Timbuktu

Severus Snape, Hermione Granger, Neville Longbottom kepunyaan JK Rowling, sementara Paman Gober, Donal Bebek, Kwik, Kwek, Kwak, Lang Ling Lung, dan Mimi Hitam kepunyaan Carl Banks serta Don Rosa

Rating T. Genre Adventure dan Friendship.

Tadinya akan diikutsertakan dalam 20K of Epicness Challenge, tapi karena males nerusinnya *bletags* dan baru berniat lagi sekarang, jadilah ini dimasukkan ke Sans Romance Challenge

-o0o-

4. Timbuktu

"Selama ini, jika aku mendapat kesulitan, dan perlu bersembunyi untuk sementara waktu, aku selalu mengatakan, akan pergi ke Timbuktu. Rasanya, tempat itu berada di ujung antah-berantah dunia ini, dan tak akan ada yang bisa menemukanku di sana, karena tak akan ada yang tahu di mana beradanya tempat yang bernama Timbuktu ini—"

"Dan ternyata—"

"—memang benar-benar ada—"

"—ya, Paman Donal?" tanya Kwak, Kwik, dan Kwek menggoda.

Berusaha tak menghiraukan ketiga keponakannya, Donal Bebek terus bertanya, "Jadi, Timbuktu itu di mana?"

TOWENG!

Lang Ling Lung menengahi. "Timbuktu itu ada di negara Mali—"

"—dan Mali itu di mana?"

"Pamaaaaaan, dengarkan duluuuu!"

"I-Iya, iya—"

"Letaknya di Mali," Lang Ling Lung meneruskan, "di benua Afrika. Di padang pasir. Saat ini, jika kita perhatikan, di sana hanya akan terlihat banyak pedagang garam—"

"Mengapa demikian, Lang Ling Lung?" Neville ingin tahu

"Kehancuran yang sesungguhnya adalah jika sudah tak ada yang mau bersungguh-sungguh merawat kekayaan intelektual ini. Ada banyak perpustakaan di dunia yang hancur hanya karena terjadi peperangan. Peperangan antar penguasa, dan berimbas pada menghancurkan perpustakaan—" Lang Ling Lung bersungguh-sungguh. "—jadi, sekarang kebanyakan naskah berada di tangan beberapa gelintir penduduk yang hirau. Dan sedihnya, sebagian besar penduduk Mali justru buta huruf—"

Helaan napas yang paling terdengar itu berasal dari Hermione.

"Kenapa orang suka menghancurkan buku, ya?" keluhnya sedih.

"Jadi, sekarang buku-buku itu ada di mana?"

"Konon ada beberapa orang yang hirau akan nasib naskah-naskah ini, dan membuat perpustakaan tersembunyi. Sampai sekarang, berita itu sepertinya hanya gosip. Hanya kabar angin lalu—"

Severus berdeham. "Tidak. Untuk masyarakat sihir, perpustakaan itu benar-benar ada, dan kita akan mengunjunginya—"

"Wah! Kita seperti—"

"—akan mengunjungi—"

"—perpustakaan Wan Shi Tong!"

"Kira-kira, seperti itulah—" sahut Severus sambil lalu.

"Perpustakaan Wan Shi Tong?" Neville ingin tahu lebih jauh.

"Perpustakaan di film kartun—"

"—Avatar: The Last Airbender—"

"—kau tak pernah menontonnya?" tanya Kwik, Kwek, dan Kwak.

Neville dan Hermione bersamaan menggelengkan kepala. Bagaimana menjelaskan pada Kwak, Kwek, dan Kwik, bahwa di Hogwarts tidak ada televisi?

"Perpustakaan Wan Shi Tong itu salah satu perpustakaan besar. Letaknya entah di mana. Jika kita beruntung menemukannya, lalu kita ingin membaca di sana, kita harus menyumbangkan sesuatu—" sahut Victoria. Muncul dari pintu, ia menambahkan, "—aku sudah menghubungi perpustakaan Timbuktu, dan kalian bisa ke sana sekarang. Jangan lupa perbedaan waktu—"

"Tentu saja," Pak Pilot menyetujui, "waktu terbang sekitar sebelas jam, tapi kita melewati batas hari, jadi jika di sini masih hari Senin, di sana sudah masuk hari Selasa—"

Segera mereka berkemas-kemas.

"Kau sendiri tidak ikut?" tanya Severus pada Victoria.

Victoria menggeleng, "Aku masih punya urusan di sini. Selamat jalan, dan semoga berhasil menemukan Mimi! Begitu-begitu juga dia masih saudaraku—"

-o0o-

Sebelas jam berlalu, ketika pesawat turun di bandara pribadi di Timbuktu. Walau sama-sama padang pasir, Atacama jauh lebih hening. Timbuktu lebih ramai.

Banyak orang dengan unta berseliweran. Mobil-mobil butut, keluaran tahun lama, juga menambah berisik. Mungkin suhu di Atacama dengan suhu di Timbuktu sama-sama panas, tetapi di Timbuktu bukan hanya suhu alam saja, melainkan juga polusi menambah panas.

Juga keadaan politik.

Nampaknya ada gerombolan pemberontak—setelah Lang Ling Lung menanyakan pada penduduk setempat: Al Qaeeda in the Islamic Maghreb/AQIM. Konon mereka punya hobi menangkap orang asing dan menjadikannya sandera untuk ditukar dengan rekan mereka yang ditangkap pemerintah.

Bagaimana keadaan menjadi tidak panas?

Namun Severus membawa mereka—dengan petunjuk Victoria—ke sebuah penginapan. Kumuh, tapi lebih baik daripada tidak ada. Severus menyuruh mereka cepat-cepat menyimpan barang bawaan di kamar masing-masing lalu berkumpul lagi.

Tanpa bicara, walau penuh rasa ingin tahu, mereka menyaksikan Severus meminta salah seorang pelayan mengantar mereka ke sebuah ruangan. Berbondong-bondong, walau tanpa suara, mereka mengikuti.

Setelah meminta agar si pelayan meninggalkan mereka, Severus menutup pintu, dan membaca mantra tertentu.

Dan lantai pun terbuka.

Sesusun tangga ke lantai bawah tanah terlihat.

Perlahan, masih tanpa bicara, mereka menuruni tangga.

Suasananya remang-remang. Mungkin ada sumber cahaya di bawah.

Tapi mereka terhenti.

Ada seorang laki-laki, sudah tua sekali. Ia berdiri di depan sebuah pintu lain, yang sepertinya terkunci.

"Kalian tidak bisa masuk begitu saja," sahutnya lirih, tetapi jelas.

Severus berdiri tepat di hadapannya. "Victoria Banc mengirimku ke sini—" sahutnya singkat.

Kakek tua itu mengamati Severus dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kau Severus Snape?"

Severus mengangguk.

Tanpa banyak bicara, kakek itu mundur, menyentuhkan tangan pada pintu, dan pintu itu otomatis terbuka.

Obor-obor menyala di sepanjang dinding, yang tidak terpakai untuk rak-rak buku. Ya, rak-rak buku. Dalam jumlah yang banyak sekali!

Bagaimana bisa perpustakaan sebesar ini berada di bawah tanah tanpa diketahui orang? Atau setidaknya, tidak banyak yang mengetahui?

Masih tanpa suara, mereka menelusuri rak-rak buku secara terpisah, sampai Lang Ling Lung berseru: "Di sini!"

Mereka bergegas mendekati asal suara. Dan mereka melihat Mimi Hitam!

Mimi terikat, dan mulutnya ditutup dengan lakban. Bergegas Lang Ling Lung mendekat, membuka lakban dan ikatannya.

"Kenapa kau bisa jadi begini, Mimi? Dan siapa pelakunya? Mana Keping Pertama dan Mimbulus Mimbletonia?" pertanyaan demi pertanyaan memberondong.

"Satu-satu—" Mimi menjawab lemah, "Sandman pelakunya—"

Severus menjentikkan tongkat dan muncul sebuah gelas berisi air minum. Diangsurkannya pada Mimi.

"Terima kasih," Mimi menghabiskan airnya, "—saat aku juga akan mengambil Keping Pertama, dia mendahului. Saat aku ingin merebutnya, dia mengelak, lalu menciptakan gempa—"

"D-dia me-menciptakan gempa?" Hermione terpana. "Bagaimana caranya?"

Mimi menggeleng. "Aku tak tahu. Sepertinya dia penyihir juga," ia menatap pada Severus, "dia merapal mantra aneh, dan gempa terjadi. Lalu tongkatku terjatuh, dan bertepatan dengan itu ia meraih Keping. Saat itu juga dia melihat tumbuhan anak ini," ia menunjuk Neville, "dan berkata bahwa tanaman ini bagus juga untuk dibawa. Aku melihat kesempatan untuk merebut Keping, dan menariknya, tetapi saat itu juga dia—"

"—Disapparate?" tanya Severus.

"Ya—semacam itulah. Dia terurai menjadi butiran pasir, menghilang, dan muncul di sini—"

"Menghilang bersamamu? Bersama barang-barang itu?" Lang Ling Lung penasaran.

"Kalau kalian pernah mencoba Apparate—"

"Semua barang yang dibawa akan ikut menghilang. Jadi, kau dan benda-benda itu juga turut terurai?" Severus meneruskan.

"Persis pasir—" Mimi mengangguk. "Dan tongkatku malah tertinggal. Aku tak bisa menyihir—"

Severus merogoh ke dalam jubahnya, dan mengeluarkan sebuah tongkat sihir, "Ini kepunyaanmu?"

Mimi berseru girang. "Kau menyimpannya! Ah, terimakasih!"

Neville menyenggol Hermione, sambil tersenyum penuh rahasia.

Tapi Lang Ling Lung justru mengeluh.

"Kalian tahu? Ini persis seperti Si Bayangan. Pihak berwajib akan dibuat kesulitan menangkapnya. Selama sebuah bayangan bisa keluar, si Bayangan akan bisa kabur juga. Demikian juga si Sandman ini. Selama sebutir pasir bisa keluar, dia akan bisa kabur juga—"

Kembali ia menghela napas.

"Dan sekarang, ia ada di mana?" Severus bertanya.

Dengan dagunya, Mimi memberi isyarat ke arah pintu keluar.

"Tak tahu. Tapi ia sering datang dan pergi dari situ—"

"Apakah kau tahu di mana benda-benda itu di simpan?"

Kali ini ia mengisyaratkan pintu yang lain.

Severus dan Lang Ling Lung berjalan ke arah pintu itu. Mencoba membukanya.

Tak bisa.

Severus mengeluarkan tongkatnya, dan berbisik: "Alohomora!"

Tak ada yang terjadi juga.

"Kau tahu apa yang bisa dilakukan jika ingin membuka sebuah pintu?" tanya Severus, seperti pada dirinya sendiri.

Hermione mendekati pintu, dan melihat bahwa di bawah gagang pintunya, tak ada lubang kunci seperti biasa. Jadi, tak dikunci.

Tapi tak bisa dibuka.

Jadi, bagaimana membukanya?

Jalan masuk ke asrama Gryffindor adalah dengan mengucapkan kata kunci. Juga dengan jalan masuk ke asrama Ravenclaw, bedanya kata kuncinya ialah dengan menjawab pertanyaan.

Apakah pintu ini juga demikian?

Hermione memandang guru Ramuannya. "Apa—apakah harus ada kata kunci? Seperti di asrama-asrama kita?"

Severus mengerutkan kening.

Tetapi dicobanya juga. Diusapkannya tangan di daerah yang seharusnya ada lubang kunci, dan yang tersingkap justru sebuah kotak bernomer. Nomer 1 sampai 9. Persis seperti kunci kombinasi.

"Sepertinya empat angka," sahut Mimi Hitam, "Beberapa kali aku melihat saat ia sedang membukanya. Tapi aku tak bisa menebak, ia menekan tombol angka berapa saja—"

Severus dan Lang Ling Lung berpandangan. Kemudian mulai menebak-nebak angka berapa, walau tanpa memencet angka.

Sementara itu ketiga bocah Bebek menyebar melihat-lihat, mencari apakah ada sesuatu yang aneh.

"Hei, Kwak, Kwik, lihat ini—"

Ketiganya berkumpul mendekati sebuah rak.

Sepertinya buku-buku yang diletakkan di sana adalah buku-buku tentang gempa. Buku dengan berbagai bahasa, ada yang penuh dengan gambar, ada juga yang penuh dengan angka. Kwek meraih satu, membukanya, melihat-lihat, dan menyimpannya kembali. Demikian juga Kwak dan Kwik.

"Dia benar-benar menciptakan gempa—" lirih suara Kwek. "Dengan pengetahuan yang bisa dikumpulkan di sini—"

"—ditambah dengan kemampuannya untuk melakukan sihir—"

"—ia benar-benar akan mengacaukan dunia—"

Hermione mendekat. Dan melihat, di lantai, di sekitar rak buku-buku tentang gempa itu, terlihat ada butiran pasir.

"Dia sering berada di sekitar sini rupanya—" sahutnya.

Ia meniru ketiga bebek di hadapannya, mengambil sebuah buku, membukanya, dan melihat-lihat. Buku di rak itu semuanya tentang gempa.

Neville ikut melihat. "Buku ini rupanya sering ia baca—" sahutnya.

"Bagaimana—"

"—kau tahu?"

"Lihat," dan Neville menunjukkan bagian jilidannya. Sudah agak terkelupas, dan di bagian lem-nya melekat beberapa butir pasir.

Entah kenapa, Hermione tersenyum.

Tapi bukan karena pasir di jilidan buku. Atau, setidaknya, bukan hanya karena pasir di jilidan buku. Karena ia kemudian mendekati gurunya kembali.

"Sir, coba angka 1334—" 1)

Untuk keheranan yang kali ini sulit disembunyikan dalam raut wajah tak terbaca-nya, Severus memencet angka itu.

Dan terbuka.

Diiringi dengan sebuah tawa dari dalam!

Sandman!

"Seharusnya kalian tahu bahwa aku tak perlu masuk atau keluar pintu manapun dengan membuka pegangan pintunya, memutar kuncinya, atau bahkan memencet kode angka. Aku ini kan Sandman," sahutnya sinis.

Tentu saja.

Dia hanya ingin memperlihatkan pada dunia, bahwa sekeras apapun orang lain berusaha menangkapnya, hanya akan sia-sia belaka. Dengan mudah ia akan mengurai diri, dan kabur. Tak kan bisa tertangkap.

Ia terkekeh lagi.

Dengan gaya bagai bangsawan, ia merentangkan tangannya. "Kalian lihat? Benda-benda langka dari seluruh penjuru dunia! Semua berada dalam koleksiku. Bahkan," ia melirik pada Neville, "secara tak sengaja aku juga menemukan Mimbulus Mimbletonia. Bayangkan, dari Assyria! Hanya ada satu di dunia saat ini, dan sekarang juga berada dalam genggamanku. Bwahahaha!" tawanya renyah.

Neville sudah akan maju dengan marah, ketika Hermione menahannya.

"Kalian sudah lihat semuanya, bukan? Koleksi buku langka, lengkap. Benda-benda langka, sudah banyak. Walau aku masih akan mencari buku-buku dan benda-benda langka lain, tapi untuk saat ini mungkin cukup. Aku akan mengurai dan menghilang dulu sejenak, sementara kalian akan terkunci cukup lama di sini, mungkin bahkan sampai kalian menjadi mumi. Oya, anak perempuan itu harus terus mencari kode angka lain lagi untuk dipecahkan jika kalian ingin keluar, karena aku akan mengubahnya—"

Detik-detik menegangkan saat Sandman mengurai dirinya menjadi butir-butir pasir, menuju ke arah pintu, ketika Kwik berteriak pada kedua saudaranya,

"Kwak! Kwek!"

Sambil mengeluarkan sesuatu berbentuk pistol—tembakan lem—dari ranselnya. Dalam hitungan sepersekian detik, kedua saudaranya juga mengeluarkan benda yang sama.

Dan menembakkannya ke arah tubuh manusia yang sedang mengurai menjadi pasir itu—

.

.

.

.

.

-o0o-

"Patungnya keren juga," sahut Neville menahan tawa, di depan 'patung' Sandman, yang dipamerkan di depan benda-benda lain dalam Pameran Benda-Benda Aneh dan Langka.

"Hihi. Entah kenapa, tiba-tiba—"

"—kami mendapat ide itu. Untungnya—"

"—di ransel kami selalu ada benda-benda semacam itu—"

Neville mengangguk, sambil masih menahan tawa. "Jilidan di buku itu, pasti memberi kalian ide! Kukira, tak akan percuma gelar 'Siaga Terbaik Tahun Ini' yang kalian peroleh, Kwik, Kwek, dan Kwak!"

"Tentu saja," Hermione menyambar, ia baru saja datang. Tadi, ia baru mempresentasikan makalahnya yang kemarin tidak jadi dipresentasikan, dan barusan banyak juga yang ingin bertanya akan gagasan-gagasannya, walau waktu seminar sudah selesai. "Bagaimana dengan paman kalian, paman Donal? Sudahkah ia pulang dari Timbuktu?"

Kwak, Kwik, dan Kwek serempak menggeleng. "Entah kapan baru ia pulang—"

"—sepertinya ia masih betah—"

"—menjadi saudagar garam di Timbuktu—"

Kelimanya tertawa.

Berjalan ke arah guru Ramuan mereka, Hermione melanjutkan, "Kita masih akan saling menulis surat kan?"

"Tentu saja—"

"—aku sudah tak sabar—"

"—menerima burung hantu kalian—"

Tiba-tiba Hermione berhenti. Dan menyenggol Nevile dengan sikunya.

Di hadapan mereka, guru Ramuan mereka sedang asyik berbicara dengan Mimi Hitam, dengan seekor gagak hitam di bahu Mimi.

"Sudah kubilang, sama kan?" bisik Hermione. Pandangannya berganti-ganti, dari rambut Mimi Hitam pada rambut gurunya.

"Ehm," tiba-tiba gurunya menoleh. "Aku dengar itu. Detensi begitu tiba di Hogwarts, kalian berdua—"

Ups!

FIN

AN:

1) Sila baca fanfiksi Sanich Iyonni dengan judul sama, jika ingin tahu kenapa Hermione memilih angka itu. Ada kok di FFN #tersenyummisterius

Btw, ini seharusnya lebih panjang lagi. Sudah direncanakan berbulan lalu, tapi karena males #plaks jadi baru diketik seminggu belakangan ini. Jadi, karena sudah dikejar-kejar hukuman mati oleh mbah Fled, ada banyak hal yang seharusnya dimasukkan *lihat Pengantar* ga jadi masuk deh. Hihi, ampuuun! XD

Selamat menikmati!