⨹Yellow Moon⨻
By InachisIO
.
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Pairing : MadaHina…
Warning : crack pairing, sedikit OOC, AU, maybe Typo…
Don't Like Don't Read…
Chapter 4
By YOUR SIDE (Familiar in a Strange Way)
When you cry, it's ok because
I'm besides you
The nights we are separated, it's ok because
I'll also be by your side
Because I'll be by your side
— Soba ni Iru Kara (Amadori)—
Jika kau bertanya pada Hinata mengenai mimpi apa yang paling ia ingat pasti ia akan menjawab mimpi bersama keluarganya —Otou-san, Oka-san, dan Hanabi— yang tengah menghabiskan waktu bersama di festival hanami. Panorama pohon sakura dengan bunga-bunga pinknya yang mekar memenuhi ranting hingga dahan tergambar jelas di dalam mimpinya. Candaan serta senyum kebahagiaan juga tergambar jelas di wajah mereka. Suasana yang ramai berdengung di telinganya. Hinata bahkan tak tau jika masakan yang dibuat oleh Oka-san bisa terasa begitu lezat di dalam mimpinya.
Namun ada saat-saat dimana ia tak begitu ingat mimpi yang dialaminya, tapi hal itu jarang terjadi. Hinata juga punya imajinasi yang bagus, tapi jarang ia manfaatkan. Mungkin karena hal itulah otak tak sadarnya sering membuat gambaran-gambaran yang akan tersiar begitu ia terlelap. Seperti sekarang ini…
Jantung Hinata seakan berhenti berdetak manakala mata putih miliknya menangkap pemandangan yang sangat asing. Kabut yang tadi menyelimuti tubuhnya perlahan-lahan memudar seiring dengan sinar matahari yang menerobos dari balik ranting-ranting pohon. Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan. Dimanapun ia berada sekarang, yang pasti tempat itu sangatlah indah. Sebuah pohon besar yang tak ia ketahui namanya berdiri kokoh di belakangnya. Lautan bunga dengan warna-warni yang alami menghiasi tanah luas di sekelilingnya, begitu luas sekali hingga seolah-olah tak berujung. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam pikirannya, terselip diantaranya kekaguman pada tempat yang tak ia ketahui namanya itu.
Hinata mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mencari sesuatu yang ia kenali. Entahlah ia merasa ada sesuatu yang familiar namun pada saat yang sama terasa asing. Dan sayangnya Hinata tak tau apa itu. Apakah mengenakan yukata bisa dihitung sebagai hal yang familiar? Mungkin… tapi Hinata tetap memilih untuk memasukkannya kedalam familiar list yang ia buat. Terkadang melakukan hal-hal yang kurang perlu sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini.
Sementara familiar list-nya baru terisi sebuah, Hinata hampir tak ingat lagi berapa jumlah hal-hal asing yang telah ia daftar di tempat itu saking banyaknya. Astaga! ia bisa pusing jika memikirkannya terus. Ini semua bahkan belum tentu kenyataan, bahkan mungkin ini adalah salah satu mimpi indah yang jarang ia rasakan. Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk sedikit menikmatinya bukan?
Seperti seorang anak kecil dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, Hinata bangkit dan memutuskan untuk sedikit berkeliling ditempat indah tak berpenghuni itu. Ia sempat berfikir untuk mengambil beberapa kuntum bunga yang belum pernah ia lihat untuk kemudian ia bawa pulang dan ia tanam di kebun. Tapi cukuplah ia menjadi seorang penikmat saja. Ia tak ingin menjadi penculik yang memisahkan bunga-bunga itu dari koleganya. Mungkin mereka akan terlihat lebih cantik di sana, di tempat khusus yang Kami-sama anugerahkan.
"Tempat yang indah untuk bunga yang indah pula." Hinata tersenyum, entah mengapa kalimat itu terasa familiar namun disaat yang sama juga terdengar asing.
Namun senyum manisnya berubah masam di saat ia sadar bahwa ia seorang diri di tempat indah tanpa nama itu. Hinata merasa lebih sendirian dari yang sudah-sudah. Hampir ia tak merasakan air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya. Apa gunanya tempat indah itu jika ia hanya sendirian disana, tak ada seorangpun yang bisa ia ajak untuk berbagi rasa. Lelehan air mata membasahi wajahnya. Jika Hinata bisa meminta…
Ia ingin seseorang menemaninya disana.
.
.
.
Bagi seseorang yang tak begitu familiar dengan hal abstrak bernama perasaan Madara merasa cukup senang. Bukankah itu hal yang aneh, lelaki sejenius Madara harusnya mudah menafsirkan apa itu perasaan. Tekadang banyak yang bilang bahwa lelaki itu kurang peka. Tapi haruskah sedemikian lamanya bagi Madara menafsirkan perasaannya pada Hinata. Lima tahun bukanlah waktu yang sedikit bagi makhluk mortal seperti manusia. Ia bukanlah orang yang percaya pada kata 'pelan tapi pasti'. Ia justru lebih percaya bahwa 'waktu adalah uang'.
Tertidur selama tujuh jam adalah sebuah pencapaian baru bagi Madara. Selama hidupnya tak pernah ia tidur selama dan senyenyak hari ini. Mungkin ia pernah, saat kecil, tapi ingatan itu telah terkubur dikedalaman yang mustahil ia capai. Ia sudah terbiasa dengan insomnia yang selalu mengusik tidurnya.
Namun semuanya harus berakhir manakala tidurnya terusik oleh kealpaan gadis Hyuga yang menjadi obat bagi insomnia akut yang diderita olehnya. Tangannya mencari dan mencari namun kosong, Hinata tak lagi dipelukannya. Kehangatan yang tadi membungkusnya seperti sebuah kepompong lenyap. Dan bagaikan hukum aksi reaksi, Madara seketika itu menemukan kembali kesadarannya.
"Hinata…" Panggilnya lirih. Inilah yang paling ia benci, terbangun dari tidurnya dan Hinata tak lagi di sampingnya. Ini bagaikan mimpi buruk yang membuatnya betah untuk tak tidur.
"Hinata…" Panggilnya lagi, namun tak ada jawaban. Egonya tak membiarkannya untuk khawatir, ia percaya Hinata tak akan pernah berani meninggalkannya dan semua itu terjawab ketika ia menangkap silhouette Hinata di antara keredupan kamarnya.
Jarum jam weker yang berdiri gagah diatas meja disamping ranjang memberi tahunya bahwa surya belumlah mau menampakkan diri di negeri matahari terbit itu. Tidur jelas tak akan bisa menawannya lagi dan memeluk Hinata adalah satu-satunya jalan untuk menenangkan hati –mungkin bukan hati tapi sesuatu yang lain yang tak ia ketahui nama– nya. Gadis Hyuga itu sepertinya tengah larut dalam pikiran yang Madara sendiri tak tahu apa. Ia hanya menyenderkan bahu di pintu kaca sambil mengamati punggung Hinata. Berdiri di balkon apartement dengan hanya mengenakan piyama tidur jelas bukanlah sesuatu yang menyehatkan. Udara malam di negara empat musim jelas sangat jauh berbeda dengan udara malam di negara yang hanya memiliki dua musim.
Tak ingin mengejutkan Hinata, ia memutuskan untuk menunggu… menunggu hingga Hinata berbalik dan menyapa kehadirannya. Ah, bukankah ini suatu kejutan? Seorang Uchiha Madara menunggu agar diperhatikan, jika awak media tahu ini akan jadi berita yang amat besar. Dan jika hal itu benar terjadi… maka semua orang akan tahu bahwa Hyuga Hinata punya pengaruh besar pada seorang Uchiha Madara.
Detik jam yang berganti menjadi menit tetap tak menggoyahkan Hinata yang tetap bergeming di tempatnya berdiri. Seperti biasa hanya Hinata seorang yang bisa mengacuhkan Madara, dan membuatnya… menyerah.
"Masuklah, udara di luar bisa membuatmu sakit." Ia sangat jarang menyuarakan kekhawatirannya, bahkan bisa dibilang tak pernah.
Sebagai seorang Uchiha yang telah lelah menunggu, Madara menghampiri Hinata dan melingkarkan lengannya di tubuh mungil Hinata sebagai sebuah usaha untuk melindungi Hinata dari dinginnya suhu udara. Madara menyandarkan pipinya d puncak kepala Hinata, ia harus sedikit menunduk untuk melakukannya. Well, tubuh Hinata memang terlihat mungil jika dibandingkan dengan tinggi Madara yang mencapai 5,7 kaki itu. Entah bagaimana cara kerjanya sehingga tubuhnya dan tubuh mungil Hinata terasa seperti sebuah puzzle, sangat pas di pelukannya. Ya, Hinata bagaikan sebuah kepingan yang ia temukan kembali setelah lama hilang.
.
.
.
Seperti melayang, itulah yang Hinata rasakan saat pertama kali ia membuka matanya. Ringan yang ia rasakan di kepala membuatnya kehilangan keseimbangan. Dunia terasa berputar namun disaat yang sama sebenarnya tidak. Astaga, ia merasa seperti baru saja berputar-putar sebanyak ribuan kali. Pening dikepalanya, anehnya tak terasa sakit sama sekali. Hinata mengangkat sebelah tangannya dan menaruhnya di atas kepala, seakan-akan hal itu bisa menghentikan kepalanya yang seolah-olah berputar.
Dan dengan sangat perlahan ia bangkit dari posisinya yang sebelumnya terlentang. Semua tenaga yang ia keluarkan menjadi tak berguna, tak berdaya melawan ribuan tangan tak nampak yang seakan menariknya kembali ke permukaan ranjang. Sesuatu yang lain yang terasa berat melingkar di perutnya, memasungnya agar tak berpindah tempat barang sedikitpun. Diantara minimnya cahaya yang masuk ke ruangan itu Hinata tak dapat melihatnya secara pasti benda apakah itu. Tapi, itu tak penting, ada hal lain yang lebih urgent…
Yang lain bisa menunggu. Yang ia butuhkan adalah kamar mandi, sekarang. Ya, ia tak bisa menunggu lagi.
Dengan kecepatan maksimum yang bisa ia keluarkan, Hinata bergerak ketepi ranjang tempatnya menghabiskan malam. Ia sedikit terhuyung bukan saja karena kepalanya yang berputar tapi juga karena seuah lengan kekar yang menahan perutnya. Hinata baru bisa melihat walau hanya samar-samar. Berat yang menahan perutnya tadi adalah milik sebuah lengan… lengan Madara Uchiha.
Di tengah-tengah perjalanan Hinata perlu bersandar beberapa kali, sampai akhirnya ia berhasil berdiri di depan westafel. Ia menunggu di sana. Hey, ada apa dengan tubuhnya, disaat ia merasa perlu mengeluarkan makanan yang ia cerna beberapa jam yang lalu, Hinata malah merasa ada sesuatu yang menutup saluran di lambungnya sehingga semua tertahan dan terkumpul di sana. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selama menunggu disana kecuali berdiri di tengah-tengah keheningan. Keringat dingin mulai muncul dari pori-pori kulitnya. Cahaya dari lampu kamar mandi sedikit menyakiti matanya manakala tangan putihnya menyibak rambut panjang miliknya yang sejak tadi terurai berantakan. Astaga, ia bahkan tak sadar akan hal itu. Well, terima kasih untuk cermin dihadapannya yang telah menunjukkan betapa berantakan penampilannya kali ini.
Sebenarnya, Hinata tak punya sedikitpun clue tentang apa yang tengah ia rasakan sekarang. Jika ia meminum minuman berakohol siang tadi, well apa yang ia rasakan saat ini sudah pasti hang over. Jika kondisinya jauh lebih baik dari sekarang Hinata pasti akan tertawa geli. Hang over untuk gadis yang bahkan tak pernah meminum minuman berakohol satu tetespun, bukankah itu lucu sekali. Ini adalah hal langka yang pertama kali ia rasakan, keadaan terburuk setelah bangun tidur. Bahkan saat terbangun dari mimpi burukpun ia tak pernah merasa seperti ini. Dan berbicara tentang mimpi membawa sedikit kilasan dari mimpi yang baru saja menghiasi tidurnya. Apakah karena mimpi itu ia jadi seperti ini sekarang? Ah, ia tak begitu yakin. Well, mimpinya tadi sama sekali tak mengandung kesan seram, hanya saja ada sesuatu yang membuatnya tak tenang dan itu membuatnya takut. Karena mual yang tadi ia rasakan berangsur-angsur mulai menghilang, mungkin mencari sedikit angin segar bisa membantunya menjernihkan pikiran.
Kaki Hinata yang terus melangkah membawanya keluar, cahaya hanya dapat menemaninya sampai di belakang pintu sebelum secara berkala—sesuai jarak yang terus diambilnya—meredup. Di antara temaram cahaya Hinata bisa melihat Madara yang terlihat tenang dalam tidurnya. Madara adalah tipikal orang yang sensitive dalam artian ia memiliki reflex yang bagus. Ia bahkan tak bergerak sama sekali saat Hinata menyentuh rambut hitam yang menutupi pipinya. Namun, semua itu seakan tak berarti di saat ia mendekat dan menemukan Madara yang terlihat vulnerable dalam tidurnya. Siapa yang mengira, Hinata tersenyum lembut melihatnya.
Hinata menyingkap gorden yang menutupi pintu kaca besar yang mengarah ke balkon. Ya, tempat itu ia rasa cukup tepat untuk sedikit menenangkan diri. Terpaan angin dingin seakan menyambutnya saat pintu kaca besar itu ia geser dari tempatnya semula membuat helaian rambut berwarna indigonya berkibar. Berdiri di lantai sepuluh kamar apartement membuatnya mendapatkan porsi angin yang lebih banyak. Dari balkon di lantai sepuluh itu Hinata dapat melihat dengan jelas seluruh pemandangan di kota Tokyo. Ia takjub melihat langit malam yang saat ini terlihat sangat indah, bintang-bintang berkelap-kelip seperti pixie dust di film 'Thinkerbell' dan bulan… bulan purnama yang bersinar dengan cahaya kekuning-kuningan, yellow moon…
Lagu favorit Hinata.
Oksigen yang Hinata hirup dalam-dalam terasa begitu melegakan paru-paru. Namun, senyawa berwujud gas itu tak mampu menerbangkan ingatan-ingatan akan mimpinya tadi justru ingatan-ingatan itu yang membawa pikirannya melayang jauh. Ia menatap langit malam tepat kearah bulan, namun pandangannya menerawang. Jauh di dalam sana Hinata mencoba menemukan kembali alur mimpinya dengan menyusun beberapa kejadian yang samar-samar ia ingat. Namun tetap saja sekeras apapun usahanya ia tetap tak mampu mendapatkan hasil yang utuh.
Gadis Hyuga itu menundukkan kepalanya dan secara pasti mengalihkan pandangannya, dari langit ke tempat dimana ia berpijak sekarang. Namun sebuah cahaya yang muncul dari balik piyama yang ia kenakan menarik perhatiannya. Saat ia mengeluarkan benda yang menggantung di lehernya itu ia bisa menyaksikannya sendiri dengan lebih jelas. Liontin mungil dan sederhana dengan bentuk yang mirip dengan simbol Yang—atau mungkin lebih ke Yin—yang ia dapat dari pekan raya seminggu yang lalu. Asap berwarna biru seolah-olah terperangkap di dalamnya memberikan kesan garis-garis biru yang tak beraturan jika dilihat dari luar. Tali yang terbuat dari tumbuhan terikat dengan rapi tepat di tempat dimana titik di simbol Yin atau Yang itu berada.
Hinata tak tahu jika liontin yang tengah ia kenakan kini dapat mengeluarkan cahaya. Hinata tersenyum 'Kalung yang indah.' Ujarnya dalam hati.. Ia tak berfikiran buruk tentang kalung itu, bahkan pada wanita yang tiba-tiba menghilang setelah memberikan memberikan liontin itu padanya. Tidak… tidak sama sekali. Setelah itu dengan perlahan cahaya yang keluar meredup dan akhirnya menghilang, meninggalkannya sendiri di tengah-tengah malam yang hanya disinari bulan dan bintang serta sedikit lampu kota si seberang sana. Hinata menyembunyikannya kembali di balik piyama yang terlalu besar yang ia pinjam dari Madara itu.
Meskipun sedikit teralihkan tapi tetap saja pikiran Hinata kembali pada mimpinya tadi. Berjuta pertanyaan bermunculan dan ia hanya bisa menerka-nerka. Terbawa oleh suasana membuatnya tak mendengar sedikitpun menyadari kehadiran Madara di belakangnya. Akhirnya Hinata menyerah saat…
"Masuklah, udara di luar bisa membuatmu sakit." Suara berat Madara bergema di telinganya. Disusul dengan dua buah lengan kokoh yang melingkari tubuhnya.
Hanya ada keheningan untuk beberapa saat. Sebelum Madara mengeluarkan suara dengan sedikit kelakar di dalamnya, "Aku sudah memperingatkanmu, tidur di sebelahku bisa membuatmu bermimpi buruk."
Satu lagi hal yang mungkin orang lain tak akan pernah mengira bahwa seorang Madara bisa melakukannya.
"Apa aku membangunkanmu? Aku… minta maaf." Seperti biasa suara yang dikeluarkan oleh Hinata hanya berupa bisikan belakan.
"Aku tak perlu maaf darimu. Sekarang ceritakan." Sebuah perintah yang membuatnya bingung. "Huh?" Inilah salah satu ucapan yang membuatnya berpikiran bahwa Madara seakan tahu segalanya yang ia rasakan.
Madara tak memberi reaksi apapun atas keterkejutan Hinata. Lagipula ia juga tak begitu mengharapkan respon itu. Tidak, tidak sedikitpun. Oh, baiklah ia bohong, ia mengharapkannya. Namun, tidakkah harapan itu terlalu banyak? Tiga kalimat yang Madara lontarkan tadi saja adalah yang paling banyak dan paling panjang yang bisa ia ingat. Pipinya memerah.
Madara yang mulai meningkatkan kuantitas kata yang ia ucapkan saat bicara dengannya juga malam tadi saat ia bernyanyi untuk Madara hingga akhirnya mereka tertidur di ranjang yang sama—jangan berpikiran yang buruk, tak terjadi apa-apa diantara mereka. Bukankah itu suatu kemajuan dalam hubungan mereka.
'Kau terlalu berharap lagi Hinata.' Hinata memperingatkan dirinya sendiri.
"Aku…" Hinata sempat merasa ragu, namun ia tak menemukan alasan kenapa ia harus ragu. Lagipula mimpi itu bukanlah suatu aib atau apa. Jadi, iapun meneruskan ceritanya, "…bermimpi menemukan diriku berada di sebuah kebun bunga yang sangat indah." Hinata sedikit tersenyum karena bisa mengingat dengan baik kebun bunga yang indah itu meskipun sedikit samar. "Namun aku… aku menemukan diriku sendirian disana. Dan saat…" ia kehilangan jejak dan harus mencoba mengingatnya lagi.
"Hn." Madara mengeluarkan suara dari dalam dadanya, seakan memberi kode pada Hinata agar meneruskan ceritanya.
"Aku…" Hinata sedikit tak yakin. "…tak begitu ingat. Ha-hanya saja… ada dua orang pria yang tiba-tiba memelukku. Pria pertama… ia memelukku saat aku se-sendirian di kebun bunga itu… ia bilang tak akan membuatku menangis… bahwa ia… ia akan menjagaku… d-dan ia membiarkanku menangis di… pelukannya." Kata terakhir ia ucapkan dengan begitu lembut, sedikit khawatir dengan respon yang mungkin diberikan oleh Uchiha leader itu. Namun, yang ditakutkannya tak pernah datang.
"P-pria kedua muncul se-setelah badai meng-menghancurkan kebun itu… pria itu meng-menggantikan pria pertama yang aku… aku tak tau menghilang kemana… ia memelukku dan bilang bahwa… bahwa ia…" Hinata menemui jalan buntu lagi. "...ia tak akan meninggalkanku."
"Benarkah?" Hinata sempat menangkap sarkasme dari ucapan Madara. "Siapa mereka?"
Inilah yang membuat Hinata berpikir semalaman "Aku…" Hinata menelan ludah yang terasa mengganjal tenggorokannya, "…tak ingat."
.
.
.
London…
Hari Minggu pukul lima empat puluh tiga sore di London, matahari hampir terbenam seluruhnya. Berdiri di depan dinding kaca apartement, menikmati sunset dan segelas wine di tangan, bukankah cara yang sangat menyenangkan untuk menghabiskan sore di London. Ya, tak ada cara lain yang lebih baik. Lelaki tampan itu sedikit tersenyum membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat ini. Jadi, ia ingin menikmati hari-hari terakhirnya dengan tanpa gangguan. Sepertinya Kami-sama masih belum mau mengabulkan keinginannya karena sedetik kemudian suara bel berdengung nyaring di ruangan yang besar itu.
Pria berambut hitam itu menutup mata mencoba untuk tak menghiraukan seseorang yang tengah berdiri di belakang pintu apartementnya. Bukannya hilang, suara bel semakin menuntut. Pria jangkung itu bisa menebak bahwa seseorang di luar sana sudah kehilangan kesabarannya. Ia menghela napas dan beranjak dari tempatnya semula. Jika ia biarkan terus bel apartementnya bisa rusak.
"Good afternoon." Suara feminin menyambut pendengaranya, tepat seteah ia membuka pintu.
"..."
Tanpa menunggu izin darinya, gadis di depannya itu melangkah dengan percaya diri ke dalam apartement luasnya. Jika ia belum mengenal dan menjadi teman baiknya, ia pasti sudah menghempaskan pintu apartementnya keras-keras tepat di depan wajah gadis cantik itu. Well, mengganggu seorang Uchiha bukanlah pilihan yang bijak.
"Aku membawakanmu pie." Teman baiknya itu menjawab meski tak ada yang bertanya. Ia hanya mengerutkan dahi 'Tumben'. Dan dengan elegant gadis cantik itu berbalik, "Aa! aku lupa, selamat untuk kelulusan dan nilai sempurnamu." Pelukan dari gadis itu membuatnya kaget tapi tak cukup kaget untuk tampak di wajah rupawan miliknya yang selalu terlihat tanpa emosi. 'Well, kelulusan?' bukankah pengumumannya baru akan diumumkan seminggu lagi. Ah ya! ia ingat, gadis yang dengan seenaknya masuk dan kini tengah mengobrak-abrik dapur apartementnya itu punya indra keenam.
"Kuharap kau tak menggunakannya lagi padaku."
"Kau tahu aku tak akan mengganggumu lagi jika bisa kuhentikan,." Gadis berambut panjang itu menjawab enteng.
Ia hanya menatap gadis itu dengan pandangan dingin dan memutuskan untuk kembali menyaksikan sunset yang ia rasa jauh lebih menarik.
"Jadi, kapan kau akan kembali ke Tokyo?" Gadis itu masih belum menyerah rupanya.
Lelaki Uchiha dengan gaya khas Uchiha muda itu menatap gelas wine yang dipegangnya, kemudian tersenyum kecil dan menjawab "Menurutmu?"
.
.
.
TBC…
.
.
.
Thanks for Reading…
Don't Forget to Review…
Review…
Review… ;)
A/N : Lega... :D akhirnya bisa update juga... Pertama saya mo bales review dulu...
nohiru hikari : Salam kenal... :D terima kasih sudah review... tenang aja saya bahkan belum mengeluarkan masalah yang sebenarnya...
chapter dpn bkln muncul beberapa karakter baru... sekali lagi makasih... review lagi yaa.
gece : Terima kasih sudah review, nti review lagi ya...
Fayiyong nee-san dan livylaval : Udah saya bales ya... tapi tetap saya ucapkan terima kasih... jgn lp review lagi... :)
