Chapter 3: HERE HE COMES AGAIN

Title : That's Should Be Mine

Author : Davidrd

Pairing : Meanie (Mingyu and Wonwoo)

Cast : Seventeen member

Rating : PG-15 (NC-17 for later)

Genre : Angst, Violence, Smut, Rape, Romance

Length : Chaptered

Chapter : 3/?

Note : Yeah, bad boy Mingyu is so hot... hahaha selama itu Cuma di ff nggak masalah ya karakternya jahat banget. Apa kalian pernah berasa apa pun yang kalian lakukan nggak pernah berhasil walaupun udah berusaha sekuat tenaga? Malahan orang lain yang nggak ngapa-ngapain bisa dengan gampang mendapatkan hal yang kita usahakan mati-matian? Ya, karakter Mingyu di ff ini seperti itu kiranya.

Oya, buat beberapa chap ini bakalan author update pendek-pendek biar ada suspense alias ketegangannya (author evil balik lagi). Ya udah, tanpa banyak basa-basi mari kita lanjut menyiksa Wonwoo. Kekekke.. jangan lupa komen yaaa..

.

.

S.E.V.E.N.T.E.E.N

.

.

Kami berdua minum sampai larut malam. Dan alhasil aku mabuk. Ya walaupun kuakui aku adalah peminum yang hebat, tapi entah kenapa hari ini aku bisa mabuk. Meskipun begitu aku menolak tawaran Seokmin untuk mengantarkanku pulang karena aku tahu bahwa Jisoo hyung sudah menunggunya di rumah. Aku tidak ingin merepotkannya dan membuat Jisoo hyung menunggu hingga larut malam.

Kukendarai mobil yang kubeli dari hasil jerih payahku menuju sebuah apartemen. Aku merasa sedikit asing dengan jalan yang kulalui, tapi juga merasa familiar. Sepertinya aku pernah kesini sebelumnya, tapi kapan? Kutekan tombol 12 pada dinding lift dan kusandarkan tubuhku sesaat. Kepalaku serasa berputar dan pandangan mataku mulai kabur.

Dengan langkah sempoyongan, aku keluar dari lift dan segera berjalan menuju sebuah pintu. Kutekan bel dan kutunggu beberapa saat. Fuck, kenapa aku harus memencet bel? Apakah ini bukan apartemenku? Ah sudahlah, aku sudah berada di sini, jadi lebih baik aku tidur di sini malam ini. Kutunggu beberapa saat, tak ada seorangpun keluar dari dalam apartemen. Kucoba sekali lagi, dan beberapa menit kemudian terdengar bunyi pelan pintu yang terbuka.

Mata rubah pemuda yang berdiri di depanku seolah hendak meloncat keluar ketika melihatku. Dengan segera ia berniat untuk menutup pintu, namun aku lebih cekatan darinya. Kutahan pintu itu dengan menyelipkan kaki kananku.

"What do you want?" suaranya bergetar.

"Kau tidak bermaksud mempersilakan tamumu masuk Wonwoo hyung?" bibirku membentuk sebuah seringaian licik.

"Ani. Pulanglah Kim Mingyu! Ini sudah malam," ia masih berusaha mengusirku walaupun suaranya bergetar.

"Apa kau mencoba mengusirku sekarang?"

"Ani Gyu," aku melotot padanya yang langsung membuatnya kehilangan nyali. Kemudian kudorong pintu yang selama beberapa menit ini kuganjal dengan kaki kananku hingga menjeblak terbuka. Wonwoo mundur beberapa langkah dengan tergesa-gesa mengetahui aku sudah masuk ke apartemennya. Tembok pertahanannya runtuh sudah. Kututup pintu dengan kasar.

Kusambar sebuah hiasan di atas meja dan kulemparkan ke tembok. Wonwoo makin bergidik ketakutan. Satu langkah mendekati Wonwoo, kulempar lagi sebuah vas bunga yang tergeletak di atas meja hias di pojok ruangan sambil menyeringai licik.

"Come here you bitch!" aku menarik lengannya dan mengangkat tubuhnya seketika. Walaupun pemuda di dalam gendonganku meronta-ronta, aku tetap tidak peduli. Aku terus berjalan ke dalam kamar dan segera menutup pintunya dengan kakiku. Kulemparkan ia ke tempat tidur. Tanpa basa-basi lagi aku segera menelanjangi tubuhku dari semua pakaian yang menempel.

"You have something to do tonight!"

"Mingyu-ya, andwae!" dia merapatkan tubuhnya pada salah satu dinding di samping tempat tidurnya.

Seolah telingaku sudah tersumpal headset dengan alunan musik yang menderu-deru, aku tetap melangkah maju. Kutahan kedua tangan pemuda jangkung di hadapanku dan kurobek semua baju yang menutupi tubuhnya hingga ia telanjang bulat. Kuciumi, kujilat dan kuhisap lehernya kuat-kuat hingga meninggalkan kiss mark berwarna ungu besar. Ia mengerang saat kulakukan hal itu berulang-ulang kali.

"Ngghhh... Mingyu-ya... stop...it," kakinya berusaha menendang apapun yang bisa ia jangkau. Sayangnya, aku terlalu kuat untuk dikalahkan.

Aku kembali fokus pada pemandangan di depanku. Tubuh putih Wonwoo yang penuh dengan hickey, perutnya yang datar dan otot perut yang terlihat menggugah selera membuatku turned on. My crotch start to need attention. Kugesekkan kemaluanku pada miliknya dan hasilnya ajaib. Walaupun Wonwoo meronta-ronta tapi kurasakan tubuhnya juga menikmati apa yang kulakukan.

"Mingyu-ya, kumohon hentikan," mata cokelat indah itu berkaca-kaca, tetapi aku tidak peduli.

Tiba-tiba mataku tertuju pada nipple merah muda Wonwoo yang menegang. Kujulurkan lidahku perlahan menyusuri dada hoobaeku ini dan kemudian gigi-gigiku mulai mengambil alih. Kugigit perlahan puting merah muda Wonwoo dan kuhisap kuat, hingga muncul hickey baru yang lebih besar. Selagi mulutku sibuk dengan daerah dada, tanganku bermain dengan nipple satunya.

"Gyu..Gyu... please... don't do this anymore," dengan terengah-engah pemuda yang berada di bawahku berkata.

"But you like it Wonwoo hyung. Tubuhmu meresponnya dengan sangat baik," kuucapkan apa yang saat itu ada di pikiranku.

"Please Mingyu-ah. I beg you," kembali dia menangis. Kenapa setiap kali melihatku dia harus menangis? Kenapa?

Aku yang hendak melakukan perbuatan yang lebih jauh segera berubah pikiran. Ani, bukan berubah pikiran. Tapi, lebih tepatnya adalah tubuhku bergerak atas kemauannya sendiri. Tanganku meraih tubuh Wonwoo yang tergolek tak berdaya dan mendekapnya erat. Pemuda jangkung ini masih sesenggukan, tapi aku berusaha menenangkannya.

What the hell am I doing right now? Bukannya harusnya aku marah padanya? Bukankah seharusnya aku meluapkan kemarahanku sekarang? Tapi kenapa aku melakukan hal konyol seperti ini? Shit, pasti aku sudah gila. Karena semua tekanan dalam hidupku selama ini, aku pasti jadi gila sekarang.

Awalnya seluruh tubuh Wonwoo menegang dalam pelukanku, tapi beberapa saat kemudian ia sudah mulai rileks. Tanpa terasa, kantukpun mulai menyerangku. Aku pun tertidur.

.

.

S.E.V.E.N.T.E.E.N

.

.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah di jendela dan membuatku sedikit terganggu. Aku sedikit bergeser dari posisi tidurku semula, namun tanganku terasa berat dan tak bisa dipindahkan. Dengan malas, kubuka mataku dan betapa terkejutnya aku saat melihat Wonwoo menggunakan lenganku sebagai bantalnya. Aku ingin menarik tanganku, namun kuurungkan niatku itu. Kubiarkan pemuda ini tertidur.

Kupandangi wajahnya dalam diam. Wonwoo memang tampan, dan kalau aku boleh mengatakan, ia bisa dibilang cantik. Bulu matanya yang panjang dan lentik menghiasi wajahnya yang tampan. Bibirnya terlihat mengerucut dan tiba-tiba aku sangat ingin mengecup bibir itu. Aku ingat sekarang, walaupun aku sudah berulang kali melakukan sex dengan Wonwoo, tetapi belum pernah sekalipun aku mencium bibirnya. Itu memang komitmenku. Aku tidak akan pernah mencium orang yang tak ku cintai, sekalipun kami melakukan sex.

Kuputuskan untuk kembali tidur karena aku masih merasa lelah dan mengantuk. Kurebahkan kembali tubuhku ke atas kasur yang empuk. Sedikit kutarik tubuh pemuda di sampingku ini hingga benar-benar merapat dengan tubuhku dan kutarik selimut agak tinggi sehingga ia tidak kedinginan.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku tertidur, namun hal pertama yang kuingat adalah jeritan dari suara orang yang tak kukenal.

"Aaaaaargggghhhhh...," suara teriakan wanita membuatku terbangun. Begitu juga dengan Wonwoo.

"Eomma, kenapa teriak-teriak pagi-pagi begini?" kudengar suara Wonwoo di sebelahku.

"Woo, mianhae. Aish eomma keluar dulu," kulihat seorang wanita setengah baya keluar dari kamar.

"What's wrong with eomma?" ucap Wonwoo seraya menoleh ke arahku.

Dan seketika itu juga Wonwoo berteriak,"Arrrrrrrgggggghhhhhhhhhhh."

.

.

RnR ya readerdeul…..^^