Serendipity

.

.

.

Cast:

Park Jimin

Min Yoonji

Jung Hoseok

.

.

Semuanya hanyalah kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan, sekaligus membahagiakan. Atau mungkin saja ini adalah jalan berbatu yang telah di tentukan oleh takdir? Jalan berbatu yang menyakitkan telapak kaki, tapi ditemani oleh pemandangan indah yang menyejukkan mata.

.

.

FF ini hanyalah FF dengan chapter2 pendek, yang terinspirasi dari teaser Jimin - Serendipity. Dan juga highlight reel love yourself. Ditambah oleh teori-teori seabrek dari ARMY yang sangat kreatif. Jadilah gw membuat sebuah ff dengan short chapter dari bahan2 tersebut. Tolong jangan sambungkan dengan teori, gw sendiri suka gagal paham dengan teori mereka. Jadi gw cuma mengarang bebas dengan menambah dari teaser, highlight, ataupun teori.

Disclaimer: cerita milik saya, V milik saya(?) BTS milik BIGHIT, orang tua mereka, dan juga Tuhan yang menciptakan mereka.

Happy reading

.

.

.

I am still the same person I was before

I am here, the same person I was from before, but

An overgrown lie is trying to swallow me whole

.

.

.

Jimin kecil dan hingga remaja, ia selalu tersenyum dengan ceria. Selalu tidak sabaran untuk pulang ke rumah, untuk melihat senyum hangat dari ibunya. Melihat sang ayah yang duduk menonton berita di televisi. Meski di dalam hatinya, Jimin tahu semua itu palsu.Melupakan kenyataan yang terjadi, dan selalu menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.

Jimin tidak memiliki teman, meski ia selalu tersenyum ramah. Cap anak haram sudah melekat padanya sejak kecil, meski ia memiliki ibu dan ayah yang menunggu dirumahnya.

Meski ia selalu menyapa dengan ramah, pandangan jijik dan mengejek selalu ia dapatkan begitu ia masuk kedalam kelas di pagi hari.

Jimin tidak peduli terhadap pandangan orang padanya. Yang ia tahu, ia bahagia dengan ibu dan ayahnya. Yang ia tahu, mereka sayang padanya.

Meski ia terus mendengar suara teriakan dan barang terbanting di malam hari. Jimin akan berpura-pura tidak mendengar itu.

Hingga Jimin remaja, kedua orang tuanya pergi meninggalkannya. Ibu nya pergi menemui sang maha kuasa, tak sanggup menjalani beban hidup. Sang ayah pergi membuka lembaran baru, meninggalkannya sendirian.

Garis-garis tak beraturan melekat di lengan putihnya. Selalu memberikan sebuah garis baru jika teman-temannya mulai menyakitinya.

Membuat garis baru ketika ia mendengar suara teriakan orang tuanya di malam hari. Dan memberikan banyak garis, ketika ia menemukan sang ibu dengan senyuman terbujur kaku di atas kasurnya.

Tidak heran jika koleksi baju yang Jimin punya saat itu, lebih banyak berlengan panjang. Menutupi semua luka-luka kebanggaannya. Lebih memilih memakai kemeja seragam musim dingin berlengan panjang, dibandingkan seragam musim panas berlengan pendek. Meski cuaca sangat terik saat itu.

Dan Jimin tidak pernah merasakan sakit ketika membuat luka, karena sakit di hatinya lebih sakit dari sebuah goresan tajam di lengannya.

.

.

.

Hoseok terbangun lebih awal hari ini. Menikmati secangkir kopi hangat di ruang tengah. Pandangannya mengarah kearah Jimin yang baru saja keluar dari kamarnya. Sambil mengatur kerapian rambutnya dengan kedua tangannya.

"Hyung, tumben sekali kau sudah bangun," ujar Jimin sambil berdiri di depan cermin yang menggantung di dinding.

"Cuma sedang ingin saja."

"Oh. Aku berangkat duluan hyung," ujar Jimin sambil meraih topi putih miliknya, dan memakainya.

Hoseok hendak mengangguk, tapi matanya melihat baju yang Jimin pakai. Setahunya Jimin sudah tidak pernah memakai lengan panjang di saat musim panas, sejak semua bekas lukanya menjadi samar di tangannya.

Hoseok menyimpan cangkir kopinya di meja, lalu melangkah mendekati Jimin yang sedang membuka lemari sepat di dekat pintu. Ia meraih tangan kiri Jimin, membuat Jimin kaget dan langsung menepis tangan Hoseok.

"Kenapa hyung?"

Hoseok meraih tangan kiri Jimin lagi, lalu menurunkan lengan bajunya hingga batas sikunya. Terlihat empat garis kemerahan dengan panjang tidak beraturan di lengannya. Hoseok menarik Jimin dengan keras dan menyuruhnya duduk di kursi. Begitu Jimin duduk, Hoseok langsung mengambil kotak obat lalu duduk menghadap Jimin.

"Kenapa kau melakukan ini lagi?" tanya Hoseok sambil membuka tutup botol alkohol dan membasahi kapas dengan alkohol. Lalu ia membersihkan luka Jimin dengan alkohol. Tapi anehnya, tidak terdengar suara ringisan dari bibir Jimin.

"Apa ada yang menyakitmu lagi? Cerita ke hyung, biar hyung hukum mereka yang sudah menyakitimu," ujar Hoseok lagi. Sambil menempelkan kapas yang telah dibasahi oleh obat luka, di lengan Jimin.

Jimin menggeleng pelan, "dia bukan orang yang bisa hyung hukum."

Hoseok melilitkan perban dilengan Jimin, "apa dia anak pejabat? Atau dia seorang polisi? Petinggi negara? Tidak apa, hyung tetap akan menghukum mereka."

"Tidak perlu di pikirkan hyung. Aku tidak akan melakukannya lagi," --aku tidak janji.

Hoseok merekatkan plester kecil untuk mengeratkan perban, "baiklah. Hyung tidak ingin melihat luka baru lagi di lenganmu. Kau selalu bisa bercerita pada hyung, Chim."

"Terima kasih, hyung."

.

.

.

Hoseok menghampiri Yoonji yang sedang sibuk menata bunga-bunga di teras toko bunga. Sambil tersenyum, mengucapkan salam hangat untuk Yoonji, yang dibalas dengan senyuman.

"Sedang banyak pikiran?" tanya Yoonji saat melihat raut Hoseok yang sedikit murung, berbeda dengan biasanya. Karena Yoonji selalu menganggap Hoseok seperti matahari di musim semi, sangat hangat dan penuh senyuman.

"Sedikit," jawab Hoseok sambil terkekeh pelan.

"Semuanya pasti akan membaik, masalah apapun yang sedang kau hadapi sekarang. Sudah sarapan?"

Hoseok menggeleng sambil memberikan sekotak makanan yang baru saja ia beli sebelum menemui Yoonji, "mau sarapan bersama? Aku membeli kimbap."

.

Maybe it's the providence of the universe

.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap dengan pandangan kosong dan datar miliknya, ke arah toko bunga yang sedang menjadi tempat Hoseok dan berduaan. Jimin terkekeh kecil, sambil memegang lengan kirinya yang di lapisi perban.

"Aku menyedihkan sekali," gumam Jimin dengan nada datar.

'Ya, kau menyedihkan Jimin.'

'Seharusnya kau sudah mengajaknya berkenalan.'

'Bukan menatapnya dari jauh.'

"Kau benar, seharusnya aku tidak seperti ini. Aku bodoh sekali ya," ujar Jimin entah pada siapa.

Jimin tidak gila, tapi berbicara sendiri di tempat umum dapat membuat orang-orang berpikir dirimu gila. Jimin menghela nafasnya dengan gusar, memilih untuk bangun berdiri dari tempatnya duduk.

Tidak ingin berlama-lama melihat pemandangan yang menyakitkan. Memutuskan untuk langsung pergi melangkah, kemana kakinya berniat membawanya pergi. Bolos dari pekerjaannya, semoga Jimin tidak mendapat surat pemecatan keesokkan harinya.

.

.

.

I'm your calico cat, here to see you

.

.

.

T.B.C

Hampir saja file chapter ini hilang saat sedang mengetik di ponsel. Tiba-tiba saja ponselku mendadak error LoL... Setidaknya msih bsa di selamatkan.

And, thanks udah membaca karya ini.