NARUTO* Kishimoto Masashi
RECTITUDE
DEal
-ii-
Terakhir kali Sasuke menghadapi Godaime Hokage yang tidak terintimidasi oleh aura keras kepala adalah saat dia memaksakan diri keluar dari rumah sakit untuk menghadiri pemakaman ketua tim ANBU-nya yang gugur dalam misi. Walau sikap 'diam' dan 'dewasa' mungkin lebih tepat bagi seorang Hokage, namun Sasuke lebih memilih reaksi Tsunade yang meledak-ledak dan spontan. Sepertinya Naruto juga menyetujuinya karena dia bergerak gelisah sejak Tsunade berkata, "Aku tak menyalahkanmu. Kau berhak lari."
Dua shinobi itu berdiri berjajar di depan meja kerja Hokage. Hanya ada mereka bertiga di kantor tersebut. Sudah lebih dari semenit sejak Tsunade mengutarakan isi hatinya yang pertama, lalu...
"Kau tahu kenapa aku menerima tawaran jadi Hokage?"
"Tidak. Apa hub—"
"Kenapa—?" Naruto menyenggol kaki Sasuke, menyuruhnya diam.
"...karena aku bersumpah untuk melindungi tanah yang ditinggalkan leluhurku."
"Hanya tanah?" Sasuke bergumam dengan nada menghina. Sekali lagi, Naruto menyuruhnya diam dengan menginjak kakinya.
"Ya, Uchiha. Hanya tanah. Kau tidak bisa menyebut lahan tak berpenghuni sebagai tanah. Kau harus menyertakan seluruh isi lahan tersebut kalau ingin menyebutnya sebagai tanah. Tentu saja yang kumaksud itu Konohagakure dan seluruh spesies yang ada di dalamnya!"
Sasuke bisa melihat Naruto mengernyit saat nada suara Tsunade meninggi, tapi dia (mencoba) tak terpengaruh. Lagipula menurutnya konsep 'tanah' milik Tsunade itu lebih bisa dikatakan sebagai pembelaan diri. Dia tak mau kalah...
"Hn. Berarti ayahku dan teman-teman di organisasi kecilnya bukan termasuk spesies yang ada di Konohagakure. Bisa kulihat itu."
"Jangan mulai membuatku merasa bersalah, Sasuke. Aku belum berkuasa saat insiden Uchiha terjadi, Sandaime hanya bertindak untuk yang terbaik. Dengar, aku tak mau Kau mengalihkan pembicaraan lagi."
Sasuke menggumamkan, "Untuk yang terbaik...? Cih!" namun Tsunade sepertinya benar-benar memutuskan untuk tak lagi terpancing provokasi.
Tsunade berkata, "Aku akan melakukan apapun untuk melindungi Konoha walaupun itu berarti harus mengorbankan diriku sendiri. Dan aku yakin, semua shinobi yang pernah berada di bawah bimbingan Sandaime, sama sepertiku, akan berpikiran sama," Tsunade menatap Naruto dan Sasuke bergantian, "Kalian shinobi dari rezim Sandaime, selain itu kalian adalah dua dari sedikit shinobi yang sangat kukenal dan bisa kupercaya..."
Naruto tampak sangat malu, "Sori, Baa-chan."
"Jangan pernah lakukan itu lagi! Untungnya aku berhasil meyakinkan Danzou untuk tidak mengurungmu. Akhir-akhir ini peranku sebagai Hokage kalah dengannya di mata para petinggi desa," dia menghela nafas berat sebelum melanjutkan, "Hari ini aku akan mengumumkan peranmu sebagai Jinchuuriki di kalangan Jounin—,"
Sasuke mengatakan argumennya dengan sedikit sentakan, "Penduduk desa menghindari Naruto, padahal belum tahu dia Jinchuuriki, dan itu terjadi hanya dari rumor... Apa Anda tahu mengenai hal ini, Hokage-sama? Menurutmu apa yang akan terjadi kalau fakta ini disebarkan di antara kalangan yang tak bisa menjaga kalimat mereka?"
Tsunade hanya menjawab singkat, "Percayalah pada teman-temanmu, Uchiha."
"Tapi tak perlu—,"
"Kulihat Naruto bisa menerima hal ini. Lalu apa masalahmu?"
Sasuke maju selangkah, tampak berang, "Dia tak akan pernah menolak! Kau sangat mengenal Naruto 'kan?"
"Ya. Sampai-sampai aku tahu apa yang terbaik bagi dirinya—"
"Tapi menurutku tidak termasuk membuatnya jadi alat perang!"
Tsunade menatap Sasuke selama beberapa saat sebelum menjawab, "Ini takdir Naruto."
Sasuke baru akan membalasnya, tapi dia teringat kalimat yang diucapkannya sendiri, "Bisakah berhenti bersikap seperti perempuan dan hadapi takdirmu?"
Naruto memecah kesunyian yang timbul dengan tertawa gelisah dan berkata, "Thanks sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan, Sasuke. Tapi Tsunade-baachan benar! Ini semua... untuk yang terbaik."
Sasuke bergumam, "Kau tak punya pilihan saat Bijuu itu disegel ke dalam tubuhmu. Kau berhak protes."
Naruto hanya tersenyum, mengabaikan kalimat Sasuke, lalu berkata ceria, "...apa ada upacara khusus pengangkatan Jinchuuriki? Kalau ada aku mau ramen di daftar menu pestanya!"
-ii-
Dia mengingatkan dirinya sendiri, kalau, saat ini sedang berada dalam misi. Tapi pikirannya kembali teralih saat melihat sosok berambut pirang melalui semak mawar; melihat wanita pirang berkimono itu malah membuatnya jadi teringat pada ninjutsu mesum dari shinobi tertentu...
"...ka, TAKA! Aku bersumpah akan mengorek telingamu begitu misi ini selesai!"
Sasuke mengumpat pelan dan membenahi letak earphone-nya asal-asalan. Berapa lama dia termenung?
"Ada masalah dengan gelombang wireless di sini. Aku tak bisa mendengar suaramu dengan jelas,"
"KALAU BEGITU NAIKLAH KE TEMPAT YANG LEBIH TINGGI!"
"Jangan teriak keras-keras. Aku bisa mendengarmu."
"Jadi Kau bisa mendengarku dengan jelas, Uchiha? Heh? Kau mau mempermainkanku—"
"Inu-kun," Sasuke bisa mendengar interupsi dari pemakai wireless lainnya, "Fokus pada misi! Selesaikan masalah kalian berdua setelah ini. Lalu Taka. Aku nggak mau menggunakan ninjutsu medis untuk menyembuhkanmu kalau-kalau Kau terluka hanya karena kurang serius."
Sasuke menjawab pelan, "Yaa, dimengerti... Taka mulai bergerak dari posisi empat-lima-satu. Inu, berikan tandamu segera."
Sasuke bisa mendengar umpatan yang diberikan Inu untuknya, yang dia artikan sebagai tanda untuk segera keluar dari tempat persembunyian.
-ii-
Hari ini kali keenam Sasuke menghadap Tsunade sejak Naruto dikeluarkan dari satuan shinobi untuk berada di bawah pengawasan ANBU dari Ne. Sejak publikasi Jinchuuriki di kalangan Jounin Konoha, Tsunade membebankan lebih banyak misi padanya. Kemungkinan besar menganggap Sasuke akan bisa mengalihkan pikiran dari kasus Jinchuuriki Kyuubi. Tapi Sasuke akan lebih menghargai keputusan itu kalau saja tidak dikaitkan dengan minimalisasi probabilitas komunikasinya dengan Naruto.
"Kerja bagus Kiba, Sakura, Sasuke. Aku mau laporan lengkap kalian sebelum besok sore. Sekarang, istirahatlah dulu."
Kiba menggumamkan keinginannya untuk mandi lalu menghambur keluar dengan segera, tapi Sakura menepuk bahu Sasuke sebelum dia sempat berputar balik.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," Sakura menambahkan dengan penegasan, "Di sini. Dengan Tsunade-shisou—ada yang ingin Saya bicarakan dengan Anda mengenai Sasuke!"
Menurut Sasuke, Tsunade sudah memberi pandangan 'Sakura, aku tak mau membicarakan masalah apapun dengan Uchiha Sasuke untuk saat ini' tapi tampaknya Sakura belum paham; entah karena Sakura terlalu keras kepala atau karena sudah terbiasa dengan amarah gurunya. Dia mengabaikan aura tegang dari Tsunade dan Sasuke, berkata, "Istirahatkan Sasuke. Saya tak tahu kapan dia akan mulai membunuh dirinya sendiri dalam misi."
"Jelaskan, Sakura."
"Ehm... istilah yang paling tepat bagi dirinya adalah... gangguan mental?"
"Hei. Kau tahu aku masih sama warasnya dengan—tunggu, aku jauh lebih waras darimu."
Sakura ber-ck meremehkan, "Semua shinobi ber-sharingan yang tak bereaksi saat diserang dengan genjutsu mematikan, menurutku, sedang mengalami gangguan mental! Selain itu pikiranmu selalu teralih. Hatimu sedang tidak berada dalam misi!"
"...diagnosa yang sangat relevan, Sakura," Sasuke membalas skeptis, namun dalam hatinya berterima kasih pada Kunoichi itu, "Ya, benar katanya. Kenapa Anda tidak mengistirahatkanku, Hokage-sama?"
"Kau tahu aku tak bisa melakukannya, Uchiha. Daftar misimu sudah kususun dan Kau hanya punya waktu bebas—," Tsunade melirik tumpukan gulungan mencurigakan di dekat lengannya, "—sebulan lagi. Ini kontrak yang sudah Kau setujui. Ingat?"
Sasuke memang selalu mengumpat pada dirinya yang dua tahun lebih muda karena tidak menolak saat diberi jabatan sebagai komandan Jounin. Hanya saja kali ini dia mengumpat lebih keras hingga Tsunade dan Sakura bisa mendengar.
"Sebulan," Tsunade menegaskan, mengernyit pada umpatan yang dipilih Sasuke, "Lebih dari cukup untuk mendinginkan kepalamu."
Sasuke tidak bisa menerima anjuran itu, walau dia mengakuinya juga.
"Sekarang istirahatlah. Besok aku akan memberimu misi lagi. Ya, Sakura, aku tak akan mengubah keputusanku, cepat pergi sebelum kusuruh Kau menggantikan Shizune di klinik panti jompo! Kakek-kakek mesum itu akan senang melihatmu."
-ii-
Di misi keduabelas yang diberikan Godaime padanya, Sasuke menyadari satu hal penting. Sepuluh dari duabelas misi tersebut menuntunnya pada satu nama; 'Akatsuki'. Dia telah menuliskan nama organisasi misterius itu di laporannya, tapi tidak mendapat respon yang berarti dari Hokage. Sasuke curiga Hokage sendiri-lah yang menuntunnya untuk mendapatkan informasi itu.
Akatsuki, dia tak begitu yakin berapa desa shinobi yang menyadari organisasi ini, adalah sekumpulan Nukenin dari beberapa desa ninja yang membentuk perserikatan kerja mirip dengan desa ninja yang mereka tinggalkan. Perbedaannya dari kumpulan shinobi formal, Akatsuki tidak terikat negara manapun. Menurutnya organisasi itu bisa dikategorikan sebagai ancaman bagi tiap desa ninja, dan hal ini harus dipikirkan dengan lebih serius— mungkin melibatkan tim ANBU pengintai dan beberapa ahli interogasi (dia sudah menuliskan komentar ini dalam laporan tapi Hokage menganggapnya sebagai angin lalu).
Sasuke merasa harus mempelajari lebih mendalam mengenai Akatsuki ini dan benar-benar mengabaikan reaksi Hokage. Dia menghabiskan waktu kosongnya untuk mendapat lebih banyak informasi, menyusun aset-aset Akatsuki yang berhasil dia lacak, dan bahkan bergelut dengan barisan Kunoichi yang masih menganggap dia memiliki hubungan khusus dengan Sakura. Lalu di sela-sela waktu istirahatnya yang sangat langka, Sasuke bertemu dengan Naruto di warung Ichiraku.
Dia merasa agak bersalah saat melihat shinobi berambut pirang itu duduk menyempil di antara Sai dan Roku dari Ne (Sasuke tahu codename 'Roku' dari Kakashi). Setidaknya salah satu dari keduanya adalah shinobi yang dikenal Naruto.
"Wah. Sasuke...? Berapa malam nggak tidur?"
Sasuke menyuruh Sai menyingkir agar dia bisa duduk di samping Naruto sebelum menjawab, "Siapa bilang aku tak bisa tidur!"
Naruto terbahak, "Mengaca-lah! Gaara bisa iri melihat lingkaran di bawah matamu..."
Gaara. Sabaku no Gaara. Kazekage.
Godaime Kazekage tahu Naruto Jinchuuriki Kyuubi dari peredaran informasi antara Temari dan kunoichi Konoha. Sakura pernah mengatakan soal itu, kalau tidak salah...
Ya, dan Tsunade bilang dia harus percaya pada teman-temannya!
Sai menyodok sikunya dengan sengaja, Sasuke mendelik kesal tapi pemuda itu hanya tersenyum.
"Kau sendiri…?"
"Ah. Setidaknya aku bisa tidur nyenyak. Nggak seperti seseorang."
"Baguslah. Aku tak sabar menunggu saat Kyuubi menguasaimu. Coba apa Kau bisa tidur nyenyak…"
"Hati-hati dengan omonganmu, Sasuke. Bahkan Uchiha paling kuat sekalipun akan tunduk pada kekuatan Bijuu."
"Bisa menyombongkan diri, tapi ketakutan saat kekuatan itu keluar...? Hn, aku kagum padamu, Uzumaki."
Walau tahu benar Sasuke memberikan nada meremehkan padanya, Naruto malah tertawa keras. Sasuke menggeleng pada asisten Teuchi yang menawarinya menu baru, lalu berkata, "Yakin?"
"Hmm?" Naruto menatap Sasuke dari atas mangkuk ramennya yang ketiga, "Yakin masalah apa?"
"Mereka," dia menunjuk Sai dengan jempol, dan Roku dengan dagu, "Sampai kapan Kau tahan begini terus?"
Naruto menghabiskan sisa ramennya dengan berisik sebelum menjawab, "Mereka dua ANBU terlatih yang nggak bakal menciumku dengan tiba-tiba," Naruto mengabaikan ekspresi Sasuke dan menunjuk Sai, "Kecuali Sai. Mungkin. Tapi kupikir dia pasti minta ijin dulu."
Sasuke menoleh dan melihat ANBU yang dimaksud seakan menilai sesuatu, Sai balas memandangnya lalu berkata keras, "Oh. Ada apa ini? Capek dengan perempuan, Sasuke-kun? Sekarang Kau mengincar pemuda?"
Naruto terbahak, "Hentikan, Sai. Dia siap membunuhmu, lihat?."
Tapi Sai mengabaikan anjuran Naruto, "Kau tak pernah cerita dia pernah menciummu? Apa itu dari bibir ke bibir atau cuma saling menempel..."
"Hmm...," Naruto memasang tampang berpikir,"...waktu itu—"
Roku memotong, "Benarkah...?"
Naruto menggeram, "Ya. Tapi Sasuke pencium payah, dia—"
"...apa kalian homo?"
Dua kepala menyahut serentak, "NGGAK!" Naruto menunjuk Sasuke dengan berang, "Aku cerita begini untuk mempermalukan Sasuke! Juga karena dia belum memberikan penjelasan apapun sejak saat itu. Memangnya aku apa? Kantong birahi?"
"Aku setuju soal itu, karena Kau... sexy,"
Naruto mengabaikan Sai, dia menatap Sasuke, "Nah? Kalau nggak salah... tadi Kau
bmenyangkal Roku soal statusmu yang bukan hom—"
"Kau juga menyangkalnya 'kan? Lagipula ciuman itu cuma reaksi spontan!"
Naruto melambaikan sumpitnya hingga tetesan ramen mendarat di hidung Sasuke, "Menurutku lebih ke reaksi homo."
Sasuke menendang tulang kering Sai saat yang bersangkutan berdehem riang, "Kau tahu kenapa aku melakukannya?"
Semua kepala menatap Sasuke, bahkan dua asisten Teuchi dan Ayame (yang wajahnya merona).
"Kenapa?"
"Karena memberi kalimat hiburan bukanlah hobiku..."
Sasuke menatap sisa kuah ramen di mangkuk Naruto selama beberapa saat sebelum ledakan tawa terdengar dari tiap sudut di kedai Ichiraku. Hanya Naruto dan Sasuke saja yang tidak ikut merasakan euforia tersebut.
"Uchiha, 'nak...," Teuchi yang sempat memasang tampang shock selama debat masalah 'ciuman' berlangsung, sekarang memasang ekspresi antara geli dan kasihan pada Sasuke, "Aku tahu kalian berteman baik, dan sudah kupikirkan mengenai hal ini sejak lama. Walau termasuk generasi tua tapi aku bukanlah orang kolot. Hubungan kalian yang seperti itu menurutku—"
"Teuchi-san. Maaf, tapi aku sedang tidak membutuhkan komentar dari generasi tua."
Sai menepuk bahu Sasuke dan memasang tampang penuh perhatian, "Sasuke. Aku turut berduka atas histeria fans-mu kalau mendengar masalah ini."
Sasuke menekan dahi dengan kedua telapak tangannya dan bergumam tajam, "Aku tahu siapa yang harus kubunuh kalau mereka tahu masalah ini," dan menambahkan dalam hati; kenapa Naruto harus menceritakannya di warung ramen?
-ii-
Menurut Uchiha Sasuke, Konohagakure no sato adalah wilayah dengan pertumbuhan gosip yang sangat pesat. Sebagai seorang dengan rasionalitas tinggi dan martabat yang bisa dipertanggungkawabkan, Sasuke jarang sekali termakan kabar negatif dari para kolega ninja-nya dan dia berharap rekan-rekannya juga memiliki pemikiran yang sama mengenai dirinya. Karena itulah, duapuluhempat jam sejak insiden warung ramen itu, Sasuke berharap semua akan selesai jika dia pura-pura tak tahu.
Tapi mungkin pemikiran seperti itu akan lebih mudah kalau dia tidak memiliki sekumpulan fans obsesif dan lawan politik di gerombolan para petinggi Jounin. Walau begitu, bagaimanapun caranya Sasuke harus tidak mau tahu.
Oleh karena itulah saat ini dia memilih untuk mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Akatsuki dan Godaime Hokage.
"Aku datang kemari untuk membahas Akatsuki, bukan konseling mengenai apakah aku homo atau tidak."
Tsunade menatap balik Sasuke dari meja kerjanya. Sasuke tak perlu sharingan hanya untuk menerjemahkan arti tatapan dan sikap tubuh wanita itu.
"Ya," Tsunade tersenyum, "Yaa... aku tahu, Uchiha. Hanya memastikan apakah isu itu benar."
"Anda tak akan bisa jadi pemimpin secara utuh kalau selalu memastikan gosip-gosip kecil, Hokage-sama."
Sasuke heran sekali karena Tsunade kembali tersenyum.
"Nah. Apa lagi yang mau Kau bahas soal Akatsuki? Kupikir laporanmu mengenai mereka sudah sangat lengkap," Tsunade menunjuk segepok buku dan gulungan di bawah mejanya, "...dan aku belum sempat membaca semuanya. Kau perlu meningkatkan ketrampilan dalam memanajemen laporan, Sasuke. Buatlah dengan lebih singkat."
"Kalau Anda sempat membaca semuanya. Pasti tak akan bilang begitu," Sasuke mendengus jengkel sebelum melanjutkan, "Sekarang kutanya, apa Anda tahu isu soal Gobi Jinchuuriki yang bergabung dengan Akatsuki? Atau jangan-jangan hanya isu soalku saja yang sampai ke ruangan Hokage?"
Tsunade memberi gerakan asal-asalan bahwa dia sudah tahu mengenai hal itu dan berkata, "Aku punya sumber terpercaya yang bisa memberi jaminan kalau Akatsuki tak akan ikut campur dalam urusan Konoha," ketika Sasuke memasang tampang curiga, Tsunade menambahkan, "Jiraiya."
Walaupun Sasuke tidak terlalu menghargai Sennin mesum itu tapi dia punya alasan khusus untuk percaya.
"Tapi kita belum tahu tujuan mereka—"
Tsunade mengangkat tangan, menyuruhnya diam. Dia mengambil gulungan tertentu dari laci meja, membukanya, melakukan segel dan meletakkan kedua tangannya di atas gulungan yang dimaksud. Sasuke bisa melihat sebuah buku muncul dari balik asap yang mengepul.
"Sasuke, aku punya permintaan," Tsunade menyuruh Sasuke mendekat untuk mengambil buku dari segel gulungan, "Pelajari ini, jangan biarkan orang lain melihat; hancurkan begitu Kau selesai mempelajarinya. Jangan tanya-tanya sekarang, bacalah dulu!"
Sasuke melirik sekilas pada sampulnya dan bergumam, "Catatan... perjalanan?"
"Milik Jiraiya," Tsunade menambahkan dengan penegasan, "Aku memberimu wewenang untuk melakukan kegiatan apapun setelah membaca catatan itu."
"Apapun?"
Tsunade mengangguk, "Apapun... kecuali, tentu saja, mengkhianati Konoha."
-ii-
"Kau menyerang dua ANBU dari Ne dan menyuruhku kabur dari Konoha. Apa itu berarti kita kawin lari?"
Sasuke mendelik pada Naruto sambil menghindari kunai yang dilempar pasukan ANBU di belakang mereka.
"Kusarankan; tutup matamu."
"Aahh, Sasuke... saat ini bukan waktu—"
"Diam dan lakukan!"
Seluruh pasukan yang mengejar mereka langsung terpuruk di tanah begitu Naruto membuka matanya lagi.
"Mereka memang menyebalkan," Naruto menatap tubuh-tubuh di hadapan mereka dengan putus asa, "...tapi kuharap Kau punya alasan yang lebih bagus dari itu, Sasuke. Kau baru saja membawa lari Jinchuuriki... tunggu, Kau baru saja menculikku!"
"Lalu?"
Naruto menuding histeris, "HEBAT! Kali ini Tsunade-baachan jadi punya alasan kuat untuk membunuhmu!"
"Dia tak akan membunuh orang yang sudah bersedia melakukan misi merepotkan untuknya. Kecuali, dia munafik."
"Apa maksudmu?"
Sasuke memberi tanda agar mereka segera pergi dari situ.
"Dia menyuruhku menggantikan peran ANBU Ne milik Danzo dan membawamu keluar dari Konoha."
Naruto nyaris terjatuh dari dahan pohon, "Ap—apaaa?"
"Kau mendengarku. Tak perlu kuulang."
Baru saja Sasuke menutup mulutnya, ada berbagai gerakan di sekitar mereka. Naruto mengerem tepat sebelum menubruk punggung Sasuke dan melihat dari balik punggungnya; Sakura, berdiri tegap dengan baju tempur lengkap. Di belakangnya ada Kakashi, Iruka, Ino, Lee, Neji, dan Shikamaru. Semua memakai seragam Jounin masing-masing. Sasuke segera mengaktifkan sharingan dan menyuruh tetap Naruto di belakang punggungnya dengan satu gerakan isyarat.
"Whoaa...," Kakashi mengangkat kedua tangannya dengan gestur menyerah, "Jangan pakai mangekyou! Aku bisa repot kalau harus membawa enam tubuh sekaligus!"
"Tsunade-shisou memberitahu tigabelas Jounin mengenai masalah ini," ada irama kekecewaan dari nada Sakura, "...dan beliau meminta kami untuk mendukung gerakan kalian."
Sasuke menghentikan sharingannya, "Kalian telat selangkah."
"Mereka bukan 'telat selangkah', Sasuke-kun. Mereka berusaha agar Danzo-sama tidak curiga," sosok Sai nimbrung dari dahan terjauh, "Wow... Kau memukul bunshinku kelewat keras. Punya dendam padaku?"
Sasuke mengabaikannya, dia masih menatap Sakura, "Kau bilang tigabelas... Siapa saja?"
"Kami semua," Sakura memandang sekitar, "Lalu Hinata, Tenten, Shino, dan Chouji."
"Hn, sampaikan saranku pada Hokage: lain kali kurangi jumlah shinobi yang harus tahu."
Tapi tak seorang pun mendengarkannya; Iruka dan Naruto sudah mulai mengobrol serius bersama Shikamaru dan Lee sementara Kakashi memberi tanda pada yang lain untuk berkumpul di sekitarnya. Menolak untuk bersikap 'tak tahu lagi apa yang harus dilakukan', Sasuke ikut berkerumun di lingkaran yang dibuat Kakashi.
"Sasuke dan Naruto tak butuh pengawalan," Kakashi mulai bicara setelah Naruto, Iruka, Lee, dan Shikamaru ikut bergabung, "Tugas kita hanya memastikan tak ada shinobi Konoha yang menghalangi mereka, dan mencegah Oinin mengumpulkan informasi," dia menunjuk Naruto, "Gunakan Henge! Sasuke, Kau juga. Lalu menginaplah di perbatasan selatan Hi. Banyak penginapan di sana. Kiba dan Hinata akan mengikuti kalian jadi jangan serang mereka."
Kakashi melihat wajah-wajah shinobi di hadapannya selama beberapa saat seakan mengharap intervensi atau saran. Tapi ternyata tidak ada. Kemudian dia menghela nafas panjang, "Sekarang saatnya perpisahan," Kakashi memandang Sasuke dan Naruto, "Dariku: kita mungkin akan bertemu sebagai musuh. Jangan menahan diri kalau terpaksa harus melawanku—"
Tapi Naruto menyelanya, "Apa maksudmu? Ada apa sebenarnya ini?"
Semua kepala, kecuali Naruto, memandang Sasuke.
"Dia belum tahu? Kupikir Kau sudah memberitahunya? Tsunade-shisou bilang Kau sudah memberitahu Naruto!"
Sasuke tidak memandang Sakura saat menjawab, "Butuh waktu lama untuk membuatnya mengerti, dan aku tak punya waktu selama itu."
"Jangan mulai lagi," Sakura menghela nafas berat sambil memijit dahinya dengan prihatin saat Naruto hendak membalas kalimat Sasuke, "Yang bisa kukatakan adalah: jaga diri kalian baik-baik. Pasti akan sulit sekali menemui kalian setelah ini... Aku agak nggak setuju dengan ide Tsunade-shisou!"
Kakashi bergumam menambahkan, "Tapi Kau tak bisa mencelanya."
Sakura mengangguk pasrah, "Ya. Benar."
Ino berdehem rendah dari samping Sakura dan berkata, "Aku nggak ngerti kenapa Sasuke yang harus menemanimu, Naruto. Tapi itu lebih baik daripada Sakura..."
Semua orang mengernyit dan menunggu kalimat lain dari Ino yang tak pernah keluar; lalu giliran Shikamaru bicara, "Yah. Perjalanan kalian akan merepotkan. Hati-hatilah."
"Jaga dia baik-baik, Uchiha..."
Sasuke berusaha untuk tidak melempar pandangan tajam pada Neji yang menatapnya dengan tampang luar biasa puas. Entah dengan maksud apa.
"Naruto. Aku—" Iruka membuka dan menutup mulutnya selama beberapa saat dan baru bersuara saat Kakashi menepuk bahunya, "Jaga dirimu baik-baik. Kau juga, Sasuke..."
Kata-kata Lee tenggelam di balik tangisannya, tak seorangpun bisa menangkap kalimat Lee. Naruto memandangi Lee salama beberapa saat sebelum berkata, "Sasuke... apa ini berarti... kita pergi dari Konoha?"
Sasuke sedikit mengendikkan kepala yang menurutnya bisa diartikan sebagai 'ya'.
"Atas perintah Tsunade-baachan?"
"Ya."
"Tapi kenapa? Aku Jinchuuriki. Keberadaanku bisa berarti untuk keseimbangan desa!"
Kali ini tak ada yang menjawabnya.
"Ada Kyuubi di dalam diriku. Kalian seharusnya mengurungku di sini. Setimpal dengan semua hal buruk yang sudah dilakukan Kyuubi pada Konoha."
Sasuke menggeram marah, "Kau sudah terima lebih dari cukup! Untuk apa mengorbankan diri untuk orang-orang yang menganggap dirimu monster?"
Tapi Sakura memotong amarah Sasuke, "Kami teman-temanmu, Naruto. Teman akan saling melindungi. Teman… tahu segalanya tentang dirimu dan masih menyukaimu," dia meraih lengan Naruto dan menepuknya pelan, "Teman tahu apa yang terbaik bagimu dan bagi komunitasnya!"
"Sakura-chan... membuatku terharu."
Sakura tersenyum dan menambahkan, "Aku akan membuatmu menangis darah kalau jadi cerewet soal masalah ini dan tak mau bekerja sama setelah semua kerepotan yang harus kami kerjakan. Tapi sebelum itu aku akan menghajar Sasuke karena belum menjelaskannya dulu padamu!"
Naruto mengangguk cepat, tampak terkejut, lalu menguasai diri dengan segera, "Jadi aku harus Henge 'kan? Gampang!" dia membentuk serangkaian segel tangan dan berubah wujud dalam kepulan asap. Begitu asap terakhir hilang, Sai bersiul pelan dan bergumam, "Kau tetap seksi dalam wujud apapun. Laki-laki maupun perempuan..."
Naruto menaruh kedua tangan di pinggulnya yang langsing dan meringis puas pada Sai. Rambutnya masih pirang, namun warna mata dan bentuk wajahnya samasekali berubah. Menurut Sasuke, Naruto tidak seharusnya meniru fashion Sai. Lalu dia ingat kalau Naruto terkenal sebagai master Oiroke no Jutsu jauh sebelum masuk timnya.
"Giliranmu, Sasuke!" Naruto berkedip genit, entah kenapa wajah Neji memerah.
Sasuke memilih wujud bapak-bapak normal dengan berewok tebal.
"Sense Henge mu payah!" Naruto berseru dengan lengkingan femininnya.
"Aku ayahmu. Jangan berkata dengan nada seperti itu pada ayahmu."
"Aku nggak mau punya orangtua kusut begitu!"
Sasuke mengangkat bahunya dan berkata pada Kakashi, "Perintahmu cukup sederhana. Tak ada tambahan lain?"
"Tak ada... tunggu sebentar!" Kakashi serta merta menggaet pinggang Sakura, membuat kunoichi itu tersipu malu, "Aku pernah dengar gosip soal Kau dan Sakura... itu sebelum gosip, ehm, hubunganmu dengan Naruto."
Mata Sasuke, yang saat ini berwarna kecoklatan, mencari-cari Sai. Kakashi tak keberatan kalau harus menggotong satu shinobi yang kena Mangekyou 'kan?
"Sori Sasuke, Sakura jadi milikku. Hmph, aku tak harus minta ijin padamu tapi hal ini kuanggap perlu. Selain itu Kau meninggalkan dia untuk Naruto 'kan?"
Sasuke berkata pelan, sangat kalem, "Sakura. Cepat jelaskan kesalahpahaman ini."
Sakura meringis, memasang ekspresi minta maaf, "Bagaimana ya... kami bisa jadian berkat itu sih... Ah, tunggu! Oke, akan kujelaskan!"
Sasuke memberi tanda pada Naruto untuk kembali mengikutinya, menghiraukan tatapan tanya dari beberapa shinobi dan penjelasan-penjelasan lirih dari Sakura pada Kakashi.
-ii-
"Kupikir... pegawai itu curiga. Dia tampak tak percaya waktu Kau bilang aku putrimu..."
Naruto berjalan cepat di belakang Sasuke, mereka sedang mencari kamar nomor enambelas yang akan menjadi kamar mereka untuk dua hari kedepan.
"Mungkin dia kira aku selingkuhanmu... hahahaaa. Wajar saja karena kita masuk selarut ini."
Sasuke, tersenyum pun tidak. Mereka tidak mengalami kendala yang berarti sepanjang perjalanan hingga penginapan ini. Hanya bertemu beberapa Jounin Konoha yang pulang dari misi, tapi mereka tak mengenal keduanya—tentu saja.
Di awal perjalanan, Sasuke berjanji pada Naruto untuk menjelaskan misi jangka panjang level Kage dan rencana jangka pendek yang akan mereka lakukan, segera setelah masuk penginapan terdekat. Dia sudah sangat mengenal Naruto hingga tidak heran saat shinobi itu mulai memiliki gairah pada hal lain, bukan pada 'misi jangka panjang level Kage' mereka.
Sasuke berbelok di sudut dan membuka kunci kamar nomor enambelas. Dia membiarkan Naruto meluncur masuk lebih dulu, memasang kekkai genjutsu di pintu, baru kemudian menguncinya.
Naruto sudah duduk di atas satu-satunya ranjang di kamar itu. Sasuke mengumpat keras.
"Kenapa?"
"Aku sudah pesan ranjang ganda!"
"Kenapa Kau begitu peduli? Kita 'kan sudah sering berbagi matras saat misi!"
"...ya, aku ingat itu. Semua gara-gara kecerobohanmu. Setelah itu aku menyuruh semuanya membawa matras cadangan," Sasuke berharap dia berhasil mengalihkan pembicaraan. Waktu itu... dia menanggap Naruto sebagai adik laki-lakinya. Sekarang dia tak begitu yakin bisa menganggapnya sebagai adik perempuan...
"Tak perlu Henge lagi 'kan?" Sasuke melepas jutsunya dan berharap Naruto melakukan hal yang sama. Sebenarnya dia juga perlu menghemat chakra. Tapi Naruto, entah berkat chakra Kyuubi atau memang dirinya punya maksud terselubung untuk menggoda Sasuke, masih mempertahankan wujudnya yang sekarang dan menguap.
"Hei, aku ngantuk."
"Tidur sana!"
Naruto memasang wajah cemberut namun tak mengatakan apa-apa lagi. Dia berbaring telentang hingga hampir memenuhi seluruh ranjang.
Sasuke mengontrol pikirannya dengan membayangkan Lee yang memakai baju Kunoichi di pesta akhir tahun lalu, dan memilih tidur di sofa yang jauh lebih sempit. Ternyata cukup berhasil.
-ii-
Sasuke terbangun karena seseorang melihat terlalu dekat pada wajahnya. Dahinya nyaris bertubrukan dengan dagu Naruto saat dia bangun dengan grogi; Naruto baru saja mandi dan dia sudah dalam wujud aslinya.
"Aku berniat membangunkanmu. Mau mandi dulu? Kau berhutang penjelasan padaku, dan sekarang hampir jam sembilan pagi," dia menambahkan saat Sasuke melihat keluar jendela yang terbuka, "...aku sudah pesan sarapan. Mereka akan mengantarnya ke sini."
-ii-
Kurang dari setengah jam kemudian, Naruto sudah duduk bersila di atas sofa yang semalam menajadi ranjang Sasuke. Sementara Sasuke duduk di kursi bundar yang berhadapan dengannya.
"Akan kumulai dengan Akatsuki."
Naruto mengangguk.
"Kau belum pernah dengar tentang mereka?"
Gelengan singkat.
"Nah. Kau akan segera tahu karena merekalah misi jangka panjang kita. Mereka mengumpulkan Nuke-nin dan membuat persekutuan kerja yang tidak terikat politik. Awalnya kuklira mereka organisasi berbahaya yang berprinsip pada teror," Sasuke berhenti sejenak, memikirkan sesuatu, "Mungkin perbuatan mereka akan menjurus pada teror. Tapi organisasi ini benar-benar menciptakan keseimbangan dunia shinobi di belakang layar."
"Sasuke. Kau jarang memuja sesuatu dan hal ini menakutkanku. Kau sepertinya suka dengan Akatsuki."
Sasuke berdecak meremehkan, "Kita. Aku. Harus memuja karena akan memanfaatkan mereka... Godaime dan Jiraiya sama-sama setuju kalau energi Bijuu menjadi topik utama akhir-akhir ini. Konoha bisa diserang dengan brutal oleh desa-desa non Jinchuuriki dalam kurun waktu... kurang dari dua tahun kalau menerima ide Danzo soal-Mu."
"Setahuku energi Bijuu dibagikan dengan adil untuk desa lain."
"Ya. Dan mereka memanfaatkan Jinchuuriki untuk mengendalikannya, sama dengan Konoha. Saat ini sudah enam Jinchuuriki yang jadi Nuke-nin dan bergabung dengan Akatsuki. Karena Akatsuki tak menunjukkan gerakan mencurigakan maka desa dengan Jinchuuriki yang tersisa akan semakin diawasi. Menurut Jiraiya, akan lebih mudah mengawasi organisasi sebesar Konoha daripada Akatsuki yang wujudnya masih simpang-siur."
"Bagaimana dengan Gaara?"
Sasuke diam lagi sebelum menjawab, "Dia Kazekage. Desanya akan baik-baik saja karena dia berada di garis depan."
"Aku tak bisa seyakin itu!" Naruto berseru geram, "Politik dan kebijakan-kebijakan konyol yang dihasilkan dari ideologi busuk! Aku bertaruh enam Jinchuuriki yang jadi Nuke-nin itu juga korban politik desa mereka! Tak ada Jinchuuriki yang diperlakukan dengan ba—" Naruto menutup mulutnya dengan segera, tampak malu. Sasuke menahan tawa.
"Kalau untuk orang lain Kau bisa jujur, Naruto? Aku heran. Seharusnya Kau mengatakan itu di depan petinggi desa!"
"Apa akan ada perubahan kalau aku mengatakan isi hatiku di depan mereka?"
Sasuke menjawab, "Selalu ada perubahan! Dengan begitu, aku bisa langsung mengajakmu jadi Nuke-nin tanpa beban Uchiha dan Jounin abdi desa."
"Kau hanya menghindari tugas, kalau begitu."
Naruto terbahak dan Sasuke memasang senyumannya yang sangat jarang itu.
"Jadi kita adalah Nuke-nin yang bergabung dengan Akatsuki untuk mengawasi mereka? Wow, baru sekali ini kudapat misi keren. Pantas saja mereka memasangmu."
"Mereka...," Sasuke menerawang, "...sebenarnya hanya tigabelas shinobi yang dikatakan Sakura kemarin, Godaime, dan Jiraiya saja yang tahu mengenai ini. Seluruh Konoha benar-benar menganggap kita sudah jadi Nuke-nin, dan aku awalnya tak setuju karena Godaime menggunakanmu. Akatsuki mungkin dengan senang hati menerima Uchiha, tapi kesetiaan Uchiha untuk Konoha bisa jadi tanda tanya bagi mereka. Dengan membawamu, mereka tak mungkin menolakku."
Naruto bergerak-gerak dari tempat duduknya selama beberapa saat. Lalu dia bergumam pelan, "Orang-orang Konoha... akan benar-benar mengira kita berdua punya hubungan khusus. Mereka bisa saja bergosip kalau Kau membawaku kabur karena sudah dipisah—"
"Bisa berhenti mengkhawatirkan hal yang tak perlu? Sekarang akan kuceritakan misi jangka pendek kita; meraih kepercayaan Akatsuki agar kita bisa masuk..."
"Sasuke, aku punya ide untuk itu. Coba bandingkan denganmu, lebih efektif mana—"
Sasuke berhenti bicara, mendengarkan.
"Kalau mereka tanya kenapa kita jadi Nuke-nin, beri jawaban sesuai gosip yang beredar di Konoha."
Sasuke mendengus keras-keras.
"Hanya karena pernah menciummu sekali, bukan berarti aku punya perasaan khusus padamu, Naruto," walau dalam hati Sasuke turut mempertimbangkan ide itu, "...dan aku masih suka melihat perempuan."
Naruto melakukan segel Henge dan kembali dalam wujud perempuannya lagi.
"Lebih suka kalau aku begini?"
Sasuke menelan ludah sekali, "PAKAI BAJUMU!"
"Responmu itu berlebih— ck, oke. Aku nggak mau kalau harus seharian berada dalam pengaruh genjutsu," lalu dengan bunyi 'poof' pelan Naruto kembali ke wujudnya semula, "Aku masih belum terima alasan 'bersimpati' atas reaksi—ciumanmu itu, Sasuke. Karena... aku menyukaimu... NAH, sudah kukatakan! Itu kejujuranku yang entah ke-berapa padamu!"
Setelah mengucapkan kalimat itu Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memandang jendela. Sasuke bisa melihat pipi, leher, dan telinga Naruto mulai memerah. Dia juga merasakan tengkuknya sendiri memanas.
Disini, sekarang, Naruto membuat atmosfer di antara mereka jadi tak mengenakkan, lagi.
Sasuke merasa harus mengambil keputusan yang tepat.
Sekarang bukan saatnya untuk saling canggung—dan dia? Naruto? Saling canggung?
"Lihat kemari."
Naruto bergeming.
"Naruto, lihat aku. Lihat mataku. Coba nilai sendiri apa aku benar-benar jujur padamu."
Pelan-pelan, Naruto menggerakkan kepalanya hingga sejajar dengan tatapan Sasuke.
"Aku masih suka melihat perempuan. Aku bukan homo."
Naruto nyaris mengalihkan pandangannya lagi kalau Sasuke tidak mengangkat tangan kanan, menyuruh untuk tetap menatapnya.
"Tapi aku suka padamu. Inilah yang membuatku bingung. Aku suka padamu bukan sebagai rekan kerja. Bukan sebagai saudara. Bukan sebagai teman. Aku... ingin menyukaimu lebih daripada itu," Sasuke masih menatap mata biru Naruto. Binar biru penuh keraguan itulah yang membuatnya ingin mengatakan semua yang ada di hatinya, "Kedengarannya menjijikkan dan sangat steril untuk masa depan keturunanku. Itulah yang membuatku menahan diri. Tapi aku tak bisa menahannya lagi sejak peristiwa di bar Iwa. Aku bukan homo, aku berharap Kau bukan homo. Tapi aku menyukaimu."
Mereka saling mendiamkan. Sangat lama. Hingga akhirnya Naruto bicara dengan suara parau, "Separuh kalimatmu kedengarannya seperti kalimat Sai. Hanya bagian 'aku bukan homo' saja yang bukan Sai."
Sasuke berdecak tak sabar, "Tapi aku menyukaimu bukan karena nafsu. Beda dengannya."
"Oh. Bisa kulihat itu."
Lalu Naruto meluncur maju dan menciumnya. Awalnya ragu, tapi Sasuke bisa menggendalikan reaksi kekagetannya dengan sangat baik. Dia menerimanya pelan-pelan, mencoba bertahan dari posisinya agar tidak jatuh terjengkang ke belakang. Setelah rasanya berjam-jam kemudian, mereka saling melepaskan diri; Naruto menyeringai, Sasuke membalas dengan seringai yang sama walau masing-masing tampak kehabisan nafas. Kedua tangan Sasuke masih di pangkuannya, kedua tangan Naruto ada di sisi-sisi kepala Sasuke. Ujung hidung mereka nyaris bersentuhan...
Ketika liur Naruto menetes di atas tangan Sasuke, mereka memutuskan sudah saatnya merubah posisi.
Sasuke mengelap punggung tangannya di pipa celana dan mengawasi Naruto kembali ke sofa. Mereka berpandangan selama beberapa saat, lalu Sasuke berdiri sambil bergumam keras, "Aku pergi dulu," dan menambahkan keterangan seperlunya pada Naruto yang keheranan, "aku mau menghajar Kiba. Dia pasti menyuruh Hinata merusak barrier genjutsuku."
-ii-
..
-OMAKE-
"Jadi, itu hanya misiiii?"
..
Duaratus meter sebelum meninggalkan batas wilayah negara Hi
Mereka baru akan keluar dari jalan utama menuju jalur setapak di hutan saat Naruto mengajak Sasuke berputar arah.
"Kenapa? Jauh lebih cepat lewat jalan ini—,"
"Shh... Sasuke, diam dan ikuti aku."
Sasuke bergeming. Sudah dua hari lebih dia berjalan tanpa istirahat gara-gara status baru mereka. Walaupun ninja, tapi dia tetaplah manusia biasa, bukan manusia khusus dengan chakra Bijuu yang besar!
"Nggak mau. Berputar saja sendiri!" dia berusaha tidak mendengarkan bisikan paksa Naruto. Memang kenapa dengan ninja Iwa? Dia tidak takut!
Tapi di depannya memang ada dua ninja Iwa, dan dua ninja itu menunjuk-nunjuk ke arah mereka.
"Bisakah Kau diam dan menurut padaku, sekali saja!" Sasuke bisa merasakan nafas Naruto di dekat telinganya, "...lari! Cepat! Percayalah, mereka punya banyak teman. Kita nanti bisa mengundang perhatian Oinin Konoha!"
Sasuke bisa mendengar seseorang berteriak, "Tangkap yang berambut pirang! Dia pencurinya!" dan bisa melihat belasan shinobi dengan pelindung kepala bersimbol Iwagakure muncul dari lembah terdekat.
"Mencuri—apa yang Kau curi dari mereka!"
Naruto terbahak, mendorong Sasuke agar lari menjauh sambil berkata dalam upaya menahan tawa, "Kau lupa pernah mematahkan lengan shinobi yang eeh... diperban itu?" dia mengerling ke belakang, kepada pengejar mereka, "Dia sebenarnya komplotan perampok. Pernah dengar perampok berkedok ninja dari Iwa 'kan?"
Walaupun belum pernah dengar, Sasuke membatin, dia memilih tidak memikirkannya untuk saat ini.
"Apa. Yang. Kau. Curi. Dari. Mereka?"
"Cih, hanya barang-barang yang mereka curi. Pencuri meneriaki pencuri, hah!"
"Dia shinobi yang membelikanmu sake di bar—"
Naruto tersenyum, "Yaa... Tak kusangka Kau mengingatnya, Sasuke."
"Jadi itu misi?"
Naruto megangguk, "Kami dapat informasi kalau beberapa di antara mereka punya ketertarikan khusus pada laki-laki muda. Yah, karena itu... mereka memasangku karena nggak ada yang mau peran jadi homo—"
Sasuke nyaris tersandung akar pohon, "—kami? Mereka?" mengabaikan teriakan di belakang, mereka terus berlari, sesekali melompati dahan terdekat.
"Ti mku, Sasuke! Kiba, Neji, lalu... siapa ya... kalau nggak salah; Lee. Aku tak pernah tahu. Tugasku hanya jadi eksekutor, yang lain jadi pengawas."
Entah bagaimana, Sasuke samar-samar bisa melihat Neji, dalam Hengenojutsu, melerai dirinya dan si perampok yang menjilat telinga Naruto. Berbagai kepanikan, yang tak ada hubungannya dengan kondisi mereka saat ini, mulai bermunculan di pikiran Sasuke; bukan hanya Naruto saja yang melihatnya dalam wujud begitu? Ada ninja Konoha lain yang melihatnya dalam kondisi hilang kendali? Itukah sebabnya Neji memasang ekspresi puas saat rapat terakhirnya dengan para Jounin?
Sasuke berhenti berlari. Naruto yang dua langkah ada di depannya ikut berhenti dan menoleh dengan tampang ingin tahu; Sasuke sudah memunggunginya dan berkata tenang—jauh lebih tenang daripada saat mengabaikan anjuran Naruto tadi, "Aku masih merasa, lewat jalan tadi jauh lebih dekat."
Naruto menepuk dahinya saat Sasuke mengaktifkan sharingan. Sepertinya Sasuke telah berniat dengan sepenuh hati untuk menghabisi orang yang membuatnya kelihatan konyol di hadapan Lee, Kiba, dan lebih dari itu... Neji.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan shinobi Konoha mengenai perang dingin di antara Uchiha Sasuke dan Hyuuga Neji, mencakup hal-hal kekanakan tentang ketenaran dan nama keluarga. Tapi yang terpenting bagi Naruto untuk saat ini adalah; mencegah Sasuke mencetak kasus pembunuhan pertamanya dalam daftar Nukenin Konoha.
..
A/N:
Thanks atas review, feedbacks, alerts, dan fave-nya…. Entah apa jadinya fict ini tanpa itu semua ^^.
Oh, ya... ada hint Sakura-Kakashi di sini; just because I lurves that couple!
-sidekick- SaiXNaruto karena Kishimoto sendiri yang membuatnya begitu *p
Tambahan:
Menurut pendapat pribadi; Akatsuki itu mirip C****tial Be**g di G**D*M 00 (Hurray, CB!). Saya menyesal Kishimoto membuat karakter para Nukenin di Akatsuki sebagai karakter 'langsung buang'. Dia bisa mengembangkan cerita yang lebih awesome dengan mengesampingkan pilihan itu (sekali buang, red). Yah, tapi apalah diriku? Hanya sekedar fans yang tak punya pengalaman ORIGINAL story-teller. Shame, shame...
Atas dasar pikiran tersebut; maafkan hamba yang dengan seenaknya memasukan duo shounen spektakuler sepanjang sejarah Shounen Manga (lebaii) ke dalam pelukan organisasi penjahat ter-absurd keduasepanjang serialisasi Sh****nJ**p (penjahat ter-absurd pertama dalam serial Sh****nJ**p adalah Y*g*mi Rai** di D**th N*te).
Saya hanya terlalu cinta ide Akatsuki mengenai konsep 'perdamaian' mereka!
Nah. Bagaimana?
Review-kan pendapat Anda!
