Gekkan Shoujo Nozaki-kun
©Izumi Tsubaki sensei
.
A/N: Ia terlahir karena masa lalu dan tumbuh pada masa sekarang tapi, ia bisa menjadi lebih kuat di masa yang datang atau bahkan memudar—kasih sayang. Sangat-sangat OOC. Less descriptions, much conversation.
Di chapter ini kita sedikit flasback. Tidak ada penjelasan waktu, semoga paham dan tetap enjoy.
.
—Hubungan: Darah dan Cinta—
[ Chapter 4 ]
"Ambisi"
By oishit
.
.
.
Cahaya matahari menembus tirai putih yang seketika menjadi begitu transparan. Mata ungu dari tubuh mungil yang meringkuk dengan boneka beruang merah mudanya sedikit mengerjap. Ia mencoba bertahan, tapi silaunya matahari lebih kuat dari rasa kantuknya. Terlebih, suara itu selalu bergema di pagi hari, "Chiyo..." suara lembut itu menerobos pendengarannya yang setengah berfungsi.
"Chiyo," panggilnya lagi seraya mengoyak tubuh mungil itu. Pemilik mata ungu akhirnya terjaga seutuhnya. Ia masih mengerjap karena pertahanan cahaya yang begitu menyilaukan. Manik ungunya hanya dapat menangkap surai oranye yang menjuntai indah hingga menyentuh pipinya yang kenyal—sedikit menggelitik.
"Ibu..."
.
.
"Sudah ku bilang untuk tidak menanyakan ayahmu kan, Chiyo?"
Gadis mungil itu duduk di atas kursi meja makan. Di hadapannya telur sapi setengah matang menanti untuk di santap. Tapi, lidahnya seolah enggan untuk mencicipi sarapan yang di buatkan ibunya dengan penuh cinta. Kepala oranye itu tertunduk, mata ungunya mencuri pandang rambut oranye yang tergerai dengan gelombang kecil. Surai itu seperti tirai yang di mainkan sang angin, bergerak ke kanan dan kiri begitu lembut, menutupi tubuh mungil sang pemiliknya.
"Bagiku," ujar wanita yang dipanggil Ibu oleh Chiyo. "Ayahmu sudah mati..." kalimat itu begitu tenang terujar. Gadis berusia lima tahun itu tak menangkap sedikitpun emosi di dalamnya—tidak sedih ataupun kebencian. Menyeramkan.
Tapi, senyuman itulah yang membuatnya merasakan rasa takut yang luar biasa. Rasa takut yang mampu menggetarkan jantungnya hingga memecah pembuluh darah. Rasa takut yang hampir membuatnya merasakan kematian.
"Iya kan, Chi...yo?"
Ia bahkan tak mampu untuk memegang sumpitnya.
.
.
.
Prang!
Mata ungu yang masih sangat rentan itu menangkap benda-benda melayang, jatuh, dan pecah. Ia tak terlalu takjub, hal ini sudah sering ia saksikan—seperti drama yang muncul di jam delapan malam. Tapi, ketika amarah ibunya sudah mereda gadis kecil itu bisa memeluknya dengan sangat hangat—walau sesaat. Pemilik manik hijau itu akan meracau kemudian, menceritakan kisah-kisah manis dan pahit secara bergilir, lalu berakhir kematian.
"Kau tahu," katanya memulai cerita. Tangan mungil yang sedikit rapuh itu mengelap sebuah figura dengan kain putih. "Ayahmu selingkuh dan pergi meninggalkan kita." Manik hijaunya terpantul dari kaca figura yang menampakkan foto dirinya bersama seorang bayi berambut oranye. "Ah, aku tidak ingin berbohong padamu, Chiyo. Ayahmu itu," Ibu menarik napasnya dan berhenti dari rutinitas, "ia lebih memilih wanita yang telah memberikan seorang putra untuknya," ujarnya kemudian. Lalu, ia terkekeh, "Apa salahnya dengan seorang putri?"
Ia meletakkan kembali figura di atas meja. Lalu mengambil figura lainnya. Wanita itu tersenyum menatap sebuah figur pria tinggi dengan jas hitam. Ibu Chiyo terbaring di sisinya, di atas ranjang rumah sakit. Bayi bermata ungu—dalam buaian ibunya—itu menatap kamera dengan wajah yang polos—semurni malaikat. "Awalnya kami sangat bahagia," imbuhnya. Kain putih itu menjelajahi kaca figura, berputar pada sosok anak laki-laki dengan rambut hitam dan mata yang tegas. Rahangnya hampir serupa pria di sisinya—begitu tegas. "Lalu, saat kau lahir, wanita itu datang bersama putranya. Ia mengambil ayahmu dan pergi meninggalkan kita."
Ibu Chiyo kembali meletakkan figura di atas meja. Tubuh mungilnya berputar, menangkap putri tunggalnya yang masih terduduk manis di sisi ranjang. "Tidak!" teriaknya sangat nyaring hingga Chiyo membulatkan matanya. Wanita mungil yang menonjolkan tulang di bawah lehernya segera berjalan menghampiri Chiyo, "Ini bukan karena kau seorang anak perempuan, Chiyo. Tidak, dan bukan seperti itu."
Ia memeluk Chiyo. Mendekapnya dengan hangat, "Ayahmu sangat bodoh, tapi ibu mencintainya. Hanya saja, ia lebih memilih mereka. Kau tahu apa kata ayahmu, Chiyo?" tanyanya dengan sangat lembut. Chiyo menggeleng—ia sungguh tidak tahu. "Ayahmu berkata," ia menarik oksigen sebanyak mungkin lalu menghempaskannya dalam satu tiupan, "Anak laki-laki itu lebih baik daripada anak perempuan! Lihat apa yang akan mereka lakukan di masa depan nanti!"
Chiyo mencengkram ujung selimut, mengalirkan semua keterkejutan dan ketakutan pada benda mati dan tak berdaya. Netra ungunya seolah ingin mati menatap ekspresi terliar dari ibunya—penuh dengan aura ketakutan dan keterpurukan.
"Kau akan jadi anak yang baik kan, Chiyo?" tanyanya seraya menepuk kepala Chiyo dengan lembut.
Chiyo menggigit bibir bawahnya, "Iya, Ibu."
.
.
Rumah kecil itu terasa sesak. Kabut hitam menyelimuti setiap sudut ruang. Halaman hijau berubah menjadi hitam dan putih. Bunga lily dan mawar beradu memamerkan aromanya—membungkam tangis menjadi lebih tenang.
Gadis kecil itu hanya bisa berdiri di sudut ruang. Mata ungunya menatap dengan datar setiap orang yang datang dengan pakaian serba hitam. Mereka meletakkan bunga tepat di depan foto wanita berambut oranye yang tergerai indah dengan gelombang kecil. Hati kecilnya berkecamuk tapi, kelopaknya tak juga menarik cairan bening keluar.
Ia melenguh, lalu mendapati seorang anak laki-laki dengan rambut merah tersenyum menatap dirinya. "Mikorin," gumam Chiyo. Kepala merah itu mendekat dan berdiri tepat di hadapan Chiyo. Masih dengan senyum yang sama ia memeluk gadis kecil itu dengan hangat.
Waktu berjalan dengan cepat, beberapa orang hanya menatapnya sedih. Gadis malang yang di tinggal sang ibu, begitulah kira-kira. Chiyo hanya bisa menjadi anak baik, sesedih apapun rasanya kehilangan ibu, gadis itu tetap memberikan kurva simetris yang menenangkan.
Sesungguhnya, Chiyo tidak tahu harus menangis atau mengulas senyum. Hingga, pria berambut cokelat dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi itu menyejajarkan matanya dengan mata ungu Chiyo. "Mulai sekarang kau tinggal bersamaku, oke?"
"Iya, ayah!"
.
.
.
"Mikoto!" Teriak wanita dengan rambut biru dan mata hijau yang berkilat penuh amarah. "Sampai kapan kau akan tidur!" teriaknya lagi untuk yang kedua kali. Tangannya masih terampil dengan penggorengan dan beberapa hal lainnya di dapur. "Chiyo..." panggilnya pada gadis berusia dua belas yang baru saja mengendap untuk mangkir dari sarapan pagi.
"Ah, ibu..." ia pun hanya dapat pasrah. Tepukan lembut di ubun kepalanya membuat ia menoleh pada pria dengan kaos oblong dan celana pendek selutut. Pria itu menguap seraya mengucapkan selamat pagi yang tercampur dengan karbondioksida.
"Pagi, ayah," balas Chiyo.
"Ah, Sayur lagi?"
"Ah! Apa aku membangunkanmu?" Yuu menghentikan rutinitas memasaknya sesaat begitu pria itu sudah berdiri di sisinya. Pria itu hanya menggeleng lembut sejurus kemudian mencium pipi istrinya dengan sedikit perjuangan—Yuu terlampau tinggi untuk ukuran seorang wanita.
"Masa mudaku terancam," ujar Mikoto yang sudah duduk di meja makan.
"Apa kau ingin cepat menikah, huh?" goda sang ayah.
Mikoto hanya melempar seringaian pada ayahnya—Hori Masayuki. Tapi, bibir mungil itu menjawabnya dengan yakin. "Ya, aku ingin."
Seketika dapur itu menjadi hening. Setiap pasang telinga hanya dapat mendengar didihan air dari panci di hadapan Yuu. Mereka semua menatap mata ungu yang membulat penuh tekad, "Ya. Tentu saja kau akan menikah, Chiyo," pecah Hori. "Tapi, tidak sekarang. Biarkan pria tua di sisimu itu yang menikah lebih dulu," Hori terkekeh menggoda anak sulungnya yang masih menjomblo di usia sembilan belas.
Tidak ada yang meyakini, gadis itu serius dengan ucapannya. Ia tak hanya melantur atau berceloteh khas anak remaja. Ia memang akan melakukannya, secepat mungkin.
.
.
.
Chiyo membaca buku pelajarannya di atas ranjang, kaki mungilnya bergerak naik dan turun, lalu menghentak-hentak kasur. Ia nampak bosan. Sedang pria di sisinya hanya berkutat dengan game simulasi cinta. "Hei, Mikorin," ucapnya.
Sang kakak hanya berdehem pelan tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Aku serius," Chiyo menoleh. Ia meletakkan pulpen diantara hidung dan bibir atasnya. "Soal pernikahan itu. Aku serius."
Mata merah Mikoto tak beralih dari layar televisi. Meski begitu jemarinya sudah mematung—begitu sadar ia kalah dalam permainan, "Ya... ya... ya..." katanya. Kemudian ia menekan tombol restart dan memulai game baru.
"Nozaki Umetarou. Aku akan menikah dengannya."
"Hn..." Mikoto masih sibuk dengan game-nya. "Hn... Nozaki," gumamnya. Jemari jenjangnya bergerak statis di atas stick. "Oh, Nozaki..."
Akhirnya Mikoto mengalihkan perhatiannya pada sang adik, "Tu—tunggu! Maksudmu Nozaki pengusaha muda itu!" mata merahnya hampir seperti melompat, lalu kurva asimetris terlempar dari wajahnya, "Ah, pria itu akan menikah dengan oranglain sebelum kau tumbuh cukup besar untuk bertemu dengannya, anak kecil."
"Aku akan menikah dengannya," ujar Chiyo dengan nada sedikit ditekan—ia melupakan ejekan di penghujung kalimat kakaknya. Mikoto tak pernah mendapatkan mimik sekuat itu dari Chiyo. Ada sesuatu yang bahkan membuat Mikoto sedikit ketakutan.
"Chiyo." Mikoto menepuk kepala oranye itu dengan lembut, "Katakan. Apa yang kau inginkan?"
"Keluargaku."
.
.
.
Cahaya rembulan menerobos jendela dengan lembut, menenangkan dan menjaga yang terlelap. Di balik selimut merah muda dengan warna tosca solid, tertidur seorang gadis mungil. Dinginnya malam yang berbaur dengan pendingin ruangan membuat tubuhnya meringkuk sempurna seraya memeluk sebuah boneka beruang berwarna merah muda.
Ia terlalu menikmati alam bawah sadarnya hingga tak menyadari pintu kamar yang sedikit berdecit. Ditengah sunyinya malam, derap langkah kaki semakin mendekati sisi ranjang tempatnya tertidur.
Prang! Prang! Prang!
Suara nyaring itu mengejutkan gendang telinga Chiyo. Memaksa gadis itu membuka netra ungunya. Jemari-jemari mungilnya segera memblokade telinga, matanya seketika merapat kembali begitu bunyi yang memekikkan telinga masih saja bergema.
Suasananya memang gelap, hanya cahaya bulan yang menerangi ruangan kamar tidur putri tunggal keluarga Hori.
"Selamat ulang tahun, Chiyo..." bisik seorang pria begitu lembut menggantikan suara keras dan kencang yang membuatnya terjaga. Chiyo membuka matanya, dan sudah mendapati cahaya yang berpijar terang. Netra ungunya menangkap seorang wanita tinggi dengan mata hijau yang menyejukan. Sebuah cake dengan lilin berangka lima belas tertidur manis dalam pegangannya.
Rona bahagia terpancar dari wajah Chiyo. Ia genap berusia lima belas tahun, dan permintaannya—rencananya—akan segera terwujud.
"Terimakasih," ujarnya begitu pelan. Ini adalah keluarga yang selalu ia idamkan—meski bukan milik Chiyo seutuhnya.
"Hei!" sergah pria yang sama tinggi dengan ibunya. "Ada apa dengan wajah buruk rupa itu?" Mikoto melirikkan mata tajam pada adiknya. "Ini hari ulang tahunmu, bodoh."
"Mikoto!" bentak Yuu. "Chiyo bahkan lebih baik darimu." Yuu berjalan melewati Mikoto yang memegang panci dan stick drum—penyebab keributan—lalu, duduk di sisi ranjang Chiyo. "Buat permohonan, dan tiup lilinnya," ujar Yuu tidak kalah lembut seperti ibunya. Membangkitkan kenangan yang telah lama hilang.
"Semoga tahun depan pria itu melamarku."
"Apa yang kau pinta, Chiyo?" tanya tuan Hori begitu Chiyo selesai meniup lilinnya. Chiyo hanya melemparkan senyum dan membiarkan sang ibu untuk ambil alih.
"Kau tahu," kata ibunya. "Jika kau mengatakan permohonanmu maka, permohonan itu tidak akan terkabul."
"Apa kau berdoa agar kau mendapat kakak ipar, Chiyo?" kali ini suara Mikoto begitu lembut. Ia dengan tega menarik ayahnya dari sisi Chiyo, "Kau anak baik kan, adikku sayang..." Mikoto bahkan mengelus kepala oranye itu penuh kasih sayang.
"Ya. Untukmu mungkin seorang adik ipar," jawab Chiyo.
Untuk sesaat Mikoto terdiam lalu, menekan kepala Chiyo, "Apa maksudmu, hah? Apanya yang adik ipar? Kau tidak boleh menikah lebih dulu daripada aku! Apa kau mengerti!"
"A—ampun, Mikorin!" raung Chiyo.
"Tidak ada! Tarik kembali doamu! Cepat!"
"A—ayah!" Gadis itu meminta bala bantuan, dan kedua pria dengan tinggi badan berbeda itu saling tarik menarik tidak jelas. Sementara itu, ibunya—Yuu—hanya tertawa lembut menyaksikan semua itu.
Yuu tahu, gadis kecil di hadapannya tumbuh dengan pemikiran yang terlalu cepat—untuk anak seusianya. Ia tetap mencintai Chiyo meski anak berambut oranye dengan netra ungu itu tak pernah tinggal dalam rahimnya. Yuu mendekatkan dudukannya, menggenggam jemari mungil yang sangat ia kenal. Wajahnya mendekat, dan mengecup pipi kenyal itu dengan lembut, "Semoga kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Chiyo."
.
.
Mikoto masih terlelap sebelum akhirnya matahari memaksanya untuk terjaga. Kakinya tersungut menendang kaki ranjang, ia terbangun. Rambut merahnya sangat berantakan, bahkan sisa krim kue semalam masih merias pipi putihnya. Dia sangat tampan.
Mata merah darah itu meyebarkan pandangan pada ruangan asing namun friendly—kamar Chiyo. Ia menangkap beberapa bungkus snack bahkan minuman soda yang berantakan di sisinya. Bersyukur ia tak membuat tubuhnya lengket karena menumpahkan salah satu gelas itu.
"Hei," sergahnya begitu menangkap rambut oranye yang menutupi kepala sang adik. "Kau tidak sekolah?" tanyanya, lebih terdengar janggal karena pria itu tidak pergi kuliah.
"Hari Minggu. Cepat pindah ke atas kasur, aku harus merapikan kamar ini sebelum Ibu memarahimu," jawab Chiyo tanpa menolehkan pandangannya.
Mikoto dengan malas berdiri dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Terasa sangat nyaman hingga ia ingin terlelap kembali. Ia menolehkan pandangannya pada Chiyo, "Masih melihat foto tua itu," ujarnya yang bercampur dengan uap.
"Aku sedang menyusun rencana."
"Masih ingin menikahi kakakmu sendiri?"
Chiyo tidak menjawab, mata ungunya terus menatap foto dihadapannya. lalu, beralih pada laptop dan buku catatan. "Kalau begitu," Mikoto terdiam sesaat. "Menikah saja denganku, aku kan juga kakakmu."
Akhirnya gadis itu bereaksi, ia menoleh dan menatap datar wajah sang kakak yang damai terbaring di atas sebuah bantal, "Kau itu jomblo akut dengan masa depan tidak jelas dan tidak menjamin siapa pun wanita yang jatuh cinta padamu akan berpikir ratusan kali sebelum berkata ya saat kau melamarnya."
"Hoi... hoi..." Mikoto agak ber-sweatdrop dengan pengakuan sang adik yang terlalu jujur dan sangat tepat.
"Lagi pula," Chiyo kembali menatap foto di dalam figura. Seorang pria dengan wajah tegas dan mata tajam, rahangnya jauh lebih sempurna di bandingkan saat Chiyo masih berusia lima tahun. "Dia tidak lebih dari sebuah perebut kebahagianku dan ibu," lanjutnya dengan suara yang tenang.
Mikoto tidak suka. Entah sejak kapan, ia benci mendengar kalimat tanpa emosi yang keluar dari bibir Chiyo. Ia melenguh, mencoba bertahan dengan kerumitan yang di ciptakan oleh adiknya. Mengapa ia tak melupakannya saja lalu hidup tenang bersama dengan ayah dan ibunya yang sekarang, bersama dengan kakak—yang seharusnya menjadi satu-satunya.
"Usia mu masih lima belas, bagaimana kau bisa menarik hati pria berusia dua puluh lima itu? Kau hanya akan di anggap seorang anak kecil."
Chiyo tersentak, ia melupakan hal itu. Ia masih terlalu muda untuk ukuran pria seperti Nozaki Umetarou. Tapi, ia membuang semua hal itu. "Aku akan membuatnya jatuh cinta kepada ku."
"Caranya?"
"Masih ku pikirkan."
"Sama seperti beberapa tahun yang lalu," Mikoto menarik tubuhnya hingga terduduk. kemudian ia menapaki lantai dan berjalan ke sisi Chiyo. "Ingatlah jika kalian satu darah. Jika kau menemukan cara lain untuk menyalurkan ambisimu maka, buanglah pemikiran bodoh tentang pernikahan itu."
"Kau berjanji akan membantuku."
"Ya. Tapi—"
"Tidak ada tapi."
"Baiklah." Mikoto mengacak rambut Chiyo sebelum akhirnya ia melangkah keluar. Chiyo menahan pipinya dengan tangan kanan, ia masih menatap foto pria di hadapannya. "Maafkan aku, Mikorin. Tidak ada cara lain."
.
.
.
"Pikirkan ini lagi, Chiyo?"
"Tidak."
"Kita pasti menemukan cara yang lain."
"Tidak."
"Ini gila, jika kau benar-benar menikah dengannya."
"Tid—yah. Aku akan jadi lebih gila hanya dengan memikirkan orang yang lebih gila dariku! Kenapa ibu begitu mencintai pria itu? Kenapa ayah tidak memilih ibu? Apa aku akan menjadi anak yang nakal, Mikorin? Darimana ayahku tahu hal itu? Apa dia seorang cenanyang?" amarah Chiyo lebih kalut dari kata-katanya. Wajahnya memerah dengan pembuluh darah yang semakin melebar.
"Chiyo..." gumam Mikoto. Suaranya terdengar lebih tenang, "Kau tahu seorang istri bukan hanya seorang istri, kan? Dia—Nozaki—bisa saja meminta, yaa... kau tahu—itu."
"Aku tidak akan melakukannya, Mikorin. Hal ini akan menjadi sebuah senjata yang akan menghujam jantungnya secara perlahan."
Mikoto pasrah, ia menyerah dengan segala ambisi yang di miliki Chiyo. "Dengar, Chiyo. Keluarga ini adalah keluargamu yang sesungguhnya, kau tidak harus menjadi seorang Nozaki, kau tahu."
"Mikorin," Chiyo menoleh menatap ruby nanar di depan manik ungunya. "Mungkin kau lupa, kita bukanlah pemilik darah keluarga ini. Tidak darah ayah Hori ataupun Ibu Yuu, kita bukan anak biologis mereka."
"Sungguh, aku membenci percakapan ini. Lakukan apa yang kau inginkan."
Putra tunggal keluarga Hori menyesap kopi hitamnya. Suasana cafe yang ramai bahkan tak membantu pikirannya keluar dari ke kalutan. Sudah cukup lama pria berambut merah ini melupakan hal yang tak pernah ia ijinkan untuk singgah di dalam pemikirannya. Tapi, dengan enteng adik kesayangannya mengungkit kembali luka yang bahkan belum di buat.
Ibu bermata hijau, ayah dengan tubuh pendek. Ayah berambut cokelat, dan ibu bersurai biru. Meski ia dan Yuu memiliki tubuh dengan tinggi yang sama itu tidak menguatkan asumsinya. Lalu, bagian mana dari diri mereka yang mewakili dirinya—tinggi, bersurai dan bernetra merah?
.
.
.
To be Continued
.
A/N:
Yes! Saya muncul dengan penname baruw :3
Salam kenal my only one lovely supporter in writing (baca: reader) :*
