Matahari untuk Bulan
Oleh: Jogag Busang
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Penulis tidak mengambil keuntungan materil dari fanfiksi ini
.
4
Mutiara Amega dan Tukang Roti
.
"Jangan melakukan sihir lagi!"
Seruan itu menggaung di telingaku, menggema dalam pikiranku, menyuruhku untuk membuka mata dan menyadari apa yang telah kulakukan.
Aku segera berdiri. Karena konsentrasiku pecah, tongkat yang ada di tanganku berangsur-angsur menghilang. Napasku terengah-engah. Pelipisku basah oleh keringat.
Apa yang baru saja kulakukan?
Kulihat Naruto yang bergegas lari ke arahku. Dia memberi pukulan terakhir kepada penjarah yang sebelumnya kulawan, membuat tubuh lelaki bertopeng itu tidak lagi bergerak.
Kakiku mendadak goyah. Pandanganku memburam. Hal terakhir yang kudengar adalah suara Naruto yang berteriak, "Sasuke!"
Saat aku membuka mata, aku mencium sesuatu yang kupikir segar. Badanku terasa hangat. Hanya butuh waktu satu menit bagi mataku untuk bisa fokus. Kuputuskan untuk duduk tegak dan memandang di mana sebenarnya aku berada. Aku masih di dalam kereta yang tidak bergerak. Dan, wow! Aku tidak menyangka jika pemandangan di luar sangat indah.
"Kita sudah sampai di perbatasan?" tanyaku bersemangat, entah kepada siapa.
Tiba-tiba pintu kereta membuka. Ternyata Naruto. "Sasuke? Kau baik-baik saja?"
"Naruto? I-iya, aku baik-bak saja. Benarkah kita sudah sampai di perbatasan?" tanyaku lagi, memastikan.
Naruto tersenyum kecil. "Tentu saja. Ngomong-ngomong, ini sudah pagi," Naruto memberitahuku. "Ayo, turun. Kita harus mencari tempat untuk sarapan. Bekal yang kita bawa sudah habis."
"Ta-tapi, tentang kejadian semalam…" suaraku perlahan melirih.
"Nanti saja membahasnya. Sekarang, ikuti aku saja."
Kurapikan pakaianku secepat mungkin. Tunggu, kuraba-raba kursi kereta, mencari sesuatu.
"Mantelmu kubawa," ujar Naruto, yang sepertinya tahu apa yang sedang kucari. Dia kemudian mengeluarkan ujung mantel dari tas yang dipegangnya. "Setelah makan, aku berencana membawanya ke tukang jahit di sekitar sini. Aku pernah mendengar cerita dari Papa Ashura jika di perbatasan Canolla-Hosay ada banyak pedagang dan tenaga ahli dalam berbagai bidang. Tidak ada salahnya, kan, jika kita berjalan-jalan sebentar?" Naruto mengedip kepadaku.
"Baiklah," balasku ringan. Sejujurnya aku benar-benar lega bahwa topik mengenai kejadian semalam urung dibicarakan.
Aku dan Naruto berjalan santai di sepanjang perbatasan.
"Jam berapa kita sampai di sini, Naruto?"
"Sekitar satu jam yang lalu."
"Kau tidak tidur semalam?"
"Tentu saja aku tidur. Kalau tidak, kita mungkin sudah sampai di sini tengah malam."
"Kupikir kau tidak tidur," aku menggaruk pipiku yang sebenarnya tidak gatal.
"Aku bukan hewan Tonguerean bagian nokturnal, Sasuke," Naruto berkata gemas.
Setelah itu kami berhenti bercakap-cakap. Kami sama-sama menikmati keindahan pemandangan di sepanjang perbatasan Canolla-Hosay, yang berupa wilayah perairan. Namanya laut Samsara. Kata Naruto, kami akan melewati Hosay melalui laut tersebut, karena biaya perjalanannya yang lebih murah dibanding jika lewat darat. Aku sedikit menyesal dengan hal ini, karena aku jelas tidak bisa melihat kendaraan mobil yang terkenal di Hosay jika lewat lautan.
Hamparan air berwarna jernih terpampang nyata, yang semakin ke sana, airnya akan berwarna biru. Cuaca di perbatasan juga cukup cerah. Embusan angin menambah sejuknya udara. Bintang jelas tidak dapat terlihat, tapi aku yakin, ini masih sangat pagi.
Naruto tiba-tiba berhenti melangkah dan berdiri memegangi pagar besi sepinggang yang membatasi lautan.
"Kau pernah mendengar cerita tentang legenda mutiara Amega?" tanya Naruto. Nadanya terdengar begitu antusias.
Aku menggeleng sambil mengerutkan dahi. "Mutiara Amega? Aku tidak pernah mendengarnya."
"Kata Mama Indra, mutiara Amega adalah mutiara yang sangat menakjubkan. Tidak berwarna putih mengilap seperti kebanyakan mutiara, tapi berwarna bening dan jika berada dalam kegelapan, akan mengeluarkan beragam warna yang bercahaya, seperti warna pelangi. Mutiara Amega sangat langka dan hanya bisa ditemukan di laut Samsara."
"Pasti harganya mahal," ujarku menimpali.
"Tentu saja mahal, keluargaku tidak mungkin sanggup membelinya. Konon katanya, mutiara Amega hanya bisa dipanen setiap 50 tahun sekali, dan tidak setiap kerang yang sebelumnya ditanami benih mutiara akan bisa menghasilkan mutiara Amega. Karena itulah langka."
"Dan mahal," sambungku sambil tertawa.
Naruto juga ikut tertawa. "Dasar, yang kaupikir hanya harga saja dari tadi."
"Tapi memang benar, kan?"
Naruto tidak mendebat, dia melanjutkan penjelasannya. "Kata Mama Indra, jika seseorang memberikan mutiara Amega kepada orang lain, itu adalah tanda jika orang tersebut meminta maaf dan ingin berdamai.
"Menurut legenda, pada zaman dahulu, ada dua raja yang selalu berperang. Namanya kalau tidak salah Raja Yahiko dan Raja Nagato. Mereka memperebutkan seorang putri cantik bernama Putri Konan. Putri Konan sebenarnya mencintai Raja Yahiko, tapi dia menyembunyikan perasaannya karena tidak ingin melukai hati Raja Nagato. Putri Konan adalah orang yang cinta damai. Dia sudah mencoba menengahi peperangan tersebut, tetapi tidak berhasil. Dia akhirnya tewas dalam peperangan. Baik Raja Yahiko maupun Raja Nagato tidak tahu siapa yang membunuhnya. Kedua raja itu merasa sangat bersalah.
"Namun, secara ajaib, tubuh Putri Konan meledak dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Saat cahaya itu menghilang, tubuh Putri Konan sudah tidak ada, berganti dengan sebuah benda bening yang memancarkan warna-warni pelangi. Orang-orang lalu menamainya dengan sebutan mutiara Amega. Mereka menganggap bahwa mutiara tersebut berasal dari air mata Putri Konan yang menetes sewaktu terbunuh. Sejak saat itu, mutiara Amega dianggap sebagai simbol perdamaian. Seperti itulah asal—"
"—usul mutiara Amega," sambungku cepat. Ah, aku selalu terhanyut setiap kali Naruto mendongeng seperti ini. "Ceritanya berakhir tragis dan tidak masuk akal. Mutiara ya dari kerang, bukan dari air mata."
"Namanya juga legenda, Sasuke," Naruto mendesah mendengar komentarku, yang, seperti biasa, cukup pedas.
Perutnya mendadak berbunyi.
Aku dan Naruto lantas berpandangan.
"Dasar, perut karet," kata Naruto dengan mimik wajah yang lucu. Kami berdua tertawa lagi.
"Sebaiknya kita ke toko yang mana, Naruto?" tanyaku dengan mulai kembali melanjutkan langkah.
"Kau mau coba merasakan roti Pek?"
"Roti Pek? Menurutku terdengar seperti nama rerumputan," balasku polos. Aku memang tidak tahu.
"Rerumputan apanya, ini roti dari buah Pek, Sasuke."
"Aku tidak pernah tahu ada namanya buah Pek, Naruto. Aku memang orang bodoh," aku mendengus kesal.
"Hei, aku tidak menganggapmu bodoh. Dasar tukang ngambek." Naruto menggeleng-gelengkan kepala.
Kami tidak berbincang-bincang lagi hingga tiba di depan sebuah bangunan tua. Ada tulisan "Twinkle Shops" yang bertengger manis di atas palang masuk bangunan tersebut. Aroma roti yang lezat memenuhi indra penciumanku ketika aku memasuki bangunan tadi. Ada sebuah etalase dari kaca yang menampilkan berbagai macam roti, mulai dari bentuk, rasa, sampai kelas. Aku tidak pernah menyangka jika roti sedemikian beragam. Selama ini aku hanya makan roti yang kubeli dari pasar Andromeda, dan itu pun sekadar roti biasa, dengan dua varian selai, rasa Murberry dan Lash.
"Orang Canolla? Kalian ingin membeli roti apa?"
Seorang pria berambut hitam datang menyambut dari dalam ruangan. Dia mengenakan celemek dan terlihat bersemangat saat menyapa.
"Bagaimana Anda tahu kami orang Canolla? Tunggu—apakah Anda ini Master Tenji?" Naruto menerka.
Si tukang roti mengerutkan dahi. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Aku tahu, aku ini mempunyai ingatan yang cukup bagus tentang siapa saja yang pernah membeli di toko ini. Darimana kau mengenalku?"
"Papaku, dari Papa Ashura. Papa pernah bercerita tentang toko di perbatasan yang menjual roti. Katanya roti di sini sangat enak sampai-sampai si tukang roti dipanggil dengan sebutan "Master". Jadi, kami ingin mencobanya."
Oh, jadi begitu ceritanya kenapa Naruto bisa tahu tentang toko ini. Papa Ashura sungguh tidak adil. Seharusnya dia juga menceritakan kepadaku tentang toko roti ini. Aku suka sekali dengan roti.
"Oh, Ashura itu, kan? Ya, ya, aku mengenalnya dengan baik. Dia itu teman lamaku."
"Tapi, bagaimana Anda tahu kami orang Canolla?" tanyaku yang dibuat penasaran.
"Hanya orang dari Canolla saja yang membawa banyak belanjaan saat membeli roti di sini," kata Master Tenji sambil tersenyum. Matanya melirik tas yang dibawa Naruto.
"Ini bukan belanjaan. Isinya hanya mantel," balas Naruto. "Kami hendak membawanya ke tukang jahit untuk menjahit kancingnya yang sobek. Ada lagi kain katun yang harus dijahit karena sobek."
Master Tenji tergelak. "Kukira…"
Dia kembali tertawa. "Hmm, jadi kalian sedang butuh penjahit? Istriku kebetulan pintar menjahit."
"Boleh kami jahit di sini? Kami akan menunggu," kata Naruto.
"Silakan."
Master Tenji mengambil kain hitam dan mantel dari tas. Lalu, dia masuk ke ruangan. Beberapa menit kemudian, Master Tenji sudah kembali.
"Sudah beres. Oh, iya. Kalian tadi ingin memesan roti apa?"
"Roti Pek empat potong dengan selai madu."
Aku yang menjawab. Naruto tercengang. Aku kemudian menunjuk kertas yang tertempel di etalase.
"Aku penasaran dengan roti Pek," ujarku singkat. Naruto membalasnya dengan mengacungkan jempol.
Kami berdua masuk ke toko yang lebih mirip rumah makan ini. Banyak pengunjung yang keluar sambil menenteng kresek besar berisi roti. Naruto memilih meja di bagian paling timur, dekat dengan jendela yang menghadap lautan.
"Sebelum kita naik ke kapal, kita harus membeli topi dulu, Sasuke," ucap Naruto setelah kami berdua duduk.
"Topi? Kenapa kita membeli topi, Naruto? Untuk apa?"
"Sasuke, Sasuke," Naruto menggeleng-gelengkan kepala. "Hosay itu panas, ingat?"
"Oh, iya. Aku hampir lupa." Aku terkikik geli.
Biru laut Samsara dari dalam toko begitu memikat. Aku baru menyadarinya.
Pesanan sudah datang. Empat potong roti berwarna ungu dengan aroma yang lezat ditata dengan rapi di atas nampan. Ada selai madu di mangkok kecil, ditambah dengan dua gelas Rum sintesis berkadar 6 persen. Aku sedikit terkejut dengan gelas di sini yang terbuat dari kaca, biasanya aku minum dengan memakai bambu.
Kuambil satu potong roti. Masih hangat. Lalu kucelupkan ujung roti ke dalam mangkok. Pasti rasanya enak.
Dan benar saja. Begitu kukunyah, roti Pek rasanya benar-benar, bagaimana caraku menjelaskannya? Teksturnya lembut, tidak manis, juga tidak hambar. Ditambah dengan selai madu yang legit tapi tidak sampai menimbulkan efek pahit; pokoknya rasanya pantas untuk dimasukkan ke dalam tujuh keajaiban dunia terbaru versi makanan.
Aku dan Naruto sama-sama menikmati menu sarapan ini. Tidak terganggu dengan percakapan atau komentar seperti biasanya. Aku bahkan urung menanyakan bahan apa yang digunakan untuk membuat roti Pek. Kelelahan dalam perjalanan, dari wilayah bersuhu dingin menuju panas, diserang penjarah pada malam-malam; semua terbayar dengan hanya memakan roti Pek ini.
Naruto selesai lebih dulu. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menungguku. Mata birunya menatap kagum pada kawanan burung Jers yang terbang bebas. Iya, burung Jers. Burung dengan tubuh sedang dengan kemampuan terbang tercepat di dunia. Yang paling mencolok dari burung Jers adalah warna bulunya yang bervariasi. Dalam satu kali masa bertelur, satu induk burung Jers dapat menghasilkan lima hingga sepuluh anakan dengan warna bulu yang berbeda-beda. Warna yang sama hanya pada bagian paruh, yang berwarna oranye cerah. Burung Jers adalah burung pemakan biji-bijian dan keberadaannya di perbatasan Canolla-Hosay adalah paling lumrah. Burung Jers berasal dari Canolla, tetapi berkembang biak di wilayah perbatasan karena suhu di sini yang hangat. Aku tahu sangat banyak tentang burung Jers karena Papa Ashura pernah membawakan satu ekor burung tersebut dan bercerita kepadaku tentang asal usulnya. Aku sangat sedih saat akhirnya burung itu mati karena tidak tahan dengan cuaca dingin di Canolla.
Selagi melahap roti terakhir, entah mengapa aku malah memikirkan mantel dan kain yang sobek kemarin. Sewaktu tiba di Canolla dulu, aku pernah bercita-cita menjadi tukang jahit. Aku pernah mencoba menjahit pakaian sewaktu mampir di Hosay, pada perjalanan pertamaku ke Canolla. Namun, sampai sekarang aku tidak pernah bisa mewujudkan impian sederhana ini karena tidak punya mesin jahit. Mesin jahit harganya mahal dan hanya bisa dibeli di Hosay. Kini, aku menyayangkan Naruto yang harus mengeluarkan uang untuk menjahitnya, padahal aku yakin, sebenarnya aku bisa memperbaiki kerusakan tersebut.
"Naruto, sebenarnya, jika kauijinkan, aku sendiri bisa memperbaiki mantel dan kain yang sobek itu," kataku tanpa basa-basi.
Naruto sepertinya tahu aku ingin membahas apa. "Dengan apa kau akan menjahitnya? Dengan mesin jahit? Atau dengan…"
Kata-kata Naruto menggantung di langit-langit. Dia menggulung lidahnya, tidak jadi membalas. Malah berkata, "Sebaiknya kita tidak usah membahas kejadian tadi malam, Sasuke. Jujur saja aku takut, tapi aku tahu malam itu kau tidak sengaja. Dan maaf sekali, Sasuke, aku tidak bisa mengijinkanmu mengeluarkan sihir lagi. Berbahaya. Bahkan jika hanya kaugunakan untuk menyambung kain. Apalagi kemampuan pada matamu yang sulit kaukendalikan itu…"
Aku terbungkam. Ucapan Naruto memang benar. Tidak seharusnya aku melakukan hal yang aku sendiri sudah tidak sanggup melakukannya.
.
DSB
(Dan Saatnya Bersambung)
(Dan Saya Bingung)
(Dan Saatnya Berkomentar)
Hehehe : )
