What If

By VKchu137

Pair: Top! Kim Taehyung

Bottom! Jeon Jungkook

Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,

Desclimer: Tahun dan sebagainya berkaitan dengan dinasti Joseon saya sendiri yang ngarang. Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok

Selamat membaca..

~oOo~

Kerajaan Joseon dan Kerajaan Goryeo dulunya merupakan dua kerajaan yang selalu akur, tak pernah ada perseteruan. Setidaknya ini berlangsung hingga pemerintahan Raja Kim Junmyeong dari Kerajaan Joseon dan Raja Cho Hankyung dari Kerajaan Goryeo.

Awal mula konflik dua Raja tersebut terjadi saat Kim Heechul, istri dari Raja Kim Junmyeong yang saat itu baru saja melahirkan Kim Jong In sang Putra Mahkota, membuat sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan.

Ibu Suri dari Kerajaan Joseon itu mengaku telah menjalin hubungan spesial dengan Cho Hankyung seorang Raja dari Kerajaan tetangga –Goryeo– sebelum menikah dengan Kim Junmyeong, dan telah miliki anak dari hasil hubungan itu. Cho Kyuhyun, sang Putra Mahkota Kerajaan Goryeo.

Raja Kim Junmyeong yang mendengarnya tak percaya semudah itu dan menganggap perkataan istrinya hanya bualan semata. Namun, berbulan-bulan bahkan hingga tiga tahun setelah kelahiran Kim Jong In –sang anak– Heechul tak pernah lagi mengurus darah dagingnya tersebut. Hingga dua tahun kemudian, wanita cantik itu dikabarkan lari dari Kerajaan dan memilih menikah dengan Raja dari Kerajaan Goryeo.

Peperangan tak dapat dielak lagi, kemurkaan Raja Junmyeong menyebabkan beberapa pasukan dari Goryeo gugur dalam perang, termasuk sang Raja, Cho Hankyung.

Heechul yang tak terima sang tercinta meninggal oleh tusukan pedang sang mantan suami pun, mendidik sang Putra Cho Kyuhyun yang saat itu masih berumur sembilan tahun untuk menjadi seorang Raja pengganti sang ayah dengan membumbuinya siasat dendam terhadap Kerajaan Joseon.

Hingga kini, masa pemerintahan Raja Kim Jong In dari Kerajaan Joseon, dan Raja Cho Kyuhyun dari Kerajaan Goryeo, kedua kerajaan masih sering bersiteru bahkan hanya karena masalah kecil sekalipun. Heechul telah meninggal dunia, dua hari setelah pengangkatan Cho Kyuhyun sebagai Raja Goryeo. Dikabarkan dibunuh oleh Kim Junmyeong sendiri yang kemudian bunuh diri tepat saat pengangkatan Kim Jong In sebagai Raja baru Joseon.

~oOo~

Seseorang dengan pakaian prajurit lengkap terlihat tengah berlari menuju bangunan utama istana. Mengontrol napas sejenak saat membuka pintu atas persetujuan yang didalam. Matanya berkilat panik saat seluruh orang di dalam ruangan menatap kearahnya. "Ini gawat, Yang Mulia. Park Jimin, utusan dari Goryeo sekarang telah berada diperbatasan menuju kesini. Sepertinya akan terjadi perang sebentar lagi Tuanku" prajurit itu mengucapkannya sembari menundukkan kepala dengan tak mengurangi rasa hormat kepada yang lebih tinggi kedudukannya.

Namjoon juga Taehyung yang juga berada di ruangan itu menatap sang ayah. "Ayah. Ini terlalu cepat. Kita tak memiliki banyak waktu untuk menambah rencana." Namjoon berucap dengan nada biasa.

"Aku akan menyiapkan pasukanku untuk ini, Ayah" Taehyung melanjutkan, dan berniat berdiri sebelum isyarat tangan Jong In menghentikan pergerakannya

Kim Jong In menatap prajurit yang masih berada dipintu menunggu perintah dengan pandangan datar khas nya. "Apa Jendral Park Jimin membawa banyak pasukan?"

Prajurit yang mendengar pertanyaan itu pun menggeleng kecil. "Tidak, Yang Mulia. Beliau hanya membawa lima orang prajurit biasa"

"Kalau begitu, sambut kedatangannya."

Namjoon dan Taehyung yang mendengar titah tenang sang Ayah, menatap bingung. "Ayah. Tak menutup kemungkinan ini hanyalah jebakan dari Goryeo." itu Taehyung yang mengucapkannya.

"Tak apa. Jebak saja sesuka mereka. Ini sarang kita. Kita yang lebih tahu mengenai Kerajaan ini." Setelah mengucapkannya, Kim Jong In beserta kedua anaknya berdiri, dan bersiap menantikan Tamu tak diundang dari Kerajaan tetangga.

Taehyung sendiri sempat merenung dan berniat untuk menyembunyikan Jungkook, karena dirinya yakin seyakin-yakin nya, bahwa utusan Goryeo ini datang pasti atas perintah dari Sang Raja yang telah mengetahui bahwa sang putri tengah berada di Kerajaan Joseon. Yahh meski Jungkook bukanlah Putri Cho Jungmin, tapi pemuda manis itu benar-benar mirip dengan Putri itu ditambah dengan penampilan Jungkook kini.

~oOo~

Jungkook kini tengah memasangkan tusukan rambut pada Seokjin. Jangan tanyakan darimana dirinya mengetahui cara pemakaian segala macam aksesoris wanita ini, karena sebenarnya dirinya sendiri juga tak mengetahuinya. Pengetahuan mengenai hal-hal seperti ini tiba-tiba sudah terangkai indah dikepalanya seolah-olah memang sering melakukan hal seperti ini. Bodoh saja Jungkook yang laki-laki tulen merias diri seperti ini, tapi ini mungkin bawaan dari kehidupan sebelumnya. –Pikirnya sih begitu

"Jungkook-ah.. Bagaimana jika memang terjadi perang?" Seokjin membuka suara, wajah cantiknya terlihat murung. Jungkook yang melihatnya mencoba menepuk bahu Seokjin lembut. Tak sopan memang, tapi Jungkook kan memang tak terlalu mengetahui peraturan Kerajaan seperti ini, jadi dia melakukannya seperti biasanya orang di masa depan lakukan.

"Tenanglah, Pemaisuri. Kita berharap saja tak terjadi hal buruk pada Yang Mulia Raja, Putra Mahkota, juga Pangeran Taehyung." Jujur saja, sebenar Jungkook juga takut, sangat takut malah. Pasalnya, dirinya mengetahui bahwa ia lah penyebab kesalahpahaman ini terjadi. Tak menutup kemungkinan nantinya dirinya lah yang menjadi korban, atau kemungkinan yang lebih parah mungkin saja dirinya dibawa paksa pergi ke Kerajaan Goryeo.

Hening sejenak melingkupi mereka, sebelum Jungkook kembali membuka suara. "Eumm.. Pemaisuri. Bolehkah saya keluar sejenak? Saya hanya akan memastikan keadaan diluar sana." Seokjin yang mendengarnya sempat menatap bingung, sebelum mengangguki setuju. "Cepatlah, Kook. Diluar sana sedang tak aman."

Jungkook mengangguk singkat, kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan. Bohong jika ia mengatakan ingin melihat keadaan sekitar, karena niat awalnya adalah bertemu dengan Pangeran Taehyung.

Matanya mengedar mencari seiring dengan kakinya yang kerepotan melangkah karena hanbeok yang dikenakan.

Tak

Terkejut. Seseorang baru saja menepuk bahunya. Menolehkan kepalanya pelan melihat wajah sang penepuk, kemudian menghela napas lega saat mengetahui orang yang dicarinyalah yang kini berada dihadapannya. Dipikir-pikir, si Pangeran Taehyung itu senang sekali mengejutkannya dengan menegur dari belakang.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Jungkook memperbaiki cara berdiri, hingga kini telah berhadapan dengan Taehyung. "Tae.. Apapun yang terjadi, jangan serahkan aku pada mereka yaa" mengucapkannya dengan wajah memelas.

"Aku akan menyerahkanmu dengan senang hati kepada mereka jika kau tak kunjung memanggilku Pangeran Taehyung" Taehyung membalas angkuh dengan tangan yang dilipat didepan dada.

Jungkook yang mendengarnya mencebik sinis. "Kau ini gila hormat sekali sih. Kalau di masa depan, orang seperti dirimu sudah menjadi buah bibir ibu-ibu arisan"

Taehyung memutar bola matanya jengah. "Lagi-lagi bahasa anehmu."

"Pokoknya jangan serahkan aku pada mereka ya Tae.. Lagipula hanya kau yang mengetahui asal usul ku. Setidaknya, kita cari tahu dulu penyebab menghilangnya Putri Cho Jungmin itu."

Taehyung berpikir sejenak. Benar juga, ia melupakan kejanggalan kematian Putri Cho Jungmin, karena jasadnya hingga kini belum ditemukan. "Aku tak tahu banyak mengenai perjalanan waktu yang kau lakukan. Tapi apa kau yakin tak melakukan kesalahan sedikitpun? Atau ada peraturan atau mungkin dampak yang kau lewati?"

Jungkook kagum melihat kecerdasan pangeran didepannya ini. Taehyung ini kan dari masa lalu, tapi mengerti juga menganai perjalanan waktu dan sejenisnya. "Aku tak tahu, tapi aku yakin telah mengikuti peraturan dilayar dengan baik. Kurang tahu juga sih ada tidaknya peraturan tambahan atau semacamnya."

Taehyung mengangguk kecil. Tangan kananya terangkat mengambil daun kering kecil yang terjatuh diatas rambut Jungkook. "Kau bersembunyilah di pondok dekat danau tempat kita pertama kali bertemu, menurutku disitu lebih aman dari pada ruangan Seokjin noona." Taehyung berujar tanpa beban. Sedangkan disisi lain, Jungkook mengangguk kaku. Masih asing dengan perlakuan Pangeran di depannya ini terhadapnya.

"Pergilah. Aku akan menemuimu secepatnya jika semua ini berakhir."

~oOo~

Jendral dari Kerajaan Goryeo –Park Jimin– menunduk hormat pada Raja Kim Jong In, diikuti oleh lima prajuritnya. "Kami datang kesini bukan untuk Perang, Yang Mulia" berucap tegas dengan mata menatap lurus kedepan.

Raja Kim Jong In dengan sikap tenangnya mengangguk kecil. "Masuklah" mempersilahkan dengan dirinya yang melangkah terlebih dahulu kedalam ruangan, disusul Namjoon dan Taehyung. Jimin mengikuti dibelakang, dan duduk tepat dihadapan sang Raja. Prajuritnya dibiarkan menunggu diluar.

"Jadi, apa maksud dari kedatangan anda?" Namjoon membuka suara dengan raut datar menatap kearah Jimin.

Jimin menatap Putra Mahkota tersebut dengan memberikan senyum kecil. "Karena saya tak terlalu pandai berbasa-basi, maka saya akan langsung mengatakan tujuan saya mengunjungi Kerajaan Joseon ini."

Taehyung memutar bola matanya jengah. 'Ini apa namanya jika bukan berbasa-basi' bergumam kesal dalam hati. Jujur saja, ini merupakan kali pertama dirinya bertemu dengan Jimin, tapi ia sudah sangat tidak menyukai Jendral bertubuh pendek ini. Pasalnya sedari tadi, orang ini tak kunjung berhenti menatap tepat dibola mata Ayahnya. Dan menurutnya, itu sangat tidak sopan dilakukan untuk orang yang kedudukannya hanya seorang Jendral kerajaan.

"Tentunya anda mengetahui bahwa Yang Mulia Raja Cho Kyuhyun memiliki seorang Putri bernama Cho Jungmin yang dikabarkan meninggal diperbatasan–"

Kim Jong In mengangguk tenang, sedangkan dua lainnya hanya menunggu kelanjutan kalimat Jimin. "Saya Park Jimin, merupakan calon suami dari Tuan Putri Jungmin yang dikabarkan meninggal–"

"Sebentar. Sebenarnya apa maksud perkataan anda? Apa hubungan Cho Jungmin Tuan Putri kalian dengan Kerajaan kami?" Namjoon memotong kalimat Jimin karena merasa asing dan aneh dengan setiap kata yang dilontarkan Jendral itu.

Jimin mendengus samar. "Bagaimana kalau baru-baru ini salah satu orang kami menerima kabar bahwa Putri Cho Jungmin berada di Kerajaan Joseon?"

Raja Kim Jong In dan Putra mahkota mengerutkan dahinya bingung, sedangkan Taehyung terlihat tegang disana. "Apa maksud anda? Tidak mungkin orang yang sudah dikabarkan meninggal berada dan bahkan hidup di kerajaan kami" Jong In membuka suara tak terima dengan tuduhan tersebut.

"Sudahlah, Yang Mulia. Pihak kami memiliki saksi mata untuk ini. Jika anda tak keberatan, bolehkah kami memeriksa setiap sudut istana untuk membuktikannya?"

Taehyung menegakkan duduknya mendengar permintaan yang terlontar dari bibir tebal sang Jendral. "Wahh.. sebagai seseorang yang kedudukannya hanya seorang Jendral, kau benar-benar tak sopan didepan seorang Raja" berucap sarkas dengan pandang sinis, melupakan aksen formal awalnya.

"Tak masalah. Silakan lakukan, jika itu dapat membuktikan sesuatu. Tapi asal kau tahu, kami bahkan sama sekali tak mengetahui seperti apa wajah Tuan Putri kalian" Taehyung menatap terkejut dengan persetujuan Ayahnya.

Jungkook– Pemuda itu benar-benar terancam sekarang..

Dirinya tak dapat membayangkan bagaimana nasip pemuda yang berpakaian wanita itu jika dibawa paksa ke Kerajaan Goryeo. Pasalnya, pemuda itu sama sekali tak mengetahui seluk beluk Kerajaan tetangga itu. Ditambah lagi dengan mengakunya Park Jimin sebagai calon suami Cho Jungmin, Putri yang parasnya mirip dengan Jungkook. Wahh.. Taehyung benar-benar tak dapat membayangkan bagaimana ekspresi pemuda itu mendapatkan calon suami yang lebih pendek darinya.

~oOo~

Jungkook berjongkok gelisah disebelah jendela. Ia kini tengah berada di pondok dekat danau, sesuai dengan perintah Taehyung. Tentunya setelah izin terlebih dahulu kepada Seokjin.

Netranya tak hentinya memperhatikan keadaan yang tertangkap diluar jendela. Tangannya saling remas untuk sekedar menemukan sedikit ketenangan.

Drrt drrtt

Kepalanya menoleh terkejut pada pojokan pondok saat pendengarannya menangkap suara getaran. Dahinya mengerut saat tak melihat apapun, disana hanya terdapat tas punggung yang dibawanya dari masa depan. Sengaja dibiarkan dipondok ini oleh Taehyung, karena tempat ini mamang tempat pribadinya.

Drrtt drrtt

Suara getaran itu kembali terdengar. Kali ini matanya menyipit yakin, bahwa asal dari suara itu adalah tas punggungnya.

Kakinya melangkah pelan mendekati pojok pondok, menggulung sedikit lengan hanbeok nya lalu mengangkat tas punggung itu.

Tangan kanannya membuka resleting tas, dan mengaduk isi dalamnya. Semakin mengerutkan dahinya aneh, saat mendapati ponsel dalam genggamannya.

Maniknya memperhatikan aneh ponsel tersebut. Ini merupakan ponsel yang dibawanya dari masa depan, dan dirinya sangat yakin bahwa ponsel ini sudah kehabisan daya.

Lalu sekarang apa? Ponsel tersebut menyala. Tak menampilkan gambar apapun, hanya pancaran radiasi dan getaran. Membolak-balik ponsel mencari asal getaran.

"... J–jungkook-ssi?"

Tangannya dengan refleks melempar ponsel tersebut, karena terkejut mendengar suara yang memanggil namanya entah dari mana. Yang pasti, suara itu benar-benar berasal dari ponselnya. Dan itu– adalah suara seorang gadis.

~oOo~

TBC

Chapter 4 update yeyy..

Wahh suara siapa tuh? Kkkk~

Maaf yaa update di ffn nya telat T.T PC ku rusak pake update, ini pun minjem T.T Ini udh up hari Jum'at kemarin di Wattpad, mampir ke akun ku "VKchu137"

Makasih buat yang udah baca atau sekedar mampir.

Terimakasih banyak buat yang udah follow, favorite, dan Review dichapter sebelumnya. I luv u~ :*

Gimana Spring Day nya? Aduuhh suara mereka~

VKook lagii~ Moment mereka aduuhh, mabok moment diriku~ kkk~

Ah! Pokoknya jangan lupa Review lagi yaaa~

Yang log-in reveiw nya udah aku bales :))

Responnya makin sedikit, ceritanya membosankan kah?


Selasa, 21 Februari 2017

Di Kamar Tercinta

VKchu137