"TIDAAKKK!"
BLAR!
Toushiro menatap dingin ke depannya.
"Heh? Begitu rupanya," ucapnya akhirnya mengerti kenapa saat itu Karin tidak menghilang ketika semua energy kehidupannya dihisap oleh Toushiro sebagai bayaran dari perjanjian mereka. "Bahkan sampai kau mati pun, kau masih melindunginya ya, Bibi Masaki."
Selesai Toushiro mengucapkan itu, asap yang menyelubungi Karin tersibak, sekarang, di hadapan Toushiro, bukan hanya ada Karin yang terbaring pingsan. Sekarang dihadapannya ada seorang wanita berambut coklat bergelombang tengah menatap Toushiro dengan pandangan marah….
Become The devil (Akuma ni Nari)
.
.
Disclaimer:
Bleach © Tite Kubo
.
.
Happy Reading...
Ekor mata Byakuya melirik cemas kepada kekasihnya yang duduk gelisah di jok mobil. Tiba-tiba saja gadis itu ingin pergi sejauh mungkin dari rumah sakit, meski Byakuya menenangkan, gadis itu tetap menggeleng dan memaksa – bahkan memohon – kepadanya untuk pulang, malam ini juga, entah kenapa.
"Rukia? Kau baik-baik saja?" Tanya Byakuya ketika melihat Rukia yang memucat.
"Aku hanya ingin pulang niisama," ucap Rukia mencoba tenang, namun setenang apapun nada yang diucapkan olehnya, gadis itu tetap resah.
"Malam ini juga, anda akan menyelesaikan perjanjian kita,"
Rukia menggeleng kuat-kuat. Tidak! Tidak! Rukia yakin dia tidak akan membunuh kekasihnya. Tidak akan! Perjanjian apapun yang dibuatnya, itu tidak murni dari hatinya.
Perjanjian itu bukanlah perjanjian yang diinginkannya.
"Benarkah?"
Rukia membelalakkan matanya ketika mendengar suara dingin yang menakutkan itu. suara seorang perempuan yang baru saja ditemuinya.
"Benarkah itu bukan kemauan anda?"
Rukia semakin gelisah ketika suara itu kembali terdengar. Kedua bola matanya bergerak liar. Telapak tangannya basah dan terkepal sempurna.
"Padahal kekasih andalah yang merebut orang-orang berharga bagi anda,"
Kini Rukia sukses dipenuhi kekalutan. Gadis itu menggeleng, kemudian menutup telinganya dengan penuh kekalutan.
Tidak! Tidak!
Meski niisama adalah orang yang membunuh mereka,tapi aku mencintainya! Dia adalah orang berharga bagiku! Batin Rukia, dan itu membuat si gadis tertawa.
"Apa anda tak tahu bahwa pernyataan anda malah membuat keluarga anda terluka? Anda lebih memilih seorang pembunuh daripada mereka?"
Cukup… jangan bicara lagi! jangan tertawa lagi. JANGAN!
"Rukia?"
Suara berat itu membuat Rukia membuka kelopak matanya. air mata mengenang di matanya. Rukia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Suara itu menghilang dari benaknya.
Membuat Rukia melepaskan tangan dari telinganya sendiri. Ditatapnya Byakuya yang menatapnya khawatir. Mata abu-abu kekasihnya membuat Rukia tenang begitu saja.
"Kita sudah sampai, Rukia," ucap Byakuya lagi. Rukia tersenyum canggung. Byakuya kemudian menggendong Rukia ala bridal style dan itu membuat wajah Rukia memanas.
"Niisama," desahnya kemudian mengalungkan kedua lengan mungilnya ke leher kekasihnya. Mendapat perlakuan dari Rukia, Byakuya tersenyum. Kemudian pria itu membawa kekasihnya memasuki rumah mewah mereka dengan perasaan tenang.
Tanpa menyadari bahwa ketenangan itu adalah ketenangan sebelum badai yang sesungguhnya datang…
Dan meluluhlantakkan semuanya….
OOOoooOOO
Toushiro menatap tajam wanita di depannya begitupun dengan sang wanita. Adu deathglare yang mematikan tidak bisa terelakkan lagi. tapi itu hanya berlangsung beberapa saat sampai akhirnya sang wanita menyunggingkan senyumnya.
"Sudah lama kita tak berjumpa, Toushiro-kun," ucap wanita itu dengan nada lembut namun mematikan.
"Ya, sudah lama kita tak berjumpa, bibi Masaki," ucap Toushiro menyetujui, membuat mata coklat wanita yang dipanggil 'bibi Masaki' itu kini memandang Toushiro dengan lembut.
"Kau tidak banyak berubah… selain dendammu itu."
OOOoooOOO
Rukia memandang pintu kamarnya yang terbuka, menampilkan sesosok wajah yang amat dikasihinya. Rukia mengulum senyum ketika Byakuya menghampirinya dan duduk di tepi ranjangnya.
"Rukia," panggilnya dengan nada aneh, namun Rukia tidak menyadarinya.
"Ya, niisama?"
"Apa kau… adik Hisana?" Tanya Byakuya membuat Rukia terbelalak. Kemudian dia menyadari satu hal.
Byakuya memegang diary usang milik kakaknya.
OOOoooOOO
Wajah Toushiro mengeras sementara Masaki tersenyum. Senyuman lembut namun licik dan mematikan.
"Apa yang membuat bibi yakin bahwa aku percaya dengan apa yang dikatakan oleh bibi?" Tanya Toushiro mencoba tenang.
Namun Masaki tahu, Toushiro tidak tenang sama sekali. Nama orang itu selalu membuat Toushiro gundah.
"Kau tahu bahwa aku tidak pernah berbohong, Toushiro-kun," ucap Masaki kemudian tubuhnya perlahan memudar. "Ah, sudah waktunya aku pergi," ucap Masaki lagi. "Sebagai seorang ibu, aku harus menjaga ketiga anakku bukan?" tanyanya bergurau.
Gurauan yang sangat tidak lucu.
"Kau mau meninggalkan Karin di sini? Kau tidak takut kalau aku akan membunuhnya?" tanyanya mengancam. Sesaat Masaki terdiam, namun sedetik kemudian wanita itu tersenyum.
"Aku tahu kau tidak akan membunuh Karin, bukankah kalian sudah bersama sejak kecil?" ucapnya sebelum benar-benar menghilang dan Toushiro hanya terpaku memandang gumpalan-gumpalan asap yang sedikit lagi menghilang.
Dan ketika asap itu menghilang sepenuhnya, Karin membuka kedua matanya. Gadis itu terbangun dengan memijat-mijat kepalanya dan dia terkesiap ketika ujung pedang tepat beberapa senti dari wajahnya.
"Toushiro?" tanyanya takut-takut.
Apa Toushiro akan benar-benar membunuhnya?
OOOoooOOO
Rukia tidak percaya ketika niisama-nya menekan lehernya kuat-kuat hingga dia kesulitan bernafas.
"Nii… niisama…," panggilnya terengah-engah, dia sudah menampakan ekspresi ketakutan tapi pemuda berusia 25-an itu tidak peduli sama sekali.
"Kau harus mati! Kau terlalu tahu banyak Rukia," ucap Byakuya dingin. Mendengar itu air mata keluar dari mata Rukia. Begitukah? Begitukah? Kenapa? Padahal… padahal dia berniat untuk tidak membalas dendam, padahal dia sudah berusaha mengubur keinginannya untuk membunuh Byakuya. Padahal dia….
Rukia menutup matanya, membiarkan air mata mengalir dengan deras dari matanya. apa dia akan mati ditangan Byakuya? Apa dia akan bernasib sama seperti keluarganya? Apa dia akan pasrah mati ditangan orang yang membunuh keluarganya?
Tidak! Batinnya berteriak. Gadis itu membuka matanya, kemudian menatap Byakuya dengan pandangan tajam dan dendam, membuat Byakuya sedikit terhenyak kaget. Rukia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. gadis itu kemudian menendang Byakuya dan berhasil bebas. Rukia kemudian berjalan keluar kamarnya dan turun dengan tergesa-gesa. Byakuya menatap kepergian Rukia dengan marah kemudian menyusulnya, meninggalkan seorang perempuan berkimono putih yang tersenyum senang. Gadis itu kemudian menutupi sebagian wajahnya dengan lengan kimononya yang panjang, menyisakan mata hitamnya yang berubah menjadi merah.
Semerah darah….
OOOoooOOO
Tangan itu dengan refleks menahan lengan Toushiro. Toushiro menoleh ke belakang. Ke arah tempat Karin yang masih duduk sembari mencengkram erat tangannya.
"Biarkan aku pergi!" ucap Toushiro dingin membuat Karin menggeleng.
"Katakan kepadaku apa yang terjadi padamu, Toushiro!" pintanya setengah membentak namun Toushiro tetap bergeming, menatap dingin partnernya.
"Lupakan," ucapnya dingin. Karin menggeleng keras kepala.
"Siapa kau? Kenapa kau membuat situs kutukan itu?" Tanya Karin sembari menatap mata teal Toushiro. "Kenapa kau mau membunuhku? Kenapa kau menjadi seperti ini? Kenapa kau terlihat sedih?" tanyanya lagi kali ini tubuhnya bergerak memeluk Toushiro.
Membuat Toushiro tersentak kaget.
Pelukan yang sudah lama tidak diterimanya….
OOOoooOOO
"Sudah keluar?" Tanya Ichigo tak percaya. Suster yang tak sengaja berpapasan dengannya mengangguk.
"Entah kenapa Rukia-san seperti ketakutan tinggal di sini. Dan itu membuat Byakuya-sama bersikeras membawa Rukia-san keluar dari rumah sakit," ucap suster itu. hal itu membuat Ichigo langsung tegang. Dia teringat mimpinya. Mimpinya tentang Rukia yang menangis.
Firasat buruk menghantui hatinya. Cepat-cepat pemuda berambut orange itu berlari. Tujuannya jelas, kediaman Kuchiki.
OOOoooOOO
Rukia terdesak, gadis itu menatap ketakutan wajah Byakuya yang menurutnya mengerikan. Perlahan Byakuya mendekatinya.
"Pantas kau begitu mirip dengan Hisana," ucap Byakuya. "Ternyata kau adalah adiknya," ucap Byakuya lagi. "Dan kau bertujuan sama dengannya bukan? Membuatku jatuh cinta, berpura-pura menyukaiku juga tapi dibelakangku kalian mencari bukti untuk menjatuhkanku!" ucap Byakuya.
"Tidak! Awalnya memang begitu, tapi semenjak mengenalmu aku semakin mencintaimu, begitupun dengan neesama!" ucap Rukia menyangkal.
"BOHONG!" desisnya marah kemudian semakin menyudutkan Rukia. "Dia mengumpulkan bukti dengan tidak hati-hati. Dia lupa tengah berhadapan dengan siapa. Dia lupa kalau Aku, Kuchiki Byakuya tidak akan membiarkan pengkhianatan seperti itu. Dia lupa kalau aku bisa membunuhnya dengan kejam!" ucapan itu membuat Rukia semakin menatap penuh benci kepada Byakuya. Air matanya mengalir lagi.
"Kau… kejam!" desisnya tajam kemudian dengan sekali hentakan, gadis itu menusuk Byakuya tepat di jantungnya, membuat Byakuya membelalakan mata kaget. Perlahan tapi pasti, darah keluar dari mulutnya
"Sayonara… Niisama…," ucapnya seiring dengan tubuh yang jatuh ke lantai.
OOOoooOOO
Karin terduduk dengan tubuh gemetar. Sendirian. Hanya sendirian.
Toushiro sudah menghilang.
"Aku sudah mati, lima tahun yang masih bisa hidup karena aku telah menjual jiwaku kepada iblisi. Tapi ada bayaran untuk dapat hidup kembali," ucap Toushiro membuat Karin terhenyak. Pemuda itu melepaskan pelukan Karin, membingkai wajah Karin dengan kedua telapak tangannya.
"Bayarannya adalah mengambil energy kehidupan lain untuk hidupmu sendiri," ucapnya dingin. Karin hanya terdiam. Dia merasakannya. Dia merasakan tangan yang dulu hangat kini dingin, kemudian pemuda itu tersenyum pedih. "Maaf karena telah melibatkanmu, Kurosaki, sekarang aku sudah tidak berniat lagi membunuhmu," ucapnya kemudian melepaskan tangannya.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," ucap Toushiro lagi sebelum akhirnya menghilang.
Karin terdiam, masih mencerna penjelasan singkat dari temannya sejak kecil itu. masih mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan partnernya. Air mata keluar dari mata hitamnya. Mati? Toushiro sudah mati?
Dia sungguh tidak percaya akan hal ini…
OOOoooOOO
Pisau itu terjatuh dari segenggam tangan yang gemetar. Pisau itu jatuh secara perlahan, mengingatkannya akan hal yang telah dilakukannya. Ya… Rukia mengingatnya. Dialah yang membunuh paman Zenbonsakura, kemudian dia jugalah yang membunuh anaknya dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri dari tangga.
Gadis itu menutup kedua mulutnya saking terkejutnya dengan fakta yang diingatnya. Air matanya mengalir deras, namun hal itu hanya sebentar sampai akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Akh… benar… aku yang telah membunuh mereka berdua, aku juga yang telah membunuh niisama, Hahahahahhahahahaha"
Rukia mengatakan itu sembari tertawa tapi air matanya masih mengalir deras. Lelah tertawa, Rukia jatuh terduduk kemudian menangis sejadi-jadinya.
"Aku … aku… hiks…hiks…. ARGHHHH!"
OOOoooOOO
Toushiro memasuki markasnya yang langsung disambut oleh partnernya. Fuyumi menatapnya dengan serius. Tidak ada lagi senyum sinis yang menghiasi dirinya. Dari wajah stoicnya, gadis itu terlihat khawatir. Khawatir dengan 'keselamatan' partnernya.
"Tuan," panggilnya namun tidak digubris oleh Toushiro. Toushiro tetap melangkahkan kakinya. "Kenapa anda tidak membunuhnya?" Tanya Fuyumi dingin.
"Bukan urusanmu," ucap Toushiro tak kalah dingin.
"Tuan, apa anda sadar apa yang anda lakukan?" Tanya Fuyumi marah.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu!"
"Ini urusan saya! Karena anda mengikat kontrak dengan saya!" tegas Fuyumi membuat Toushiro terdiam. Fuyumi kemudian melangkah menghampiri Toushiro kemudian menyentuh pipi Toushiro lembut.
"Aku tidak bisa membunuhnya," terang Toushiro jujur. Mata hijau-tealnya menatap mata hitam Fuyumi. Fuyumi terdiam. Dia melepaskan tangannya dari Toushiro kemudian berbalik membelakanginya.
"Kalau begitu biar saya yang menggantikan anda membunuhnya," ucap Fuyumi datar kemudian melangkah pergi namun langkahnya terhenti ketika dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh leher kirinya. Fuyumi memicingkan matanya ketika menyadari pedang Toushiro yang menempel di lehernya itu.
"Jangan menyentuhnya atau kubunuh kau!" desisnya tajam. Matanya menatap tajam partnernya itu.
"Apa anda bisa membunuh saya? Demi gadis itu?" balasnya dingin.
"Ya."
Fuyumi menutup matanya. entah kenapa amarah memenuhi hatinya yang beku.
"Apa anda sadar apa yang anda lakukan? Jika Shirayuki-sama tahu…."
"Sayangnya aku sudah tahu," ucap sebuah suara membuat Fuyumi dan Toushiro langsung menoleh ke arah suara.
"Shirayuki-sama…."
OOOoooOOO
Rukia menatap telapak tangannya yang mulai menghilang. Dia tersenyum pahit. Inilah bayaran yang harus diberinya kepada gadis iblis itu. Eksistensi dirinya di dunia. Fuyumi yang mengatakannya.
"Eksistensi? Maksudnya?"
"Ketika perjanjian ini berakhir, anda akan menghilang dari dunia ini. Dari ingatan orang-orang, tidak ada diri anda. Mereka tidak akan mengingat anda,"
"Maksudmu, saat perjanjian ini berakhir, Kuchiki Rukia tidak ada?"
"Ya, saat kontrak kita telah berakhir, di dunia ini, tidak ada yang bernama Kuchiki Rukia."
"Begini lebih baik bukan?" ucapnya pada dirinya sendiri. Benar. Begini lebih baik. Lebih baik dia menghilang dari dunia ini. Rukia menatap telapak tangannya yang benar-benar sudah transparan. Air matanya kembali mengalir. Dia pasrah sekarang. Hilang juga tidak apa. Di dunia ini sudah tidak ada lagi alasan untuknya hidup. Sudah tidak ada lagi.
"Ah… Aku belum mengucapkan selamat tinggal kepada Ichigo," gumam Rukia. Mengingat Ichigo membuat senyumnya meredup. Rasanya sedih mengingat Ichigo akan melupakan dirinya, melupakan kenangannya bersama Rukia. "Tidak!" gumam Rukia. Dia tidak boleh sedih, justru bagus jika Ichigo melupakannya. Dia jadi tidak perlu mengalami hal seperti kehilangan sahabatnya, bukan?
"Ichigo…," panggil Rukia lirih, seluruh tubuhnya sudah berpendar-pendar seperti hantu tanpa tubuh. Rukia sudah tidak menatapi telapak tangannya lagi. gadis itu kini sibuk menatap Byakuya yang terbaring kaku dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Entah apa alasannya dapat tersenyum seperti itu.
"Rukia," panggilan itu membuat Rukia menengadahkan kepalanya dan Rukia tercekat ketika mendapati Ichigo ada beberapa meter didepannya, dengan pandangan tidak percaya dan nafasnya yang terengah-engah. "Rukia, apa yang terjadi?" Tanya Ichigo sembari mendekati Rukia. Pemuda itu menatap horror jasad Byakuya dan tubuh Rukia yang berpendar-pendar seperti roh itu.
"Kau? Tubuhmu? Dan Byakuya?"
"Aku yang membunuh Niisama, Ichigo," jelas Rukia tenang membuat Ichigo terlonjak kaget. Tidak percaya. Melihat itu Rukia tersenyum. "Dan ini balasan yang kudapat karena telah membunuh niisama," ucap Rukia lagi.
"Apa maksudmu?" Tanya Ichigo takut. Rukia tersenyum. Matanya menatap mata musim gugur milik Ichigo. "Aku akan pergi, Ichigo. Aku akan menghilang," jelas Rukia perih. Mendengar itu, Ichigo menggeleng-geleng frustasi. Pemuda itu kemudian memegang kedua bahu Rukia.
"Jangan hilang! Jangan tinggalkan aku!" pintanya memelas. Rukia tersenyum. Gadis itu menyentuh lembut tangan kekar yang mencengkram bahunya.
"Kau akan melupakanku, tenang saja," ucapnya dengan senyum. Senyum menenangkan layaknya ibu kepada anaknya. Ichigo menggeleng kuat-kuat. Dia berusaha mencengkram bahu Rukia lebih erat ketika melihat kaki Rukia menghilang. Kini yang terlihat oleh Ichigo adalah tubuh Rukia dari kepala sampai pahanya saja.
"Mana mungkin…," ucapnya lirih. Bibirnya bergetar ketika mengatakan itu, matanya memanas, tenggorokannya tercekat. "Dengar, mana mungkin aku melupakan gadis yang kucintai?" ucapnya setengah berbisik. Membuat Rukia membelalakkan matanya.
"Kau… apa?"
"Aku mencintaimu, bodoh!" ucap Ichigo lagi. Rukia terdiam dengan air mata mengalir. "Sudah sejak lama aku mencintaimu, Rukia. Kumohon jangan tinggalkan aku," ucap Ichigo memelas, membuat Rukia terenyuh.
Terlambat Ichigo. Sudah terlalu terlambat. Batin Rukia. Namun gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Rukia melepaskan kedua tangan Ichigo dari bahunya. Sebelah tangan Rukia mengusap pipi Ichigo lembut.
"Terima kasih,Ichigo," ucapnya sembari tertawa. "Selamat tinggal," ucapnya lagi kemudian menghilang.
Ichigo terbelalak tak percaya. Dia menggapai-gapai udara di depannya. Air matanya keluar. Kenapa? Kenapa?
"RUKIA!"
OOOoooOOO
"Kristal yang indah," gumam Fuyumi menatap sebuah benda pipih transparan berwarna violet. Lama sekali Fuyumi menatap Kristal itu sampai akhirnya di tengah Kristal itu tergambar seorang perempuan berambut hitam dengan mata menutup. Senyum terukir di wajahnya yang pucat. Lantas Fuyumi mengalihkan pandangannya ke depan, ke tempat seorang pemuda berambut orange yang tiba-tiba tergeletak begitu saja setelah menangis dan berteriak memanggil nama dari perempuan yang ada di dalam Kristal miliknya. "Kenapa anda tertawa?" Tanya Fuyumi lagi. mata hitamnya memandang datar Kristal itu.
"Kau bisa kan tinggalkan kami berdua saja, Fuyumi-chan? Lagipula bukankah malam ini perjanjianmu dengan Kuchiki Rukia selesai?"
Gadis bermata hitam itu diam sejenak kemudian melirik kepada partnernya yang menatap Shirayuki dengan datar. Sebersit rasa khawatir tertera di hatinya. Namun Fuyumi cepat-cepat menggeleng.
"Baik Shirayuki-sama," ucap Fuyumi sambil menunduk dan menghilang. Namun sebelum gadis itu menghilang, gadis itu sempat melirik was-was kepada Hitsugaya Toushiro, partnernya.
Fuyumi menggenggam Kristal itu erat. Matanya terpejam. Menghayati sesuatu yang bergejolak di dadanya. Otaknya selalu memikirkan partnernya itu. Fuyumi menggenggam dadanya erat. Perasaan apa ini? Kenapa dia mempunyai perasaan aneh ini?
Bukankah dia iblis? Bukankah iblis tidak punya perasaan? Bukankah iblis hanya mempunyai perasaan amarah dan dendam? Tapi kenapa perasaan yang kini dirasakannya terhadap Toushiro berbeda? Ini seperti perasaan bernama ….
Fuyumi menggeleng. Bodoh! Dia tidak mungkin merasakan itu….
OOOoooOOO
Toushiro jatuh terduduk. Keringat keluar dari seluruh tubuhnya. Wajahnya pucat, matanya melotot frustasi. Pemuda itu memegang kepalanya dengan tampang frustasi dan kesakitan.
"Hentikan…," ucapnya lirih, namun wanita dihadapannya hanya menatapnya dengan dingin. Wanita itu tidak terlihat merasa kasihan sedikitpun.
"Sudah lama sekali sejak kau membangkang terhadapku!" ucapnya datar. "Jadi, terimalah hukuman untuk si pembakang!" ucapnya. Setelah kalimatnya selesai, Toushiro merasakan aliran listrik ribuan volt menyengat otaknya. Toushiro meringis kesakitan, namun bukan itu yang membuatnya amat frustasi melainkan sesuatu yang dilihatnya, sesuatu yang kental dan mayat-mayat yang bergeletakkan di depan seorang gadis yang amat disayangi olehnya.
"Tidak!" ucapnya lirih. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasa sakit semakin menderanya. Pemuda itu semakin pucat ketika ingatannya menampilkan sesuatu yang lebih menakutkan dari mayat-mayat yang bergeletakkan itu. hentikan! Hentikan!
"ARGHHHHHH! HENTIKAN!" teriaknya sebelum tergeletak pingsan dengan peluh bercucuran dan badan yang gemetaran. Shirayuki menatap datar pemuda yang tergeletak itu sebelum akhirnya dia berlutut dan menyeringai.
OOOoooOOO
Pemuda berkacamata itu membanting stik Playsstasionnya dengan kesal. Bosan! Dia bosan dengan games-games yang dimainkannya. Semua permainan sudah dimainkannya dan semakin lama games sudah tidak menarik lagi.
Pemuda itu lantas berbalik, menghadap segerombolan hamster yang sengaja di simpannya di sebuah kotak kaca. Pemuda itu menyeringai, membuat hamster-hamster itu langsung meringkuk ketakutan di pojokan.
Perlahan tapi pasti, pemuda itu mendekati hamster-hamster itu, semakin dekat jaraknya dengan si hamster, semakin lebar seringaian yang ditunjukkannya. Dia kemudian menaikkan kacamata yang sedikit melorot.
"Hei, hei, kenapa kalian ketakutan begitu?" Tanya si pemuda dengan nada beracun. "Tenang saja, aku hanya ingin bermain dengan kalian," ucapnya kemudian tangannya mengambil acak salah satu hamster yang ada di kotak kaca tersebut. Sang hamster yang malang itu bergerak-gerak ketakutan. Apalagi ketika sesuatu yang bersinar berada di depannya.
CRAS…
Seiring dengan ditebasnya mata cutter, darah langsung muncrat membasahi wajah si pemuda. Si pemuda tersenyum merasakan hangatnya cairan merah yang amat disukainya itu. pemuda itu lantas membanting si hamster malang yang masih sibuk menggelepar-gelepar kemudian si hamster berhenti menggelepar ketika kaki si pemuda dengan kejamnya menginjak si hamster. Sang pemuda kemudian menjilat darah yang ada di jarinya dengan senyum ala seorang psycho.
"Membunuh itu memang menyenangkan," ucap si pemuda sembari mengambil bangkai si hamster. "Tapi rasanya aku ingin lebih," ucapnya lagi kemudian menatap sebuah poster yang menampilkan sesosok manusia yang tergantung dengan darah yang keluar dari mulutnya. Si pemuda mendekati poster itu kemudian meraba gambar itu dengan muka merona kesenangan, "Bisakah aku membuat karya sehebat ini?" tanyanya dengan tangan gemetar karena semangat. " Aku bosan jika harus membunuh hanya dalam game" ucapnya sembari melirik tidak suka stik yang sudah hancur berantakan karena bantingan si pemuda tadi. "Seandainya saja aku bisa membunuh manusia sesukaku…," ucapnya penuh harap.
PATS!
Si pemuda terlonjak kaget ketika mendengar suara di belakangnya, lantas pemuda itu menoleh ke belakang dengan cepat dan terkejut ketika monitor komputernya menyala kemudian si computer langsung membuka sebuah situs. Si pemuda yang penasaran kemudian mendekati komputernya dan seringaian muncul kembali.
P E R I N G A T A N
Ini adalah website untuk orang yang memiliki sisi gelap…
Website untuk mengeluarkan segala pikiran jahat kalian di sini…
Kalian dapat memposting pikiran jahat kalian di sini…
Namun…
Berhati-hatilah…
Setiap kata yang di tulis oleh kalian akan menjadi kejadian yang sesungguhnya…
kalian bisa membunuh orang yang kalian benci persis seperti apa yang kalian tuliskan di sini…
Kalian dapat mencelakakan orang yang ingin kalian celakakan…
Hanya dengan menuliskan pikiran jahat kalian…
Dan…
Ketika tulisan kalian menjadi kenyataan,
Aku akan menuntut bayaran…
"Menarik," ucap si pemuda itu tidak menyadari bahwa ada sosok lain di belakangnya yang menatapnya datar.
"Mangsa yang menyenangkan," gumamnya datar.
….
To Be Continued
…
Next Chapter :
Pisau itu menari dengan indahnya dikulit seorang gadis yang terikat. Gadis itu menutup matanya dengan ngeri sambil meringis tertahan menahan sakit.
"A- he-hentikan," ringisnya tertahan tapi pemuda itu malah menyeringai kejam. Pemuda itu kemudian mengangkat pisaunya kemudian mengarahkan lidahnya ke luka si gadis yang mengalirkan darah. Si pemuda kemudian menghisap darah itu, membuat si gadis mengerang ketakutan.
"Ayo kita bersenang-senang," ucapnya sembari mengusap darah yang mengalir di dagunya. Pemuda itu menaikkan sedikit kacamatanya sebelum mengacungkan pisau dagingnya, membuat si gadis menggeleng kuat-kuat dan benar-benar ketakutan.
"Jangan… jangan… Ja- KYAAA!"
CRASH!
"Hahahahhahahahha"
Yey! Makin GaJe aja ni ceritanya? Ini masalahnya apa ya? *Plak*. Ada yang bisa nebak siapakah pemuda dan si gadis itu? terus siapakah yang kali ini akan 'menjalani' kontraknya?
Ok deh bales review…
RiruzawaStrife Hiru15: udah update... silkan Baca lagi... jangan lupa komentarnya ya... n_n
Yowarul : hiatus itu... berhenti bikin fict... kira-kira gitu...
wu : ehehe /
Chap depan aku mau bikin gore dan bloody ah~
Doain smoga bisa ya… hahaha?
Ok deh... mind to review?
.
