WARNING! Didalam fict ini anda akan menemukan bashing chara. Just blame me if you want. Atau jangan terusin baca kalo bener-bener gak tahan. Saya menerima apapun pikiran anda. SELAMAT MEMBACA ^^
.
.
"Apa yang kau rasakan, dobe?"
Naruto terlentang damai di atas ranjang single rumah sakit Konoha. Wajah manisnya msih tidak berekspresi sejak beberapa saat lalu sadar dari keadaan tidak sadarnya. Manik saphire indah itu menatap langit-langit putih diatasnya dengan tenang.
"Naruto?" Sasuke dengan gaya kerennya duduk anteng disebelah ranjang itu mencoba memanggil lagi Aphrodite-nya.
Si anak perempuan yang dipanggil menoleh dan menemukan wajah yang ingin sekali ia cakar saat itu juga sedang menatapnya dengan onyx yang tajam. "Karin akan kuberi pelajaran." Tepat setelah menutup mulutnya, gadis blonde yang masih dengan seragam sekolah itu duduk tergesa dan menyibak selimut. "Ah!" infus dipunggung tangan kiri Naruto menahan gerakannya.
Naruto menatap Sasuke melas. Sasuke berteriak keras membuat dokter wanita yang sedang berjaga dekat pintu berjengit dan sigap mendekat. Beberapa pasang mata yang juga mendiami ruang darurat itu melirik ingin tahu. "Darah di infus." Pekik Sasuke saat si dokter perempuan menyingkirkan kursi yang tadinya didudukinya.
Dokter itu mengangguk, "Saya mengerti." Setelahnya segera mencabut jarum infus di tangan Naruto. Darah mengucur keluar. Naruto benar-benar ingin mencakar Sasuke saat itu juga saat mata berbeda warna mereka bertemu. Dua orang perawat—satu laki-laki dan satu perempuan— datang menyusul membawa kotak perak.
Sasuke mundur teratur. Mempersilahkan yang lebih ahli untuk menangani sang Aphrodite. Onyx-nya seolah tidak ingin memperhatikan sekitar. Hanya ingin menangkap setiap ekspresi yang dikeluarkan gadis yang duduk merengut diatas ranjang single itu. Pasien-pasien lain menatap tertarik pada gadis blonde manis yang baru saja dilarikan ke rumah sakit oleh sekolahnya karena keracunan 1 jam yang lalu itu.
Tidak ada gerakan apapun, Sasuke berdiri bak patung. Matanya tidak lepas dari Naruto. Seolah Naruto adalah hewan buas yang sedang dijinakkan paksa.
"Saya tidak ingin di infus." Dokter wanita yang sedang mengeluarkan jarum suntik dari kotak perak itu menghentikan gerakannya ketika sang pasien berucap.
"Kalau begitu saya butuh persetujuan wali anda, nona." Si dokter melirik Sasuke sebentar lalu kembali pada Naruto yang menampakkan ekspresi jenuh.
"Saya bilang saya tidak ingin di infus. Saya ingin segera pulang. Jadi tolong segera dokter bersihkan luka saya dan saya secepatnya akan mengurus administrasi."
Dokter wanita itu mengerutkan kening. "Saya mengerti maksud anda. Tapi saya harus benar-benar mendapatkan persetujuan dari wali anda jika anda tidak ingin di rawat. Jadi, dimana wali anda?"
Sasuke tidak mencoba melakukan apapun. Dia hanya melihat keadaan. Sekarang bahkan saat Naruto menatapnya tidak suka, Sasuke tetap bergeming. Dan detik berikutnya, Naruto melihat lewat bahunya. Ekspresi tidak sukanya berubah menjadi berkali-kali lipat tidak suka.
"Namikaze Naruto," suara bass tinggi pria terdengar membuat Sasuke dan 3 orang yang menangani Naruto menatap pintu masuk di balik punggung si raven. "Kenapa kau bisa ada disini? Dasar lemah." Secepat dua kedipan mata, pria berambut oranye yang awalnya berdiri berkacak pinggang di pintu itu sudah memeluk Naruto.
"Saya wali dari Naruto Namikaze, Kurama Namikaze. Kakak dari gadis manja ini."
Sasuke menatap tidak suka. Walaupun Sasuke kenal dengan baik siapa pria itu, dia tetap tidak suka.
Si dokter mengangguk. "Nona Namikaze mengatakan tidak ingin dirawat. Tapi saya harus tetap melanjutkan prosedur."
"Dia tidak dirawat. Percaya padaku, Tsunade tidak akan suka melihat cucu kesayangnya ada disini." Ucap Kurama tanpa sopan santun.
Perawat perempuan yang bediri didekat Naruto menutup mulutnya sambil menatap Naruto dan Kurama bergantian. Si perawat laki-laki mengangguk gugup. Dan si dokter, "Oh pemilik— kalau begitu kami permisi. Jika ada yang dibutuhkan lagi, silahkan memanggil saya." Membereskan peralatannya, kemudian mereka berlalu dengan sopan.
"Yo, Uchiha!" ujar si pria tampan oranye saat Sasuke berdiri di seberangnya.
Terkekeh pelan kemudian mendengus, Kurama tahu bungsu Uchiha yang mengaku kekasih —dan tunangan adiknya ini memang tidak terlalu bersahabat dengannya. Tapi Kurama tidak peduli. Toh dia juga tidak begitu menyukai diktator yang ingin mendominasi rubah kecilnya. Bagi pengidap sister complex Namikaze ini, Naruto adalah miliknya. Hanya Kurama Namikaze yang boleh mendominasi si rubah Aphrodite. "Jadi?" Kurama kembali pada Naruto.
Naruto menarik surai oranye semi panjang Kurama dengan brutal. Membuat si pria yang tidak siap, mencondongkan badannya ke depan mendekati tangan mungil si blonde. Mencoba sedikit meringankan jambakan adik kesayangannya yang semakin lama semakin terasa sampai ke akar rambut.
Sasuke memandang takjub perkelahian di depannya. Jika dirinya yang disiksa Naruto itu adalah hal biasa, maka saat manusia sekaliber Kurama pasrah ditangan Naruto, itu adalah kesenangan tersendiri bagi Sasuke. Serius, Naruto suka sekali menganiayanya secara lahir dan batin.
Semua pasang mata di ruang lebar putih khas rumah sakit itu tidak henti menatap kejadian anti mainstream didekat mereka itu.
Kurama masih terombang-ambing ditangan Naruto. Dia harus segera mengambil tindakan jika tidak ingin rambut handsomenya rontok sia-sia. Tangan besar miliknya ia gerakkan. Menampar dari samping dada gembul sang adik.
Seketika Naruto berhenti dan menarik tangannya untuk melindungi dadanya sendiri. "Brother dumbass! You're crazy!" Naruto berteriak keras lalu menendang perut Kurama tanpa ampun.
Melotot horor—sangat tidak Uchiha—, Sasuke tidak menyangka Kurama akan melakukan pelecehan pada adiknya sendiri. Bagaimana bisa Kurama semudah itu menyentuh dada Naruto?
"Kau yang memulai kok." Kurama mengelus kepala dengan tangan kanannya dan perut tendangan Naruto dengan tangan kiri. Sebuah senyum mengejek terukir di bibir tipisnya.
Masih dengan tangan menyilang didepan dada, Naruto memalingkan wajah dari Kurama. Dia menoleh ke kiri dan matanya bersiroboh dengan mata kelam milik Sasuke. Tanpa ba bi bu, Naruto menubruk Sasuke. "Temee~"
Sasuke sudah bersumpah dalam hati, tidak akan menyiakan kesempatan apapun.
Dengan senang hati, Sasuke balas memeluk Naruto. Tangan kirinya mengelus punggug Naruto dan tangan kanannya di tengkuk belakang Naruto. Sasuke tersenyum senang. Serius, dia tersenyum! Ini fanservice yang diberikan Naruto khusus untuknya secara sukarela. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari ini.
Tangan putih besar Kurama maju. "Berhenti grepe-grepe, anak ayam!" berusaha menarik tubuh suci Naruto dari jangkauan Sasuke.
Sasuke tentu saja tidak mau melepaskan Naruto. Naruto? Oh senangnya dalam hati Sasuke mendapati Aphrodite-nya semakin erat memeluk tubuh berototnya.
Sasuke tersenyum nista pada rubah senior didepannya.
Kurama melotot dan semakin gencar.
"Please menjauh dariku, tuan cabul!" kata Naruto sebelum tiga kedipan mata. Setelahnya ia berhenti memeluk Sasuke.
Sasuke memegangi kemeja bagian pinggang Naruto saat Naruto melepas pelukannya dan tergerak menjauh ditarik Kurama. "Dobe?"
"Aku lupa kalau masih marah padamu, brengsek." Si gadis blonde tidak peduli si pria oranye yang memeluknya seenak jidat.
"He? Kalian putus?" kata Kurama disela kegiatan mari melindungi rubah kecil dari anak ayam dan mari memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Tidak!" Naruto dan Sasuke berkata kompak. Sasuke merasa dirinya punya sayap yang membawanya terbang melewati awan. "Kami bahkan tidak pernah pacaran." Oh! Sayap Sasuke menghilang dan saatnya menapak tanah kenyataan lagi.
Kurama tersenyum jijik saat Sasuke mendesis. "Hentikan desisan alaymu, anak ayam."
"Aku jadi tambah benci pada Uzumaki Karin." Kata Naruto tiba-tiba. Gadis manis blonde itu duduk di ranjang. Kaki jenjangnya menjuntai tidak menyentuh lantai.
Kurama melepaskan Naruto. "Si sepupu merah mata empat itu? Ada apa?"
Sasuke mendecih tanpa ekspresi.
"Dia meracuniku."
Alis tebal Kurama naik sebelah, "Apa semudah itu meracunimu? Oh jika gadis tidak tahu diri itu saja bisa meracunimu, mungkin rencana dari otak jeniusku bahkan tidak akan pernah terpikir oleh anak rubah yang bodoh sepertimu." Kurama memasang pose berpikir yang jika menurut orang lain keren maka yang dipikirkan Naruto adalah bayangkan rubah berekor sembilan yang mencari cara membuka gerbang neraka lebar-lebar.
"Bukan itu poinnya, older bro," Naruto menampar pipi mulus Kurama lalu menyeringai lebar memperlihatkan happy teethnya. Dengan hanya 1 gerakan, gadis blonde itu turun dari ranjang. Untung rok pendeknya bisa diajak kerjasama. "Uzumaki Karin, katakan hallo pada Sasuke." Kurama dan Sasuke bertukar pandang untuk beberapa detik. Apapun yang sedang direncanakan otak berkarat Naruto, itu pasti akan memberi pelajaran pada Karin. "Ngomong-ngomong," wajah polos Naruto menoleh pada Sasuke. Pipi putih Sasuke merona samar. "Dimana sepatuku?" jari kaki Naruto yang terbungkus kaos kaki kuning pendek mulai mengetuk lantai.
-520!-
Uzumaki Karin— gadis berambut merah mengerang diatas ranjang single ruang darurat rumah sakit Konoha. Kacamatanya ada diatas nakas samping ranjangnya. Wajahnya merengut menatap langit-langit putih diatasnya.
"Uzumaki Karin." Karin menoleh mendapati Naruto dan Sasuke diambang pintu. Jika tidak ada Naruto, mungkin Karin akan flirting pada Sasuke. Tapi oh— Karin merasa perutnya mual lagi. Menemukan Naruto dan sekarang ditambah Kurama Namikaze dibelakang Naruto mau tidak mau membuat Karin merasakan cairan lambung yang naik ke tenggorokannya terasa lebih menjijikkan. Apa yang membuat Kurama ada disana? Setelah sekian lama Karin bersembunyi dari manusia satan itu, kenapa tanpa diundang dia ada disana? Apa Kurama tahu dia meracuni adiknya? Oh mati saja, Karin!
Ketiga orang yang Karin yakini mendalangi kasus keracunan sampai mengakibatkannya masuk rumah sakit itu berjalan mendekat.
"Seharusnya kau belajar dari kesalahan orang lain. Secara tidak langsung, ini namanya senjata makan tuan," Naruto memainkan kacamata Karin ditangan kirinya. "Jika kau memberiku sesuatu, aku membalasnya. Akan kukembalikan senilai sama. Sayangnya kau memberiku ssesuatu yang cukup berbeda. Meracuniku lewat makanan yang kau berikan pada Sasuke, huh? Kalau begitu selamat makan pada racun yang kuberikan pada makanan Sasuke untukmu, Karin. Malahan masih untung aku langsung memanggil ambulan. Coba kalau tidak?" Naruto tersenyum rubah.
Karin sama sekali tidak berniat menjawab olokan Naruto. Matanya melirik was-was Kurama. Jika dia salah bicara, entah apa yang akan dilakukan raja satan Kurama karena membalas adik kesayangannya. Karin sedikit banyak trauma pada kelakuan Kurama padanya saat kecil dulu. Dia hanya tidak suka pada Naruto yang selalu diperhatikan semua orang. Padahal dia merasa lebih manis daripada Naruto. Dia hanya mengiris jari Naruto. Dan Kurama membuatnya menangis di pohon plum taman dekat rumahnya. Bayangkan anak semanis dirinya digantung terbalik didahan pohon plum. Kurama sangat jahat dan tega. Kepalanya pusing dan dia tidak bisa berhenti menangis. Entah harus merasa lega atau menderita karena tidak ada yang menyadari keadaan mengenaskannya. 3 jam digantung, Kurama kembali membawa bola berwarna kuning dan menurunkannya. Senyum puas terbit di bibirnya. Sejak saat itu Karin punya trauma parah pada Kurama.
Membuang kacamata Karin kelantai tanpa merasa salah, Naruto tersenyum dengan senyum sejuta watt-nya. Dan berbisik didekat telinga Karin, "Pelajari tempatmu, Karin Uzumaki."
"Jika aku menemukan kau mencari gara-gara lagi, kupastikan aku sendiri yang akan memberimu pelajaran." Sasuke masih berekspresi sekeras batu.
Karin bergeming. Uchiha Sasuke kelihatan tidak jauh beda dengan Kurama. "Saa saa— sepupu?" Hidung Karin kembang kempis. "Kupikir kapan-kapan kita harus main bersama." Kurama yang berdiri didekat Naruto, dengan wajah polos menginjak kacamata Karin dengan bootnya.
"Kami pergi dulu, sepupu! Cepat sembuh~" Naruto berjalan pergi dengan riang diikuti Sasuke dan Kurama. "Yuhu yuhu balas dendam rasanya memang manis~"
Selepas kepergian ketiga manusia satan itu, Karin melirik kacamatanya yang sudah tidak berbentuk. Dengan perutnya yang semakin terasa tidak karuan, gadis berambut merah darah itu melesakkan kepalanya ke bantal sekuat tenaga.
Hilang sudah semua ambisinya menantang Naruto Namikaze. Hilang juga ambisinya menggoda Sasuke Uchiha. Katakan saja Karin sebagai gadis sekali gertak langsung ciut. Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha adalah pasangan yang kuat. Oh ditambah Kurama Namikaze juga. Semua terasa tidak tergapai sekarang untukmu Karin Uzumaki.
.
.
Hai? Bagaimana menurutmu tentang ini? Isi di kotak review ya supaya saya bisa tau apa pendapatmu ^^ Saya membaca semua review kalian dan saya mempersembahkan chap ini dengan word yang lebih panjang. Untuk sementara waktu saya belum bisa membalas review kalian. Saya sedang mengalami tekanan karena ada banyak insiden yang mengguncang batin saya /apaini. Udah ah melow banget/.
Oh iya sama sekalian, kalau saya longgar jadwal update saya itu jumat sabtu. Plis jangan bilang kalau ini masih kurang! Dan lagi, minggu depan mohon maaf sepertinya saya berhalangan update. Big thanks ya buat kamu yang udah raview dan fav dan follow. Saya doakan semoga kamu gak bosen stay tune! Heheh
ULTIMATE. NARUTO. 520!
