Maaf telaaaat*nunduk-nunduk*semalam ngetik sampai malam*iyalah*dan sayanya ketiduran*jleb*nggak sempet publish, ini baru bangun #eh
Yosh makasih buat SILENT READERS, dan para REVIEWER yang telah menyumbang semangat buatku ^^
Ini balasan buat yang nggak log in, makasih ^^
yukamari-chan12: Makasih ^^ hoho, saya juga sukaloh*apanih*update~
sasusaku forever: Hahaha, Sasori udah nyerah duluan kali, pas tau saingannya siapa*uhuk* CHICKEN BUTT GITCHU LOOH~ *suara menggema dari kejauhan* eheh, ketahuan kok, liat aja hihi :3 itu karna adrenalinenya Sasuke yang kelewat kenceng(?) sampai dia tidak bisa nahan diri. ahya, mereka keprosot(?) kok? pas mereka jatuh, langsung nyungsep(?) dalam air, makanya orang-orang pada siulin posisi mesra mereka pas kelempar keluar dari seluncuran ^^ ah, dan kenapa mereka nggak jatuh duluan pas masih meluncur itu, ya kan Sakura tetep pegangan sama bannya, dan secara Sasuke meluk Sakura, nggak jatuh doong~ *ngebela* #plak
sapaajabolehdah: Hahaha, nggak kok, Sasuke nggak pernah ditolak sama Sakura :3 makasih ^^ eh? gituya? aah, maaf, saya nggak ada maksud sama sekali :) maafya? ^^ update~
Last chapter sepesial buat yang masih sudi berkunjung sampai detik ini, makasih ^^
Spesial thanks for:
Ayako S-Savers
Natsuyakiko32
akasuna no ei-chan
cherrysakusasu
erica. christy. 77
kHaLerie Hikari
karimahbgz
laras .culun. 5
hanazono yuri
mari-chan. 41
Tun'z
Enjoy~
Summary: Sakura Haruno selalu punya seribu satu akal untuk menolak setiap pemuda yang jatuh hati padanya. Namun saat pemuda bermanik gelap itu datang, Sakura tak punya satu alasan pun untuk mengelak. Karmakah, dia?
DON'T LIKE, DON'T READ
Title : Karma?
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warnings : OOC (Sedikit ^^), AU, Typo (s) dll
Maaf kalau jelek :)
Story by: Bii Akari
.
.
.
NORMAL POV
FLASHBACK
Seorang pemuda tampan tampak duduk menunggu di sebuah bangku taman. Kakinya bergerak-gerak dengan gelisah, tak sabar menanti kehadiran sang gadis yang sesaat lalu dimintanya datang.
Sang surya kala itu menyingsing dengan lembut. Angin nakal berhembus dengan searah, mendorong awan-awan di langit agar terarak secara perlahan-lahan. Pemuda bersurai mencolok itu kini mengepalkan genggaman tangannya, berusaha menghilangkan rasa gugup itu. Dan dengan sekali hembusan napas, pemuda itu telah merasa siap.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Sasori-senpai."
Gadis Haruno itu tersenyum lembut, memberi efek magic pada bibir Sasori—yang mendadak ikut tersenyum pula. Pemuda tampan itu beranjak dari duduknya, lalu menuntun sang gadis agar duduk di kursi taman—yang semula ditempatinya.
Awalnya, Sakura terlihat bingung, namun sesaat kemudian gadis itu terlonjak kaget.
Akasuna Sasori—seorang pemuda populer yang berada tiga tahun di atas Sakura—tengah bersimpuh, berlutut layaknya seorang pangeran yang hendak meminta sang putri untuk berdansa bersamanya. Jemari Sasori menggenggam jemari Sakura, dan kecupan singkat pun mendarat di punggung tangan gadis cantik itu. "Maukah kau menerimaku, Haruno Sakura?"
DEG
Senyum maut itu. Senyum manis—terlalu manis—yang rumornya dapat membuat gadis manapun melting. Ehm, terkecuali gadis unik satu ini—mungkin.
Sakura terkejut sesaat, namun pandangannya segera melembut, bibirnya pun perlahan membentuk seulas senyuman manis.
Seorang pemuda tampan—berambut gelap—yang kebetulan lewat di sekitar sana mendadak menghentikan langkahnya, kala mendengar desahan lirih penuh kesedihan itu. "Maaf..."
Sasuke tak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi entah mengapa, tubuhnya seakan mogok diajak bekerja sama. Onyx-nya bergerak, mengunci pandangan pada sosok gadis yang tengah menatap senior—yang berada satu tingkat di atas—nya itu dengan sendu.
Gadis itu lalu meraih pundak sang senior—yang setahu Sasuke bernama Sasori—kemudian membawa pemuda itu untuk ikut berdiri bersamanya. Jujur saja, Sasuke tidak begitu mengerti akan kejadian yang sebenarnya terjadi, namun saat onyx-nya—lagi-lagi—mendapati emerald itu berkilau sedih, Sasuke tahu...ini adalah hal yang sulit bagi gadis itu.
Senyum merekah lembut, berdesir bersama angin yang mengalun di antara mereka bertiga. Gadis berhelai merah muda itu lalu merengkuh tangan pemuda tadi, menggenggamnya dengan sepenuh hati. "Maaf, aku tidak bisa," tegasnya sekali lagi, terlihat begitu menyesal dan prihatin.
Pemuda bernama Sasori itu tersenyum getir—sakit hati sekaligus lega. Perasaannya berkecamuk, siap meledak kapan saja. Namun raut wajah gadis yang dicintainya itu seolah memang tercipta untuk menjadi obat paling mujarab bagi dirinya saat ini. Raut wajah penuh ketidakrelaan—perasaan yang sama-sama menyakitkan—sepertihalnya dirinya sendiri.
"Maaf..." lirih gadis itu lagi, emerald-nya tampak sangat redup—bagai ikut merasakan keterpurukan pemuda di hadapannya.
"Sssshh, ini bukan salahmu, tak perlu minta maaf begitu, Sakura. Aku mengerti."
Pemuda tampan itu menggenggam balik jemari-jemari Sakura, dan mengusap lembut pipi gadis itu dengan sebelah tangannya yang masih bebas. Senyum getir berganti dengan senyum ikhlas—tulus tanpa imbalan.
Pemuda keturunan Uchiha itu mengalihkan tatapannya. Melangkah pergi dengan perasaan yang—entah mengapa—bergejolak. Tak biasanya ia begini. Bukankah pemandangan tadi biasa saja? Ia pun terkadang mengalami hal demikian—kala ada gadis yang cukup nekat menyatakan perasaan padanya. Ia pun selalu mengambil keputusan yang sama dengan gadis berhelai merah muda tadi—menolak setiap cinta yang diikhlaskan untuknya. Ia pun selalu berkata 'Maaf'—selalu, meski raut wajahnya tak pernah se-menyesal gadis yang dilihatnya tadi.
Ada terbesit sensasi aneh, yang membuat dadanya terasa penuh—sesak oleh perasaannya sendiri. Cara gadis itu berujar 'Maaf' seakan mencemooh dirinya, mengejeknya yang selalu memasang wajah datar dan santainya dengan gumaman yang sama. Gadis itu sama saja dengannya—sama-sama melakukan penolakan. Gadis itu berada di posisi yang sama dengannya—posisi yang pantas dipersalahkan. Tapi, mengapa gadis itu terlihat sangat tersiksa dibanding dirinya? Mengapa, mimik wajah gadis itu tampak...sakit? Padahal ialah yang menyakiti. Mengapa?
.
.
Sasuke berjalan dengan pikiran penuh, otaknya terus bekerja mencari alasan atas kejadian yang disaksikannya tempo hari kemarin. Alasan mengapa gadis itu terlihat begitu berbeda dibanding dirinya.
BRUK
Sasuke menabrak seseorang. Seorang gadis—yang tengah meringis karena terjungkal ke belakang dengan posisi duduk. Sasuke pun bergegas membantunya berdiri.
Merah muda.
"Maaf."
Gumaman yang sama—sepenggal kata yang sama dengan yang didengarnya kemarin. Bedanya, kini kata penyesalan itu keluar dari celah bibir miliknya—tanpa disadarinya sama sekali.
"Tidak-tidak, aku yang salah. Maaf."
Gadis itu melemparkan senyum lembutnya—sangat berbeda dengan yang dilihatnya kemarin. Sejurus kemudian, gadis berhelai merah muda itu berlalu. Meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di tempat.
'Menarik.'
.
.
Sasuke memandang intens gadis di hadapannya. Gadis itu terlihat sedikit tidak suka—mengingat Sasuke mendadak menculiknya sesaat yang lalu dari Sai. Mereka berdua duduk di pojok kantin—menjaga jarak agar tak ada satu mahasiswa pun yang menyaksikan obrolan mereka.
"Kenapa?" tanya gadis itu judes, iris aquamarine-nya menatap jengkel onyx Sasuke.
"Sakura."
Pemuda irit bicara itu hanya bergumam satu kata. Satu kata yang dapat membuat kening gadis pirang di hadapannya mengernyit heran dengan bibir yang mengulum tipis. "Sakura?" ulang gadis itu antusias.
.
"Jadi...kau ingin aku menceritakan detail mengenai Haruno Sakura sekarang?"
Pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban 'Ya/Tidak' itu disambut malas oleh sang Uchiha. "Hn."
Sang gadis kembali dikuasai oleh akal sehatnya. "Untuk apa? Apa urusanmu dengan Sakura?" tanyanya tajam, mengintimidasi dengan kilatan mata yang terlihat menantang.
"Aku tertarik padanya."
FLASHBACK END
.
.
.
.
Ino kembali terhempas ke kenyataan. Khayalan sesaatnya tadi mendadak buyar, digantikan oleh ekspresi serius yang terpampang nyata di wajah Sasuke.
Mendadak, Ino teringat akan semua percakapan rahasianya dengan Uchiha muda itu. Ya, Ino sendirilah yang menyetujui usul sang Uchiha untuk mendekati gadis itu. Ino sendirilah yang menceritakan sedikit hal-hal unik mengenai gadis itu. Ino sendirilah yang memutuskan untuk mendukung kemauan Uchiha Sasuke. Ino sendirilah yang menyarankan Sasuke agar menembak gadis itu tepat di hari ulang tahunnya. Ino sendirilah yang ingin bersekongkol dengan Sasuke. Ino sendirilah yang ingin menyatukan kedua manusia—yang terlihat serasi—itu. Ino sendirilah yang bersedia menyembunyikan semua ini dari sang gadis. Dan sekarang...Ino sendirilah yang takut salah satu dari mereka terjerumus—termakan karma mereka sendiri.
Haruno Sakura—sang gadis yang sangat Ino sayangi—yang dulunya belum pernah rela menerima kehadiran seorang pemuda pun untuk menjadi kekasihnya, kini terpaksa harus menerima Uchiha Sasuke sebagai pacarnya—akibat akal bulus Ino. Dan pagi tadi, gadis itu menunjukkan gejala yang aneh. Membuat pemikiran Ino merujuk pada frasa bermakna universal itu, cinta.
Apakah Sakura sudah terkena karmanya sendiri? Ino berani bersumpah—jika sampai hal itu benar-benar terjadi—akan mangutuk Sasuke agar terkena karmanya juga jika sampai pemuda itu hanya mempermainkan Sakura saja, tanpa ada niat serius pada sahabatnya itu.
Ya, awalnya Ino memang sangat berharap ini dapat bekerja. Karena jujur saja, Ino merasa Sakura sangat kesepian sejak dulu—gadis itu selalu menutup diri pada sekian banyak pemuda yang hendak menjadikan diri mereka sebagai tempat berlabuh Sakura. Dan ide gila ini meluncur begitu saja.
Mungkin Uchiha Sasuke mampu melakukannya. Bingo. Ino mengangguk setuju kala itu. Dan kini, gadis itu menyesali perbuatannya. Ia telah membuka pintu karma lebar-lebar bagi sahabatnya sendiri. Bodoh, Ino.
Lama-kelamaan, harapan Ino semakin membuncah, feeling-nya mengatakan bahwa Sasuke sebenarnya punya perasaan khusus pada Sakura. Sampai hari ini, Ino masih mempercayai itu. Masih. Tapi tidak ketika bermenit-menit yang lalu Sasuke mengutarakan kalimat yang membuat kesabarannya hilang.
"Aku belum merasa bosan."
'Jadi kalau sudah bosan, Sakura akan dibuang begitu saja?' pekik Ino tak terima—dalam hati tentu saja.
Sesaat, hawa kebisingan yang mendominasi atmosfer di kantin tersebut mendadak lenyap. Meja panjang yang mereka huni pun ikut larut dalam atmosfer tak menyenangkan itu. Semua pandangan terkunci sesaat, pada satu sosok yang sejenak lalu menegaskan kembali kata-katanya. Ya, ingatan mereka semua masih segar, memori kala siang hari itu masih tersimpan apik dalam pikiran mereka. Ingatan, kala sang Uchiha memutuskan untuk mendekati Haruno itu. Dengan alasan yang sangat klasik—atau mungkin berputar-putar.
"Aku tertarik padanya."
Bukan pengakuan suka, apalagi cinta. Kata yang bermakna sangat ambigu. Kata yang dapat mentolerir sesaat perasaan suka—bahkan cinta itu. Kata, yang membuat mereka semua saling berpandangan heran kala itu. Kata, yang...belum pasti—sangat tidak meyakinkan. Namun anehnya, siang itu, kala sang Uchiha mengutarakannya dengan serius. Mereka—Ino, Sai, Shikamaru, Temari, Naruto, Hinata, Neji, dan Tenten—sepakat mendukung sang Uchiha. Aneh dan nyata.
"Tunggu, Teme," sergah Naruto, membelah pikiran nakama-nakama-nya secara tiba-tiba. "Jadi, kau belum jatuh cinta padanya? Sampai saat ini juga belum?"
To the point. Tepat, tajam, dan lugas. Penuh penekanan dan terkesan menuduh. Cocok untuk mewakili rentetan pertanyaan lainnya—yang sempat terlintas di benak mereka masing-masing.
Uchiha muda itu mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu muda-mudi di sekelilingnya—yang menghujamnya dengan tatapan tajam. Sejurus kemudian, pemuda tampan itu menarik kembali onyx-nya untuk sekedar berfokus pada meja di hadapannya. Tatapannya melunak, ekspresinya berubah, onyx-nya pun kembali terangkat menyambut segelintir mata yang masih memandangnya dengan haus darah. Bibir pemuda itu terbuka, bersiap memberi jawaban yang dinanti-nanti kawanan buas di sekelilingnya.
"Sebenarnya aku masih..."
.
.
SYUUURLPP
Sakura menyeruput jus cherry-nya yang masih tersisa setengah, sementara manik emerald-nya terus melempar tatapan penuh selidik pada orang-orang di sekitarnya. Jemari lentiknya memainkan garpu di sela-sela himpitan jarinya, menyebabkan detingan halus yang terdengar jelas di telinga pemuda itu.
"Mencari seseorang?"
GLUUP
Sakura langsung menelan jus cherry dalam mulutnya dengan terpaksa—daripada menyemburkannya keluar—seraya menjauhkan bibir merah mudanya dari ujung sedotan miliknya. Emerald-nya sedikit terbelalak, terkunci lurus pada sosok pemuda yang duduk manis di hadapannya.
Melihat ekspresi Haruno Sakura yang sangat di luar dugaan, Sasori pun tersenyum kecil—mem-blushing-kan beberapa belas (?) gadis yang tanpa sengaja menatap sosoknya. Sedetik kemudian, pemuda itu menyingkirkan piring kosongnya, lalu menatap gadis di hadapannya dengan pandangan tertarik—lengkap dengan tangan yang menopang dagu.
"Jadi, siapa pemuda beruntung itu, hmm?"
BLUSH
Sakura bersumpah, ia sangat bersyukur kulitnya terbakar cahaya matahari kemarin—sangat-sangat-bersyukur. Karena pemuda tampan di hadapannya tak dapat menangkap keberadaan semburat merah itu di wajah sang Haruno.
.
.
"...ragu."
Kening saling mengerut, pandangan tanya beribu-ribu kali dilemparkan. Beberapa pasang kepala menoleh kiri-kanan, mencari jawaban atas pernyataan membingungkan sang Uchiha. Fungsi otak berjalan sebagaimana mestinya, paru-paru mencuri oksigen secukupnya. Namun nihil, tak ada yang tahu pasti apa arti kata 'Ragu' tersebut.
Pandangan mulai gusar, bibir terasa kering, tenggorokan bagai tercekat. Uchiha Sasuke harus bertahan meneriman setiap tatapan penuh intimidasi yang dilayangkan oleh penghuni meja panjang itu.
Satu ketukan meja. Perhatian kembali tercuri oleh pemuda Uchiha itu.
"Aku ragu Sakura juga mencintaiku."
Pertahanan Uchiha Sasuke luntur. Image cool-nya seketika lenyap. Ketampanannya menurun berpuluh-puluh persen. Harga dirinya seakan dikesampingkan. Leluhur-leluhurnya merasa kecewa. Marga—Uchiha—bermartabat tingginya...terpaksa harus menanggung malu.
Tatapannya beralih, terlempar ke arah lain. Semburat merah tipis menghiasi wajah tampannya—yang sedikit terbakar sinar mentari. Ya, Uchiha Sasuke sangat bersyukur—sinar mentari yang membakar kulitnya berhasil mengelabuhi pandangan berpasang-pasang mata yang menatapnya tak percaya.
Satu detik berlalu.
Tawa pun meledak.
.
.
"Ehm—"
Untuk yang kesekian kalinya, Sasuke berdahem—keras-keras—sembari berusaha menahan kekesalannya. Tawa itu masih terdengar lirih, mengikis kesabaran sang Uchiha.
"Sudahlah," desahan halus nan pasrah itu menggelitik pendengaran para penghuni meja—terkecuali sang pendesah. Tubuh tegap itu kini berdiri, mengambil ancang-ancang untuk berlalu.
"Tunggu!"
Tawa terhenti. Pandangan berpusat pada pemuda berambut raven itu.
Para penghuni meja saling berpandang-pandangan, merasa bahwa mereka telah melakukan hal yang sangat konyol—menahan Uchiha muda itu dengan berteriak secara bersamaan. Si pirang pun segera berinisiatif—menarik lengan Sasuke untuk kembali duduk. Dipandanginya sang sahabat dengan penuh ketelitian. "Kau...tidak habis makan ramen 'kan, Teme?"
BLETAK
Dua benjol gaib bersatu. Membentu segumpal benjolan maut yang membuat ngeri siapapun yang menatapnya. Uchiha Sasuke menyembunyikan onyx-nya dengan berat hati. Orang-orang di sekelilingnya sungguh membuat harga dirinya jatuh.
Gadis pirang bak boneka Barbie tersebut kembali tertawa kecil, memandang Sasuke dengan penuh ejekan—meski hatinya cukup lega sesaat tadi. Mendengar itu, tentu saja sang Uchiha kembali menghujam tatapan tajamnya pada sang gadis. Tak terima tentu saja—jika ditertawai terus-menerus.
"Kau ragu untuk sesuatu yang sudah...pasti?"
Senyum menantang kembali menghiasi wajah gadis Yamanaka, mengundang tatapan penasaran dari wajah-wajah di sekelilingnya. "Apa maksudmu, Ino?" Tenten—nama gadis bercepol dua itu—yang bertanya. Diamatinya lagi seringai jahil yang terbentuk di wajah Ino, seraya menatap balik sang Uchiha yang hanya terdiam—tampak tak berniat memberi komentar.
"Mau coba membuktikannya?"
Lagi—tak ada yang berminat memberi komentar. Para penghuni meja panjang itu tetap bungkam, dengan pikiran yang terus bergulir maju. Sementara gadis pirang itu, semakin memperlebar seringai di wajah cantiknya.
"Hanya ada satu cara untuk itu."
.
.
Tampaknya, hidup memang penuh dengan permainan, ya? Di meja panjang pojok kantin tersebut, beberapa muda-mudi sibuk merencanakan sesuatu. Hendak membuktikan ucapan Ino yang menuai kontroversi tadi. Sementara di sudut lain, sepasang manusia beda gender tampak terlibat pembicaraan pribadi. Sang gadis menundukkan kepalanya dengan canggung, sementara pemuda di hadapannya tak henti-hentinya menghujam sang gadis dengan pertanyaan yang sama.
"Siapa, Sakura?"
Tak ada jawaban. Benar-benar tidak ada jawaban—karena gadis itu masih bingung dengan dirinya sendiri. Siapa sebenarnya pemuda yang ingin diketahui jati dirinya oleh si Baby face itu?
Seolah menemukan nyawanya kembali, Haruno Sakura pun mengangkat wajahnya. Emerald-nya sedikit bergetar, kegusarannya terlihat jelas. "Bukan siapa-siapa, Sasori-senpai."
Pemuda bersurai cerah itu tertawa kecil. Hei, sudah bermenit-menit ia mencoba membongkar hal yang disembunyikan oleh gadis Haruno itu. Mana mungkin ia akan menyerah begitu saja?
"Ah, dia pasti pemuda yang sangat spesial bagimu."
Demi ratusan surat cinta yang diterima Sasori setiap tahunnya, wajah malu-malu Sakura kali ini benar-benar membuat pemuda manapun tergoda. Gadis berhelai merah muda itu lalu menggigit bibir bawahnya, bersiap mengelak. "Tidak, kok. Bukan siapa-siapa, Sasori-senpai."
Belum, Sasori belum menyerah. Tatapan penuh penasarannya kembali ia jatuhkan pada sang gadis. "Kalau bukan siapa-siapa, apa sulitnya beritahukannya padaku, Sakura?"
TUING
Sel-sel otak Sakura bekerja keras. Perkataan Sasori ada benarnya juga. Ya, kalau memang pemuda itu bukan siapa-siapanya Sakura. Mengapa Sakura tidak memberitahukannya saja? Bukan siapa-siapa 'kan?
Tapi, benarkah pemuda itu memang bukan siapa-siapa bagi Sakura?
"Err, i-itu-u—" Sakura terus bergumam absurd, menggantung kalimatnya dengan terbata-bata.
"Kau sungguh manis, Sakura."
"EHH?!"
Bukan. Bukan ucapan gemas Sasori yang membuat emerald itu terbelalak. Bukan pula senyuman geli yang dipamerkan oleh pemuda jurusan kesenian itu. Bukan. Karena hanya ada satu hal yang mampu membuat degup jantung sang Haruno kembali melonjak. Ber-ritme tinggi dalam setiap menitnya.
Rambut a la pantat ayam. Wajah dingin yang terkenal tampan. Cara berjalan yang—katanya—cool. Dialah, sosok pemuda yang membuat Sakura mematung sesaat. Eh—Sakura melihat, dia?
Uchiha Sasuke melintas melewati meja yang dihuni Sakura—beserta Sasori. Pemuda itu tetap berjalan santai. Pemuda itu tetap memasang straigh face andalannya. Dan pemuda itu tetap memfokuskan onyx-nya lurus-lurus ke depan. Yang berbeda hanyalah...rahang sang pemuda yang mengeras beserta kepalan tangannya yang semakin kuat—yang tak tertangkap basah oleh siapapun.
Kaki-kaki pemuda itu tetap bekerja, melangkah semakin jauh. Meski dengungan kalimat—yang tanpa sengaja—didengarnya tadi juga terus terulang-ulang. Bagai kaset rusak yang menolak untuk di-stop.
"Kau sungguh manis, Sakura."
Eksistensi kalem—khas sang Uchiha—perlahan sirna. Siapa yang bisa tenang jika mendengar seorang pemuda lain memuji pacarmu dengan terang-terangan, eh?
Uhm, pacar, ya? Sasuke tampaknya memang tidak setengah-setengah.
.
Gadis berhelai merah muda itu menutup bibir ranumnya yang sempat terbuka kecil. Kelopak matanya mengerjap berulang kali. Suaranya mendadak tercekat di leher. Konsentrasinya masih tercuri penuh oleh sosok yang baru saja melintas lewat tadi.
'Apa mungkin dia...tidak melihatku?'
Sementara sang gadis sibuk memikirkan Uchiha muda yang baru saja lewat tadi. Laki-laki tampan di hadapannya justru menyeringai senang. "Ah~ Uchiha Sasuke rupanya~"
Dan sedetik kemudian, sang gadis mendelik dengan sempurna. "Sasori-senpai!"
.
.
.
.
Baiklah. Satu bulan telah berlalu. Katakanlah Sakura bodoh. Katakanlah gadis itu kelewat cuek. Sayangnya, gadis itu memang baru sadar sekarang! Haruno Sakura baru sadar bahwa Uchiha Sasuke memang menjauhinya. Catat. Katanya Sakura itu cerdas. Tapi soal yang begini-beginian, gadis itu sungguh tak bisa diharapkan.
Sambil meniup coklat hangat dalam cangkirnya, Sakura melirik sekilas layar handphone miliknya. Tak ada yang berubah. Tak ada telepon masuk. Bahkan SMS pun tak terbalaskan.
Usai menyeruput sedikit coklat hangatnya, Sakura pun memutuskan untuk menelepon sang sahabat—Yamanaka Ino. Ha, mungkin jalan satu-satunya adalah melalui Ino—mengingat Sakura tidak terlalu dekat dengan teman-teman Sasuke. Naruto? Bisa heboh seisi kampus jika sampai Sakura nekat bertanya pada laki-laki pirang itu.
Tak lama kemudian, sang gadis beriris aquamarine tiba. Senyumnya terlihat merekah indah, langkahnya pun tampak sangat riang. Membuat Sakura tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kenapa?"
Ino nyengir lebar. "Tidak, kok."
Sakura semakin curiga, matanya pun memicing penuh tanda tanya. "Kau kenapa, sih? Aneh."
TUING
Dengan penuh kesabaran, Ino—mencoba—tersenyum lembut, membalas perkataan keji sahabat merah mudanya itu dengan pikiran dingin. "Tak ada apa-apa, Sakura," elaknya tegas.
"Ahya, ada apa memanggilku? Sepuluh menit lagi aku ada kelas, Sakura. Bisa langsung katakan saja, hal penting itu?"
GLEK
Haruno muda itu menelan ludahnya dengan gugup. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja di hadapannya penuh gelisah. Pandangannya pun hanya dapat menatap Ino dengan lurus-lurus.
Kenapa untuk curhat saja ia terlihat sangat canggung seperti ini?
Oke, satu fakta yang sama-sama kita ketahui. Sejak dulu, Ino-lah yang selalu menggoda Sakura dengan pemuda-pemuda yang—katanya—dekat dengan gadis merah muda itu. Ino-lah yang selalu bertanya mengenai perasaan Sakura terhadap mereka. Ino-lah yang selalu KEPO terhadap kehidupan asmara sang sahabat. Dan sebulan penuh ini, Ino-lah yang tak pernah lagi mengungkit-ungkit segala hal menyangkut Uchiha Sasuke!
Bagaimana mungkin Sakura tidak sempoyongan memikirkannya? Ke mana perginya Ino yang dahulu dikenalnya itu?
Kesal karena Sakura tak juga buka mulut, Ino pun mengambil ancang-ancang untuk pergi. Berpura-pura sibuk dan terburu-buru.
"E-eeh, tunggu dulu, Ino. A-aku ingin bertanya sesuatu."
Dan kali ini, Ino yakin akan tertawa sebebas-bebasnya—setelah melangkah pergi tentu saja—akibat menangkap wajah memelas Haruno Sakura. Ha, ini langka!
Ino kembali duduk, bertingkah jual mahal agar Sakura merasa terdesak.
"Ayolah Sakura. Katakan saja, apa sih yang membuatmu aneh seperti ini?"
UGH
Sakura meremas jemari-jemarinya dengan cemas. "Apa kau pernah melihat Sasuke-kun belakangan ini? Maksudku, sebulan belakangan ini?"
Ino nyengir lebar dalam hati, dugaannya ternyata tidak meleset.
"Ah, Sa-su-ke-kun?" ejanya manja, hendak meledek sang Haruno.
Sakura sangsi, ditatapnya aquamarine milik Ino dengan kesal. "Aku serius, Ino," tegasnya lagi. Bibir merah mudanya berenggut bersama rasa hangat dalam dirinya—yang berusaha ditekannya terus-menerus. "Sudahlah, kalau kau tidak mau menjawabnya."
Kikikan geli meluncur dari bibir Ino. "Iyaiya, Sasuke-kun-mu itu sedang sibuk, kudengar dari Sai, dia ingin buru-buru menyelesaikan kuliahnya—wajar saja sih, dia kan jenius jadi tidak masalah."
Penjelasan lancar Ino itu membuat Sakura sedikit merasa lega—entah mengapa. Setidaknya ia tahu Sasuke baik-baik saja. Eh—Sakura khawatir?
"Kenapa? Tumben kau bertanya tentang dia?"
Investigasi dimulai. Ino kembali mengorek informasi berharga—secara tanpa sadar—dari Sakura.
"Memang tidak boleh?" kilah sang Haruno, merasa bahwa pertanyaannya tadi sah-sah saja. Bener 'kan? Secara, Sakura itu 'kan—
"Kupikir Uchiha Sasuke itu tidak penting bagimu? Bukankah kalian juga jadian dengan—err, terpaksa?"
JLEB
—pacar Sasuke.
Tidak penting. Jadian dengan terpaksa.
Perlu ditandai, Sakura melupakan kedua hal itu!
Gadis bersurai merah muda itu tampak berpikir keras. Keningnya berkerut, menandakan sang empunya tengah berkonsentrasi penuh. "Kau benar, Ino."
DUAAAR
Ino benar-benar bernafsuh tinggi untuk membenturkan kepalanya sendiri di tembok terdekat sekarang juga. Gadis Haruno itu, sebenarnya manusia bukan, sih?
Satu jentikan jemari dari Haruno Sakura. Emerald-nya kini memandang Ino dengan lurus. "Kau benar. Sekarang aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin ini cara dia untuk memutuskanku, ya?"
Dan hari ini, Ino bersumpah akan membawa Uchiha Sasuke tepat di hadapan Haruno muda yang sangat tidak peka itu. Sudah, biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.
.
.
Selepas kepergian Ino, Sakura kembali menyesap coklat hangatnya sampai habis. Rinai-rinai hujan yang sejak tadi menetes dari langit kelabu mulai semakin berkurang. Intensitasnya menurun, seiring dengan mentari yang mulai eksis kembali. Suasana kantin masih tetap ramai, meski telinga Sakura seakan refleks menetralisir keramaian tersebut, hingga seolah-olah hanya ada ia seorang di tempat itu.
Sakura melirik handphone-nya yang tergeletak pasrah di atas meja. Layarnya tetap hitam, artinya masih tak ada tanda-tanda pesan atau telepon yang masuk. Helaan napas pendek terdengar dari arah gadis bersurai indah itu.
Pelan tapi pasti. Pikiran Haruno muda itu mulai bergentayangan kembali, terbang menuju sosok yang sebulan ini tak kunjung jua ditemuinya. Sosok yang mendadak hilang dari hadapannya. Sengajakah, Sasuke menyibukkan diri?
Sakura kembali meremas ujung-ujung jemarinya, kesal pada dirinya sendiri. Seandainya ia sadar lebih cepat. Seandainya ia sadar apa makna di balik hawa dingin yang menguar kala sang Uchiha melewati mejanya tempo hari itu. Mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Mungkin Sakura dapat tetap melihat rambut a la pantat ayam itu di dekatnya.
Tunggu?
Sakura?
Kau, rindu padanya?
Sakura menggeleng cepat. Tidak, bukankah ini tidak mungkin?
"Kupikir Uchiha Sasuke itu tidak penting bagimu? Bukankah kalian juga jadian dengan—err, terpaksa?"
Ucapan Ino sesaat yang lalu itu kembali bergema di dalam ingatan Sakura. Sakura ingat saat hari di mana dirinya dengan enteng mengatakan bahwa Uchiha Sasuke itu tidak penting baginya, bukan siapa-siapanya, dan hubungannya dengan Sasuke itu—bisa disebut—palsu, kamuflase belaka. Sakura bahkan berharap agar Uchiha muda itu segera mencampakkannya, melemparnya pergi dan menghentikan permainan mereka.
Tapi sekarang, Sakura kembali melemparkan pertanyaan-pertanyaan Ino dahulu pada dirinya sendiri.
"Jadi...kau tidak err-mencintainya, sedikitpun?"
"Mungkin."
"Benarkah? Rasa suka pun, tidak ada?"
"Entahlah, aku tidak yakin."
FUUH
Hembusan napas panjang melenguh dari celah bibir dara cantik itu. Susah payah ia memahami perasaannya sendiri. Berusaha mensinkronkan hati dan otaknya. Namun percuma, tak ada jawaban yang didapatkannya juga.
"Untuk apa mencintai pemuda yang tidak mencintaiku?"
Kalimat miliknya itu mendadak terlintas di otaknya. Itu murni kata-katanya sendiri, pemikirannya saat itu. Lalu, mengapa sekarang Sakura merasa terpuruk akibat memikirkan hal itu? Cintakah ia pada sang Uchiha?
Dengan gusar, gadis itu mengacak helaian merah mudanya. Wajahnya terlihat galau berat, dan hujan—yang telah berhenti sempurna—di luar sana seolah menolak untuk bekerja sama. Setidaknya, bergalau bersama hujan terlihat jauh lebih elit daripada sendirian saja, bukan?
.
.
Embun mulai menipis. Membuat kaca jendela yang semula buram tersebut berangsur-angsur pulih. Tetes-tetes hujan bergelantungan di ujung dedaunan. Burung-burung pun kembali meregangkan tubuh mereka, lelah meringkuk seharian ini. Mentari perlahan mengintip, bersiap keluar dengan pose menyilaukan andalannya.
Haruno Sakura masih terduduk di tempat yang sama. Masih sendirian. Masih berpikir. Masih galau. Pikiran-pikiran naifnya bersatupadu dengan egoismenya. Satu pertanyaan besar yang mendominasi otaknya saat ini.
Apa aku jatuh cinta padanya?
Berulangkali gadis itu bertanya pada dirinya sendiri, pada hati kecilnya. Apakah benar, ia jatuh cinta padanya? Apakah perasaan menyesakkan—yang aneh—ini adalah cinta?
Ketakutan Sakura yang terbesar hanya satu. Ketakutan yang muncul tepat ketika Sakura sadar akan kelakuan bodohnya—yang langsung saja menyetujui keinginan Uchiha Sasuke kala itu.
Bagaimana jika Sasuke adalah karma untuk segala dosa Sakura?
Kenyataan kejam. Memikirkannya saja sudah membuat darah Sakura berdesir, rasa mual mulai menggerogoti organ dalam tubuhnya. Kata 'Karma' dan 'Dosa' merupakan perpaduan yang pas untuk membuat gadis itu bergedik ngeri.
Seolah belum cukup parah, pikiran gadis Haruno itu kembali melayang jauh. Mengenang memori-memori singkatnya bersama Uchiha Sasuke. Ya, mereka pernah berpegangan tangan. Mereka pernah saling bercanda tawa. Sakura bahkan pernah merasakan ciuman panas Sasuke—meski itu karena unsur ketidaksengajaan. Dan yang paling berkesan, Sakura pernah merasakan kecupan singkat di keningnya. Kecupan yang membuatnya tak dapat melepas senyum samar-samar itu seharian penuh.
Sekali lagi, gadis itu bertanya penuh kebingungan. Apakah ini, cinta?
Ya, itu semua adalah kenangan terakhirnya bersama Uchiha Sasuke. Kencan pertamanya, bersama pacar pertamanya. Pemuda pertama yang membuat Sakura bersedia berkata 'iya'. Pemuda pertama yang membuat Sakura merona hebat. Pemuda pertama yang membuat Sakura kesal setengah mati. Pemuda pertama yang membuat Sakura galau. Ya, gadis itu galau saat ini. Dan itu dikarenakan oleh sang Uchiha. Uchiha Sasuke yang terlalu rakus menyerobot hampir semua posisi pertama bagi Sakura. Terlalu banyak kedudukan pertama yang disandang pemuda itu.
Ya, bahkan kini Haruno Sakura sadar. Uchiha Sasuke juga merupakan cinta pertamanya—jika ia boleh menyimpulkan sesederhana itu.
Ha, Sakura sadar. Sakura tahu, kini ia telah paham!
Cinta—yang selalu ia pertanyakan eksistensinya—ternyata benar-benar ada. Benar-benar ada untuknya juga. Tak sia-sia gadis itu membunuh waktu bermenit-menit demi memikirkan ini. Karena ia akhirnya telah sampai pada satu kesimpulan yang penting. Ia—Sakura Haruno—mencintai pemuda itu—Uchiha Sasuke.
.
.
BIIIP
Handphone mungil itu mendadak bergetar, tanda bahwa ada pesan masuk. Dan dari seulas senyum yang menghiasi wajah gadis Haruno itu, sudah tampak jelas siapa pengirimnya, bukan?
From: Uchiha jelek :p
Subj:-
Kau di mana?
Senyum samar itu semakin mengembang lebar. Gadis itu pun buru-buru mengetik balasannya.
To: Uchiha jelek :p
Subj:-
Di hatimu :3
Bergeleng cepat, Sakura buru-buru menghapus pesan yang baru saja selesai diketiknya itu. Merasa bodoh dengan tingkah konyolnya sendiri.
To: Uchiha Jelek :p
Subj:-
Di meja pojok bagian belakang kantin
Satu menit.
Dua menit.
Sepuluh menit.
Sakura sadar, ia sudah dicueki lagi. Iyalah, sepuluh menit!
Namun tenang, karena tak lama kemudian sosok yang dinanti-nanti oleh Sakura mendadak muncul. Wajah tampan itu tetap terlihat dingin, meski Sakura berbaik hati menyambutnya dengan senyuman manis andalannya.
"Sasuke-kun."
Sapaan hangat itu membuat debaran jantung Sasuke melonjak dengan tak karuan. Namun pemuda itu tetap bersikukuh untuk bersikap tenang—seperti biasa. "Hn."
.
.
.
.
FLASHBACK
Seorang gadis pirang tampak celingak-celinguk mengintip ke dalam kelas—yang dihuni oleh senior-seniornya. Napasnya sedikit memburu, namun senyum sumringahnya masih juga melekat di sana—tak ingin buru-buru pergi.
"Ino?"
Seorang pemuda berkulit pucat menoleh, memandang kekasihnya dengan heran sekaligus senang. Ya, kapan lagi sang kekasih akan berkunjung ke kelasnya—mumpung dosennya kebetulan sedang berhalangan masuk.
.
.
Kelima pemuda itu kini duduk dalam satu perbincangan—masih berlokasi di kelas Sai yang kebetulan kosong. Pandangan kelima pemuda itu kini berpusat pada sang gadis—ralat, satu-satunya gadis yang ikut nimbrung di sana.
"Jadi?" Tak sabar menunggu sang gadis Yamanaka buka mulut, pemuda pemalas itulah yang duluan membuka obrolan—mulai jenuh dengan suasana hening tadi.
Ino mengerjap dengan semangat. "Kurasa Sakura sudah mulai menyadarinya," ujar gadis itu girang, sembari menelungkupkan telapak tangannya menjadi satu.
Mendengar nama Sakura dieluh-eluhkan, tentu saja Uchiha muda itu tidak tinggal diam. Pandangan tajam pun menimpa sang gadis. "Sekarang adalah saat yang tepat untuk melaksanakan rencana itu," seru gadis itu lagi, seraya mengedipkan sebelah matanya pada sang Uchiha.
Sejenak, suasana menjadi hening. Perhatian kembali tertuju pada Sasuke.
Kesal karena tak juga mendapatkan respon dari sang tersangka—Sasuke—pemuda pirang itu pun akhirnya buka mulut. "Sudahlah, Teme. Ikuti saja rencananya."
Sai tersenyum mendukung. "Iya, Sasuke. Aku juga setuju dengan saran Ino."
"Hn. Apa salahnya dicoba?" komentar sang Hyuuga.
"Yah, meski menyusahkan. Lakukan saja dulu, mungkin bisa berhasil."
"Bagaimana, Sasuke-senpai?"
Pandangan penuh hasrat penasaran kembali menghujani Sasuke. Namun pemuda itu tetap keras kepala, kesal jika harus diingatkan oleh kejadian yang telah berlalu sebulan lamanya itu.
"Ah, lakukan saja, Teme. Daripada kau main sembunyi-sembunyi melulu seperti ini, kayak tuyul lagi main petak umpet sendirian saja."
JLEB
BUK
Jitakan mesra Sasuke kembali dihadiahkan untuk pemuda bermarga Uzumaki itu. Suasana kembali mencair, Sasuke mulai mencibir lagi.
Ya, perkataan Naruto memang ada benarnya—dan Sasuke tidak suka akan kenyataannya ini. Ia memang sedikit kekanakan—bersembunyi dari Sakura kurang lebih sebulan lamanya. Tapi jika disamakan dengan makhluk botak kerdil itu, Sasuke tentu saja tidak bisa terima.
"Hn, terserah kalian saja."
Dan seringai puas pun samar-samar menghiasi wajah muda-mudi tersebut.
FLASHBACK END
.
.
.
.
Akhirnya, sang Uchiha duduk juga di sana. Onyx-nya menatap lekat gadis di hadapannya—yang juga tengah melakukan hal yang sama. Sinar mentari mulai sedikit membias melalui celah-celah jendela. Pertanda bahwa cuaca akan kembali cerah lagi.
"Sakura, aku—"
"Sasuke-kun~ Aku mencarimu ke mana-mana~"
Perkataan Sasuke terhenti. Detik seakan menyedot seluruh oksigen dalam paru-paru Sakura. Gadis berhelai merah muda itu terdiam dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dan ini semua karena, gadis berkacamata sexy yang mendadak muncul itu.
"Hn?"
Sasuke mengeryit heran, membuat Sakura ikut-ikutan melempar pandangan penuh tanda tanyanya pada gadis perusak suasana itu. Padahal, tinggal sedikit lagi semuanya terbongkar (?)
"Kau ada acara malam ini, Sasuke-kun?" tanya gadis itu manja. Setahu Sakura, gadis berambut merah itu adalah senior yang berada dua tahun di atasnya, namanya Karin. Mahasiswa populer yang banyak digilai oleh pemuda-pemuda kampusnya. Sakura tak menyangka, bahkan gadis seperti Karin pun juga takluk pada pesona sang Uchiha.
Sasuke menatap bosan Karin, dan hal itu membuat Karin semakin menjadi-jadi saja. "Bagaimana kalau kita keluar?" rayu Karin, masih sambil bergelayutan manja di lengan Sasuke.
Kening Sakura mengernyit, entahlah. Tapi yang Sakura yakini, ada terbesit perasaan sesak yang muncul dalam dirinya. Tidak suka—ya, perasaan tidak suka terhadap apa yang kini disaksikannya.
"Kau tidak cemburu, hm?"
Pertanyaan klasik Ino kembali berdengung di telinga Sakura.
'Cemburu?' pikir gadis itu gelisah. Apakah, kali ini Haruno Sakura, cemburu?
Belum tuntas menarik kesimpulan—mengenai kecemburuan itu—Sakura mendadak tersadar kembali dari khayalannya. Gadis berkacamata di hadapannya kini semakin bergelayut manja di tubuh pacarnya! Sekali lagi, pacarnya! Kau lupa, Haruno Sakura?
Remasan jemari Sakura pada handphone mungil miliknya mulai semakin kuat. Tatapannya pun terlihat semakin membunuh. Sedangkan, gadis berkacamata itu seakan berpura-pura tidak peka, padahal aura menusuk telah menyelimutinya sejak tadi—aura yang berasal dari seorang gadis yang sedang cemburu.
Sakura memandang Karin dengan pandangan meremehkan, dan gadis itu membalas dengan kerlingan matanya untuk sang Uchiha. "Kita dinner, seperti minggu lalu."
BUK
Haruno Sakura, meledak. Gadis itu sudah benar-benar kesal sekarang. Dengan santai, dihantamnya meja kayu yang selalu dikunjunginya itu. Membuat kedua pasang mata di hadapannya segera tertuju ke arahnya. "Kalau ingin bermesraan, cari tempat lain sana. Dasar, tidak tahu diri."
Dan dengan ini, gadis berhelai merah muda itu resmi melarikan diri. Membawa pergi dirinya jauh-jauh dari kedua manusia yang duduk bersebelahan itu.
Karin tertawa kecil usai kepergian Sakura, gadis itu lalu memperbaiki letak kacamatanya dengan sekali gerakan. "Pacarmu manis sekali, Uchiha."
Dan seringai di wajah Uchiha tampan itu pun semakin melebar.
"Tak ingin mengejarnya?"
.
.
Sakura berjalan dengan sangat tergesa-gesa, kaki-kaki jenjangnya sengaja ia sentak sepanjang perjalanan itu. Bibirnya tertekuk sebal, tangannya mengepal geram. Ya, salahkah jika kau cemburu saat melihat pacarmu dirayu seperti itu? Terlebih lagi, pacarmu itu tidak bereaksi apapun—tidak menolak. Menyesakkan, bukan?
"Dasar, Uchiha jelek. Dirayu seperti itu saja mau. Ish, apa maunya, sih? Sudah, aku muak dengannya."
Gerutuan-gerutuan kesal itu terus meluncur bak anak sungai yang terus mengalir. Sakura berhenti di taman kampus. Pandangannya mendadak buram, mulai merasa sakit. Ya, dadanya sakit—bukan lagi kesal. Dan liquid bening yang menerobos keluar itu membuat Sakura jatuh terduduk. Inikah rasanya cemburu? Sesakit inikah rasanya?
Dengan gelap mata, gadis musim semi itu bergegas meraih ponselnya. Mengetik sepatah kalimat tegas untuk sang Uchiha yang telah membuatnya merasa sakit.
To: Uchiha jelek :p
Subj:-
Kita putus
.
.
.
BIIIIP
Uchiha jelek itu—ehm, makudnya Sasuke—refleks merogoh kantong celananya. Dan onyx-nya seketika itu juga membulat, tepat ketika ia selesai membaca pesan singkat yang dikirim oleh pacar—err, atau bisa kita sebut mantan pacarnya itu.
Inikah akhir dari segalanya?
.
.
Sakura bergegas mengusap air matanya. Menahan gemuruh tangisnya yang kembali ingin pecah. Didekatkannya ponsel miliknya tepat di telinga kanannya, sembari mengusap dadanya yang masih terasa sakit.
"Iya?"
Suara diseberang sana terdengar sangat bersemangat. Mengapa? Karena ada berita baik untuk Haruno muda itu.
"Mebuki-sama dan Hizashi-sama telah pulang hari ini, Sakura-sama. Beliau sedang menanti Anda di sini."
.
.
Matahari kembali bersinar lembut, penghujung sore menyambut kedatangan Sakura di kediamannya. Gadis itu terlihat sangat bersemangat, kesedihannya tadi pun seakan hilang tertimpa bayangan. Tersembunyi di satu celah dalam kepala Sakura.
"Sakura?"
Suara lembut itu. Suara yang selalu terngiang dalam mimpi-mimpi Sakura. Suara yang, tak pernah bosan dinanti oleh gadis merah muda itu.
"Tadaima, Sakura."
Dan kali ini, Sakura berjanji akan sangat berterimakasih pada Tuhan—yang telah mendengar doa beruntunnya selama bertahun-tahun.
Tangis membanjir, suasana haru menyelimuti keluarga kecil itu.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Maaf, Sakura..."
Bisikan-bisikan halus yang berulangkali terdengar di telinga Sakura, semakin membuat gadis itu gencar menangis—sembari memeluk erat tubuh kedua orangtuanya. Penantiannya—yang tak pernah surut—akhirnya berbuah manis juga. Kaluarga kecilnya—setelah sekian lama—akhirnya dapat berkumpul kembali.
Tidak, Sakura tidak perlu alasan mengapa hal se-ajaib ini bisa terjadi. Yang terpenting sekarang adalah, mereka bertiga dapat bersama lagi sebagai suatu keluarga yang utuh. Hanya itu.
.
.
.
Fajar kembali menyingsing. Mentari terlihat bangkit dari peraduannya. Sinar matahari yang menyilaukan membuat iris emerald itu berlindung di bawah naungan kelopak matanya, tak ingin buru-buru menampakkan diri.
"Sakura, ayo bangun, Sudah pagi~"
Sapaan bernada halus dan hangat itu membuat Sakura merasa nyaman. Sedikit menggeliat, gadis itu pun bangkit dari posisi tidurnya, dan bergegas memeluk sang Ibu yang sangat dirindukannya. Ha, bagi Haruno Sakura, ini semua bagaikan mimpi di masa kanak-kanaknya.
Namun sungguh, ini bukan mimpi. Dan kau bebas mempercayainya, Haruno Sakura.
Singkat saja, kedua orang tua Sakura merasa sangat khawatir kala gadis itu memutuskan sepihak sambungan telepon mereka berbulan-bulan yang lalu. Dan berkat kejadian itulah, sepasang suami-isteri itu nekat bekerja dengan lebih gila lagi. Mereka bahkan mengurangi porsi istirahat mereka—demi sang putri yang sangat mereka sayangi.
Ya, mereka bekerja bukan tanpa alasan. Perusahaan Haruno yang memang baru mem-booming semenjak si merah muda masih dalam kandungan membuat kedua pasangan itu harus rela menumbalkan waktu bersama mereka—dengan sang putri sematawayang. Jika mereka bisa mengembangkan usaha mereka dengan cepat dan pesat, maka pada masa-masa tua mereka kelak, sang putri tidak perlu bersusah payah membanting tulang untuk menghidupi keluarga mereka. Hanya itu tujuan mereka sebenarnya.
Karena rasa sayang yang berlebihan itulah, mereka tanpa sadar malah melukai putri yang mereka cintai. Menjaga jarak darinya dan membangun tembok di antara mereka. Tidak, mereka tidak sadar sama sekali. Bahwa gadis kecil mereka telah berkembang menjadi gadis yang dewasa. Gadis yang tahan banting—meski sesekali merasa terpuruk. Dan kini, mereka berhasil. Mereka sukses memenuhi ambisi hidup mereka, dan menjamin masa depan keluarga mungil mereka bisa cerah sampai akhir.
"Aku sangat menyayangimu."
"Hm, aku lebih menyayangimu lagi, Sakura."
.
.
Syalalala~
Sakura bersenandung riang dalam perjalanan perginya ke kampusnya—lupa pada persoalannya yang lain. Ketika merasa ada yang kurang—handphone-nya yang memang sangaja ia non-aktifkan kemarin—Sakura pun mengacak tas jinjing miliknya, mencari-cari benda berharganya itu.
1 Pesan. 19 panggilan tak terjawab.
Senyum yang semula menghiasi wajah sang Haruno mendadak pudar, berganti dengan guratan penuh kekesalan.
From: Uchiha jelek :p
Subj:-
Kau di mana?
Sakura kembali menggerutu kesal. Sasuke cuma mau tanya ia ada di mana? Ah, tau begini Sakura lebih memilih tidak pergi kuliah saja.
BIIIIP
From: Uchiha jelek sekali
Subj:-
Aku ingin bicara, kau di mana sekarang?
Belum sempat membalas pesan singkat Uchiha itu, sang ponsel mendadak berdering. Panggilan masuk.
"Sakura?"
Suara bariton yang—sudi tak sudi memang—dirindukan oleh Sakura terdengar menyapa dengan sedikit serak. Ah, Sakura tak ingin ambil pusing.
"Hn."
Masih ngambek juga, Sakura pun cuma bergumam malas. Kekesalannya masih belum terobati.
"Kutunggu di sini. Ada yang ingin aku katakan."
TUUT
Sakura bergegas memutuskan sambungan telepon itu. Bukan karena Sakura tak tahu yang dimaksud 'di sini' itu di mana. Sakura tahu, dan kini ia berpura-pura tidak tahu.
Makin lama, Sakura mejadi semakin stress sendiri karena menghadapi kegilaan dirinya—yang terus-menerus me-reka ulang kejadian kemarin di dalam otaknya. Dan hal ini membuatnya semakin linglung.
"Ha, Ino! Aku butuh Ino sekarang."
.
.
"Ya, Sakura?"
Gadis di seberang sana menyapa lembut, seolah-olah sedang berbisik.
"Kau di mana? Aku ingin bicara, ada waktu?"
Gadis itu kembali berbisik, "Kelasku akan segera bubar. Bisa tunggu sebentar?"
"Hn."
.
.
Haruno Sakura mendengus pelan. Mencoba melampiaskan kekesalannya pada kertas penuh coret-coretan di atas mejanya. Kali ini, Sakura kembali duduk di kursi kantin—tempatnya biasa berkumpul bersama Ino. Dan karena tak punya kegiatan lain, gadis itu pun meremas-remas kumpulan kertas tak terpakai yang sengaja dibiarkannya berserakan.
"Sudah kuduga kau tidak akan datang."
'Suara bariton—menyebalkan—itu lagi.' Runtuk Sakura dalam hati. Emerald-nya masih mengelak dari sang onyx.
"Bisa pergi? Aku sedang menunggu orang."
Bibir Sasuke tertarik simpul kala mendengar ucapan sadis itu. Tak kehilangan semangat, pemuda itupun duduk di samping sang gadis—berjaga-jaga jika saja gadis itu hendak melarikan diri lagi.
"Kau cemburu, hm?"
Tebakan jitu.
Sakura tentu saja mendelik tak terima. "Tentu saja tidak!" kilahnya semangat, tak mempersoalkan nada bicaranya yang kelewat tinggi tadi.
"Lalu?"
Sakura bergeser menjauh dari sang Uchiha—mulai merasa tidak aman. "Lalu?" ulangnya, tak tahu ingin menjawab pertanyaan menggantung Uchiha tadi.
Sasuke semakin merapatkan diri—ikut bergeser mendekati Sakura. "Lalu mengapa kau menghindariku, hm?"
Sakura semakin menggeser pantatnya, berusaha menjauh dari sang Uchiha yang terus mendekat dengan seringai di wajahnya. "Aku tidak menghindarimu. Kaulah yang duluan menghindariku," tuduh Sakura, sukses membuat Sasuke menghapus seringai nakalnya tadi.
"Kenapa kau menghindariku waktu itu?" desak Sakura lagi, seraya menatap wajah Sasuke baik-baik.
Ditatap seperti itu tentu saja membuat Sasuke sedikit gugup. Pemuda itu melirik sekilas gadis di sampingnya. "Aku...cemburu."
BRUUSSH
Air muka sang Uchiha berubah drastis. Entah roh—avatar—apa yang merasukinya tadi, hingga ia mampu berbicara se-frontal itu. Ah, berkat SMS Sakura kemarin, Uchiha muda itu sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Berterimakasihlah pada Nona Haruno itu.
"Mmpphh—ke-kemph—kau benar-benar cemburu?"
Susah payah Sakura menahan gelak tawa itu dari bibirnya. Dan sang Uchiha malah berenggut dengan sebal sambil melempar pandangan ke luar jendela. "Memangnya salah?" Sakura terlihat heran. "Kau sendiri juga cemburu 'kan, kemarin?"
Skak matt! Sanggup menyangkal, Haruno?
"Eeh, tidak, i-itu, aku tidak cemburu, kok. Hanya-aa-aku hanya kesal saja karena ucapanmu waktu itu terpotong oleh si kacamata itu. Lagipula kau juga sih, ngapain mau digoda-goda seperti itu, eh? Dipegang-pegang segala, lagi. Kupikir kau tidak suka pada gadis seperti itu. Ternyata kau—"
"Itu namanya kau cemburu, Haruno."
"EEH?"
"Apa salahnya mengakui hal itu, hm? Kau cemburu. Dan itu wajar."
Sakura masih terbengong. Bahkan saat wajah Sasuke mulai mendekat ke arahnya, gadis itu masih terdiam dengan sorot mata yang kaku.
Deru napas Sasuke terekam jelas dalam memori otak Sakura, hangat. Kilauan onyx itu terlihat begitu menarik—mengunci pergerakan Sakura seutuhnya. Hembusan napas lagi, Sakura mulai merasa akan limbung saat ini juga. Fantasi yang dipertontonkan oleh sang onyx seakan menyihirnya untuk tetap mematung, membiarkan Sasuke terus membunuh jarak yang tercipta di antara mereka.
Bibir bertemu bibir. Semula hanya saling menempel. Lembut dan manis. Emerald terpejam, begitupun dengan sang onyx. Kedua insan itu mulai larut, saling membalas ciuman satu sama lain. Euforia lain tercipta, terasa mendebarkan sekaligus menyenangkan. Napas yang menggelitik, rengkuhan hangat yang saling bertautan, dan kecapan-kecapan mesra yang terus tercipta.
Sasuke menarik dirinya kembali, tampak kehabisan napas—sama halnya dengan sang Haruno. Onyx dan emerald kembali dipertemukan, saling mencari jawaban. Dan sesaat kemudian, lengkungan tipis pun menggusur gadis horizontal di bibir mereka.
"Itu jawabanmu, Sakura?"
BLUSH
Kali ini, tak ada bekas kulit terbakar yang dapat melindungi wajah Sakura—seperti sebulan yang lalu. Kali ini, wajah meronanya itu benar-benar tertangkap basah oleh si Uchiha.
Tawa kembali mengalun, seolah mereka sudah dapat saling membaca satu sama lain. Cinta memang unik. Terkadang begitu sulit dipahami, terkadang pula sangat mudah dimengerti.
Sakura lalu melirik pemuda di sampingnya dengan tatapan jahil. "Jadi, kita jadian, lagi?"
Wajah Uchiha Sasuke berubah datar. "Tidak."
"EEEH?"
"Kita sudah putus, bukan?"
.
.
Tidak, tidak, ini belum berakhir.
Sasuke memang benar, mereka sudah putus, bukan?
Haruno Sakura melempar tatapan tak sukanya. Jika memang Sasuke setuju putus, lalu untuk apa pemuda itu menciumnya tadi, eh? Merebut ciuman pertamanya!
"Bersabarlah hingga tahun depan."
JDER
Tahun depan?
"Untuk apa?" tanya gadis itu spontan. Hei, tahun depan bukan waktu yang singkat.
Sasuke terlihat bosan, bola matanya sengaja ia putar dengan malas. "Kau ingin kutembak ulang 'kan?"
BLUSH
"Tunggu sampai hari ulang tahunmu tiba. Aku tidak ingin mengambil resiko."
JLEB
Sakura tertawa geli dalam hati (?) Bibir ranumnya tak mampu menahan diri agar tidak melengkung manis. Sang emerald pun kembali berpendar penuh gemilau.
"Takut kutolak, ya?"
.
.
.
FIN
.
.
.
Karma
Wikipedia—Pengumpulan efek-efek (akibat) tindakan/perilaku/sikap dari kehidupan yang lampau dan yang menentukan nasib saat ini.
Haruno Sakura—Hmm?
Uchiha Sasuke—Hn, menarik.
Yamanaka Ino—PANAS!
.
Menurutmu, siapa yang benar-benar terjerat KARMA?
.
Karma?
.
.
.
.
FIN
AAARGGGGHHHH *gigitbatu(?)terdekat* GAJEEEE *teriak-teriaksendiri* KENAPAAA AKHIRNYA GAJE GITUUU?! *sparingbarengbantal* #kalah
Gomeeen~ Saya nggak ada maksud apapun dengan membuat ending yang sangat jauuuh dari kata romantis itu, mana SasuSakunya OOC banget lagiii *ngamukmukul-mukulnyamuk(?)* maafya readers *bersimpuhlayaknyaSasori* saya telah mencemari pikiran kalian dengan fic gaje ini #peluk-pelukGaara #nggaknyambungwoi
Mana penuh dengan huruf BLOD lagi, uh nyampah bangetya? Gomeeeen~ *lari-laribarengSasori* #eh
Gimana pendapat kalian? Pliss bilaaaang, sadarkan diriku yang akan hiatus full-sungguhan-nggakragulagi-ini *gigitsaputangan*
Rima~ maafkan diriku telah menghadiahan fic macam ini*tears*maaf kalo fic ini mengecewakanmu*jleb*kalo nggak puas silahkan bilang, bilang aja biar saya puasin(?) #lohloh
Jujurya, menurut kalian ini cukup jelek atau jelek banget? *uhuk* Gimme feedback pliss :') Untuk yang terakhir kalinya(dific ini)REVIEW anda sangaaat berharga bagiku :')
Ahya,ada yang sadar nggak?
Chapter 1= 3000-an words
Chapter 2= 4000-an words
Chapter 3= 5000-an words
Chapter 4= 6000-an words
#abaikan
Tanpa kalian, fic ini nggak akan ada artinya*pelukcium* \^o^/
REVIEW yaaa ^^
Arigatou :)
