Suara hiruk pikuk tertangkap oleh telinganya ketika ia tiba di depan pintu kelas. Untuk sesaat, ia terdiam dan mendengarkan suara-suara tersebut. Kepalanya bergerak pada jam digital dengan tali berwarna jingga yang ia kenakan sementara dahinya berkedut pelan. Sepertinya orang-orang di kelasnya datang terlalu pagi hari ini.

Tidak mau ambil pusing, Inaho menggeser pintu kelas dan menginjakkan kakinya di dalam. Suara decitan pintu yang ia timbulkan membuat beberapa pasang mata berhenti sejenak dan menoleh padanya. Ketika mereka mengenali siapa yang datang, pasangan-pasangan mata itu langsung beralih darinya dan kembali pada satu obyek yang tengah menjadi pusat perhatian.

"Katanya kemarin kau sakit, Slaine?" Salah seorang dari siswi bersuara berisik yang tak perlu ia sebutkan namanya kembali memulai pembicaraan. "Kau sakit apa?"

Siswi kedua yang Inaho rasa juga tidak perlu disebutkan namanya ikut berkomentar. "Kau kelihatan pucat sekali hari ini. Apa kau benar-benar sudah sembuh?"

Suara ketiga ikut menimbrung, "Kalau kau masih sakit, sebaiknya kau beristirahat di Ruang Kesehatan. Kami bisa mengantarmu."

Ocehan-ocehan seperti itu berseliweran di sekitar meja Inaho, membuatnya memberikan tatapan datar andalan terlebih karena bangkunya diduduki salah seorang siswi tanpa minta izin padanya. Sedikit jengkel, ia berniat menaruh tasnya begitu saja dan meninggalkan tempat tepat ketika obyek perhatian para siswi itu bicara. Obyek perhatian yang duduk tepat di depan bangkunya dan membuat pagi Inaho terpaksa dihabiskan di luar kelas.

"Aku baik-baik saja," ujar si pusat perhatian dengan suara lemah yang terdengar menyayat hati siapa pun yang mendengar. "Jangan khawatir!"

Kalimat yang harusnya bernada menenangkan itu berefek sebaliknya bagi para siswi. Menurut penilaian Inaho, para siswi malah semakin agresif mendengar kalimat itu. Sepertinya hal ini memang sudah diperhitungkan oleh orang yang bersangkutan.

"Aduh, kau masih sakit," kata salah seorang siswi yang seenaknya menyimpulkan, "suaramu terdengar lemah sekali."

"Slaine, mungkin sebaiknya kau beristirahat di Ruang Kesehatan," ujar yang lain dan berinisiatif mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi pemuda yang menjadi pusat perhatian itu. "Astaga, kau masih demam! Sebaiknya kau ikut aku, kita ke Ruang Kesehatan sekarang juga!"

Mendengar itu, para siswi yang lain pun tak mau ketinggalan. Satu per satu mulai mengajukan diri untuk tugas sepele seperti mengantarkan seseorang ke Ruang Kesehatan padahal biasanya tak ada satu pun siswi yang mau mengajukan diri untuk tugas semacam ini. Ruangan kelas yang biasanya damai pun semakin ribut bahkan mengundang siswa kelas lain untuk mencari tahu. Hanya masalah waktu hingga Ms. Mizusaki datang dengan suara menggelegar dan membubarkan mereka.

Sungguh, Inaho sebetulnya tak peduli dengan para siswi yang membuat paginya yang hening berubah menjadi zona perang. Ia juga tak peduli dengan tatapan ingin tahu siswa dan siswi kelas lain yang bertandang ke kelas mereka. Ia bahkan tidak mau ambil pusing bila pada akhirnya Ms. Mizusaki yang ditakuti setiap siswa datang dengan suara menggelegar dan menyalahkan ketua kelas. Sungguh ia tak mau peduli.

Namun saat ia berpikir demikian, sekelebat ingatan yang mengganggu kembali menghantuinya. Kembali membuatnya menyentuh kepalanya nyeri dan tak punya pilihan lain selain membiarkan visi menghantam benaknya. Sama seperti sebelumnya, ia memejamkan mata dan menyaksikan visi yang ditampilkan.

"Kau sakit," ujar suaranya sendiri dalam balutan seragam kerjanya yang berwarna biru. Ia melepaskan sarung tangannya untuk menyentuh dahi pemuda berambut perak yang terbaring di atas bongkahan beton tak nyaman yang menjadi tempat tidurnya. "Apa kau sudah minum obatnya?"

Tak ada jawaban. Seperti hari-hari sebelumnya, pemuda yang berbaring menyamping itu mengabaikannya. Hanya suara hembusan napas yang menderu sebagai jawaban untuknya.

Menghela napas, manik merahnya berputar mengelilingi ruangan. Pandangannya pun tertuju ke atas meja, tempat mereka bermain catur sehari-harinya dan menemukan beberapa butir pil yang teronggok begitu saja. Ia melangkahkan kakinya mendekat pada meja dan mengambil butiran obat tersebut dengan gelas berisi air.

Mengambil tempat di samping pemuda berseragam tahanan itu, Inaho mendengar suaranya sendiri berkata, "Kuharap kau sudah makan sebelum mengonsumsi obat."

Sekali lagi tak terdengar jawaban dari pemuda berambut perak yang berbaring memunggunginya itu. Suara napasnya yang ditangkap oleh telinga Inaho membuatnya kembali mengerutkan dahi. Ia yakin, pemuda berambut perak ini sangat kesakitan sekarang.

Sedikit tak sabar, Inaho memegangi gelas dan butiran obat dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menyentuh bahu pemuda di hadapannya. Dengan paksaan, pemuda itu membalik tubuh si pemuda dan mendapatkan tatapan jengkel yang selama ini selalu ia terima. Bedanya, tatapan itu kini begitu lemah, dengan suara parau berisi protes terhadap tindakannya.

"Apa maumu, Letnan Kaizuka?" Suara itu berkata dengan nada lemah yang tak terbayangkan olehnya, "Pergilah! Aku tidak ingin berdebat denganmu."

"Kau sakit, Bat," jawab suaranya sendiri sementara tangannya mencengkeram bahu keras yang seolah terdiri dari kulit dan tulang semata. "Kau harus minum obat."

"Itu bukan urusanmu!" Suara itu kembali berkata dengan nada sinis. "Pergilah!"

"Semua hal tentangmu adalah tanggung jawabku," ujar Inaho berupaya terdengar setegas mungkin di hadapan tahanannya. "Aku tidak mau ada orang sakit atau meninggal di bawah tanggung jawabku."

"Naif sekali," cemooh lawan bicaranya sembari memperdengarkan suara tawa sinis. "Seingatku, dulu kau tidak senaif ini dan tidak segan mengorbankan yang lain bila tak ada untungnya bagimu."

"Sudah kubilang, sekarang kau tanggung jawab…"

"Tanggung jawab pada siapa, Orange?" Suara itu akhirnya bertanya. "Kau bertanggung jawab pada siapa untuk semua yang terjadi padaku?"

Manik merah bertemu dengan manik sebiru lautan yang memandang sendu. Tatapannya menyiratkan tuduhan padanya yang membuat Inaho ingin memalingkan kepala. Namun ia malah membalas manik sebiru lautan itu dengan kata-kata yang tak terucap.

"Orang yang menyerahkanku padamu, kah?" Pemuda di hadapannya kembali berkata lagi dengan suara mencemooh. "Ia bahkan sudah tak peduli apakah aku mati atau hidup. Kau sudah membuang-buang waktumu."

Mungkin. Mungkin ini memang buang-buang membuang waktunya untuk menunggu dan berharap bahwa pemuda di hadapannya akan berbalik dan menoleh padanya. Tapi anehnya ia tak bisa berhenti membuat pemuda itu berpaling padanya.

"Terserah apa katamu," jawab Inaho akhirnya, tak mau menambah panjang perdebatan.

Tanpa banyak bicara, ia memukul perut si tahanan dengan punggung tangannya, membuat pemuda itu mengaduh pelan. Saat itulah, Inaho memasukkan butiran obat yang harusnya ditelan oleh Slaine dan membuat pemuda itu terbatuk pelan. "Minum," katanya sambil menyodorkan gelas berisi air.

Terbatuk, pemuda berambut pirang itu masih memberikan tatapan penuh ancaman pada Inaho. Namun pemuda itu tak punya pilihan dan terpaksa mengambil segelas air yang diberikan padanya. Ditenggaknya isi gelas itu sampai habis sebelum diletakkan di samping tempat tidurnya yang keras.

"Jangan seperti anak kecil, Slaine," Inaho akhirnya berkata setelah melihat obat dan airnya sudah lenyap dari pandangan. "Kau ini sudah dewasa."

"Kau…"

"Dan perlu kau tahu," ujar Inaho sambil mendekat pada pemuda berseragam tahanan itu, "aku tidak bertanggung jawab pada wanita Vers itu."

Pemuda berambut perak itu menatapnya tanpa berkedip. Manik birunya memicing dengan kebencian yang terpampang jelas di wajahnya.

"Semua milikku adalah tanggung jawabku sendiri," lanjut Inaho sekali lagi.

Manik biru Slaine memicing sementara kepalanya bergerak bingung.

"Kuharap kau mengerti maksudku."

Visi itu terputus dan mengembalikan Inaho ke realita. Ia mengerjapkan kedua manik merahnya dan menatap sekeliling ruang kelas yang semakin ramai. Para siswi yang sebelumnya hanya mengintip dari pintu kelas kini ikut masuk ke dalam dan berpartisipasi dalam perebutan tugas mengantar sang Pangeran ke Ruang Kesehatan. Mungkin sudah saatnya ia mengambil tindakan.

Sembari menghela napas, Inaho pun mendekat dan memasuki zona pertempuran sengit tersebut. Begitu ia sudah berada dalam lingkup, para siswi pun memasang mata akan kehadirannya dan membuat ruangan hening seketika. Ia berdehem sejenak sebelum berkata, "Sepertinya kau sakit sekali sampai para siswi ingin mengantarmu ke ruang kesehatan, eh, Slaine Troyard?"

Manik biru Slaine memicing dan ia menatap Inaho datar. Para siswi yang tidak mengenal wataknya pasti menyangka bahwa ia tengah kebingungan, tapi berbeda dengan Inaho. Saat ini ia yakin bahwa benak pemuda bermanik biru penuh dengan segala jenis rapalan kutukan yang tertuju padanya.

"Seperti yang kau lihat, Kaizuka-san"," jawab Slaine berusaha tetap sopan. "Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."

Alis Inaho terangkat dan ia pun berkata, "Oh! Kupikir juga begitu. Aku hanya tidak mengerti kenapa para siswi berniat mengantarmu padahal kau baik-baik saja. Kemarin saat aku menjengukmu pun, kau –…"

Suara mengaduh terdengar dari mulut pemuda berambut perak itu hingga Inaho terpaksa menghentikan kalimatnya. Pemuda yang sebelumnya menjadi pusat perhatian itu langsung memasang ekspresi lemah yang dua kali lipat lebih meyakinkan dibanding sebelumnya dipadu dengan ekspresi kesakitan yang luar biasa. Terlebih saat ia berkata, "A-aku baik-baik saja, Kaizuka-san…"

Inaho menatapnya, tidak terkecoh dengan akting pemuda satu itu. Ekspresi datarnya ditujukan dan ia berkata, "Oh?"

"Tapi, kepalaku sepertinya berdenyut-denyut menyakitkan dan seluruh tulangku ngilu," lanjut pemuda satu itu. "T-tapi tentu saja aku tidak ingin merepotkanmu, Kaizuka-san."

"Oh, Slaine~…" Salah satu siswi yang terpancing bergumam penuh rasa kasihan. "Kau harus ke ruang kesehatan. Kau begitu pucat dan kesakitan begitu."

"Apa yang kau katakan Kaizuka? Kau tidak lihat Slaine kesakitan?"

Inaho bahkan tidak menggubris perkataan para siswi di kelasnya. Tatapan matanya hanya tertuju pada satu orang. Bahkan ia berkata, "Kau sakit kepala tapi yang kau pegangi malah perutmu, apa kau yakin kau benar-benar sakit?"

"Perutku juga kram," lanjut pemuda yang ia amati itu. "Aku, mungkin aku harus ke ruang kesehatan."

"Begitu," jawab Inaho dengan nada tak acuhnya. "Kau bisa jalan sendiri?"

"A-akan kucoba."

"Slaine, jangan!" Salah satu siswi berkata dengan dramatis. "Biar aku yang memapahmu."

"T-terima kasih, tapi aku tidak ingin merepotkan," jawab Slaine.

"Betul," Inaho menimpali. "Sebaiknya kau tidak merepotkan yang lain."

"T-tapi mungkin Kaizuka-san bisa membantuku," ujar si pusat perhatian itu dengan tatapan mengiba. "Bagaimana Kaizuka-san?"

Sekali lagi kedua manik merah Inaho menatapnya tajam. Ia mengamati wajah tampan si pemuda berkulit pucat dengan mata biru itu. Dilihatnya, seulas senyum sinis dan mencemooh tertera begitu jelas di matanya. Melalui gerakan bibir, pemuda itu melemparkan sejumlah kutukan berikut sumpah serapah yang hanya dapat dibaca oleh Inaho.

"Yah," jawab Inaho sambil menghela napas untuk menyembunyikan senyuman penuh kemenangannya. "Apa boleh buat kalau begitu."


Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini : )

.

.

.

Ordinary Days by cyancosmic

Aldnoah Zero by Gen Urobochi

.

.

.

Enjoy!


Chapter 4 : A school's infirmary

Sembari menyusuri koridor menuju ke ruang kesehatan, dua orang pemuda berjalan bersisian. Yang seorang, dengan rambut dark brown dan lebih pendek beberapa sentimeter tengah memapah si rambut perak. Mereka berjalan sedikit lambat, berusaha menyesuaikan langkah dengan pemuda yang sedang sakit hingga akhirnya mereka tiba di depan ruang kesehatan.

Pintu digeser oleh Inaho, menampakkan interior ruang kesehatan yang putih bersih. Lemari obat-obatan dan meja petugas yang menunggu terletak di sampingnya, sementara ranjang dengan tirai berwarna krem yang diterangi sinar mentari pagi berderet di belakangnya. Inaho memasuki ruangan terlebih dulu diikuti dengan si pemilik manik biru yang tengah mencari-cari sosok petugas kesehatan yang seharusnya berjaga di ruangan tersebut.

"Petugasnya belum datang," jawab Inaho tenang sambil menyibakkan selimut pada salah satu ranjang yang terletak di paling ujung ruangan. "Jam segini kakakku biasanya masih di kereta."

Alis terangkat dan si rambut perak pun mendecak kesal. Ia berkata, "Kenapa kau tidak bilang daritadi?"

Langkah gontai dan wajah menatap lantai yang sebelumnya ditampilkan pemuda itu langsung lenyap. Sebagai gantinya seorang pemuda berambut perak dengan ekspresi jengkel berjalan mendekati Inaho dengan kedua tangan tersembunyi di kantung celana. Kakinya terlebih dahulu menendang ranjang yang tengah disibakkan selimutnya oleh Inaho sementara kedua manik birunya menampilkan kesan yang jauh dari kata bersahabat.

Bunyi ranjang yang menabrak ranjang lain membuat manik merah Inaho tertuju pada pemuda yang baru saja menendangnya. Ia menatap pemuda berambut perak itu sebelum berkata, "Betul 'kan? Kau memang tidak sakit."

"Kalau sudah tahu kenapa kau tidak menutup mulutmu?" Lawan bicaranya kembali membalas dengan nada sinis. "Bukankah kemarin sudah kukatakan bahwa semua yang terjadi tidak boleh kau sebarkan pada siapapun? Apa mulutmu memang seperti ember bocor, Kaizuka Inaho?"

Menggerakkan kepala Inaho pun berkata, "Memangnya aku menyebarkan pada siapa?"

"Jangan pura-pura!" Slaine membalasnya dengan nada gusar. "Kau hampir mengabarkan pada yang lain bahwa sebenarnya aku tidak sakit. Kalau aku tidak menginterupsimu, kau pasti akan mengatakan semuanya pada yang lain."

"Ah," gumam Inaho dengan santai dan meletakkan selimut yang ia pegang pada kepala ranjang yang terbuat dari besi. "Kau takut aku mengabarkan pada yang lain bahwa kemarin aku diberi obat tidur sementara seseorang merogoh isi dompetku, melihat-lihat ponsel dan membaca semua chatku?"

"Kenapa malah kau ungkit lagi? Bukankah sudah kubilang bahwa itu tidak boleh kau ungkapkan…"

"Bukannya kau duluan yang memulainya?" potong Inaho sambil melewati si rambut perak dan beranjak menuju sisi ranjang yang ditendang oleh pemuda itu. Ia menarik salah satu ranjang dan mengembalikan ke posisinya. "Kau sendiri yang tidak mau diungkit tapi kau malah membahasnya duluan."

Pemuda berambut perak yang ada di belakangnya hendak mengucapkan sesuatu, namun sekali ini ia menahan diri. Gantinya sebuah decakan meluncur dari bibirnya sementara pemuda itu duduk di atas salah satu ranjang. Tangannya dilipat di depan dada sementara ia berkata, "Dasar sial! Kenapa mereka memintamu yang mengantar catatan kemarin dan bukannya siswi-siswi itu?"

"Untuk keselamatanmu sendiri, bukan?" Inaho membalas sambil membereskan ranjang lain yang membentur tembok dan merapikannya. "Semua rahasia yang kau sembunyikan malah akan lebih mudah diketahui umum bila para siswi itu yang menjengukmu."

Sekali lagi terdengar decakan dari si rambut perak yang kini tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangannya disilangkan dan menopang kepalanya sementara kedua manik birunya menatap langit-langit. Pemuda itu menggerutu lagi sekarang dan membuat Inaho menggelengkan kepala. Sedikit heran karena pemuda itu selalu jengkel padanya padahal ia sudah beberapa kali membantu.

Kemarin juga, padahal maksudnya hanya mengantarkan catatan, tapi ia malah terlibat hal yang tidak menyenangkan dengan pemuda itu. Ia masih ingat ucapannya saat pemuda itu berkata,

"Tsk, membuang-buang persediaan obat tidur saja," gumam si rambut perak saat melihat dirinya terbaring tak bergerak di atas lantai yang berlapiskan kayu mahogany. Langkah kakinya bergerak dari balik meja bar menuju ke tempat Inaho. Pemuda itu berjongkok sementara bibirnya kembali berkata, "Tapi sungguh merepotkan sekali kalau semua anak SMA seperti dia."

Pemuda berambut perak itu menghela napas sebelum mengalihkan perhatian. Pandangannya tertuju pada tas punggung yang dibawa Inaho sebelum mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tanpa permisi pemuda itu membuka resleting tas dan mengeluarkan isinya.

"Coba kita selidiki siapa sebenarnya Inaho Kaizuka ini," ucapnya sambil mengeluarkan gadget beserta buku-buku dari dalam tas Inaho. Ponsel dan tab Inaho terkunci sehingga ia kembali menggerutu. Perhatiannya pun beralih pada dompet Inaho dan mulai mengamati isinya. Ia menarik keluar kartu identitas siswa dari dalam dompet dan berkata, "Oh? Tanggal lahirnya 7 Februari, pasti Aquarius. Pantas saja aku tidak cocok dengannya."

Ia kembali mengamati kartu tersebut sembari bergumam sendiri. Berhubung tidak banyak informasi yang ia dapatkan di sana, Slaine pun meletakkan kartu itu dan mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Namun tak ada yang bisa ia dapatkan selain tanggal lahir pemuda itu. Ini membuatnya menghela napas dan mengambil gadget milik pemuda itu.

"Mungkin aku bisa mengutak-atiknya," gumam Slaine sembari menekan salah satu tombol untuk membuat ponsel Inaho menyala. Begitu layarnya hidup, ia melihat beberapa pesan yang masuk namun tak dapat membuka isinya. Sedikit jengkel ia pun membawa ponsel itu ke atas meja bar sementara ia mengambil ponselnya sendiri. "Sebaiknya kutanyakan saja pada Harklight-san bagaimana membuka passwordnya."

Ia menempelkan ponselnya di telinga sementara ponsel milik Kaizuka Inaho tergeletak begitu saja di hadapannya. Ditunggunya semenit dua menit hingga orang yang dihubunginya mengangkat panggilan. Ketika ia telah mendengar suara orang itu, Inaho pun berkata, "Ah, moshi-moshi, Harklight-san! Maaf mengganggumu, aku ingin minta tolong."

Terdengar gumaman 'tidak apa' singkat dari orang yang diajaknya bicara. Setelah itu Slaine pun melanjutkan ucapannya dengan berkata, "Ponsel seseorang yang masuk ke rumahku terkunci, jadi aku sulit mengetahui identitasnya. Kau bisa membantuku lagi?"

Suara jawaban terdengar dan Slaine pun kembali menjawab. Namun kali ini ada pertanyaan yang mengharuskan Slaine berkata, "Ng? Namanya, ya? Namanya Kaizuka Inaho. Tanggal lahirnya 7 Februari."

Orang yang diteleponnya kembali membalas ucapannya sehingga Slaine pun mengangguk. Ia mengucapkan terima kasih singkat pada orang itu sebelum menutup teleponnya. Setelah itu ia pun tersenyum lebar dan menatap Inaho yang masih terbaring di tempatnya. Nada-nadanya terdengar sinis saat ia berkata, "Kita lihat saja nanti, siapa kau sebenarnya Kaizuka Inaho."

Bunyi denting pelan membuat perhatian Slaine teralih kembali pada ponselnya. Maniknya melebar dan ia menatap deretan angka-angka yang diketikkan di atas ponselnya. Ia membacanya dengan suara keras dan berkata, "Ok, ini dia kodenya. Nol-nol-tujuh-dua."

Ponsel bergetar pelan dan layarnya pun terbuka. Slaine bersorak dengan kemenangan kecilnya dan mulai mengutak atik ponsel tersebut. Hal pertama yang diceknya adalah bukti yang dikatakan Inaho sebelumnya, bukti bahwa ia memukuli kakak kelas yang akan digunakan Inaho untuk menuntutnya. Ia pun mencari folder storage dan berusaha menemukan file yang dimaksud. Namun ia tidak mendapatkannya sehingga ia berkata, "Sudah kuduga, orang itu memang berbohong! Foldernya saja kosong melompong begini."

Puas dengan storage yang kosong Slaine pun beralih pada fitur fitur chatting milik pemuda itu. Ia berpendapat dari sana biasanya ia mendapatkan banyak informasi yang mengungkapkan identitas pemuda itu. Ia membuka beberapa fitur chatting di sana dan membaca satu persatu pesan yang masuk.

Pesan paling atas dalam fitur chatting Kaizuka Inaho dikirim oleh seseorang yang dilabeli 'Yuki-nee'. Ia membuka pesan tersebut dan mengintip isinya. Dahinya sedikit berkerut ketika melihat daftar hal-hal remeh yang harus dibeli memenuhi isi percakapan.

Memutuskan tak ada yang penting, Slaine pun mengalihkan perhatiannya pada room chat yang lain. Tapi ia pun harus kecewa karena tak ada yang bisa didapatkannya selain jawaban singkat dan padat khas Inaho Kaizuka. Sekali ini ia menghela napas dan mencari media sosial lain yang lebih dapat memberikannya petunjuk mengenai siapa Inaho Kaizuka sebenarnya.

Beberapa fitur media sosial dibuka namun ia tak menemukan apa pun dari pemuda bernama Kaizuka Inaho itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan ponsel milik pemuda itu dan beralih pada ponselnya sendiri. Tangannya menelusuri salah satu kontak dan langsung menghubunginya.

"Moshi-moshi," ucapnya ketika mendengar panggilannya dijawab. "Harklight-san? Apa kau bisa membantuku menyelidiki orang bernama Kaizuka Inaho?"

Lawan bicaranya menggumamkan pertanyaan sehingga Slaine kembali berkata, "Uh, tidak. Aku tidak menemukan yang aneh dari ponselnya, tapi entah kenapa instingku tidak merasa begitu. Ia bukan orang biasa, tapi apa mungkin ia kaki tangan si Pencuri itu?"

Peneleponnya kembali beradu pendapat mendengar pertanyaannya. Setelah penjelasan dan jawaban yang biasa, Slaine pun menjawab, "Itu benar, tapi orang ini seperti mengingatkanku akan sesuatu, entah kenapa aku selalu jengkel padanya. Tapi ngomong-ngomong Harklight-san, apa kau -…"

Pembicaraan Slaine terhenti ketika seseorang menyentuh ponsel yang sedang ia tempelkan di telinganya. Bahkan tanpa segan orang itu memutus pembicaraannya dengan orang lain yang diteleponnya dan meletakkan ponsel itu di atas meja bar, berdampingan dengan ponsel lain yang diutak-atik Slaine sebelumnya. Dengan meletakkan kedua tangan di atas meja, orang itu pun berkata, "Aku tidak mengerti budaya Perancis, tapi apa menyediakan jus jeruk berisi obat tidur itu biasa di sana?"

Perlahan-lahan kepala Slaine bergerak dan menatap pemuda berambut dark brown yang tengah duduk di depannya. Manik sebiru langitnya menunjukkan kewaspadaan dan senyum kecut pun melintasi wajahnya. Pada pemuda itu Slaine berkata, "Kenapa kau tidak tertidur, Kaizuka Inaho?"

Pemuda berambut dark brown yang duduk di depannya memutar-mutar gelas berwarna di hadapannya dan berkata, "Karena aku tidak meminum jusnya?"

"Tapi bukankah… kau menengguknya tadi?"

"Tidak," jawab Inaho santai. "Aku tidak menyesap isinya dan kurasa kau pun tidak meminumnya."

Slaine tidak menjawab. Matanya menyipit dan memandangi pemuda bernama Kaizuka Inaho ini dalam diam. Ia tidak pernah menemui masalah seperti ini sebelumnya. Biasanya tamu yang masuk ke rumahnya akan tertidur dengan pulas sehingga ia bisa melanjutkan interograsinya tapi bukan seperti ini. Bukan dirinya pihak yang harus diinterograsi.

"Makanya aku curiga kau memasukkan sesuatu pada minumanku," ucap Inaho sambil mengangkat bahu. "Dan aku tinggal berpura-pura tidur hingga kau menjelaskan apa keinginanmu."

Menelan ludah, Slaine pun berkata, "Apa maumu?"

"Yang kuinginkan?" Inaho berkata sambil memutar bola matanya. "Tadinya tidak ada, tapi setelah diperlakukan sedemikian rupa, kurasa aku menuntut penjelasan."

"Begitu," jawab Slaine dengan senyum di wajahnya. Kedua tangannya mengepal erat, siap untuk diayunkan. "Mungkin kau ingin berbicara dengan kedua tanganku?"

Inaho memutar-mutar ponselnya dan berkata, "Aku bisa saja mengatakan ini pada yang lain, lengkap dengan video penyerangan pada Thrillam-senpai. Kurasa tak akan ada yang meragukanku kali ini."

Slaine mendengus mendengarnya. Ia pun berkata, "Video yang kau maksud sama sekali tidak ada. Kau hanya menggertak."

Menggerakkan sedikit kepalanya pada ponsel miliknya, Inaho pun berkata, "Aku tidak sebodoh itu dan menyimpan semua data di dalam ponsel, bukan? Apa kau tidak berpikir bahwa aku sudah memindahkan datanya ke komputer dan dapat mengirimkannya pada email Mizusaki-ensei kapan saja aku menginginkannya?"

"Itu…"

"Kau mau mencobanya?" Inaho berkata sementara kedua manik merahnya tertuju pada Slaine. "Atau kau mau menjelaskan padaku kenapa kau melakukan semua ini?"

Ekspresi jengkel terlihat jelas di wajah pemuda berambut perak yang berada di balik meja bar, di hadapan Inaho. Pemuda itu masih bisa membantah sebetulnya, tapi entah kenapa ia menahan lidahnya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan ia berkata, "Aku tidak percaya padamu."

Inaho mengangkat bahu dan berkata, "Terserah padamu."

Manik sebiru lautan itu kembali menatapnya dalam diam. Untuk beberapa saat, pemuda berambut perak yang hendak membiusnya itu memilih untuk bungkam dan hanya mengamatinya. Inaho bisa melihat bahwa pemuda itu bimbang, antara mengatakan yang sebenarnya atau tetap bungkam seperti sekarang. Ia pun tidak bisa menyalahkan pemuda itu. Bila ia di posisinya, ia pun takkan menjelaskan semudah itu.

Tapi sekali lagi, ia bukan Slaine Troyard. Berbeda dengannya, Slaine mungkin sudah putus asa hingga akhirnya pemuda itu menghela napas dan berkata, "Sepertinya pepatah untuk menjaga musuhmu tetap di dekatmu ada benarnya."

Alis Inaho terangkat sementara pemuda berambut perak di hadapannya kembali menatapnya. Ekspresi jengkel masih belum hilang dari wajahnya ketika pemuda itu berkata, "Apa yang kukatakan ini mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku tetap memintamu untuk tidak menyebarkannya. Kau mengerti?"

"Bisa kuatur," jawab Inaho cepat, sedikit tidak percaya dengan keberuntungannya. "Jadi siapa kau sebenarnya Slaine?"

Manik biru Slaine menatapnya sebelum menjawab, "Aku orang Perancis, apa kau tidak dengar waktu itu?"

"Hanya itu?"

Menghela napas, Slaine pun berkata, "Tidak. Aku dulunya orang Perancis hingga keadaan memaksaku untuk datang ke Jepang dan mencari sesuatu yang kubutuhkan di sini."

"Apa yang kau cari?" Inaho bertanya dengan bingung. "Apa ini ada hubungannya dengan pencuri yang kau sebut tadi?"

Manik biru Slaine berpaling dengan cepat ke arahnya hingga Inaho sekalipun merasa gentar. Kedua tangan Slaine membentuk tinju yang saling menubruk satu sama lain, bahkan dengan geram pemuda berambut perak itu berkata, "Pencuri itu, kalau aku menemukannya aku takkan segan-segan. Aku akan memberinya pelajaran hingga ia lebih memilih mati dibanding mencuri hal yang berharga untukku."

Inaho menelan ludah sembari berkata, "Apa yang… ia curi darimu?"

Kepala Slaine bergerak ke arah lain. Suaranya terlalu kecil hingga Inaho harus mendekatkan telinga padanya. Melihat reaksi Inaho, pemuda berambut perak itu pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan suara yang lebih keras dan berkata, "Ingatan. Pencuri itu mengambil ingatanku."

Dahi Inaho berkerut dan ia menatap Slaine dengan tidak percaya. "Bisa kau ulangi sekali lagi? Sepertinya aku salah dengar."

Volume suara kembali ditambah dan si pemuda berambut perak berteriak dengan jengkel, "Ingatan! Le memoire! Kau tidak salah dengar."

"Tidak, tapi maksudku," ucap Inaho sembari berusaha mencari kata-kata yang pas. "Ingatan bukan sesuatu yang dapat dicuri, bukan? Aku tidak paham."

Menghela napas pemuda berambut perak itu pun mengangguk, "Sudah kuduga kau pasti tidak percaya. Pasti kau juga takkan percaya kalau kukatakan bahwa setiap orang yang kutemui seolah mengenalku, tapi aku tak punya ingatan apa pun soal mereka. Kau pun mungkin ada di ingatanku, tapi karena pencuri itu aku tidak bisa mengingat siapa dirimu."

"Mereka… mengingatmu?'

Slaine kembali mengangguk. "Mereka selalu menggumamkan sesuatu yang tidak kumengerti. Tapi ya, mereka mengingatku. Beberapa seperti kakak kelas kemarin bertindak ekstrem, tapi sisanya baik-baik saja. Hanya semua yang mengingatku sepertinya punya ingatan tidak menyenangkan tentangku."

"Tidak menyenangkan?" ulang Inaho yang sedari tadi membeo ucapan lawan bicaranya.

Lagi-lagi pemuda itu mengangguk. "Mereka menatapku dengan marah dan sinis. Mungkin aku melakukan sesuatu yang jahat pada mereka."

Inaho menelan ludah. Ia tidak mengatakan apa pun. Ia tetap diam sementara Slaine kembali bicara. Tangannya terkepal sementara kepalanya tertunduk.

"Aku ingin minta maaf, tapi, bagaimana aku bisa melakukannya bila aku tidak tahu apa kesalahanku pada mereka?" Slaine kembali bertanya padanya.

"Slaine, itu…"

Ucapanya lebih dulu dipotong Slaine yang berkata, "Itu sebabnya kupikir aku harus menemukan si pencuri ingatan itu agar aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi."

Untuk beberapa saat Inaho tidak menjawab. Bahkan si pemuda berambut perak sampai memutar bola matanya dan berkata, "Kau tidak percaya. Pasti."

Untuk saat ini, Inaho memilih untuk menutup mulutnya. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Slaine bila ia mengatakan bahwa ingatan itu pun ada di benaknya dan menghantuinya setiap saat. Tapi ia tidak menemukan hal yang membuatnya marah. Justru ia malah merasakan kesedihan yang tidak ia mengerti sebabnya.

"Sudah kuduga seharusnya aku tidak bercerita." Slaine berkata sembari menggerutu dan mengoceh berbagai hal. Ia bahkan tidak melihat Inaho yang hanya menundukkan kepala sementara tangannya mengepal erat. "Kau pasti menganggapku konyol karena mengejar orang itu hingga ke tempat ini."

"Tidak," jawab Inaho tiba-tiba. "Maksudku, tidak juga."

"Hah?"

"Kau… tidak konyol," jawab Inaho akhirnya. "Walaupun… aku tidak percaya." Sementara dalam hatinya ia berkata, 'Atau setidaknya begitu.'

Manik biru Slaine bergerak ke arahnya dengan ekspresi tidak percaya sebelum berpindah ke tempat lain. Gerutuan dan ocehannya lenyap sementara jemarinya menggaruk-garuk pipi. Ia pun berkata, "Kau juga… mungkin tidak seburuk yang kusangka."

Inaho menggerakkan kepala. "Jadi, kau bersekolah sementara kau mencari si pencuri?"

Sembari bergumam Slaine berkata, "Pencuri itu mengatakan padaku untuk menemukannya di Shinawara High. Pilihan apa yang kupunya selain bersekolah di sana dan mencarinya?"

"Kau sudah menemukannya?"

Menggeleng, Slaine pun berkata, "Apa menurutmu ada orang yang mencurigakan di sekolah akhir-akhir ini?"

Giliran Inaho yang geleng-geleng kepala. "Menurutmu apabila aku tahu siapa pencurinya, apa aku akan bertanya padamu kenapa kau melakukan ini semua?"

Slaine mendecak mendengarnya dan ia kembali berkata, "Aku yang salah karena sudah bertanya padamu."

"Bagus kalau kau sadar," jawab Inaho yang akhirnya menuai ekspresi jengkel dari wajah pemuda berambut perak itu. Namun sebelum tinju tangan kosong Slaine mendarat di wajahnya, ia kembali berkata, "Tapi ngomong-ngomong, aku tidak bilang bahwa aku tidak bisa membantumu menemukannya."

"Maksudmu?"

Mengangkat bahu, Inaho berkata, "Kalau kau bergabung dengan Komite Disiplin denganku, akan kukatakan caranya."

Belakangan baru ia menyesalinya. Kenapa ia bersikeras mengajak pemuda itu bergabung dalam komite yang belum sempat ia sahkan dengan Asseylum. Bahkan niatnya untuk menyerahkan proposal pada sang Ketua OSIS terpaksa batal karena insiden tak terduga dari para siswi. Semoga saja Slaine lupa dan tidak menanyakannya du…

"Ngomong-ngomong, apa tugas Komite Disiplin?"

'Sial' umpat Inaho dalam hatinya. Baru saja ia berpikir bahwa pemuda ini takkan mengingat apa yang mereka perbincangkan sebelumnya.

"Tidak banyak," jawab Inaho sembari memutar otaknya mencari jawaban. "Tapi kau bisa mendapatkan akses untuk menyelidiki siapapun yang kau anggap mencurigakan. Bukankah itu menguntungkanmu?"

Slaine menatapnya sebelum senyum sinis dan jahat menghiasi wajahnya dan meruntuhkan gambaran tentang Pangeran Baik Hati yang diidamkan para siswi. Bagi Inaho, pemuda ini lebih mirip Raja Iblis dibandingkan seorang Pangeran berkuda putih. Lihat saja caranya tertawa sembari menghantamkan tinju ke tangannya yang lain. Tidak ada pangeran berkuda putih yang akan melakukan itu.

"Coba kau bilang dari kemarin," kata pemuda itu. "Tahu begitu aku tidak perlu menghindarimu sambil menyusun langkah selanjutnya."

Inaho mengangkat alis, "Ah, jadi itu sebabnya kau tidak masuk kemarin."

Mengerjapkan mata Slaine pun membuka mulut dan berkata dengan gagap. "M-maksudku…"

"Ya, ya, aku tahu kau takut padaku," jawab Inaho untuk menenangkannya. "Aku tidak mempermasalahkannya…"

"Aku yang mempermasalah—"

Nada tinggi Slaine langsung terputus ketika mendengar suara pintu digeser. Untuk sesaat ia mematung di tempat sementara Inaho menggerakkan kepala dan menatap ke arah pintu. Ia sedikit terkejut ketika menemukan orang yang hendak ditemuinya justru berdiri di depan pintu dengan wajah pucat.

"Seylum-san?"

"Inaho-san?" Gadis berambut kuning yang berdiri di depan pintu itu kembali berkata. "Kenapa kau di sini?"

"Aku mengantar seseorang," jawab Inaho," kau sendiri?"

"Ah, kepalaku sakit," jawab gadis itu sambil bergerak menuju ranjang terdekat sementara Inaho bergerak menghampirinya. Ia mengucapkan terima kasih singkat ketika Inaho memapahnya dan membawanya berjalan pada ranjang terdekat dengan meja petugas kesehatan. "Apa petugas kesehatan belum datang?"

"Ya, Yuki-nee mungkin terlambat," Inaho berkata sementara ia berdiri di samping ranjang. "Ada yang kau butuhkan?"

"Obat pereda sakit kepala, mungkin?" Asseylum kembali berkata dan membuat pemuda yang menjadi wakilnya di OSIS melangkah menuju lemari obat. Ia membuka pintu lemari kaca dan mengeluarkan sebutir obat dari deretan obat lain. Diambilnya juga gelas bersih dan diisinya air untuk dibawa ke dekat gadis berambut kuning cemerlang itu. "Oh, terima kasih!"

"Ada lagi?"

Asseylum menggelengkan kepala, "Ini cukup. Terima kasih, Inaho-san."

Inaho mengangguk sedikit sebelum berjalan kembali ke ranjang yang lain. Ia melewati ranjang-ranjang yang kosong hingga akhirnya ia tiba di tempat pemuda yang berpura-pura sakit sebelumnya. Melihat pemuda itu mematung dengan pandangan tertuju pada gadis berambut kuning terang itu, perasaannya menjadi sedikit aneh. Entah kenapa ia tidak suka melihatnya.

Namun Inaho menggelengkan kepala dan memutuskan untuk mengabaikannya. Ia pun memanggil nama pemuda itu dan membuat perhatian Slaine kembali tertuju padanya.

"A-ah ya?"

"Kau tidak keberatan kalau kutingga—"

Inaho berhenti berkata ketika melihat airmata mengalir di pipi pemuda itu. Ia mengernyitkan dahi sementara pemuda di hadapannya pun gelagapan saat melihat tetes air menuruni pipinya. Bahkan pemuda itu berusaha menghapusnya sekalipun tetes-tetes air itu tak bisa berhenti jatuh.

"A-aku tidak keberatan," kata pemuda berambut perak itu, "tapi, aku…"

Tanpa banyak bicara, Inaho menarik tirai yang membatasi ranjang Slaine dengan ranjang yang lain. Ia pun menghampiri tepian ranjang tempat pemuda berambut perak itu duduk dan meletakkan kedua tangannya di atas bahu pemuda berambut perak yang masih berusaha menghapus airmata yang mengalir. Menatap pemuda itu, ia pun berkata, "Kau pasti demam tinggi."

"H-hah?"

"Kau tidak tahu?" Inaho berkata padanya. "Orang yang demam tinggi biasanya mengeluarkan kelenjar air mata karena tubuhnya terlalu panas. Kelenjar itu berfungsi untuk menurunkan panasnya, makanya airmatamu jadi mengalir."

"B-begitu, ya?" Slaine berkata dengan bingung. "Y-ya, pasti begitu."

"Tidurlah," ujar Inaho sambil menyentuh dahi si pemuda berambut perak, "akan kuambilkan obat."

Slaine tidak menjawab. Sekali ini tidak ada bantahan atau pun protes yang biasanya berujung pada perdebatan panjang. Dengan patuh, pemuda berambut perak itu mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bantal. Manik birunya bersembunyi di kelopak sementara tetes airmata mengalir jatuh dari pipinya.

Sementara itu Inaho berjalan menuju ke rak obat dan membuka pintunya. Di hadapan kotak-kotak obat yang disusun berderet, ia pun menundukkan kepala dan memejamkan matanya.

Ada yang salah dengannya. Benar-benar ada yang salah. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa tidak nyaman saat melihat airmata itu mengalir? Terlebih ketika melihat bahwa pemuda itu hanya dapat mematung dan memandangi Asseylum. Ia sama sekali tidak mengerti.

'Apa ini?' batinnya sambil menyandarkan kepala pada salah satu rak. 'Perasaan tidak nyaman apa ini?'

Ia bingung. Benar-benar sangat bingung. Namun ia memutuskan untuk mengabaikannya dan mengambil obat seperti perkataannya. Ia tidak menyadari bahwa sikapnya tengah diperhatikan oleh seseorang yang tengah mengamatinya tajam dari luar jendela.

Pandangan matanya terus mengikutinya dan sesekali ia bergumam.

"Kaizuka…, ah tidak," ujar orang itu, "Orange."

.

.

.

(t.b.c)


A/N :

Happy birthday, Inaho Kaizuka a.k.a Orenji-iro! Sayang nggak pas waktunya, tapi sekali lagi congratulation! Semoga semakin langgeng dengan your waifu, Slaine. Ya, Slaine? #dikejerTharsis #laripakekecepatancahayaanimesebelah

Dan btw :

Fujoshi desu XD : Yes! Akan ane buat Fujocchi nggak bisa tidur karena mikirin babang dan his waifu :P Tapi btw, tenang aja, di sini Slaine bukan cowo panggilan, karena kalau jadi cowo panggilan, Sleipnir bakal lebih dulu babat ane T^T (#saveauthor) tapi, doi juga bukan agen rahasia ato semacemnya kok

Hm, kalo tahanan rumah itu, ane sih kebayangnya jadi waifunya babang Nao, ya? Lumayan banget 'kan, pulang kerja ada yang ucapin 'Okaeri' itu gimanaaa gitu XD

LOL, ane juga seneng mampir di AZ sebenernya. Tapi btw, sepertinya mingdep ane harus lanjutin ff sebelah sebelom ide2nya luntur dari benak ane T^T

klystawll : Hi, Klystawll, salam kenal XD Thank u uda baca ff saia. Tapi btw, mau nanya aja, nama panggilannya apa biar enak ngobrolnya XD (sebelom nanti kita ngobrol panjang :D )

And last but not the least, thank you for reading this fic, hope you guys like it and if you mind, please share some of your thoughts dan mari kita fangirlingan bareng :P

With love,

Cyan