Baekhyun menyeka peluh yang menyebar di sekitaran wajahnya. Sisa musim panas akan segera digantikan musim gugur, tapi tak tau mengapa cuacanya masih saja terasa begitu gerah hari ini. Baekhyun mengipasi wajahnya sekali sebelum berdiri dari tempat duduknya setelah itu.

Bus yang ia tumpangi berhenti di halte tujuannya. Begitu pintu bus terbuka, lagi hawa panas menyengat terasa menghampiri. Baekhyun mengabaikan hal itu dan memilih untuk mengumbar senyum ketika indera mendapati sosok Chanyeol di halte. Menunggu dirinya sedari tadi.

Chanyeol pun bangkit. Berdiri di hadapan Baekhyun yang menghampiri tempatnya.

"Kau berkeringat banyak sekali." Chanyeol menatap laki-laki mungil itu sedikit takjub. Tangannya lebar menuju kepala Baekhyun, pada poni dan mengusak bagian lepek akan keringat itu dengan lembut. "Ponimu sampai basah." Sambungnya.

"Kupikir AC busnya mati." Baekhyun ikut memegangi helaian poni lembabnya dan mendengus setelah itu.

"Kurasa es krim menjadi pilihan yang bagus ya," Punggung tangan Chanyeol menuju pipinya kemudian dan mengusap tetesan kecil keringat disana sesaat.

Baekhyun mengumbar senyum kembali. "Es krim!" pekiknya bersenang hati.

Chanyeol melihatnya terkekeh. Ia beralih menautkan jemarinya pada jemari Baekhyun dan beranjak pergi dari halte itu. menuju kafe langganan mereka dan memesan masing-masing seporsi es krim besar.

Suasana kafe itu terlihat begitu ramai hari ini. Akhir pekan selalu dipadati oleh pengunjung, menikmati es krim dan sebagian lagi menikmati kopi mereka.

Keduanya kebagian kursi di pojok dan paling belakang. Sebenarnya itu tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu untuk pacaran. Chanyeol tertawa sendiri dalam hati.

"Berikan aku ponselmu." Baekhyun meminta ketika ia baru saja menyelesaikan suapan pertama es krimnya. Tangannya mengadah pada Chanyeol yang mulai mengipasi mulutnya yang terasa ngilu akibat terlalu banyak memasukkan es krim disana.

"Untuk apa?" laki-laki itu bertanya setelah berhasil menahan habis isi mulutnya.

"Pemeriksaan tentu saja."

Pemeriksaan mengenai apa yang Chanyeol simpan di galeri ponselnya, atau apa yang ia ketik pada mesin pencarian dan yang paling sering laki-laki itu lakukan di akun instagramnya. Explore tentu menjelaskan semuanya.

"Aku tidak melakukan sesuatu yang aneh." Chanyeol berdecak tapi tetap memberikan ponsel pada Baekhyun.

Kekasih mungilnya itu mencibir dan tapi segera tenggelam pada benda persegi itu. Jemarinya bergerak lincah membuka aplikasi satu dan aplikasi lainnya. Ia berhenti lama pada galeri, mengecek apa yang tersimpan disana—masih sama, selcanya, selca mereka berdua dan paling banyak di dominasi oleh selca milik Baekhyun. Lalu beberapa screenshoot postingan dari instagram. Berupa gambar lucu dan beberapa kata mutiara—Chanyeol terkadang sedikit melankolis tapi sialnya sampai hari ini masih belum berhasil untuk menjadi romantis.

Baiklah, galeri aman.

"Aku akan ke toilet sebentar." Chanyeol berujar dan Baekhyun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia mengabaikan ponsel Chanyeol sesaat dan memasukkan beberapa suapan es krim ke dalam mulutnya dan beralih membuka aplikasi instagram.

"Guru Byun?"

Baekhyun mendonggakkan kepalanya ke asal suara di sampingnya. Mengerjabkan matanya dua kali dan menelan cepat es krim dalam mulutnya. "Sehun?" ia sedikit terpekik ketika menyadari jika salah satu muridnya yang baru saja menyapa dirinya.

"Guru Byun disini?" Sehun mengulas senyum lebar. Ia terlihat senang bertemu Baekhyun secara tak sengaja di luar lingkungan sekolah, berbanding terbalik dengan Baekhyun yang merasa resah tiba-tiba.

"Dengan teman?" Sehun lagi bertanya. Matanya menangkap dua mangkuk es krim pada meja Baekhyun dan itu cukup menjelaskan jika Baekhyun memang tidaklah sendiri di tempat itu.

"Ah itu—" Baekhyun kelimpungan sendiri mencari jawaban atas pertanyaan super sederhana biasa Sehun. Ponsel milik Chanyeol ia genggam erat tanpa sadar dan Sehun melihat itu dengan sedikit kebingungan.

"Er… dengan kekasih—mu?" Sehun mengucapkannya dengan hati-hati. Ada selipan nada kecewa disana. Laki-laki bermarga Oh itu tak menyadari adanya titik harapan—mengenai jawaban bukan— yang ia buat dalam hatinya.

Baekhyun menggaruk belakang kepalanya gugup. Dan dengan perlahan ia menganggukkan kepalanya.

"Ya." Jawabnya.

Senyum Sehun sepenuhnya menghilang. Air wajahnya di gantikan oleh guratan kekecewaan. Keadaan berubah kikuk dan Baekhyun bertanya sendiri mengapa ia ikut seperti itu.

Maksudnya—Sehun adalah murid. Hubungan mereka hanyalah sebatas antara guru dan murid. Tidak lebih dan bisa saja kurang. Mereka hanya mengobrol beberapa kali dan hanya itu saja.

Oke, mungkin suasana itu sempurna untuk Sehun. Diawali oleh rasa kagum dan gemas semata akan sosok gurunya itu dan kemudian berkembang menjadi rasa suka. Sehun sebenarnya tak yakin juga jika rasa suka itu merupakan rasa suka yang mengarah pada rasa cinta.

Baekhyun adalah satu-satunya guru yang ia sukai mata pelajarannya. Sehun selalu bersemangat ketika pelajaran Bahasa Inggris di mulai. Sehun pikir itu dikarenakan Baekhyun memiliki pembawaan yang menyenangkan, nyaman di ajak bicara, memiliki humor yang tak begitu payah—yah… hal-hal kecil seperti itu.

Tapi sialnya jantung Sehun malah berdebar ketika ia berdekatan dengan laki-laki bertubuh mungil itu.

Dan kenyataan jika Baekhyun telah memiliki kekasih—bahkan mereka tengah berkencan saat ini—membuat Sehun patah hati.

Remaja berusia 18 tahun itu tanpa sadar menghela nafasnya sedang raut wajahnya terlihat sedih. Ia berpikir untuk beranjak pergi saja dari sana dan mulai menata perasaan sukanya kembali. Mulutnya telah terbuka, bersiap untuk kalimat pamitannya… bersamaan dengan munculnya sosok Chanyeol kembali.

Laki-laki bersuara berat itu tak begitu mempedulikan Sehun awalnya, ia berjalan melewati teman sekelas itu dan menuju kursinya di depan Baekhyun. Dan…

"Sehun?"

Chanyeol telonjak pada posisinya.

Sehun melebarkan bola matanya.

Sedang Baekhyun menepuk keningnya.

Dan berakhir dengan bergabungnya Sehun pada lingkaran meja bulat itu.

"Jadi Guru Byun… kekasih yang kau sebutkan tadi adalah dia?" telunjuk Sehun mengacung pada Chanyeol di sisi kirinya. Ia tak menatap Chanyeol dan menuntut penjelasan dari Baekhyun pada sisi kanannya.

Chanyeol dengan kesal menampik kasar telunjuk itu dan Sehun hendak melayangkan protes akan tindakan semena-mena yang laki-laki itu lakukan padanya.

Baekhyun menyengir dan menatap sayang pada es krim tak lagi berbentuk miliknya. Ia melirik Chanyeol sesekali tapi kekasihnya itu malah memilih balas menatap melotot Sehun.

"Serius? Dengan si telinga lebar ini?" raut wajahnya dramatis. Wah, kenyataan memang kadang mengejutkan Sehun pikir.

"Apa katamu!?" Chanyeol hendak menggebrak meja tapi buru-buru dihentikan Baekhyun. Reflek saja Baekhyun mengenggam kepalan tangan Chanyeol dan Sehun melihat itu semakin patah hati.

Sehun beralih menatap Chanyeol kembali. Tatapannya menilai, menilik setiap aspek wajah laki-laki dengan marga Park itu dan bergidik setelahnya.

"Guru Byun, selera humormu semakin bagus saja sepertinya." Kepalanya Sehun bawa pada Baekhyun. "Bagaimana mungkin kau berkencan dengan laki-laki jelek seperti ini? Kau memungutnya dari mana?"

"Hei kau ingin mati atau bagaimana?!" Suara Chanyeol keras terdengar. Beruntung ramainya kafe meredam sedikit gelegarnya. Hanya beberapa dari mereka yang duduk berdekatan mendengar teriakan Chanyeol itu.

"Kau bahkan tak bisa dibandingkan dengan bulu ketiakku!" gelegarnya lagi. Baekhyun kembali menepuk kening dan menenggalam wajahnya pada lipatan tangan.

Sehun tertawa dan Chanyeol semakin murka. Ia telah bangkit dari duduknya dan mencengkram kerah pakaian Sehun dan hendak menyeretnya untuk bangkit pula. Sehun terkejut mendapati reaksi itu dan menatap horror Chanyeol yang hendak mencekiknya. Hal itu menarik perhatian pelanggan kafe lebih banyak lagi.

"Kau ingin langsung disini atau diluar?"

Baekhyun segera mengangkat kepalanya dan jelas terkejut melihat hal itu.

"Chanyeol!" Baekhyun menegur. Chanyeol mengabaikan teguran itu alih-alih malah semakin menantangi Sehun.

"Chanyeol hentikan, ya Tuhan. Kumohon duduklah kembali." Baekhyun memegangi kuat cengkraman Chanyeol itu. Memaksanya lepas dan mentitah galak agar Chanyeol duduk kembali.

"Wah~ aku masih belum bisa mempercayai hal ini." Sehun menggelengkan kepalanya dramatis. Bagaimana bisa… seorang guru imut bernama Byun Baekhyun berpacaran dengan berandal pemalas seperti Chanyeol. Dunia sungguh tak adil dalam mengetikkan bagian itu. Konyol sekali.

Chanyeol berdecih beberapa kali mendengar gumanan dari laki-laki yang menjadi teman sekelasnya itu.

"Aku akan menegaskan sekali lagi jika Byun Baekhyun adalah kekasihku dan aku adalah kekasih Byun Baekhyun. Jadi kuharap kau cukup tau diri untuk tak menggoda kekasihku lagi!" retetan ucapan itu terdengar penuh penekan.

Kini berbalik Sehun yang berdecih. "Hanya kekasih saja, 'kan? Memangnya berapa lama kalian akan bertahan?" ia melipat kedua lengannya pada dada. Ia mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang tengah menopang kepalanya kini dengan satu tangan.

Baekhyun terlihat kebosanan dengan pertunjukkan kekanakan yang dilakoni oleh dua laki-laki tinggi di hadapannya kini. Itu nyaris berlalu hampir dua puluh menit berselang dan ia tak diberikan kesempatan untuk berbicara sedikitpun—oleh Chanyeol lebih tepatnya. Laki-laki itu selalu memotong kalimat yang hendak ia suarakan dan semuanya berakhir seperti ini.

Chanyeol menyahut, Sehun menyolot. Sehun berdecak, Chanyeol berdecih. Pun berlaku kebalikannya.

"Haha… kau membuatku tertawa." Chanyeol berdecak dan mulai tertawa ia buat-buat. "Haruskan aku mengatakannya—atau… haruskah Baekhyun yang mengatakannya?"

"Apa?" Baekhyun menegak kembali. Ia menatap Chanyeol terkejut sedang tatapan Sehun penuh tanda tanya terhadapnya.

Chanyeol menyeringai penuh kemenangan. "Sayang, mengapa kau tidak mengatakan pada si datar ini berapa lama kita telah berkencan, hm?"

Baekhyun memutar mata mendengarnya. Chanyeol memang kadang berlebihan.

Sedang pada tempatnya, Sehun penuhi oleh sarat penasaran. Dan Baekhyun malah berkedip kini. Ia menatap bergantian Chanyeol dan Sehun beberapa kali dan menghela nafasnya setelah itu.

"Well, kami—"

"Berapa lama kalian telah bersama?"

"Nyaris 6 tahun…"

"Apa!?" Sehun menjatuhkan rahang. Chanyeol mencetak senyum kemenangan. "Seriously?" Sehun menatap Baekhyun tak percaya. Jawaban konyol apalagi ini?

Namun sayangnya Baekhyun menganggukkan kepalanya, ia memberikan cengirannya malu-malu.

"Guru Byun berumur 23 sekarang dan si berandal ini (Chanyeol melotot dan Sehun tak peduli) 18 tahun. Kalian telah bersama selama 6 tahun…" Sehun komat-kamit seorang diri dan mentap langit-langit—berpikir. Lima detik berselang matanya kembali membola. "Guru Byun! Kau mengencani anak SMP?!"

"Kami hanya mulai berpacaran sejak 6 tahun yang lalu. Kenyataannya kami sudah bersama dari sejak aku masih bayi." Chanyeol dengan bangga mengatakanya. Ia menaik-turunkan alisnya pada Baekhyun dan si mungil itu malah terkekik.

"Kami tinggal di lingkungan komplek yang sama Sehun." Baekhyun menjelaskan, "Orangtua kami berteman dekat. Dan Chanyeol tidak berbohong mengatakannya, kami memang sudah bersama sejak Chanyeol masih bayi."

Baekhyun melirik Chanyeol malu-malu dan kontak mata mereka bertautan tanpa perencanaan disana. Bertukar senyum dan Sehun merana di tengah mereka.

"So fucking unbelievable!" Sehun berguman pada dirinya sendiri. Ia terdiam seorang diri, meninggalkan sepasang sejoli itu dalam pikirannya dan memejamkan mata sedang mulut kembali komat-kamit melontarkan sumpah serapah.

Sehun seperti orang bodoh masih membiarkan dirinya duduk disana. Tidak beranjak ditemani iced coffe mencair miliknya dengan perasaan merana. Sehun patah hati. Sehun sakit hati!

Laki-laki itu menggebrak meja dan bangkit. Chanyeol dan Baekhyun tersentak kaget dan sontak saja membuyarkan imajinasi manis mereka.

Sehun menyeringai. "Ha! Siapa yang peduli tentang 6 atau 10 tahun memangnya?!" bola matanya bergerak pada pasangan kekasih itu dengan jenaka beserta senyum konyol misterius pada wajahnya.

Meja ia gebrak sekali lagi. Kepalanya ia dekatnya pada Baekhyun kemudian Chanyeol dan kembali pada Baekhyun lagi.

"Guru Byun…" Panggilnya.

"Ya-ya?"

Sehun membawa kepalanya pada Chanyeol setelah itu. Ia tersenyum semakin lebar, "Aku akan tetap merebutmu dari si berandal jelek ini!" suara tawanya terdengar di akhir kalimatnya.

"MATI SAJA KAU MUKA DATAR!"

BRUUUKKK!

Dan Sehun terkapar menyedihkan pada ubin kafe oleh tendangan tak tertahankan Chanyeol. Keras dan taunya Sehun tak bergerak disana. Laki-laki itu pingsan—atau hanya pura-pura pingsan.

"Ya Tuhan Chanyeol apa yang kau lakukan!?"

...

Catatan: Drable 4 datangggg merupakan penjelasan sejarak apa umur(?) dan hubungan ChanBaek ples ngabulin permintaan beberapa reader untuk menceritakan ChanBaek di luar lingkungan sekolah kkkkk~

Hari ini apdetnya bareng Mangaka's Manga-nya Pupuputri dan 2 Ex-nya Sayaka Dini! yok segera cas cus kesanaaaa~~~ *pyonggg*