Chapter 4
Disclaimer: Kurobas selamanya bakalan menjadi miliknya Fujimaki Tadatoshi semata.
.
.
Izuki segera berbalik menghadap ke arah Hayama yang sudah memarkirkan (baca:'menaruh di tempat yang agak kosong di dekat trotoar) sepedanya dan berlari menghampirinya.
"Hisashiburi…. Eh-" (1)
Byuuurrr!
Dan mereka jatuh bersama-sama ke dalam sungai. Untungnya Izuki bisa berenang. Namun yang bernasib sial hari ini adalah Hayama, sang calon 'survivor' gagal. Izuki terpaksa menarik kerah kaos putih oblong milik Hayama untuk mencapai daratan berdua.
"PUAH!"
"Kau mau menyelamatkanku dan ujung-ujungnya kau yang kuselamatkan?"
"Hehehehe…. Kirain mau bunuh diri beneran."
Maaf ya, skill Izuki yang merupakan perenang sejak kecil membuat instingnya muncul sebagai 'penyelamatan diri' jikalau dia mau nyemplung ke tempat 'berair' seperti saat ini. Kalau mau bunuh diri, Izuki tidak akan pernah memilih untuk nyebur ke sungai.
"Enggak. Cuma meratapi nasib akan sesuatu yang raib."
"Puahahaha! Eagle-san selalu muncul dengan kata yang begituan….."
"Nde?"
"Nani? Oh, aku kangen pengen one on one kaya dulu! Keren!" ucap sang ahli dribble dari Rakuzan itu. Izuki hanya bisa facepalm menghadapi manusia pirang yang sudah berkaca-kaca bling-bling di depannya.
"Terus? "
"eh?"
Dan tanpa disangka-sangka muncullah seorang yang tidak diduga-duga melemparnya sebuah Hp yang ternyata milik Izuki. Poni? Oh, shooting guard si elit biru yang dulu ya?
Nde, kenapa pula nih orang ada disini?
"Boku no ketai….." (2)
"Aa…. Barangmu enggak jadi raib kan?"
"Lalu tujuanmu?"
"Aisatsu." (3)
"Soudesuka?" ucap Izuki dengan muka ragu-ragu. Kenapa pula muncul orang-orang yang tidak diinginkannya? (4)
"Terserah mau bilang apa. Sebenarnya aku hampir bertingkah bak Hayama. Namun ketika kau melemparkan HP-mu kesana dan Hayama yang menerjangmu hingga jatuh ke sungai membuatku ingin menolongmu dan dia," ucap Moriyama sambil menunjuk Hayama yang basah kuyup dengan jempol kanannya.
"Nde?"
"Karena kalian berdua selamat, daripada mubadzir ya kuselamatkan saja Hp-mu. Meskipun aku tidak yakin kalau 100% bisa digunakan dengan optimal."
"Haduh… gara-gara kecemplung sungai jadi basah semua deh…" ucap Hayama sambil mengeluarkan isi kantungnya dengan maksud menjemurnya di tanah berumput yang luas. Sebuah brosur muncul dan menarik perhatian kedua orang di depannya.
"Brosur ini… kau mau ke Kyoto?" ucap Moriyama. Hayama mengangguk. Izuki ikut nimbrung pula.
"Maa…. Lebih dekat aja dari sekolahku dulu. Izuki kira-kira mau kemana nantinya?" ucap Hayama. Moriyama malah sibuk membolak-balikkan brosur basah itu dengan hati-hati.
"Entahlah. Belum ada pilihan. Jurusan saja masih galau."
"Ikut aku yuk! Ke Kyoto University!" ucap Hayama sambil menarik-narik lengan Izuki yang ogah-ogahan.
"Aku juga kuliah di Kyoto kok. Ni lagi pulang kampung karena stress ngurusi tugas akhir semester."
"Wooo…. Kita dapet guide nih! Izuki-san! Ayo kita kesana aja! Eh, disana ada asrama cowoknya kan?"
"Ooooo tentu saja ada…" ucap Moriyama dengan niat promosi sambil membelai (?) poninya.
Dan perbincangan (satu) arah pun berlanjut mengenai Moriyama yang promosi kampus. Dari fasilitas tempat makan yang murah lagi enak, kos-kosan strategis dan apalah itu. Izuki hanya mengiyakan tanpa niat di antara mereka bertiga.
.
.
.
Dan Izuki hanya bisa merutuki dirinya yang sedang melihat papan pengumuman ujian masuk calon mahasiswa baru. Dan disinilah dirinya bersama Hayama yang dulunya begitu berambisi untuk mengalahkannya.
Dan entah kenapa dengan adanya Kotaro ini, dirinya bisa melupakan sejenak mengenai kejadian yang telah terjadi itu. Berusaha untuk melupakan memanglah tidak sulit, namun dirinya juga merasa tidak enak akibat 'meninggalkan' teman-temannya.
Semenjak insiden itu, Kotaro mengajak Izuki untuk booking sebuah apartemen untuk dua orang. Katanya sih selain ingin dekat dengan tempat ujian, dirinya juga ingin minta diajari oleh Izuki. Izuki yang niatnya untuk 'menjauh' pun menyanggupi-nya dengan senyum.
Dan setelah lulus tes, datanglah Moriyama yang promosi asrama cowok. Dan untuk yang keberapa kalinya Izuki hanya mengikuti saja. Aktivitas padat dan tugas kuliah merupakan kunci utama dirinya untuk move on.
Tak ada lagi yang namanya Hyuuga Junpei.
Tidak ada lagi.
Izuki saja merasa mukanya tersayat-sayat jikalau membayangkan bagaimana jika mereka bertemu di suatu saat dan di suatu tempat.
Tidak…
Tidak MUNGKIN!
Tidak bakalan.
"Neee…. Izuki! Lihatin nih! Ada klub basket buat anak Fakultas MIPA lho! Ikutan yuk!" ucap Hayama yang telah menyandang status sebagai mahasiswa S1 program studi kimia murni sambil melambai-lambaikan brosur iklan mengenai klub basket anak Fakultas MIPA. Izuki yang awalnya hanya memandang kontak nama 'Hyuuga' pun melongok ke ranjang bawah yang ditempati partner-nya.
"O-oh.."
"Lho?! Kok Cuma gitu?!"
"Maunya gimana?"
"Bukannya anak matematika sks-nya sedikit?! Kan bisa ikut nih klub! Ayolah Izuki.. ikutan gitu… biar bisa jadi point guard handal lagi.."
"Jadi sekarang aku enggak handal gitu?"
"Ya enggak gitu juga! Aku juga pengen dribble kaya dulu!"
"Itu sih maumu….."
"Yah… izuki…."
Dan tiba-tiba muncullah sang ketua asrama yang membuka pintu tanpa permisi. Hayama hanya ber-oh ria, Izuki kembali fokus pada layar HP-nya.
"Walah! Enggak ada salam gitu?! Dasar kalian ini! Udah bikin ribut di asrama, sekarang enggak ada hormat-hormatnya sama ketua….."
"Teheeee…"
"Woy Hayama, bukankah sekarang jadwal piketmu bersih-bersih bak mandi? Izuki, tugasmu jaga buku tamu tuh!"
"Tadi sudah diambil alih sama Taka. Katanya ortunya mau dateng kesini jadinya dia nunggu di dekat buku tamu sambil menyapa keluarganya," ucap Izuki sambil memasang headset yang disambungkan ke handphone-nya.
Handphone pemberian sang kakak karena yang dulu pernah kecebur ke sungai. Nomornya pun baru dan hanya mahasiswa dan mahasiswi di kelasnya saja yang tahu nomor HP-nya. Hayama pun baru saja mendapatkannya ketika terkunci di luar asrama dulu.
"Waaa…. Enggak adil nih! Izuki-san, temenin!" ucap Hayama dengan nada yang membuat Moriyama selaku ketua asrama menutup telinganya. Dengan sekali gerak, Hayama sudah diseret keluar oleh sang ketua asrama demi tugas piket yang sedang menantinya.
Ketika lagu Avenged sevenfold memenuhi pikirannya, sebuah panggilan pun muncul di layar ponsel-nya. Matanya terbelalak ketika melihat kontak yang terpampang.
Hyuuga Junpei.
Padahal dia tidak pernah mengadakan kontak dengannya semenjak ponsel-nya rusak dulu. Darimana orang ini mendapatkan nomor ini?
Diabaikannya nomor itu.
Hingga tiga kali redial, sosok yang berusaha meneleponnya akhirnya menyerah. Namun kali ini Izuki harus dikagetkan dengan nomor kontak yang menunjukkan nama lain.
Kuroko Tetsuya.
Dengan ragu diangkatnya panggilan itu.
"Moshi-moshi, apakah benar ini nomornya Izuki-senpai?" ucap Kuroko di seberang sana.
"A- aa…. Darimana kamu mendapatkan nomor ini?"
"Dulu waktu aku berniat untuk mengembalikan payung yang telah kupinjam dari Senpai. Lalu kutanyakan nomor ponsel Senpai dari kakak perempuan Senpai," terang Kuroko. Izuki mencoba untuk berbaring di atas ranjang.
Begitu banyak memori berkecamuk di kepalanya.
Pertandingan terakhir,
Malam itu,
Perpustakaan,
Dan juga ciuman itu.
Rasanya Izuki ingin muntah mengingat betapa menjijikkannya dirinya. Ditambah dengan nomor tadi yang berusaha untuk menghubunginya.
"Senpai? Apa Senpai masih disitu?" tanya Kuroko.
"Aa… Cuma masih mengerjakan tugas kuliah saja. Bagaimana kabar klub basket Seirin?"
"Begitulah, Kagami-kun masih berjuang demi lompatan tertingginya yang entah sudah rekor yang keberapa. Dan kemarin ada reuni bareng yang mencakup angkatan pertama klub basket Seirin."
"Souka….. maafkan aku yang tidak bisa mengikuti reuni."
"Senpai-tachi juga bingung mencari Izuki-senpai. Katanya mereka tidak tahu Senpai kuliah dimana."
Izuki bingung.
Apakah harus memberitahukannya?
"Semuanya pada bingung sampai-sampai Hyuuga-senpai meminta nomor ponsel Senpai."
Oh, jadi itu maksudnya….
"Aku kuliah di Kyoto University. Maaf kalau tidak bisa memberi kabar. Niatanku ingin fokus pada ujian masuk dan juga lulus dengan predikat kumlaud."
Dan entah kenapa Izuki berniat untuk menghentikan percakapan ini. Entah sejak kapan dirinya bersikap seegois ini. Namun dirinya sudah tidak bisa mempertahankan sikap tenang untuk Kuroko yang terkenal sangat jeli dalam mengamati seseorang.
"Aa… Warui na Kuroko. Aku bentar lagi ada kerja kelompok buat proyek mahasiswa. Gomen ne," ucap Izuki dengan nada tergesa-gesa. Ditambahkannya pula percakapan ilusi mengenai temannya yang sudah menunggu di depan pintu.
"Hai. Ganbatte ne, Senpai."(5)
"Aa… sampaikan salamku pada anak-anak ya?"
"Akan kuusahakan."
Izuki segera menutup sambungan telepon. Ketika niat berdiri dari ranjang, pintu kamarnya segera dibuka dengan keras dan muncullah sang ketua dengan Hayama dengan fashion berupa kaos yang disingsingkan lengannya dan celana yang dilipat hingga selutut.
"Izuki! Aku ada kabar seru nih! Mau ikutan ke festival?" ucap Moriyama. Hayama pun angguk-angguk setuju sambil menenteng sebuah brosur. Kali ini tulisannya mengenai festival yang bakalan diadakan di jalan utama depan pintu masuk niversitas.
"Kurasa besok aku masih harus presentasi jurnal," ucap Izuki. Dua orang yang berada di dekat pintu pun saling berpandangan lalu sama-sama mengangguk akan rencana yang membuat Izuki berfirasat buruk.
Dan benar saja, Moriyama tiba-tiba mengambil buku lelucon milik Izuki yang tergeletak manis di atas meja belajar. Sambil bolak-balik lembarannya, dia melihat Izuki yang mulai turun dari ranjang atas.
"Walah! Izuki mau kemari! Kotaro! Three point Shoot!" ucap Moriyama bak seorang shooter professional.
"Hup! Dribble lima jari!"
"Buku mana bisa di dribble!"
"Kalau gitu cengkraman lima jari!"
Dan Izuki hanya bisa mengangguk pasrah setelah berjuang menyelamatkan bukunya. Dua orang di depannya tersenyum penuh kemenangan.
'Setidaknya Izuki bisa menyegarkan kepalanya dengan mengikuti festival. Maafkan kami, Izuki. Kami tidak sengaja mendengarkan percakapanmu barusan. Dan nada suaramu menandakan kalau kau punya masalah.'
Setidaknya kata-kata itulah yang terngiang di benak keduanya.
.
.
.
"Uwoohhh! Ayo ikutan ambil ikan mas! Aku mau yang merah, Moriyama-san!"
"Iya! Bentar dulu napa! Nih kertas sobek melulu!"
Izuki hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah polah kedua temannya ini. Padahal mereka sudah mahasiswa namun tingkah mereka telah membuat mereka berdua menjadi tontonan orang lewat. Belum lagi ketika yukata milik Kotaro kecemplung bagian lengannya akibat sibuk menangkap ikan mas.
Izuki menyingsingkan lengan jinbei –nya. Menjilat sedikit ringo ame yang merupakan 'hadiah' dari moriyama setelah Izuki berhasil memenangkan sebuah permainan demi dirinya. Dan sekarang Izuki berusaha kabur dari permintaan aneh bin nyeleneh dari seorang Hayama Kotaro.
Bibir ranumnya mengatup ketika mengunyah ringo ame yang berhasil digigitnya.
Dan siapa sangka hal tersebut membuat seseorang yang mengawasinya sejak tadi menyunggingkan sudut bibir kanannya.
"Tak kusangka akan bertemu dengan point guard Seirin disini," desisnya sambil menjilat bibir bawahnya pada tindakan Izuki yang kembali mengulum potongan ringo ame di belakang Hayama dan Moriyama.
.
.
.
To be continued
.
.
Oke, siapakah dia?
Kasumi minta maaf banget buat chara ini (bungkuk dalam-dalam sampai sujud). Maafkan daku yang membuat dirimu memainkan peran yang tidak diharapkan (-lah?).
Review?
Vocab:
Hisashiburi : Lama tak jumpa. Namun kalau tidak salah tulisannya 'Ohisashiburi'.
Boku no Ketai : Ponselku. Anak cowok biasanya makek boku sama kimi dalam percakapan mereka.
Aisatu : Menyapa (v) ataupun sapaan (n). Aisatsu itu terdiri dari ucapan 'selamat'. Contohnya aja Ohayou (selamat pagi)
Soudesuka? : Beneran? atau 'yang bener?'
Berjuanglah, Senpai
Jinbei itu sejenis dengan yukata tapi enggak ribet seribet Yukata/ kimono. bawahannya makek celana dan enggak makek obi (ikat pinggang pada kimono/yukata).
Ringo ame : permen apel. Apelnya ditusuk (?) makek bambu ataupun stik dan dicelupin ke adonan(?) permen.
