Chapter 4: The Red Skies in that Day


22 September 2035

"Thatcher sudah pulih dan siap untuk bertugas kembali. Sementara Sigsbee masih harus menunggu peralatannya diperbaiki"

"Baiklah, terimakasih atas kerja kerasmu Vulcan. Kau boleh pergi untuk beristirahat sekarang"

Setelah memberi hormat kepada Curtiss, Vulcan segera pergi meninggalkan ruangan.

Dua hari yang lalu, pasokan bahan makanan dan persenjataan datang dengan Hercules. Seperti yang dijanjikan, Vulcan juga datang bersamanya. Perempuan itu cukup tinggi, bahkan lebih tinggi daripada Curtiss. Profesional seperti Washington dan tidak berbasa-basi seperti Helena, Vulcan segera melaksanakan tugasnya sesaat setelah turun dari pesawat. Curtiss menyukainya. Dia sudah cukup kerepotan untuk mengurus para happy-go-lucky seperti Thatcher, Albacore, atau Yuudachi dan tidak ingin orang-orang seperti mereka bertambah.

Curtiss lalu melihat ke arah meja yang ada di sampingnya. Nampak disana kapal tempur berambut pirang dengan potongan pendek yang sehari-harinya hanya memakai sport bra dan hot pants sedang menyusun tumpukan kertas dengan wajah kesal.

"Hei Tenne, bagaimana kabarmu disana?"

Tennessee memberinya tatapan tajam sebelum bicara kepada Curtiss tanpa menatap wajahnya.

"Kau bisa lihat sendiri, kan! Aku tidak cocok untuk pekerjaan seperti ini! Jika kau mencari seseorang untuk membantumu mengurus semua kertas ini, sebaiknya kau bicara pada Wash!"

"Dia orang yang sulit kuajak bicara. Aku lebih suka bekerja dengan seseorang yang bisa kuajak mengobrol"

"Bagaimana dengan para perusak? Kau cukup dekat dengan mereka, kan? Sigsbee, Sullivans, atau Shigure pasti mampu mengerjakan hal-hal seperti ini"

"Nah, itu sempat ada di benakku. Tetapi aku merasa tidak enak membuat anak-anak seperti mereka mengurus pekerjaan kantoran"

"Jadi aku tidak bisa mengelak, huh? Berapa lama lagi aku harus mengerjakan hal-hal seperti ini…."

Sementara Tennessee terus mengeluh, Curtiss merebahkan badannya untuk beristirahat sejenak. Pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai. Ia sudah mengirim Archerfish dalam misi pengintaian ke Guam, target operasinya yang pertama. Semua kertas administratif sudah ia baca dan tanda tangani. Tidak ada yang ingin ia lakukan secara spesifik pada hari ini sehingga ia memutuskan untuk tidur sebentar.


Hari yang cerah di tepi pantai California. Ombak pada hari itu begitu tenang. Nampak dua orang anak kecil sedang memancing di tepi pantai, seorang laki-laki dan seorang gadis.

"Uh…kak Johny, apa benar kita bisa mendapat ikan disini?"

"Tentu saja Mia! Kemarin, aku mendapat ikan yang besaaaar disini"

"Lalu, kemana ikan itu?"

"I-itu…Ahahaha…ikannya kabur saat aku melepaskannya dari kail"

Gadis itu lalu memberi tatapan curiga kepadanya.

"Kakak tidak bohong kan?"

"Te-tentu saja tidak. Kenapa aku harus berbohong kepadamu?"

Anak laki-laki tersebut bernama John Curtiss. Umurnya sepuluh tahun dan tinggal bersama kedua orang tuanya di tepi pantai California. Gadis yang ada disampingnya adalah Mia Curtiss, adik dari John yang dua tahun lebih muda darinya.

Saat ini, mereka berdua sedang mencari 'ikan raksasa' (itu yang dikatakan John) untuk makan malam mereka nanti. Sayangnya, sampai sore hari mereka tidak mendapatkan satupun ikan. Mia lalu beranjak untuk pulang sementara John memintanya untuk bertahan sedikit lagi. Namun, perkataan John tidak dihiraukannya. John terpaksa menuruti keinginan adiknya tersebut.

Sesampainya dirumah, mereka berdua disambut oleh ibu mereka yang sudah menyiapkan makan malam. Sesudah membersihkan diri dan berganti pakaian, John kemudian bergabung bersama ibu dan adiknya di meja makan. Mia lalu menanyakan pertanyaan yang sudah sering ia lontarkan kepada ibunya.

"Ibu, kapan ayah pulang?"

Ibunya memberi tatapan lembut kemudian mengelus kepalanya.

"Ayahmu sudah berjanji untuk pulang pada hari ulang tahunmu, kan? Dia pasti sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu nanti. Tunggu saja, ya."

Mia nampak girang setelah mendengar hal tersebut. John yang melihatnya juga nampak senang melihatnya gembira. Sebagai seorang kakak, ia selalu berusaha untuk membuat Mia tersenyum dan tidak ingin melihatnya bersedih.

Ayah dari John dan Mia merupakan pelaut yang bekerja di atas kapal kargo. Ia jarang berada di rumah dan kepulangannya tidak menentu. Setiap kali pulang ke rumah, Mr. Curtiss selalu membawa oleh-oleh dari berbagai tempat di dunia. Itulah sebabnya mereka amat senang saat ayah mereka pulang ke rumah


Hari yang biasa seperti hari-hari lainnya saat John melempar tas sekolahnya dan berbaring di atas sofa untuk melepas lelah. Ia mengambil remote dan menyalakan TV lalu memindah-mindah channel untuk mencari tontonan menarik. Sampai di suatu channel, ia melihat berita tentang serangan di laut kepada kapal-kapal sipil oleh objek tidak dikenal. Namun karena tidak tertarik, ia kembali memindah channel sampai berhenti di kartun kesukaannya.

Beberapa menit kemudian, telepon berdering. Ms. Curtiss mengangkat telepon tersebut. Semuanya berlangsung normal sampai John mendengar suara isakan ibunya. Karena penasaran, ia mengintip untuk melihat keadaan ibunya. Nampak ibunya menutup mulut dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengenggam gagang telepon. Air matanya mengalir deras di pipinya, sementara suaranya menjadi terbata-bata. Setelah menutup telepon, ibunya lalu duduk di kursi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terus melanjutkan tangisannya.

Tidak mampu lagi melihat keadaan ibunya, John kembali menuju TV dan berpura-pura tidak melihat apapun

'Sebenarnya, apa yang terjadi?'

Saat hari ulang tahun Mia, ayah mereka belum juga pulang seperti yang ia janjikan. Mia yang merasa kesal terus bertanya tentang kedatangan ayahnya. Berkali-kali Ms. Curtiss berusaha untuk mengalihkan pertanyaan Mia, tetapi akhirnya ia menjawab dengan senyuman.

"Ayah terlambat karena mendapat beberapa tugas baru. Setelah tugasnya selesai, dia pasti akan pulang"

Sayangnya, John melihat keganjilan pada senyum ibunya. Senyum itu bukan senyum penuh cinta yang biasa ia berikan. Senyum kali ibunya kali ini penuh dengan kesedihan. Tak pernah ia melihat ibunya seperti ini. John merupakan anak yang pintar. Ia tahu kalau sesuatu pasti terjadi pada ayahnya.

Ia lalu mengingat berita terkini tentang serangan di laut oleh objek tidak dikenal. Dengan jantung berdegup kencang, ia lalu mencari informasi tentang berita tersebut di internet. Ia mencari segala hal yang menyangkut keberadaan ayahnya. Betapa hancur hati John setelah melihat daftar kapal yang menjadi korban, dimana kapal yang diawaki oleh ayahnya berada dalam daftar tersebut. Gambar kapal tersebut juga persis seperti yang ia ketahui.

Ia membuka data para kru kapal dan menemukan nama ayahnya.

Missing in Action

Keberadaan ayahnya tidak diketahui sampai saat ini.

John lalu melihat data kru yang lain dan menemuka sebuah fakta, tidak ada kru yang dilaporkan selamat. Hampir seluruh kru dilaporkan menghilang, dan hanya beberapa yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

John merasakan sesuatu yang hangat di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, John menangis. Ia kemudian pergi ke pantai sambil berlari dengan kecepatan penuh. Saat ia sampai, hari sudah menjelang malam dan matahari mulai bersembunyi di balik cakrawala. Memunculkan sunset yang indah. Langit yang biasanya biru berubah menjadi merah keemasan.

Jika ini hari biasanya, John akan merasa senang dan kagum melihat pemandangan ini. Pantai California biasanya selalu berawan dan sangat jarang untuk melihat sunset seperti ini. Namun kali ini berbeda. John tidak merasakan keindahan apapun dari pemandangan itu. Dia hanya merasakan kepedihan yang amat mendalam.

Menangis dalam diam, John hanya memandang ke arah lautan lepas. Berharap sebuah keajaiban muncul dan ia dapat bertemu lagi dengan ayahnya.

"Kakak, ayo pulang! Nanti ibu marah!"

Semenjak hari itu, setiap sore John selalu berada di pantai sampai matahari tenggelam. Dan hampir setiap hari, Mia selalu mennyuruhnya untuk pulang.

Tidak mendapat respon yang ia inginkan, Mia mengambil segenggam pasir kemudian membentuk bola, lalu melemparkannya ke arah wajah John.

"Hei! Untuk apa itu!"

"Kenapa kau diam saja dari tadi!? Ayo cepat pulang! Aku bosan menjemputmu tiap hari!"

"Kalau begitu, kau tidak perlu men-"

Omongannya terhenti saat bola pasir kedua mengenai wajahnya lagi.

"Baiklah! baiklah! Aku pulang!"

Setelah sampai di rumah, ibunya nampak di depan pintu dengan wajah khawatir.

"Nak, kita perlu bicara"

Setelah memastikan bahwa Mia sudah masuk ke kamar mandi, ibunya mulai bicara.

"Dengar John, ibu tahu kalau kau menginginkan ayah kembali. Tapi kau tidak perlu terus-terusan melakukan hal semacam ini. Itu membuat ibu khawatir."

"Apa Mia sudah mengetahuinya?"

"Belum, belum saatnya baginya untuk tahu. Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan!"

"Bu, apa tidak boleh aku berharap ayah kembali. Setiap hari, aku selalu berdoa disana berharap agar ayah selamat. Apa aku tidak boleh melakukannya?"

"Ibu tidak melarangmu untuk melakukannya. Hanya saja, ketahuilah batasan dirimu. Tidak perlu untuk berada disana sepanjang waktu. Selama harapan itu masih ada di dalam hatimu, suatu hari nanti ayah pasti akan kembali."

"Aku-aku-aku hanya ingin melihatnya secara langsung saat ia kembali, Ibu tahu? Aku selalu membuatnya marah. Ayah pasti membenciku. Aku bahkan belum pernah mengatakan kalau aku mencintainya"

Air mata John kembali keluar. Ibunya lalu memberikan pelukan hangat kepadanya.

"Ayahmu marah karena ia menyayangimu John. Dia tidak pernah membencimu. Kau dan Mia adalah hal terindah yang ia miliki."

Hari lainnya dimana John kembali menunggu di tepi pantai, tidak menghiraukan perkataan ibunya. Ibunya sudah lelah untuk bicara padanya dan memutuskan untuk membiarkannya.

John mengambil salah satu batu yang ada di tepi pantai dan melemparkannya ke arah laut. Batu tersebut memantul beberapa kali sebelum tenggelam. John dulu sering memainkan permainan ini bersama ayahnya. Sayangnya ia tidak pernah menang. Entah kenapa batu milik ayahnya selalu memantul sekali lebih banyak daripada miliknya.

Saat akan melemparkan batu keempat, ia melihat beberapa objek di tengah laut. Penasaran pada apa yang ada disana, ia segera berlari menuju tembok pemecah ombak agar mendapat pemandangan yang lebih jelas. Nampak beberapa objek tersebut berbentuk seperti manusia. Objek lainnya nampak seperti lumba-lumba atau paus kecil baginya.

"Manusia? Berjalan di atas air?"

Saat objek-objek tersebut semakin dekat, John mengetahui kalau orang-orang yang bergerak di atas air tersebut membawa semacam meriam. John semakin keheranan melihatnya.

"Trik macam apa itu? Kenapa mereka bisa melakukannya?"

Rasa heran John tidak berlangsung lama saat suara menggelegar terdengar. Nampak orang-orang tersebut menembakkan meriam yang mereka bawa…menuju perumahan penduduk tempat John tinggal.

Suara ledakan bersahutan terdengar saat peluru mereka membombandir tempat tinggalnya. Asap mengepul tinggi di angkasa dan tangis jeritan orang-orang sampai di telinga John.

"IBUU! MIAA!"

John segera berlari menuju ke arah tempat tinggalnya sampai ia terlempar ke laut saat saat dinding tempat ia berpijak runtuh karena ledakan. Nampak para lumba-lumba tadi membuka mulutnya, dan didalam terdapat meriam yang mereka tembakkan ke arah bibir pantai.

Tidak mempedulikan apa yang terjadi, John terus berenang ke arah pantai. Pikirannya tertuju pada satu hal; keselamatan ibu dan adiknya.

Dentuman demi dentuman terus terdengar saat John sampai di pantai. Sambil matanya berkaca-kaca sembari terus berlari. Semakin dekat ia, semakin jelas pula asap yang membumbung tinggi. Saat ia sampai, semuanya telah hancur. Rumah-rumah yang ada telah hancur lebur. Api menyala-nyala dengan hebat di berbagai tempat.

Kondisi rumahnya tidak jauh lebih baik. Rumahnya telah runtuh dilalap oleh api. Dengan bermodal nekat, John mengais puing-puing rumahnya dengan harapan menemuka kedua orang yang ia cari-cari.

"IBUU!"

Tangannya melepuh dan tubuhnya merasakan panas yang luar biasa.

"MIAA!"

Pikirannya kacau. Dia tidak ingin lagi kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Saat itu juga tubuhnya ditarik dari belakang. Nampak disana Tuan Osborn, tetangganya yang menariknya menjauhi puing-puing.

"LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!"

John memberontak, tetapi Tuan Osborn memegangnya dengan erat.

"Tidak John, kau tidak boleh pergi kesana! Terlalu berbahaya! Sekarang, ayo ikut aku!"

"Tidak! Ibu dan Mia masih ada disana! Aku tidak mau pergi tanpa mereka!"

Tuan Osborn tidak mendengarkannya. Dia membawa John ke sebuah tempat dimana sebuah mobil bak terbuka menunggu. Tanpa berbasa-basi, ia segera menaikkannya ke atas truk tersebut. John ingin segera melarikan diri, namun niatnya ia urungkan saat melihat seseorang yang sedang terbaring di atas truk tersebut.

"Mia!"

John segera memeluk adiknya tersebut, namun tidak mendapat reaksi apapun. Dia sempat panik untuk sesaat namun kembali tenang saat seseorang mengatakan kalau Mia hanya tidak sadarkan diri.

"Oke, itu yang terakhir. Sekarang kita siap untuk berangkat!"

Suara Tuan Osborn terdengar saat orang tersebut masuk ke dalam kursi kemudi.

"Ibu…! Bagaimana dengan ibu!?"

John tidak mendapat jawaban apapun selama beberapa saat sampai Tuan Osborn bicara.

"Jangan khawatir John. Ibumu akan baik-baik saja"

Seharusnya itu menjadi kabar baik, namun suasananya tidak berkata demikian. Orang-orang yang ada di atas truk berusaha memalingkan wajah mereka dari John. John yang tidak menyadarinya terus memeluk adiknya sementara truk yang dikendarai Tuan Osborn bergerak menyusul konvoi kendaraan yang sudah pergi sedari tadi untuk mengungsi.

"Kau tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepadanya?" tanya orang yang duduk di samping Tuan Osborn.

"Tidak dengan kondisinya saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya nanti. Anak itu sudah cukup terpukul dengan kepergian ayahnya, dan sekarang ia harus kehilangan ibunya"

John melihat ke arah tempat tinggalnya saat rombongan terus bergerak menjauh. Hari sudah malam, namun langit tetap terang karena cahaya dari api yang berkobar. John terus memandangi cahaya kemerahan tersebut. Warna langit yang sama seperti saat hari dimana ia mendapat kabar kepergian ayahnya.

Langit merah pada kedua hari itu tak akan pernah ia lupakan.


"Kapten, kapten~"

Suara seseorang membangunkan Curtiss dari tidurnya.

"Uh…Um…Ah…Lexington. Ada apa gerangan?"

"Ada beberapa kertas yang harus kau baca dan tandatangani sekarang"

"Kertas lagi? Agh…Aku sudah muak dengan kertas-kertas ini. Bagaimana bisa Nimitz bertahan dari pekerjaan semacam ini?"

Lexington yang melihat komandannya mengeluh hanya tertawa kecil.

"Itulah sebabnya kau harus menghormatinya"

Curtiss kemudian melihat ke arah meja Tennessee. Nampak disana ia sedang tertidur dengan kertas yang sudah ditumpuk rapi di sampingnya. Sepertinya tidak hanya Curtiss yang terkuras tenaganya karena urusan kertas-kertas yang seakan tanpa henti ini. Ia lalu melihat kearah Lexington dan mendapat sebuah ide.

"Lex, apa kau bisa mengurus pekerjaan kantoran?"

"Huh? Um… Yah. Tentu saja. Aku sudah terbiasa membantu Admiral Nimitz dalam mengurus surat-surat yang masuk kepadanya"

"Baiklah! Aku menemukan orang yang tepat!"

"Heh?"

"Lexington, ini bukan perintah tapi lebih seperti sebuah permintaan. Bila kau sedang senggang, bisakah kau datang kesini untuk membantuku? Hidupku sedang dipertaruhkan disini…"

"Kau terlalu membuatnya menjadi dramatis kapten…Baiklah, aku akan membantumu"

"Benarkah! Terima kasih banyak Lady Lex!"

Setelah Lexington pergi, Curtiss mulai membaca salah satu kertas yang dibawa kapal induk tersebut. Para gadis kapal Jepang yang tertinggal sudah sampai di Pearl Harbor bersama para gadis kapal Russia yang akan bertugas di markas Curtiss. Mereka akan datang bersama dengan Hercules berikutnya. Ia membaca nama-nama kamusu tersebut.

"IJN Shokaku, IJN Zuikaku, IJN Kitakami, IJN Oi, USSR Stalingrad, USSR Kirov, USSR Tashkent…Nampaknya kita mendapat tambahan kapal induk. Sebuah kabar yang baik. Tunggu sebentar…"

Curtiss kemudian melihat kembali nama kedua kapal induk tersebut. Ia menaruh kertas tersebut dan mengingat lagi orang yang memberikan kertas tersebut kepadanya.

"Oh Sial…"


Selamat pagi/siang/sore/malam

Lord Godzilla disini…

Maaf update ngarit. Sebenarnya chapter ini udah lama selesai, tapi baru bisa diupload sekarang .

Thanks buat kalian yang udah mau baca dari atas sampai kalimat ini. Kritik dan saran apabila berkenan.

Cheers~