Sehun's Brother, Luhan

Copyright goes to YidwigFanWuthoven (AFF)

Translated by 0312_LuluEXOtics

.

Original link (hapus spasinya)

www. asianfanfics story/view/418502/sehun-s-brother-luhan-angst-death-sad-exo-luhan-sehun-hunhan

.


Genre: Sad, Angst, Brothership

Rating: T

Lenght: Chapter Two of, originally, 4 chapters (Tapi ada tambahan 2 Epilog sama 2 chapter bonus)

Cast: Sehun, Luhan, the other EXO members, de el el

Warning: Character death!

.


CHAPTER 2


Tuhan

Aku ingin sekali membencinya

Seharusnya memang aku membencinya

Tapi aku tidak bisa

Dia tidak tahu apa-apa

Sama sepertiku, dia tidak pernah meminta kehidupan yang seperti ini

Dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari rahim seorang wanita yang telah merebut ayah dari ibuku

Dia tidak pernah meminta untuk menjadi anak yang selalu mendapatkan cinta ayah

Dia tidak pernah meminta untuk menjadi seseorang yang seharusnya aku benci

Dan aku tidak bisa membencinya

Kehidupanku yang menyedihkan ini, bukan dia yang menyebabkan itu semua

Aku tidak bisa membencinya

Dan saat aku menatap kedua matanya, aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa membencinya

.

Luhan melihat bocah berkulit putih itu tengah berbicara dengan anak yang lain, mungkin lebih tua darinya. Dan dilihat dari cara anak laki-laki dengan pipi tembam yang terus melirik ke arahnya, jelas sekali kalau mereka tengah membicarakannya. Mereka tertawa, dan kemudian bocah berkulit putih itu turun dari tangga. Mereka saling bersitatap untuk sejenak sebelum bocah itu melirik ke ayah mereka, yang sedang berbicara dengan istrinya - yang secara teknis adalah 'Eomma'-nya sekarang.

Luhan tidak terlalu memperdulikan hal itu. Dia telah kehilangan ibunya. Dan dia sama sekali tidak tertarik dengan seorang seseorang yang akan menggantikan ibunya. Begitu juga dengan seorang adik. Mereka bahkan telah membuatkan sebuah nama Korea untuknya, agar dia bisa sekolah dengan mudah tanpa harus mendapatkan masalah ini itu karena latar belakangnya. Seolah mereka ingin mengubah kehidupannya secara total. Tapi dia tidak perduli. Lagipula, dia sama sekali tidak memiliki pilihan lain selain menuruti mereka.

"Oh, akhirnya kau datang, sayang!" seru wanita itu senang. Jujur saja, Luhan merasa sedikit terganggu akan keceriaan wanita itu. Sebenarnya itu bukanlah hal yang buruk, tapi Luhan hanya sedikit merasa terganggu. Apalagi setelah melihat seberapa membosankannya wajah anak mereka. Rasanya mustahil anak itu bisa memiliki ekspresi yang begitu datar sedangkan ibunya terlihat begitu ceria seperti itu.

Wajah anak itu. Luhan bahkan tidak bisa menyangkal kalau mereka memang mirip. Mereka sama-sama terlihat mirip dengan ayah. Dan hal itu membuat Luhan sekali lagi sadar bahwa semua ini nyata. Bahwa drama hidupnya ini adalah sebuah kenyataan. Dia benar-benar memiliki seorang adik kandung.

"Dimana Minseok?" tanya sang ayah pada anak itu.

"Minseok Hyung mungkin langsung ke kamarku. Tapi dia bilang dia akan segera kemari." Tsk, bahkan suaranya pun terdengar datar. "Appa, apa Minseok Hyung dan aku boleh menginap di rumah kolam malam ini?"

Sang ayah tertawa pelan seraya mengacak-acak pelan rambut anaknya. Dan entah bagaimana, pemandangan itu sedikit membuat hati kecilnya terluka. "Tentu saja boleh. Atau kau bisa bertanya dulu pada ibumu."

Anak itu beralih pada ibunya. "Bolehkah Minseok Hyung menginap malam ini, Eomma?"

"Tentu saja, sayang." jawab wanita itu pelan. "Ah, kalau begitu mengapa tidak mengajak Ryung untuk ikut nanti malam?"

Sang ayah menoleh padanya. "Kau mau ikut?" tanyanya dalam bahasa Mandarin.

Luhan hanya mengedikkan bahunya. "Tidak masalah."

"Baiklah kalau begitu. Kami akan meninggalkan kalian berdua di sini. Jadi bersikap yang baik dan jangan bertengkar. Mengerti?" Wanita itu menyenggol ayah mereka, dan keduanya pun berlalu.

Setelah itu, bocah berkulit putih pucat itu menatapnya cukup lama. "Namaku S-Sehun." ucapnya sedikit tergagap.

Luhan nyaris tersenyum mendengar aksen pelatnya. "Aku Luhan. Senang bertemu denganmu!" jawabnya dengan senyum tipis.

Sehun megerjap, tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. ".. aku juga senang bertemu denganmu."

Mereka sama-sama terdiam. Luhan terus memandangan lantai marmer di bawah sana, sedangkan Sehun lebih memilih untuk menikmati susu vanila di tangannya. Lalu Luhan sedikit mengangkat kepalanya, mencoba untuk melirik wajah sang adik. Seharusnya Luhan membencinya. Tapi jika dipikir lagi, mungkin dirinyalah yang seharusnya dibenci. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang menginginkan orang asing tiba-tiba massuk ke dalam kehidupan mereka. Sehun pasti merassa tidak nyaman karena harus tinggal dengan seseorang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dan yang lebih parah lagi, mereka menyuruhnya untuk memperlakukan anak baru itu layaknya seorang kakak. Hal itu jelas bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Akhirnya, Luhan berdehem pelan. "Maaf," ujarnya.

Sehun mengerjap seraya menelan susunya. "Untuk apa meminta maaf?"

"Karena tiba-tiba datang ke rumahmu," gumam Luhan. "Karena tiba-tiba menjadi saudara kandungmu."

Awalnya Sehun terlihat sedikit terkejut, namun kemudian dia tertawa pelan. Luhan memperhatikan bagaimana ekspresi datar itu berubah. Mata yang sebelumnya terlihat mebosankan itu membentuk sepasang bulan sabit saat dia tersenyum. "Aku rasa itu sama sekali tidak masalah," ujarnya santai seraya memainkan cangkir bermotif Pororo di tangannya.

Luhan mengerjapkan matanya tak percaya. "Benarkah?"

"Tentu saja!" Sehun mengedikkan bahu. "Lagi pula kau tidak pernah merencanakan hal ini sebelumnya seperti di film-film mafia itu kan?"

Lalu keduanya tertawa karena pernyataan itu. Luhan tersenyum lebar. "Kau sangat pintar. Pantas saja saat itu Baba bilang kalau aku sangat beruntung karena memilikimu sebagai saudara kandungku."

Sehun menatapnya bingung. "Tapi Appa juga berkata padaku kalau kau benar-benar pintar dan baik. Dia juga berkata kalau aku akan mempunyai seorang kakak yang hebat."

Luhan terdiam. Dia tahu kalau dia salah karena mengira bahwa ayahnya tidak pernah menyayanginya seperti yang ia inginkan. Tapi dia tidak pernah menyangka ayahnya akan mengatakan hal seperti itu tentangnya. Mungkin itu karena singkatnya waktu yang mereka punya, atau karena kasih sayang yang tak pernah cukup untuknya, atau mungkin karena ayahnya tidak pernah benar-benar ada di sana untuk mengajarinya hal-hal yang seharusnya diajarkan oleh seorang ayah. Tapi Luhan mengerti. Ayahnya juga tidak memiliki pilihan lain.

"Kalau begitu, mulai sekarang kita saudara?" Luhan mengulurkan tangannya.

Sehun menatap uluran tangan Luhan. Lalu tanpa ragu, dia menyambut uluran tangan itu. "Mulai saat ini," gumamnya. "Dan, errmm, Eomma bilang mereka memberikan Oh Ryung sebagai nama Korea-mu."

Luhan mengangguk pelan. "Apa kau akan memanggilku dengan nama itu?"

Seraya menggigit bibirnya, Sehun memikirkan pertanyaan Luhan sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak. Namamu sudah sangat bagus, jadi mengapa aku harus memanggilmu dengan nama yang lain?"

"Ermm, terima kasih kalau begitu." Luhan tersenyum lebar. Berpura-pura kalau dia tidak melihat ayah dan ibu barunya yang tengah tersenyum lebar tak jauh dari tempat mereka berdiri. Lalu Sehun mengatakan sesuatu tentang sepupunya, dan Luhan setuju untuk bertemu dengannya setelah Sehun berkata kalau anak itu seumuran dengannya. Hal itu mengingatkannya pada Yifan. Mungkin, anak baru itu juga bisa menjadi sahabatnya kelah.

Mungkin, pindah ke rumah yang sangat megah ini tidaklah seburuk yang ia duga.


Kau mengajarkan kami kalau membenci orang lain itu adalah salah

Tapi banyak orang yang melakukan hal itu

Kau mengajarkan kami untuk mencintai semua orang termasuk musuh kami

Tapi meskipun begitu, aku justru mencoba untuk membenci seseorang yang ingin dekat denganku

Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku melakukan ini

Aku tahu, jauh di dalam lubuh hatiku, kalau ini semua bukanlah salahnya

Tapi hatiku merasa lelah dengan kenyataan ini

Dan dia mencoba mencari sesuatu untuk disalahkan

Aku ingin membenci semua orang, semuanya

Namun bahkan ibu tiriku memperlakukanku seperti anaknya sendiri

Dan adik kandungku menganggapku seperti seorang kakak yang sempurna yang selalu diimpikannya

Tuhan, apakah kau akan memaafkanku karena menjadi makhluk yang seperti ini?

.

"Ryung, apa yang sedang kau lakukan?" Mendengar nama Koreanya dipanggil, Luhan menoleh dan mendapati Minseok yang sudah duduk di sampingnya dan ikut menatap langit. Pemandangan dari balkon kamarnya memang yang terbaik.

Luhan menghela nafas. "Hanya ingin menjernihkan pikiranku."

Minseok mengangguk paham dan ikut menghela nafas. Setelah beberapa menit, akhirnya ia kembali berbicara. "Sehun menceritakannya padaku."

"Tentang apa?"

"Tentang kau yang tidak ingin dia memanggilmu 'gege'." ujar Minseok santai. Lalu ia menoleh pada Luhan. "Aku tidak bermaksud untuk terlalu mencampuri urusan kalian. Hanya saja, aku.. mengkhawatirkan Sehun."

Luhan menatap Minseok sekilas, kemudian beralih untuk menatap ke bawah. "Masalahnya ada pada diriku sendiri. Maaf."

"Tidak, tidak. Jangan meminta maaf, Ryung. Sehun tidak mengatakan kalau kau bersikap buruk padanya. Dia hanya merasa sedikit kecewa saat kau berkata kalau dia tidak boleh memanggilmu 'gege'. Tapi dia biasanya tidak begitu. Sehun bukan seseorang yang akan mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti itu. Dia bilang 'gege' dan 'hyung' memiliki arti yang sama, tapi ada sesuatu yang membuatmu melarangnya untuk memanggilmu 'gege'." ujar Minseok panjang lebar. "Ya Tuhan! Aku terlalu banyak bicara, ya?"

Luhan menelan ludah. Dia tahu kalau dia telah membuat Sehun kecewa. Akan tetapi dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk melakukan hal itu. Dia bisa melihat dengan jelas kalau Sehun selalu melakukan apapun agar diterima olehnya. Tapi dia belum bisa membiarkan Sehun masuk sepenuhnya ke dalam kehidupannya. Bagaimanapun juga, Luhan telah membangun sebuah dinding tak kasat mata yang memisahkan dirinya dari siapapun. Jadi dia tidak akan terlalu dekat dengan mereka, karena rasanya sangat sakit saat nanti mereka meninggalkannya sendirian.

"Maafkan aku," gumam Luhan pelan.

Minseok menatap Luhan lekat-lekat. "Apa kau mau menceritakannya padaku? Kau tahu kalau aku tidak akan mengkritikmu, kan? Kau bisa bercerita apa saja padaku, okay? Aku akan mendengarkan semuanya sampai nanti kau bisa membuka hatimu sepenuhnya pada Sehun."

Luhan membalas tatapan Minseok. Mencoba menemukan kebohongan dalam matanya, tapi yang ia lihat hanyalah kekhawatiran dan keprihatinan. Dia kembali menelan ludah. "Apa kau akan mengatakan padanya jika aku bercerita padamu?"

Minseok mengedikkan bahu. "Ryung, jika kau memintaku untuk tidak mengatakannya, maka aku pasti akan merahasiakan hal itu sampai aku mati." Dia terkekeh pelan karena statemennya barusan. "Sebenarnya aku pikir Sehun berhak untuk tahu, tapi bukan dariku. Kaulah yang harus mengatakannya secara langsung. Tapi tentu saja, jika kau belum siap, kau tidak perlu mengatakannya sekarang."

Akhirnya Luhan mengangguk. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku tidak tahu mengapa aku bersikap seperti ini. Hanya saja.. jika dia memanggilku 'gege'—"

Minseok menunggu dengan sabar apa yang akan Luhan katakan selanjutnya. Namun saat dia melihat ke arah Luhan, pemuda itu terlihat tengah berusaha keras untuk menahan air matanya.

"—jika dia memanggilku begitu, aku jadi teringat pada Zitao, dan hal itu akan mengingatkanku pada ibuku. Dan jika aku mengingat mereka, aku pasti akan menangis lagi. Aku akan mulai menangis tanpa bisa berhenti. Dan aku sudah lelah untuk terus manangis seperti itu."

"Zitao?" tanya Minseok pelan.

"Dia adalah adik sepupuku." ujar Luhan di tengah isakannya. "Orang tua Zitao meninggal saat ia berusia tiga tahun, dan ibuku mengadopsinya setelah itu. Dia selalu menempel padaku, dan aku rasa akulah yang membuatnya seperti itu. Dia—"

"Meninggal dalam kecelakan itu?" sambung Minseok.

Luhan kembali menelan ludah dan mengangguk lemah.

"Ya Tuhan! Aku... Maafkan aku, Ryung. Aku membuatmu harus mengingat hal itu lagi," ujarnya dengan tatapan penuh penyesalan. "Seharusnya aku tidak bertanya tentang masalah pribadi seperti ini. Aku janji, aku tidak akan pernah mengatakan hal ini pada Sehun. Karena aku rasa, bahkan aku tidak seharusnya mengetahui kenyataan ini sebelum Sehun. Jadi kau tenang saja. Rahasiamu aman di tanganku."

Luhan tertawa pelan melihat ekspresi panik sepupunya itu. "Tidak apa-apa, Minseok. Aku percaya padamu," ucapnya dengan seulas senyum. "Jadi, kita main bola lagi sore ini?"

Dan Minseok pun tersenyum lebar. "Tentu saja!"


Semakin aku berpikir kalau kemarahan di dalam hatiku ini adalah untuknya

Semakin aku menyadari bahwa kemarahan itu tak lain adalah untuk diriku sendiri

Aku merasa kasihan pada diriku sendiri karena mencoba untuk membenci kehidupanku

Dan lebih dari itu, aku merasa kasihan pada kehidupanku

Aku memiliki segalanya, tapi aku masih saja mengutuknya

Aku hanya memikirkan rasa sakitku, hanya memikirkan kesulitan yang aku rasakan

Tentu saja dia juga merasa sakit dan terluka

Dia jauh lebih muda dariku, tapi dia berusaha untuk menerima kehadiranku

Aku sangat malu

Aku bahkan tidak tahu mengapa aku tidak bisa menerima takdir yang telah Kau berikan padaku ini

.

"Apa kau membenciku, Luhan Hyung?"

Luhan hampir saja menjatuhkan apel di tangannya. Dia tidak pernah menyangka kalau Sehun akan menanyakan hal seperti itu padanya. Bocah berusia sembilan tahun itu sedang mencoba untuk mengacaukan pikirannya. "Tentu saja tidak, Sehun. Mengapa aku harus membencimu? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" gumamnya.

Sehun terlihat ragu-ragu. Mungkin dia merasa menyesal telah menanyakan hal itu. Dia bermain-main dengan ujung sepatunya dan menggigit bibirnya. "Jangan tertawa," ujarnya pelan. "Tapi aku bisa tahu kalau ada seseorang yang menjauh dariku."

Lalu ia menatap ke arah Luhan. "Dan kau adalah salah satu dari mereka."

Luhan mengerjap kaget. "Wow! Tenanglah, Sehun. Kau bahkan masih berusia sembilan tahun. Jangan berbicara layaknya orang dewasa seperti itu." ujarnya. Lalu ia bercanda dengan mengurut pelan dada kirinya. "Kau membuatku tersinggung."

"Jadi katakan padaku mengapa kau berusaha untuk menjauh dariku, Hyung?" Sehun mengabaikan candaan Luhan. "Apa kau membenciku? Apa kau tidak ingin mempunyai seorang adik sepertiku?"

Jleb. Aku ingin membencimu, teriak Luhan dalam hati, tapi bahkan neraka sekalipun tidak akan membiarkanku melakukan hal itu.

"Sehun! Kau mulai berbicara omong kosong." tukas Luhan singkat seraya meluruskan tubuhnya. "Aku baik-baik saja denganmu. Jadi jangan berbicara seperti itu lagi. Kau menyakiti hatiku."

Sehun kembali menatap Luhan lekat. "Kalau begitu berhentilah bersikap dingin padaku, Hyung."

"Tapi aku tidak bersikap dingin padamu, Sehun." dengus Luhan.

"Tidak, Hyung! Kau memang bersikap dingin." Sehun bersikeras. "Dan aku tidak akan bertanya lagi tentang alasannya." Karena mungkin aku akan terluka jika mendengar jawabanmu, bisik Sehun dalam hati. "Tapi aku mohon, berhentilah bersikap seperti itu padaku. Seorang saudara tidak bersikap dingin pada saudaranya, Hyung. Walaupun... kita memiliki ibu yang berbeda."

Luhan menutup matanya. Bahkan seorang bocah berusia sembilan tahun bisa mengerti tentang hidupnya dan bisa menerima itu dengan sepenuh hati lebih dari dirinya. Luhan tahu, seharusnya dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dan dia tahu kalau Sehun benar. Dia tidak bisa selamanya bersikap seperti ini pada Sehun. Dia terlalu egois dengan berpikir kalau dirinya adalah satu-satunya yang terluka. Mungkin ibu tirinya juga merasa terluka, karena dia harus merawat dan membesarkan anak yang dimiliki oleh suaminya dengan wanita lain. Dan Sehun juga pasti terluka, karena dia harus menerimanya tanpa diberi pilihan lain. Jika itu adalah dirinya, dia pasti tidak akan bisa melakukannya dengan mudah. Dan dia sangat mengagumi Sehun karena hal itu.

Merasa kalau percakapan ini hanya akan menyakiti mereka berdua jika terus dilanjutkan, Luhan segera berdiri dari duduknya. "...Kau tahu? Sebaiknya kita membeli bubble tea saja. Kau mau ikut?" tawarnya.

Sehun, menerima sinyal itu, berusaha untuk tersenyum mengejek. "Tch! Sekarang kau menyukai minuman itu! Tarik kembali kata-katamu yang dulu!" tukasnya seraya menuding sang kakak.

"Apa? Memangnya aku bilang apa?" Luhan balas mengejek, satu tangannya terulur pada Sehun. Dia tersenyum. Dan itu benar-benar terlihat seperti gambaran seorang kakak yang sempurna yang selalu Sehun bayangkan selama ini. "Ayo kita pergi, sebelum hari semakin gelap."

Tanpa ragu, Sehun menerima uluran tangan Luhan dan membiarkan dirinya dibawa kemana pun sang kakak melangkah. Dalam hati, dia berharap kalau ini berarti Luhan telah mengijinkannya untuk melangkah masuk ke dalam perlindungan yang ia bangun, menghancurkan dinding tak kasat mata yang berdiri kokoh di antara mereka.

Malam itu, Luhan mengirimkan sebuah surat untuk Yifan dan bercerita tentang bagaimana seorang bocah berusia sembilan tahun telah membuka hati dan juga pikirannya.


Aku tidak tahu mengapa saat itu aku masih tidak bisa membiarkannya masuk ke dalam hidupku

Aku tidak ingin membencinya

Tapi semua hal yang dilakukannya mengingatkanku pada takdir tak menyedihkan yang Kau berikan padaku

Aku yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk merasakan bagaiman cara ayah memanjakannya

Aku yang tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan

Aku yang tidak akan pernah bisa lagi dipeluk oleh ibu kandungku

Aku yang tidak akan pernah bisa lagi memanjakan Zitao

Aku yang tidak akan pernah lagi mendengarnya memanggilku 'gege' setiap kali aku pulang ke rumah

Aku tidak bisa membiarkannya mamanggilku 'gege'

Karena panggilan itu hanya milik Zitao

Jika dia memanggilku seperti itu, aku hanya akan mengingat mereka

Dan aku akan menangis lagi sampai tidak ada air mata yang tersisa

Dan mungkin memohon padaMu untuk mengambilku

.

"Kau sedang apa, Luhan Hyung?"

Luhan menatap Sehun yang telah duduk di sampingnya. Mereka duduk di atas karpet empuk di kamarnya. Menatap sebuah foto lama di tangannya.

"Dia adalah Zitao," gumam Luhan seraya mengusap pelan permukaan foto tersebut. "Sepupuku saat di Beijing. Orang yang paling aku sayangi," ia menghela nafas berat. "Dia meninggal bersama dengan ibuku dalam kecelakaan itu."

Sehun ikut memperhatikan foto itu dan mulai berpikir. "Dan dia memanggilmu 'gege'?"

Menyadari kemana percakapan ini akan berlanjut, Luhan menoleh pada Sehun. "Begitulah."

"Jadi, karena itulah kau tidak ingin aku memanggilmu gege?" Sehun menegakkan posisi duduknya. "Karena tidak akan ada yang bisa menggantikan tempatnya di dalam hatimu."

Luhan mengerjap. Dia bisa melihatnya. Tatapan terluka di mata Sehun. Tatapan yang sama yang pernah dia berikan padanya beberapa tahun yang lalu, saat Luhan melarang untuk memanggilnya 'gege'.

"...bukan seperti itu, Sehun-ah." Luhan mengubah posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Sehun.

Sehun mengedikkan bahunya, meski jelas terlihat kalau hati kecilnya terluka. Dia memang selalu menyembunyikan rasa sedihnya dengan pura-pura bersikap tenang. Luhan juga selalu melakukan hal yang sama. Dan sifat mereka yang seperti itu benar-benar mirip dengan ayah mereka.

"Tidak apa-apa, Hyung. Percayalah. Aku sudah belajar untuk tidak terlalu sensitif saat berhadapan dengan sebuah masalah," ujarnya santai. "Jangan salah paham, tapi sejak kau datang lima tahun yang lalu, aku mulai menyadari kalau aku tidak boleh terlalu sensitif. Aku harus bersikap kuat agar orang-orang tidak merasa teganggu dengan kehadiranku."

Luhan terus metapa sang adik. Semuanya terlihat begitu jelas sekarang. Dia sendiri tidak bisa percaya seberapa besar kerusakan mental yang telah ia sebabkan pada adiknya itu. Dia tidak bisa membayangkan seberapa banyak luka yang telah ia berikan pada Sehun selama beberapa tahun ini dengan kelakuannya. Dan tetap saja, Sehun selalu berusaha untuk mendapatkan kepercaannya, tanpa memperdulikan semua penolakan tak langsung yang ia terima darinya.

Sehun mengernyit. "Hyung?" gumamnya. Dia baru saja akan mengatakan sesuatu saat tiba-tiba Luhan menariknya dan memeluknya erat. Dia bahkan bia merasakan bahu Luhan yang bergetar.

"Maafkan aku, Sehun-ah!" bisiknya. "Aku tidak tahu kalau aku telah sangat menyakiti hatimu saat itu. Maafkan aku. Maaf karena aku telah bersikap seperti itu padamu."

"Uhm, Hyung, aku tidak pernah marah padamu," jawab Sehun. "Dan, uhm, aku tidak bisa bernafas..?"

"Oh. Maaf maaf," Luhan terkekeh lemah seraya melepas pelukannya. "Sepertinya aku memelukmu terlalu erat."

"Tidak apa-apa." Sehun tersenyum. Dia menatap Luhan tepat pada kedua mata rusa-nya. Ada begitu banyak penyesalan yang terpancar di sana. Dan tiba-tiba saja ia menyesal telah mengucapkan semua itu pada Luhan. Seolah-olah dia mengatakan kalau Luhan telah berbuat jahat padanya. Padahal, meski tetap ada dinding pemidah di antara mereka, selama ini Luhan selalu bersikap sangat baik padanya.

"Tapi Hyung, butuh lima tahun untukmu mengatakan semua ini padaku, hmm?" Sehun tertawa.

Luhan tersenyum lemah. "...maaf."

"Berhentilah meminta maaf, Hyung." Sehun memukul pelan paha Luhan. "Dan kau tahu? Gara-gara percakapan ini, aku jadi lupa alasan aku datang ke kamarmu tadi."

Luhan mengernyit. "Memanggilku untuk makan malam, mungkin?"

Dan Sehun menepuk keningnya sediri cukup keras. "Kau benar! Eomma menyuruhku untuk memanggilmu. Karena makan malam sudah siap."

.


To be Continued


.

RnR yaaaaaaaaaaa!
^_^

T/N:

Annyeooooooong ^_^

Chap ini g menguras air mata kok yaaaa
Masih seneng-seneng aja, sama kesian ke dedek Sehun huhuhuhuhu

Link ff aseli udah dicantumkan di atas. Yang punya akun, jangan lupa subscribe n upvote cerita aselinya yaaaaaaaaa ^^

Seperti biasa aja, Liyya ucapin banyak banyak banyaaaaaaaaaaaaaaak terimakasih buat readers yang udah mau baca dan/atau review, follow n favorite ff ini.

Semoga di chapter ini masih berkenan untuk review ya /ngarep/

Balasan Review:

Han-i: Kyaaaaaaaaa, sama-an deeeek. Kakak juga ngesub cerita ini sejak masih on going huhuhuhu. Dan suka pedekate eskaesde gt sama authornya akakakakakak
Ahhhh, coba nanti kakak baca dulu ff nya ya, n lihat sikon dulu. kalau sempet, nanti kakak trans jugak. Cos sekarang masih ngebut buat ff giveaway

Makasih udah ngereview^^

Ludeer: mwoooo? Peluk Luhan? andwaeeee, kamu peluk kakak aja, biar kakak yang peyuk Luhan *modus

Makasih udah ngereview^^

Baby Lu: Siiip, ini udah lanjut ya^^

Makasih udah ngereview^^

bambi: Emang belom sampek ke part yang mellow mendayu2 mengharu biru deeek hehehehehe

Makasih udah ngereview^^

Yang punya akun, bisa cek PM-nya yaa!

See U, next chapter!

Salam XOXO dari Liyya