Previous Chap :
Kalau jujur, Sasuke sendiri sama sekali tidak meragukan kecantikan dari wanita yang berstatus sebagai istrinya ini. Rambut birunya panjang dan terlihat sangat lembut bila disentuh, kulitnya putih mulus tanpa cacat, bibirnya merah muda alami, dan ada satu lagi yang tidak dapat dilihat Sasuke lama-lama.
Tubuh Hinata.
Ya, untuk yang satu itu, Sasuke sendiri memang harus mengakui kalau istrinya itu mempunyai tubuh yang bagus sekalipun belum ia lihat secara langsung—kecuali beberapa bagian atas yang kemarin tak sengaja terlihat. Dan hal itulah yang membuatnya semakin memajukan langkah ke arah sana dengan pandangan mata yang sulit dijelaskan.
Tentu saja semua orang juga tau, tidak akan ada kucing yang menolak ikan. Apalagi kalau ikannya ada di depan mata.
Bahkan hal itu juga berlaku untuk Sasuke.
.
.
Normal POV
Sasuke menatapnya dalam diam, lalu maju selangkah demi langkah.
Ia mengulurkan tangan, ingin mencapai seseorang yang ada di sana.
Tapi saat tangannya hendak menyentuh kulit wajah Hinata, gerakannya membeku. Disertai hembusan nafas berat ia memejamkan mata, tangannya terkepal erat saat kalimat itu kembali terngiang.
'...Aku tidak akan pernah menyentuhnya—walaupun sudah terikat hubungan sakral seperti pernikahan.'
"Sakura..."
Saking kuatnya memejamkan mata sampai-sampai keningnya ikut mengerut. Lalu ia menarik tangan dan membiarkannya tergantung.
Perilaku Sasuke memang tidak bisa dibilang aneh, pria mana pun pasti sulit menahan diri bila ada lawan jenisnya yang sedang di posisi tanpa pertahanan seperti ini. Tapi setidaknya memikirkan Sakura dapat membuat ia teringat akan janji itu.
Setelah tenang ia mulai membuka mata, lalu berjongkok sehingga bisa memindahkan Hinata ke atas kasur—hanya kasihan padanya yang tertidur di sofa.
Diangkatnya punggung Hinata dengan tangan kanan dan satu lagi di lipatan paha dan betisnya.
"Ngh..."
Hinata yang tertidur memang tampak terganggu—tapi dia tidak terbangun, hanya mengalungkan lengannya di leher Sasuke.
Sasuke sedikit berdecak saat merasakan wajah Hinata dapat tercetak jelas di dadanya yang berlapis kemeja.
"Kau harus bersyukur ada Sakura di tengah kita..." Desisnya sebelum akhirnya berjalan mendekati kasur.
"Bila aku tidak berjanji dengannya, saat ini juga aku tidak bisa menjamin atas 'keselamatan'-mu..."
.
.
.
I'LL BE WAITING FOR YOU
"I'll Be Waiting For You" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuka Uchiha x Hinata Hyuuga]
Romance, Hurt/Comfort, Drama
AU, OOC, Typos, Semi-M, etc.
.
.
FOURTH. Dua Hubungan
.
.
Setelah berjalan beberapa langkah dengan Hinata di gendongannya, Sasuke menurunkan tubuh itu ke atas kasur. Tapi karena Hinata masih mengikatkan kedua tangannya di leher Sasuke, dengan terpaksa pria itu juga menjatuhkan dirinya di sebelah Hinata. Tangan kanan ia gunakan untuk melepaskan kedua tangan Hinata di lehernya lalu ia taruh ke atas kasur.
Tapi sewaktu ia akan menarik tangan kirinya yang tertiban punggung Hinata, wanita itu mengerang pelan dan kembali memeluk pinggang Sasuke. Ia pindahkan secara kasar tangan dan juga kaki Hinata yang memeluknya seperti bantal guling, tentu saja hal itu membuat Hinata meluruskan tubuhnya dan menaruh pipinya ke bantal. Wajahnya memang membelakangi arah pandangan Sasuke, tapi karena itu juga dia dapat melihat jelas leher jenjang istrinya.
Karena jarak Sasuke dan Hinata yang tertidur bisa dibilang sangat dekat, mau tidak mau ia mendengus meremehkan sambil menatap mata Hinata yang sedang terpejam, lalu mendekatkan bibirnya ke belakang cuping telinga si indigo.
"Kau sedang menggodaku, eh?"
Hinata—yang merasakan hembusan hangat di daerah telinganya—malah membalikkan wajahnya sehingga berhadapan dengan wajah Sasuke.
"Uuh..." Gumamnya, lalu secara spontan ia menggigit bibir bawah dan melepaskannya perlahan. Dan tanpa disadarinya kebiasaan ringan itu bisa sangat berbahayakan.
Terutama di saat seperti ini.
Sasuke memejamkan matanya rapat-rapat lalu mencengkram kencang seprai kasur yang berada di sebelah Hinata. Ia tampak menahan diri sampai akhirnya membuka mata.
"Tsch, persetan dengan janji itu...!"
Setelah kalimat tadi terucap, tanpa aba-aba lagi ia langsung menarik punggung Hinata agar leher berkulit putih itu semakin mendekat, lalu secara perlahan ia sentuhkan dahi dan tulang hidungnya ke sana dengan gerakan membelai.
Ia gesekan permukaan wajahnya bersamaan dengan hidungnya yang membaui kulit mulus itu—menghirup bebauan lembut yang menempel di sana. Lalu dia menekan bibir tipisnya kuat-kuat dan sesekali mengecupnya perlahan.
Tidak terlalu puas kalau hanya bertindak seperti itu, ia keluarkan lidahnya untuk menyapu permukaan kulit Hinata. Mengecap pelan semua rasa permukaan kulit itu dengan lidah lunaknya—sampai keluar suara dari hasil kerjanya yang terdengar samar.
Tangannya bergerak untuk membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan, sehingga terlepas dan menampakkan ototnya yang seimbang dengan porsi tubuh sang pemilik.
Sesuatu bergejolak dari dalam tubuhnya saat terdengar suara nafas Hinata—yang tanpa disadari juga oleh wanita itu—mulai terdengar menikmati, dan tentu saja suara itu berakhir menjadi lirihan yang menggoda.
Nafsu.
Ia tidak bisa menjelaskan dengan pasti, tapi ya, 'mungkin' itulah apa yang dirasakannya sekarang.
Sambil menjelajahi leher Hinata, Sasuke melepaskan kemeja yang melapisi bahu kanannya. Tapi karena lumayan susah melepaskan pakaiannya, ia membebaskan sementara leher Hinata dan merubah posisinya di ranjang menjadi terduduk. Setelah melepaskan kemeja ia lemparkan kain itu ke lantai, kali ini dengan tubuhnya yang sudah bertelanjang dada ia kembali menaiki tubuh Hinata—menahan tubuhnya sendiri dengan siku dan lutut agar tidak meniban si indigo dengan sempurna.
Ia menangkup wajah Hinata dengan kedua telapak tangannya sehingga bisa menatap wajah mulus itu tanpa gangguan, lalu dipandangnya bibir menggoda Hinata yang kini sangat dekat darinya. Tapi saat ia sudah memiringkan wajah dan mulai mendekatkan bibirnya, suatu suara membuatnya tersentak.
Trrrr...
Dengan alis tertekuk ia katupkan rahangnya kuat-kuat, lalu menjauhkan diri dari Hinata dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu jemarinya terus bergerak sampai menjambak rambutnya sendiri. "Argh, baka..."
Dengan kasar ia pun meraih ponsel di atas meja yang sebelumnya sempat berbunyi. Ternyata getaran tadi adalah alarm jam 04.00 yang lupa diset off—untuk mengerjakan tugas perusahaan.
Sambil mendengus kesal ia matikan alarmnya, lalu saat akan menutup ponsel flip-nya ia melihat pesan yang sudah dikirim dari jam 11 kemarin malam. Ia mengernyitkan alisnya lalu membuka pesan tersebut.
11.07 P.M. - Okaasan
Sasuke-kun, karena tadi kamu tidak membawa Hinata-chan ke rumah, Otousan-mu menjadi curiga kalian tidak menjalani pernikahan ini dengan baik.
Jadi di Sabtu nanti, kami ingin kalian berdua datang ke rumah keluarga.
Kuharap di sana kamu bisa membuat kecurigaan ayah berkurang,
Yah, semoga kamu mengerti maksud Okaasan...
Selamat malam, Sasuke.
.
.
~zo : i'll be waiting~
.
.
Sambil menutup sebagian mulutnya yang menguap pelan, Hinata membuka kedua kelopak matanya. Kali ini ia langsung memajang senyum kecil di bibirnya—bukan lagi memandang langit-langit kamar seperti kebiasaannya tiap pagi. Tentu saja karena kedatangan seseorang yang selalu ditunggunya.
Tapi secara mendadak senyumannya memudar saat merasa kulit tangannya menyentuh seprai ranjang.
Bukannya tadi malam ia tidur di sofa?
Ia menolehkan wajahnya ke samping, tapi Sasuke juga tidak ada di sebelahnya.
Senyumannya pun menghilang
Jadi... apa kejadian tadi malam hanya mimpi?
Dengan raut wajah yang sangat jelas menampakkan kekecewaan, ia menghela nafas panjang sambil memiringkan tubuhnya untuk memeluk bantal guling di sebelahnya dengan erat. Tapi pegangannya langsung mengendur saat ia mendengar suara ribuan tetes air di dalam kamar mandi yang tertutup.
Hinata tercengang mendengarnya...
Sasuke benar-benar pulang!
Tanpa memikirkan lebih kenapa ia bisa ada di ranjang, ia langsung membenamkan wajahnya ke bantal untuk menahan perasaan bahagia yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Cepat-cepat ia berbalik untuk menghembuskan nafas, lalu berguling bolak-balik di kasur sambil tertawa pelan.
Memang bisa dikatakan sedikit berlebihan kalau hanya melihat suaminya pulang. Tapi itulah perasaan Hinata sekarang.
Bahagia...
Saat posisinya sudah kembali terlentang, ia ulurkan kedua tangannya ke masing-masing sisi kasur lalu memejamkan mata. Tapi lagi-lagi sudut bibirnya memaksa untuk terus menaikkan diri sampai tawaan kecil terlepas dari bibirnya.
"Hh, aneh..."
Dengan tersentak ia membuka kelopak matanya dan langsung terkejut melihat Sasuke yang berjarak setengah meter darinya sedang menatapnya dari atas.
Awalnya mereka saling bertatapan dalam diam selama beberapa saat—sehingga tetesan air dari ujung rambut biru dongker Sasuke ada yang menjatuhi wajahnya. Sampai akhirnya Hinata menggigit bibir bawahnya dan hendak beranjak dari tempat tidur, tapi ternyata sikunya sudah ditahan oleh tangan Sasuke.
"Diam sebentar..."
Sasuke tidak mempedulikan dan aliran darah yang mendatangi pipi istrinya, ia hanya menatap lurus mata lavender Hinata—yang sebenarnya sudah menjadi spiral berputar. Lalu ia menaruh telapak tangan di sebelah bahu Hinata, disusul lututnya yang mulai menaiki kasur sehingga ia dapat merendahkan wajahnya ke Hinata yang masih telentang di sana.
Jantung Hinata terasa seperti akan keluar dari rongganya saat ia baru menyadari Sasuke yang hanya memakai celana hitam panjang. Cepat-cepat ia alihkan pandangannya ke arah lain karena tidak sanggup memandang terlalu lama dada polos Sasuke.
"Sa-Sasuke-kun m-mau apa?"
"Latihan mencium keningmu." Jawabannya langsung membuat Hinata tercekat. "Kita harus berlaku selayaknya suami istri di depan mereka."
"D-Di depan siapa?" Ia semakin menyeret tubuhnya mundur dengan kedua sikunya.
"Otousan-ku. Sabtu depan kita harus ke rumah keluarga Uchiha." Sambil memicingkan kedua matanya ia menahan gerakan Hinata agar ia tidak kembali memundurkan diri. "Di sana kita tidak boleh terlihat pura-pura."
Hinata mengangkat pelan tangan Sasuke, tapi pria itu kembali mencengkram tangannya, lutut Sasuke pun bergerak untuk menyempitkan jarak di antara mereka. Dengan keberanian yang susah-susah ia kumpulkan, Hinata menyentuhkan telapak tangannya ke dada Sasuke yang berbentuk lalu mendorongnya.
Merasakan permukaan otot yang terasa jelas di indra perabanya, ia semakin memutar lehernya ke samping.
"Pa-Pakai bajumu dulu!"
"Bisa nanti."
"Pakai duluu!" Bersamaan dengan jeritan itu, Hinata kembali membuat jarak dengan mendorong tubuh yang jauh lebih besar darinya. Tidak melewatkan kesempatan, Hinata langsung bergegas turun dari ranjang dan menjauhinya.
Sasuke mendengus lalu mengikutinya dari belakang—tanpa memedulikan permintaan sederhana dari Hinata. "Ini cuma latihan."
"Ku-Kumohon cepat pakai bajumu, Sasuke-kun!"
"Aku hanya mencium keningmu, itu saja!"
"Tidak mau!" Lagi-lagi Hinata menjerit sambil menoleh ke arahnya, menampakkan wajah merah dan setitik air bening di matanya—saking kerasnya menahan perasaan malu melihat dada telanjang milik Sasuke.
"Hinata, kau ini!" Tapi Sasuke yang tidak sadar malah dibuatnya kesal, sehingga ia langsung menarik tangan Hinata agar kembali menghadapnya.
Tapi saking emosinya ia tidak sempat untuk membatasi tenaga tarikannya. Dan hal itu membuat Hinata terhempas kepadanya dengan keras. Sasuke yang tidak terlalu siap untuk menerima tubuh Hinata yang dengan kencang menabraknya, mau tidak mau mereka harus terjatuh di atas lantai.
Gubrak!
Sambil merintih pelan Hinata mencoba untuk membuka kelopak matanya. Tapi saat penglihatannya sudah berfungsi, matanya langsung terbelalak melihat mata onyx Sasuke yang hanya berjarak satuan senti darinya.
Apalagi saat ia tau posisinya sekarang yang sedang meniban perut Sasuke, jantungnya serasa konser di tempat. Iapun meringis dan mengigit bibir bawahnya saat ia menjauhkan wajah merahnya secara perlahan dari Sasuke yang juga sedang mencerna keadaan.
Saat Hinata memundurkan wajahnya, Sasuke menatap datar matanya tanpa berkedip, lalu ia pun membenarkan posisinya menjadi terduduk.
"Go-Gomen..."
Tapi saat Hinata akan berdiri, mendadak tangannya ditahan oleh si pemilik rambut raven. Dan tanpa disadari oleh Hinata—mungkin juga Sasuke sendiri—pria itu menggerakkan salah satu tangannya ke tengkuk Hinata lalu menariknya mendekat.
Hinata yang merasakan tangan Sasuke yang menyentuhnya hanya bisa menundukkan kepala dan memejamkan erat-erat kedua matanya. Tapi karena hembusan nafasnya semakin terasa, ia memberanikan diri untuk kembali menyentuh otot dada Sasuke agar bisa menahan jarak di antara mereka. Tapi karena saking seriusnya menahan tubuh Sasuke, ia baru menyadari kalau pria itu sudah terlebih dahulu mengadahkan wajahnya dan menekankan bibirnya ke permukaan bibir menggoda milik Hinata.
Di awal Hinata hanya bisa terdiam dan merasakan dirinya merinding karena sesuatu yang mejalar dari perutnya. Merasa bibir Hinata yang ia sentuh mulai bergetar, Sasuke pun lebih menarik lebih tengkuknya.
Detak jantungnya yang seperti mau meledak mulai membuatnya sadar, ia pun mulai mengerang minta dilepaskan dari bibir Sasuke yang terus mengecup dengan pelan dan berulang. Tapi dirinya terlalu lemah untuk ini semua.
Melihat Sasuke yang bertelanjang dada saja ia merasa sudah melayang, bagaimana bisa dia kuat menahan dirinya untuk tidak pingsan karena kini mereka sedang berciuman?
Tentu saja bukan karena senang—seperti perempuan lain yang jikalau sekarang mereka menempati posisinya. Tapi karena... malu.
Ia sampai tidak sadar kalau tangan Sasuke sudah memeluk kepalanya dengan satu tangan untuk semakin menciumnya—dan tentu saja untuk mencegah Hinata yang hendak menghindar.
Gerakan Sasuke memang sedikit memaksanya, tapi sentuhan itu lembut dan membuatnya lupa untuk mendorong dada pria itu. Ia hanya diam saat merasakan bibir dan hembusan nafas Sasuke menyentuhnya.
Jujur saja, wanita itu merasakan ada suatu perasaan bahagia saat Sasuke 'mau' menyentuhnya. Perasaan itu memang kecil dan barusan terasa, membuatnya semakin tidak sadar kalau tangannya sudah mengalungi leher Sasuke dan meremas pelannya helaian birunya.
Dan saat merasakan lidah hangat Sasuke keluar menyapa belahan bibirnya—Hinata mematung. Ia pun semakin mengeratkan pejaman matanya saat lidah Sasuke memasuki bibirnya. Tubuhnya bergetar hebat karena sebuah sensasi yang membuatnya tidak bisa bernafas, bahkan suara decapan yang menguasai ruangan membuat perutnya serasa bergejolak.
Tapi... kegiatan itu dengan cepat berakhir.
Brakh!
Suara itu membuat mereka tersentak, bahkan Hinata yang tadinya tenang di pangkuan Sasuke sontak mendorong kuat-kuat dada bidangnya sehingga ia terduduk di lantai. Sedangkan Sasuke yang masih di posisi awal hanya berdecak kesal ada yang mengganggunya—lagi.
Tapi saat mereka melihat ke arah suara yang terdengar dari luar, nafas Sasuke langsung tercekat melihat siapa yang sedang memandangnya. Wajah yang terlihat dari jendela apartemennya sangat pucat, dan ia menutup mulutnya dengan telapak tangan—tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Ya, itu adalah Sakura Haruno.
Dan baru saja ia melihat Sasuke—kekasih yang pernah berjanji padanya untuk tidak akan pernah menyentuh istrinya—sedang melanggar janjinya sendiri.
Sambil menggeleng tidak percaya perlahan Sakura mulai menghilang dari jendela karena tidak bisa lagi menahan tangisannya. Sedangkan Sasuke yang baru sadar langsung berdiri dan berlari menuju pintu untuk mengejarnya.
Dan Hinata...?
Ia hanya mengadahkan wajah, memandang punggung Sasuke yang masih polos dengan tatapan sedih. Lalu setelah sosok itu menghilang ia menundukkan kepalanya—memandang kedua tangannya yang berada di atas lantai.
Terus memandangnya sampai tidak terasa butiran-butiran bening membasahi punggung tangannya. Lalu ia mengangkat tangan kanannya, menaruhnya di dada dan membiarkan dirinya menangis dalam diam.
. . .
Sasuke membuka pintu apartemennya, lalu menolehkan wajahnya ke samping kanan. Ditemukannya selusin donat di dalam kotaknya yang sudah berhamburan—yang mungkin asal suara yang membuat dirinya dan Hinata tersentak. Mungkin Sakura awalnya berniat datang bersilaturahmi. Seingatnya Sakura memang pernah bilang kalau ia akan mencoba berteman dengan Hinata. Tentu karena wanita bersurai indigo itu telah menyetujui kesepakatan yang Sasuke. Yang artinya, merestui hubungan gelap di antara Sasuke dan dirinya.
Tapi sepertinya niatan ini jadi gagal karena Sakura yang memergoki mereka berdua secara telak. Tapi hal itu tidak penting bagi Sasuke, ia langsung segera berlari mengejar Sakura.
Namun baru saja ia akan menuruni tangga, mau tidak mau ia harus menghentikan langkahnya. Ia hanya bisa menggeram dengan rahang yang sudah terkatup rapat dan melihat Sakura yang sudah menghilang.
.
.
~zo : i'll be waiting
.
.
Hinata hanya bisa terdiam saat melihat Sasuke yang baru masuk ke dalam apartemen. Sasuke tampak biasa—dingin—tapi keningnya yang berkerut sudah cukup menjelaskan kalau dia sedang di mood terburuknya.
Hinata takut... tapi ia sangat tidak bisa menahan perasaan mencekam ini.
"A-Apa yang tadi itu... Sakura-san?" Setelah lirihan itu terucap, langkah Sasuke terhenti—membuatnya cepat-cepat menggigit bibir bawah lalu menunduk.
Sasuke tidak menjawab dan terus terdiam. Tapi akhirnya ia menatap Hinata dengan pandangan datar.
Dia marah dengan Hinata?
Tidak, sungguh jahanam kalau ia marah dengannya—padahal ia yang menarik wajah wanita itu dan menciumnya tanpa izin yang punya.
Dia hanya membenci dirinya sendiri.
Kenapa dia tidak bisa menahan sesuatu yang bernamakan sebuah nafsu? Nafsu untuk menyentuh istrinya. Tapi rasanya ini bukan sesuatu yang hanya didasari oleh nafsu semata. Tampaknya ada yang lain... rasa tertarik?
Pelipisnya kembali berkedut, tanpa basa-basi lagi pria itu kembali melangkah. Tapi saat ia akan berjalan ke kamar, tubuhnya kembali terhenti karena ada dua tangan mungil menahan tangan kanannya dari belakang.
Tanpa ia tolehkan wajahnya, ia sangat yakin Hinata sedang membungkukkan badannya dalam-dalam di balik tubuhnya.
"Sungguh, aku minta maaf Sasuke-kun..." Lirihnya, dan tanpa sepengetahuan Sasuke, tetesan air mata kembali yang menjatuhi lantai.
"Aku... aku akan menjelaskannya pada Sakura..."
"Tidak perlu."
Suara berat itu seakan meringankan sedikit bebannya di dalam hati. Tapi Hinata sudah menguatkan niatannya, dan tidak akan mudah lagi untuk menunda atau membuatnya batal.
"Baiklah..." ia pun mulai mengangkat kembali kepalanya dan melepaskan tangan Sasuke, mengambil buku di atas meja ruang tengah, lalu berlari keluar apartemen. "Aku yang akan menjelaskannya sendiri."
Mendengarnya hal itu, mau tidak mau Sasuke dibuatnya terkejut. Tapi saat Sasuke sudah berbalik, Hinata sudah tidak ada lagi di belakangnya.
"Hinata!" Bersamaan dengan teriakan itu, Sasuke langsung berlari menyusul Hinata. Tapi saat ia baru turun dari apartemen, ia melihat Hinata sudah memasuki salah satu taksi yang kebetulan sedang lewat.
Sasuke langsung menggeram tidak suka dan kembali ke kamar apartemen untuk mengambil kunci mobilnya—sehingga ia dapat mengejar jejak Hinata yang entahlah mau berjalan ke mana. Saat di dalam taksi Hinata menunduk, tangannya yang bergetar membuka sebuah buku telfon yang sudah ia bawa dari apartemen. Sebenarnya ia ragu akan menemukan alamat Sakura di sini. Tapi mau bagaimana lagi, di saat itu hanya buku telfonlah yang dia yakini menyimpan data-data dari kenalan Sasuke.
"Mau ke mana, Nona?"
"Ja-Jalankan dulu taksinya, Jisan..." Hinata berucap. Dengan panik ia mencoba mencari buku tersebut, tepat di bab 'S'.
Dan nyatanya... ada. Ada alamat tempat tinggal Sakura Haruno di sana.
Hinata menghela nafas lega.
Ia segera mendekati supir taksi di depannya, lalu menunjukkan sebuah tulisan kecil di kolom alamat.
"To-Tolong antarkan aku ke alamat ini..."
.
.
~zo : i'll be waiting~
.
.
Sakura's POV
"Maaf..."
Mendengar suara itu, bibirku membentuk garis datar, tapi aku menatap matanya tanpa berkedip. Aku memang sedikit jengah saat melihat kehadiran dari Hinata Uchiha, istri dari Sasuke, yang berada di sini, di depan pintu kamar apartemenku. Namun aku jauh lebih dikejutkan oleh dikejutkan oleh kalimat yang barusan dilontarkannya.
Mata lavendernya memelas, namun menyiratkan keseriusan. Tapi aku sangat merasakan ada pancaran kesedihan di manik matanya. Terutama saat dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Aku tertegun, dia membuatku tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun selain terdiam.
"Sakura-san, maafkan aku..."
Mendengar hal itu, aku menggeleng pelan. Aku dibuatnya tak habis pikir.
Aku buru-buru pulang ke rumah setelah menyaksikan kekasihku berciuman dengan istrinya, orang yang saat ini berada tepat di hadapannku. Jujur saja, aku memang sakit hati dan luar biasa kecewa saat melihat Sasuke melakukan hal seperti itu. Ia melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Hinata.
Tapi nyatanya aku jauh lebih dibuat mematung, saat melihat dia. Wanita itu, istri Sasuke, yang mengetuk pintu rumahku, dan segera memohon maaf kepadaku.
Seperti saat ini.
"Ma-Maaf, sungguh, i-itu hanya kecelakaan..."
Bersama mata sembabku, aku memandang iris ungunya. Dia tidak sedang menatap mataku. Dia memandang lantai. Kedua matanya bergerak dengan gelisah, sedangkan bibirnya terus mengucapkan kalimat penjelasan secara terbata.
"Ja-Jadi... kuharap Sakura-san tidak salah paham..."
Aneh.
Ini aneh.
Masalahnya... mana mungkin ada seorang istri yang merasa bersalah ketika ditemukan berciuman dengan suaminya sendiri? Terlebih lagi, wanita ini... meminta maaf kepadaku, yang notabene pacar gelap Sasuke.
Kenapa dia malah bertindak seolah-olah akulah istri Sasuke, dan dia adalah selingkuhannya?
Kenapa?
Ini benar-benar terbalik...
Dan... apakah dia tidak merasa sakit?
Mataku menilik penampilan wanita bersurai panjang itu. Suara lembutnya lantang, walaupun ada kecemasan yang terdengar dari sana. Tampaknya ia sedang berusaha untuk terus meyakinkanku. Dan aku tau dia mengatakan ini bukan karena paksaan dari Sasuke.
Tapi... bukannya mau bagaimanapun juga... Sasuke itu suaminya?
"Ini... h-hanya kecelakaan..."
Lalu kenapa harus dia yang minta maaf?
"Kumohon, p-percayalah padaku... Sakura-san..."
Aku memejamkan mata dan menghela nafas berat.
Miris...
"Aa, aku mengerti... tapi jangan memohon seperti ini." Aku berucap.
"Hinata!"
Pandanganku langsung berpindah ke arah Sasuke yang baru saja datang. Wajah rupawannya itu telihat kesal, tapi lebih ditutupi oleh sesuatu yang lain. Tanpa menatapku yang terus memandangnya, ia langsung menarik tangan putih Hinata dan mundur beberapa langkah untuk sedikit menjauh.
"Kau tidak perlu melakukan ini..." Geramnya sambil terus mencengkram tangan Hinata karena wanita itu ingin terlepas darinya.
"Tapi aku hanya menjelaskan padanya..." Terlihat dari matanya kalau ia mencoba melawan perasaan takutnya untuk menatap mata Sasuke. "Aku... Aku hanya tidak ingin menghancurkan hubungan kalian..."
Kali ini bukan hanya aku saja yang sempat dibuat terkejut. Sasuke pun tecengang saat mendengar kalimat itu.
Merasakan cengkraman itu sudah melonggar, sambil tersenyum sebaik mungkin Hinata menundukkan kembali wajahnya lalu meraih salah satu tangan Sasuke yang besar dan hangat.
Melihat Hinata, dadaku terasa bergemuruh—seakan dapat merasakan langsung perasaannya. Tapi kemudian aku kaget karena melihat Hinata menjatuhkan butiran beningnya ke lantai. Cepat-cepat ia hapus jejak air mata di pipinya—sebelum terlihat oleh Sasuke—lalu ia tarik tangan itu untuk mendekatkannya denganku yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Sasuke hanya terdiam sambil menatap mata lavendernya, mencoba menangkap apa maksud di balik itu. Lalu tatapannya berpindah ke arah tangannya sendiri yang sudah ditaruh oleh Hinata dengan tanganku.
Hinata mengangkat wajahnya lalu membagi senyumnya ke Sasuke dan aku yang sedang memandangnya, setelah itu ia memundurkan langkahnya.
Sasuke heran—bahkan nyaris tidak mengerti sama sekali apa maksud Hinata. Tapi saat bertemu pandang denganku, aku bisa melihat ada yang aneh di matanya. Dengan perlahan ia memelukku. Perasaan itu semakin terasa... perasaan yang dipenuhi rasa bersalah. Entahlah kepada siapa.
Aku yang ada di depannya...
Atau perempuan yang ada di belakangnya.
Kutatap lagi wanita berponi rata itu. Dia memang tesenyum, tapi saat ia sudah semakin memundurkan langkahnya, Hinata tampak menurunkan senyumannya. Ia masih terus menatap punggung Sasuke yang sekarang sudah memelukku dan membelakanginya. Tatapannya semakin ragu, ia lempar pandangannya ke arah samping sambil menyentuhkan jemarinya ke bibir. Lalu ia sempatkan sekilas untuk menatap Sasuke dan akhirnya berbalik bersama jatuhnya tetesan air matanya yang lain.
Tapi tanpa disadari Hinata, aku terus melihatnya. Aku tidak merasakan pelukan yang kuterima, mataku terus menatap Hinata yang kini sudah keluar dari kamar apartemenku.
"Sakura... maaf."
"Aa, iya Sasuke-kun..." Merasakan kehangatan yang diberikan Sasuke, aku pun membalas pelukannya.
Tapi mataku masih lurus ke pintu. Memikirkan siapa orang yang terakhirkali menutup pintuku.
Wanita itu adalah istri Sasuke Uchiha, kekasihku. Istri yang seharusnya senang melihat aku yang galau karena melihat mereka sedang berbagi kasih.
Tapi apa yang ditampakkan oleh wanita itu?
Mata Hinata benar-benar meyakinkanku dengan pasti. Tapi saat melihat Sasuke yang memelukku, keseriusannya pecah dan langsung tergantikan oleh tatapan sedih.
Ya, sebuah perasaan yang sakit.
Aku juga perempuan... aku tau perasaan Hinata.
Pasti Hinata menginginkan orang yang dicintainya bahagia... sehingga ia rela melakukan ini.
Tapi Hinata lupa satu hal. Dan mungkin hanya diketahui oleh hatinya.
Semua orang sangat menginginkan orang yang dicintainya bahagia...
Tapi bahagia dengan dirinya sendiri...
Bukan bersama orang lain.
Aku membenamkan wajahku ke kemeja Sasuke yang menyimpan bau yang paling kusenangi. Lalu semakin mengeratkan pelukan ini untuk menghilangkan perasaanku saat mencoba memahami perasaan Hinata.
"Jangan nangis..."
"Eh?"
Bisikan Sasuke memecahkan lamunanku, cepat-cepat aku pindahkan pandangan ke arah onyx yang sekarang menatapku. Lalu kubiarkan ibu jarinya mengusap air mataku yang mengalir.
"Iya..."
Ya, ternyata aku sudah menangis. Air mataku terus mengalir tanpa henti.
Aku menangis... karena wanita itu.
Ya, wanita itu sangat mencintaimu...
Tapi... Sasuke-kun...
Kuhentikan pemikiran itu lalu menghela nafas lelah.
Kami-sama, kenapa aku merasa seperti orang jahat di antara mereka...
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
AAAHH! Emosinya datar banget ya? Huhu maaaffff...
Kayaknya aku ngerasa ada deathglare dari SHL (lagi). Aku tau chap ini buruk banget, tapi ini tuh untuk ngabulin request dari para reviewer yang minta SasuSaku-nya didikitin! (SHL : ngabulin mbahmu! *esmosi*) Maksud aku tuh chap ini SasuSaku-nya banyakin, tapi chapter-chapter besok Hinata udah ngga bakal ngeliat lagi SasuSaku di depan matanya :)
Karena banyak yang di-skip, jadi aku mohon maaf kalo feelnya ngga nyampe (Soalnya aku buatnya agak-agak mepet sama jadwal liburanku sih) Eh, ini tuh angst atau Hurt/comfort? Ngga bisa bedain. Ah, sebenernya aku pengen update ini cepet-cepet, tapi karena aku lagi sibuk buanget ngurusin pindah rumah dari jakarta-palembang, liburan, persiapan MOS SMA, sekolah, dll, jadi agak ketunda...
Dan untuk 2 chap ke depan... mungkin aku bakal lebih banyakin SasuHina... :)
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Lupphi beldenchvict, Minewoppa, Ai HinataLawliet, Sugar Princess71, Rei-kun, aaaa, ao-kazamasa, uchiha za chan, Ichaa Hatake Youichi, Kikyo Fujikazu, uchihyuu nagisa, hyuuchiha prinka, Yumi michiyo, Yori Fujisaki, Hizuka Miyuki, Merai Alixya Kudo, chibi tsukiko chan, Yuki Tsukushi, SasuHina lovers, YamanakaemO, Kaka, Inainae-chan, harunaru chan muach, Kimidori hana, Lollytha-chan, Miya-hime Nakashinki, Suki-nanda, KagiyamaHINA-chan, OraRi HinaRa, Bliebers, imaa50, Blieber, Recca, Uzumaki Panda, ichsana-hyuuga, Ellechi, Miiki Ananda, annisa hyuuga chan, Nao-shi Arisu Caelum, Norikonori-chan, Nanairo Zoacha, yha-chan, deweeyy, review, Bliebers, Chikuma new, Okajima.
.
.
Pojok Balas Review :
Kapan SasuSaku putus? Mungkin menjelang ending. Sasu egois banget. Iyaa! ;/ Hurt-nya dapet, tapi romancenya dikit. Semoga hurtnya masih kerasa dan romance-nya nambah. Bikin Sasu cemburu. Iya, chap-chap besok Naru bakal main lagi kok. Update Nerds. Sippy. Kirain ngga dilanjutin gara-gara banyak yang mempermasalahkan pair. Sebenernya kritik sebanyak apapun ngga bakal ngebuat aku jadi males nerusin fic. Lanjut atau ngga-nya fic ini tergantung mood nulis aja sih. SakuHina jangan bertengkar. Pastinya. Lega waktu liat No-bashing di warning. jujur, aku ngga ngerti kata bashing. tapi aku NGGA bakal ngebuat Saku ngejelekin Hinata ataupun sebaliknya. Kayaknya lebih ke Sasuke. Ino kenalnya sama Sakura atau Hinata? Sakura. Kasian Hinata ngeliat SasuSaku. Di chap ini adalah chap terakhir Hinata ngeliat SasuSaku dengan mata kepala sendiri kok, maaf kalo (misalnya) hurt :( Akhirnya Hinata bahagia kan? Iyaaa. Jangan terlalu kejam sama Sakura, kan dari awal SasuSaku emang udah duluan pacaran. Tenang aja, SakuHina bakal sama-sama galau dan punya ending bahagianya masing-masing kok. Baca ini perasaanku jadi keobok-obok. \:D/ Kalo ada pairing tambahan, porsi SasuHina jangan dikurangin. Okee, mungkin cuma 20%-nya. Sasuke kok jadi beda sama Hinata? Apa udah mulai suka? Ehehe, apa yaa? SasuSaku putus, Sakura sama Naruto aja. Okee (y) Buat Sakura tau diri kalo Sasuke suami Hinata.Chap ini udah loh. Adegan SasuSaku pasti aku lewatin. Sebenernya sih itu nilai Hurt-nya, tapi ngga apalah terserah reader kok ;) Gemana kalo Sakura ngeliat Sasuke suka sama Hinata? Makanya Sakura juga punya kisah galaunya. Tambahin pair lain dong. Oke. Apa Sakura udah diapa-apain sama Sasuke? Sepertinya belom -,- Mereka diibaratkan sebagai kucing dan ikan ya? Em, kata tanteku sih cewek emang diibaratin ikan, kalo cowok kucing -_- Alesan khusus Hina bisa secepet itu suka sama Sasu? Singkatnya cinta tiba-tiba, atau ngga cinta tanpa alesan (...bingung) Update-nya lama. kayaknya sih aku emang sengajain 2 minggu sekali supaya fic yang lain juga bisa dikerjain :D Ada yang ngeflame ya? Sampai sekarang sih belom, banyakan kritik. Karna setauku flame tuh yang nyuruh author berhentiin fic tanpa alesan yang jelas+kata2 yang kasar (gatau juga deng) Humornya besok-besok tambahin. Chap ini aku ngga kasih humor, tapi di chap selanjutnya mungkin ada. Kapan malam pertama SasuHina? Aku udah nyiapin MP yang mengharukan (...) buat SasuHina tapi masih lama :)
.
.
Next Chap :
"Jelaskan padaku... 'apa' yang kalian berdua bawa ke sini, hah?"
"Tapi aku lumayan curiga nih, Ojiisama. Wajah anakmu ini mirip calon pelaku KDRT ya? Menyeramkan!"
"Jadi... HAL ITU BENAR? DIA SELINGKUH?"
"Tapi... apa kau mencintainya?"
"Aku jadi ingin punya seorang bayi—"
.
.
Review kalian adalah semangatku :'D
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
