Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : AU, OOC (maybe), Typo(S), Alur kecepetan, mulai minim deskripsi, EYD masih rada berantakan.
A/N : okelah aqu berusaha untuk melanjutkan dan menamatkan fic ini. Jadi aqu akan kembali mengupdate sesuai jadwal yang sudah aqu atur.. aqu harap yuminozomi nyengir pas baca note's ini. Sebagai tanda maafku atas keterlambatan updateku kemarin, kali ini aku update sedikit cepat.
Sedikit curcol.. akhirnya ulanganku besok berakhir Yey ! hohoho.
Yups, selamat membaca ya ^^
Don't like don't read.
Enjoy.
A Star and A Bee
Chapter 4.
Where is he?
Ggio dengan cepat berjalan kembali memasuki bangunan sekolahnya. Dia tak henti-hentinya mengumpat tentang apa yang baru saja dia dengar dan tentang permepuan yang memberikan informasi padanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat menatap kerumunan didepan mading sekolah.
Dengan cepat dia berlari dan menerobos kerumunan orang-orang itu. Firasat buruk langsung mendekatinya. Bukan gosip yang dia takutkan tapi keberadaan Soifonlah yang membuatnya harus melakukan semua ini.
Tunggu dulu, sejak kapan dia harus melindungi dan mengkhawatirkan perempuan itu? Ah! Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu sekarang. tiba-tiba rahangnya menegang.
Brak.
Sebuah pukulan mendarat telak ke benda yang tak hidup itu. "Sial," kerumunan orang itu menatap Ggio aneh. Tentu saja dia marah sekarang, tidak ada apa-apa di mading itu, hanya informasi tidak penting seperti biasa. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Saat melihat nomor di LCD ponselnya, dia langsung mengangkatnya dengan cepat "Halo!" bentaknya. Sunsun langsung terkikik.
"Panik sekali, Ggio. Seperti bukan dirimu saja," Ggio langsung berjalan keluar dari kerumunan itu dan menuju jendela kaca dihadapannya. Bola matanya bergerak dengan aktif mencari sosok perempuan berambut hijau itu.
'Dia pasti berada disekitar sini, dia tahu aku datang,' suara cekikikan kembali terdengar.
"Hum, kalau kau begitu panik bagaimana perempuan itu?" Ggio memutar tubuhnya dan mulai berjalan.
"Kau dimana?" desisnya. Dia tertawa, perempuan itu tertawa. Membuat Ggio semakin geram mendengarnya.
"Tenang dulu. Aku dengar dia akan bertanding? Aku semakin ingin melihat ekspresinya," suara langkah kaki terdengar dari ponsel itu, "Biar aku tebak, dia pasti akan malu. Kau tahu Ggio seluruh sekolah masih mengira kita berpacaran," langkah Ggio semakin cepat. Dia berhenti ditengah-tengah anak tangga.
"Kau dimana?" dia kembali terkikik, dan suara langkah kaki itu terhenti. Ggio menurunkan ponselnya.
"Ah, kau terlalu berlebihan Ggio," Sunsun tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Ggio hanya menatapnya penuh kebencian.
"Apa maumu?" Sunsun memelintir rambut panjangnya dan menatap Ggio sinis.
"1 minggu, hanya 1 minggu," Sunsun mengangkat jari telunjuknya. Ggio terdiam melihatnya.
"Apa?" tanya Soifon bingung. Beberapa dari tatapan itu ada yang menatapnya tajam. Tiba-tiba Hitsugaya berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Selamat ya, Shihoin," Soifon bingung menatap uluran tangan itu, lalu dia mengangkat kepalanya dan menatap Byakuya. Laki-laki bermabut panjang itu hanya mengangguk. Tak butuh waktu lama bagi Soifon untuk mengerti maksudnya. Ingin rasanya dia meloncat kegirangan sekarang. tapi didepan orang sebanyak ini. Tidak mungkin!
Lalu dia menyambut uluran tangan Hitsugaya, "Terima kasih," dan setelah itu Orihime langsung menghampirinya dan memberikan selamat. Dan langsung disusul dengan suara gemuruh dari para siswa yang ada disana dan menyenbutkan nama Soifon.
Ggio langsung memutar kepalanya saat mendengar suara itu dan menatap kaca besar dibelakangnya. Dia tersenyum mendengarnya, karena dia mengerti maksud dari gemuruh itu. Sunsun menggerakkan tangannya dan mengambil beberapa lembar foto disakunya.
"Atau mungkin kau tidak peduli akan foto ini?" Ggio kembali memutar kepalanya dan menatap Sunsun kembali. Dia tidak bisa terbelalak melihat foto itu dan dia juga tak ingin melakukannya. Diapun hanya tersenyum miris melihatnya. Foto-foto itu tepat diambil saat dia baru saja memayungi Soifon, menyanggah tubuh Soifon yang hampir jatuh, dan menggenggam tangannya menariknya memasuki gedung sekolah.
"Tidak, tidak," Sunsun menggoyangkan jari telunjuknya, "Bukan kau yang aku takutkan, tapi 'dia'," Sunsun menurunkan jari telunjuknya dan melangkahkan kakinya menaiki satu anak tangga, sehingga jarak mereka semakin dekat.
"Kau tahu, kenapa perempuan-perempuan itu tak berani menyentuhku? Karena yang bersamamu adalah aku, Sunsun. Dan mereka tidak akan berani menyentuhku," dengan sekejap Sunsun mengubah ekspresi wajahnya menjadi ekspresi gadis yang polos, "Menurutmu, apa yang akan mereka lakukan jika melihat foto ini?" Sunsun langsung berseringai. Seringai yang menyeramkan bagaikan ular yang siap memakan mangsanya.
Ggio kembali menatap jendela dibelakangnya, dan pandangannya berubah, "1 minggu, dan serahkan foto itu," Sunsun tersenyum dan dia langsung menyimpan kembali foto itu.
"1 minggu tanpa 'dia'," Sunsun memutar badannya dan mulai melangkahkan kakinya. Tidak, kalimat yang terakhir bukan suatu kalimat yang membutuhkan jawaban ya atau tidak. Tapi sebuah kalimat yang harus dilakukan.
Ggio langsung terduduk, membuat sinar matahari yang mulai terbenam langsung menerobos masuk. Tangannya bergerak dan dia langsung mengacak rambutnya, "Gomenne, Soifon," Dia menarik nafas sejenak dan langsung berdiri. Sebelum dia pergi dia menatap kaca besar itu sekali lagi, dan menatap wajah Soifon yang terlihat... senang.
Setelah itu dia langsung berjalan turun dan menjemput Lilynette.
"Kau lama sekali!" omelnya. Sesuai perkiraannya perempuan itu pasti akan memarahinya. Ggio hanya menatapnya tajam sebagai balasannya
"Kau mau ikut, tidak?" Ggio membalas dengan membentak Lilynette.
"Kau yang minta loh," Lilynette tertawa dan dia langsung duduk di belakang Ggio, dan memegang erat baju pemuda itu.
"Ya, teruslah bermimpi seperti itu," Ggio mulai menyalakan motornya. Lilynette mengangkat tangannya.
Buagh.
"Sakit!" erangnya sambil memegang kepala yang baru saja terkena pukulan Lilynette. Lilynette hanya tersenyum senang melihatnya. Siapa suruh pemuda itu macam-macam dengannya.
"Nah, ayo jalan Ggio-niisan," Ggio menolehkan kepalanya menatap Lilynette. Sebuah seringaian menghiasi wajah pemuda itu. Lilynette terkejut, dan belum sempat dia menebak apa yang akan Ggio lakukan. Pemuda itu langsung menggas motornya dengan kencang hingga membuat Lilynette hampir jatuh.
Ggio hanya tertawa sewaktu mendengar Lilynette sibuk mengumpat sepanjang perjalanan. Perkataan yang selalu dia ucapkan adalah.
"Bagaimaa jika aku jatuh?" Ggio kembali tertawa. Dia dapat merasakan jantung perempuan itu berdegup kencang. Sedikit membuat dia merasa bersalah saat mendengar suara jantung itu. Tapi setimpal dengan setiap pukulan yang selalu dihujamkan perempuan itu.
"Tapi, kau tidak jatuh, kan?" Ggio menjawabnya dengan menahan tawa. Lilynette langsung berdecak dan kembali mengumpat. Sebagai bentuk ekspresi dari ketakutan yang sempat menyapanya beberapa menit barusan.
"Kau baik-baik saja, Hitsugaya-kun?" tanya Hinamori saat menemukan Hitsugaya sedang duduk diruang klub sambil menundukkan wajahnya. Hinamori melihat botol kosong digenggaman tangannya, dan air yang menetes dari rambut Hitsugaya. Hitsugaya hanya diam. Hinamori pun berjalan dan mengambilkan handuk untuknya.
Hitsugaya mengangkat kepalanya saat merasakan tangan Hinamori mengelus rambutnya yang telah ditutupi oleh handuk yang juga baru dia berikan. "Apa yang kau lakukan?" Hinamori terkejut, lalu dia melepaskan tangannya.
"Maaf," Hinamori langsung mundur kebelakang dan membereskan barangnya, bersiap untuk pulang. Hitsugaya hanya menatap gerak-gerik perempuan itu. "Aku duluan," saat berjalan melewati Hitsugaya, Hitsugaya langsung menahan tangannya. Hinamori memutar kepalanya.
"Tidak apa, temani aku sebentar," Hinamori hanya mengangguk dan duduk dihadapan Hitsugaya, mengamati pemuda itu mengeringkan rambutnya. "Shihoin dapat berlari seperti itu karena Ggio, kan?" Hinamori mengigit bibir bawahnya dia tidak menyangka topik ini yang dipilih oleh Hitsugaya.
"Hmmm, ya sepertinya begitu," Hinamori memutar kepalanya. Dibalik handuk putih itu dia dapat melihat senyum miris dari Hitsugaya. Suasana menjadi sepi dan dingin setelah ucapan singkat itu.
"Sudah sampai," Ggio mengerem dengan mendadak dan sukses membuat Lilynette menabrak tubuh pemuda itu dengan kasar.
Buagh. Sekali lagi pukulan mendarat dikepalanya. Dengan segera Ggio memegangi kepalanya, dan tangan yang satunya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lilynette pun langsung turun dari motor itu.
"Lily," langkah Lilynette terhenti saat mendengar nada suara itu. Suara Ggio begitu terdengar lemah. Dia memutar badannya perlahan dan menatapnya yang sedang mengetikkan sesuatu diponselnya. "Besok, hingga minggu depan mintalah Stark untuk mengantar dan menjemputmu," ucapnya tanpa membalikkan atau memutar kepalanya.
Mata Lilynette terbelalak, "Apa maksudmu?" tanyanya lirih. Ggio menggerakkan bola matanya menatap gadis bermata pink itu. Seperti biasa Ggio berseringai untuk menyembunyikannya. Dia menggerakkan tangannya dan menepuk kepala Lilynette.
"Bodoh, setelah itu aku yang akan kembali mengantarmu," Ggio sedikit mengacak rambut pendek itu, dan setelahnya dia langsung menarik tangannya kembali. Dia mulai menyalakan motornya dan memutarnya. Sebelum berangkat Ggio menatap Lilynette sejenak. "Bye, Lily," mata Lilynette kembali terbelalak dan setelah itu Ggio segera melesat menjauh dari rumah itu.
"Ggio," ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Ggio terus memacu motornya dengan cepat, saat didepannya ada tikungan dia tidak menurunkan kecepatannya malah semakin bertambah. Dan saat dia meningkung terdengar bunyi decitan. Dan setelah itu langsung disusul dengan dentuman. Ggio langsung terjatuh dari motornya dengan luka–luka ditubuhnya serta matanya yang terpejam.
Sunsun duduk di taman rumahnya seperti biasa sambil menikmati kopi kesukaannya dan menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia melihat nama yang tertera di LCD ponselnya, dia tersenyum.
"Halo," suaranya terdengar sangat lembut sekarang. Tanpa dia tahu kabar apa yang akan dibawa oleh sang penelpon.
"Sunsun," panggilnya. Sunsun hanya memainkan rambutnya menunggu kalimat berikutnya, "Ggio, kecelakaan," gerakan tangannya terhenti dan matanya melebar. Giginya langsung bergemertak. "Sunsun?" panggilnya.
"Ma-maaf, Halibel-senpai aku ingin menenangkan diri dulu," suaranya seolah bergetar padahal tangannya terkepal dengan sangat erat.
"Baiklah," dan setelah jawaban itu terdengar Sunsun langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja. Ekspresi kemarahan sangat terpancar dimatanya.
"Sial!" umpatnya, karena dia tahu dengan pasti kenapa Ggio bisa kecelakaan.
Suara langkah kaki terdengar disusul dengan bunyi roda yang bergesekan dengan lantai. Ggio yang terbaring diatas kasur itu menatap Grimmjow yang ada disampingnya dengan sebelah mata yang terbuka. "Kau... datang," dia berusaha untuk menyunggingkan sebuah senyum.
Grimmjow hanya menatap Ggio dengan panik, rahangnya menegang dengan jelas, "Bodoh!" Ggio ingin sekali tertawa untuk membalas umpatan itu. Tapi, untuk membuka kedua mata saja sulit.
"Terima... kasih," dan setelah itu Grimmjow dan Nel berhenti didepan sebuah pintu dimana Ggio dibawa masuk. Nel langsung duduk dikursi dekatnya. Dia menundukkan kepalanya dan menggenggam tangannya, matanya terpejam erat. Sedangkan Grimmjow hanya mondar-mandir menunggu informasi dari dokter di dalam.
"Bodoh! Bodoh!" umpatnya lagi. Hal ini membuat Grimmjow mengingat saat dia menerima pesan dari Ggio.
Saat itu dia sedang mengisi perutnya bersama Nel disebuah restaurant. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar dengan buru-buru dia mebacanya.
Jemput aku ditikungan dekat rumahku, sekalian urus motorku,
Grimmjow menghentikan kegiatan menguyahnya dan langsung menelan makanannya. Diapun langsung berdiri membuat Nel mengangkat kepalanya. "Ada apa?" Grimmjow langsung mengambil kunci mobil dan melemparkan ponselnya ke arah Nel.
Dengan gampang ponsel itu langsung ditangkap oleh Nel. "Kita harus cepat," Nel langsung menegak minumannya dan mengambil tasnya. Mereka berdua langsung masuk ke mobil dengan terburu-buru.
"Hubungi Kenpachi, suru anak buahnya ke alamat Ggio," tangan Nel bergetar saat ingin memencet nomor Kenpachi, "Setelah itu hubungi ambulans," dengan cepat Grimmjow langsung melajukan mobilnya ketempat kejadian.
"Ggio!" Nel langsung memekik saat melihat Ggio terkapar dengan luka-luka ditubuhnya akibat menabrak pembatas yang ada ditikungan itu.
Keesokkan harinya.
Soifon mulai melancarkan pola makannya yang sangat sedikit. Dia tidak ingin berat badan mengganggunya dalam berlomba nanti. Oleh karena itu, seperti hari kemarin dia tetap tinggal didalam kelas.
Dia mengingat akan kejadian kemarin, membuatnya tersenyum sendiri. Dia menggerakkan kepalanya, berharap menemukan sosok Ggio disana. Tapi, tidak dia tidak melihat Ggio berjalan bersama gerombolan perempuan itu. Koridor itu tampak sepi.
'Kemana dia?' Batinnya. Detik berikutnya Soifon langsung menggelengkan kepalanya.
'Kenapa aku harus memikirkannya?' Soifon memutar kepalanya kembali dan mulai bertopang dagu sambil mengamati langit yang tampak berawan. Tiba-tiba sebuah bunyi kembali membuat dia mengangkat kepalanya.
Dia melihat Orihime dan Ulquiorra sedang berbicara didepan pintu. Pembicaraan itu terlihat rahasia, sehingga mereka berdua hanya berbisik-bisik. Mau tak mau itu membangkitkan rasa ingin tahu Soifon dan mulai mengamati mereka berdua.
"Apa!" pekik Orihime, dan tangan Ulquiorra langsung bergerak untuk menutup mulut Orihime. Orihime menganggukkan kepalanya tanda maaf.
"Ssst, kecilkan suaramu," Orihime mengangguk lagi, "Ingat jangan beritahu 'dia'," Orihime kembali mengangguk dan setelah itu Ulquiorra melepaskan tangannya. Orihime langsung bernafas lega karena dia bisa kembali menghirup oksigen.
"Baiklah, sampai jumpa," Orihime tersenyum dan melambaikan tangannya. Lalu dia segera berjalan memasuki ruang kelas dan menarik kursinya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Orihime langsung memutar kepalanya menatap Soifon, ekspresinya langsung berubah.
"Bu-bukan apa-apa kok, ehe-ehehe," Orihime tertawa canggung, hal itu semakin membuat Soifon curiga, lalu dia kembali mengalihkan pandangannya. Orihime langsung mengelus dadanya, merasa selamat.
"Lalu, apa kau melihat Ggio?" Orihime kembali terperajat, dia tidak mnyangka Soifon akan menanyakan pemuda itu. Orihime pun hanya menggeleng cepat dan langsung duduk dikursinya membuka buku pelajaran berikutnya. Soifon hanya mendengus dan kembali bertopang dagu.
Di rumah sakit.
Grimmjow baru saja memasuki ruangan tempat Ggio dirawat setelah mengurusi administrasi. "Bangun, jangan jadi pemalas begitu!" bentak Grimmjow. Ggio langsung membuka sebelah matanya.
Grimmjow langsung menghempaskan tubuhnya di sofa terdekat. "Haaah, percuma kemarin aku buru-buru membawamu kemari," Ggio nyengir mendengarnya, dan dia memanggil Nel meminta minum.
Nel pun segera bangkit dan membawakan minum, "Tapi, Ggio kau bisa benar-benar mati, jika kami terlambat," suara Nel terdengar khawatir.
Ggio menegak minuman ditangannya, dan menatap Grimmjow, "Aku tau kalian pasti datang. Aku baik-baik saja sekarang," ujarnya enteng, Nel hanya menggelengkan kepalanya.
Tok tok.
Grimmjow langsung menoleh dan melihat Sunsun berdiri didepan pintu. Diapun langsung menatap Ggio dan menganguk. "Masuk saja," Sunsun masuk kedalam ruangan itu. Dengan dramatis dia berlari kesamping tempat tidur Ggio.
"Ggio!" bisiknya lirih. Ggio hanya diam, dan memejamkan matanya berpura-pura tak sadarkan diri. Lalu, Sunsun mengangkat kepalanya dan menatap Grimmjow dan Nel. "Aku rasa adegan seperti itu tidak diperlukan disini," Sunsun menghapus air mata yang dia persiapkan dari rumah.
"Apa maksudmu?" tanya Nel menatap tajam Sunsun, Sunsun langsung menoleh. Kedua perempuan berambut hijau itu saling bertatapan. Sunsun hanya tersenyum sinis.
"Ah! Neliel, sudah lama tak bertemu," Sunsun berjalan mendekati Nel. "Kenapa aku bisa lupa akan kehadiran kalian," Sunsun duduk dihadapan Nel dan Grimmjow.
"Kami masih seniormu," jawab Grimmjow tajam. Sunsun mengamati Ggio dari tempatnya. Lalu dia tersenyum sinis.
"Baiklah, kenapa dia bisa terbaring disana? Remnya korslet?" Sunsun menutup mulutnya sambil tertawa, "Kita sama-sama tahu, bagaimana kemampuan mengendara Ggio," Sunsun mengibaskan rambutnya ke belakang, dan mulai memainkannya.
Grimmjow dan Nel hanya terdiam, dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang sudah jelas tujuannya. Sunsun mengeluarkan ponselnya, dan setelah itu dia tersenyum.
"Baiklah, aku rasa aku tidak memiliki urusan disini," Sunsun berdiri dan mengamati Ggio sekali lagi, tapi pemuda itu tetap tidak bergeming. "Sampai bertemu dihari minggu, Ggio," Sunsun mulai melangkahkan kakinya. Tapi, tangannya langsung ditahan oleh Grimmjow.
"Apa?" tanyanya. Grimmjow melepaskan tangan Sunsun dan menatapnya tajam.
"Semoga harimu menyenangkan, Sunsun," Grimmjow berseringai. Sunsun mendengus dan kembali berjalan. Saat diambang pintu dia tersenyum licik.
"Terima kasih, Grimmjow-senpai," ucapnya sambil menekan kata-kata 'senpai'.
"Ggio, dia tahu," Nel langsung bersuara, dan Ggio langsung membuka matanya menatap pintu yang baru saja tertutup.
"Iya, aku rasa dia tidak bodoh," Grimmjow kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Tapi, aku yakin dia pasti sangat amat kesal sekarang," mereka bertiga saling pandang dan akhirnya mereka tertawa sambil membayangkan wajah Sunsun dikepala mereka.
Dan saat mereka sedang tertawa pintu kembali terbuka dengan kasar. "Ggio!" Lilynette langsung berlari dan memeluk tubuh Ggio. Mereka semua langsung terdiam. Sementara Nel langsung menyambut Orihime dan Ulquiorra yang juga datang bersama Lilynette.
"Awww, sakit," erang Ggio, dan Lilynette langsung melepaskan pelukannya. Dia menundukkan kepalanya. Rasanya ingin sekali dia menangis sekarang. Tapi, Ggio pasti akan menertawakannya.
"Bodoh," suaranya mulai bergetar. Tangan Ggio bergerak dan menggenggam tangan gadis mungil itu. Seulas senyum yang sangat menenangkan terukir diwajahnya.
"Aku baik-baik saja," ucapnya pelan. Dan seketika Ggio merasakan telapak tangannya basah. Tetes-tetes air mata ahirnya jatuh dari kedua bola mata pink Lilynette.
"Tadi kami melihat Sunsun," Ggio langsung menatap Ulquiorra dihadapannya yang sedang berbicara dengan Nel dan Grimmjow.
"Iya, dia baru saja berkunjung," jawab Nel lembut sambil memberikan minum kepada Orihime dan Ulquiorra.
"Apakah dia berkata sesuatu? Ancaman?" Grimmjow hanya tertawa dan berseringai.
"Hee, segala perlakuannya adalah ancaman. Tanpa berkatapun sejujurnya dia telah mengeluarkan teror," Ulquiorra mendesah, dan Orihime menatap kedua laki-laki itu secara bergantian.
Lalu, pandangannya kini menatap Ggio, "Kenapa kau harus melakukannya, Ggio?" Ggio menatap Orihime dan memutar bola matanya.
"Lalu, kau menyuruhku 1 minggu bersamanya? Lebih baik aku disini," Ggio menatap Lilynette yang sepertinya sudah baik-baik saja, "Lalu, apakah kalian menyebarkan beritaku?" Ulquiorra berdiri dan menarik kursi didekat kasur Ggio.
"Kami tidak mendengar seorang pun berbicara tentangmu," Nel langsung tertawa dan dia menatap Grimmjow.
"Tentu saja Grimmjow mengancam mereka," Orihime juga turut berjalan dan mendekati Ggio.
"Soifon mencarimu," Ggio hanya tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya. "Tidak apakah, tidak memberitahunya?" Ggio menggeleng dan menatap Orihime.
"Iya, tidak apa." Ggio kembali menatap jendela besar di sebelahnya. Dia memandang matahari yang mulai terbenam dan dia tersenyum lembut. 'Iya, setidaknya aku tidak ingin dia melihatku berkeliaran bersama Sunsun,' batinnya.
1 hari sebelum lomba.
Soifon mulai merasa aneh akan Ggio. Kenapa tidak ada satu informasi pun yang diterimanya tentang Ggio. Padahal pemuda itu tidak masuk beberapa hari. Seluruh sekolah seolah diam, bahkan penggemar-penggemarnya pun bungkam mengaku tidak tahu.
Soifon berjalan dikoridor menuju ruang kelas Ggio, mencari satu-satunya harapannya. Dan saat dia berhenti seseorang dihadapannya menatapnya malas. "Kau lagi," Tesla Lindocroz adalah orang yang dicari Soifon. Yang menurutnya dialah teman terdekat Ggio. Pemuda berambut dirty blonde itu langsung berjalan menghindari Soifon.
Dengan cepat Soifon memutar tubuhnya dan mengejar Tesla. "Kau pasti tau dimana dia, kan?" Tesla menatap Soifon dari sudut matanya.
"Kau punya urusan apa mencarinya? Dia memiliki janji denganmu?" Soifon tampak berpikir sejenak sambil berjalan. Well, tidak ada urusan apa-apa antara dia dan Ggio. Dia hanya mencari ya, hanya ingin mencarinya. Lagipula pitanya masih ditawan oleh pemuda itu.
Dan saat dia kembali fokus Tesla sudah menghilang dari hadapannya. "Hey!" Soifon langsung berlari menerobos kerumunan berusaha mengejar Tesla. Tiba-tiba laki-laki itu berbelok dan Soifon langsung berbelok ke koridor di sebelahnya sebagai jalan pintas. Dengan cepat dia berlari dan keluar dikoridor yang satu lagi.
Sesuai dugaanya Tesla berdiri disitu sambil melihat kearah kirinya mengamati kerumunan, lebih tepatnya menunggu Soifon lewat. Tanpa dia sadari perempuan berkepang itu sudah berdiri dibelakangnya.
"Hei!" panggilnya sambil menepuk bahunya. Tesla langsung terlonjak kaget, hingga membuat pemuda itu terjatuh. "Maaf," Tesla hanya tersenyum dan memejamkan matanya sejenak.
"Baiklah, aku jujur padamu aku memang tidak tahu dimana Ggio. Tapi aku yakin Lilynette tahu dimana dia," Soifon ikut duduk dihadapan Tesla, dan menatapnya bingung.
'Lilynette? Gadis junior itukah?' Pikirnya. "Dia ada dikelas 3-A digedung sebelah, tanya saja dan mereka akan langsung membawamu kepadanya," Tesla segera bangkit dan menepuk-nepuk bajunya, berusaha menghilangkan debu yang menempel.
Dan Soifon pun ikut berdiri, setelah itu Tesla langsung melangkah pergi, tapi sbelum dia benar-benar menghilang dia menatap Soifon lagi, "Ehm, aku beritahu Lilynette tidak terlalu ramah, semoga beruntung," Tesla tersenyum dan dia segera berlalu. Soifon pun berbalik dan bersiap menuju gedung SMP, tapi saat dia berbelok. Hitsugaya memanggilnya.
"Shihoin," panggilnya dari jendela kelasnya. Soifon berhenti dan menatap Hitsugaya, "Besok lombanya?" Soifon berjalan mendekati Hitsugaya.
"Iya," Hitsugaya melihat perubahan pada air muka Soifon saat membicarakan tentang lomba. Soifon tampak tegang mendengarnya.
"Tenanglah kau pasti bisa," Soifon menatap lurus-lurus pemuda itu. Kemarin juga dia berusaha memberi semangat padanya. Tapi, kenapa Soifon tidak berterima kasih pada kebaikannya? Soifon menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali menatap Hitsugaya.
"Terima kasih, Hitsugaya," Hitsugaya hanya mengangguk dan Soifon langsung berlari. Hitsugaya menatap punggung yang mulai menjauh itu.
"Huh, dia mencari Ggio," ya, dia tahu, dia mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan antara Soifon dan Tesla. Hitsugaya pun langsung membuang wajahnya. Diapun kembali duduk dikursinya, tanpa dia sadari seseorang permepuan bermata violet menatapnya dengan tatapan sedih.
Akhirnya, Soifon tiba digedung junior, beberapa siswa disana menatapnya bingung dan mungkin bertanya-tanya kenapa senior bisa masuk kemari. "Mencari siapa?" seorang siswi berambut pirang dan dikuncir langsung menghampirinya. Ekspresinya sangatlah tidak ramah, hal ini juga membuat Soifon menatapnya tajam.
"Lilynette," dia mengangguk, dan mendangakkan kepalanya lagi.
"Ikut aku," Soifon hanya mendengus, dia tidak sopan sekali, padahal dia masih junior. Sesekali dia mendengar perempuan itu membentak beberapa siswa yang sedang menjahili siswi disana. Soifon hanya diam mengikutinya.
Lalu, mereka tiba diruangan yang sudah sepi, tinggal seorang permepuan berambut hijau muda dan bermata pink yang sedang membereskan barang-barangnya.
"Lilynette, dia mencarimu," perempuan itu menunjuk Soifon di belakangnya. Lilynette langsung mengangkat kepalanya dan menatap Soifon.
Lalu dia menatap perempuan itu, "Iya, terima kasih Hiyori," Hiyori hanya mengangguk dan kembali berjalan. Hening. Tidak ada yang membuka suara. Hingga Lilynette mulai menenteng tasnya dan berjalan mendekati Soifon.
Dihadapan Soifon dia mendangakkan kepalanya, "Siapa kau? Ada perlu apa denganku?" Soifon menatapnya tajam, tidakkah mereka diajarkan sopan santun pada senior? Dalam hati Soifon ingin sekali membalas ucapannya.
"Dimana Ggio?" Lilynette menatap Soifon, terlihat sekali bahwa dia tidak suka dengan pertanyaan itu. Lilynette menurunkan tas yang dari tadi ditenteng di bahunya.
"Ada urusan apa kau dengannya?" Soifon tidak mundur sedikitpun, dia hanya menatap perempuan itu tajam. Dia sama sekali tidak ingin kalah dengan junior.
"Aku rasa itu bukan urusanmu," jawabnya dingin. Kilat kemarahan terpancar dimata pinknya. Dia menggenggam tali tasnya dengan erat dan meletakkannya kembali di bahunya. Dia menarik nafas sejenak dan menatap Soifon dengan sinis.
Lilynette menelengkan kepalanya dan dia berseringai, "Hee, kau tidak tau dimana dia?" Lilynette berjalan, dan saat tubuh mereka sejajar dia berhenti, "Berarti kau tidak penting baginya," Lilynette menatap remeh Soifon, dan setelah itu dia langsung pergi.
"Hey!" bentak Soifon, tapi Lilynette sudah tidak ada dibelakangnya. Soifon pun langsung melangkahkan kakinya sambil tak hentinya mengomel tentang Ggio.
"Bodoh sekali aku ingin mencarinya," hingga dia diperhatikan oleh para murid junior disekitarnya, "Dan dia apa maksudnya? Seenaknya berkata seperti itu," Soifon kembali memikirkan kata-kata Lilynette, "Sombong sekali dia," dan setelah perjalan panjang beserta omelannya, akhirnya dia tiba diluar lingkungan sekolah.
Dia berjalan dan bersiap untuk menyebrang menuju rumahnya, saat dia menunggu lampu pejalan kaki menyala dia menatap seseorang diseberangnya. Rambut hijau gelapnya melambai, dan bola mata lavendernya menatap lurus iris abu milik Soifon.
Perempuan itu seolah sedang memanggil Soifon mendekat, seolah ular yang sedang memberikan hipnotis pada mangsanya agar terkena jebakannya. Dan begitulah saat lampu pejalan kaki menyala Soifon berjalan menghampiri Sunsun.
Kini kedua perempuan itu berhadapan, saling menatap. Sunsun tersenyum ramah pada Soifon dan mengulurkan tangannya, "Soifon, benar?"
To Be Continued.
Give Thx :
To NaMIKAze Nara : eheheheh, yups yups.. kekuatan cinta *apa coba* ahaha, yups.. entah kenapa aqu juga merasa sepi.. mungkin karena lagi pada ulangan jadinya gitu deh.. saya sendiri juga lagi ulangan hanya nekat ajah ini publish publish ehehehe. Yaks makasih atas reviewnya yah ^^
A/N : anyway, tentang pemilihan yang masuk lomba itu, aku tentukan berdasarkan kecepatan shunpo.. di soul society shunpo paling cepet itu Yoruichi, Byakuya, dan Soifon. So, i'm so sory ^^, sementara di Espada, sonido Ulquiorra termasuk yang tercepat.
So, segini lah episode kali ini. Dimohon saran dan kritiknya ^^
Review plis ^^ makasih bagi yang menyempatkan diri untuk membaca, dan thx juga bagi yang bersedia untuk mereview
