa peduli gue? ya gue pedulilah...! gue suka sama elo! Dan gue gak tega lihat elo menderita kayak gini!' Naruto ngomong sendiri dalam hati.
"udah-udah~ begini loh Hinata, gue minta maaf dulu atas kebodohan si kuning yang gak ketulungan ini" ucap Ino, Naruto langsung memberinya deathglare.
"Hm...sebenarnya, gue mau nawarin sesuatu ke elo. Hm...bisnis! elo, gue, Naruto...! maksud Naruto sebenarnya mau ngajak Lo kerja bareng sama kita...tapi cara penyampaiannya aja yang gak bener. maklum, otaknya kecil!"
Naruto langsung menslap kepala Ino.
"Ittee!" rengek Ino.
"Heii~jangan dipukul begitu dong! Kasian kan Ino~" Hinata pasang wajah Jutek pada Naruto.
Naruto jadi salah tingkah, kenapa si Hinata jadi manis banget sama si Ino?
"Intinya gitu deh..." Ino ngelus-ngelus kepala.
" Lo mau gak, kerja bareng kita?"
Naruto menatap heran sepupunya. Bisnis apa sih? Naruto gak tau! Dan si pig juga belum ngasih tau. Mungkin ini kali yah yang mau Ino diskusiin di rumah?!
"Hm..mang kerja apa sih? Kenapa kalian milih gue?! kita kan baru kenal!" sambung Hinata, sedikit rona pink menghiasi pipi chubby-nya.
Ino menatapnya sambil tersenyum lebar. Naruto hanya celingak-celinguk kayak orang bodoh menatap Hinata dan Ino secara bergantian...
Heeeeiii~~ada yang aneh dengan mereka berdua! Senyuman misterius Ino serta rona pink di pipi Hinata itu... Eh, apa hanya perasaan Naruto saja?
.
.
TBC
.
.
A/N : Gomen baru sempat Update chapter 4 ini. semingguan ini galau antara ngelajutin dulu fict ini sampai kelar atau bikin Fict SasuHina yang udah muter-muter dikepala.? Tapi semoga Fict ini memuaskan *halah*
.
Thanks a lot to Reader yang tak dapat ku sebutkan satu per-satu dan tak dapat ku balas komennya satu per satu, maklum Wifi masih error jadi update pake Hp..tapi semoga para reader masih bersedia mereview fict ku ini.
