Chapter 4 : Sleep tight!

Akira terlihat agak bingung dengan kejadian ini. Namun sepertinya anak perempuan itu mencoba menenangkan temannya.

Laki-laki itu dengan gegabah mendekati Kira dan mulai mengguncang-guncangkan Kira dengan kasar.

"Hey, hentikan itu! Kyou! Hentikan!", tegur temannya.

Tanpa menghiraukan temannya, Kyou terus melakukan hal yang sama.

Akhirnya Akira pun merasa jengkel dan mulai mengambil tindakan.

"Hey! Hentikan itu sekarang juga! Atau kau kuusir keluar!", ucap Akira dengan menunjukan wajah muak pada Kyou.

"Kau pikir kau siapa?!"

"Kyou! Ayolaah hentikan ini"

"Ah.. Maaf aku adalah anak pemilik rumah sakit ini. Dan aku bisa memanggil orang untuk menyuruhmu keluar sekarang juga jika kau tidak menghentikan perbuatanmu yang menyebalkan ini"

Mendengar perkataan Akira, Kyou terdiam dan menunjukan wajah yang muka akan Akira. Tetapi ia tetap mencoba untuk menenangkan dirinya.

Setelah kejadian itu, suasana ruangan menjadi agak canggung.

"Ah.. Permisi Akira-san.. Aku Mary, teman Kira dari sekolah, Kyou ini juga sama kok..", sambil kemudian menyenggol lengan Kyou menyuruhnya untuk berbicara.

"Um... Hai..", lalu Kyou melihat lagi ke arah lain dan masih terlihat kesal pada Akira.

Tak lama kemudian Kyou dan Mary pun pulang, mereka telah menjelaskan semuanya ke Akira, siapa mereka dan untuk apa mereka kesini.

Kyou dan Mary adalah teman satu sekolah Kira. Berdasarkan cerita mereka, Kira punya janji bersama mereka tetapi tidak pernah datang. Mereka bilang Kira pun kabarnya tidak diketahui siapapun di sekolah. Sampai akhirnya Kyou menanyakan semua ini kepada guru yang bertanggung jawab. Mary bilang ketika Kyou mengetahuinya wajahnya langsung pucat dan Ia pun panik. Kyou sempat tidak mempercayainya, tetapi setelah pulang sekolah Kyou pun menceritakan semuanya kepada Mary, dan mereka pun langsung kesini.

Sebelum Mary keluar tadi, ia sempat berbicara berdua dengan Akira. Mary bilang bahwa Kyou tadinya ingin mengatakan sesuatu kepada Kira, tapi ia tidak pernah datang. Itu sebabnya Kyou langsung begitu ketika sampai kesini.

Keesokan harinya Akira tidak berangkat terlalu pagi ke rumah sakit, ia pun merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar. Ketika sudah agak sore, Akira pun baru hendak berangkat pergi ke rumah sakit. Akira berjalan seperti biasa ke rumah sakit.

Lalu Akira melihat sosok yang dikenalnya, ia mengingatnya tepat seperti terakhir melihatnya. Akira bertemu Kyou dijalan.

"Umm.. Hai.. Kyou.."

"Oh halo"

"Apa kau akan menjenguk Kira?"

"Sepertinya.. Aku khawatir tentang dirinya."

"Ah.. Baiklah kalau begitu.. Kita berangkar bersama saja. Ok?", tawar Akira dengan senyum tulus. Seolah dia pun bahagia ada seseorang yang mau menjenguk Kira.

"Baik.", Kyou pun membalas dengan senyuman kembali.

Mereka pun mulai berjalan dan berbincang-bincang. Kyou bercerita bagaimana mereka bertemu sesudah Kira pindah, dan Akira bercerita tentang masa kecil mereka.

Terkadang tawaan kecil terdengar saat mereka berjalan. Mereka semakin akrab tiap detiknya.

"Tak kusangka ternyata kau orang yang cukup menyenangkan Akira."

"Yaa.. Kusendiri begitu Kyou."

"Mungkin kita harus lebih sering begini."

"Hmmm.. Boleh saja~"

"Yap! Aku tidak heran mengapa Kira menyukaimu."

"Eehh.. Aku juga tidak menyangkanya. Hahaha"

Lalu Akira terdiam sementara.

"Maksudku.. Suka sebagai teman.", ucap Kyou memecahkan keheningan.

"Ah iya itu yang kumaksud!"

Lalu itu membuat Akira teringat lagi akan kejadian itu, dia tenggelam dalam pikirannya, sampai-sampai ia tidak mendengar Kyou berbicara.

"Akira. Kau mendengarku?"

Dan Akira pun mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kyou.

"Eehh? Eh? Haah? Ada apa?", Akira pun bertanya-tanya dengan bingung.

"Itu, teleponmu bunyi dari tadi."

Telepon Akira sudah berdering cukup lama, dan kemudian ia segera meraihnya dari kantong celananya dan mengangkatnya.

"Um.. Ya Halo?"

Kyou melihat wajah Akira tampak aneh, entah itu senang atau sedih tapi Akira sama sekali tidak berkata-kata.

"Baiklah..", lalu Akira menutup teleponnya.

"Akira? Itu dari siapa?"

Tetapi Akira tidak membalas. Lalu ia pun mulai berlari.

"Eh?! Akira tunggu!"

"Kyou ikut sajaa!"

"Sebenarnya ada apa sih?"

Lalu Akira menengok kearah Kyou dan berkata, "Sesuatu. Kau lihat saja nanti.".

"Heehh?! Ayolaah apa yang sebenarnya terjadi?!"

"Sebenarnya aku juga tidak tahu, tapi kata dokter ini sesuatu yang besar."

"Ah.. Ya ampun. Kuharap ini bagus."

Lalu Kyou menghela nafas dan mulai ikut berlari disebelah Akira.

Brak! Pintu kamar Kira pun terbuka, Kyou dan Akira pun masuk dan melihat ada dokter dan Sakimura-san sedang berada di sisi tempat tidur Kira.

Terkejutlah Akira saat melihat mata Kira yang berbinar-binar sudah terbuka kembali, dan melihat ke arahnya. Pandangan yang terlempar ke arah Akita langsung dibalas dengan senyumannya.

"Kira! Kira!", Kyou langsung berlari ke arah Akira dan mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan acak.

Namun Kira tidak mengatakan sepatah kata pun.

"Kira..?"

Air mata tiba tiba mulai menggenang di mata Kira.

"Α..Akira...", lalu Kira mulai menangis meraung-raung.

"Pergi! Aku tidak mengenalmu! Pergii!", teriak Kira sehingga Kyou pun terkejut. Akira yang saat itu berada tepat di samping Kyou langsung terdiam.

Kira melihat Akira berdiri didekatnya, dan ia pun menghampirinya. Kira memeluk Akira seerat mungkin dengan senyuman manis terlihat di wajahnya.

Setelah Dokter terdiam sebentar melihat kejadian itu, ia kemudian mulai melihat catatan dan mulai ingin mengatakan sesuatu.

"Ya.. Biar saya jelaskan. Kira mengalami sedikit syok atas apapun yang terjadi padanya. Dia sekarang sepertinya hanya merasa nyaman bersama orang yang ia pikir dapat melindunginya.", setelah terdiam sebentar dokter dan Sakimura-san kemudian mengucapkan selamat malam dan meninggalkan ruangan.

Entah Kyou sedih atau kesal mendengar penjelasan dokter, tapi tak lama kemudian ia pun lari meninggalkan ruangan sambil menutupi wajahnya.