Title : Wednesday
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,
Rating : T
Genre : FLUFF (all of this part) and Romance (of course)
.
.
Fourth,
Wednesday!
.
.
Wednesday
.
.
Angin dingin yang tajam mengetuk-ngetuk permukaan jendela mencoba mencari tahu siapa yang ada di dalam rumah bercat putih sederhana itu. Jika dilihat dari luar, maka di dekat jendela yang terguyur air hujan, berdirilah seorang namja mungil bertubuh pendek yang menggigit bibirnya dengan khawatir. Di tangan kanannya ada sebuah handphone yang digenggam. Dia bergidik tiap kali bunyi Guntur dan sambaran kilat terdengar. Menyala-nyala membuat bagian halamannya terang selama beberapa detik. Entah mengapa perasaannya gelisah, takut dan lain-lain melihat badai hujan yang cukup lebat, sempat turun bulir es kecil tadi dan membuatnya tak nyaman.
"Yifan…"
Suho bergumam kecil sembari menutup kedua telinganya, petir menyambar-nyambar. Kilatan terlihat menyayat langit dan deritan antar ranting pohon membuat bulu kuduk Suho meremang. Kalut.
Suho memencet nomor dan memanggil Yifan, baru jam 7 malam, namun Suho merasa ini sudah sangat malam.
"Yeobose…"
Terdengar Kris mengucapkan salam, namun Suho memotongnya dengan cepat.
"Yifan…"
Suho merajuk dari sini. Dia merengek, nada bicaranya terasa mau menangis.
"Sayang? Kenapa?"
Dengan perlahan Suho menggeleng, matanya sembab, "Sedang apa? Kau kapan pulang?"
"Mungkin sebentar lagi, aku baru selesai meeting."
"Cepatlah pulang, aku takut sendirian…"
Mendengar nada bicara Suho yang tidak meyakinkannya, Kris langsung menyanggupi. Dia berjanji pada Suho akan pulang secepatnya dan meminta namja itu menunggu di dalam rumah saja. Sebenarnya Kris mendapat tawaran makan malam bersama rekannya, namun dia menolak. Kris tahu Suho, dia tidak akan betah di dalam rumah sendirian sementara badai mengamuk di luar. Meskipun dia cerewet dan selalu bisa mengatasi semuanya. Yang tidak bisa Suho atasi adalah ketakutannya sendiri. Namja itu selalu takut dengan apa yang dia pikirkan di otak. Hingga Kris harus bisa memastikannya selamat sebelum Suho menangis semalaman.
.
.
Kris memarkir mobilnya dan mengunci gerbang beserta garasi sebelum dia membuka pintu rumah, dimana lampu utama masih menyala dan keadaan yang sepi. Kris paham, cuaca memang mengerikan, dengan Guntur yang menyalak garang dan kilat yang tak henti-hentinya menyambar, angin bertiup kencang, membuat sebagian dari bajunya basah.
Tangan kekar Kris menarik gagang pintu, memutar lalu membukanya perlahan.
"Joonmyun?"
Bruk!
Sesosok mungil manusia mendekap tubuh basahnya dan menyembunyikan seluruh bagian wajah dalam dada bidang kekasihnya, sambil sesenggukan, terasa Suho mencengkram pinggangnya.
"Hei hei, sudah. Aku sudah datang."
"M..mian."
Kris tersenyum kecil, menjauhkan kepala Suho dan menghapus air matanya, mendaratkan ciuaman selamat datang pada kedua belah pipi tembam Suho. Hingga Kris bisa merasakan rasa asin dari air mata yang turun membasahi pipi.
"Ayolah, kenapa takut? Tak perlu sampai menangis begini."
Suho ikut-ikutan menghapus air matanya dan membiarkan Kris mengusap-usap kepala dan tengkuknya. Menenangkannya sembari mengecup puncak kepalanya yang terbalut rambut lembut berwarna hitam.
Merasa Suho sudah lumayan tenang. Kris mengangkat tubuh ringannya, di dalam gendongan koala dan menepuk punggungnya.
"Kalau kau takut sendirian, kau bisa meneleponku lebih awal, agar aku bisa pulang lebih cepat. Aku tidak tega membiarkanmu menangis sendirian begini."
Suho mengangguk dalam pelukannya.
"Kenapa bisa setakut ini?"
"Kyungsoo mengajakku nonton film horror tadi saat jam makan siang. Aku terbayang terus," Suho menjelaskannya dengan tangan mengusap hidungnya yang memerah.
Kris tertawa kecil, Suho ini lucu. Dia selalu menolak kalau menonton film horror namun dia penasaran. Dan akhirnya Suho akan menonton dengan ujung-ujungnya dia akan ketakutan dan akan menempel pada Kris setiap saat.
"Sudah tahu begitu, kenapa masih nekat melakukannya?"
Suho membela dirinya dengan cemberut, dia kira Kris meremehkannya hanya karena dia penakut, "Tapi aku tidak tahu kalau akan badai, adegan hantunya saat hujan badai begini jadi aku takut. Bukan salahku juga mau turun hujan!"
Tawa renyah keluar dari bibir tebal Kris sebelum dia memberikan ciuman singkat di bibir seseorang yang sedang digondongnya ini.
"Kenapa menciumku?" Suho bertanya sambil mengerucutkan bibir.
"Karena bibirmu minta dicium! Dan apa ini, kau belum mandi ya?"
Pipi bakpao itu memerah, "Aku tidak mau mandi sendirian."
Jawaban itu membuat alis sebelah kiri milik Kris naik. Dia mendekati Suho, mencondongkan hidung mancungnya pada hidung kecil kekasihnya.
"Oh… lihat, siapa yang mesum sekarang?"
"A…apa sih?"
Kris merambatkan hidungnya pada pipi dan bibir kekasihnya.
"Tidak puas kemarin malam hum?"
Telinga yang tadinya hanya merasa panas kini nampak memerah pekat.
"Bu..bukan! Jangan bicara aneh-aneh. Aku bukan bermaksud seperti itu! Jangan menggodaku terus."
Suho memukulkan kepalan tangannya pada lengan Kris dengan keras dan cepat, memandang kekasihnya dengan tatapan mengiba.
"Iya iya, arraseo. Kita mandi, aku tidak akan menggodamu lagi."
Dengan cepat Kris meletakkan tasnya di meja dan menggiring Suho menuju kamar mandi.
.
.
Seakan tak peduli dengan cuaca di luar yang semakin memburuk, seusai mandi Suho langsung membiarkan Kris memanjakannya. Walaupun hanya dengan cara mengusak rambutnya yang basah karena keramas tadi, Suho sudah senang. Bathrobe yang ia kenakan masih melekat di tubuh mungilnya sementara Kris juga mengenakan pakaian yang sama. Bathrobe putih besar yang membungkus tubuh bidangnya.
"Jangan bergerak terus. Aku tidak bisa mengeringkanmu!"
Suho diam di atas ranjang sementara Kris mencoba mengeringkan rambutnya yang basah.
"Hehe…"
Namja tinggi itu menaikkan alis, tak mengerti alasan mengapa Suho tertawa kecil melihatnya. Kris hanya menunduk melihat Suho berdiri di depannya, dengan kedua tangan menggenggam erat pinggangnya. Tersenyum.
"Astaga, ada apa ini hum? Aku lihat seseorang sedang berusaha merayuku!"
Kris tertawa, sementara Suho hanya cemberut. Hanya sebentar sebelum namja mungil itu ikut-ikutan tertawa, melingkarkan lengannya di pinggang Kris dengan erat. Meminta lebih dari sekedar pelukan.
Dan itu semua berakhir dengan terus menempelnya Suho di lengan Kris. Meskipun kekasihnya yang tinggi itu sudah membantunya berganti baju, memakaikan lotion dan menyisir rambut, Suho masih enggan lepas. Dia bilang 'Takut' entah karena apa. Tapi Kris juga tidak masalah sih, kapan lagi Suho akan menurut dan bertindak senang hati seperti ini.
Kris menangkup kedua tangan mungil Suho pada genggamannya yang hangat dan lebar. Menciumnya membuat kedua pipi gembil Suho memerah. Tubuh yang terbalut sweater kuning gading itu perlahan mendekati tubuh kekasihnya, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kris dan menghirup aroma maskulin namja tinggi itu dari sana.
"Ada apa?"
Kris bertanya seraya membawa Suho dalam dekapan.
"Aku ingin bersamamu."
"Kau sudah bersamaku."
Suho mengangguk kecil, "Lebih. Lebih lama lagi, seperti ini."
Kris mencium kening Suho yang tertutup poni, membawanya dalam suasana nyaman meskipun sesekali terusik oleh dengkingan petir. Hal itulah yang Suho takutkan, Suho tidak terlalu suka suara petir menyambar kencang. Itu membuatnya tidak nyaman dan ingin terus menutup telinganya.
"Hanya petir. Tidak apa."
Kris memaksa Suho membuka kedua daun telinganya yang tertutup telapak tangan. Mengendus aroma wangi seperti bayi dari tubuh Suho membuatnya menggeliat kecil.
"Ayo makan. Kau mau makan? Atau camilan?"
Mendengar hal itu, Suho sontak berdiri. Mengangguk semangat. Dia memang lapar, menunggu Kris pulang dengan ketakutannya sendiri membuat pikirannya mendadak ikut-ikutan lelah.
"Baiklah, ayo!"
.
.
Suara desahan muncul dari ruang tengah. Di atas sofa putih itulah, seorang tubuh terhimpit, dengan bibirnya yang sedang ditawan pria yang ukuran badannya lebih tinggi darinya itu.
"Ungh…"
Kris menahan tubuh kekasihnya, membiarkan mulut mereka masih menempel memberebutkan sebulir stroberi di dalamnya. Suho menatap Kris dengan irisnya yang gelap, wajahnya merah bahkan hanya dengan merasakan namja tinggi itu melumat bibir bengkaknya. Membuatnya mau tak mau harus membalas dan menahan desahannya yang makin terdengar jelas.
Senyuman menyebalkan hadir di sudut bibir pria berambut coklat itu, dia suka saat yang seperti ini, saat Suho menyerah bahkan hanya dengan proses make out di atas sofa. Sampai buah manis berwarna merah di mulut mereka berdua telah habis menghilang, Kris tak memperdulikannya. Suho terlihat makin betah, hingga liur menetes karena lidah Kris membelit lidahnya tak sabaran. Kedua kepala itu bergerak ke kanan dan kiri, mencoba membelai seluruh bagian bibir keduanya, hingga Suho tak menyadari kalau-kalau rambut Kris berantakan, berkat dari remasan jari-jari mungilnya yang meminta lebih.
"Ukh!"
Pekikan itu terdengar bersamaan dengan putusnya tautan bibir mereka.
Dan Kris bisa melihat wajah Suho yang pucat. Ia menyadari, petir yang barusan menyambar membuat jendela bergetar dan menyebabkan bunyi gemuruh. Dia melihat saliva yang tersisa di ujung bibir kekasihnya yang masih mematung.
"Hei hei sudahlah."
Suho mendongak, merasa tangan lebar Kris mengusap ujung bibirnya, membersihkan semua kekacauan di tubuh mungilnya. Mulai dari rambut, wajah dan pakaian yang mulai berantakan.
"Maaf."
Kris menggeleng dan tersenyum kecil saat dia merasa Suho juga membantunya dalam hal yang sama, mengusap rambut untuk merapikannya, baju serta bekas-bekas liur di sepanjang bibir kekasihnya yang entah mengapa membuatnya malu.
"Kau masih takut? Masih membayangkan adegan film horror itu?"
Suho mengangguk, sebenarnya dia sebal. Mengapa otaknya masih mengingat dan enggan melupakannya.
"Dengar. Itu semua tidak nyata. Buang pikiran anehmu dan jangan kau pedulikan."
Lagi-lagi ia hanya mengangguk.
"Ingat saat kita bersama dan merasa hangat dalam pelukan. Maka kau tidak perlu takut lagi."
Suho menunduk, tetap seperti itu bahkan saat Kris menariknya mendekat, menaikkan dagunya dan mulai mengeluarkankan lidahnya yang panjang. Menjilat seluruh permukaan bibir kekasihnya, perlahan, membuat Suho memejamkan mata, meminta lagi. Sehingga suara decakan terdengar, timbul dari kecupan ringan yang terus terjadi antara keduanya.
"Hei, tertawalah. Aku ingin mendengarmu tertawa. Biasanya kau selalu mengeluh geli kalau aku menjilatmu begini, atau juga kau akan mengataiku jorok?"
Teringat kejadian waktu Suho marah-marah hanya karena Kris menjilatnya, ia lantas tertawa menampilkan giginya yang rapi.
Suho tersipu, memukul lengan kekar Kris saat pemuda itu menghisap sebentar bibir bawahnya.
"Mesum!"
"YA! Kau yang suka kenapa aku yang selalu di bilang mesum hah?"
Tawa keras muncul dari mulut mungil Suho, ia hendak berdiri untuk menjauh namun gagal saat tangan kekasihnya lebih cepat menahan pergelangan tangannya, menggelitiki pinggang rampingnya cepat-cepat.
Keduanya baru bisa berhenti saat jarak kedua wajah mereka tak tebih dari 5 senti. Membuat aura make out yang tadi menyingkir kini kembali, tak sanggup menahan godaan bibir merah Suho, Kris merasa dia harus cepat-cepat menempelkannya, menghisap dan melumatnya sampai puas.
Namun, semuanya harus terhenti saat tiba-tiba lampu padam, mengundang lengkingan terkejut Suho yang langsung menghambur memeluk tubuh bidang kekasihnya. Menyembunyikan wajah dan hampir terisak disana.
Gelap.
"Mati listrik," Kris bergumam sebari menepuk punggung sempit Suho. Menenangkannya dari syok. Satu lagi hal yang dibenci Suho saat hujan badai selain petir dan kilat. Adalah kemungkinan mati listrik yang membuat gelap, Suho tidak terlalu suka gelap, apalagi sendirian.
"Sshh… tenanglah, sudah aku bilang kalau ini tidak apa-apa."
Suho mengangguk dalam pelukannya namun masih terdengar suara samar-samar deru nafas yang tak beraturan.
"Jangan takut oke, kau mau ikut aku mengambil lilin di dapur?" Kris berdiri, membawa pergelangan tangan Suho yang langsung menyambutnya cepat.
Keduanya bercengkraman erat, dan entah mengapa, saat tangan mungil itu tergenggam, hangat dan nyaman perlahan mampir dan berdiam diri di tubuh mungil pria berparas manis itu.
.
.
Keduanya berdiam diri di ruang santai. Sebuah sudut ruangan kecil tanpa kursi dan hanya beralaskan karpet tebal yang empuk dan bantal-bantal bertaburan di sana. Ruang kecil yang juga terdapat televisi dan rak-rak buku itu terlihat nyaman karena ada di ujung memberikan kesan nyaman dan hangat.
Suho duduk di sana, sementara Kris datang dengan membawa selimut tebal yang lebar dan beberapa buah bantal. Lilin kecil yang menyebarkan bau harum Kris letakkan di meja yang agak jauh dari keduanya. Namun masih memberikan cahaya remang.
"Serius mau tidur di luar?"
Suho mengangguk saat Kris bertanya dengan nada khawatir.
"Takut di kamar."
Kris tertawa dan menyanggupi saja permintaan kekasihnya. Diletakkannya juga boneka lumba-lumba besar di samping Suho membuat sekitar mereka penuh dengan bantal dan benda-benda berbulu yang hangat.
Sementara Suho memakai kaus kaki tebalnya, Kris membenarkan sweater milik Suho dan merapikan rambut kekasihnya. Dirinya juga merapatkan jaketnya sendiri serta memakai kaus kaki bermotif sama dengan milik Suho. Warnanya biru laut, dengan motif Dalmatian putih.
Kris yang duduk bersandar pada dinding membawa Suho yang ringan dalam pelukannya. Mendudukkannya dalam pangkuan dan menyingkap poninya, memberikan belaian di pipi dan lengannya.
"Aku jadi seperti menggendong bayi."
Suho tersipu, menyembunyikan wajahnya. Malu.
"Tidak apa-apa, tidurlah kalau lelah…" Suho terkikik ringan saat Kris makin mengendus wajahnya, lagi-lagi seperti ini, membuatnya merasa diterpa nafas yang panas.
Suho memberikan kecupan ringan di bibir Kris sebelum kekasihnya itu menepuk punggung dan menggumamkan nyanyian ringan. Hingga mata itu terlihat makin berat, Suho mengusakkan hidung mungilnya pada dada Kris dan mendengkur halus disana. Meringkuk seperti bola pada Kris yang langsung membungkus tubuh keduanya dengan selimut tebal.
"Tidurlah. Sshh…"
Barulah saat Suho benar-benar tertidur dalam pelukan kekasihnya, Kris tersenyum melihat wajah Suho yang tertimpa cahaya remang itu begitu damai. Lelah dengan pikiran anehnya sedari tadi membuat Suho begitu nyaman dalam tidurnya.
Diletakkannya Suho di atas bantal, karena lengannya terlalu lelah menyangga kepala Suho. yang langsung disambut dengan erangan manja dan remasan di sekitar jaketnya. Memaksa Kris agar ikut berbaring dan merapatkan diri.
Jarum menunjukkan pukul 12 malam, baru saat itulah badai berhenti mengamuk, berubah menjadi gerimis halus yang damai, dengan desiran angin yang lembut. Seolah tak mau mengusik dua manusia yang sedang tertidur dalam pelukan masing-masing.
.
.
Suho menyeduh teh melati di atas teko saat melihat Kris menganakan jas keluar dari kamar. Berisap berangkat kerja bersamanya.
Ciuman singkat Suho berikan pada kedua belah pipi tirus Kris sembari mengoleskan mentega pada roti keringnya, dengan sosis dan telur goreng yang ada di dalam piring.
"Aku rasa aku tidak keberatan kalau badai lagi nanti malam."
Kris menaikkan alis, meminta penjelasan dari ucapan Suho.
"Karena aku bisa memintamu pulang lebih cepat lagi, manja-manja padamu lagi, seperti semalam."
Kris mendekati tubuh kekasihnya yang mungil, mensejajarkan wajah, "Kau mau aku pulang cepat?"
Dengan semangat, Suho mengangguk.
"Aku akan pulang lebih cepat, tak peduli itu badai atau apapun."
Ciuman kecil Kris berikan pada bibir kissable milik Suho, menghisapnya cukup lama hingga berakhir dengan sebuah lumatan ringan.
"1 jam lebih cepat?" terdengar Kris menawar.
Suho menggeleng, tak setuju.
"2 jam, lebih cepat dari biasanya."
Kris tertawa, menggendeng lengan Suho yang kecil.
"Baiklah!"
.
.
.
Wednesday
END
.
.
RAE PULANG KAMPUNG YUHUUU !
Karena kelas 12 sedang UN, jadi Rae boleh balik ke habitat asalnya Rae. YIPPIE!
Dan Well, maaf karena Wednesday-nya baru upload sekarang karena belakangan ini rae demam. Semakin parah karena cuaca yang enggak menentu. Berhubung sudah baikan, rae menyempatkan diri mengupload. Terima kasih doanya juga di kotak review.
Untuk Thursday, entahlah rae belum ada ide yang menarik di otak. Wkwk.
So, please give me more suggestion and support.
Thanks !
.
.
#RAEPULANG
#SENENGBANGETMESKIPUNPRNYABANYAK
#SAYANGKRISHO
#SAYANGREADERS
#MUAH!
.
Much Love :*
SungRaeYoo
/bow/
