A Taste of Your Love
Chapter 4
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Rated : T
Warning :
AU!, Typo(s), gaje
.
Present~
.
.
Ino masih ingat dengan jelas perkataan Kiba malam tadi, perkataan yang membuat kepalanya jadi pusing. Dasar bocah, suka sekali mengerjai orang yang lebih tua. Untung saja Ino bukan ibunya, kalau iya sudah kualat dia.
"Orang itu bukan siapa-siapa kok. Kamu takut ya?" Kiba cengengesan di seberang telepon.
"Ah dasar, ku kira mau bicara apa."
"Aku suka melihatmu yang ketakutan begitu, hehe. Aku jadi berpikir bagaimana kalau kita menikah nanti? Apa kamu akan takut juga dengan semua anggota keluargaku?"
"Dia keluargamu?"
Kiba mengiyakan.
"Dia pamanku, dan aku dekat dengannya. Aku akan bicara dengannya besok, kau tenang saja."
Telepon ditutup.
Meski Kiba sudah memberitahunya untuk tetap tenang, nyatanya Ino tidak bisa. Ia memang seperti ini sudah sejak lama, gampang panik. Ibunya pernah membawa dirinya ke rumah sakit, dan benar memang Ino didiagnosa terkena serangan panik. Ia berpikir berlebihan, dan suka mencemaskan hal yang tidak terjadi.
Sudah diputuskan, Ino akan beli obat saja. Ia butuh obat penenang untuk sementara waktu.
Begitu turun dari lantai dua, Ino justru menemukan ibu Kiba yang tidak ada senyumnya sama sekali. Entah Ino yang terlalu cemas, atau mungkin memang suasana hati ibu Kiba yang sedang tidak baik.
"Pa-pagi bu-"
"Kiba ingat kan mulai hari ini ibu yang akan mengantarmu ke sekolah?"
Ino tergugu. Ibu Kiba baru saja mengabaikannya.
"Kiba dengar?!" Suaranya mengeras.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Ino berusaha mengabaikannya dan terus melangkah menuju tempat yang ia tuju. Apotik. Semoga ada obat yang ia cari.
.
.
.
Ibu pemilik rumah tadi datang, bilang hanya pengecekan rutin. Ino pun langsung kembali ke kamar selepas ibu itu keluar, berniat tidur siang karena baru saja minum obat. Namun, Ino mendengar sesuatu yang mengerikan dari bawah. Lebih tepatnya, dari arah depan rumah, seperti sedang membicarakan gosip yang sengaja dikeras-keraskan suaranya.
"Anaknya sudah sma ya sekarang? Duh, sudah besar, gagah." Itu suara ibu Kiba sedang sedang berbincang dengan ibu pemilik rumah.
"Iya ini, masa katanya baru kelas satu sudah punya pacar." Ibu pemilik rumah tertawa menjawab pertanyaan ibu Kiba. Iya, dia tadi memang diantar anaknya ke sini.
"Waduh, baru sekolah kok sudah pacar-pacaran? Kalau anak saya sih saya suruh lulus dulu, soal pacar nanti saja. Saya tidak mau konsentrasinya kacau gara-gara perempuan."
Ino meneguk ludah, ia tiba-tiba jadi menguping dan lupa caranya tidur. Ia lantas menggigiti kukunya, ia bingung. Kiba bilang tidak perlu memikirkan apapun, bukan? Berarti ibunya belum tahu.
Ino rasanya ingin marah saja pada Kiba sekarang, dasar pembohong. Memang apa yang bisa ia harapkan dari anak sma? Selama ini saja Kiba hanya suka cengengesan kalau di hadapannya. Tidak ada satupun dari perkataan anak itu yang serius. Ya… kecuali saat ia menangis menceritakan betapa jahat ibunya. Itu baru satu-satunya cerita jujur.
Lagipula, kenapa hari ini Kiba tidak memberi satupun penjelasan? Bukankah jam sekolah sudah berakhir? Kemana anak itu?
"Ah, sial. Sepertinya obatnya tidak terlalu manjur." Ino bicara sendiri dan meraih botol obat yang ia beli tadi.
Ino menatap tiga pil yang ada di tangannya.
.
.
.
Di tempat lain…
Seorang pemuda berseragam berjalan keluar kelas dalam diam, ia bahkan tak menghiraukan beberapa teman yang menyapa, dan beberapa yang mengajak pulang bersama. Ia harus melakukan sesuatu. Ketika ibunya tadi mengantarnya ke sekolah, Kiba sudah tahu bahwa ayahnya lah yang akan menjemputnya siang ini.
Kejadian seperti ini hanya terjadi kalau Kiba berontak.
Tapi kali ini tidak bisa, tidak bisa begini.
Kiba harus menjelaskan sesuatu pada Ino, entah bagaimana caranya. Ino pasti berpikir ia melanggar perkataannya tadi malam. Ini tidak benar, sungguh. Kiba bahkan tidak tahu kalau ternyata bukan pamannya yang harus ia waspadai, ternyata ibunya sendiri.
Mana Kiba tahu kalau tadi malam ibunya berniat mengeceknya yang seharusnya belajar, hingga mengakibatkan komunikasi malamnya dengan Ino jadi terbongkar dengan mudah.
"Ibu bilang juga apa, kamu pasti kenal dengan perempuan di depan rumah itu."
Malam itu, ibunya bicara pelan tapi masih tetap saja terdengar menakutkan.
"Tidak ada apa-apa diantara kami."
"Ya, ibu juga tidak bilang ada apa-apa sih."
Kiba menghela napas lega mendengarnya. Mungkin ibunya sedang bersedia berbaik hati untuk hari ini.
"Tapi mulai sekarang, ponselmu ibu sita."
Mimpi buruk yang selalu menghantui Kiba benar-benar terjadi. Ia bahkan tidak bisa menghubungi Ino, karena ia tidak hapal nomornya. Ah, sialan. Ia harus punya rencana lain di saat-saat seperti ini.
Beruntungnya ia karena masih bisa mengingat nomor ibunya dengan baik. Ia tersenyum sekilas sambil memikirkan sebuah rencana yang tersusun rapi begitu saja di kepalanya.
"Bu, aku akan menginap di tempat Shino. Aku tidak pulang hari ini."
"Kenapa sampai menginap segala? Cepat pulang kalau sudah selesai!"
"Tidak bisa, aku minta waktu untuk hari ini saja. Ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan besok pagi. Semua teman juga sedang berkumpul di rumah Shino."
Hening sebentar di seberang telepon. "Baiklah, kalau begitu ibu dan ayah akan menjaga toko malam ini. Kalau kau tiba-tiba mau pulang, datang ke toko dulu, kunci kami bawa."
"Iya bu, terimakasih."
Begitu kakinya menapaki gerbang sekolah, Kiba tidak mendapati ayahnya dimanapun. Jadi, ia berlari sekencang mungkin.
Kiba tidak bohong, ia memang akan ke rumah Shino. Tapi ia tidak akan mengerjakan tugas apapun.
.
.
.
Malam sudah tiba, dan Kiba sekarang sudah berdiri di balik tembok gang. Ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap masuk ke dalam rumah yang disewa Ino. Bukan berarti Kiba tidak tahu caranya bertamu yang baik dan benar dengan mengetuk pintu, hanya saja ia tidak ingin ketahuan orang-orang di komplek rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, itu artinya satu demi satu manusia yang tinggal di komplek rumahnya sudah bergelung dalam selimut yang nyaman. Ini saatnya..
Kiba padahal sudah membawa peralatan untuk membobol pintu rumah tadi, karena siapa tahu Ino sedang marah dan tidak mau kalau ia datang saat ini juga. Tapi justru pintu rumah Ino tidak dikunci.
Ya sudahlah, toh makin cepat masuknya.
Dengan hati-hati Kiba berjalan melewati dapur dan ruang tamu yang menampilkan tv yang menyala. Kenapa tvnya menyala?
Kiba mendekati tv, bermaksud mematikannya kalau memang tidak ditonton. Namun nyatanya ada Ino yang sedang memejamkan mata di sofa. Kiba perlahan memunculkan segurat senyum.
Kiba makin mendekat, dan dielusnya pipi Ino yang tidak dipoles bedak sama sekali itu. Sial, tidak dandan saja sudah cantik, membuat Kiba makin deg-degan saja. Perlahan tangannya mulai merambat ke kepala, ia beralih mengelus dahi Ino yang agak sedikit berkeringat.
Pasti hari ini Ino melalui waktu yang menyebalkan. Ibunya pasti bicara macam-macam.
.
.
.
Ino tiba-tiba merasa ingin bersin, karena hidungnya gatal sekali. Seperti ada yang menggelitiki titik sensitifnya itu. Ia perlahan membuka mata, dan menemukan ada makhluk asing sedang duduk di sampingnya. Ia langsung membelalak ketika makhluk itu mendekat.
"Sudah bangun?" Bahkan makhluk itu kini bicara padanya.
"Siapa kau?"
"Siapa lagi, pacarmu lah."
Ino langsung mengucek mata, memperhatikan lebih seksama. Benar, itu Kiba. Lampunya sudah ia matikan sih.
"Kenapa kau masuk ke sini?"
"Karena pintunya tidak dikunci."
Ino mengangguk saja, masih kesal masalah tadi siang. "Ku pikir kau kabur karena tidak bisa menjaga ucapanmu."
Kiba diam, memainkan rambut Ino yang indah menurutnya.
"Aku tidak bisa tidur siang gara-gara ibumu bergosip dengan ibu pemilik rumah ini."
Ino kembali mengingat betapa tadi siang ia sempat frustasi, ia hampir menelan tiga pil sekaligus. Namun, dalam sekejap kewarasannya kembali. Ia tidak mau mati konyol gara-gara obat. Ia belum menikah. Hehehe.
"Ku rasa kau ingin bicara sesuatu padaku, kalau tidak ya sana pulang saja. Aku mau tidur." Ino hampir berdiri, tapi Kiba menahannya untuk tetap duduk.
"Bukan pamanku, tadi malam itu ulah ibuku sendiri, dia mengintip kita."
Ino menatap Kiba penasaran.
"Aku juga tidak tahu sejak kapan dia ada di sana, dan ponselku disita untuk sementara waktu."
"Apa ini artinya aku harus pindah saja?"
"Kau banyak uang ya? Pantas bisa pindah semudah itu. Dasar anak orang kaya." Kiba mengacak rambut Ino.
"Apa sih? Aku hanya merasa sudah tidak aman berada di sini, jadi aku lebih baik pindah lagi saja."
"Aku bisa melindungimu."
Ino mencebikkan bibirnya. "Anak kecil sepertimu mana bisa melindungiku?"
Kiba menghela napas lelah. "Kau selalu saja bilang aku anak kecil, padahal tubuhku saja lebih besar darimu."
"Oh, benarkah? Aku tidak tahu karena selama ini melihatmu pakai seragam sekolah." Ino menatap jahil.
Kiba yang memang mudah dipengaruhi langsung mencolek dagu Ino, semakin menggodanya. "Kau sedang menantangku?"
"Coba saja,"
Kiba tanpa perintah langsung mencopoti kancing seragamnya, dan itu membuat Ino langsung tertawa keras.
"Hei sudah, aku cuma bercanda." Ino masih tertawa melihat tingkah Kiba.
"Kau kan yang minta tadi."
Kriiieeet!
Pintu rumah orang tua Kiba dibuka, membuat Ino dan Kiba langsung diam di tempat.
.
.
TBC
.
A/N : Pengen dibikin roller coaster, tapi belum waktunya. Aku masih anak sekolah, soalnya. :(
ForgetMeNot09 : Kalau begitu, mari kita lestarikan kapal KibaIno :') Btw, kenapa dari kemarin ada aja yang menotis si yuda, hmm :( Tapi aku suka kalau dinotis gini, berdesir-desir rasanya. /digampar/
Anu…anuu… sebenenernya nama yuda itu cuma fiksi kok, bu-bukan anuanku.. bener deh… Ak-aku kan suka nulis orific juga…
xoxo : Jangan lanjut terus atuh, ntar endingnya kapan :(
Lin Xiao Li : Aku juga deg-degan loh, apalagi keinget pas ngasih surat buat gebetan. :(
Guest : Ketauan doyan brondong ya qamu :(
Jeanne : Siap, ini fast update. Mumpung mood lagi bagus. :)
RnR, yak jangan lupa. Oke? Oke? ;)
.
I'll be back soon.
Hang in there, guys.
