P.M.M.
Nurama Nurmala©2010
Sci-fi, Adventure, Friendship with All Super Junior Member
Totally Reserved
.
.
.
Pukul 18.05 di rumah
TIIIIIIIT TUUUUUT TIIIIIIIT TUUUUUUT
Suara sirine—mobil polisi saling menderu membuat kebisingan malam itu. Tetapi suara itu tak terdengar begitu lama karena tampaknya beberapa mobil polisi hendak pergi dari rumah kediaman mereka.
"Pada akhirnya si penyusup tidak mau mengakui siapa yang menyuruhnya melakukan itu." Sindong menangkupkan dagunya di atas lutut dan tangan kanannya.
"Ne, tapi yang jelas kita sudah tahu bahwa kepala babi yang digantungkan di depan pintu rumah kita itu memang perbuatannya." Ryeowook berkata pelan.
"Benarkah karena ayahmu mereka sampai mengincarmu seperti itu?" Kangin menoleh kepada Yesung.
"Iya..." Yesung masih tertunduk saru.
"Saya mewakili penyelenggara mohon maaf yang sebanyak-banyaknya karena tidak bisa menepati janji untuk menjaga kerahasiaan kalian. Jeongmal Mianhamnida..." Miss Lau menunduk 90 derajat di depan mereka semua.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Ini bukan salahmu... Orang yang mengincar aku dan ayahku punya hubungan dengan Yakuza. Karena itu, mau menjaga kerahasiaan seperti apapun, mereka tetap akan menemukanku." Yesung berkata lirih.
GGGRRRHHHH!
"Kau tahu! Kau yang mengundang mereka kemari! Karena masalahmu sekarang kita semua berada dalam bahaya!" Donghae berdiri dari duduknya dan berteriak-teriak menyalahkan Yesung. "Andai saja kau tidak pernah kesini!"
"Sudah, cukup." Leeteuk memegangi Donghae dan menyeretnya masuk ke kamar agar ia bisa menenangkan diri.
"Biarkan aku! Kau ini tahu tidak seberbahaya apa Yakuza itu? Mereka membunuh semudah menepuk seekor nyamuk! Kau mau membahayakan kami semua apa?" Donghae tetap bersikeras tidak mau masuk ke dalam kamar dan terus memaki-maki Yesung, matanya menyalang; menguar amarah atas dasar emosi.
"Kau ini artis tanpa otak, kau tahu itu?"
"Cukup!" Leeteuk mulai meninggikan suaranya. "Kangin, bawa Donghae ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar kamar sampai pikirannya tenang!" Mendengar perintah dari Leeteuk, Kangin langsung membawa Donghae ke kamarnya.
"Tunggu! Biarkan aku tetap di sini!" Donghae tetap meronta, karena itu Kangin mengangkatnya ke atas pundaknya. "Lepaskan aku!"
Tak lama mereka berdua sudah tidak kelihatan lagi.
"Jangan terlalu dipikirkan kata-kata Donghae barusan..." Leeteuk tersenyum ke arah Yesung, namun Yesung tetap diam, menekuri kesalahan dan bahaya yang tengah dibawanya ke rumah ini.
.
.
Di kamar nomor 2
"KENAPA KAU MALAH MEMBAWAKU KEMARI?" Donghae berteriak marah sekali.
PPPYYYAAASSSHHHH!
Kangin menyiramkan air es yang ada di kulkas kepada Donghae.
"UUWWAAAA! Apa yang kau lakukan?"
"DINGINKAN KEPALAMU!" Kangin berteriak lebih keras dari Donghae. "Memangnya ini semua keinginan Yesung? Memangnya dia mau dikejar-kejar penjahat yang hendak membunuhnya? Memangnya dia mau terlibat dalam kondisi seperti ini? Ini bukan kehendaknya tahu?"
Mendengar penjelasan Kangin, Donghae hanya diam saja.
"Bukan uang 1 milyar won lagi sekarang yang dipermasalahkan, tetapi menyangkut nyawa manusia. Memang saat ini kita belum tahu apa-apa tentang Yesung, kita bahkan belum dekat sama sekali dan jarang ngobrol dengannya, tapi bagaimanapun dia adalah seseorang yang sedang membutuhkan bantuan..."
Kangin dengan tenang duduk disamping Donghae. "Jika kita berada diposisinya saat ini, dikejar-kejar dan selalu dijadikan target pembunuhan, selalu was-was setiap hendak melangkahkan kaki karena perangkap dan jebakan bisa berada dimana saja, kau bisa membayangkan hidup seperti itu? Dikejar rasa takut dan terus bersembunyi hingga tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Dia hidup dalam dunia yang seperti itu selama ini... " Kangin mulai merendahkan nada suaranya. "Dijerat oleh rasa takut dan terus melarikan diri..." Mereka berdua seperti hendak menangis. Donghae hanya menundukkan kepala saja. Beberapa tetes air meluncur jatuh dari rambutnya.
"Saat ini dia benar-benar sedang membutuhkan bantuan kita..." Bisik Kangin. Ia berjalan menuju kamar mandi dan kembali dengan sebuah handuk putih di tangannya. Ia menutupi kepala Donghae dengan handuk itu lalu berbalik dan berlalu pergi. Sebelum menutup pintu kamar Donghae, Kangin berbalik sekali lagi. "Besok minta maaflah padanya... Dan usap rambutmu dengan itu, kau bisa kena flu nanti." Setelah mengatakan hal itu, siluet tubuh Kangin menghilang diiringi debuman pintu yang ditutup.
.
.
Jam 00.49 di sebuah gudang tua
"Sekarang sudah berganti hari, jadi tidak apa-apa sepertinya aku keluar jam segini..." Yesung tersenyum pahit. "Harus pulang ke rumah paling lambat pukul 11 malam setiap hari." Itu adalah salah satu peraturan dalam kompetisi, karena sudah lewat dari pukul 00.00 (berganti hari) maka dari itu perjanjian dalam kompetisi itu akan berlaku pukul 11 malam hari ini.
Yesung merogoh saku celananya dan membuka sebuah pesan di handphonenya.
"KAMI TIDAK AKAN MELUKAI TEMANMU JIKA KAU DATANG KE GUDANG DI KOTA HAN DO JAM 00.30."
KKKRRAAAKKKK...
Bau debu merungkupi dan menyerang cuping hidung Yesung tatkala ia membuka pintu yang berderit pelan. Ruangan gelap karena penerangan seadanya langsung menyambut kedatangan Yesung.
"Kau terlambat 19 menit Yessung-ssi..." Seorang laki-laki dengan muka penuh sayatan keluar dari balik daun pintu. "Hmmmhhhh... Enaknya kau kuapakan ya?" Tak lama beberapa orang lainnya muncul secara bergantian.
"Aku sudah datang, maka dari itu jangan sentuh teman-temanku! Mereka tidak ada hubungannya sama sekali denganku!"
BBBUUUUGGGHHH!
Sebuah godam raksasa dipukulkan langsung ke kepala Yesung. Dalam sekejap Yesung jatuh ambruk. Darah segar keluar dari kepalanya.
.
.
Jam 7.30 pagi
"Aku tidak melihat Yesung, ke mana dia?" Tanya Leeteuk kepada Eunhyuk. Setelah beberapa suap nasi goreng masuk ke dalam mulutnya, ia membuka percakapan pagi itu.
"Tidak tahu, aku kira dia sudah bangun. " Eunhyuk menjawab singkat.
"Tunggu! " Wajah Sungmin tiba-tiba berubah menjadi panik. "Yesung tidak olahraga dan sarapan pagi bersama... Apakah itu artinya kompetisi ini batal?"
"Ehem..." Miss Lau tiba-tiba berdehem pelan. "Sebenarnya... " Ia mengeluarkan sebuah selebaran. "Penyelenggara hanya mengeluarkan 10 peraturan saja." Ia mengatur nafasnya. "3 peraturan sisanya Aku yang membuatnya."
"MWO?" Semua terkejut tak menyangka.
"Mianhamnida!" Miss Lau menunduk meminta maaf. "Peraturan tentang pelukan, olah raga pagi dan sarapan bersama sebenarnya itu hanyalah buatanku saja."
"APA?"
"Aisshhh, aku sungguh tak percaya..." Heechul menangkupkan kedua tangannya di depan mulutnya. "Bagaimana bisa kau berbuat seperti ini? Kau mau mengerjai kami?"
"Mian. Bukan seperti itu.. Penyelenggara memberi saya tanggung jawab untuk mencetak selebaran. Katanya jika ada yang perlu dirubah, maka dirubah saja. Karena itu saya menambahkan beberapa peraturan ke dalamnya."
"Mengapa kau menambahkan peraturan macam itu?"
"Itu, karena... Aku ingin mendekatkan kalian saja." Ia mengangkat kepalanya pelan-pelan. Siwon-ssi, aku tahu keadaan keluargamu, kalian sangat jarang makan bersama, karena itu aku menambahkan peraturan agar kalian makan bersama agar kau merasa tidak sendirian. Lalu olahraga tiap pagi adalah karena wookie-ya mempunyai masalah dengan kesehatannya, aku berharap Wookie-ya bisa sehat seperti anak-anak lainnya dengan adanya olah raga pagi..." Semua terbengong-bengong mendengar penjelasan Miss Lau.
"Jadi dia melakukan itu untuk kami?" Batin mereka merasa bersalah.
"Lalu pelukan itu?" Kibum yang sedang makan bertanya tanpa memandang lawan bicaranya.
"Ah, kalau itu..." Ia melirik ke arah Hankyung. "Seseorang di sini mungkin belum pernah dibelai dan diperlakukan lembut oleh keluarganya. Aku melakukan itu agar ia terbiasa dan merasa nyaman di sini."
"Jangan-jangan peraturan tentang 'harus menaati perkataan Miss Lau' juga hanya akal-akalanmu saja ya agar kami selalu menurut padamu?" Eunhyuk bertanya penuh curiga.
"Ani, kalau itu memang benar pihak penyelenggara yang membuatnya."
"Lalu peraturan tentang pulang jam 11 malam itu?" Leeteuk bertanya tenang.
"Itu juga benar, bukan bohong..."
"Apa Yesung-ssi tahu tentang hal ini?" Leeteuk kembali bertanya.
"Ah, ne. Saat hari pertama disini dia sudah langsung mengetahuinya."
"Eh, bagaimana dia bisa tahu?" Shindong terkejut dengan pemaparan Miss Lau.
"Karena dia bertanya tentang semua peraturan di sini, makanya aku memberitahu yang sebenarnya pada dia..."
"Pantas saja dia bisa enak-enakan bolos olah raga pagi." Euhyuk bersungut-sungut kesal.
"Kau tahu dia pergi kemana?" Leeteuk mulai memasang muka serius.
"Ah, tidak tahu... Tapi kita bisa melihatnya dari kamera pengawas diruang kontrol."
"Baiklah, aku juga ikut!" Donghae tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Andwae, tidak boleh. Itu adalah salah satu ruang terlarang di mana peserta dilarang untuk memasukinya. Kalian tunggu saja sebentar disini. Nanti aku akan kembali lagi kesini."
Setelah sekian lama, akhirnya Miss Lau muncul dengan tampang panik dan tergesa-gesa.
"Ga- Gawat! Hooossshhh... Hoossshhhh..." Miss Lau seperti kehilangan nafasnya.
"Ada apa?" Sindong menghampiri Miss Lau yang hampir kehabisan nafas.
"Tak lama setelah jam 00.00 Yesung-ssi meninggalkan rumah. Namun, beberapa jam sebelumnya dia seperti menerima sms aneh."
"Apa?" Semuanya tiba-tiba berhenti dari makannya. "Apa maksudmu?"
"kira-kira jam sembilan malam dia menerima sebuah sms. Saat membaca isi pesan yang baru masuk itu air mukanya tiba-tiba berubah menjadi tegang. Lalu setelah aku memeriksa isi smsnya lewat sebuah alat detektor dari penyelenggara... Ternyata, dia menerima pesan..." Miss Lau menghentikan penjelasannya. Ia menelan ludahnya lalu kembali meneruskan apa yang barusan terpotong, "isi pesan itu adalah... KAMI TIDAK AKAN MELUKAI TEMANMU JIKA KAU BISA DATANG KE GUDANG DI KOTA HAN DO JAM 00.30."
.
.
Di sebuah jalanan menuju gudang kota Han Do
"Dasar si bodoh itu... Tak bisakah dia bersabar sedikit saja?" Donghae memaki-maki sebal. Ia terus berlari sekencang-kencangnya. Angin menampar wajahnya keras, namun ia tetap berlari, tidak mengurangi kecepatannya sedikitpun. Di belakangnya ikut berlari juga Kangin dan Siwon.
"Itu dia!" Siwon berteriak memberitahu. Menyadari tempat yang mereka tuju sudah dekat, mereka menambah kecepatan lari mereka.
Donghae sampai duluan. Tanpa menunda waktu lagi dia menendang pintu masuk gudang itu.
BBBRRAAAKKK!
Pintu gerbang seketika terbuka dengan hantaman keras.
Lengang... Tak ada siapapun disana... Mereka bertiga pelan-pelan memasuki gudang itu.
"Tidak ada siapapun." Kangin bergumam.
Donghae menyesali dirinya sendiri. Raut wajah frustasi muncul saat ini.
"Kangin-ssi," panggil Siwon, "Itu..." Siwon menunjuk pada sesuatu yang tengah menggenang di lantai. Kangin mendekat ke genangan itu, lalu menyentuh dan mencium baunya. Ia langsung terhenyak.
"I-ini... Darah..."
.
.
Pukul 08.15 di rumah
"Bagaimana?" Sungmin bertanya khawatir pada Miss Lau.
"Tidak bisa, nomor orang yang mengirim sms itu tidak bisa dilacak oleh alat ini..." Miss Lau terus mengutak-atik detektor handphone itu.
Leeteuk lalu melirik ke arah Kibum. "Kibum-ssi, tolong ya..."
"Aisshhhh, merepotkan saja." Kemudian ia menjejakkan kaki menuju kamarnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Eunhyuk penasaran.
"Mengambil peralatanku."
"Biar aku saja yang ambil, apa saja yang harus diambil?" Ryeowook dengan cepat menyusul Kibum dan berdiri di hadapannya. Kibum melotot.
"Tidak perlu. Minggir!" Mendengar Kibum berkata sedingin itu, Ryeowook mundur selangkah kebelakang, memberi jalan untuk Kibum.
Lalu, tak berapa lama Kibum kembali dengan beberapa peralatannya.
"Ha? Kau mau berbuat apa?" Heechul bertanya tak mengerti.
"Kemarikan detektornya." Perintah Kibum. Miss Lau segera memberikan alat detektor itu kepada Kibum. Ia lalu mengambil sebuah kabel dari detektor itu dan menyambungkannya ke laptop yang ia bawa dengan menggunakan port pembantu.
Beberapa lama mereka menunggu hingga kedua alat itu bisa terhubung. Lalu Kibum mulai memainkan keyboardnya.
"Leeteuk-ssi, apa yang sedang dia lakukan?"
"Dia akan melacak nomor yang mengirim sms ke handphone Yesung." Jelas Leeteuk.
"Benarkah?" Kali ini Miss Lau yang perlu diyakinkan. "Haaahhhh... Andai saja handphone yesung aktif, kita dengan mudah dapat mengetahui keberadaannya. "
"Dapat."
"Benarkah?" Leeteuk langsung menengok layar laptop Kibum diikuti yang lainnya.
"Lokasi pemilik handphone ini tidak berada di kota Han do, tetapi beberapa blok dari sini. Bagaimana? Kita bisa langsung menyerbu mereka sekarang. " Tawar Kibum kemudian.
"Tunggu dulu, kita harus memastikan sesuatu..." Leeteuk menyarankan hal lain.
"~~~Now i can't stop thinking about about you girl... ~~~~" Suara handphone Leeteuk berbunyi. "Yeoboseyo?"
"Leeteuk-ssi, kami tidak menemukan Yesung di sini." Suara Siwon terdengar sayup-sayup dari seberang sana.
"Mwo?"
"Kami malah menemukan genangan darah..."
"APA?"
Semua yang mendengar perkataan Leeteuk tersentak seketika. Apa yang membuat Leeteuk sampai berteriak seperti itu? Apakah ada hal gawat yang terjadi dengan Yesung?
"Kalian kembali saja ke sini..." Setelah berkata seperti itu Leeteuk langsung menutup teleponnya.
"Ada apa?" Kibum menoleh ke arah Leeteuk sambil bertanya karena penasaran.
"Mereka tidak menemukan Yesung di sana. Yang mereka temukan hanyalah... Genangan darah." Suasana di ruangan itu menjadi kaku. Heechul menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Berarti memang benar, saat ini mereka mungkin saja menyekap Yesung di tempat itu. Pertama-tama, kita harus memastikan bahwa Yesung baik-baik saja." Lalu ia mengambil handphonenya dan mengetikkan nomor yang muncul di layar laptop Kibum ke dalam handphonenya.
"Kau sedang apa?" Sungmin bertanya khawatir.
"Aku akan berusaha melakukan negosiasi dengan mereka."
"APA?" Semua terperanjat kaget.
Leeteuk menempelkan jari telunjuk di depan mulutnya pertanda ia meminta semua orang yang ada di sana untuk diam.
TTUUUTT...
TTUUUTT...
TTUUUTT...
Terdengar suara handphone yang tersambung.
CCKKKLLLAAAKKK!
"Yeoboseyo?" Terdengar sahutan di seberang sana. "Nugu?" Leeteuk menge-set handphonenya dalam loud speaker mode, jadi bisa didengar oleh semua orang yang ada di sana.
"Ini dengan salah satu teman Yesung," suara di sebrang tak terdengar lagi, namun...
"Mau apa kau?" tiba-tiba suara yang semula baik-baik saja sekarang berubah jadi ketus.
"Kami hanya ingin tahu apakah Yesung baik-baik saja?"
"..." Hening kembali. Tanpa jawaban.
"Kalian sudah melakukan apa terhadap Yesung?" Leeteuk mulai meninggikan suaranya.
"Sssssssstttttttt... Ada yang sedang tidur, tidak baik kalau berteriak-teriak seperti ini," Kali ini suara di samping telpon terdengar sangat tenang.
Pupil mata Leeteuk membulat sempurna. "Nugu?"
"Apa maksudmu?" Suara disebrang telpon tampak bertanya.
"Siapa ini? Yang tadi menjawab teleponku berbeda denganmu. Nuguya?"
"Aku atasannya... Kau sebenarnya ingin menghubungiku 'kan?"
Leeteuk menarik napas panjang. Semua yang berada di ruangan itu tak sanggup untuk bernafas lagi. Suara debaran jantung mereka seperti hendak meledakkan tempat itu. "Aku ingin melakukan negosiasi denganmu..."
"Hmmmhh, tindakkanmu ini terlalu sembrono."
"Tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk menyelamatkan seorang teman, cara seperti apapun akan kami lakukan."
"Begitu?"
"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, asal kau bisa menjamin keselamatan Yesung dan mengantarkannya kembali ke sini dengan selamat."
"Hahahahaha... tenang, Yesung baik-baik saja. Dia masih hidup, walau kepalanya agak bocor..." Heechul, Ryeowook dan Miss Lau tersentak tak percaya mendengarnya. Leeteuk tetap berusaha untuk tenang.
"Tenanglah Leeteuk, yang terpenting adalah kau sudah tahu bahwa Yesung masih hidup. Sekarang, langkah selanjutnya..." Ucap Leeteuk dalam hati.
"Kau ingin berapa?"
"Hahahahaha... kau kira aku menginginkan uang? Karena itu aku menculik anak brengsek ini?" suara di telepon itu kembali terhenti, lalu muncul kembali. "Aku tidak menginginkan uang, aku menginginkan penderitaan ayahnya!"
"Kalau kau membunuh Yesung, maka akan tercipta permusuhan baru. Kau tentunya jelas akan hal itu."
"Peduli apa aku? Song Eun Doh; ayah Yesung sudah membunuh istriku yang juga seorang politisi, membuatku bangkrut ratusan juta won. Yang kuinginkan sekarang adalah melihat dia menderita karena kehilangan anak satu-satunya!"
Leeteuk berpikir keras, "seorang mafia Jepang yang mempunyai seorang istri yang berpofesi sebagai politisi dan telah meninggal akhir-akhir ini... Siapa ya dia? Aku merasa pernah mengetahui tentang orang ini di suatu surat kabar. Tapi..." Leeteuk memejamkan matanya keras.
KLIP!
Dengan tenang Leeteuk kembali berbicara, "Kalian... dari klan Zakisei? " Suara yang semula ramai di seberang telepon langsung berhenti seperti dihentikan oleh waktu. "Aku punya penawaran untuk kalian..."
"Apa itu?"
"Aku tahu kalian selama ini mencari sebuah pedang... Kalian menyebutnya pedang leluhur Kusangi-no-tsurugi. Kalian sudah lama kehilangan jejaknya 'kan? Bagaimana jika aku menawarkan pedang itu? menawarkan kembalinya 'kehormatan' klanmu?'"
"Hehehe, kau jangan main-main denganku nak! Jangan karena kau kehabisan ekor maka kau memakai daun ilalang untuk kau jadikan mainan..."
"Kau jangan menganggap remeh kami. Kami bisa tahu nomor teleponmu dengan mudah dan sudah tahu lokasi kalian bersembunyi sekarang, karena itu bukanlah hal yang mustahil jika kami bisa mendapatkan pedang yang selama ini kalian cari!"
Orang di sebrang telepon itu kembali terdiam. "Baiklah, aku tantang kehebatan kalian! Aku akan memberikan kalian waktu sampai jam 10 malam untuk membawakan pedang itu kehadapanku. Jika kalian gagal, maka aku akan tetap mengirimkan Yesung kepada kalian, tapi tanpa kepala..."
CCKKLLIKKK...
TTUUTTT... TTTUUTTT...
Sambungan telepon terputus.
"Bagaimana ini Leeteuk-ssi? Kau tahu dimana keberadaan pedang itu?" Sindong bertanya gusar.
"Dua tahun yang lalu ada seorang kolektor barang antik dari Korea bernama Lee Eun Jo yang membeli pedang itu dalam sebuah lelang dengan harga 150 juta dolar. Tapi 1 tahun kemudian Lee Eun Jo meninggal dunia. Sampai sekarang, segala barang koleksinya belum pernah ditemukan. Tetapi ada desas-desus yang menyatakan bahwa semua barang koleksinya tengah dirawat oleh anak-anaknya sekarang."
"Bagus, berarti kita tinggal menemui anak-anak Lee Eun Jo." Sambung Ryeowook, matanya memancarkan secercah harapan.
"Lalu membelinya?" Sungmin bertanya tak percaya. "Apa kau tidak dengar harganya sebesar 150 juta dollar?"
"Kita bisa meminjamnya, yang penting kita bisa mendapatkannya sekarang." Leeteuk bergumam pelan. Tapi, aku sendiri tidak tahu di mana anak-anak Lee Eun Jo tinggal. Namanya saja aku tidak tahu.
"Lee Gikwang..."
Semua menoleh ke sumber suara barusan, semua menoleh ke arah Hankyung.
"Nama anak dari Lee Eun Jo adalah Lee Gikwang. Dia adalah tipe orang yang sangat susah ditemui. Tapi, akhir-akhir ini ada kabar bahwa dia mengadakan sebuah perlombaan antar murid SMU se-Korea. Dia akan hadir pada saat penganugrahan hadiah pada pemenangnya."
"Dari mana kau tahu itu?" Miss Lau heran dengan apa yang diketahui Hankyung.
"Dari koran dan majalah bekas yang kita bereskan kemarin. Walau hanya membacanya sekilas, tapi aku masih ingat dengan jelas." Semua takjub dengan pernyataan Hankyung, termasuk Kibum dan Leeteuk.
"Kapan perlombaan itu diadakan? Kita hanya punya waktu sampai jam 10 malam saja..." Leeteuk beranjak dari duduknya.
"Hari ini, akan di mulai jam 10 pagi." Hankyung menjawab cepat. "Untungnya Tuhan masih memberikan kita kesempatan. Sekolah kita, terdaftar menjadi salah satu peserta."
.
.
Pukul 09.33 di sebuah mobil
"Yeoboseyo?" Terdengar suara dari kejauhan.
"Ne, ini Leeteuk. Bagaimana? Kepala sekolah mengizinkan kita menggantikan posisi para peserta itu?"
"Awalnya susah, karena ketiga kandidat ternyata sudah mempersiapkan diri selama 3 bulan untuk perlombaan ini, tapi ketika aku berkata bahwa kita menjamin kemenangan untuk SMU Aiden, akhirnya kepala sekolah mengijinkan juga..."
"HHaaahhh... Terimakasih Sungminie, kau sangat membantu."
"Sudahlah, ini bukan apa-apa. Ketika kalian sampai disana, kalian segera ambil nomor peserta di meja panitia. Aku sudah mengkonfirmasikannya kepada pihak AERO GROUP, grup yang mengadakan perlombaan atas nama Lee Gikwang."
"Ne, baiklah. Jeongmal gamsahamnida telah merepotkanmu..."
"Sudahlah, tidak apa-apa..." Sungmin yang berbicara di seberang telpon terdiam sejenak. "Asal kau bisa membawa Yesung kembali ke sini dengan selamat, itu sudah lebih dari cukup..."
Mata Leeteuk berkaca-kaca. Kemudian ia mengusap air mata yang hendak menetes dari sela-sela matanya. "Ne, aku berjanji pada kalian..." Setelah itu ia menutup teleponnya. "Ya Tuhan... Bantulah kami..." Leeteuk berdoa dalam hati.
"Bagaimana?" Kibum yang sedari tadi duduk di samping Leeteuk tetap fokus pada hal yang sedang dia kerjakan.
"Lancar, kita bisa mewakili sekolah kita."
"Bagus."
"Lalu, bagaimana dengan itu?" Leeteuk menoleh ke arah layar Laptop Kibum. Kibum yang menyusup ke sistem Informasi panitia; di mana tak seorang pun boleh tahu mendapatkan informasi yang akurat mengenai jenis lomba yang akan diadakan.
"Ternyata lomba ini dibagi atas 3 kategori. Yang pertama adalah kepintaran akademik, yang ke dua adalah pemecahan masalah dan daya pikir logika, lalu yang ketiga adalah uji ketahanan fisik. Karena itu kita memerlukan 3 kandidat disini..."
"Baiklah, aku akan menelpon Kangin dan memberitahukannya supaya langsung menuju kampus Korea. Sementara itu kau yang menangani bidang akademik."
"Apa? Kenapa tidak kau saja?"
"Kau yang lebih unggul di antara kita."
"Tapi yang kulihat tidak seperti itu." Sengit Kibum tak mau kalah. Sejujurnya, ia tak ingin repot saja dengan adanya kejadian ini.
"Aku mohon, ini demi Yesung dan demi alasanmu tetap bertahan di kompetisi ini." Mata kibum menyipit. Dia merasakan hal aneh dengan Leeteuk.
"Kyuhyun, kau bertanggung jawab di bagian yang satu lagi." Ucap Leeteuk sambil melihat ke kaca pengemudi, melihat Kyuhyun yang sedang asyik bermain PSP di kursi paling belakang.
"Ok."
.
.
Pukul 09.54 di kampus Korea
Berkat kemampuan mereka yang memang sudah teruji, dengan mudah mereka bisa sampai ke babak final. Tapi di final mereka harus menghadapi sekolah yang memiliki prestasi terbaik, sekolah di mana anak-anak paling pintar berkumpul, sekolah tempat Kibum menuntut ilmu sebelumnya. SMU BAEK JE.
"Aku kira tadi aku salah lihat..." Ucap salah seorang siswa dari Baek Je itu.
"Salah lihat apa?"
"Kibum ikut pertandingan ini."
"APA?" Salah seorang dari mereka terkejut sekali.
"Iya, dia maju ke final bersama teman-temannya dari SMU Aiden..." Jawab Song Hyun ragu.
"Aku tidak akan kalah dari dia kali ini! Tidak akan!" Mae Ri bertekad kuat.
.
.
"Yak! Semua peserta, akan saya jelaskan tentang jalannya pertandingan untuk final" Seorang MC yang berdiri di tengah lapangan yang teramat sangat luas itu tersenyum gembira sekali. "Di belakang saya, ada sebuah arena final yang sesungguhnya!"
"UWWWOOOO!" Penonton berdecak kagum.
"Ne! Akan saya jelaskan cara bermain disini..." Ia membuka sebuah kartu dan mulai membacanya. "Lomba akan diawali dengan uji pengetahuan di arena awal, disini 2 peserta dari masing-masing tim akan bertanding, setiap berhasil menjawab sebuah pertanyaan, point peserta akan bertambah 10 point, salah menjawab dikurangi 5 point, lalu setelah bel berbunyi, maka pertandingan peserta dari arena pertama telah berakhir dan dilanjutkan oleh pertandingan di arena kedua, yaitu uji pengetahuan sambil bermain game! Setelah bel berbunyi maka permainan dihentikan dan di lanjutkan oleh pemain ketiga. Pemain ke tiga akan mengalami ujian fisik. Mereka berlomba dalam menaiki dinding datar, menyebrangi seutas tali, menyebrangi sungai dengan bermodalkan beberapa bambu yang menancap di dalam sungai, menghadapi titian bola-bola menari hingga harus mendaki tebing licin yang dialiri oli untuk mendapatkan bendera kemenangan. Tim yang mendapatkan bendera kemenangan akan dihadiahi 250 point!"
"UUWWWOOOOO!" Semua penonton kembali menjerit.
"Peserta sudah siap di posisi?" Peserta dari sekolah Baek Je mengangguk, terlihat Mei ri memandang tajam ke arah Kibum, sedangkan Kibum fokus memandang MC nya. "Baiklah! Semuanya, bersiap-siap di posisi,
1...
2...
3!"
.
.
DDOORRRRRRRRR!
.
.
Suara letusan pistol menandakan dimulainya perlombaan ini. Semua peserta langsung lari ke arena masing-masing. Lomba diawali dari arena akademik yang dihiasi berbagai macam bintang, kapal luar angkasa dan gambar kepala Thomas Alva Edison.
TTTEEETTTTTTTTTTT!
Game di arena pertama telah di mulai!
Seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari bawah arena sambil membawa beberapa catatan kecil di tangannya, ia tersenyum kemudian berkata, "baik, akan kita mulai lombanya, bersiap di tempat masing-masing, tangan bersiap menekan bel. Yak! Pertanyaan pertama..." Penonton diam seketika.
"Berapakah jumlah bahasa di negara Indonesia?"
TTTEEETTT!
"Ya? Kibum?"
"Jumlah ragam bahasa di Indonesia adalah 726, terdiri dari 719 bahasa lokal/daerah yang masih aktif digunakan sampai sekarang, 2 bahasa sekunder tanpa penutur asli, dan 5 bahasa tanpa diketahui penuturnya."
"TEPAT! " Semua penonton bertepuk tangan kagum.
"Pertanyaan kedua, Siapakah penemu virus komputer per..."
TTTEEEETTTTT!
"Ya , Kibum?"
"Rich Skrenta"
"BENAR!" Semua penonton bertepuk tangan lagi. Sedangkan Mae ri menahan rasa kesalnya dengan megepalkan keduan tangan di depan meja.
"Pertanyaan selanjutnya, pertanyaan matematika, silahkan siapkan catatan kalian." Mae ri segera menyiapkan bolpoint dan secuil kertas untuk menghitung, sedangkan kibum hanya berdiri diam. "Pertanyaannya adalah : Salah satu persamaan garis singgung lingkaran ( x – 2 )² + ( y + 1 )² = 13 di titik yang berabsis –1 adalah..."
1 detik,
2 detik,
TTTEEETTTT!
Belum selesai Mae ri menuliskan soalnya, Kibum sudah menekan bel dengan cepat.
"Apa jawabannya?"
"3x – 2y – 3 = 0" Jawab Kibum mantap.
MC itu meneliti kertas jawaban yang berada ditangnnya. "BB... BE.. BENAR!"
"KKKYYYAAAA!" Seluruh anak perempuan yang berada di sana berteriak keras sekali.
"Pertanyaan selanjutnya, sebutkan nama Rusia Grigori Yefimovich Rasputin!"
TTEEEETTT!
"Ya?"
"Григо́рий Ефи́мович Распу́тин" jawab Kibum lagi!
"BENAR!"
"UUUUWWWAAAAA!" Suara sorak sorai tidak terbendung lagi. Leeteuk, Donghae dan Siwon tertawa lebar sekali.
"Pertanyaan selanjutnya, " MC mulai mengeluarkan sapu tangan dan mengusap keringat yang mengalir dari pori-pori kulitnya. "Pertanyaannya tentang kedokteran dan fisioterapi, memerlukan studi anatomi manusia secara mendalam. Buku teks biasanya membagi tubuh ke dalam kelompok region. Sebutkan anggota dari regio Ekstremitas atas!"
TTTEETTTT!
Kibum menekan belnya lagi!
"Jawabannya?"
"Termasuk tangan, lengan bawah, lengan atas, bahu, aksilla, regio pektoral dan skapula."
"BENAR!" sang MC berteriak keras sekali hingga membakar semangat para penonton. Para penonton berteriak lebih keras lagi!
"A- aku tak menyangka Kibum sepintar itu..." Donghae berdecak kagum.
"Pertanyaan selanjutnya!" Semua kembali terdiam seperti patung. "Merupakan ukuran resistansi suatu objek untuk mengubah keadaan geraknya ketika suatu gaya diterapkan. Ia ditentukan dengan menerapkan gaya ke sebuah objek dan mengukur percepatan yang dihasilkan oleh gaya tersebut. Objek dengan massa inersia yang rendah akan berakselerasi lebih cepat daripada objek dengan massa inersia yang besar. Dapat dikatakan, benda dengan massa yang lebih besar memiliki inersia yang lebih besar. Pertanyaannya yaitu : sebutkan istilah yang dapat mewakili penjelasan tadi!"
TTTEEEEEETTTTTTTTTTTTT!
"Ya! Kibum?"
"Massa inersia."
"BBEENNNAAARRR!"
WWWOOOOOOOO!
.
.
.
.
Bel tanda berakhir kompetisi di arena pertama telah berakhir dan bel tadi merupakan aba-aba dimulainya pertandingan di arena ke dua...
Arena ke dua didekorasi seperti lubang hitam di mana di setiap sudut dan dinding ditempeli game terkenal seperti Ragnarok, Final Fantasy 13, SS# Come to Burn, dan masih banyak lagi lainnya. Di sana, tengah siap berdiri Kyuhyun dan Song hyung yang saling bersisian.
"Di depan kalian ada sebuah mesin game keluaran 10 tahun yang lalu. Mesin ini sangat populer di Jepang, karena memberikan pengetahuan lewat game. Nah, game ini berisi 2000 lebih pertanyaan yang dibagi menjadi 400 bagian, dan setiap bagian akan menampilkan 5 pertanyaan. Tetapi kita akan bermain 5 bagian saja disini (25 pertanyaan). Kalian, silahkan berebutan menjawab pertanyaan dari mesin game!"
"WWWWUUUUU!" Suara riuh kembali terdengar.
"THE GAME WILL BEGIN!" Terdengar suara dari dalam mesin. "Pertanyaan pertama, apa bahasa inggrisnya me-"
TTTEEETTT!
Bel dibunyikan Song hyun.
"Red!"
"Benar." Jawaban dari sang mesin terdengar dengan jelas. "Pertanyaan selanjutnya, alat untu merekat..."
TTTEEEETTTTTT!
"Lem!" Song hyun kembali menjawab pertanyaan. Penonton kembali bertepuk tangan.
"Benar. Pertanyaan selanjutnya, warna bendera negara je-"
TTEETTTT!
"Merah dan putih!" Lagi-lagi Song hyun.
" selanjutnya, yang dipakai ketika hu-"
TTEETTTTTT!
"Payung!"
"Benar, pertanyaan terakhir untuk bagian 1 : Berapa jumlah abja-"
TTEEETTT!
"26!"
"Benar!"
Pertanyaan dari bagian satu telah di jawab semua oleh Song hyun. Ada apa sebenarnya dengan Kyuhyun? Kenapa dia tidak menjawab pertanyaan satupun?
Jawabannya akan kalian temukan di chapter 5...
To be Continued.
