Kuro Shinigami


Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya, melainkan milik Mbah Yamaha dan Om Crypton

Rate : T

Genre : Spiritual, Fantasy, Drama, Romance (ke depannya)

Caution : AU, typo, agak gaje, OOC

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 4 : I am a Heartless Girl


Hari ini aku merasa sangat tidak bersemangat. Aku tidak tahu kenapa. Apa mungkin karena ocehan Luka-sensei? Sigh. Lesu sekali aku.

TING TONG

Ah, syukurlah sudah bel. Aku mau mendinginkan kepala dulu.

"Hei Rin" ucap seseorang dari belakang. Pemuda itu masih ditempat duduknya.

"Hm? Apa Len?" tanyaku dengan lesu. Geez, aku seperti orang mati saja.

"Kau kelihatan tidak bersemangat. Apa kakimu masih sakit?" tanyanya sambil menadahkan dagunya di tangannya.

Dia perhatian juga rupanya. Geez, apa yang kau pikirkan Rin! Lupakan itu!

"Uh, tidak kok. Aku hanya sedang lesu saja. Dan… um… terima kasih untuk yang kemarin" ucapku sambil memalingkan wajahku ke arah lain.

Uh, aku ini kenapa sih! Kenapa aku malah memalingkan wajah? Sekarang bocah ini pasti berpikiran yang aneh-aneh padaku!

"Hehe~ Tidak masalah kok Rinny~" ucapnya sambil tersenyum lebar padaku. "Hei… um… apa kau ada acara pulang sekolah nanti?"

Dia ini bicara apa sih? Apa yang mau dilakukannya? Padahal baru kenal kemarin. Tapi kenapa dia sok akrab banget sama aku? Memang sih aku tidak punya kegiatan, tapi kan… aku seorang Shinigami! Mana ada Shinigami jalan-jalan dengan manusia!

"Um… tidak sih, tapi untuk apa kau menanyakanku?" ucapku sinis pada Len. Sepertinya kelesuanku sudah mulai berkurang. Mungkin karena aku bicara sinis pada bocah freak ini

"Kalau begitu tunggu aku di gerbang sekolah ya, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Sudah dulu ya, aku mau ke kantin. Dah~" ucapnya, lalu segera berlalu melewatiku dan segera keluar dari kelas.

Cih, sebenarnya dia itu kenapa sih? Ngapain sih ngajak-ngajak aku? Padahal tadi aku mau menolak. Sigh. Bagus, sekarang perasaan aneh itu muncul lagi.


-skip, pulang sekolah-

Sigh. Bagus, sekarang aku malah menunggu sendiri disini seperti orang bodoh. Dia juga tidak datang, sebaiknya aku pulang saja. Aku sudah muak menunggu!

Baru saja aku hendak melangkah pulang, tiba-tiba seseorang memanggilku. Dengan suara yang sangat familiar.

"RIIIINNN!" aku pun menoleh ke asal suara. Dan coba tebak, itu Len. Oh bagus, sekarang dia datang.

"Maaf, tadi aku habis piket. Apa kau sudah menunggu terlalu lama?" tanyanya yang masih ngos-ngosan sambil menyeka keringatnya dengan lengan bajunya.

"Iya, aku sudah menunggu selama 1 jam! Lebih baik kau lupakan dengan rencanamu itu! Aku mau pulang!" ucapku sinis pada Len. Lalu segera mengambil langkah untuk pergi dari tempat terkutuk itu.

"Tu-Tunggu dulu Rin!" dia pun menarik tangan kananku. "Jangan pergi dulu, hanya sebentar kok" ucapnya dengan puppy eyes.

"Ugh, baiklah. Tapi jangan macam-macam denganku!" bentakku, lalu segera menarik tanganku dari genggaman tangan Len. Oh, bagus. Sekarang aku malah menerima ajakan bocah ini.

.

.

.


"Nah, ini tempatnya"

"Hwaa~ Tidak kusangka ada ladang bunga disini…" ucapku dengan terkagum-kagum pada ladang bunga yang kulihat. Entah sejak kapan aku menyukai bunga.

"Hehe. Aku menemukannya sewaktu baru pindah kesini" ucapnya sambil berbaring di ladang bunga. Lalu menatap langit.

"Ibuku sudah meninggal dan ayahku sedang sibuk bekerja di Amerika. Jadi aku tinggal sendirian disini. Bagaimana denganmu Rin?" tanyanya lalu menatap kearahku yang sedang duduk disampingnya.

Orangtua? Aku bahkan tidak punya orangtua, mengenal mereka saja tidak pernah!

Pertanyaan dari Len itu cukup untuk membuatku diam selama beberapa waktu. Kami para Shinigami adalah makhluk yang immortal. Kami dulunya adalah jiwa yang membuat perjanjian dengan Shinigami terdahulu sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka.

Dan aku membuat perjanjian dengan dengan meminum darah Ketua, berharap agar aku dapat hidup dengan tentram. Karena semasa aku hidup, aku sering di bully. Setelah membuat perjanjian aku mati. Dan sejak saat itulah aku terlahir kembali dan menjadi seorang Shinigami.

Ingatan kami sewaktu menjadi manusia dihapus, dan hati kami dibekukan menjadi sedingin es. Begitu pula dengan orang-orang yang dulu menjadi teman kami. Ingatan mereka juga dihapus mengenai keberadaan kami.

Saat ini aku yang sebagai Shinigami seperti mencoba untuk hidup sebagai manusia untuk yang kedua kalinya. Seperti memulai dari awal. Pertemanan, permusuhan, semuanya.

Jadi aku sama sekali tidak ingat dengan siapa orangtuaku, dan pastinya mereka berdua pasti sudah mati.

"Maaf, aku tidak ingat. Mereka pasti sudah mati." Ucapku datar sambil memandang langit yang mulai berubah warna menjadi kemerahan. Tanpa melihat wajah Len yang sepertinya terkejut karena jawabanku.

"Oh, maaf. Aku sama sekali tidak tahu. Maaf" balasnya dengan nada bersalah.

Kenapa dia malah minta maaf? Haah, aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir manusia. Ya, walaupun aku dulu juga manusia.

"Kenapa kau malah minta maaf? Hah… sudahlah, lebih baik kita pulang" akupun segera berdiri.

"Hanya saja… pasti sedih rasanya kalau tidak tahu siapa orangtua kita. Itu saja." Ucapnya pelan sambil masih berbaring.

"Maaf saja, tapi aku sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya sedih. Aku sudah membuang jauh perasaan itu. Apalagi perasaan suka. Aku orang yang tidak punya perasaan apa-apa. Jadi tidak perlu minta maaf padaku. Karena itu akan sia-sia." Ucapku yang sudah membelakangi Len.

Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya sedih, apalagi suka. Karena aku tidak pernah mengalami kehilangan. Tidak ada satu orangpun yang berarti bagiku. Bahkan orangtuaku. Bagiku setiap orang itu sama, pada akhirnya mereka juga akan mati ditanganku.

Len pun pada akhirnya hanya menatapku dengan tatapan aneh, antara kaget dan sedih. Aku sendiri juga tidak tahu apa maksud dari tatapannya itu.

Kami pun segera pulang kerumah masing-masing. Sepanjang perjalanan, kami tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dan bersyukurlah, aku tidak perlu berbicara banyak.

.

.

.


"Miku, tadaima" ucapku pelan begitu masuk kedalam apartemenku. Berharap Miku tidak pergi kemana-mana dan dia ada di dalam. Untung saja dia ada, sedang asyik memakan negi.

"Okaeri, Rin. Kau lesu sekali, apa ada masalah?"

"Tidak ada. Apa ada e-mail dari ketua?" tanyaku sambil membuka seifuku milikku. Lalu menggantinya dengan baju tidur. Karena tidak ada kerjaan, kusuruh saja Miku memeriksa e-mail dari ketua. Bisa dibilang dia asistenku sekarang.

"Ada, belum kubuka kok. Nee, Rin-chan…"

"Apa?"

"Kenapa kau tidak bilang kalau ketua mu itu sangat tampan dan keren, kukira orangnya sudah tua, rupanya seumuran denganku. Beri tahu aku namanya!" ucap Miku dengan semangatnya. Matanya kini berbinar-binar.

Geez, sekarang sepertinya dia malah menyukai ketua. Semudah itukah dia melupakan si eskrim freak? Dasar Miku.

"Dari mana kau tahu kalau ketua itu keren? Jangan-jangan kau mengutak-atik laptopku ya!" ucapku dengan nada menuduh pada Miku yang masih duduk di depan laptopku. Seperti ketagihan.

"Hehe. Tadi aku tidak sengaja menekan video call. Dan pas dia menjawab, aku bisa melihat wajahnya yang…. HENGHH… KEREEENN~~" ucap Miku dengan lebaynya sambil menarik-narik rambutnya sendiri layaknya handuk. "Dan dia juga tersenyum padaku… Oowwhh… aku sangat terpukau oleh senyumnya… KYAA~~ Kumohon beri tahu aku namanya! Pliss!" dan sekarang dia malah bersujud-sujud di depanku. Sepertinya dia memang kepingin banget mau tahu nama ketua.

Dasar hantu lebay, sudah mati tapi tetap saja memikirkan cowok, dasar…

"Namanya Mikuo, kenapa? Apa dia tipemu? Bagaimana dengan Kaito? Apa kau sudah melupakannya?" ucapku dengan nada mengejek. Miku kelihatannya senang sekali, bahkan dia sampai melayang-layang dengan kecepatan penuh kesana-kemari.

"Waa~~ Mikuo, nama yang sangat kereenn~ Dia tipeku banget! Ah, soal Kaito, dia sudah lewat. Lagian aku sudah mati, mana bisa dia melihatku. Lebih baik mencari orang yang bisa melihatku. Owwhh~~ Mikuo ku sayaaang~~"

"Geez, dasar Miku. Ya sudah mana e-mail nya?" dan aku pun melihat e-mail dari ketua.

"Eeeehh? Tidak mungkiiinn!" teriakku histeris begitu melihat e-mail dari ketua.

"Hm? Ada apa Rin-chan? Kok kayaknya kaget banget~?" tanya Miku yang kemudian melayang menghampiriku.

"I-ini… Kenapa tugasku begini…" ucapku histeris, masih tidak percaya dengan tugas yang diberikan oleh ketua.

Mau tahu apa tugasnya? Tugasnya aku disuruh ketua Mikuo buat bawa Miku ke tempatnya. Aneh kan? Masa ketua juga suka sama Miku? Dunia benar-benar kacau sekarang!

"Kyaa~~ Mikuo mengundangku! Sungguh, ini adalah hari paling indah sepanjang hidupku!" teriak Miku dengan bahagianya.

Eh? Bukannya kamu sudah mati? Aku pun hanya bisa sweatdrop melihat tingkah Miku. Sigh, yasudahlah, kukerjakan saja tugas dari ketua.

.

.

.


"Miku! Buruan dong!" ucapku yang sudah sebel menunggu Miku. Untuk berdandan!

"Sebentar lagi~ Tinggal mengikat rambutku saja kok~" teriaknya dari kejauhan. Dasar, sejak kapan hantu bisa berdandan.

"Ok~ Sudah siap!" ucapnya yang kini penampilannya berbalut gaun berwarna putih, layaknya gaun-gaun para diva.

Sigh. Dasar hantu aneh. Dari mana dia dapat gaun itu?

Dan kami pun segera terbang menuju langit. Di beberapa titik tertentu, ada sebuah portal yang dikhususkan untuk kami, para Shinigami. Jadi tidak sembarang makhluk yang bisa melewati portal itu, kecuali mereka ditemani oleh Shinigami atau memang sudah mempunyai izin khusus dari ketua.

.

.


Setelah melewati portal itu, kami masuk menuju dimensi lain. Ya, pusat asosiasi Shinigami sedunia. Dan yang mengaturnya adalah sang ketua, alias Mikuo.

Setelah terbang cukup lama, kami melihat sebuah bagunan yang mirip dengan White House tempat tinggal Presiden Obama, namun lebih besar dan megah. Ya, disitulah tempatnya. Tempat asosiasi dan juga rumah Mikuo.

.

"Permisi Ketua Mikuo, aku membawanya" ucapku pada Mikuo yang sedang tenangnya menghirup the di ruangannya. Dia pun langsung menoleh ke arahku, lalu melihat Miku dari ujung kaki ke ujung kepala.

"Terima kasih Rin, bisa kautinggalkan aku sebentar dengan nona ini?" tanyanya sopan. Aku pun menurut, mungkin aku bisa keliling-keliling gedung yang luas ini.

.

.


Miku POV


"Permisi Ketua Mikuo, aku membawanya" ucap Rin pada seseorang yang sedang tenangnya menghirup the di ruangannya. Dia pun langsung menoleh ke arah Rin, lalu melihat ke arahku.

Bisa kulihat dengan sangat jelas sekarang, dia mempunyai rambut pendek berwarna teal sama sepertiku. Dan warna mata yang senada. Wajahnya kelihatan sangat tampan dan sepertinya dia orang yang sangat berwibawa dan baik.

Oh ya tuhan, dia sangat keren dan tampaann~~~ Aku bisa melting karena malu~~

"Terima kasih Rin, bisa kautinggalkan aku sebentar dengan nona ini?" tanyanya sopan. Dan Rin pun keluar, meninggalkan aku berduaan dengan Mikuo.

Dia lalu berjalan mendekat ke arahku. Oh ya ampun wajahku pasti merah sekali!

"Perkenalkan, aku Mikuo. Boleh aku tahu siapa namamu nona?" ucapnya sambil mengecup tangan kananku. Oh, romantis sekali~~

Kyaa! OMG! OMG!

"Na-Namaku.. Mi-Miku! Mikuo-kun!" ucapku malu-malu. Lalu dia tersenyum dengan sangat 'kyaa!' ke arahku. Aku MELTIIING!

"Nona Miku, saat pertama kali aku melihatmu melalui video call, aku bisa katakan bahwa itu adalah takdir. Takdir yang mengatakan bahwa kau adalah gadis yang tepat sebagai belahan jiwaku. Kau adalah cinta pertama dan sejatiku Miku. Maukah kau menjadi pacarku?" ucapnya dengan senyum yang menawan.

Apa! Jadi pacarnya? Tentu aku mau! Mau sekaliii! 0

"Mau! Aku sangat mau untuk menjadi pacarmu! Takdir juga sepertinya berkata bahwa kau adalah orang yang terbaik bagiku Mikuo!" ucapku dengan semangat plus wajah yang sangat amat merah!

Tanpa diduga-duga, Mikuo memelukku! Kuulangi, MEMELUKKU! Aku pun kaget, namun segera balas memeluknya.

"Dengan begini, maukah kau menjadi Shinigami sama sepertiku? Untuk selalu bersama dan terus berada disisiku, Miku?" tanyanya.

"Tidak peduli aku adalah hantu, Shinigami atau apapun… Aku akan terus berada disisimu Mikuo-kun!" ucapku dengan keyakinan penuh. Dan dia tersenyum lagi.

"Kalau begitu berarti jawabannya iya" ucapnya. Lalu sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Lembut dan hangat, itu bibir Mikuo. DIA MENCIUMKU!

Aku semula kaget, namun segera berusaha untuk menikmatinya. Terima kasih tuhan, kau memberikan sebuah awal yang indah dari kematianku.

Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga ia melepaskan bibirnya untuk menghirup oksigen, begitu juga denganku. Rasa apa ini? Darah?

"Mikuo… aku… mencintaimu…" ucapku dengan napas yang terengah-engah.

"Terima kasih, kini kau sudah terikat denganku dan menjadi Shinigami" ucapnya. Itu membuatku heran.

Namun tiba-tiba kurasakan sesuatu menempel di punggungku, ketika kulihat, ternyata yang menempel itu adalah sepasang sayap berwarna hitam yang indah. Kini wujudku menjadi jelas, seperti manusia biasa, tidak transparan sewaktu aku masih menjadi hantu. Kini aku sudah menjadi Shinigami sama seperti Mikuo dan Rin!

"Terima kasih!" ucapku dengan sangat bahagia. Saking bahagianya, kucium lagi bibir Mikuo. Dan kami pun sekarang menikmati waktu mesra kami sebagai Shinigami berduaan.

.

.

.


~~TBC~~


Miku: …

Mikuo: …

Rin: …

Ichigo: Woi! Kenapa jadi speachless semua!

Miku: Karena adegan yang diatas author, ukh, aku benar-benar malu sekarang… *blush*

Mikuo: Tenang saja Miku sayang, asal kau berada disisiku, kau tidak perlu malu… *blush*

Rin: Dasar pasangan aneh sejagad setanah air… *ikutan blushing*

Ichigo: *sweatdrop* Ya sudah, daripada ngeliat mereka bertiga, mending saya minta REVIEW!

REVIEW PLEASE! _ MOHON REVIEWNYAA~~~


.

.

KEEP OR DELETE?

.

REVIEW PLEASE!

.

.