Mata rusanya terus memandangi pintu putih tinggi dihadapannya. Kuku-kuku jarinya ia gigit sedari tadi demi menghilangkan perasaan cemas. Kaki putihnya tidak beralaskan apapun menjadi pelengkap penampilan Luhan malam ini. Tak henti-hentinya ia merapalkan doa untuk Sehun yang tidak sadarkan diri diruangan itu.

"Ya Tuhan, tolong selamatkan Sehun." Ucapnya berulang-ulang. Sepertinya doanya dikabulkan, seorang pria dengan setelan berwarna biru khas baju operasi keluar dari ruangan tersebut. Tanpa dikomando apapun, Luhan membawa kaki kecilnya menuju pria itu.

"Dokter bagaimana.." Melihat keadaan khawatir Luhan, si dokter itu tersenyum simpul.

"Dia baik-baik saja, kepalanya sedikit mengalami pendarahan karena benturan. Tapi kami sudah berhasil mengatasinya." Dokter itu pun berlalu.

Luhan menghembuskan nafasnya lega. Kakinya serasa lemas karena sudah 3 jam dibawa tegang menunggu di luar ruangan operasi ini. "Terimakasih, Tuhan. Maafkan aku karena sudah ceroboh tadi, hiks." Air matanya tanpa terasa turun perlahan.

Jong In is calling

Luhan meraih ponselnya dan mengangkatnya

Hey, Luhan. Maaf aku tak mendengar ada panggilan masuk tadi.

"Eo-eoh, tidak apa apa Jongin-ssi." Jawabnya masih sesegukan.

Kau menangis? Apa sesuatu terjadi?

"Se-Sehun…"

Ya, ada apa dengan beruang kutub itu.

"Sehun. Tertabrak, Jongin."

Tidak ada tanggapan dari sana. Sepertinya ia menunggu Luhan untuk melanjutkan pembicaraannya.

" Di-dia tertabrak mo-bil, hiks. Dan a-aku, hiks, Jong-in-ah.."

Tunggu aku, aku akan segera kesana

Luhan menjatuhkan ponselnya dengan lemas. Ia masih merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia tidak mendengar suara mobil datang. Seharusnya dia yang terbaring disana, bukan Sehun. Ini semua salahnya. Luhan kemudian memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya.

.

.

Mata elang nya perlahan membuka, membiasakan retinanya dengan cahaya yang ditangkap. Kepalanya mulai terasa berdenyut entah karena apa. Didapatinya seseorang yang sepertinya dia kenal sedang terlelap disebelah kanannya.

"Kau sudah sadar?" Tanya pria yang sedang duduk di sofa sebrang dengan pelan.

Sehun menjawabnya dengan anggukan ringan.

" Apa masih terasa sakit?" Jongin bangkit dari kursinya untuk menghampiri Sehun. Sehun memberi isyarat pada Jongin untuk tidak berisik mengingat ada seseorang yang terlelap disebelahnya dalam keadaan duduk telungkup itu.

Jongin yang mengerti isyarat Sehun tersenyum. "Dia menangis semalaman seperti gadis gila, aku sampai pusing mendengar tangisannya. Begitu dia melihatmu di ruang inap, malah semakin jadi tangisannya." Lirihnya sambil berbisik. Sehun mengangguk. "Bagaimana bisa terjadi seperti ini?"

Sehun membuang nafasnya pelan. "Itu sangat memalukan."

Flashback

" Ini kopinya, tuan." Seorang pelayan menyodorkan macchiato pesanan Sehun. Setelahnya, ia berlalu pergi sambil menikmati suasana malam Seoul.

Kepulan asap panas dalam gelasnya mengiringi langkahnya. Jika sudah seperti ini, biasanya Sehun akan pergi ke taman kota dan duduk hingga larut malam disana. Dalam perjalanan kesana, matanya menemukan seorang wanita yang tidak asing baginya.

"Luhan.." Gumamnya pelan. Dilihatnya Luhan berjalan ditengah kerumunan orang sambil tertunduk melewatinya begitu saja. Ah, sepertinya Luhan tidak mendengar. Sehun mengangkat bahunya acuh dan melanjutkan langkahnya. Tepat dilangkah kelima, ia berhenti.

"Perhatikan jalanmu!" Ucap seorang pria

"Ma-maaf." Sehun menoleh dan mendapati Luhan dengan gontai menabrak beberapa orang.

"Itu bukan urusanmu,Oh Sehun. Urusi urusanmu sendiri." Dengan acuh ia melangkahkan kakinya kembali dan berhenti dilangkah ketiga. "Arrrgghh! Sial!"

Sehun memutuskan untuk mengikuti Luhan dari belakang dalam diam. Luhan yang masih belum menyadari keberadaan Sehun terus melangkah tanpa arah hingga berujung pada trotoar jalan.

"Mau kemana sebenarnya dia?" Gumam Sehun yang berada tidak jauh dari Luhan berdiri. Lampu hijau untuk penyebrangan sudah menyala, beberapa orang sudah menyebrang berlawanan arah. Tetapi Luhan masih terdiam, menatap jalanan dengan tatapan kosong. Tinggal 2 detik lagi sebelum lampu penyebrangan menjadi merah, Luhan melangkahkan kakinya.

Langkahnya sangat lambat, hingga pada langkah ketiga, lampu penyebrangan sudah kembali merah. Luhan masih melanjutkan beberapa langkah gontainya. Dan bodohnya,ia malah berhenti di tengah jalan itu. sontak membuat Sehun mengerutkan dahi dalam.

Apa yang ingin dia lakukan? Batinnya

"Hey, nona! Menyingkirlah! Ada mobil!" Teriak seseorang di seberang jalan. Banyak mobil yang melintas jadi menghindari Luhan sambil membunyikan klaksonnya. Tetapi Luhan tidak menggubrisnya. Mata Sehun pun membulat

Jangan bilang..

"LUHAN!" Teriak Sehun yang masih tidak di dengar oleh Luhan.

"LU-" Sebuah mobil melaju dengan sangat kencang dari arah kiri. Sehun yang melihatnya sontak 'sedikit' panik. "XI LUHAN! AWAS!" melihat tak ada pergerakan apapun dari Luhan Sehun mengumpat dan berlari menghampiri wanita itu. ia tarik lengan wanita itu dan ia bawa kedalam pelukannya. Sehun memutar tubuh Luhan sehingga Sehunlah yang berhadapan dengan mobil itu. Dan pada saat itu juga Luhan tersadar karena sorot lampu mobil menyilaukan matanya.

"Ya Tuhan selamatkan aku." Batin Luhan sambil memegang erat coat pria yang memeluknya itu. sehun tak kalah erat memeluk Luhan dengan tangan kanan merengkuh pinggang si wanita dan tangan kiri yang memegang kepalanya.

Tabrakan itu tak dapat dihindari. Bagian depan mobil itu berhasil dengan mulus menghantam tubuh keduanya hingga mereka terlempat beberapa meter jauhnya dan berakhir dengan Sehun yang terbentur pembatas jalan.

Luhan yang baru sadar melonggarkan pelukannya dengan sedikit rasa sakit di seluruh tubuhnya. Matanya membulat sempurna melihat siapa yang menolongnya.

"Se-Sehun. Bangun." Lirihnya sambil menepuk pipi Sehun pelan. Mata Sehun yang sempat terpejam kemudian membuka perlahan.

'syukurlah kau selamat.' Batinnya. Entah kenapa Sehun merasa mengantuk, ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya.

"Tidak-tidak, SEHUN! OH SEHUN bangun!" Luhan menepuk-nepuk pipi Sehun dengan agak keras agar mata itu tetap terbuka. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu dengan sigap langsung menelepon panggilan darurat dan menghentikan mobil yang tadi menabrak Sehun dan Luhan.

'bahkan ketika seperti ini kau tetap berisik, nona Xi.'

Flashback off

"Baiklah jika kau tidak ingin cerita. Aku akan bertanya saja pada Lu- eoh,?" Ucapan Jongin terhenti saat melihat pergerakan Luhan. Ya Luhan sudah berada di samping Sehun semenjak pria itu dipindahkan ke ruang rawat. Ia tidak bergeser sedikitpun, tidak mengindahkan perintah Jongin yang menyuruhnya untuk mengobati luka di siku dan lengannya yang sedikit tergores.

"Eoh, Sehun-ssi, kau sudah sadar?! Syukurlah" Dengan segera ia berhambur ke tubuh Sehun dan memeluknya. Kedua pria yang berbeda warna kulit ini sama-sama terkejut bukan main. Tetapi, Sehun berusaha menutupi keterkejutannya.

"Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku takut terjadi apa-apa padamu. Maafkan aku atas kebodohanku semalam, harusnya aku yang berbaring disini bukan kau, aku-"

"Diam." Ucap Sehun.

"Eoh?" Baru sadar atas apa yang ia lakukan, Luhan pun dengan segera menjauhkan diri dari Sehun.

"Ma-maaf." Cicitnya pelan takut-takut melihat reaksi Sehun.

"Diamlah, kepalaku terasa sakit mendengarmu banyak bicara." Bohong Sehun. Sejujurnya ia merasa sesuatu yang hangat menjalar keseluruh tubuhnya saat Luhan memeluknya, perasaan nyaman. Jantungnya jadi menggila tak karuan. Perutnya terasa seperti diinjak oleh kupu-kupu. Terasa aneh memang, tapi menyenangkan.

"Yang mana yang sakit, perlu aku panggilkan dokter?" Tanya Luhan panik. Jongin yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menahan tawanya. Dia sangat tahu betul kalau beruang kutub temannya ini dalam mode gugup.

"Ah, panggilkan saja Luhan-ssi." Saran Jongin. Luhan pun mengangguk dan berlari keluar ruangan. Sehun menatapnya seolah Aku akan membunuhmu! Sementara yang ditatap hanya menatap balik Aku punya nyawa yang cukup jika kau membunuhku tuan Oh

.

.

" keadaan Anda sudah bagus tuan Oh. Nanti sore anda sudah diperbolehkan pulang." Jelas Dokter Kim.

"Apa dokter yakin? Apa tidak sebaiknya dia-"

"Dokter, bisa lakukan sesuatu dengan wanita ini?" Tanya Sehun dengan malas. Dokter Jang mengernyitkan alisnya bingung. "Tolong obati dia."

Dokter Kim melihat Luhan yang mendapati bekas lukanya dan mengangguk mengerti. "Ah, baiklah saya akan menyuruh perawat. Mari nona" Ajak si dokter. Tapi Luhan menggeleng.

"Tidak, terimakasih dokter. Seharusnya Sehun yang dirawat. Ini hanya luka kecil." Kelak Luhan. Memang sih agak sedikit sakit, tapi sekarang ia sudah tidak apa-apa.

"Tapi tetap harus diobati agar tidak-"

"Begini saja…" Usul Sehun

.

.

"AAUUUWWW. OOOUUCCCHH. Eomma kenapa ini sakit sekaliiii, hiks." Luhan meringis dalam. Perlahan air mata turun dari matanya

"Maaf, nona saya akan berhati-hati." Ucap seorang suster sambil tersenyum.

"Oke. OUUCCH jangan disitu! Disitu sangat perih!" tubuh Luhan berusaha menghindar tapi, tangannya sudah dipegang kuat oleh Jongin agar tidak bisa melarikan diri. Sehun yang melihat kelakuan Luhan hanya bisa menahan tawanya hingga wajahnya memerah. Jongin? Tidak usah ditanya, tawanya sudah menggelegar keseluruh ruangan ini.

"Aduh, Luhan. Kau seperti anak kecil sekali. Kau sangat lucu saat seperti itu." Ucap Jongin.

Luhan mengerucutkan bibirnya tidak suka. " Memangnya kenapa? Kau tidak tahu rasanya saat luka menganga disiram dengan AUWW!" Luhan menoleh pada perawat yang sedang mengobatinya. "Pelan-pelan suster Jung!"

Ya, Sehun mengusulkan agar Luhan diobati di ruang rawatnya. Luhan sempat tidak setuju dengan hal itu, tetapi berkat bujukan Jongin berakhirlah dia disini, duduk di sofa dengan kedua kaki yang diapit oleh kaki Jongin dan tangan yang dipegang erat oleh Jongin.

"Aku baru tahu jika kau sangat takut diobati." Kekeh Jongin.

"Sudah diam saja kau!" Luhan menggerutu sebal. Sehun yang melihat Luhan seperti itu tidak bisa menahan senyumnya. Luhan sangat lucu sekali sekarang ini.

Tunggu,

Apa? Lucu? Bisakah kau ulangi perkataanmu Oh Sehun? Sehun menggelengkan kepalanya dan beralih menatap luar jendela.

.

.

.

From : Kris

Rusa pendekku, apa kau sibuk sore ini?

Luhan mendesah pelan. Baru beberapa hari ia bisa bernafas lega, sekarang diingatkan lagi dengan sosok ini.

To: Kris

Emm, sepertinya tidak. Tanpa ada niatan dari Luhan untuk bertanya lebih lanjut. Sepertinya Kris sangat-sangat tidak sibuk hingga secepat itu ia membalas.

From : Kris

Assa! Aku akan menjemputmu sepulang kantor nanti. *tak ada penolakan

Entah Luhan harus tersenyum bahagia atau sedih. Bahagia karena seseorang yang di cintainya dulu kini kembali lagi atau sedih karena dia masih mencintai sahabatnya sendiri hingga sekarang. Luhan memutuskan untuk tidak membalas pesan itu dan kembali fokus pada pc di depannya.

Meanwhile,

Hari ini menunya adalah japchae dan samgyetang. Maaf aku hanya bisa membuat ini. Makanlah!

p.s: habiskan! Dan minum obat jangan lupa!

Sehun mendengus melihatnya tetapi tidak dengan Jongin. Pria itu meledakkan tawanya sekeras mungkin hingga seluruh jagat raya tahu bahwa ia sedang bahagia.

"Oh, Luhan sangat manis sekali. Aku jadi ingin dibuatkan juga." Ucapnya dengan nada sok manis yang dibuat-buat dan membuat Sehun jijik.

Sudah beberapa hari Luhan membuatkan Sehun makan siang. awalnya, Sehun menolak mentah-mentah pemberian Luhan hingga membentak Luhan hingga wanita itu menangis. Sehun yang merasa malu karena beberapa orang yang berpapasan dengan mereka seolah menuduh Sehun melakukan hal yang tidak-tidak pada Luhan. Akhirnya Sehun mengalah, ia menerima pemberian Luhan itu dengan syarat hanya SELAMA DIA MASIH MEMINUM OBAT. Dan tentu Sehun masih ingat betapa indahnya senyum Luhan saat itu. Oh, oke lupakan, pikiran Sehun sudah semakin rusak jika memikirkan Luhan.

"Sudah, makanlah itu. dia akan tahu jika kau tidak menghabiskannya." Kai menepuk pundak Sehun pelan.

"Ya, jika ia tidak diberitahu oleh beruang hitam yang cerewet seperti ahjumma."

Jongin pun terkekeh dan kemudian mengambil duduk disebrang Sehun sambil membuka makanan yang baru ia beli tadi. Mereka makan dalam keheningan hingga Jongin membuka suara

"Ah, bagaimana dengan projekmu dengan Luhan?" Tanya nya sambil mengunyah jajangmyeon dengan lahap.

"Mwo.." Sehun mengangguk sambil menaikkan alisnya. "Tidak serumit itu."

"Kau berarti sudah menyelesaikan aransemennya?" Tanya nya lagi. Sehun pun mengangguk.

"Benarkah? Selesai ini aku ingin mendengarnya."

.

Jongin masih dalam culture shock dan jaw drop setelah mendengar lagu hasil aransemen Sehun. Bagaimana bisa?

"Kau?! KAU GILA YA?" Tanya Jongin sarkastik. "Bagaimana bisa kau membuat aransemen seperti mengiringi pemakaman begini OH SEHUN!"

Sehun mendelik tidak terima "Apanya yang kau bilang mengiringi pemakaman? Ini sudah bagus. Setidaknya menurutku." Gumamnya pelan.

"Tidak, tidak." Jongin menggiring Sehun untuk duduk di kursi kebesarannya dan mendudukkannya disana. "Buatlah ulang. Semuanya. Pikirkan lagi hal-hal indah Sehun-ah. Aransemennya sangat kacau."

"Apakah buruk?" Tanya Sehun tidak yakin.

"Lebih buruk dari yang kau kira."

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 4. Waktunya pulang, Luhan sudah merapikan seluruh mejanya, mengambil tasnya dan turun menuju lobby kantornya. Selepas ia keluar dari pintu utama, disana sudah berdiri Kris dengan gaya casual andalannya berdiri disamping mobil dan tersenyum padanya. Luhan bingung awalnya, tetapi sedetik kemudian ia baru ingat jika pria ini akan menjemputnya.

"Kau datang lebih awal."

"Apa begitu caramu menyapaku, rusa pendek?" Tanya Kris dengan tatapan pura-pura kecewa. " Kau tidak ingin memelukku?" Kris merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menyambut Luhan.

"Ya! Hentikan, Kris! Ini memalukan!" Bisik Luhan sambil melihat sekitar takut-takut ada yang melihat.

"Tidak. Sampai kau memelukku rusa pendek!" Tolaknya. Luhan pun mengalah dan akhirnya balas memeluk Kris. "Aku hanya tidak ingin kau menungguku."

"Mwo?" Tanya Luhan yang teredam dalam dada Kris.

"Itu Jawabanku atas pertanyaanmu sebelumnya."

Masih sama, pelukan ini.

Buru-buru Luhan melepaskan pelukannya. Dan beralih masuk kedalam mobil. Kris hanya terkekeh dan mengikuti Luhan untuk duduk dibelakang kemudi.

"Kita mau kemana?" Tanya Luhan sambil memasang seatbelt.

" Jalan bersamamu dan makan malam." Jawabnya. Kemudian mobil melaju meninggalkalkan gedung perkantoran itu.

"Baekhyun juga?" Aisssh, Xi Luhan! Kontrol mulutmu itu! tentu saja bersama Baekhyun, tidak mungkin Kris tidak mengajaknya. Luhan menatap Kris dengan enggan dan ternyata Kris tersenyum.

"Jangan lupa juga dengan Chanyeol." Jawabnya.

Mereka berhenti di Gyeonggi-do. Kris mengandeng (lebih tepatnya menarik) tangan Luhan kesana kemari. Mencoba beberapa hal baru yang sudah lama tidak ia temui di sini.

"Wah, Lu! Lihat itu, tempat kesukaan kita." Luhan melongo dengan tempat yang ditunjuk oleh Kris.

"Yak, sudah berapa usia- YAK KRIS!" Belum sempat selesai perkatannya, Kris kembali menariknya kesebuah photobox yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

"Ayo, cepat kesini!" Kris menarik Luhan untuk berfoto bersama. Luhan yang masih linglung hanya mengikuti arahan Kris untuk bergaya, seperti sekarang ini, Kris menarik kedua ujung bibir Luhan untuk menampilkan sebuah senyum yang terkesan aneh menurut Luhan. "Aaaaa, kau lucu ayo mulai 1, 2, 3!"

KLIK

Kamera itu berhasil membidik gambar Luhan yang menampilkan deretan giginya lengkap dengan mata yang melebar dan Kris yang berada dibelakangnya tertawa bahagia.

"Eoh, tinggal satu kali lagi." Gumam Luhan tanpa sadar.

"Kita harus berpose apa ya? Hmmm, menurutmu bagaimana Lu?" Kris sudah kehabisan ide untuk bergaya di depan kamera.

"Eumm.." Luhan terlihat berpikir sebentar. "Bagaimana jika kita hanya tersenyum. Maksudku, tersenyum formal."

"Itu terlihat…" Kris memutar-mutar bola matanya. "Okey, baiklah. Ayo lakukan. Jja," Kris menekan sebuah tombol yang terdapat disana. Luhan sudah bersiap dengan berdiri tegap. Merapikan sedikit kemeja dan rambutnya. Kemudian tersenyum dengan sangat manis. Begitupula dengan Kris, ia memasang senyum terbaiknya untuk foto terakhir ini. Mesin itu mulai menghitung mundur dari tiga.

Tiga..

Dua..

Satu..

KLIK

"YAK! Apa yang kau lakukan eoh?!" Seru Luhan tak terima.

"Aigoo, kau lucu sekali saat marah, rusa pendekku. Ayo kita lihat hasilnya!"

Foto itu berhasil dicetak pada sebuah kertas foto. Dalam lembar tersebut berisi 8 foto dengan gaya yang berbeda. Luhan memberengut sebal melihat hasil jadinya.

"Isssh, kenapa aku jelek sekali disini." Gerutu Luhan sebal.

"Aigoo, rusa pendekku ini masih saja sebal." Kris mengusak surai coklat Luhan. "Kau seperti tidak pernah kucium -AKH!"

"Rasakan itu!" Luhan merasa cukup puas menginjak kaki Kris dengan heels nya. Bagaimana tidak, di foto terakhir tadi, Kris mencium pipi kanannya secara tiba-tiba. Bisa kalian bayangkan bagaimana ekspresi Luhan saat kamera berhasil membidik wajahnya.

"Lagi kau seperti tidak pernah kucium saja Lu!"

"DIAM! Sudah jangan dibahas!" Luhan berlalu meninggalkan Kris yang tertawa geli melihat tingkahnya yang terkesan imut itu.

.

.

Makan malam mereka berlangsung seperti biasa. Kris yang asik mengobrol dengan Baekhyun, yang kadang ditimpali oleh Chanyeol sesekali sambil tertawa. Luhan? Dia hanya ingin menikmati makan malamnya dan cepat pulang. Berada di posisi ini saja sudah merasa salah baginya. Dia seperti seorang pemeran yang kebetulan lewat dalam drama percintaan segitiga ini.

Sesekali Kris mengajak Luhan untuk mengobrol, tak jarang untuk menggodanya. Tetapi, Luhan hanya membalasnya dengan tatapan tajam atau tidak mengindahkannya sama sekali.

"Lu? Hey, Luhan?" Kris mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Luhan yang sedari tadi diam.

"Eo? Wa-wae?" Tanyanya dengan gugup.

"Kita sudah sampai." Jelas Kris sambil tersenyum.

Luhan melihat sekelilingnya dan baru sadar jika ia sudah berada di depan rumahnya. Ia pun segera turun dari mobil disusul oleh Kris.

"Ah, iya. Terimakasih untuk hari ini Kris. Sampai jumpa lagi, hati-hati." Ujar Luhan dengan senyum. Luhan hendak berbalik sebelum suara Kris menghentikan langkahnya.

"Kau tidak membutuhkan pelukan perpisahan?" Tanya Kris dengan tangan yang sudah direntangkan lebar-lebar. Luhan hanya tersenyum melihat tingkah Kris ini. Memang dari dulu mereka sering sekali berpelukan. Sekarang, terasa aneh dan menyesakkan bagi Luhan untuk berada di pelukan Kris.

"Memangnya kita telettubies?" Tanya Luhan berpura-pura mengejek.

Kris memajukan bibirnya "Oh, ayolah Xi Luhan. Kita sudah sering melakukan ini. Tanganku sudah pegal." Keluhnya. Luhan pun akhirnya tersenyum dan berhambur kedalam pelukan Kris.

"Ini sangat kekanakan tahu." Cicit Luhan.

Kris menggoyang-goyangkan badan Luhan yang berada dalam dekapannya. "Aku gak peduli tuh!"

" Lu…"

"hmmm."

"Luhan.."

"Iya, Naga"

"Hmmm. Maafkan aku."

"Untuk?" Tanya Luhan heran

"Ya maaf saja. Hehe" Canda Kris.

"Ck, menyebalkan." Luhan memukul dada Kris pelan.

"Lu,?"

"Apa lagi?" Tanya Luhan sewot.

"Kau tahu kan aku menyayangimu?" Kris kemudian melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Luhan

"Tentu, semua orang juga tahu kau menyayangiku, naga." Rasa sayangmu sebagai sahabat terbaikku, aku benar kan?

"Geurae, kau benar." Kris mengusak kepala Luhan kemudian memberi kecupan singkat di dahi wanita itu. "Masuklah, ini sudah malam."

"Eum. Kau berhati-hati menyetirnya ya? Aku masuk duluan." Luhan pun berangsur meninggalkan Kris yang masih melihatnya untuk memastikan Luhan masuk kedalam rumah.

Setidaknya biarkan dulu seperti ini. aku sudah merasa bahagia yang teramat sangat dengan kehadirannya tanpa ia sadari. Aku akan pergi jika rasanya itu sudah cukup.

.

.

.

"Oke miss Byun, kita sudah sampai." Ucap Chanyeol yang menyadarkan lamunan Baekhyun.

"Chan.." Lirih Baekhyun.

"Hmm?" Chanyeol memutar tubuhnya untuk menghadap Baekhyun

"Apa tidak apa-apa kita merahasiakan ini dari mereka?" Tanya Baekhyun khawatir.

"Kemari, Bee." Chanyeol meraih Baekhyun kedalam pelukannya. "Kita sudah pernah membahas ini bukan?" Tanyanya sambil mengusap pelan punggung Baekhyun.

"Aku… Aku tidak bisa melanjutkannya. Rasanya terlalu menyakitkan."

"Bee, dengar." Chanyeol menarik nafas dalam. " Slow but sure, kita akan memberi tahu mereka."

" Aku, hiks. Aku tidak bisa menyakiti perasaan sahabatku lebih dari ini, Chan." Baekhyun mengusak air matanya yang menetes.

"Kau tidak menyakiti siapapun sayang." Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun. " Dia hanya belum yakin dengan perasaannya sendiri. tunggu sebentar lagi hingga ia sadar dimana hatinya ia titipkan. Sssst, sudah jangan menangis lagi, kau terlihat jelek. Hmm?"

"Isssh, Park dobi!"

.

.

"Kau tidak pulang?" Tanya Jongin heran pada Sehun yang sudah berjam-jam berada di rumahnya.

"Kau mengusirku?" Tanya Sehun balik.

Jongin mengangguk berkali-kali. "Yap."

Sehun mendecih. Ia menyenderkan kepalanya di bantalan sofa. " Mengapa begitu rumit?"

Jongin menghampiri Sehun dan memberinya segelas jus jeruk. "Apanya?"

"Lagu itu."

"Cih, tak biasanya kau menggunakan kata 'rumit' dalam sesuatu." Kekeh Jongin.

"Aku juga gak tahu." Sehun mengedikkan bahunya. "Apa memang jatuh cinta itu rumit?" Tanyanya pada Jongin yang seolah Sehun menanyakan itu pada dirinya sendiri.

"Tidak." Dengan cepat Jongin menyanggah. " Tapi tergantung dari sudut mana kau memandangnya." Sehun memandang Jongin tidak mengerti.

" Cinta itu indah ketika kau merasakan sesuatu menggelitik perutmu dan membuat jantungmu bekerja lebih cepat dari biasanya. Cinta itu akan membuatmu merasakan sakit ketika kau berusaha melepasnya pergi. Banyak cinta yang membutuhkan pengorbanan, banyak juga yang merelakan cintanya demi membuat orang yang dicintai bahagia meski dirinya merasakan seperti ditusuk jutaan belati tepat di jantungnya." Jelas Kai dengan jelas

"Kau sangat berpengalaman sekali dengan itu." Tuding Sehun

Jongin mengedikkan bahunya " Ya, menemui sekian banyak orang dalam kesempatan yang berbeda." Kai kemudian merangkulkan lengannya disekitar bahu Sehun. " You must feel it man, at least once in your life"

Sehun menghempaskan tangan Jongin begitu saja. "Ya,ya, ya terserah padamu." Ia pun bangkit dan menyambar jaketnya. "Aku pulang."

"Ck, selalu menghindar. Memangnya apa yang salah sih?" Gerutu Jongin heran.

Sehun tertawa sendiri mengingat perkataan Jongin. Cinta? Ck, Seorang Oh Sehun haruskah merasakan cinta? Lagi? Baginya sekarang, cinta adalah ayahnya. Tidak ada yang lain.

Sehun mengambil ponselnya di saku jaket. Kemudian jari kokohnya mengetik sesuatu dengan lincah. Senyum tipis terukir di bibirnya. Dengan menekan tombol send, pesan tersebut sudah dikirim.

"Jja, dengan begitu aku tak akan pusing."

.

.

Pagi yang cerah di Seoul tidak berlaku bagi kedua orang yang sedang bersitegang sekarang ini. sepasang mata rusa sedang menatap pada sepasang mata elang syarat tak suka. Si mata elang hanya menatap mata rusa itu datar tanpa ingin mengomentari lebih. Tidak, tidak, si mata elang tidak takut dengan tatapan si mata rusa, malah itu justru… Hmmm, menggemaskan? Ah tidak, tidak. Buang semua pikiran aneh di otakmu Oh Sehun.

"Apa maksudnya itu?" Tanya Luhan duluan.

"Apanya yang apa?" Nada Sehun sudah kelewat dari santai.

" Besok, di studioku, jam 10. Aku ingin melihat sebagus apa dirimu dalam mengaransemen lagu?" Luhan berdecak sebal. "Kau mengujiku?!"

Sehun mengangguk tanda setuju. "Tentu, aku harus tahu kualitas music director sepertimu." Tunjuknya tepat di depan hidung Luhan.

" Dengan senang hati." Jawab Luhan percaya diri. "Kau ingin aku mengaransemen apa?" Luhan menyilangkan kakinya dan mengambil tumblr kesayangannya yang berisi air dingin untuk mendinginkan otaknya.

"Lirik yang kau ciptakan."

BYUR

Minuman itu tidak sampai ke tenggorokan Luhan, melainkan menyembur kesegala arah, termasuk ke pakaian yang sedang Sehun kenakan sekarang.

"YAK! KAU INI BOCAH HAH? " Bentak Sehun sambil mengelap bajunya yang basah. Bersamaan dengan itu, Luhan bangkit dari kursinya

"AKU BUKAN BOCAH. DAN KAU? KAU SUDAH GILA? KENAPA TIDAK KAU SAJA YANG MENGARANSEMENNYA!" Luhan sudah meledak-ledak. Sedangkan Sehun masih dalam mode santainya.

" Bukankah sudah kubilang bahwa aku hanya ingin mengujimu. Kenapa kau jadi marah?"

" pokoknya tidak."

"Kau harus."

"Tidak."

"Kau iya."

"Aku tidak."

"Kau iya."

"Tidak tidak tidak."

"Iya."

"Tidaaaaaakkkkk!" Luhan berteriak kesal. Sehun yang mendengar teriakan itu spontan menutup kupiingnya. Teriakan Luhan itu lumayan nyaring untuk wanita bertubuh kecil sepertinya.

"Aku tidak mau tahu." Sehun bangkit dari kursinya untuk berhadapan dengan Luhan. " Suka tidak suka, mau tidak mau, kau harus mengerjakannya."

Luhan menarik nafas berat dan memejamkan matanya. "Keluar."

"mwo?"

"Aku bilang keluar, tuan Oh yang menyebalkan."

" Kenapa aku harus keluar dari ruanganku sendiri?" Sehun mulai menatap Luhan dingin. Tetapi nampaknya itu tidak mempan untuk Luhan.

"Aku harus mengaransemen lagu itu. dan aku butuh ketenangan. Dengan kau disini, itu sama sekali tidak membantu. Tolong keluar." Dengan terpaksa, ia menerima tantangan yang Sehun berikan. Smirk tipis muncul di bibir Sehun.

"Baiklah. Aku akan memberimu waktu sampai kapanpun yang kau mau. Tidak ada batasan. Hanya tolong buat aku bisa merasakannya." Dengan begitu Sehun melenggang keluar dari studionya sendiri dengan Luhan yang masih mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"OH SEHUN SIALAN!" Luhan menarik ulur nafasnya yang terasa berat. Sekarang dirinya ini merasa tertantang. "Kita lihat sampai sejauh mana kau akan berperilaku sok hebat seperti ini."

TBC

Hai readers! I'm going back, back, back , back, back~~~

Untuk update chap ini aja butuh waktu yang sangattt lama. Maafin yaa. Mumpung kuliah lagi libur jadi aku UP, heehehe.

Bagi chanbaek shipper. Maaf, chanbaek momentnya sedikit. Karena aku emang fokus ke hunhan. it's all about them.

Buat ff Love Like This, akan segera UP kok, stay tune ya!

Makasih buat yang udah review, follow, favorite ff gak jelas ini. hihi

Best regards,

Qwerlws