ALWAYS

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Setiap langkah yang diambil oleh wanita itu tidak diperintah oleh otaknya, saat ini yang ada dipikirannya adalah, bagaimana caranya dia harus menghadapi semua ini? Dikhianati oleh kekasihnya bahkan dalam kondisi hamil? Wanita itu hanya bisa berkespresi datar, bahkan dia masih harus berfikir, pantaskan laki-laki itu ditangisi? Kini wanita bernama Sakura itu menyuruh sahabatnya untuk meninggalkannya sendiri, saat ini dia benar-benar ingin sendiri.

Berjalan pelan disisi kota tanpa tujuan dengan wajah yang bisa dibilang datar, perlahan dinaiki wajahnya untuk melihat sudah sejauh mana dia berjalan.

"Ah, ternyata aku sudah cukup jauh berjalan," gumamnya pelan.

Sakura melihat ada bangku taman yang kosong, karena sedikit lelah akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat sebentar disana.

Ditempat lain.

"Kariiin, cepaat lama sekali sih kau!"

"Sebentar Sasuke… aku bingung harus memilih yang mana, aku takut nanti Itachi-san tidak menyukainya," jawab wanita bernama Karin.

Saat ini mereka berada disebuah toko baju bermerk yang terkenal, Sasuke diminta tolong oleh Karin membeli kado ulang tahun untuk Itachi, bukan rahasia umum lagi kalau ternyata manajer mereka ini menyimpan hati pada gitaris satu itu.

"Apapun yang kau kasih nanti, dia pasti menerimanya kok, atau kasih saja dirimu padanya," ucap Sasuke ngasal sambil melihat-lihat sepatu yang ada disana.

BLETAK

"Aww!"

"Sembarangan! Begini-begini aku tahu moral!"

"Aiisshh! Aku pikir kau suka dengan yang seperti itu."

"EH, Sasuke…" panggil Karin dengan tatapannya keluar jendela, "Bukankah itu Cherry-mu?"

"Hah? Mana mungkin, rumahnya itu jauh dari sini," jab Sasuke dengan tidak menoleh.

"Lihat dulu, rambut pinknya itu Sakura banget loh," paksa Karin yang menarik Sasuke.

Saat Sasuke menurut untuk melihat keluar jendela, benar saja, itu adalah Sakura-nya.

"Aku kesana dulu!" gegas Sasuke meninggalkan Karin.

Didalam toko, Karin tersenyum melihat Sasuke yang berlari kearah Sakura.

"Mudah-mudahan mereka bisa bersatu kembali," ucap Karin pelan.

Sasuke berlari sampai akhirnya berdiri dihadapan Sakura.

"Sakura?" panggil Sasuke.

Sakura mendongakan kepalanya, "Ah, Uchiha-San."

Sasuke terdiam, ternyata Sakura masih memanggilanya dengan sebutan 'Uchiha'.

"Sedang apa kamu disini? Dengan siapa?"

"…" Sakura terdiam, sepintas dia memandangi Sasuke dengan tatapan ambigu, antara rindu dan benci.

Rindu, tentu saja… karena dialah cinta pertamanya selama ini.

Benci? Sakura sendiri kurang yakin dia membenci Sasuke atau tidak, yang jelas perasaan kesalnya saat itu belum padam sampai saat ini.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Sasuke lembut yang duduk disamping Sakura.

Sakura hanya bisa menatap Sasuke dengan pandangan datar, tiba-tiba terlintas saat dimana mereka dulu melalui hari demi hari bersama dengan indah, saat pertama kali Sasuke menyatakan cintanya pada Sakura, usaha Sasuke mendapatkan hati Sakura, saat mereka pergi liburan bersama berdua, dan saat melaukan sex pertama kali, Sakura bersumpah bahwa Sasuke adalah laki-laki yang sangat lembut dalam hal sex, dia bukan tipe laki-laki yang mementingkan kepuasannya lebih dahulu. Dan tanpa disadari akhirnya Sakura mengeluarkan air matanya perlahan.

"Sakura? Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" ucap Sasuke yang panic.

Sakura tidak menjawab, kali ini dia tidak bisa menahan emosinya, air mata yang sedari tadi ditahan oleh Sakura, kini tidak mau lagi menurut pada pemilik mata emerald itu. Sasuke bangkit dan merogoh sakunya untuk mencari sapu tangan.

"Ini, pakailah," Sasuke memberikan sapu tangannya kepada Sakura dan sedikit merangkulnya agar tidak ada yang melihat wanita-nya itu menangis.

"Kita pindah tempat yah, mau?" tanya Sasuke dan hanya dibalas anggukan oleh Sakura.

Sekuat-kuatnya seorang wanita, apabila dia sudah menangis apalagi dihadapan oleh orang yang pernah dicintainya, dia pasti akan menunjukkan sisi lemahnya.

Sasuke membawa Sakura ke mobilnya, sebelum itu dia mengirim email pada Karin agar pulang duluan dengan taxi.

Sesampainya didalam mobil, Sasuke memberikan Sakura minuman untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering, karena Sakura sudah sejam dia menangis didalam mobil Sasuke. Sampai Sakura berhenti dan menghela nafas terakhirnya dengan berat dan sesunggukan.

"Jadi… apa yang terjadi?" tanya Sasuke dengan posisi menempelkan wajah dilengannya yang sedang bersender di stirnya.

"…"

"Masih belum mau cerita?"

"…"

"Katakan padaku," ucap Sasuke kini dengan nada dingin, "Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?"

Sakura terdiam, dia lupa… lupa akan satu hal, Uchiha Sasuke… kalau marah bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.

"T-Tidak, a-aku."

"Jangan berbohong padaku," potong Sasuke yang kini menatap Sakura dengan kelembutan.

"…"

"Haaaahhh~ tidak bisakah…" ucap Sasuke mendekati wajah Sakura dan membelai pipinya. "aku dipercaya lagi?"

Sakura merasa hatinya meringis, memang bukan salah Sasuke sepenuhnya mereka tidak bersama lagi sekarang, tapi sangat egois bukan kalau Sakura bilang apa yang sebenarnya terjadi pada Sasuke, apalagi sekarang dia tengah mengandung anak dari Naruto, bagaimana reaksi Sasuke nanti? Sakura bingung harus mengatakan apa pada Sasuke, yang bisa dia lakukan saat ini hanya diam dan memegangi perutnya.

Sasuke yang mehyadari hal itu malah salah tanggap.

"Kamu lapar? Belum makan? Mau makan dulu?" tidak berubah, Sasuke tetap perhatian seperti dulu pada Sakura.

Sakura tersenyum kecil pada Sasuke, mungkin bertanda dia akan mencoba memaafkan Sasuke.


"Loh, Karin? Kok sendiri? Sasuke mana?" tanya Deidara yang sedang bermain dengan salah satu anjing Sasuke.

Dengan senyuman penuh rahasia, Karin melewati Deidara sambil melompat-lompat kecil.

"Menyebalkaan!" gerutu Deidara."Ah, Karin! Tadi Itachi berpesan agar kau menemuinya di café xxx!"

"Oke, aku ambil mobil dulu," sahut Karin dari kejauhan.


Saat ini, Naruto sudah kembali ke apartemennya, dan entah kenapa Hinata mengikuti Naruto sampai sana, saat Naruto membaringkan tubuhnya ditempat tidur, dia menutup kedua matanya memakai lengannya, ekspresi Sakura masih kebayang sampai saat ini diotaknya.

"Naruto-kun, mau minum apa?" tanya Hinata seraya membereskan baju-baju Naruto yang berserakan dilantai, namun Naruto tidak menjawabnya.

"Naruto-kun, atau kamu mau mandi?"

"Hinata pulanglah."

"Tidak mau!"

"Dengar! Apalagi yang kau inginkan? Aku dan Sakura sudah berakhir! Aku bahkan tidak sempat memberikan cincin ini padanya! Dia bahkan tahu tentang hubungan kita sudah sampai sejauh mana! Dan apa yang parah? DIA SEDANG MENGANDUNG ANAKKU!" bentak Naruto yang bangkit dari tidurnya pada Hinata yang sedang berdiri didepan pintu itu.

Sunyi sejenak sejak Naruto mengeluarkan unek-uneknya pada Hinata.

Perlahan terdengar isakkan tangisan dari kedua belah pihak.

Hinata menangis karena merasa bersalah, tapi dia tetap tidak mau menyerah karena dia sangat mencintai Naruto jauh sebelum Sakura datang.

Naruto menangis karena kesal dan menyesal, dia sangat menyayangi Sakura, tapi kini dia kehilangan wanita itu karena akibat yang sangat fatal.


Karin memarkir mobilnya tepat didepan café, dan sesuai dugaan kenapa Itachi meminta sang manajer untuk datang adalah, Itachi itu buta arah dia sering sekali nyasar, Itachi tidak suka membawa mobil dia lebih senang menaiki kendaraan umum karena merasa lebih dekat dengan fans-fansnya, tapi kembali lagi, ujung-ujungnya pasti menyusahkan sang manajer yang selalu menjemputnya akibat nyasar karena terlalu asik berbincang-bincang dengan fans-fansnya. Café yang saat ini Itachi tempati adalah satu-satunya tempat yang dia ingat, karena di café ini dia bertemu dengan Karin saat SMA dan memintanya untuk menjadi manajer bandnya.

Saat Itachi sedang bernostalgia tentang pertemuannya dengan Karin, muncullah wanita yang sedari tadi sedang dia pikirkan itu masuk dari pintu masuk.

"Maaf lama," ucap Karin.

"Hehehee, maaf yah selalu merepotkanmu," kata Itachi sambil menyuguhkan cappuchino yang sengaja dia pesan tadi untuk Karin.

"Tidak apa, sudah biasa kok," ledek Karin mengedipkan sebelah matanya. "Ah, tahu tidak, tadi saat aku belanja bersama Sasuke, aku melihat Cherry."

"Oh ya? Dimana?"

"Dia sedang duduk sendiri ditaman, lalu Sasuke langusng menghampirinya dan menyruhku pulang sendiri, dasar bocah sialan!" sewot Karin, "tapi aku tidak keberatan sih, sepertinya Cherry sedang ada masalah, soalnya aku melihatnya begitu murung."

"Begitu, mudah-mudahan Sasuke bisa menghiburnya, mengingat sebesar apa cinta Sasuke pada Cherry, aku yakin dia pasti khawatir sekali," tebak Itachi.

"Ya, Cherry tidak tahu betapa frustasinya adikmu itu saat terpisah begitu lama dengannya," gumam Karin yang tidak bisa dibilang pelan itu.

Dan sangat kebetulan, café yang ditempati Karin dan Itachi adalah café dimana Ino dan Sai sedang diskusi tentang masalah Sakura, ditambah lagi mereka duduk saling membelakangi, namun Ino tidak sadar apa yang sedang Karin bicarakan, dan kurang ngeh dengan penampilan Itachi yang sedang memakai kacamata hitam.

"Lalu, bagaimna rencanamu tentang Sakura, Ino?" tanya Sai yang nadanya lumayan keras sehingga membuat telinga Itachi terpancing karena mendengar nama Sakura dan Ino.

"Hhhhh, aku tidak tahu, aku tidak mau saja melihat Sakura mengugurkan anaknya untuk yang kedua kalinya, sangat menyakitkan melihat Sakura begitu-"

BRAAAK

"Apa? Ino, apa kau bilang tadi?" Itachi tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menghampiri Ino.

"K-Kak Itachi? Kenapa bisa disini?" tanya Ino heran.

"Sakura… Sakura kenapa!" desak Itachi.

"Kami mohon jelaskan pada kami," pinta Karin yang juga menghampiri Ino.

Ino sangat bingung sekarang, posisinya terdesak, mau tidak mau dia harus mengatakannya pada Itachi, karena bagaimanapun Ino tahum Itachi sudah menganggap Sakura seperti adiknya sendiri.

Akhirnya mereka berempat bergabung di satu meja dan Ino mulai menceritakan secara detail tentang Sakura, dari mengapa Sakura mengakhiri hubungannya dengan Sasuke, bagaimana dia menjalani hubungannya dengan Naruto, sampai tadi Naruto mengkhianatinya dan janin yang ada didalam rahimnya.

"Sakura-chan… hamil?" ucap Karin tidak percaya, "Apa karena itu tadi dia jalan sendirian?"

"Kau bertemu dengannya?" tanya Sai.

"Ya, dan Sasuke langsung menemuinya, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi," jawab Karin.

"Aduh! Jangan sampai Sasuke tahu kalau Sakura tengah mengandung," kata Ino khawatir, "Bisa-bisa jadi perang dunia ke-3!"

"Tapi beda hal kalau Sakura sendiri yang memberi tahunya," ujar Itachi dengan lebih tenang sekarang, "Lalu, dimana orang yang bernama Naruto itu sekarang?"

"Tidak tahu! Aku meninggalkannya setelah menampar wanita murahannya itu!" ketus Ino.

"Begini saja, kita jangan ada yang berucap apa-apa didepan Sakura maupun Sasuke tentang pertemuan ini, nanti malam aku akan menanyakan detailnya pada Sasuke," usul Itachi.

"Oke, ide bagus," setuju Ino.


Disuatu restoran termewah di Konoha, Sasuke memandangi wanita dihadapannya yang sedang makan dengan lahap sambil tersenyum lembut.

"Besok kau pulang kerja jam berapa? Kujemput yah," tawar Sasuke yang secara reflek menghentikan gerakan Sakura.

Oh iya, kerja.

Itu yang Sakura lupakan.

Bagaimana besok dia harus masuk kalau kejadian tadi membuat hubungannya dengan Naruto jadi canggung, tapi kembali lagi, ini Sakura yang kita bicarakan, sikap profesionalnya sangat bagus.

"Aku selesai jam 5, tidak usah, aku pulang sendiri saja," tolak Sakura dengan halus.

"Tidak, aku ingin menjemputmu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujar Sasuke sambil emminum wine nya.

"Oh…" Sakura terdiam, dia ingin sekali mengatakan apa yang terjadi pada Sasuke, namun hatinya belum siap, walaupun Sasuke masih mencintainya, Sakura terlalu takut untuk menjalani suatu hubungan lagi.


Malam harinya setelah Sasue mengantar Sakura pulang ke apartemennya, dengan langkah yang pelan dia berjalan ke kamar Itachi, bermaksud ingin mengagetkannya dan memberi kabar gembira bahwa hubungannya dengan Sakura tidak seburuk pertama kali mereka bertemu kemarin.

Namun saat Sasuke sampai didepan pitnu kamar Itachi, dia terdiam… mendengar percakapan antara Itachi dan Karin.

"Lalu bagaimana? Apa yang harus kita katakan pada Sasuke?" suara Karin yang Sasuke dengar dari luar.

"Aku ingin tahu dulu apa yang dia bicarakan dengan Sakura hari ini, aku tidak mau salah bicara," terdengar Itachi menjawabnya dengan serius.

"Jujur, aku sangat tidak setuju kalau Sakura-chan mengugurukannya lagi, itu tidak baik buat rahim," kalimat Karin yang satu ini membuat Sasuke membatu dan tanpa pikir panjang langsung membuka pintu kamar kakaknya itu.

BRAAK

"Sakura hamil?" tanya Sasuke dengan nada berat.

"S-Sasuke? Kalau masuk ketuk dulu!" tegur Itachi yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Katakan padaku! Apa benar, Sakura… Cherry-ku hamil!" geram Sasuke.

"Tidak Sasuke, kau salah dengar, sebenarnya-"

"Itachi, percuma menyembunyikannya," potong Karin, "Sasuke, dengarkan aku, kini Sakura… Cherry-mu tengah mengandung anak dari kekasihnya… ah atau bisa kubilang mantan kekasihnya."

"Mantan… kekasihnya?" ucap Sasuke bingung.

"Ya, saat dia tengah mengandung… kekasihnya bernama Naruto yang merupakan direktur dari perusahaan melody's magazine… selingkuh dengan sekretarisnya, dan Sakura mengetahui hal itu…." Ucap Karin ragu dan menatap Itachi lalu melanjutkannya lagi, "hari ini, lebih tepatnya siang ini."

"Apa!" seu Sasuke, "Jadi… itu sebabnya dia mennagis seperti itu?"

"munkin, apa saja yang Sakura katakan apdamu hari ini?" tanya Karin.

"Tidak ada, dia hanya menangis selama satu jam lebih dan… makan malam bersamaku, dia tidak memberi tahuku apa-apa…" ucap Sasuke kecewa.

"Mungkin dia tidak mau memberi tahumu, karena dia merasa malu dan tidak mau membuatmu repot, Sakura kan memang seperti itu," jawab Itachi.

"Naruto yah…" geram Sasuke mengepalkan tangannya, "Lihat saja, akan kuhancurkan dia yang telah membuat Cherry mengeluarkan air mata kesedihan itu!"

Sasuke meninggalkan ruangan itu dengan ekspresi yang tidak bisa dicegah oleh Karin maupun kakanya sendiri, mereka hanya bsia bertukar pandang dan berharp Sasuke tidak melakukan hal konyol yang membuat nama bandnya sendiri itu jelek.


Keesokan harinya dipagi hari, Karin yang memulai rutinitas biasanya yaitu mengambil surat kabar diluar menemukan Sasuke yang sudah siap-siap untuk keluar, dia melihat Sasuke mengenakan kaos putih, celana jeans selutut dan jaket hitam serta kacamata hitam yang membuatnya makin keren.

"Sasuke, mau kemana?" tanya Karin.

Sasuke memasuki mobilnya dan menutup pintu lalu membuka jendela, "Memberi pelajaran pada seseorang," ucap Sasuke menyeringai sambil mengeluarkan dikut dijendela mobilnya.

Sasuke pun melaju cepat ketika gerbang mulai dibuka secara otomatis, dan Karin hanya bisa diam ditempat memandangi mobil laki-laki yang sudah dianggap adik olehnya itu.

"Tuhan, semoga mereka baik-baik saja," gumam Karin.


A/N : hehehee, maaf yah sekian lama saya pergi dan tidak meninggalkan pesan #bungkuk

apa di chapter ini ada yang tidak dimengerti? saya bisa menjawabnya nanti di chpater depan, saya sangat usahakan chapter depan akan cepat update

sekedar informasi saja, maaf banget saya menghilang dan ngga update, saya itu sedang menjenguk ayah saya di afrika selatan, dia sedang sakit terkena serangan jantung, tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok, minta doanya yah teman-teman #bungkuk sebungkuk bungkuknya bungkuk

dan lagi koneksi internet disini kurang bagus, jadi saya malas menggunakan fasilitas internet disini, jadi mungkin minggu depan saya sudah kembali ke indonesia.

terima kasih :)