Chapter 4 : Sianida dalam secangkir kopi- [Part 2]
.
-Eksperimen
.
Yakinkah engkau dengan pilihan dan jawaban sendiri? Terkadang, manusia sering bingung dan ragu akan keputusan diri sendiri…
.
Cklek-
Pintu ruangan seseorang terbuka lebar. Menampakkan seorang pria paruh baya yang terlihat hanya menggunakan mantel mandi berwarna putih polos panjang sampai bawah dengkul. Kakinya tertutupi oleh sendal ruangan yang berwarna merah marun. Irisnya yang berwarna merah api menatap kaget pria dihadapannya yang memiliki iris keemasan.
Tentu pria yang masih menggunakan seragam detektif khas BlazzingRims juga ikut-ikutan kaget melihat atasannya yang sedang menatapnya. Apalagi pakaiannya yang tidak mendukung bahwa dia adalah seorang atasan.
Perasaan canggung mulai mengelut hati sang pria beriris keemasan tersebut. Mulai merasakan perasaan canggung dari bawahannya, pria beriris merah api itu tersenyum gentle sembari menumpukan sikutnya pada bibir pintu. Menahan tubuhnya yang kekar. Ia menundukkan sedikit kepalanya agar sejajar dengan pria didepannya.
"Selamat malam Inspektur Gempa.. kenapa berkeliaran jam segini? Bukankah para Polisi BlazzingRims tidak diizinkan keluar ruangan masing-masing sesudah jam 10 malam, terecuali setelah mendapatkan izin dari saya? Tapi, kenapa Inspektur bisa keluar tanpa seizin saya?" Dia mencoba berbicara secara lembut tapi tegas terhadap inspektur yang tak lain adalah adik –angkat- nya sendiri.
Gempa terdiam karena lupa ada aturan seperti itu di kantornya. Ia hanya bisa meratapi nasibnya yang paling pelupa ini. 'Kenapa aku bisa lupa? Kenapa bisa lupa?' rutuknya dalam hati. Dengan cepat, ia segera memberikan hormat layak prajurit dengan jendralnya. Lalu membungkuk meminta maaf. "Ma-maafkan saya Jendral. Saya telah melanggar peraturan di BlazzingRims. Demi menembus semua kesalahan saya, saya siap diberi hukuman apapun dari Jendral."
Tertawa, Blaze mencoba memelankan suaranya agar tak membuat ribut lorong kantornya. Gempa menatap bingung pada wajah Blaze. Blaze akhirya bisa menahan tawanya dan lebih beralih untuk berbicara empat mata dengan adiknya.
"Tak usah segitunya Gem, kakak tau kamu lagi sibuk…" Blaze mengacak surai kehitaman Gempa. Gempa hanya bisa diam menerima rambutnya yang acak-acakkan. Ia menatap dalam Blaze sebelum kakaknya kembali menanyainya beberapa hal,
"Mau kemana memangnya? Kayaknya buru-buru.."
Gempa mengganguk pelan. Jari telunjuknya menunjuk kearah lorong kantor yang panjang namun sunyi. Mengingat ini sudah pukul setengah sebelas malam dan memang ada aturan dilarang keluar dari kamar asrama tanpa seizin Jendral Blaze. "Ingin ke lab. Minta hasil autopsi korban sianida."
Blaze mengerutkan dahinya, "Lah, Serda Halilintar dan Serda Taufan mana? Bukankah mereka sudah mengautopsi korban?"
"Tentu. Yah, mereka memang pintar. Cuman, perdebatan merekalah yang tidak bisa kuladeni lagi. Aku sudah capek…"
Blaze menepuk-nepuk bahu Gempa. Sembari memberinya tatapan sedih buatan. "Hah, ya sudahlah… kadang dunia kan memang tidak adil… kau tau kan?" Gempa hanya mengganguk pasrah sambil menghela nafasnya panjang. Blaze menyudahi tepukan penyemangatnya.
Gempa mendangak, menatap jendralnya yang berpakaian seperti orang kehabisan air saat mandi. Bahkan, ditangan kanan kakaknya ada sebuah tas hitam kecil, Gempa pun sadar jika kakak angkatnya itu juga ingin keluar dari ruangannya.
"Kak, kakak sepertinya mau keluar juga? Kakak terlihat sehabis mandi.." Curiga Gempa yang langsung diberi wajah cengengesan dari Blaze.
"Ah iya! Beruntung kamu ada disini, kakak sekalian minta izin untuk pinjam kamar mandimu ya? Kebetulan kran air panas kakak mati. Dan, kau tau kan? kakak benci dengan air dingin?"
Sungguh, Gempa membantin dalam hatinya mempunyai kakak angkat yang anehnya seperti ini. Sudah berumur 29 tahun dan nyaris saja berkepala tiga, tapi masih tidak mau mandi dengan air biasa atau air dingin?! 'Sebenarnya kenapa kakak bisa menjadi Jendral kalau tak pernah merasakan air dingin?'
Gempa segera menepis semua pikiran negatifnya lalu beralih ke Blaze yang masih menatapnya dengan cengiran lebar nan erotis.
"Ah.. kalau mau pakai, pakai saja kak. Tanya saja dengan Serda Halilintar dan Serda Taufan." Balas Gempa berusaha menyempurnakan senyumannya. Blaze hanya mengganguk mengiyakan.
"Ya sudah. Urusi korbannya. Kalau ada masalah tanya sama kakak saja.." Blaze menutup pintu ruangannya sembari berjalan pergi menuju arah utara. Gempa hanya membungkuk sebentar, lalu kembali berjalan berbalik kearah selatan. Berlawanan dengan Blaze.
.
.
.
"Ahh… aku pusing!" Teriaknya frustasi. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang berparas cantik.
Wanita itu memakai kerudung berwarna oranye kemerahan, dengan bros bergambar BlazzingRims sebagai penyemat ekor kerudung. Jas kedokterannya yang berwarna putih bersih itu sepanjang lutut. Namun, dia tidak meyelipkan kancing-kancing jasnya, ia membiarkannya terbuka bebas. Menampakkan kaos lengan pajangnya yang berwarna hitam-keabu-abuan. Celana jeans biru panjang dan flatshoes berwarna hitam-garis biru itu semakin menyempurnakan seluruh dandanannya.
Dengan malas, ia mengambil pulpennya yang tergeletak di sebelah note kecil. Wanita itu mencoba menulis beberapa kalimat lagi. Dan beberapa kali wanita itu juga menghitung lewat jari-jarinya. Yah, bisa dibilang, hitung jari lah…
Wanita itu seorang dokter handal dan dokter terhebat dikantor ini. Kepintarannya melebihi ambang batas jika sudah bertemu dengan obat maupun ramuan. Bahkan dia pun sanggup ber-survival ditengah hutan sekalipun tanpa bekal. Semua anggota maupun awak di BlazzingRims yang terkena penyakit, ataupun terluka dalam perang, langsung ia tangani meski memakan waktu yang cukup lama. Dokter itu selalu murah senyum serta sopan santun.
Dokter Yaya namanya.
Tapi, senyumannya tidak bisa kita lihat sekarang. Wajahnya terlihat sedang serius dan sedang tidak ingin diganggu untuk waktu yang sebentar. Maniknya terus bergerak dari kiri-kekanan. Kadang memutar, kadang juga terlihat seperti menyerah. Namun, dia segera bangkit dan kembali menuliskan sesuatu dalam notenya.
"Sianida dibagi menjadi beberapa macam. Yang paling familiar sih, bubuk dan cair. Jika sianida bubuk biasa tidak larut dalam air. Tapi, apa mungkin yang ini bisa larut? Atau.. ini memang sianida cair? Sebenarnya ini gimana sih?! Somebody help please!"
Kreeet- Pintu ruangan dokter tersebut bergeser terbuka. Yaya menoleh kebelakang mendapati pintu ruangannya terbuka.
"Ehm.. Selamat malam dokter Yaya. Saya kemari ingin mengantarkan teh susu pesanan anda.. maaf menggangu aktifitas dokter…" Gadis berumur sekitar 19 tahun dengan tinggi 159 sentimeter, berdiri tegak diambang pintu. Tangannya membawa nampan berwarna biru muda bercorak batik mawar putih-biru. Diatas nampan berdiri disana sebuah gelas berkaca bening berisi teh susu hangat yang masih mengepul-ngepulkan asap panasnya.
Gadis itu masih nampak mengenakan seragam polisi khusus wanita. Rambutnya yang berwarna coklat kehitaman karena blasteran Indonesia-Belanda ia ikat ekor kuda dengan poni disisihkan kesamping kanan. Memakai celana pendek hitam diatas lutut, dan memakai sendal ruangan berwarna putih lembut. Kaos kaki hitam menyelimuti kakinya yang putih mulus. Senyumannya begitu manis, benar-benar menampakkan perpaduan antara dua negara tersebut. Yaya tersenyum. Dia tahu siapa gadis manis ini,
"Ah, Bharada Corra. Masuklah… jadi repot harus mengantarkan nih.." Serunya diikuti tawa ringan dari mereka berdua.
Gadis polisi berpangkat bharada itu melangkahkan kakinya memasuki ruangan kedokteran. Dengan susah payah ia menutup kembali pintu ruangan. Yang akhirnya berhasil meski hampir terjatuh nampan yang dibawannya.
"Masih membantu Inspektur mengautopsi korban, dok?" Tanya bharada manis itu sambil duduk dimeja sebelah meja kerja Yaya setelah memberikan gelas bening itu ketangannya.
Yaya menyeruput sedikit teh yang masih panas tersebut. Ia pun juga meniup-niup pelan tehnya dan kembali menyeruputnya sedikit banyak. Setelah meletakkan gelas itu kembali pada tempatnya, Yaya melipat kakinya sambil bertopang dagu malas. Matanya menatap note didepannya.
"Iya. Susah sekali… sampai-sampai aku bingung nih, bantuin dong Corra…"
Corra mendekatkan wajahnya pada note kecil milik Yaya. Mencoba membaca tulisan yang tertulis rapih di note tersebut. Seketika juga, dia menarik kepalanya lagi, lalu memberi saran pada Yaya, "Yah, kalau ini sih, tanya langsung lah sama Inspektur Gempa. Orang, dia kan yang survei langsung ketempat?"
"Masa mau kesana malam-malam begini? Kurang sopan tau." Semprotnya kesal. Semangat yang membara dari hati bharada itu langsung padam karena disemprot dengan tajam oleh dokter Yaya. "Coba Ipda Gempa kesini sendiri~" Harapnya.
Hening mulai menyelimuti suasana berisik tadi. Mereka hanya bisa berpandang dalam diam. Lalu secara cepat menoleh atau mencari kesibukkan sendiri. suasana diruangan memang begitu sepi. Hanya suara Air Conditioner yang menjadi satu-satunya sumber kebisingan. Itu pun tak terlalu berisik.
Kreeet- Pintu ruangan laboratium kembali bergeser terbuka.
Yaya dan Corra langsung menoleh ke pintu ruangan. Mata mereka seolah membulat sempurna melihat seorang pria dengan tinggi 180 sentimeter yang sedang ikut menatap mereka secara bergantian. Wajahnya yang begitu semapai, tatapannya yang lembut, iris emasnya yang menawan, dan.. pangkatnya Inspektur Polisi Dua. Oh iya, itukan Ipda Gempa.
"Assalamu'alaikum Dokter Yaya. Apakah saya menggangu malam anda? Dan.. Bharada Corra? Kenapa Bharada Corra bisa ada di lab?" Tanya ipda itu beruntun. Dia mengambil satu langkah memasuki ruangan dan kembali menggeser pintu agar tertutup. Baru setelah itu, Gempa mendekati mereka yang langsung berdiri tegak memberi hormat. Terutama, Bharada Corra yang pangkatnya masih jauh dibanding pangkatnya Gempa.
Mereka berdua langsung kikuk ketika melihat Gempa yang datang secara tiba-tiba. Ternyata permintaan mereka menginginkan ipda tampan itu untuk datang terkabulkan. Gempa yang memang dari awal benci hening, akhirnya berdehem keras yang membuat kedua wanita itu terlonjak kaget. "Kenapa anda berdua diam saja?"
"A-ah.. maafkan kami Inspektur.. tapi, saya berada disini untuk mengantarkan minuman pesanan dokter. Sudah itu saja." Ucap Corra diselingi rasa takut. Gempa mengganguk memaklumi.
"Ya sudah. Apa itu saja? Kalau memang tak ada keperluan lagi silahkan kembali ke kamar anda, Bharada Corra."
Corra mengangguk malu, dan pamit untuk meninggalkan lab. Setelah diyakini pergi, Gempa menatap note yang berada diatas meja kerja Yaya. Irisnya melebar senang, ia menepuk pelan kursi putar dokter Yaya. Wajahnya sumringah,
"Analisis kah? Sedang buat analisa ya?" Tanya Gempa. Menatapi note kecil tersebut. Yaya tertawa kecil melihat Gempa yang senang. Dia mengganguk mengiyakan.
"Ha'ah. Tapi.." Yaya kembali duduk denga tangan meraih note itu dan mengetuk-ketukkan jarinya didagu bingung, wajah Gempa yang sedari tadi memancarkan kebahagian, kini terlihat suram menatapi wajah Yaya yang bimbang. "Kenapa, Dok?"
Yaya menghela nafas pelan. "Inspektur, kalau boleh tanya ya… ehm, Inspektur sudah survei ke TKP belum? Sudah menemukan barang-barang yang mencurigakan atau semacamnya tidak? Habisnya, saya bingung…"
Gempa mengernyit heran melihat Yaya yang menatapnya seolah tak percaya kalau dia sudah survei ke Tempat Kejadian Perkara. "Sudah kok. Apanya yang bingung, sih?"
Yaya menjelaskan analisis dugaan sementaranya,
"Begini. Dari yang saya uji coba di lab, kopi tersebut mengandung sianida. Namun, saya masih bingung, ini sianida bubuk atau sianida cair? Biasanya sianida bubuk yang kita kenal di medan peperangan, tidak larut dalam air. Nah, kalau seandainya sianida cair, pasti ada botol sianida tersebut. Setidaknya kita bisa melihat, ada tidaknya sidik jari yang tertempel dibotol tersebut dan kasus akan cepat selesai, bukan? Tapi, Inspektur tampak tak menemukan barang bukti apapun. Jadi, ini sianida cair, atau sianida bubuk?"
Gempa bergeming. Lagi-lagi dia merutuki sifat pelupanya.
DIA LUPA UNTUK MENGELEDAH DAPUR CAFÉ TERSEBUT.
Tak lama, Gempa pamit dan langsung berlari cepat menuju ruangannya. Yaya hanya bisa terbengong-bengong menatapi punggung lebar Sang Polisi tampan tersebut yang semakin lama semakin menjauh. Ia menunduk. Menatap dalam notenya dengan perasaan yang tak diduga.
"Ternyata belum."
.
.
.
BRAAK!
"Halilitar! Tolong jelaskan secara rinci apa itu sianida bu- eih? Ada apa ini?"
Ketiga pasang mata menatap kaget sepasang manik keemasan yang nampak kaget dengan kejadian yang dilihatnya. Gempa memang benar-benar bingung sekarang. Sudah dibuat pusing 4 keliling oleh kasus, pusingnya ditambah 3 lagi, dan menjadi tujuh keliling saat menemukan kedua adiknya sedang bertelanjang dada, menyisakan celana panjang hitam dan sabuk hitam dengan logo BlazzingRims, ditambah dengan tubuh mereka berdua diguyur keringat lumayan deras. Wajar sih, mereka kan lagi push-up dengan satu tangan.
Dan lagi, ada Jendral Blaze yang masih menggunakan mantel mandi. Persis yang tadi ia temui sejam yang lalu. Namun, wajahnya terlihat kesal bukan kepalang. Gempa hanya bisa menatapi mereka dengan tatapan polos, bagai anak bocah yang kehilangan orang tuanya saat pergi kepasar.
Taufan meringis meminta pertolongan pada Gempa, "Ahh~ Kakak~ tolong aku… aku sudah gak tahann…" Ringisnya mulai gemetar dari posisi. Sementara Halilintar tetap fokus pada kegiatannya.
Tak mau dibuat pusing, langsung saja Gempa bertanya pada Sang Jendral. "Maaf, Jendral Blaze. Tapi, bolehkah saya mengetahui, apa yang terjadi di ruangan saya?" Tanya Gempa sopan dengan senyum kecut. Mengabaikan Taufan yang terus merengek minta tolong padanya.
Blaze menyilangkan tangan di dada, urat perempatan muncul di pelipisnya, dengan wajah mencaci maki, ia membentak kedua polisi yang terlihat seperti melanggar aturan.
"Silahkan, Inspketur menyalahkan anak buah anda, karena mereka sudah berani berbuat kurang ajar pada saya."
Gempa melirik sebentar kedua serda itu yang terus melakukan push-up. Dengan senyum grogi, ia kembali menatap sopan Blaze yang lebih tinggi darinya.
"Uhm.. apa yang telah dilakukan mereka, Jendral? Aku tak bisa menyalahkan mereka jika tidak tau penyebabnya…" Tawa canggung Gempa memecah hening. Blaze mendengus kesal. Ia memulai cerita kenapa dia bisa menghukum kedua adiknya.
.
"AKKHH! Kita ditipu kak Gempaaa!" Teriak Taufan mengacak rambutnya. Halilintar yang masih menunjukkan wajah dinginnya hanya bisa berdiri terdiam diatas meja kerjanya. Padahal, meja kerja itu seperti nyaris patah karena tak kuat menompang tubuhnya yang berat. "Iya. Bisa-bisanya dia kabur meninggalkan kita berdua saja."
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu terdengar. Sepasang iris merah-biru itu melirik. Seketika mereka menyeringai.
"Kita kerjai dia balik!" Ucap Taufan semangat. Halilintar nampaknya setuju walaupun wajahnya masih terlihat datar.
Taufan mengendap-endap menuju pintu dan berdiri layaknya pasukan khusus yang siap menyergap teroris. Dari atas meja, Halilintar bersiap-siap melemparkan sepatunya yang berbobot nyaris 40 kilogram.
Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu terdengar kembali. Berbekal isyarat tangan, Taufan disuruh Halilintar tuk mematikan lampu. Setelah ruangan gelap. Taufan dengan cepat membuka pintu dan berjongkok.
Kriiet… Seorang pria dengan berbaju putih memasuki ruangan dengan langkah pelan-pelan. "Serda Taufan? Serda Hali- ASTAGHFIRULLAH!"
Taufan menyeringai bangga berhasil menarik kedua kaki pria tersebut hingga nyaris terjatuh. Belum saja wajahnya menghantam lantai, mendaratlah, sebuah sepatu dikepalanya dengan anggun.
BRAK!
GEDUBRAK!
"Yeeey~ kita berhasil Hali! Cihuuy~ rasakan tuh, kak Gempa!" Ejek Taufan loncat-loncat kegirangan. Sementara Halilintar melompat dari atas mejanya sembari mendekati pria yang tersungkur itu.
Taufan menyalakan lampunya. Seketika, mata milik Halilintar membulat melihat pakaian pria tersebut.
"Taufan, bukankah kak Gempa keluar dengan seragam detetif baru kita? Bukannya mantel mandi seperti ini?" Tanya Halilintar panik. Taufan berhenti bersorak lalu memerhatikan sejenak pakaian pria tersebut ragu.
"Kayaknya, iya deh Hal…" Jawab Taufan mulai dilanda rasa aura seram.
"Grr..."
Pria tersebut berusaha berdiri tegak dengan gerakan terhuyung. Yang membuat kedua serda kurang ajar tersebut mundur selangkah. Tangan pria berpakaian mantel mandi putih halus tersebut memegangi belakang kepalanya yang tadi menjadi landasan mendaratnya sepatu Halilintar. Matanya masih mengatup erat. Menahan pusing yang semakin kuat. Halilintar dan Taufan menelan ludah mereka. Ia ingin memastikan, siapa orang ini.
Lewat iris matanya.
Pria tersebut membuka matanya pelan. Terpampanglah iris merah menyala bagai api berkobar. Tatapannya tajam seolah membunuh kedua orang tersebut. Pria tersebut mendengus geram.
"Ini kan.."
"Jendral Blaze!"
Pria tersebut terdiam sebelum suara teriakan memecah keheningan dan kesunyian dimalam kelabu.
"PUSH-UP 150 KALIIIII!"
.
Gempa terkikik kecil mendengar cerita konyol kedua adiknya. Sementara kedua adiknya nampak memberinya tatapan 'membunuh' dari belakang.
'INI SEMUA BERKAT KAKAK!' yah, batin mereka bersamaan.
Gempa tersenyum cerah mendengar adiknya yang dihukum seperti itu. Bahkan Gempa mengizinkan Jendral Blaze tuk menghukumnya lebih lanjut karena telah berbuat hal durjana seperti itu.
"Ya.. Jendral Blaze, saya menyalahkan mereka. Mereka memang suka ribut. Jadi, saya berharap Jendral memaklumi mereka. Silahkan berikan mereka hukuman yang setimpal." Blaze hanya mendengus kesal memutar bola matanya. Padahal Taufan dari tadi sudah meringis kelelahan.
"Ah~ Jen-jendral Blaze.. ampuni Saya Jendral… huufft! Saya lelah… ampuni saya.." Mohon Taufan nyaris tumbang.
Blaze tambah kesal. "Kamu baru saja 50 push-up! Halilintar, kau boleh berhenti. Kau sudah push-up lebih dari 150. Jangan diulangi lagi perbuatan tadi. Mengerti?"
Halilintar berdiri. Menepuk-nepukkan tangannya membersihkan debu yang menempel. Tatapannya menunduk bersalah.
"Dimengerti. Maafkan saya, Jendral Blaze." Halilintar mengatur nafasnya. kedua tangannya diletakkan di pinggang. Otot dadanya begitu kencang, ditmabah lagi perut sixpack nya yang semakin memperindah lekuk tubuhnya. Dan, jangan lupakan keringat yang menetes dari kepala hingga jatuh melewati dadanya. Ah~ Sexy boy!
Blaze mengganguk. Ia meminta Gempa tuk mengantarnya kekamar mandi. Dengan senang hati Gempa mengantar kakaknya menuju kamar dan memberi tau kamar mandinya. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Gempa kembali berjalan mendekati mereka.
"Olahraga yang asik ya~"
"ASIK APANYA?!" Sembur Taufan jengkel. Tangannya terus dia kibas-kibas kewajahnya yang basah karena keringat. Gempa terkikik kecil. Halilintar menatapnya datar.
"Tadi apa panggil-panggil?" Tanya Halilintar yang masih mengingat ketika Gempa dengan tergesa-gesanya memanggil nama polisi ganteng dengan rating pertama itu. Gempa pun terkejut dan teringat lagi akan tujuan utamanya kembali cepat kekamar.
"Perincian sianida bubuk.. Bisa tolong bagi tau?"
Halilintar hanya mengganguk pelan. Ia menarik nafas panjang, "Sianida bubuk bisa terbuat dari seratus biji apel yang dihaluskan. Setelah melewati proses, sianida bubuk berciri-ciri, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Namun, sianida mirip denga garam. Yaitu, mudah larut. dan tidak mampu mengubah warna suatu minuman atau makanan yang diberikan. Efeknya sama saja dengan sianida-sianida yang lain." Taufan pun ikut serius menyimak penjelasan dari Halilintar. Gempa kembali berpikir dengan tangan diletakkan didagu.
Taufan kemudian berseru kencang, "Ah! Kita belum menggeledah dapur café bukan? bahkan kita juga belum menggeledah tas mereka semua. Bisa-bisa saja mereka menyembunyikan serbuk sianida, atau botol sianida cair. Itu akan membuat kita mudah menemukan sang pelaku." Usul Taufan yang langsung diberi komentar tegas dari Blaze yang baru keluar kamar mandi.
"Tidak semudah itu, Taufan. Dari yang kita lihat, semua jelas para pelaku seperti melakokan drama diatas panggung. Mereka berakting, mereka berpura-pura. Kita tidak bisa langsung menuduh seseorang ketika menemui barang bukti yang mengarah pada orang tersebut. Pelaku ini tampak tidak bodoh. Pasti, diantara mereka menggunakan taktik. Atau disebut juga…"
Gempa melanjutkan kata-kata Blaze, sembari kedua matanya yang membuka,
"Pembunuhan berencana…"
.
To Be Continued…
.
A/N : SELESAI- ya Allah.. sabarkanlah kokoro Vachii yang ingin meledak rasanya…
Abaikan-
Yes! Chapter 4 hadir dengan lambat karena memang bingung mau begimana kasusnya.. tapi yah, ini masih direncakan siiihhh.. hehehe… sorry untuk OC!Corra, karena Vachii buatnya blasteran :3 gommennee... hehehehe...
Ada yang penasaran dengan jawaban sandi chapter lalu? Hmmm, Vachii kasih bocorannya, dehh…
.
Jawaban : "Datang ke lab sekarang"
Sebagaimana kita ketahui, yang ditulis diantara angka adalah huruf vokal. Agar bisa dirangkai menjadi sebuah tulisan, kosonan dan vokal harus digabung.
[1=B, 2=C, 3=D, 4=F, 5=G, 6=H, 7=J, 8=K, 9=L, 10=M, 11=N, 12=P, 13=Q, 14=R, 15=S, 16=T, 17=V, 18=W, 19=X, 20=Y, 21=Z]
Setelah kita susun, pesan yang tertulis adalah,
"Datang ke lab sekarang"
.
Kenapa pada bingung ya…? Sandi segini mudahnya. Inipun memakai sandi intelku yang gampangnya gak ketulungan… T^T)? Semua readers disini mengurutkannya sesuai dengan abjad ya? huruf vokal kan tetap menjadi huruf disandi tersebut, kenapa dia dihitung juga sih? Ckckckck.. kali ini tak ada yang request yaa… kan pada gak ada yang bisa jawab…/sorak seneng dalam hati/
Terima kasih atas dukungan dan semangat dari readers semua, selalu membuat semangat untuk melanjutkannya. tapi maaf, tak bisa Updatekilat karena Vachii kan, sekolah~
Yah, Vachii rasa cukup sekian sih.. sudah tak ada yang mau dikasih tau lagi... teka-teki akan di adakan lagi dichap depan! Tunggu ya~
Kritik dan Saran, serta dukungan, akan membuat fic ini akan terus berlanjut. So,
MIND TO REVIEW?
