A/N: Minna-chan~ Aku kembaliii~ XDD Maaf ya kalau chapter kemarin kurang memuaskan, habis waktu nya sempit sekali sih. Yosh, semoga kalian suka chapter kali ini~ HAPPY READING MINNA!

Disclaimer: Inazuma Eleven : Level-5

Warning: Kufufu~ *tersenyum mesum*

Lemon Collection

Di sebuah Rumah Kecil yang terletak jauh di dalam hutan Gunung Fuji, tampaklah seorang remaja laki-laki berwajah 'cantik' yang tengah tak sadarkan diri di atas sebuah futon.

Keadaan remaja laki-laki itu tampak sangat menyedihkan. Tubuh langsingnya yang dalam keadaan tak tertutupi sehelai kain pun di penuhi oleh luka memar, dari bibirnya terdapat cairan saliva yang bercampur dengan darah, matanya bengkak karena air matanya yang mengalir deras, dan terdapat luka di 'organ intim'nya.

Remaja Laki-Laki itu adalah Gazel, kapten dari Team Diamond Dust yang merupakan salah satu dari 3 Tim terkuat di Aliea Gakuen.

Apakah yang terjadi pada Gazel? Untuk mencari tahu hal itu, silahkan anda membaca flashback berikut ini…

FLASHBACK…

"Hentikan! Jangan Mendekat! Jangan Mendekat!" teriak Gazel sambil berusaha menjauhkan Burn yang tengah berusaha untuk menciumnya lagi.

"Diam dan jangan membantah! Dasar bocah es bodoh!" bentak Burn sambil menginjak-injak tubuh Gazel dengan kejamnya.

"AKH! AKH! AKH! AAAAAAAKH!" teriak kesakitan Gazel saat Burn menginjak 'burung miliknya'.

"Rasakan ini! Ini hukuman karena kau tidak menuruti perintahku!" bentak Burn sambil terus menginjak tubuh Gazel.

"Yamette! Yamette! Ittai yo! Yamette!" mohon Gazel dengan air mata yang berlinang.

Burn benar-benar senang saat melihat Gazel yang menangis memohon ampun, sehingga dia pun menjadi semakin terobsesi untuk membuat Gazel menderita.

Burn lalu mengambil sebuah alat yang berbentuk seperti 'burung' milik para laki-laki dan menatap Gazel dengan penuh nafsu.

Lalu dengan cepat, Burn menengkurapkan tubuh Gazel dengan kasar lalu menjilati bokongnya sebelum menancapkan alat itu ke lubang bokong Gazel.

"AAAAAAAAAAAAAAAKH!" teriak Gazel saat alat itu menancap di lubang bokongnya.

"SAKIT! SAKIT! SAKIT! KUMOHON HENTIKAN! AKU SUDAH TIDAK KUAT LAGIIII!" pinta Gazel sambil menangis sejadi-jadinya.

Setelah puas melihat Gazel yang kesakitan, Burn langsung mencabut alat itu dari lubang bokong Gazel dengan kasar.

Gazel benar-benar sudah tidak kuat lagi, air matanya mengalir deras, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dan tubuhnya mulai melemah.

Burn benar-benar telah kehilangan akalnya, sekarang yang ada di pikirannya hanyalah keinginan untuk memuaskan nafsunya.

Burn lalu mencium bibir Gazel dengan kasar dan menggigit bibirnya hingga berdarah.

"MMMMMMMMMPH!" teriak kesakitan Gazel di sela-sela ciuman panasnya dengan Burn.

Tanpa memperdulikan teriakan Gazel, perlahan-lahan, Burn mendekatkan tangan kanannya ke 'bagian bawah' tubuh Gazel.

Mengetahui maksud Burn, Gazel langsung ketakutan dan memberontak sekuat tenaga, tapi tidak bisa… tubuhnya terlalu lemah dikarenakan 'hal-hal' yang tadi dilakukan oleh Burn kepadanya.

Burn pun menyentuh 'barang' milik Gazel dan menjilat juga mengemutnya dengan penuh nafsu.

"Aaah… nnnnghh… a-aaahh…" desah Gazel yang menurut Burn sangat 'seksi'.

Tapi tiba-tiba…

"!" Gazel berteriak kesakitan dengan sangat-sangat keras saat Burn menggigit burung miliknya hingga terluka dan mengeluarkan darah.

"AHAHAHAHAHHAA! Teriakan yang bagus Gazel! AHAHAHAHAHAHAHA!" Tawa jahat Burn saat melihat Gazel yang yang benar-benar kesakitan.

"Nah… sekarang bagian penutupnya~" kata Burn sambil mengeluarkan smirk yang sangat jahat.

Gazel pun hanya bisa pasrah dan berteriak kesakitan saat Burn melakukan hal 'itu' padanya…

End of The Flashback…

Gazel perlahan-lahan mulai membuka matanya hanya untuk menemukan tubuhnya yang dalam keadaan menyedihkan…

"Tidak… ini pasti Cuma mimpi… hal ini itu mungkin terjadi… tidak… tidak…" tangis Gazel sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kini tengah bergetar hebat.

Saat Gazel tengah menangisi apa yang telah terjadi padanya, tiba-tiba Burn masuk ke dalam rumah dengan menunjukkan ekspresi wajah yang panik.

Lalu dengan cepat, Burn mengikat kedua tangan dan kaki Gazel, membekap mulutnya dengan lakban, dan menutup matanya dengan kain berwarna hitam.

"Mmmph! Mmmph! Mmmph!" teriak Gazel sambil berusaha melepaskan ikatannya.

"Diam! Sekarang aku akan membawamu pergi dari sini! Kalau kau coba-coba melarikan diri, akan kubuat kau merasakan hal yang lebih mengerikan!" ancam Burn yang langsung membuat Gazel diam karena ketakutan.

Setelah Gazel diam, Burn langsung memasukkan Gazel ke dalam sebuah karung dan pergi dari tempat itu dengan terburu-buru sambil membawa karung berisi Gazel di pundaknya.

Sementara Burn sedang berlari, Gazel yang berada di dalam karung sedang kebingungan.

"Kenapa tiba-tiba dia membawaku pergi dari tempat ini? Dan kenapa dia buru-buru sekali? Apakah… dia ingin menyembunyikanku karena anggota tim ku sadar aku hilang? Kalau memang begitu… tolong! Siapapun! temukan aku!" mohon Gazel dalam hati.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tapi yang pasti, akhirnya Burn pun berhenti berlari.

Dan dengan kasar, Burn melempar karung berisi Gazel ke tanah lalu membuka karung itu.

"Ayo cepat berdiri! Aku tidak punya waktu lagi!" perintah Burn sambil melepaskan tali yang mengikat kaki Gazel dan kemudian memaksanya berdiri.

Gazel pun mau tidak mau harus berjalan sambil menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya karena luka-luka yang di buat oleh Burn.

Setelah berjalan cukup lama, Burn dan Gazel tiba di sebuah Rumah tua yang ada di kaki gunung Fuji.

"Ayo cepat masuk!" perintah Burn sambil menarik lengan Gazel dengan kasar.

Setelah mereka masuk ke dalam Rumah itu, Burn langsung menutup dan mengunci pintu itu dan membawa Gazel masuk ke dalam salah satu kamar di Rumah itu.

Di dalam kamar itu, tampak sebuah kursi dari kayu yang agak tua dan juga sebuah meja kecil di sampingnya.

Burn lalu mengikatkan tangan dan kaki Gazel ke kursi itu dan mengikat kain yang menutup matanya.

"Untuk sementara waktu, kau akan kusembunyikan di sini, jangan pernah coba-coba berteriak minta tolong atau kabur, karena aku pasti akan menemukanmu…" kata Burn sebelum dia keluar dari kamar itu dan mengunci pintunya.

Tinggallah Gazel sendirian di kamar itu, dalam keadaan terikat, telanjang bulat, dan terluka.

"Kenapa… kenapa aku harus mengalami hal ini…? Kenapa…? Aku kesakitan, aku ketakutan, aku tidak mau berada di sini, aku ingin kembali ke tim ku dan semua orang yang ada di Rumah Matahari… seseorang… tolong aku…" tangis Gazel.

Tiba-tiba saja, terdengar suara ledakan dari depan Rumah, Gazel pun terkejut dan bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi?

Dan Gazel lebih terkejut saat ada seseorang yang mendobrak pintu kamar tempat Gazel berada, dan orang itu adalah…

"Gran..?" batin Gazel.

Gran lalu mendekati Gazel sambil memasang ekspresi wajah khawatir.

"Mmmph! Mmmph! Mmmph!" teriak Gazel yang tidak mau di dekati oleh Gran.

Tapi Gran tidak memperdulikannya, dan perlahan-lahan, dia melepas lakban yang membekap mulut Gazel.

"Daijoubu ka?" tanyanya sambil melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Gazel.

"Kenapa kau datang kesini hah?" bentak Gazel dengan suara yang lemah.

Gran hanya tersenyum lembut sambil menutupi tubuh Gazel dengan selimut yang datang entah darimana.

"Tentu saja aku datang untuk menolongmu, Gazel. Saat kau tiba-tiba menghilang, seluruh anggota Aliea Gakuen mencari kemana-mana, dan saat aku sedang mencarimu, aku melihat Burn sedang berlari membawa karung yang mencurigakan, aku pun mengikuti Burn sampai kesini, dan menyelamatkanmu". Cerita Gran.

"Kenapa kau mau menolongku? Bukankah bagimu aku hanyalah sampah karena aku tidak bisa mengalahkan Raimon Eleven?" Tanya Gazel.

"Walaupun kau tak bisa mengalahkan Raimon Eleven, tapi mana mungkin aku membencimu, kau kan salah satu anggota keluarga Rumah Matahari, kita semua adalah keluarga, sudah sewajarnya kan kita menolong anggota keluarga kita?" Tanya Gran sambil memeriksa luka-luka di tubuh Gazel.

Gazel tertegun mendengar kalimat itu, selama ini dia terlalu terobsesi untuk menjadi Team Genesis dan tidak memperdulikan teman-temannya yang merupakan anggota keluarganya.

"Dengan luka seperti ini, pasti akan menyakitkan sekali kalau berjalan, baiklah, aku akan menggendongmu sampai ke Rumah Sakit!" kata Gran.

Kemudian, dengan hati-hati, Gran menggendong tubuh Gazel dengan gaya Bridal Style, lalu membawa Gazel keluar dari Rumah itu.

Di depan Rumah, tampaklah Burn yang telah babak belur karena di serang oleh Ryuusei Blade nya Gran.

"Matte… kembalikan, Ga…zel…" itulah kata-kata yang diucapkan Burn saat dia melihat Gran yang membawa Gazel dalam gendongannya.

Tanpa memperdulikan Burn, Gran terus berjalan menyusuri hutan dengan Gazel di gendongannya.

"Gran…" ucap Gazel pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Gran.

"Ada apa?" Tanya Gran sambil tersenyum lembut.

"…Bolehkah… aku menjadi Keluargamu…?" Tanya Gazel pelan.

Gran tersenyum lembut mendengar pertanyaan Gazel, dan dia pun menjawab.

"Sebelum kau minta pun, kau telah menjadi keluargaku Fuusuke…" jawab Gran.

Mendengar jawaban Gran, Gazel tersenyum senang, ekspresi yang sangat jarang ditunjukkan olehnya.

"Arigatou, Hiroto…"

THE END