…
PORCELAIN
Author : Feemort
Cast : B. Halilintar – Fang – Yaya – Ying
"Scars have the strange power to remind us that our past is real"
- Cormac McCarthy
.
Title Chapter : Past
Genre: Angst, Drama, Romance, Friendship
Ratings: T
Disclaimer : Boboiboy dkk © Monsta
.
(***)
chapter three
(***)
"Kecelakaan! Ada kecelakaan di jalan depan!"
"Tabrakkan?!"
"Apa yang sudah ditabrak?!"
"Bagaimana ceritanya?"
Suara riuh rendah para siswa - siswa yang sedang berada di jam istirahat langsung membahana dengan berbagai jenis pertanyaan yang terlontar antara satu sama lain. Mereka saling berebut mencari informasi dan membagi informasi kejadian yang membuat lorong menjadi ramai karena mereka berlomba untuk melihat kejadian yang ada di jalan depan sekolah mereka.
Suara buah bibir itu tidak luput dari telinga kedua pemuda yang juga sedang berjalan di lorong. Sayup - sayup mereka menangkap pembicaraan yang sedang ramai dibicarakan.
"–Tabrakan!"
Satu kata yang terdengar ditelinga mereka, jelas dan lantang. Satu kata sakral yang seharusnya tidak mereka dengar. Satu kata yang membuat mereka berdua menghentikan langkahnya. Pemuda berambut raven itu reflek langsung menoleh kepada sahabat yang ada disampingnya. Wajah pemuda bertopi itu kini berubah pucat. Badannya tiba - tiba lumpuh, dia tidak bisa bergerak.
Tabrakan. Ada tabrakan. Tabrakan. Kecelakaan.
Kata - kata itu berputar, mengantarnya pada kegelapan yang mendalam. Badannya hilang kendali. Energi dalam tubuhnya terserap habis. Dia lumpuh, dia tidak bisa bergerak. Kakinya gemetar tidak bisa menahan berat tubuhnya yang mulai limbung. Dia mulai tidak bisa merasakan udara, dia tidak bisa bernafas. Tak berapa lama penglihatannya kemudian langsung menggelap, terus menariknya kedalam jurang tanpa batas.
Dadanya terus kembang kempis, dia berusaha mencari udara untuk bisa bernafas, pernafasannya berhenti setiap beberapa detik. Dan pada detik itu juga dia kehilangan pecahan harapan, dia merasakan dirinya tidak akan bisa hidup lagi, seperti akan ada seseorang yang menjemput dari kehidupannya saat itu juga.
"Halilintar!"
Pemuda berambut raven itu langsung berlutut disamping sahabatnya, menatap dengan panik, khawatir dan takut. Semuanya bercampur dan menjadi tidak menentu. Pemuda bertopi itu tanpa dia sadari sendiri, kini sudah berlutut, tangannya meremas keras dadanya, berusaha untuk bernafas. Pemuda berambut raven sahabatnya tidak sulit untuk menyadari kesesakan yang dirasakannya.
"Halilintar...Halilintar! Sadarlah!"
Fang mengguncang tubuh pemuda bertopi merah hitam itu, mencoba keberuntungannya untuk menarik sahabat laki - lakinya dari kelumpuhan yang sudah mengurungnya erat. Setelah merasa semua usahanya sia - sia, dia kembali mencoba untuk memutar otaknya cepat, tanpa pikir panjang pemuda rambut raven itu berusaha membopong Halilintar dengan menaruh tangan kanannya disekeliling lehernya.
"Halilintar! Bertahanlah!"
Nada suaranya terdengar parau dan menyedihkan. Kumohon bertahanlah, Halilintar! Bisik pemuda raven itu lirih.
(***)
Pintu UKS terbuka dengan cukup kasar. Yang memunculkan dua gadis, satu berwajah cina oriental dan yang satu lagi berkerudung merah muda dengan jepit bunga yang ada disalah satu sisi wajahnya.
Gadis cina itu langsung berlari dan berdiri disamping kekasihnya, si pemuda berambut raven, mata lensa pemuda itu mengekor pada gadis berjilbab merah muda yang berjalan melewatinya dan gadis itu hanya memakukan pandangannya pada pemuda yang terbaring diatas ranjang UKS.
Mata gadis itu tersirat kekhawatiran yang tidak biasa, terlebih saat melihat kondisi kekasihnya. Pemuda itu masih tertidur, wajahnya sudah tidak terlalu pucat, tapi tidak dapat dipungkiri, wajahnya masih membekaskan warna putih pucat, gadis itu melihat bibirnya yang berdarah, dia bertaruh kalau pemuda itu sudah menggigit bibirnya keras tadi, gejala yang ada pada pemuda itu membuatnya langsung paham apa yang sudah menyebabkan pemuda itu menjadi seperti ini. Secara otomatis lembaran masa lalu langsung berputar cepat, cuplikan demi cuplikan yang sudah terekam jelas di dalam ingatannya, kenangan yang sukar untuk dilupakan.
"Ada tabrakan, kami tidak melihatnya, tapi–" Pemuda itu menarik nafas panjang, membiarkan kedua sahabatnya mencerna apa yang sudah terjadi. "Halilintar mendengarnya dengan sangat jelas."
Ying menatap Fang dengan menutup mulut dengan kedua tangannya. "Hanya mendengar?!" Lalu kemudian pandangannya beralih pada pemuda yang masih terbaring belum sadarkan diri. "Apa sudah separah itu?!"
Fang menutup matanya, pikirannya kembali berkecamuk. Dia memang menyebutkan dirinya sebagai rival pemuda itu, dia memang sering kesal dengan pemuda itu, tapi dia tidak tahan bila melihat keadaan Halilintar seperti ini. Dia tetaplah sahabatnya, dia tahu dimana harus membatasi dirinya.
"Yaya, kita harus membawa Halilintar pulang." Ying mencoba mengusulkan jalan keluar.
Gadis berjilbab merah muda itu, Yaya, dia masih termenung. Lembaran kejadian itu sudah berhenti berputar karena teguran dari sahabat perempuannya. Kejadian masa lalu yang membuatnya teringat rasa sakit yang dirasakan Halilintar. Sesuatu yang membuatnya tidak tahan melihat kekasihnya menderita, yang sudah merubah kepribadiannya menjadi seperti sekarang.
Tangan kecilnya memegang pelan jari besar milik pemuda itu lalu perlahan tangannya merambat memegang telapak tangannya dengan penuh. Tangan itu dingin, sedingin hatinya sekarang. Kapan penderitaanmu berakhir, Hali? Batin gadis itu lirih.
Kemudian kelopak mata Halilintar bergerak cepat, tanda bahwa mata itu sudah ingin terbuka, tanda bahwa jiwanya sudah ingin kembali pada raganya. Yaya melihat itu, tapi enggan memberitahukan pada sahabatnya yang lain, dia ingin memastikan Halilintar mendapatkan udara leluasa lebih dulu.
"Hali?" Bisik Yaya.
Halilintar perlahan menangkap visual seorang gadis berkerudung merah muda, seperti slow motion, dia membuka matanya, retinanya perlahan bisa menangkap setiap cahaya baru yang masuk dalam penglihatannya. Cahaya itu berubah menjadi warna dan mulai berbentuk menjadi sesuatu benda yang berada disekitarnya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk bisa mendapatkan penglihatan yang lebih baik.
"Hali?" Gadis itu memanggil sekali lagi.
Kali ini kedua sahabat yang ada dibelakangnya sadar dengan terbangunnya Halilintar. Mereka segera ingin beranjak dari posisi mereka sampai Yaya mengulurkan tangannya, melarang mereka untuk berjalan lebih dekat.
"Aku–"
"Jangan bicara dulu!" Yaya memotong kalimatnya lalu mencoba untuk membantunya duduk diatas ranjang. "Kau harus menenangkan dirimu dulu."
Pemuda itu langsung menutup mulutnya. Dia kembali menatap langit - langit putih yang ada diruang UKS lalu kembali menunduk seraya memegang kepala dengan sebelah tangannya.
"Dia sudah bangun?" Ibu Mai, guru UKS masuk kedalam ruangan. Membuat ketiga remaja itu sedikit terkejut dengan suara asing yang tiba - tiba masuk dalam lingkaran mereka saat itu dan secara otomatis mereka langsung menjauh dari ranjang Halilintar agar wanita itu bisa memeriksa keadaan Halilintar dengan leluasa.
"Baru saja." Fang mencoba menjawab.
Guru Mai menangguk kemudian memeriksa keadaan Halilintar sebentar, lalu dia terdiam untuk menyusun katanya kepada pemuda yang ada didepannya.
"Kau sebaiknya pulang saja."
"Tidak." Jawab Halilintar singkat dan cepat. Dia sudah tahu kalau dia akan diperintahkan seperti itu.
"Kesehatanmu tid–"
"Aku yang tau keadaan diriku sendiri." Potong Halilintar, dia berusaha untuk menjaga nadanya agar tidak terdengar kesal. Bagaimanapun juga dia sedang berhadapan dengan guru, seseorang yang sepatutnya tidak menjadi sasaran kemarahannya sendiri.
Yaya menghela nafas, Fang memutar matanya sedangkan Ying mendengus kesal dengan sikap sahabat mereka yang keras kepala ini.
"Hey! Kau jangan sok kuat lah!" Suara Ying membahana di ruang UKS. "Kau jangan berpura - pura tangguh seperti superman!"
Halilintar menahan dirinya untuk tidak merotasikan matanya namun dia tetap membalas ucapan dari gadis cina itu. "Aku memang baik - baik saja, kalian saja yang terlalu berlebihan."
"Halilintar, kau coba jangan egois kali ini." Fang membujuknya dengan nada tenang.
Halilintar tidak menjawabnya. Begitu juga dengan guru Mai, wanita itu membiarkan mereka bertiga untuk bisa membujuk pemuda bertopi merah hitam itu.
"Kau tahu kalau kami tidak mengenalmu hanya dalam beberapa hari saja, Halilintar." Kali ini Yaya mulai bersuara. "Kau mengalami itu tidak sekali atau dua kali, dan kami sudah mengenalmu dengan cukup baik saat itu bahkan kami selalu berada didekatmu saat kau–."
"Kalian memang mengenalku." Halilintar menjawab cepat. "Tapi kalian tidak tahu keadaan badanku, hanya aku yang tahu dengan kondisi badanku."
"Sudah kubilang kami pernah berhadapan dengan kondisimu seperti sekarang!" Kali ini Yaya mulai berteriak. Emosi yang sudah dia kontrol beberapa menit yang lalu sudah pecah berkeping - keping dengan sikap egois Halilintar yang membuatnya kesal.
"Dan kau tahu seberapa parahnya keadaanmu saat itu!" Entah sejak kapan air mata gadis itu mulai bermuara, tapi dia terlalu lelah untuk menyadarinya. "Kau terus mengatakan kalau kau baik - baik saja, tapi kami tahu kalau kau sebenarnya tidak baik - baik saja! Sebenarnya kami tahu tentang dirimu melebihi dirimu sendiri! Berhentilah untuk berbohong pada dirimu sendiri, bodoh! Kau tidak tahu betapa lelahnya kami dengan semua drama yang kau mainkan!"
Semua orang yang ada diruangan itu terkejut, tidak terkecuali Halilintar, dia tidak menyangka kalau Yaya akan menumpahkan semua emosinya saat ini, disini, kepadanya.
"Kau selalu mengatakan kalau kau selalu kuat, kuat dan kuat, padahal kau sendiri tidak tahu dimana batas dari kemampuan tubuhmu itu, kau memang kuat fisik, tapi hati dan pikiranmu–" Yaya menghapus air matanya dengan pungggung tangannya. "Kau masih seorang bocah yang sedang mencari jalan keluar dari kegelapan yang sudah menyesatkanmu!"
Kedua sahabatnya yang lain, Ying dan Fang hanya membeku mendengar semua penuturan itu. Sedangkan Halilintar, menurutnya semua kalimat Yaya seperti tamparan keras bertubi - tubi yang diarahkan kepadanya, terlalu keras dan menyakitkan.
Ruangan itu menjadi hening. Hening, tidak ada yang ingin bersuara. Hanya terdengar suara isakan Yaya yang mendominasi. Tidak ada yang berani menghiburnya, tidak ada yang ingin menyela tangisannya.
Sadar dengan suasana canggung yang sudah dia buat, Yaya kembali menghapus air matanya dengan cepat, lalu reflek kakinya melangkah keluar dari ruang UKS tanpa sepatah katapun. Meninggalkan tiga sahabat yang masih termangu dengan apa yang sudah terjadi, dan seorang guru UKS yang telah menyaksikan drama menyedihkan itu.
(***)
"Aku akan menyusulnya."
"Jangan ganggu dia. Biarkan Yaya sendiri lebih dulu."
"Tapi dia keluar dengan perasaan kalut, aku khawatir dia sudah melakukan sesuatu yang diluar kehendaknya."
"Yaya gadis yang dewasa, Fang. Aku yakin dia sudah bisa membedakan mana yang harus dan tidak harus dilakukannya."
"Sudah kubilang dia keluar dengan perasaan kalut, dia sedang gelisah, Ying. Aku ragu orang yang gelisah akan menggunakan kerasionalannya dalam mengambil keputusan."
Ying terdiam, dalam hatinya dia menimbang, hatinya kini sedang memiliki pecahan pendapat yang tidak seragam, satu sisi dia ingin membiarkan Yaya sendiri dan membiarkan gadis itu tenang terlebih dulu, tapi sisi yang lain dia membenarkan perkataan Fang, dia khawatir Yaya akan melakukan sesuatu yang sembrono, dan sisi yang lain dia sebenarnya tidak ingin Fang yang menyusul Yaya, entah kenapa, kerasionalannya tidak bermain sehat saat ini, tapi hatinya mengatakan, akan ada sesuatu yang salah bila dia mengizinkan pemuda berambut raven itu menyusul sahabat perempuannya.
"Baiklah." Kata Ying akhirnya lalu menyingkir dari pintu, membiarkan kekasihnya untuk lewat dan menyusul sahabat berkerudung merah muda mereka.
Fang memberikan kekasihnya senyuman kecil sebelum mengecup keningnya lalu beranjak keluar melalui pintu ruang UKS.
Ying kosong menatap pintu UKS yang sudah tertutup. Itu hanya perasaanku saja, kan?
(***)
Yaya berlari kecil setelah menjauh dari ruang UKS dengan wajah yang berantakan, dia tahu itu. Dia merasakan hatinya juga hancur, sebenarnya dia sudah merasakan keretakkan hatinya ketika dia mendengar Halilintar kambuh, Semuanya terasa terulang. Sakit itu kembali. Mimpi buruk itu datang lagi. Kata - kata itu terus berputar dan menjadi slogan dalam otaknya. Dia mencoba untuk menghapuskannya, atau dia hanya akan menenggelamkan dirinya sendiri pada genangan yang akan membunuh dirinya sendiri, Secara psikologisnya. Tapi semuanya sudah menempel secara permanen dan sulit untuk dilepas, semakin dia berharap untuk melupakannya, hal itu kerap kembali dalam ingatannya. Hatinya sakit, kepalanya berputar, dia sudah seperti ingin pingsan.
Saat itu jam pelajaran sudah dimulai, Yaya sebenarnya merupakan tipe siswa yang membenci kegiatan membolos, tapi Yaya juga enggan untuk kembali ke kelasnya dengan keadaan yang seperti ini, dan tanpa sadar kakinya sudah melangkahkan dirinya pada halaman belakang sekolah, dia menyandarkan dirinya sendiri di dinding gedung besar itu. Hawa dingin yang terkandung pada dinding itu mengalir dan masuk kedalam sendi - sendi tulangnya, sehingga membekukan fisiknya, saat itu juga dia merasa seperti diambungkan ke langit yang tinggi sampai kemudian dia dihempaskan begitu saja tanpa perasaan. Dirinya hancur, kembali hancur.
"Aku akan menerimanya."
"Tidak! Kau tidak boleh begini, Yaya!"
"Tapi dia hanya akan merasakan sakit yang berkepanjangan, dia sahabat yang kusayangi, aku tidak bisa membiarkannya seperti ini."
"Kita bisa mencari jalan keluar yang lain."
"Tidak ada, tidak ada yang bisa menyembuhkannya untuk saat ini selain aku, dia membutuhkanku saat ini."
"Aku masih yakin kita bisa–"
"Kau tahu kalau aku mencintaimu."
"Aku tahu, tapi–"
"Kumohon, kau tahu dia sedang terpuruk sekarang."
"Yaya!"
(***)
Setelah pintu UKS kembali tertutup dengan keluarnya Fang beberapa waktu yang lalu, membuat suasana di ruangan tersebut kembali diselimuti atmosfer kecanggungan. Tidak satu pun dari ketiga orang itu ingin memulai pembicaraan. Mereka masih terdiam dalam pikirannya masing - masing. Kejadian beberapa menit yang lalu terlalu tiba - tiba untuk mereka bisa sadari dan mereka cegah.
Kemudian guru Mai mulai berdeham untuk memecah atmosfer kesunyian itu sebelum akhirnya dia mulai angkat bicara. "Mungkin aku akan membiarkan kalian berdua disini untuk mendiskusikan drama yang sudah kalian mainkan, ibu akan meminta izin kepada guru piket agar kalian tidak mengikuti jam pelajaran saat ini." Kalimat itu terdengar sarkastik, mereka berdua tahu itu, tapi mereka lebih memilih untuk membiarkannya.
"Ying, kau tolong tetap disini, dan jaga pemuda ini." Ucap guru Mai sebelum berjalan keluar dari ruang UKS dengan membiarkan kedua remaja itu tetap berada didalam ruang UKS.
"Bahkan ibu Mai pun muak dengan semua ini." Ying mencoba untuk membuka pembicaraan dengan pemuda dingin yang ada dihadapannya setelah pintu UKS tertutup beberapa menit yang lalu.
Halilintar hanya terdiam, dia sedang enggan untuk mengekspresikan dirinya dengan kalimat.
"Halilintar, kau tidak sadar dengan kalimat sarkastik ibu Mai?"
Pemuda bertopi merah hitam itu masih enggan untuk menjawab, dia tetap membiarkan dirinya untuk tenggelam pada pikirannya sendiri.
"Kau memang sudah keterlaluan." Ying menghela nafas. "Dan kau pasti terlalu bodoh kalau kau tidak menyadarinya."
"Itu bukan urusanmu." Kalimat pemuda itu dingin dan tidak berekspresi.
"Tidak mungkin kalau itu bukan urusanku."
"Kau sebenarnya tidak punya hak."
"Tolonglah, Halilintar." Ying memutar matanya.
"Sebenarnya bukan hanya kau yang terlalu ikut campur." Halilintar menatap gadis itu dengan dingin. Tapi Ying sudah terbiasa dengan tatapan itu, dia hanya membalas menatap pemuda itu datar dan tidak kalah tidak berperasaannya. "Kalian bertiga terlalu ikut campur dengan urusanku."
"Oh yeah? Jadi sampai Yaya pun tidak punya hak untuk ikut campur?" Kata Ying tajam. "Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Yaya? Apa kau belum sadar dengan semua isi perasaan yang sudah Yaya lontarkan padamu beberapa waktu yang lalu? Beberapa menit yang lalu? Ayolah Halilintar, kupikir kau seharusnya lebih pintar lagi dari ini." Ying menyelesaikan kalimatnya sampai diujung nafasnya. Dia terlalu kesal dengan sahabat yang ada didepannya ini.
Halilintar hanya diam, tidak ingin menjawab pertanyaan maupun kalimat pedas itu. Sebenarnya perasaannya sudah terlanjur membeku dengan tamparan dari kalimat Yaya tadi.
"Kau selalu mengatakan pada Yaya kalau dia terlalu mementingkan dirinya sendiri, kau selalu mengatakan padanya untuk bisa egois sesekali, tapi nyatanya, kau sendiri tidak pernah egois pada dirimu sendiri, Hali." Kata Ying lagi, dia terus menjaga nadanya agar tidak terlalu terbawa emosi seperti Yaya dan Halilintar. Harus ada yang bersikap dewasa disini, pikirnya.
"Aku hanya tidak ingin menjadi beban baginya." Kata Halilintar lirih. Dia teringat ketika seorang malaikat sudah menariknya dari gumpalan kegelapan yang sudah mengurungnya selama beberapa bulan. Kemudian ada rasa nyeri mulai muncul pada kepalanya. Dia memegang kepalanya dengan kedua tangan, kenangan itu kembali menyeruak, memberontak ingin dibuka kembali. Ying yang melihat itu membesarkan kedua matanya lalu langsung berjalan cepat menghampiri sahabatnya.
"Hali?!" Ying bertanya panik, dia memegang kedua tangan Halilintar yang sedang meremas rambutnya kuat. "Ka-kau–"
"A-aku tidak apa - apa." Kata Halilintar terengah - engah seraya mulai mengendurkan cengkraman tangannya yang ada di kepalanya sendiri. Kemudian perlahan dia memegang kedua tangan Ying lalu menurunkannya perlahan.
"Aku terlalu lemah, tapi aku tidak ingin menunjukkannya." Halilintar tersenyum pahit. "Aku muak dengan tatapan kasihan yang diberikan semua orang kepadaku."
Ying menghela nafas lalu melepaskan kedua tangannya dari pegangan pemuda itu, dia mulai menangkup kedua pipi Halilintar. "Kau tidak lemah, bodoh, kau hanya tidak memberikan dirimu sendiri kesempatan untuk bisa mengeksplor apa yang ada dalam hatimu dan apa sebenarnya kehendak hatimu."
Ying dapat melihat kedua bulatan mata hitam itu memancarkan kekhawatiran, kesakitan dan ketakutan. Dia benci melihat Halilintar seperti ini. Dia tidak ingin melihat sahabatnya yang selalu membuatnya marah ini kini malah berbalik membuatnya menangis.
Halilintar menepis tangan Ying pelan. Dia kembali menunduk, mencoba untuk merangkaikan kata - katanya.
"Hubunganku dan Yaya itu sebenarnya terbentuk karena kesalahan skenario." Halilintar menutup matanya, dahinya mengerinyit mencoba untuk menahan sakit karena kenyataan yang terlalu pahit. "Karena hubungan kami didasari dengan hanya aku yang mencintainya."
(***)
Yaya mengangkat wajahnya, dia menangkap sosok pemuda berambut raven yang kini sudah berlutut didepannya. Mata gadis itu sangat sembab, akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata. Pemuda itu langsung menarik kuat sosok gadis itu kedalam pelukannya. Awalnya dia mengira kalau gadis itu akan meronta, namun ternyata gadis itu hanya membiarkan sikapnya, dia membiarkan dirinya nyaman dalam tubuh bidang sahabatnya dengan membiarkan seragam pemuda itu basah oleh tangisan si gadis berkerudung.
"Kau jadi sering menangis akhir - akhir ini." Ucap pemuda itu lembut setelah dia melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata gadis itu dengan satu ibu jarinya. Yaya membiarkan jari pemuda itu berada diwajahnya, tapi dia juga enggan untuk menjawab. Fang tertawa kecil. "Padahal dengan begini, aku sudah terbebas dari semua janji kita, karena kau sudah terlebih dulu melanggarnya."
"Ke-kenapa k-kau di-disini, F-Fang?" Yaya bertanya sesegukkan. Dia belum bisa mengendalikan suaranya sendiri. Tapi dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan awal mereka.
"Aku mengkhawatirkanmu, bodoh."
"Ta-tapi, Yi-Ying?"
"Pikirkan dirimu sendiri dulu." Sanggah Fang. "Sekarang kau yang harus menenangkan dirimu."
Yaya termenung, dia menatap kosong kedepan. "Ada apa denganku?"
Fang terdiam sebentar lalu menjawab pelan. "Kau hanya bukan dirimu sendiri saat ini, kau hanya seseorang yang membiarkan semua emosinya keluar saat bendungan emosimu sudah tidak kuat untuk menahannya."
"Kenapa aku membentaknya? Padahal dia tidak salah, dia–" Yaya seperti tidak mendengar penuturan Fang barusan, dia seperti berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian pandangannya menjadi kosong. "–dia hanya tidak jujur kepada dirinya sendiri, aku tahu dia tidak ingin membuat kita khawatir, tapi kenyataannya, dia malah membuat kita khawatir dengan ketidak peduliannya itu, dia hanya sok kuat, sok dewasa dan sok dingin. Dan semua sikapnya itu sudah kelewatan."
Fang hanya diam. Dia tahu Yaya hanya sedang ingin mencurahkan semua emosinya yang tersisa, dan dia butuh seseorang untuk mendengarkannya.
"Dia seperti tidak merasa kalau kita selalu mengawasinya dari belakang agar dia tidak jatuh, tapi dia itu seolah - olah tidak ingin kita awasi, dia tidak ingin kita menganggapnya lemah, dia tidak ingin kita membantunya, padahal berdiri saja dia masih harus dibopong olehmu." Yaya mengeluarkan tawa kecil. "Dia itu sebenarnya sedang sekarat."
Fang mengambil satu tangan gadis itu, Yaya tidak merubah ekspresi kosongnya, tapi Fang tahu kalau gadis itu masih bisa mendengarnya. "Kau–" Fang menghela nafas, sebenarnya terlalu takut untuk menanyakan hal ini kepada gadis didepannya. "–sudah mencintainya?"
Seketika tatapan Yaya kembali seperti semula, bedanya, kali ini ada sinar tidak biasa pada matanya. Sinar yang selama ini hilang selama beberapa tahun. Dan Fang semakin takut dengan jawaban yang akan keluar dari mulut gadis itu.
"Sepertinya–" Yaya tidak bisa melanjutkan kata – katanya, dia terlalu bingung untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang, dia menarik tangannya dari genggaman Fang lalu kembali membenamkan wajahnya dalam lututnya lagi. "–entahlah! Semuanya terlalu rumit, Fang."
Fang kembali terdiam. Dia mencoba menarik nafas dengan udara yang sudah terasa keruh baginya. Dia mungkin sudah gila sekarang jika saja dia tidak membiarkan akal sehatnya terus bermain dan mendominasi. Tapi tetap saja jiwanya seperti tersedot kedalam lubang hitam. Tiba - tiba dia merasakan dirinya menjadi lelah, bahkan terluka.
"Yaya." Pemuda itu menarik gadis rapuh yang ada didepannya ke dalam pelukannya lagi, tidak seperti pelukan sebelumnya, dia memperkuat pelukannya ketika menyadari rontaan dari gadis itu yang berusaha untuk mendorongnya menjauh, tapi dia tetap teguh mempertahankan gadis itu dalam pelukannya, tidak mau lagi. Dia tidak ingin mengulang kesalahannya lagi.
"Aku masih mencintaimu, Yaya."
(***)
to be continued...
(***)
Author's Note
Halo! Balik lagi bersama Feemort disini yang telah menghidangkan readers semua dengan romance-angst yang sebenarnya GAGAL! Oh, ya ampun! Apa yang sudah aku tulis ini? Konflik macam apa ini? Maafkan ketidaknyamanan dari chapter ini, gegara file chapter ini kehapus dan saya harus menulis ulang lagi, jadinya seperti ini deh, ditambah lagi, semakin kesini, chapternya semakin pendek. Good Gawd, =,=
Oke cukup curcolnya, balik ke cerita, chapter ini di ending dengan crack-pair Fang-Yaya dan mungkin bakalan ada muncul crack-pair dari Hali-Ying nanti. Yuhuu long life crack-pair! #lembarkonfetti #dibekap
Oke, aku kasih gambaran deh sama perasaan mereka buat yang masih kurang paham. Yaya sebenarnya masih bingung dengan perasaannya sama Hali dan Fang, dia suka sama Fang tapi disatu sisi rasa suka dia sama Hali udah tumbuh. Gitu juga sama Fang, tapi Fang lebih memantapin hatinya kalau dia masih suka sama Yaya, tapi dia gak sadar kalau dia tuh sudah cinta banget sama Ying, terus Hali, berdasarkan profilenya, dia udah sadar Yaya gak suka sama dia, tapi Hali tetap bertahan, dan lama kelamaan dia mulai membatasi dirinya buat suka sama si Yaya, and last but not least, Ying! Entah kenapa, aku suka sama karakter Ying disini, dia dewasa banget, dia udah tau sebenarnya kalau Fang itu ada rasa sama Yaya, tapi Ying mencoba bersikap dewasa dan tetap ngebiarin Fang buat nyusul Yaya T.T dan hubungan tentang Ying-Hali? Kita liat nanti, karena author lagi males ngasih tau #ditimpuksandalramerame
Nah, segitu dulu deh penggambaran singkat tentang karakter dicerita ini, emang rada gaje sih, tapi begitulah ceritanya XD
Dan karena chapter ini terupdate dengan cepat, itu artinya chapter depan bakalan diupdate terlambat #ditendangkepelosok Maafkan saya, tapi tugas saya kali ini harus menjadi nomer satu dulu, setelah semuanya selesai, ntar diusahain buat update lagi deh :D
Banyak maaf ya untuk ketidak nyamanan ini, banyak makasih juga buat yang sudah mau rela baca rongsokan ini(:
-Feemort
