Disclaimer : all characters belong to Masashi Kishimoto

This is just a fan-fiction

Title :
The Return of The Samurai : "War isn't Over Yet."

Sequel from "The Legendary Samurai of Konoha"

Genre : Action, Slight Adventure, Slight Romance

Pair :
NaruHina (+Family)
SasuSaku (+Family)

Rated : M

Warning : Blood, Assasination, Sexual Content, Massacre, Typo, etc

Percakapan antara kedua pria yang baru saja memutuskan untuk 'come back' sebagai samurai masih terus berlanjut.

"Teme, aku punya usul. Bagaimana jika kita kembali ke Konoha? Kita masih bisa menyelamatkan rekan-rekan samurai yang masih belum menjadi korbannya."

"Itu terlalu beresiko, Dobe. Kau tahu sendiri, perjalanan dari Osaka menuju Konoha membutuhkan waktu setidaknya hampir seminggu dengan berkuda. Dia bisa kapan saja menyerang kita berdua."

"Lagipula kita tidak tahu apakah mereka semua memang masih hidup sampai saat ini. Tidak ada jaminan bagi seluruh samurai, maupun mantan samurai saat ini. Tidak ada jaminan bagi kita untuk tidak 'diburu' olehnya. Kita semua adalah buruannya."

"Hehhhh... Baiklah, kurasa kau benar. Tempat paling aman untuk saat ini adalah di Osaka, meskipun dia bisa muncul sewaktu-waktu di sini. Aku hanya bisa berharap kepada teman-teman kita yang masih tersisa, bahwa mereka semua masih selamat."

"Akupun juga berharap demikian, Dobe. Terutama pada mantan pimpinan kita, Kakashi. Semoga saja dia belum tewas. Aku berharap dia juga turut dalam berperang bersama-sama dengan kita, ketika menghadapi Evil Samurai."

"Semoga saja."

"Selain itu, kita harus segera menguburkan jasad mereka berdua, Teme."

"Tentu, Dobe. Kita harus 'mengurus' mereka. Aku tidak akan tega jika melihat keadaan mereka yang harus berakhir secara tragis. Jangan lupa untuk membawa katana-mu. Kita harus lebih berhati-hati, mulai detik ini."

Mereka berdua memutuskan untuk menyudahi percakapan diantara keduanya, yang sudah berlangsung cukup lama.

Hari mulai beranjak pagi, namun keadaan di luar masih tampak gelap. Naruto dan Sasuke sudah meninggalkan rumah untuk segera menguburkan jasad Kiba dan Shino.

Dengan langkah hati-hati, mereka berdua mengangkut sebuah karung berukuran besar yang masih berisi kedua jasad mantan rekan ketika mereka masih bersama-sama di pasukan samurai Konoha.

Tak seberapa jauh tempatnya, Naruto dan Sasuke telah sampai di sebuah tanah lapang dengan hamparan rumput yang cukup luas. Tidak ada bangunan sama sekali di tempat itu. Menurut mereka, di situ adalah tempat yang cocok untuk menguburkan jasad kedua teman mereka.

Sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan prosesi pemakaman secara resmi. Kondisi yang saat ini sedang mencekam, mau tidak mau telah membuat Naruto dan Sasuke tidak bisa bergerak secara leluasa kemanapun.

Yang mereka pikirkan hanyalah secepatnya menyediakan tempat peristirahatan terakhir yang layak untuk mendiang kedua temannya.

.
Naruto dan Sasuke telah menyelesaikan pekerjaan mereka untuk menguburkan kedua jasad mantan samurai Konoha tersebut.

Terlihat Naruto sedang berdoa dalam hati, sesaat setelah dia menyelesaikan pekerjaannya.

"Beristirahatlah dengan tenang, Kiba-Shino. Kalian berdua adalah orang yang baik. Aku tidak menyesal karena pernah mengenal kalian selama ini. Aku akan menuntut balas kepada orang yang sudah mencelakai kalian berdua."

Merasa sudah cukup dengan perpisahan yang menyedihkan ini, Naruto dan Sasuke memutuskan untuk segera kembali ke rumah masing-masing.

Sesaat, setelah mereka berdua membalikkan badan dan bermaksud untuk meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba...

Cklak!

Terdengar bunyi senjata api yang sudah siap untuk melepaskan tembakan ke arah targetnya.

Tidak. Itu bukan hanya sekedar senjata api, melainkan puluhan senjata api yang sudah siap untuk melepaskan si 'timah panas'.

Cukup terkejut. Itulah ekspresi yang dialami oleh Naruto dan Sasuke, sesaat setelah mereka berencana akan meninggalkan lokasi itu. Mereka mendapati bahwa di hadapan mereka telah berdiri puluhan tentara Amerika yang sedang menggenggam senjata api laras panjang pada masing-masing individunya.

Posisi berdiri Naruto dan Sasuke seperti sudah 'dikunci' dan sedang dibidik oleh puluhan senjata api yang memang diarahkan ke arah mereka berdua.

Naruto dan Sasuke sudah menyadari bahwa puluhan tentara Amerika yang tengah membidik mereka saat ini, memang bersiap untuk menembak mati keduanya di tempat.

"Do not move! Stay on your position!" (Jangan bergerak. Tetaplah berada pada posisimu.)

Terdengar suara seseorang yang berasal dari dalam kerumunan tentara Amerika. Rupanya, seseorang telah memerintahkan kepada Naruto dan Sasuke untuk tidak bergerak dari posisi mereka saat ini.

Kemudian, asal suara tadi telah muncul di tengah-tengah kerumunan tentara Amerika dan langsung menampakkan dirinya, sehingga Naruto dan Sasuke dapat melihatnya secara langsung.

"S-Samurai macam apa itu?" Mereka berdua terheran-heran dengan kemunculan sosok misterius yang dapat mereka lihat dengan jelas.

Hadir di hadapan Naruto dan Sasuke, sesosok manusia dengan tinggi badan yang menjulang.

Seluruh tubuhnya sudah terlapisi dengan baju 'zirah' khas seorang samurai, dengan jubah yang membentang di punggungnya.

Terlihat pada kedua tangannya, dia sedang memegang dua macam senjata yang 'bertolak belakang'.

Di tangan kanannya, dia sedang memegang sebilah katana. Sebuah senjata khas yang merepresentasikan 'identitas' samurai Jepang.

Sementara di tangan kirinya, dia sedang menggenggam sepucuk senjata api, mungkin sejenis revolver. Senjata khas yang berasal dari belahan bumi bagian barat.

Dari postur tubuhnya yang memang tinggi menjulang, dapat dipastikan bahwa samurai misterius tersebut juga berasal dari negara yang sama dengan pasukan tentara di belakangnya.

Saking tingginya, bahkan tinggi badan yang dimiliki oleh Naruto dan Sasuke hanya 'menyentuh' bagian dada dari sang samurai misterius.

Tampak dia juga sedang mengenakan sebuah 'atribut' yang khas. Sebuah topi koboi yang menempel dengan sempurna di kepalanya.

Penampilannya sungguh 'nyentrik'. Perpaduan antara budaya barat dan budaya timur telah menyatu dalam diri sesosok misterius yang sedang berjalan mendekati posisi Naruto dan Sasuke.

"Salam. Naruto-san, Sasuke-san. Merupakan sebuah kehormatan bagiku, ketika bertatap muka langsung dengan dua samurai legendaris yang dimiliki oleh Jepang."

"Hn. Jika dilihat sekilas, sepertinya kau bukan orang sini. Tapi kau berpenampilan seperti samurai Jepang. Siapa sebenarnya dirimu?" Sasuke membalas balik dari kalimat pembuka yang sudah diucapkan oleh sosok misterius di depannya.

"Perkenalkan, namaku Bagley. Colonel Edgar Bagley."

"Edgar Bagley? Aku tidak mengenalmu sama sekali... Kau ada urusan apa dengan kami berdua?" Emosi Naruto mulai terlihat.

"Mhmhmhmh... Kalian memang tidak mengenalku. Tapi aku sangat mengenal kalian berdua. Kalian-lah yang telah menghabisi kedua temanku dengan keji, 12 tahun yang lalu. Apa kalian masih mengingatnya? Ah. Aku rasa peristiwa tersebut tidak akan kalian lupakan begitu saja."

"M-maksudmu, kedua teman yang kau maksud itu adalah Toneri dan Sasori?"

"Bingo. Tepat sekali Sasuke-san. Rupanya ingatanmu masih sangat bagus dalam mengingat kejadian saat itu. Mereka berdua adalah teman dekatku, dan kalian telah merenggut keduanya begitu saja."

"Selama 12 tahun ini, aku telah melacak jejak kalian berdua yang seolah-olah sudah menghilang ditelan bumi. Pada akhirnya, usahaku tidak sia-sia. Sekarang giliranku yang akan membalas perbuatan kalian saat itu."

"Cih, kalian semua sama saja rupanya. Sama-sama tidak ada gunanya bagi negara kami. Asal kau tahu saja, Bagley. Seumur hidupku ini, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah melenyapkan kedua pengkhianat negara, yang merupakan teman dekatmu itu!" Emosi Naruto benar-benar meledak saat ini.

Dia sudah siap jika harus berperang dengan puluhan pasukan tentara Amerika, beserta sosok samurai misterius yang bernama Bagley.

"Sebelumnya, ada yang ingin kutanyakan padamu, Bagley. Mengapa kau berpenampilan seperti itu? Kau bukanlah orang Jepang. Kau bahkan tidak tahu sama sekali arti dari samurai itu sendiri!"

"Kau pasti sudah memahaminya, Sasuke-san. Karena untuk menghadapi kalian berdua, diperlukan penggunaan teknik bertarung yang sama. Aku sadar jika hanya melawan kalian dengan 'timah panas', hasilnya tidak akan maksimal."

"Tidak butuh waktu lama bagiku, untuk mempelajari kehidupan seorang samurai dan mempelajari teknik bertarung mereka. Kami orang Amerika, sangat cepat dalam beradaptasi dengan sesuatu hal yang baru, walaupun kami belum pernah mempelajari sebelumnya."

"Kali ini aku akan menghadapi kalian berdua dengan menggunakan teknik yang sama, seperti yang kalian gunakan. Fight fire with fire (Melawan 'api' dengan 'api')."

"Namun sebelumnya, kalian harus menghadapi seluruh pasukan tentaraku, yang saat ini mereka sedang berdiri di hadapan kalian. Good luck, semoga kalian berdua masih tetap dalam kondisi 'utuh' saat berhadapan denganku. Aku permisi dulu. Mhmhmh..."

Bagley mulai meninggalkan Naruto dan Sasuke. Dia kembali menuju kerumunan pasukan tentara Amerika.

"Brengsek. Kembalilah ke sini, pengecut! Kau ingin bertarung melawan kami, kan?" Muncul sebuah deathglare di tangan kanan Naruto. Dia begitu termotivasi untuk segera menghabisi sang samurai 'gadungan'.

Namun, kalimat sarkastik yang telah diucapkan oleh Naruto tampak tidak dihiraukan oleh Bagley. Dia tetap ingin menyaksikan terlebih dahulu bagaimana kehebatan kedua samurai legendaris, ketika menghadapi bala tentaranya.

"Ck. Mau tidak mau kita memang harus menghadapi pasukannya, Dobe."

"Aku juga tahu, Teme. Ini adalah aksi pertama kita setelah sekian lama 'pensiun' sebagai samurai. Apa kau siap? Kuharap kau tidak lupa tentang bagaimana cara untuk menghabisi musuh."

"Hn. Jangan meremehkanku. Justru akulah yang seharusnya ragu dengan kemampuanmu sekarang."

"Sialan kau."

Bagley mulai memberikan sebuah aba-aba kepada pasukannya. Dia segera memerintahkan bala tentaranya untuk 'melepaskan' serangan pertama.

"Serang mereka berdua!"

Naruto dan Sasuke yang mendengar aba-aba dari pihak musuh, juga tak kalah sigap. Mereka telah memasang 'kuda-kuda' dan bersiap untuk menyerang balik seluruh lawan di hadapan mereka.

"Sekarang!"

Dorrr...!
Dorrr...!
Dorrr...!
Dorrr...!

Terlihat puluhan peluru yang telah dilepaskan secara bersamaan, sedang mengarah dengan kecepatan tinggi menuju kedua target.

Sementara Naruto dan Sasuke sudah memprediksi serangan lawan seperti apa yang akan mereka hadapi kali ini.

"Sekarang, Naruto!" Sasuke memberikan aba-aba kepada sahabatnya.

Namun, bukannya menghindar. Naruto dan Sasuke justru melesat langsung menuju jalur serangan lawan. Seakan-akan mereka berdua memang sengaja untuk 'menerima' serangan puluhan 'timah panas' yang dilesatkan dengan sangat cepat.

Taangg...

Ctiingg...

Taashhh...

Tak disangka-sangka, kedua samurai tersebut berhasil menghalau seluruh serangan yang melesat menuju ke arah mereka. Kedua katana mereka berhasil menepis dan mementahkan 'badai' peluru yang dilepaskan oleh pasukan Amerika.

Bagley yang menyaksikan langsung bagaimana serangan pasukannya dapat dipecundangi dengan mudahnya oleh Naruto dan Sasuke, hanya bisa ternganga.

"Mu-mustahil! Pasukanku adalah pasukan dengan kemampuan terbaik yang dikirim oleh Amerika. M-mereka itu, siapa sebenarnya mereka itu?"

Pihak musuh sepertinya sudah kehabisan amunisi karena seluruh slot peluru telah dilesatkan, dan tidak ada satupun yang berhasil mengenai targetnya. Mereka semua tampak panik ketika melihat posisi Naruto dan Sasuke sudah sangat dekat dengan mereka.

Sriiinnggg...

Jrassshhhh... Hiaaaagghh!

Jrruubbb... Akkkhh!

Crooosshhh... Wuaaaagghh!

Jraassshh... Jreeeshh... Guwaaahh!

Satu persatu tubuh tegap dari pasukan Amerika telah jatuh bergelimpangan di tanah.

"Rasakan ini! Heeeaaahhh!"

Jraasshhh... Giyaaagghh!

Tanpa rasa belas kasihan, Naruto dan Sasuke tampak cukup menikmati proses pembantaian yang sedang mereka lakukan saat ini.

Bagian-bagian tubuh yang terpotong atau terlepas dari bagian tubuh yang lain adalah sebuah pemandangan mengerikan yang dapat dilukiskan dari sebuah proses pembantaian masal yang dilakukan oleh kedua samurai tersebut.

Tinggal seorang prajurit Amerika yang masih tersisa. Sepertinya dia memang sengaja dibiarkan oleh Naruto dan Sasuke untuk menyaksikan sendiri bagaimana seluruh rekannya telah meregang nyawa secara tragis.

"Hei, kau! Kemarilah." Naruto berusaha memanggil prajurit tersebut dengan nada bicara yang tinggi.

Tubuh prajurit Amerika yang hanya tinggal seorang diri, tampak sedang gemetaran. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Dia benar-benar mengalami trauma berat dalam hidupnya.

"Hiiii... A-Ampuni saya, tuan."

"Mengampunimu? Cih! Berikan aku sebuah alasan yang bagus, mengapa aku harus memberikan ampunan?" Dengan sengaja, Naruto memberikan sebuah tekanan psikologis.

"K-karena... Karena saya menyesali perbuatan saya."

"Tsk tsk tsk. Kau bahkan tidak lihai dalam memberikan sebuah alasan. Lihatlah, betapa menyedihkannya dirimu sekarang. Setelah kau dan seluruh teman-temanmu yang terlaknat telah mengacaukan negara kami, dan dengan mudahnya kau mengatakan penyesalan begitu saja?!" Suara Naruto terdengar menggelegar di kedua telinga prajurit tersebut.

"Hn. Sekarang pilihlah. Kau memilih untuk mengakhiri hidupmu sendiri atau kau menginginkan agar kami 'membantumu'? Seperti yang sudah kami lakukan kepada seluruh rekan-rekanmu." Sasuke memberikan penawaran terakhir.

Tanpa pikir panjang, prajurit tersebut meletakkan senapan miliknya di depan mulutnya sendiri. Ditekanlah bagian pelatuk pada senapannya, dan...

Doorrr...!

Terlihat selongsong peluru telah menembus keluar pada bagian belakang kepala. Prajurit Amerika yang tersisa seorang diri tersebut lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia bunuh diri dengan menggunakan senjata miliknya sendiri.

"Dasar manusia menyedihkan." Sasuke menatap sinis pada jasad dari seorang prajurit yang baru saja menghilangkan nyawanya sendiri.

.
Plok... Plok... Plok...

Terdengar suara tepukan tangan yang cukup jelas. Semakin lama semakin jelas terdengar. Rupanya, orang yang bernama Bagley tersebut memang sedang berjalan mendekati posisi Naruto dan Sasuke.

"Bravo, tuan-tuan samurai! Tak kusangka, kehebatan kalian berdua memang sudah terbukti. Maka aku tidak akan heran dengan nasib sial yang sudah dialami oleh kedua temanku."

"Kau! Kali ini adalah giliranmu yang akan 'menyusul' mereka." Naruto mengacungkan katana-nya ke arah Bagley.

"Hem. Baiklah, Naruto-san dan Sasuke-san. Ini adalah saat yang kutunggu-tunggu selama 12 tahun terakhir. Mari kita lihat, siapakah yang dapat 'bertahan' hingga akhir."

Bagley membuang sebuah senapan revolver, yang sebelumnya digenggam pada tangan kirinya.

"Kurasa kita tidak membutuhkan ini, bukan?"

Kemudian dia mengganti senapan tadi dengan sebuah katana lainnya, dimana sebelumnya masih tersembunyi di balik jubahnya. Kali ini, dia sudah memegang dua bilah pedang di kedua tangannya.

Sebelum pertarungan antara kedua belah pihak benar-benar dimulai, Bagley memberikan kesempatan kepada Naruto dan Sasuke untuk memulai serangan pertama.

"Mhmhmh. Aku akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk menyerangku terlebih dahulu. Sekarang majulah, kalian berdua!"

Begitu mendengar sebuah kalimat bernada tantangan dari sang lawan, Naruto dan Sasuke tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Mereka berdua langsung menyerang secara bersamaan, mengayunkan kedua pedang mereka. Yang satu mengarah pada bagian kepala Bagley, sementara serangan lainnya mengarah pada bagian kaki.

"Heeeaahhh, Terima ini!"

Taannggg... Ctiingg...

"Mhmhmhm.. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Menguasai teknik yang kalian miliki, bukanlah sebuah hal yang sulit."

"Sial. Dia berhasil menahan serangan kami berdua." Sasuke tak menyangka bahwa serangannya, yang dilesatkan secara bersamaan dengan serangan Naruto dapat ditangkis dengan mudah.

Kedua katana Bagley dapat menahan laju serangan, baik dari Naruto maupun dari Sasuke.

"My turn (Giliranku). Kalian jangan main-main denganku!"

Bagley melakukan serangan balasan. Dia menghunuskan kedua pedangnya secara bersamaan dengan sangat cepat. Melesat dan langsung menuju pada daerah dada sebelah kiri Naruto dan Sasuke. Dia berencana untuk menikam organ jantung dari kedua samurai tersebut.

Cttanngg... Taakk...

Kali ini, giliran serangan Bagley yang dapat ditahan oleh masing-masing katana Naruto dan Sasuke. Hampir saja jantung mereka berdua akan tertembus pedang sang lawan, karena jaraknya sudah sangat dekat.

"Gawat. Hampir saja dia berhasil mengenai jantungku." Sasuke dan Naruto agak kewalahan ketika mereka harus menahan serangan balasan dari lawannya.

"Dobe, kali ini lawan yang sedang kita hadapi bukanlah lawan sembarangan. Kita tidak boleh lengah."

"Aku mengerti."

"Mhmhmh... Benar-benar menarik pertarungan diantara kita, tuan-tuan samurai. Aku jamin selanjutnya akan lebih menarik lagi."

Mereka bertiga agak melebarkan jarak diantara mereka, yang sebelumnya sangat dekat. Dengan sebuah ancang-ancang yang dilakukan secara bersamaan, mereka mengerahkan serangan menuju target masing-masing.

"Hiaaatttt!"
"Heaaahhhh!"

Ctanggg... Tingg... Taangg...

Tangg Tangg Ctangg..

Bunyi yang terdengar nyaring antara pedang dengan pedang yang saling beradu, terus menerus dapat terdengar pada pertarungan antara dua lawan satu tersebut.

Kedua belah pihak tampak berimbang sejauh ini. Bagley mampu meladeni serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Naruto dan Sasuke. Dia sama sekali tidak terlihat kewalahan selama berlangsungnya pertarungan.

Sejak tadi, serangan demi serangan yang coba dibangun oleh Sasuke dan Naruto, belum ada satupun yang berhasil mengenai sasarannya.

Mereka berdua mulai terlihat frustasi. Akibat energi mereka yang sudah terkuras banyak, termasuk pada saat mereka harus berhadapan dengan puluhan tentara Amerika sebelumnya.

"Ini gawat, Teme. Kita tidak bisa membuat pola serangan yang sama secara terus menerus. Dia dapat 'membaca' setiap arah serangan kita."

"Kau punya ide, Dobe?"

Di saat Naruto sedang memikirkan strategi yang akan mereka terapkan selanjutnya, Bagley dengan jitu dapat melihat adanya 'celah' yang muncul pada saat itu juga.

"Hem, akhirnya mereka lengah juga."

Bagley yang sejak tadi hanya meladeni setiap serangan Naruto dan Sasuke dan memilih untuk cenderung lebih bertahan. Kali ini, tampaknya dia sudah siap untuk melayangkan sebuah serangan dadakan yang tidak diprediksi sebelumnya oleh Naruto dan Sasuke.

Sebuah sabetan yang berasal dari kedua pedang Bagley mengarah dengan cepat, melesat menuju leher Naruto dan Sasuke. Dengan gerakan refleks yang tak kalah cepat, mereka berdua berusaha menahan serangan mendadak tersebut... Namun,

Ctaaannggg...

Masing-masing pedang milik mereka berdua telah terlepas dari genggaman dan terlempar jauh, setelah menerima serangan dari Bagley.

Klaannggg...

Terdengar bunyi suara jatuh dari pedang yang telah terpisah jauh dari kedua pemiliknya.

Naruto dan Sasuke seakan tidak percaya dengan apa yang mereka alami. Baru pertama kalinya, mereka harus 'kehilangan' senjata mereka sendiri selama berlangsungnya pertarungan.

"Gawat. Ini benar-benar gawat." Raut wajah kedua samurai tersebut mulai memperlihatkan sebuah kekhawatiran.

"Mhmhmh. Bagaimana rasanya saat kalian tidak memiliki senjata lagi? Tampaknya pertarungan kali ini lebih memihakku."

Naruto dan Sasuke masih tetap bertahan dalam keadaan yang sudah terpojok. Fisik mereka sudah sangat terkuras. Bahkan mereka seperti tidak sanggup untuk berlari dan mengambil kembali katana mereka yang terlempar cukup jauh dari posisi mereka saat ini.

"Terimalah seranganku ini!"

Sebuah serangan kembali dilancarkan oleh sang lawan. Sebuah ayunan pedang yang mengarah tepat pada tempurung kepala Naruto dan Sasuke.

Sriiinnggg.. Siiiuuhhhh...

Jrasshhhh!

Tampak percikan darah segar yang memancar keluar akibat sabetan kedua pedang Bagley.

Tidak, itu bukan percikan darah pada kepala Naruto dan Sasuke. Itu adalah percikan darah yang keluar dari tangan mereka berdua. Naruto dan Sasuke telah menahan sabetan pedang Bagley dengan menggunakan tangan mereka sebagai 'tamengnya'

Kedua tangan Naruto membentuk huruf X ketika sedang menahan serangan Bagley, sementara Sasuke hanya menggunakan tangan kanannya saja.

"Ghh.. Ghh... Giaaaahhhhhh!"

Naruto dan Sasuke sudah tidak kuasa lagi untuk menahan rasa nyeri yang langsung menjalar dengan cepat.

Darah segar telah mengucur deras akibat luka yang menganga pada masing-masing tangan mereka.

"Mhmhmhmh. Betapa menyenangkan, saat melihat dua samurai legendaris sudah tidak berdaya seperti ini. Kemenangan akan menjadi milikku, Edgar Bagley."

Buugghhh..! Buaagghh...! Duaaghhh...!

"Ugghhh..."

Tampak kedua kaki Bagley mulai menendang-nendang dengan sangat keras. Dia mengarahkan arah tendangannya pada masing-masing wajah Naruto dan Sasuke secara bergantian.

Wajah kedua samurai tersebut menjadi babak belur, akibat menerima tendangan demi tendangan yang sudah dilayangkan oleh musuh mereka.

Darah mulai merembes keluar pada beberapa bagian wajah. Mulai dari pelipis, hidung hingga mulut dan bibir mereka. Memar dan bengkak juga terlihat pada beberapa tempat.

Bruukkk...

Tubuh Naruto dan Sasuke seperti tidak berdaya lagi. Mereka berdua terkulai dengan lemas di tanah.

"Haaah... Haaaahh..."

Aliran nafas keduanya terdengar tidak beraturan. Sepertinya mereka berdua sudah hampir pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Mhmhmh. Ini adalah serangan terakhir dariku. Dan aku akan melakukannya dengan sangat cepat, agar kalian berdua dapat segera terbebas dari 'siksaan' yang menjangkiti tubuh kalian."

Crriiinnnggg... Shhiiuuuhh...

Diangkatnya tinggi-tinggi kedua bilah pedangnya, yang kemudian berbalik arah dan menukik ke bawah.

Bagley bermaksud untuk menghujam jantung Naruto dan Sasuke secara berbarengan.

"Selamat tinggal, samurai legendaris. Sayang sekali kisah kalian harus berakhir di sini."

...

To Be Continued